NOVEL
PERMEN KARET DI CAR FREE DAY
“Berawal dari Sebuah Tantangan Konyol di Pagi Hari, Sebuah Kesalahan yang Mengundang Amarah, hingga Takdir yang Perlahan Menyatukan Dua Hati yang Awalnya Saling Membenci”
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kemiripan dengan individu atau kejadian nyata adalah kebetulan belaka. Cerita ini tidak bermaksud melecehkan budaya Car Free Day atau institusi mana pun. Nikmati drama, tawa, dan amarahnya, tetapi jangan coba-coba mengoleskan permen karet ke baju orang lain.
PROLOG
“Tak Ada Cinta yang Dimulai dengan Gaya Paling Memalukan”
Kuala Kapuas. Minggu pagi. Udara masih segar seperti baru saja dicuci dengan embun. Langit cerah tanpa secuil awan hitam, hanya sedikit kabut tipis yang melayang-layang di atas sungai. Ribuan warga memadati area Car Free Day , mulai dari anak-anak kecil yang berlarian dengan sepeda mini, ibu-ibu yang senam sambil bergosip, bapak-bapak yang jogging pelan-pelan sambil sesekali berhenti untuk mengatur napas, hingga remaja-remaja yang datang tidak untuk berolahraga, melainkan untuk cuci mata.
Car Free Day di Kuala Kapuas memang bukan sekadar acara mingguan. Ini adalah ritual. Ini adalah panggung tempat orang-orang menunjukkan siapa mereka. Ada yang datang dengan baju senam serba branded, ada yang datang dengan kaos oblong lusuh yang sudah dicuci berkali-kali, ada yang datang hanya untuk duduk-duduk di bangku taman sambil menikmati jajanan pasar yang dijajakan pedagang kaki lima. Semua orang punya hak yang sama di Car Free Day : untuk hidup, untuk tertawa, dan untuk bertemu.
Herman, dua puluh tiga tahun, pekerja kontraktor di sebuah proyek perumahan kecil di pinggir kota, belum pernah punya pacar seumur hidupnya. Bukan karena dia jelek, karena sejujurnya wajahnya masih bisa disebut lumayan. Hidungnya mancung, matanya tidak terlalu sipit, dan senyumnya cukup manis kalau dia tidak sedang grogi. Masalahnya terletak pada satu hal: Herman terlalu takut. Takut ditolak. Takut dibilang kurang. Takut tidak cukup baik. Maka selama dua puluh tiga tahun, dia hanya bisa diam dari kejauhan, melihat perempuan-perempuan cantik berlalu lalang tanpa pernah punya nyali untuk mendekati satu pun dari mereka.
Teman-temannya gerah.
Ahmat, Yanto, Mahdili, Yuni, Bintang dan Herawati, kelima sahabat Herman yang paling setia sekaligus paling biadab dalam memberikan tekanan, sudah tidak tahan melihat kondisi pria muda itu. Mereka berkumpul setiap habis kerja, setiap Minggu malam, setiap hari Minggu sore, membahas satu topik yang sama: bagaimana caranya agar Herman punya pacar. Berbagai strategi sudah disusun. Ada yang menyarankan Herman untuk mulai aktif di media sosial, ada yang menyarankan untuk ikut les bahasa Inggris hanya untuk mencari teman perempuan, ada pula yang menyarankan untuk sekadar berani berbicara dengan kasir minimarket yang kebetulan cantik. Semuanya gagal.
Herman selalu punya alasan.
"Kasirnya sibuk, tidak enak."
"Cewek di media sosial itu kebanyakan hanya mencari perhatian."
"Les bahasa Inggris? Uangku habis buat bayar kontrakan."
Begitu seterusnya, berulang-ulang, seperti piringan hitam yang rusak di bagian yang sama. Teman-temannya mulai berpikir bahwa Herman mungkin tidak akan pernah berubah. Mungkin dia akan mati sebagai seorang perjaka tua yang hanya ditemani oleh kipas angin rusak dan tumpukan majalah bekas di sudut kamar.
Namun takdir berkata lain.
Suatu malam, di warung kopi langganan di pinggir Jalan Pemuda, Ahmat yang terkenal sebagai otak di balik segala rencana konyol grup mereka, meletakkan gelas kopi hitamnya dengan keras di atas meja plastik. Bunyi duar itu membuat semua orang di warung menoleh, tetapi Ahmat tidak peduli.
"Aku punya ide," kata Ahmat.
Semua temannya diam. Mereka tahu bahwa ketika Ahmat berkata aku punya ide, biasanya diikuti oleh sesuatu yang gila, tidak masuk akal, dan berpotensi besar membuat mereka dikejar-kejar massa.
"Ide apa?" tanya Yanto dengan mata setengah sipit karena sudah mengantuk.
"Permen karet," jawab Ahmat dengan wajah serius.
"Permen karet?" Herawati mengangkat alis kirinya. "Maksudmu kita jualan permen karet?"
"Bukan. Kita suruh Herman menempelkan permen karet di baju seorang cewek saat Car Free Day ."
“Gila, kau Mat” jawab Bintang bingung
“ Tidak, Itu Gokil, abis”. Ahmat menyeringai dengan semangat empat lima , semuatemanya diam seribu bahasa.
Diam, dan diam, ruang warung kopi terasa mencapai klimksnya.
Semua orang di meja itu terdiam. Bahkan udara di sekitar mereka seolah ikut membeku.
"Kamu serius?" tanya Yuni akhirnya.
"Aku tidak pernah lebih serius dari ini," jawab Ahmat.
Herman yang dari tadi hanya diam menghisap rokoknya, hampir tersedak. "Kamu gila, Mat. Aku disuruh tempelin permen karet di baju cewek? Itu pelecehan."
"Itu bukan pelecehan. Itu... pendekatan kreatif."
"Pendekatan kreatif?" suara Yanto meninggi setengah oktaf. "Kreatif macam apa yang ujung-ujungnya mukanya ditonjok?"
"Kita tidak akan tahu hasilnya sebelum mencoba," Ahmat tetap pada pendiriannya. "Selama ini Herman sudah menggunakan cara aman. Diam-diam. Tidak berani. Hasilnya? Nol besar. Sekarang kita coba cara ekstrem. Biar dia keluar dari zona nyaman."
"Zona nyamanku adalah kontrakan," Herman menyahut cepat. "Bukan di depan cewek galak yang bajunya kutempelin permen karet."
"Kamu pilih sendiri ceweknya," kata Mahdili ikut nimbrung. "Pilih yang paling ramah, yang paling tidak mungkin marah."
"Di Car Free Day tidak ada cewek yang tidak marah kalau bajunya ditempelin permen karet," Yuni menggelengkan kepala. "Itu sama saja bunuh diri sosial."
"Tepat," Ahmat tersenyum lebar. "Itulah gunanya. Dengan melakukan hal yang paling memalukan, Herman akan kehilangan rasa malunya untuk selamanya. Setelah itu, dia tidak akan takut lagi untuk mendekati cewek manapun."
Logika Ahmat memang aneh. Tidak masuk akal. Tetapi anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membantah dengan alasan yang kuat. Mungkin karena mereka juga lelah melihat Herman yang terus-menerus sendiri. Mungkin karena mereka ingin temannya bahagia, meskipun dengan cara yang paling konyol sekalipun.
"Baiklah," kata Herman akhirnya setelah menimbang-nimbang selama lima menit. "Aku setuju. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Aku yang pilih targetnya."
"Bebas," Ahmat mengangkat kedua tangannya. "Yang penting kamu benar-benar melakukannya. Tidak mundur di tengah jalan."
"Janji."
Herman menggenggam erat gelas kopi di tangannya. Dia tidak tahu mengapa dia menyetujui rencana gila itu. Mungkin karena tekanan teman-temannya yang terlalu kuat. Mungkin karena dia juga lelah dengan dirinya sendiri. Atau mungkin karena di dalam hatinya yang paling dalam, dia ingin menguji apakah dia benar-benar sepengecut yang selama ini dia kira.
Dia tidak tahu bahwa persetujuan di warung kopi itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Minggu pagi itu tiba.
Cuaca cerah sempurna. Matahari bersinar dengan ramah, tidak terlalu panas, tidak terlalu redup. Awan-awan putih bergerak lambat di langit seperti domba-domba yang sedang merumput. Ribuan warga sudah memenuhi area sekitar Stadion Panunjung Tarung. Ada yang sudah mulai jogging, ada yang masih melakukan pemanasan, ada pula yang hanya duduk-duduk di bangku taman sambil menunggu teman.
Grup Herman berdiri di depan pagar beton GOR Panunjung Tarung, tepat di tikungan sebelum jalur jogging utama. Dari posisi itu, mereka bisa melihat semua orang yang lewat. Bisa mengamati. Bisa memilih target.
"Lihat tuh," Yanto menunjuk ke arah utara. "Lima cewek lagi jogging bareng. Rapi banget."
Herman mengikuti arah telunjuk Yanto. Di kejauhan, lima orang perempuan berlari kecil dengan kecepatan sedang. Mereka memakai kaos olahraga putih dan celana legging hitam. Rambut mereka diikat kuda, kecuali satu orang yang paling depan. Perempuan itu memiliki rambut sebahu yang diikat setengah, wajahnya tajam, matanya menyipit konsentrasi, dan ekspresinya terlihat paling serius di antara yang lain.
"Siapa mereka?" tanya Herman.
"Gengnya Amanda," jawab Yuni cepat. "Amanda itu yang paling depan. Kelas XII SMA. Cantik. Populer. Bawel. Dan... jangan pernah macam-macam sama dia."
"Kenapa?"
"Karena dia gampang marah. Sekali waktu ada cowok yang berani-beraninya melirik dadanya lebih dari tiga detik, cowok itu masuk puskesmas."
Herman merasakan ada yang tidak beres di perutnya. Mual. Atau mungkin hanya saraf-sarafnya yang mulai panik.
"Itu targetmu," kata Ahmat dengan suara rendah, persis seperti komandan pasukan khusus yang memberikan instruksi terakhir kepada anak buahnya. "Kamu pilih yang paling galak. Berarti kamu laki-laki sejati."
"Aku tidak mau jadi laki-laki sejati kalau ujung-ujungnya masuk UGD."
"Terlambat. Kamu sudah setuju."
Herman menelan ludah. Dia melihat rombongan Amanda semakin mendekat. Kini jarak mereka hanya sekitar lima puluh meter. Wajah-perempuan-perempuan itu mulai terlihat jelas. Amanda di depan, di belakangnya ada Yunita, Dahlia, Anita, dan Sania. Mereka berbincang-bincang kecil sambil berlari. Kadang tertawa. Kadang saling menyikut.
"Pergi sekarang," bisik Mahdili.
“Saatnya beraksi, Herman”. Tambag Bintang memberi semangat.
“Target sudah dekat Man”, Herawati memberi semangat.
“ Wow, aku mau lihat pria sejati beraksi”. Kata yuni deg-degan darahnya mendesir cepat.
“Jangan grogi, man” Yanto memberi semangat.
“gunakan trik terbaikmu, Man”. Bintang mengingatkan.
Herman menggerakkan kakinya. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Rasanya seperti berjalan di atas panggung dengan ribuan pasang mata yang menonton, padahal tidak ada satu pun yang benar-benar memperhatikannya.
Dia meremas permen karet rasa stroberi di tangan kanannya. Permen itu sudah dia kunyah sejak sepuluh menit lalu, jadi teksturnya super lengket, elastis, dan siap ditempelkan di mana saja. Herman pernah membaca di internet bahwa permen karet paling lengket adalah yang sudah dikunyah antara lima hingga lima belas menit. Setelah itu, kelengketannya perlahan berkurang. Itu berarti Herman berada di puncak lengket saat itu juga.
Dia mendekati rombongan Amanda tepat saat mereka berhenti di trotoar depan GOR di bawah pohon yang tidak terlalu rindang. Amanda meregangkan tangannya ke atas, lalu membungkukkan badan untuk melakukan peregangan. Kaos putihnya sedikit terangkat di bagian belakang, memperlihatkan sedikit kulit pinggangnya.
Herman berpaling. Dia tidak ingin jadi korban kedua yang masuk puskesmas.
"Permisi," ucap Herman dengan suara pelan.
Tidak ada yang mendengar.
"PERMISI!" ulangnya sedikit lebih keras.
Amanda menoleh.
Mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Amanda hanya mengerjap dengan tatapan biasa, seperti melihat orang yang tidak dikenal di pinggir jalan. Herman sempat merasa lega. Mungkin dia tidak segalak yang diceritakan teman-temannya.
"Ada apa?" tanya Amanda dengan suara datar.
"Maaf, aku cuma mau..."
"Kamu mau apa?"
"Kamu..."
"Kenapa dengan aku?"
Herman merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Dia tidak siap. Tiga hari latihan di depan cermin kontrakan bersama Yuni yang berperan sebagai Amanda ternyata tidak cukup. Sekarang dia berdiri di hadapan yang asli, tanpa skrip, tanpa kamera, tanpa kesempatan untuk ulang.
"Aku cuma mau..."
Tiba-tiba Yanto dari kejauhan berteriak dengan suara yang sangat keras, "TEMPELIN AJA, MAN!"
Kepala Amanda menoleh ke arah suara itu. Telinganya mendengar. Otaknya memproses. Kemarahannya mulai menyala.
Itu adalah kesalahan fatal Herman.
Karena dalam keadaan panik total, tanpa pikir panjang, tanpa pertimbangan moral, Herman mengambil langkah maju, mengulurkan tangan kanannya, dan menempelkan permen karet stroberi itu tepat di bahu kanan baju olahraga putih milik Amanda.
Detik itu, waktu seolah berhenti.
Herman bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Bisa mendengar suara angin yang berhembus pelan. Bisa mendengar keringat yang menetes dari pelipisnya ke tanah.
Amanda menunduk. Matanya melihat permen karet merah muda yang menempel sempurna di bahu kanannya. Wajahnya berubah dalam sekejap. Dari datar menjadi merah. Dari merah menjadi ungu. Dari ungu menjadi sesuatu yang tidak punya nama dalam kamus emosi manusia.
"KAMU TEMPELIN PERMEN KARET DI BAJU KU?" teriak Amanda dengan volume yang membuat semua orang di radius dua ratus meter otomatis menoleh.
"Maaf, aku..."
"MAKSUD KAMU APA? APA KAMU GILA?"
"Permen karetnya rasa stroberi, enak sebenarnya..."
"GUE GAK PEDULI RASA APA? LENGKET, TOLOL!"
Amanda memegang bahu kanannya. Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Bukan karena dingin. Tapi karena marah yang sangat dahsyat sehingga dia harus menahan diri agar tidak langsung menjitak kepala Herman di tempat.
"Siapa namamu?" tanya Amanda dengan suara yang mencoba tenang tetapi gagal total.
"Herman."
"Herman apa?"
"Herman... pekerja kontraktor."
"Gue tidak minta CV. Nama panjang."
"Herman Saputra."
"Umur?"
"Dua puluh tiga."
"Belum pernah pacaran?" tanya Amanda sarkastik.
Herman terdiam. "Iya. Belum pernah."
Amanda mengerjap. Dia tidak menyangka jawaban itu. Untuk sesaat, kemarahannya sedikit mereda, digantikan oleh rasa bingung yang luar biasa. "Kenapa kamu bilang belum pernah pacaran? Apa hubungannya dengan permen karet ini?"
"Tidak ada hubungannya, aku hanya... jujur."
"Jujur? Kamu tempelin permen karet di baju orang terus kamu ngomongin kejujuran?"
"Itu memang salahku. Aku minta maaf."
"Minta maaf tidak cukup, Tolol. Baju ini seratus dua puluh lima ribu!"
"Tadi aku pikir seratus ribu."
"TOLOL! HARGA BARANG ORANG JANGAN DIBAHAS!"
Herman tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya berdiri di sana, kaku seperti patung, sementara di sekelilingnya ratusan pasang mata menonton dengan ekspresi yang beragam. Ada yang tertawa. Ada yang kasihan. Ada pula yang merekam dengan ponsel masing-masing untuk diunggah ke media sosial dengan judul yang kira-kira berbunyi "Cowok Goblok Kena Batunya di Car Free Day ."
"Kamu tahu apa yang akan aku lakukan sekarang?" tanya Amanda.
"Tidak tahu."
"Aku akan mencari tahu siapa kamu, di mana kamu tinggal, di mana kamu kerja, lalu aku akan datang ke tempat itu dan menempelkan permen karet di seluruh bajumu."
"Tidak perlu repot-repot. Aku bisa datang sendiri ke rumahmu."
Amanda membelalakkan matanya. "KAMU BERANI YA?"
"Aku hanya mau bertanggung jawab," jawab Herman dengan suara pelan tetapi jelas.
Kata-kata itu membuat Amanda terdiam. Dia tidak tahu harus marah atau bingung. Cowok di depannya ini jelas idiot. Tetapi idiot yang aneh. Idiot yang tidak bisa dia baca. Dan Amanda benci ketika tidak bisa membaca seseorang.
"Pergilah," kata Amanda akhirnya. "Pergi sebelum aku benar-benar marah."
Herman mengangguk. Dia berbalik lalu berjalan perlahan. Tidak berlari seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Dia berjalan dengan tenang, melewati kerumunan, melewati bangku-bangku taman, melewati pedagang es kelapa muda, hingga akhirnya hilang di antara lautan manusia.
Di belakangnya, Amanda masih berdiri di tempat dengan tangan mengepal. Perempuan-perempuan di rombongannya sudah tidak bisa menahan tawa.
"Lucu banget sih," kata Dahlia sambil memegang perut.
"Dia polos," timpal Sania.
"Polos atau tolol?" tanya Anita.
"Keduanya," jawab Yunita.
"DIAM KALIAN!" bentak Amanda. Tapi di dalam hatinya, dia mengakui satu hal: cowok itu berbeda.
Dan perbedaan, entah mengapa, kadang terasa lebih berbahaya daripada kemarahan.
Minggu pagi itu berakhir dengan Herman yang duduk di dermaga KP3, ditemani oleh segelas es jeruk dan sebatang rokok yang hampir habis. Teman-temannya masih tertawa di sekelilingnya. Ahmat memukul-mukul punggung Herman seperti memberi selamat, Yanto sudah berguling-guling di bangku kayu, Mahdili tercengang-cengang menahan tawa, sementara Yuni dan Herawati saling bersandaran sambil mengusap air mata.
"Luar biasa," kata Ahmat di sela-sela tawanya. "Aku tidak menyangka kamu benar-benar melakukannya."
"Aku juga tidak menyangka," jawab Herman datar.
"Kamu hebat, Man," Yanto mengangkat jempol. "Pertama dalam sejarah Car Free Day , ada cowok yang berani tempelin permen karet di baju cewek."
"Itu bukan prestasi."
"Ya tetap saja. Kamu berani."
“Dan Aku , salut”. Tambah Bintang bangga.
Herman menghela napas. Dia menyesal. Tetapi di sudut hatinya yang paling gelap, dia juga merasa... hidup. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, dia melakukan sesuatu yang spontan, gila, dan tanpa perhitungan. Rasanya seperti melompat dari tebing ke sungai yang tidak diketahui kedalamannya.
Dan saat dia melompat, dia melihat sesuatu di mata Amanda yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan amarah. Bukan kebencian. Ada yang lain. Mungkin rasa ingin tahu. Mungkin keterkejutan. Atau mungkin hanya bayangan yang dia ciptakan sendiri.
"Aku akan minta maaf lagi minggu depan," kata Herman.
Semua temannya berhenti tertawa.
"Minta maaf lagi?" tanya Herawati. "Kamu sudah minta maaf tadi."
"Tidak cukup. Aku harus benar-benar meminta maaf. Dengan bunga. Atau cendol. Atau apa pun yang bisa membuatnya tersenyum."
"Amanda tidak mudah tersenyum," kata Yuni.
"Maka aku akan membuatnya tersenyum."
“Luar biasa, Man, aku dukung” Yantu ikut menguatkan pendapatnya.
Ahmat menggeleng-gelengkan kepala. "Kau jatuh cinta, Man. Kau jatuh cinta pada perempuan yang marah-marah kepadamu."
"Bukan jatuh cinta. Hanya... penasaran."
"Permulaan yang indah untuk sebuah bencana."
“Dan, Kami semua mendukung, Man”. Kata Mahdili sambil tersenyum geli.
Herman tidak menjawab. Dia hanya menatap sungai di depannya yang mengalir lambat. Airnya keruh kecoklatan seperti biasanya, tetapi sore itu terlihat sedikit lebih berkilau. Atau mungkin itu hanya matanya yang mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Membuka Instagram. Mencari nama Amanda di kolom pencarian.
Akun @amanda_cans muncul di urutan pertama dengan foto profil seorang perempuan yang tersenyum di depan Candi Borobudur.
Herman menggigit bibir bawahnya. Lalu tanpa berpikir dua kali, dia menekan tombol Follow.
Dua puluh kilometer dari dermaga KP3, Amanda sedang duduk di tepi tempat tidurnya dengan tangan masih mengepal. Baju olahraga putih yang terkena permen karet sudah dia lepas dan lempar ke sudut kamar seperti sampah.
Dia sudah mencoba membersihkannya dengan es batu. Gagal. Minyak kayu putih. Gagal. Bahkan dia sempat menggigit permen karet itu dengan giginya sendiri, dengan harapan bisa melepaskannya, tetapi yang terjadi adalah sakit di gigi belakangnya.
"Gila. Bener-bener gila," umpatnya sambil memijat pelipis yang berdenyut.
Ponsel di samping bantal berbunyi. Sebuah notifikasi dari Instagram.
@herman_kontraktor mulai mengikuti Anda.
Amanda membuka notifikasi itu. Jari-jarinya gemetar karena marah yang belum sepenuhnya reda. Dia melihat profil Herman. Foto profilnya: foto seorang pria muda dengan kumis tipis dan senyum canggung, berdiri di depan proyek bangunan setengah jadi.
"Berani banget," bisik Amanda.
Jarinya bergerak ke tombol Block.
Tetap saja jarinya tidak menekan.
"Kenapa aku tidak memblokir dia?" tanya Amanda pada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban. Hanya debaran aneh di dadanya yang tidak bisa dia mengerti.
Akhirnya dia mematikan ponsel dan membaringkan diri di atas kasur. Wajah Herman yang canggung itu terus muncul di pelupuk matanya, di antara mimpi dan kenyataan, di antara amarah dan tawa yang tidak dia sadari mulai tumbuh di sudut hatinya.
Demikianlah semuanya dimulai.
Bukan dengan sapaan manis atau tatapan mesra. Tidak juga dengan puisi atau lagu cinta. Semuanya dimulai dengan sehelai permen karet rasa stroberi yang menempel di baju olahraga putih milik seorang perempuan yang paling galak di Kuala Kapuas.
Dan di dalam karet lengket itu, takdir sedang tertawa. Karena dia tahu, ini baru permulaan dari seribu jurus cinta yang akan membuat mereka marah, bingung, menangis, tertawa, dan akhirnya jatuh ke dalam pelukan satu sama lain.
Tak ada cinta yang dimulai dengan gaya paling memalukan.
Tapi cinta yang paling kuat sering lahir dari hal-hal yang paling tidak terduga.
Termasuk dari permen karet.
BAB 1
CAR FREE DAY , BUKAN CAR UNTUK MENCARI MUSUH
Car Free Day di Kuala Kapuas bukan sekadar acara mingguan. Ini adalah ritual. Ini adalah panggung. Ini adalah tempat di mana ribuan manusia dari berbagai lapisan masyarakat dari para pejabat hingga rakyat jelata berkumpul setiap Minggu pagi untuk melakukan kegiatan yang kurang lebih sama: bergerak, bercanda, dan bergosip. Ada yang datang dengan pakaian senam mahal seharga sebulan gaji, ada yang datang dengan kaos oblong lusuh yang sudah dicuci berkali-kali hingga warnanya berubah dari hitam menjadi abu-abu tua. Ada yang datang untuk benar-benar berolahraga, ada yang datang untuk pamer tubuh langsing hasil diet ketat, ada pula yang datang hanya untuk duduk-duduk di bangku taman sambil menghabiskan satu bungkus pisang goreng dan segelas es teh manis. Semua orang punya hak yang sama di Car Free Day. Suasana pagi yang sejuk bebas dari emisi carbon . Semua orang bebas menjadi diri mereka sendiri. Termasuk orang-orang bodoh yang nekat menempelkan permen karet di baju orang lain.
GOR Panunjung Tarung berdiri megah di ujung barat area Car Free Day . Bangunan itu tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, cukup untuk menampung ratusan orang jika ada pertandingan olahraga antar desa atau tingkat Kabupaten. Namun pada Minggu pagi, GOR itu lebih sering menjadi latar belakang foto-foto atau swafoto daripada digunakan untuk kegiatan olahraga yang sesungguhnya. Di depan GOR, ada trotoar beton setinggi pinggang orang dewasa yang menjadi tempat favorit bagi anak-anak muda untuk bersandar atau duduk sambil mengamati orang-orang yang lewat. Di sanalah Herman dan kelima temannya berdiri pada pagi itu, sesaat setelah kejadian permen karet yang mengubah hidup mereka semua.
Herman sudah duduk di trotoar beton itu selama hampir satu jam. Pantatnya mulai terasa pegal, tetapi dia tidak beranjak. Matanya terus menerawang ke arah timur, ke arah mana rombongan Amanda pergi setelah dia berhasil mempermalukan dirinya sendiri di depan umum untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun. Dia tidak bicara. Dia hanya duduk diam, sesekali menghela napas panjang, sesekali memainkan ibu jari kirinya yang tiba-tiba terasa sangat menarik untuk diamati.
"Lo masih mikirin dia, ya?" tanya Yanto sambil duduk di sebelah Herman tanpa permisi.
"Enggak," jawab Herman singkat.
"Enggak bohong?"
"Bohong."
Yanto tertawa kecil. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari saku celana, menyalakannya, lalu menyodorkannya ke arah Herman. "Hisap. Nanti sedikit tenang."
"Aku gak hisap rokok pagi-pagi."
"Kamu mau hisap permen karet yang sudah kamu tempelin tadi pagi?"
Herman menoleh dengan ekspresi jengkel. "Lucu, ya? Kamu pikir ini lucu?"
"Iya, lucu," Yanto mengangguk mantap. "Buat kami lucu. Buat kamu mungkin belum. Tapi nanti kalau sudah lewat satu minggu, kamu juga akan ketawa sendiri mengingat kejadian ini."
"Aku tidak akan pernah ketawa. Bajunya seratus dua puluh lima ribu, Yanto. Bayangkan kalau kamu yang harus ganti."
"Untung aku bukan kamu," Yanto tersenyum lebar memperlihatkan gigi depannya yang agak maju ke depan.
Herman memukul bahu Yanto tidak terlalu keras tetapi tidak terlalu pelan. Yanto hanya terkekeh-kekeh seperti orang yang sedang digelitiki.
Di belakang mereka, Ahmat sedang duduk di atas ember plastik terbalik yang dia pinjam dari pedagang bakso langganan. Wajahnya serius, tangannya memegang dagu, matanya menyipit seperti sedang menghitung sesuatu yang sangat rumit.
"Menurut perhitunganku," kata Ahmat setelah beberapa lama, "kamu masih punya kesempatan lima puluh persen untuk tidak dibenci seumur hidupmu oleh Amanda."
"Lima puluh persen?" Herman segera menoleh. "Lima puluh persen untuk apa?"
"Untuk tidak dibenci seumur hidupmu. Setengah mati-matian dia benci sama kamu, setengah lagi mungkin dia cuma sebel. Itu masih lebih baik daripada dibenci total, kan?"
"Aku tidak butuh setengah tidak dibenci. Aku butuh dia memaafkan aku."
"Memafkan itu butuh waktu," Herawati ikut nimbrung. Perempuan itu sedang duduk bersila di atas tikar plastik yang dia bawa dari rumah. "Kamu tidak bisa memaksa seseorang memaafkan kamu hanya karena kamu sudah minta maaf. Memaafkan itu proses. Perlu waktu. Perlu kedewasaan. Perlu juga perasaan."
"Perasaan apa?" tanya Yanto polos.
"Perasaan yang membuat seseorang rela melepaskan kemarahannya meskipun dia masih berhak marah," jawab Herawati dengan nada bijak.
"Bahasa Indonesianya?"
"Ikhlaskan hati."
“Mungkin”. Kata Yanto sambil mengangguk-anggukan kepala, seolah paham, padahal matanya tetap kosong seperti biasanya.
Herman mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasanya panas. Bukan karena demam, tetapi karena pikirannya yang terlalu panas memikirkan Amanda. Dia tidak tahu kenapa perempuan semarah itu bisa terus menempati pikirannya selama berjam-jam. Padahal baru beberapa jam yang lalu dia bertemu. Padahal pertemuan itu pun tidak berjalan dengan baik. Bahkan cenderung buruk. Sangat buruk. Termasuk dalam kategori sepuluh pertemuan terburuk yang pernah dialami manusia di muka bumi. Tapi tetap saja, bayangan Amanda tidak mau pergi.
"Kamu jatuh cinta, Herman," kata Yuni tiba-tiba.
Herman tersentak. "Apa?"
"Jatuh cinta. Kamu jatuh cinta sama Amanda. Tidak mungkin kamu seserius ini kalau hanya sekadar kepo atau penasaran. Ini sudah masuk ke tahap kegalauan akut yang biasanya hanya diderita oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta."
"Aku tidak jatuh cinta, Yun. Aku cuma... prihatin."
"Pria-hati? Maksudnya pria berhati lembut?"
"Bukan! Aku prihatin karena bajunya mahal. Itu saja."
"Bohong," kata Yuni dan Herawati bersamaan.
"SUMPAH BOHONG," tambah Yanto dari samping.
Herman menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia ingin berteriak. Dia ingin memukul tembok. Dia ingin melompat ke sungai dan berenang sampai kehilangan arah. Tapi dia tidak melakukan satupun dari semua itu. Dia hanya duduk diam di pagar beton GOR Panunjung Tarung, ditemani oleh lima orang sahabat yang paling menyebalkan di seluruh Kota Kuala Kapuas, Kta AIR yang ikonik.
Pukul setengah sembilan pagi, kerumunan Car Free Day mulai berkurang. Ibu-ibu pulang untuk memasak. Bapak-bapak pulang untuk mandi dan berangkat kerja di proyek. Anak-anak sekolah yang ikut orang tua mereka sudah harus berganti baju harian. Hanya segelintir orang yang tersisa, kebanyakan anak-anak muda yang tidak punya kegiatan lain selain nongkrong dan membicarakan orang lain.
Herman dan teman-temannya masih bertahan di tempat mereka. Kini mereka sudah pindah ke bangku taman di bawah pohon rindang Taman Hutan Kota di sampan stadion. Bangku itu terbuat dari semen yang dilapisi keramik hijau tua, dingin saat diduduki meskipun matahari sudah cukup tinggi. Di atas pohon rindang itu, burung-burung pipit beterbangan sambil berkicau riang seolah tidak peduli dengan drama manusia yang terjadi di bawah mereka.
"Jadi gimana rencana lo ke depan?" tanya Mahdili sambil memainkan sendok plastik bekas es campur yang sudah dia habiskan sepuluh menit lalu.
"Rencana apa?" tanya Herman lirih.
"Rencana buat ngejar Amanda."
"Gue gak ngejar Amanda. Gue cuma mau minta maaf yang sebenar-benarnya."
"Sama saja. Prosesnya sama. Kamu akan terus muncul di depannya, terus-terusan minta maaf, lama-lama dia terbiasa dengan kehadiranmu, lama-lama dia mulai penasaran, lama-lama dia..."
"Gue paham teorinya, Mahdili. Tapi gue gak perlu denger dari lo. Gue butuh solusi praktis."
"Solusi praktisnya adalah beli baju baru," ujar Mahdili santai.
“Itu, solusi yang masuk akal”. Kata Bintang sambil berpikir membayangkan herman ketika bertemu kembali, mungkin dunia seperti akan kiamat.
"Dengan uang apa? Gaji gue baru cair tanggal muda, sekarang masih tanggal tua."
"Pinjam dulu sama Ahmat. Ahmat kan anak orang kaya."
Ahmat yang sedang asyik memotret langit dengan ponsel barunya langsung menjerit. "Anak orang kaya? Anak orang kaya masih numpang kontrakan sama Herman? Gaji gue lebih kecil dari gaji lo, Mahdili!"
"Tapi orang tua lo kaya."
"Orang tua lo juga kaya."
"Orang tua lo punya tiga toko."
"Iya, tapi itu toko orang tua gue, bukan toko gue!"
"Ya sudah, nanti gue pinjamin dulu," potong Yuni dengan suara sedikit kesal. "Jangan ribut soal uang begini. Herman, lo butuh berapa?"
Herman mengerjap. "Enggak usah, Yun. Gue gak mau ngutang ke lo."
"Lo ngutang ke Ahmat juga enggak pernah bayar."
"Itu berbeda. Utang ke Ahmat sudah masuk kategori sumbangan."
Ahmat memukul kepala Herman pelan-pelan. "Kurang ajar lo, Man. Sumbangan apaan? Itu utang! Nanti kalau lo sudah kaya, lo bayar dua kali lipat."
"Kapan gue kaya? Gaji pekerja kontraktor cuma cukup buat makan dan bayar kontrakan."
"Makanya cari pacar kaya," saran Yanto serius. "Kayak Amanda. Orang tuanya punya usaha sembako."
Semua mata langsung tertuju pada Yanto.
"Amanda anak orang kaya?" tanya Herawati.
"Iya. Itu kata temen gue yang sekelas sama dia. Bapaknya punya toko sembako besar di Pasar Sari Mulya. Rumahnya juga gede di Jalan Nusa Indah."
Herman yang tadinya hanya setengah hati mendengarkan, kini duduk tegak. Bukan karena dia tertarik dengan kekayaan Amanda. Tapi karena informasi itu membuatnya semakin menyadari ketimpangan antara dirinya dan perempuan itu. Dia hanya seorang pekerja kontraktor dengan gaji pas-pasan. Amanda adalah anak orang berada yang bisa membeli baju seratus dua puluh lima ribu tanpa perlu memikirkan uang belanja sebulan.
"Jadi makin susah dong," gumam Herman.
"Apanya yang makin susah, Man?" tanya Ahmat.
"Buat minta maaf. Orang kayak dia mana mau denger permintaan maaf dari orang kayak gue."
"Kamu salah, Man," Yuni menggeleng. "Orang kaya juga manusia. Mereka juga bisa marah, sedih, kecewa, dan juga bisa memaafkan. Kamu tidak perlu minder cuma karena dia lebih berada darimu. Yang dia lihat nanti bukan uangmu, tapi ketulusanmu."
"Omongannya bagus, Yun," kata Mahdili. "Tapi sulit dipraktikkan."
"Semua omongan yang bagus memang sulit dipraktikkan. Karena kalau mudah, semua orang sudah jadi orang baik."
Herman tidak ikut dalam debat kecil yang terjadi di antara teman-temannya. Pikirannya melayang ke tempat lain. Dia membayangkan Amanda yang sedang duduk di rumahnya yang besar di Jalan Nusa Indah. Mungkin rumahnya berkamar banyak, berhalaman luas, dan bertelevisi sebesar apa yang Herman lihat hanya di toko elektronik. Sementara dia sendiri tidur di kontrakan 3x4 dengan kipas angin yang suaranya lebih keras dari hembusannya.
Tapi anehnya, perbedaan itu tidak membuatnya mundur. Justru sebaliknya. Dia merasa ada sesuatu yang harus dia kejar. Bukan rumah besar. Bukan uang. Bukan status sosial. Tapi sesuatu yang lebih abstrak: kesempatan untuk dilihat. Untuk dianggap. Untuk diperhatikan oleh perempuan yang matanya bisa membunuh jika dia marah.
"Gue akan cari tahu alamat rumahnya," kata Herman tiba-tiba.
Semua temannya langsung diam.
"Alamat rumah siapa?" tanya Yanto.
"Amanda."
"Lo mau apa ke rumahnya? Diarak sama satpam?"
"Dia gak punya satpam, Yanto. Rumahnya di kompleks perumahan biasa."
"Tetap saja. Lo datang ke rumah cewek yang baru lo tempelin permen karet di bajunya itu sama saja dengan bunuh diri. Nyari malu."
"Lebih baik nyari malu daripada diem aja dan gak pernah memaafkan diri sendiri," jawab Herman dengan suara pelan tapi tegas.
Ahmat menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau kamu sudah bulat, kami akan bantu. Tapi ingat, Herman. Jangan harap kami akan ikut masuk ke rumahnya. Kami hanya akan mengantar sampai depan gang, itu pun kalau tidak hujan."
"Hujan nggak akan turun, Mat. Ini musim kemarau."
"Ya sudah. Tapi tetap saja, kalau ada orang yang mau mukul kamu, kamu lari sendiri. Jangan harap kami akan menolong."
"Setuju," kata Mahdili cepat.
"Setuju," tambah Yanto.
"Setuju," timpal Herawati.
Yuni hanya mengangkat bahu. "Aku tidak pernah setuju dengan ide gila kalian. Tapi karena kalian semua sudah setuju, aku juga ikut setuju. Tidak enak dibilang pengecut."
"Maka sudah ditetapkan," Ahmat berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Herman. "Misi pencarian alamat rumah Amanda akan dimulai besok siang sepulang kerja. Siapa yang tidak hadir tanpa alasan yang jelas, traktir bakso satu mangkok plus es jeruk satu gelas."
"Setuju!" teriak mereka berlima bersamaan.
Herman hanya tersenyum kecil. Ingin rasanya dia tertawa lebar, tetapi tubuhnya masih terlalu kaku. Di dalam dadanya, ada perasaan campur aduk antara takut, malu, dan anehnya, sedikit bahagia. Bahagia karena dia tidak sendirian. Bahagia karena ada orang-orang yang bersedia ikut serta dalam kekonyolannya. Bahagia karena meskipun semuanya dimulai dari permen karet, perjalanan ini terasa seperti sebuah petualangan yang tidak akan dia lupakan seumur hidup.
Sementara itu, di sebuah rumah di Jalan Nusa Indah, Amanda sedang duduk di ruang tamu dengan tangan bersilang di dada. Wajahnya masih merah meskipun sudah hampir tiga jam sejak kejadian di Car Free Day . Ibunya, seorang perempuan paruh baya dengan rambut sebahu yang diikat kuda, sedang menuangkan teh manis ke dalam gelas kaca di meja. Sesekali dia melirik ke arah anak perempuannya yang duduk dengan ekspresi seperti bulan kesiangan.
"Kamu kenapa dari tadi diem aja?" tanya ibunya sambil duduk di kursi seberang.
"Enggak kenapa-kenapa, Mah."
"Wajah kamu merah. Sakit?"
"Enggak."
"Kesel sama teman?"
"Enggak."
"Kesel sama guru?"
"Enggak."
"Kesel sama cowok?"
Amanda terdiam. Itu adalah tanda yang paling jelas bahwa ibunya tepat sasaran.
"Ada cowok, ya?" tanya ibunya lagi dengan nada sedikit bergairah. "Siapa? Teman sekelas? Kakak kelas? Cowok dari luar sekolah? Cerita sama Ibu."
"Tidak ada cowok, Mah. Aku cuma lagi mikirin... nilaiku yang jelek di ujian semester kemarin."
"Nilaimu jelek? Bukannya kamu dapat sembilan besar untuk Matematika dan delapan untuk Bahasa Inggris?"
"Itu belum cukup. Aku target dapat sepuluh semua."
Ibunya menghela napas. "Amanda, Ibu kenal kamu dari kecil. Kamu bukan tipe orang yang terlalu ambisius soal nilai. Kamu paling benci belajar. Jadi kalau kamu bilang sedang mikirin nilai, itu bohong. Sekarang cerita yang sebenarnya. Ibu tidak akan marah."
Amanda menggigit bibir bawahnya. Dia memandang ibunya dengan mata setengah sayu setengah kesal. "Aku cuma... ada cowok yang buat aku geregetan, Mah."
Ibu Amanda langsung duduk tegak. Matanya berbinar seperti melihat berlian jatuh di tengah jalan. "Cowok? Cowok macam apa? Ganteng? Pintar? Kaya? Agamanya bagus?"
"Mah, aku baru kenal. Belum tahu detailnya."
"Tapi kamu bisa cerita, kan? Siapa namanya? Dari mana?"
"Herman," jawab Amanda dengan suara kecil. "Namanya Herman Saputra. Dia pekerja kontraktor. Usia dua puluh tiga."
Ibu Amanda mengernyit. "Dua puluh tiga? Kamu masih kelas dua belas, Ndah. Itu beda umurnya lumayan jauh."
"Aku tahu."
"Kerja kontraktor? Apa itu orang bangunan?"
"Semacam itu, Mah. Dia kerja di proyek perumahan."
Ibu Amanda terdiam sejenak. Matanya menerawang ke langit-langit rumah seperti sedang memperhitungkan sesuatu yang sangat rumit. "Kalau begitu, kenapa dia bisa buat kamu geregetan? Apa dia baik? Sopan? Rajin ibadah?"
"Mah, aku baru kenal. Aku tidak tahu dia baik atau tidak. Yang bikin aku geregetan adalah... dua jam yang lalu dia nempelkan permen karet di baju olahragaku yang baru pertama kali aku pakai di Car Free Day ."
Diam.
Keheningan yang sangat panjang.
Lalu ibu Amanda tertawa. Bukan tertawa kecil. Bukan tertawa tertahan. Tapi tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar dan perutnya terasa sakit.
"MAH! JANGAN TERTAWA!" teriak Amanda sambil memukul bantal sofa di sampingnya.
"Maaf, maaf, maaf," ibu Amanda mengusap air matanya. "Tapi ini lucu, Nak. Ada cowok yang nempelkan permen karet di baju kamu. Bukannya kamu mukul dia, kamu malah duduk di sini sambil mikirin dia."
"Aku tidak mikirin dia, Mah!"
"Iya, kamu tidak mikirin dia. Kamu cuma... geregetan. Sama cowok yang tempelin permen karet di baju kamu."
"MAH!"
"Baik, baik. Ibu tidak akan tertawa lagi." Ibu Amanda menarik napas panjang untuk menenangkan diri, meskipus dadanya masih naik turun menahan sisa-sisa tawa. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan? Kamu mau cari dia dan minta ganti rugi?"
"Seharusnya begitu. Tapi entah kenapa, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak punya nomor teleponnya. Tidak tahu alamatnya. Yang aku tahu cuma namanya, pekerjaannya, dan fakta bahwa dia belum pernah punya pacar."
"Belum pernah punya pacar?" Ibu Amanda mengangkat alis. "Itu informasi yang sangat spesifik untuk seseorang yang baru kamu temui dua jam lalu."
"Dia yang ngomong sendiri, Mah. Aku tidak nanya-nanya."
"Berarti dia sangat jujur. Atau sangat tolol."
"Menurutku sih tolol."
"Tolol yang lucu atau tolol yang menyebalkan?"
"Keduanya."
Ibu Amanda tersenyum. Dia meraih tangan anak perempuannya lalu menepuk-nepuknya pelan. "Sudah, Ibu tidak tahu apakah cowok ini baik untukmu atau tidak. Tapi Ibu tahu satu hal: pria yang berani melakukan hal gila di depan umum untuk menarik perhatianmu, biasanya adalah pria yang benar-benar tertarik. Bukan sekadar main-main."
"Tapi dia tempelin permen karet di baju baru aku, Mah."
"Dan itu akan menjadi cerita yang lucu untuk diceritakan kepada cucu-cucu kamu nanti."
"MAH!"
"Apa? Kamu tidak mau punya anak?"
"Aku masih kelas dua belas, Mah!"
"Punya anak itu tidak harus sekarang, Nak. Bisa lima atau sepuluh tahun lagi. Ibu cuma bilang, suatu saat nanti kamu akan tertawa mengingat kejadian ini."
Amanda menghela napas frustrasi. Kenapa semua orang di sekitarnya sepertinya tidak menganggap serius kemarahannya? Teman-temannya tertawa. Ibunya tertawa. Bahkan Herman, cowok idiot itu, tidak terlihat takut meskipun sudah dia bentak habis-habisan. Apa dia tidak cukup menakutkan? Apa semua orang sudah kehilangan rasa takut? Atau jangan-jangan, ada yang salah dengan caranya marah?
"Aku akan tidur, Mah," kata Amanda sambil berdiri.
"Belum makan siang."
"Tidak lapar."
"Nanti sakit."
"Biar sakit. Setidaknya sakit perut lebih jelas penyebabnya daripada sakit hati karena bajunya dirusak cowok gila."
Ibu Amanda hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat anak perempuannya yang berjalan lunglai menuju kamar. Sebagai seorang ibu, dia tahu bahwa ini bukan kemarahan biasa. Ini kemarahan yang bercampur dengan rasa ingin tahu. Dan rasa ingin tahu, jika dibiarkan tumbuh terlalu besar, bisa berubah menjadi perasaan lain yang lebih rumit.
Kamar Amanda tidak terlalu besar tetapi tertata rapi. Ada tempat tidur ukuran sedang dengan sprei berwarna pastel, ada meja belajar kayu yang dilengkapi lampu baca, lemari baju dua pintu, dan satu rak buku yang berisi novel-novel remaja dan buku pelajaran. Di sudut kamar, baju olahraga putih yang terkena permen karet masih tergeletak seperti sampah yang tidak diinginkan. Setiap kali Amanda melihatnya, perasaan campur aduk menyerang lagi.
Amanda merebahkan diri di atas kasur. Matanya menatap kipas angin di langit-langit yang berputar perlahan. Suara kipas itu mendengung monoton, seperti lagu pengantar tidur yang membosankan. Dia memejamkan mata, berharap bisa tertidur dan melupakan semuanya. Tapi setiap kali matanya tertutup, yang muncul justru wajah Herman.
Wajah itu tidak terlalu ganteng. Tidak juga jelek. Hidungnya mancung, matanya tidak sipit, kulitnya sawo matang, dan senyumnya selalu canggung seperti orang yang baru belajar tersenyum. Tapi ada sesuatu di mata Herman yang membuat Amanda tidak bisa berhenti memikirkannya. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Mungkin ketulusan. Atau mungkin hanya rasa tidak enak karena sudah membentaknya di depan umum.
"Bukan salah aku," bisik Amanda pada dirinya sendiri. "Dia yang salah. Dia yang mulai. Aku cuma membela diri."
Ponsel di samping bantal berbunyi. Amanda membukanya. Grup WhatsApp "Geng Jogging Cantik" ramai dengan pesan-pesan yang sebagian besar membahas tentang Herman.
Dahlia: Am, aku baru lihat Instagram-nya Herman. Followersnya dikit banget. Cuma seratusan.
Yunita: Wajar lah dia pekerja bangunan. Mana punya waktu buat Instagraman.
Anita: Tapi fotonya lucu-lucu. Banyak foto proyek bangunan sama foto makanan di warung pinggir jalan.
Sania: Itu tandanya dia anak rumahan. Gak suka pamer.
Dahlia: Atau gak punya gaya hidup yang layak dipamerkan?
Yunita: Kamu jahat, Lia.
Sania: Aku setuju sama Yunita. Jangan nilai orang dari Instagramnya.
Amanda: KALIAN BERHENTI BAHAS DIA!
Dahlia: Nah, dia muncul. Pasti lagi galau.
Amanda: GALAU APA, TOH?
Anita: Galau karena kepikiran cowok yang nempelin permen karet di baju barunya.
Amanda: GUE GAK KEPIKIRAN!
Sania: Kalau gak kepikiran, kamu tidak akan nyuruh kami berhenti bahas dia. Orang yang gak kepikiran biasanya cuek saja.
Amanda: SANIA!
Dahlia: Sania kali ini kali ini bener sih.
Yunita: Am, kamu harus jujur sama perasaan kamu. Apakah kamu benar-benar marah, atau hanya marah karena tidak bisa melupakannya?
Amanda membaca pesan terakhir itu berulang-ulang. Jarinya berhenti di atas layar, tidak tahu harus mengetik apa. Apakah dia benar-benar marah? Atau hanya marah karena tidak bisa melupakan? Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab saat ini. Mungkin butuh waktu beberapa hari. Atau berminggu-minggu. Atau entahlah.
Amanda: Aku tidur dulu.
Dahlia: Belum makan siang kan?
Amanda: Gak lapar.
Yunita: Klasik. Tanda-tanda jatuh cinta.
Amanda: YUNITA!
Sania: Selamat tidur, Am. Semoga mimpi indah. Mimpi ketemu Herman pakai baju baru.
Amanda: SANIA! SEKALI LAGI!
Sania: Iya, iya. Aku diam.
Amanda mematikan ponsel dan membantingnya ke atas kasur di samping bantal. Dia menelungkupkan wajahnya ke bantal, lalu berteriak kecil. Tidak keras, tidak pelan. Cukup untuk membuat suaranya teredam oleh kapas dan dakron. Dia berteriak berkali-kali sampai napasnya habis, sampai pusing, sampai dia tidak lagi mampu memikirkan Herman.
Tapi setelah dia selesai berteriak, saat dia mengangkat wajah dari bantal, bayangan Herman masih saja ada di sana. Tidak mau pergi. Tidak mau lenyap. Hanya diam-diam bersembunyi di sudut pikirannya, menunggu waktu yang tepat untuk muncul lagi.
"Aku benci kamu, Herman," bisik Amanda.
Tapi suaranya tidak meyakinkan. Bahkan telinganya sendiri tidak percaya.
Hari mulai sore saat Herman pulang ke kontrakannya. Langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, seperti sambal yang digoreng terlalu lama. Kakinya terasa berat karena perjalanan dari Car Free Day ke kontrakan memakan waktu hampir setengah jam dengan berjalan kaki. Dia tidak punya motor. Tidak punya mobil. Hanya dua kaki yang setia mengantarnya ke mana pun dia pergi.
Kontrakan Herman berada di gang sempit di belakang Pasar Sari Mulya. Untuk masuk ke gang itu, dia harus melewati tumpukan karung beras, bau ikan asin yang menyengat, dan suara pedagang yang saling menawarkan dagangan. Tidak nyaman. Tidak juga menyedihkan. Hanya biasa untuk orang sekelasnya.
Begitu sampai di depan pintu kontrakan, Herman mengeluarkan kunci dari saku celana. Kunci itu sudah berkarat di beberapa bagian, tetapi masih berfungsi dengan baik. Dia memasukkan kunci ke lubang, memutarnya ke kanan dua kali, lalu mendorong pintu kayu yang berderit pelan. Di dalam, kegelapan menyambutnya. Dia menekan sakelar lampu, tapi tidak ada yang terjadi. Lampu mati lagi.
"Listrik mati lagi," gumam Herman kesal.
Tapi dia tidak marah. Dia sudah terbiasa. Setidaknya seminggu sekali, listrik di kontrakannya mati tanpa pemberitahuan. Kadang karena angin kencang. Kadang karena pemilik kontrakan lupa membayar tagihan. Kadang karena tidak ada alasan sama sekali. Kematian semacam itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Herman merebahkan diri di atas kasur lipat yang sudah mulai kempes di bagian tengah. Matanya menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Di salah satu sudut, ada bekas bocor yang sudah ditambal dengan lakban hitam. Lakban itu sudah mulai mengelupas, menandakan bahwa bocor itu akan muncul lagi jika hujan deras turun.
Dia menghela napas.
Pagi ini semuanya biasa-biasa saja. Dia bangun, mandi, makan nasi goreng sisa semalam, lalu berangkat ke Car Free Day bersama teman-temannya. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang berbeda. Hanya satu, Minggu pagi yang sama seperti Minggu-Minggu sebelumnya.
Tapi sekarang, setelah peristiwa permen karet, semuanya terasa berbeda. Dunia terasa lebih berwarna. Atau mungkin lebih kacau. Entahlah.
Herman mengeluarkan ponselnya. Listrik mati, tetapi baterai ponselnya masih tersisa empat puluh persen. Cukup untuk menjelajahi Instagram beberapa saat sebelum tidur.
Dia membuka aplikasi Instagram. Lalu membuka profil @amanda_cans.
Amanda belum membalas follow-nya. Belum follow balik. Juga belum memblokirnya. Itu adalah kabar baik. Setidaknya dia masih punya kesempatan untuk dilihat.
Gulir ke bawah. Gulir ke bawah.
Herman melihat foto-foto Amanda. Ada foto dia sedang makan es krim di pinggir jalan, dengan caption "Manisnya hidup kadang bikin diabetes". Ada foto dia bersama teman-temannya di depan sekolah, dengan caption "Geng sebelah, jangan macam-macam". Ada foto dia sedang memegang buku tebal, dengan caption "Belajar sampai mata pedih, tapi nilainya tetap manis".
Setiap foto membuat Herman tersenyum. Bukan senyum lebar, tetapi senyum kecil yang muncul tanpa izin. Senyum yang dia sendiri tidak sadar sedang dia tunjukkan.
"Kamu lagi senyum-senyum sendiri, Man." Suara Ahmat datang dari luar pintu.
Herman terkejut. Dia langsung mematikan layar ponsel dan menyembunyikannya di bawah bantal. "Enggak! Aku cuma... kedinginan."
"Kedinginan? Di dalam kontrakan yang panasnya kayak setrika?"
"Suasana hati sedang dingin."
Ahmat tertawa kecil. Dia masuk tanpa diundang lalu duduk di lantai dekat pintu. "Gue bawa makan malam. Nasi campur favorit lo dari warung Mak Endut."
Herman duduk. Matanya melihat bungkusan plastik hitam di tangan Ahmat. Aroma nasi campur mulai menyebar di ruangan sempit itu, bercampur dengan bau apek khas kontrakan yang tidak pernah hilang meskipun sudah berkali-kali dibersihkan.
"Makasih, Mat," kata Herman.
"Jangan makasih dulu. Makan dulu. Nanti keburu dingin."
Mereka berdua duduk bersila di lantai. Bungkusan nasi campur dibuka. Isinya nasi putih, ayam goreng, tempe goreng, tahu goreng, sambal terasi, dan lalapan mentah. Sederhana tetapi mengenyangkan. Untuk ukuran anak kontrakan, itu sudah mewah.
"Mikirin Amanda lagi?" tanya Ahmat sambil mengunyah tempe.
"Enggak."
"Bohong."
"Iya, bohong."
Ahmat tertawa. Dia menepuk paha Herman pelan. "Kamu tahu, Man. Aku iri sama kamu."
"Iri? Kenapa?"
"Karena kamu punya keberanian melakukan hal gila yang tidak pernah aku lakukan. Kamu berani mengambil risiko. Kamu berani dipermalukan di depan umum. Kamu berani mengejar cewek yang jelas-jelas lebih tinggi levelnya dari kamu."
"Level?"
"Status sosial, ekonomi, pergaulan. Semua level. Amanda di atas, kamu di bawah. Tapi kamu tetap berani. Itu yang membuat aku iri."
Herman mengunyah ayam gorengnya lebih lambat. Dia tidak pernah berpikir Ahmat iri padanya. Ahmat adalah teman yang paling mapan secara ekonomi. Orang tuanya punya tiga toko. Dia punya motor. Dia punya pakaian bagus. Dia punya masa depan yang lebih cerah. Sementara Herman hanya seorang pekerja kontraktor dengan gaji pas-pasan, hidup di kontrakan sempit, dan tidak punya prospek yang jelas.
"Kamu gak perlu iri sama aku, Mat," kata Herman pelan. "Aku hanya orang bodoh yang nekat tempelin permen karet di baju cewek tanpa mikir panjang."
"Justru itu yang membuatmu hebat. Kamu tidak terlalu banyak mikir. Kamu hanya melakukan."
"Tidak banyak mikir itu bukan hebat. Itu tolol."
"Sama saja kadang-kadang."
Herman tersenyum. Dia menghabiskan nasi campurnya dalam diam. Ahmat melakukan hal yang sama. Mereka berdua duduk di kontrakan yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya ponsel masing-masing, ditemani oleh suara jangkrik dari luar dan suara kipas angin yang tidak berputar karena listrik mati.
"Besok kita cari rumah Amanda?" tanya Ahmat setelah selesai makan.
"Iya."
"Yakin?"
"Iya."
"Tidak takut?"
"Takut. Tapi tidak melakukannya karena takut, itu lebih menakutkan."
Ahmat tertawa lagi. Dia berdiri, merapikan celananya yang kusut karena duduk di lantai. "Baiklah. Aku pamit pulang dulu. Besok jangan lupa. Kita kumpul di depan GOR jam satu siang."
"Jam satu siang panas, Mat."
"Ya, biar panas. Biar kita berkeringat. Biar tubuh kita sehat. Setidaknya kita tidak mandi pakai keringat orang lain."
"Gombal."
"Selamat malam, Man."
"Selamat malam, Mat."
Ahmat keluar dari kontrakan. Pintu kayu ditutup perlahan, meninggalkan Herman sendirian di dalam kegelapan.
Herman membaringkan dirinya lagi. Matanya menatap langit-langit yang tidak dia lihat karena gelap. Tapi dia tidak membutuhkan cahaya untuk melihat. Dia hanya butuh sedikit imajinasi.
Imajinasi tentang seorang perempuan bernama Amanda.
Perempuan yang marah-marah kepadanya.
Perempuan yang belum bisa dia lupakan meskipun baru bertemu sekali.
Perempuan yang mungkin akan menjadi awal dari segalanya.
Atau akhir dari segalanya.
Tapi Herman tidak peduli.
Yang dia tahu, dia sudah memulai. Dan dia tidak akan berhenti sampai selesai.
Pukul sepuluh malam, Amanda masih terjaga. Tidak biasanya dia begadang. Sebagai siswa kelas XII yang harus berangkat sekolah pukul setengah tujuh pagi, dia seharusnya sudah tidur sejak jam sembilan. Tapi malam ini, matanya tidak bisa terpejam. Bantal yang biasa dia peluk terasa panas. Sprei yang biasa dia guling-gulingi terasa kasar. Selimut yang biasa dia tarik hingga ke dagu terasa seperti kertas amplas.
Dia berguling ke kiri. Berguling ke kanan. Tengkurap. Telentang. Miring. Semua posisi dicoba, tetapi tidak ada yang nyaman.
"Aku benci ini," bisik Amanda frustrasi.
Dia menggapai ponsel di samping bantal. Layar menyala. Ada notifikasi dari Instagram.
@herman_kontraktor menyukai foto Anda.
Amanda membuka notifikasi itu. Foto yang disukai Herman adalah fotonya sedang makan es krim di pinggir jalan. Foto itu diunggah tiga bulan lalu. Artinya Herman telah menggulir ke bawah cukup jauh untuk menemukannya. Artinya dia tidak hanya sekadar melihat-lihat sekilas, tetapi benar-benar memperhatikan. Artinya...
"Berhenti," kata Amanda pada dirinya sendiri. "Berhenti overthinking. Dia hanya penasaran. Tidak lebih."
Tapi jarinya bergerak sendiri. Dia membuka profil Herman. Melihat foto-fotonya. Pemandangan proyek bangunan. Makanan di warung pinggir jalan. Teman-temannya yang sedang tertawa di depan GOR Panunjung Tarung. Tidak ada foto dengan perempuan. Tidak ada foto di tempat mewah. Semuanya sederhana. Bahkan cenderung kumuh.
Dia benar-benar belum pernah punya pacar, pikir Amanda. Cowok seusia itu biasanya sudah punya pacar atau setidaknya sudah pernah pacaran. Tapi dia belum. Apa dia terlalu pemalu? Atau terlalu aneh? Atau terlalu...
"Berhenti mikirin dia!" desis Amanda keras-keras.
Dia mematikan ponsel, meletakkannya di atas meja belajar, lalu memejamkan mata dengan sangat erat. Dia memaksa dirinya untuk tidur. Memaksa pikirannya untuk kosong. Memaksa bayangan Herman untuk pergi.
Tapi anehnya, semakin dia memaksa, semakin jelas bayangan itu. Semakin dia mencoba melawan, semakin kuat rasa ingin tahu itu.
Herman. Cowok kontraktor dengan kumis tipis. Cowok yang berani menempelkan permen karet di baju putihnya. Cowok yang bilang belum pernah punya pacar di depan umum tanpa rasa malu. Cowok yang membuatnya marah, bingung, dan anehnya, sedikit terhibur.
Kamu harus hati-hati, Amanda, kata suara di dalam kepalanya. Cowok seperti itu paling berbahaya. Karena dia tulus. Dan ketulusan adalah senjata yang paling sulit dihindari.
Amanda tidak menjawab suara hatinya itu. Dia hanya memeluk bantalnya lebih erat, lalu perlahan-lahan, tanpa dia sadari, matanya mulai terpejam.
Dia tertidur dengan bayangan Herman di pelupuk matanya.
Dan untuk pertama kalinya, bayangan itu tidak membuatnya marah.
BAB 2
AMANDA DAN 24 JAM KEMARAHAN
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Amanda terbangun. Bukan karena suara azan subuh dari masjid di ujung jalan, bukan karena ibunya yang mengetuk pintu kamar berkali-kali, bukan juga karena alarm ponsel yang berbunyi nyaring. Amanda terbangun karena dia bermimpi. Bukan mimpi indah tentang pangeran berkuda putih, tetapi mimpi buruk tentang seekor permen karet raksasa yang mengejarnya di tengah Car Free Day , lengket, kenyal, dan berwarna merah muda menyala. Dalam mimpi itu, permen karet raksasa itu terus berteriak dengan suara Herman, "TEMPELIN AJA, MAN! TEMPELIN AJA!"
"Sial," gumam Amanda sambil duduk di atas kasur. Keringat dingin membasahi lehernya. Rambutnya yang diikat kuda semalam kini telah tercerai-berai menjadi kusut yang mengerikan. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha menghilangkan sisa-sisa mimpi yang masih melekat di kepalanya seperti permen karet di baju.
Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 05.15. Biasanya Amanda baru bangun pukul 05.45, mandi kilat, sarapan dengan terburu-buru, lalu berangkat ke sekolah sebelum bel pertama berbunyi. Tapi pagi ini dia sudah terbangun tiga puluh menit lebih awal, dengan energi negatif yang melimpah seperti gunung berapi yang siap meletus kapan saja.
Dia melirik ke sudut kamar. Baju olahraga putih yang terkena permen karet masih tergeletak di sana, persis di tempat dia melemparkannya kemarin sore. Sepanjang malam, tidak ada peri ajaib yang datang untuk membersihkannya. Tidak ada keajaiban. Yang ada hanya permen karet yang sudah mengeras sempurna, menyatu dengan serat kain putih polos, seperti pasangan yang tidak terpisahkan.
Amanda berdiri, berjalan ke sudut kamar, lalu mengambil baju itu dengan dua jari, seolah-olah baju itu adalah bangkai tikus yang menjijikkan. Dia mengamati permen karet yang sudah mengeras itu. Bentuknya tidak lagi bulat sempurna, tetapi melebar seperti bintang laut yang mati kehausan. Warnanya masih merah muda, tetapi sedikit kusam karena sudah tercampur debu dan keringat.
"Ini permen karet paling menyebalkan yang pernah aku temui dalam hidupku," ucap Amanda kepada dirinya sendiri.
Dia membawa baju itu ke kamar mandi. Air dituang ke dalam waskom plastik berwarna biru tua. Sabun cuci piring disemprotkan berkali-kali hingga berbusa seperti salju di puncak gunung. Amanda merendam bahu baju yang terkena permen karet ke dalam air sabun, lalu menggosoknya dengan sikat gigi bekas yang sudah tidak terpakai.
Digosok. Digosok. Digosok.
Baju menjadi basah. Sabun meresap ke mana-mana. Tapi permen karetnya tetap menempel dengan angkuhnya. Tidak bergeming. Tidak melemah. Bahkan setelah digosok dengan kekuatan penuh, permen karet itu masih tersenyum kepadanya dengan rasa strawberry-nya yang palsu.
"BANDEL BANGET SIH!" teriak Amanda frustrasi. Suaranya bergema di kamar mandi kecil itu, memantul dari dinding ubin ke dinding ubin lainnya.
Ibunya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur langsung kaget. "AMANDA! KAMU TERIAK-TERIAK KENAPA? JATUH?"
"ENGGAK, MAH! CUMA PERMEN KARET! PERMEN KARETNYA BANDEL!"
"PERMEN KARET APAAN?"
"PERMEN KARET PUNYA COWOK GOBLOK!"
Diam sejenak. Lalu terdengar suara ibunya yang tertawa kecil dari dapur. Tertawa yang membuat Amanda semakin geram karena dia tahu ibunya sedang membayangkan adegan yang sama seperti kemarin: ada cowok idiot yang menempelkan permen karet di baju anaknya.
"MAH, JANGAN TERTAWA! INI SERIUS!"
"IYA, IYA, IBU GAK TERTAWA," jawab ibunya sambil terus tertawa.
Amanda hampir melempar sikat gigi ke arah pintu kamar mandi. Dia menahan diri. Menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan. Lalu mencoba metode lain.
Dia ingat pernah membaca di internet bahwa permen karet bisa dihilangkan dengan es batu. Biarkan permen karet membeku, lalu kerik dengan pisau tumpul. Itu teorinya. Praktiknya? Amanda mengambil es batu dari kulkas, menggenggamnya di tangan kiri, lalu menggosokkan es batu itu ke permen karet. Dinginnya menusuk jari-jarinya. Tangannya hampir beku. Tapi permen karet hanya menjadi keras dan lebih sulit dikerik.
Dicoba dengan minyak kayu putih seperti saran Dahlia kemarin. Bau minyak kayu putih menyebar di kamar mandi, membuat suasana seperti ruang pijat tradisional. Permen karetnya sedikit melunak, tetapi masih menempel.
Dicoba dengan cuka. Tidak berpengaruh.
Dicoba dengan pasta gigi. Malah jadi lengket-lengket sabun.
Dicoba dengan gigitan langsung. Gigi Amanda hampir copot.
"SUDAH!" pekik Amanda. Dia melempar baju itu ke lantai kamar mandi. Lalu duduk di kursi kloset jongkok sambil menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku tidak akan memakai baju ini lagi. Biar jadi kenang-kenangan paling menyebalkan."
Dari luar kamar mandi, suara ibunya terdengar lagi. "AMANDA! KAMU SUDAH MANDI? SARAPAN SUDAH SIAP!"
"SEBENTAR LAGI, MAH!"
Amanda berdiri, membuka keran air, dan mandi dengan air dingin. Biasanya dia mandi air hangat jika pagi terasa sedikit dingin. Tapi pagi ini dia butuh air dingin untuk menenangkan kepalanya yang panas membara. Air mengalir dari ujung rambut ke ujung kaki. Membasahi setiap pori-pori. Mendinginkan setiap denyut nadi yang berdetak terlalu cepat. Setelah sepuluh menit, Amanda keluar dari kamar mandi dengan tubuh sedikit menggigil, tetapi pikirannya sedikit lebih tenang.
Tidak sepenuhnya tenang. Tapi cukup untuk tidak membanting pintu kamar.
Sarapan pagi itu adalah nasi goreng dengan telur ceplok dan kerupuk udang. Menu favorit Amanda sejak kecil. Biasanya dia bisa menghabiskan dua piring nasi goreng tanpa kesulitan. Tapi pagi ini dia hanya menghabiskan setengah piring, itupun dengan wajah cemberut seperti anak kecil yang kehilangan permen.
"Cuma setengah?" tanya ibunya sambil duduk di seberang meja.
"Enggak lahap, Mah."
"Karena permen karet?"
Amanda menghentikan suapan di mulutnya. Dia menelan perlahan, lalu meneguk air putih untuk melancarkan makanan yang terasa seperti pasir di tenggorokan. "Iya. Karena permen karet."
Ibu Amanda menghela napas. Dia meletakkan sendoknya, lalu menatap anak perempuannya dengan mata lembut yang hanya dimiliki oleh seorang ibu. "Cerita sama Ibu, Ndah. Kenapa kamu begitu marah? Apakah hanya karena baju itu mahal? Ibu bisa belikan baju baru yang lebih mahal."
"Bukan soal uang, Mah."
"Lalu soal apa?"
Amanda terdiam. Dia memainkan kerupuk udang di piringnya, memecahkannya menjadi potongan-potongan kecil tanpa niat memakannya. "Aku marah karena... rasanya dia meremehkan aku. Aku diajak bercanda oleh orang yang tidak aku kenal. Di depan umum. Tanpa izin."
"Tapi dia sudah minta maaf."
"Minta maaf tidak cukup, Mah. Dia harus tahu bahwa perbuatannya itu menyebalkan. Bahwa tidak semua orang bisa diajak bercanda seperti itu."
"Jadi, apa yang kamu inginkan? Kamu ingin dia datang lagi, berlutut di depan rumah, sambil membawa seratus baju baru?"
Amanda membayangkan adegan itu. Herman berlutut dengan wajah memelas, dikelilingi oleh tumpukan baju olahraga putih. Entah kenapa, bayangan itu membuatnya hampir tersenyum. Tapi dia segera mengusir senyum itu sebelum sempat terlihat oleh ibunya.
"Aku tidak tahu apa yang aku inginkan, Mah. Aku hanya marah. Dan rasa marah ini tidak bisa hilang hanya dengan dia bilang maaf."
"Marah itu butuh waktu, Nak. Kamu tidak bisa memaksakan diri untuk berhenti marah. Yang bisa kamu lakukan hanya membiarkan waktu berjalan, dan perlahan-lahan rasa marah itu akan berkurang dengan sendirinya."
"Kalau tidak berkurang?"
"Ya sudah, kamu marah seumur hidup. Tapi apakah sepadan? Marah kepada seseorang yang mungkin tidak pernah berpikir panjang sebelum bertindak?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya menghabiskan sisa setengah piring nasi gorengnya dengan malas, lalu pamit pada ibunya untuk berganti pakaian sekolah.
Seragam SMA Amanda adalah rok abu-abu selutut dan kemeja putih lengan pendek. Setiap pagi, dia selalu memastikan seragamnya disetrika dengan rapi, tidak ada lipatan, tidak ada kusut. Dia juga selalu menyemprotkan parfum vanilla di pergelangan tangan dan leher, wangi yang menjadi ciri khasnya sejak kelas sepuluh.
Tapi pagi ini, ketika dia berdiri di depan cermin kamar, perhatiannya tidak tertuju pada kerapian seragam atau wangi parfum. Perhatiannya tertuju pada bahu kanannya. Di tempat yang sama di mana permen karet itu menempel kemarin pagi.
Dia bisa merasakan permen karet itu masih ada. Bukan secara fisik, karena bajunya sudah dia ganti. Tapi secara psikologis, seolah-olah permen karet itu sudah pindah dari baju olahraga ke kulitnya, menempel di sana, tidak mau pergi.
"Pokoknya hari ini aku harus fokus sekolah," bisik Amanda pada bayangannya sendiri di cermin. "Tidak boleh kepikiran cowok idiot itu. Tidak boleh. Tidak boleh. TIDAK BOLEH."
Dia mengulang kalimat itu tiga kali. Seperti mantra. Seperti doa. Tapi dia tahu, mantra terkuat sekalipun tidak akan bisa mengusir bayangan Herman jika bayangan itu sudah terlalu dalam bersarang di kepalanya.
SMA Negeri 2 Kuala Kapuas berdiri di atas lahan seluas satu hektar di Jalan Pemuda. Bangunannya tidak terlalu megah, tetapi cukup representatif untuk sekolah favorit di kota itu. Setiap pagi, ribuan siswa memadati gerbang utama, ada yang jalan kaki, ada yang naik sepeda motor, ada pula yang diantar oleh orang tua masing-masing.
Amanda termasuk yang terakhir. Ayahnya, yang kebetulan belum berangkat ke toko sembako, menawarkan diri untuk mengantar. Biasanya Amanda menolak karena dia lebih suka jalan bersama teman-temannya. Tapi pagi ini dia mengiyakan tawaran ayahnya. Alasannya sederhana: dia butuh ketenangan. Dan mobil adalah tempat yang tenang.
"Ayah dengar dari Ibu kamu ada cowok yang tempelin permen karet di baju kamu," kata ayah Amanda sambil memegang setir mobil dengan satu tangan.
Amanda langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Mamah, kok ngasih tahu sih?"
"Ibu kamu cerita tadi pagi setelah kamu mandi. Ayah sempat kaget, tapi setelah Ibu kamu cerita detailnya, Ayah jadi tertawa."
"KENAPA SETIAP ORANG TERTAWA? INI NGGAK LUCU!"
"Iya, Ndah. Buat kamu tidak lucu. Buat Ayah, agak lucu."
"AGAK LUCU JUGA NGGAK BOLEH!"
Ayah Amanda tertawa kecil. Dia menggeser posisi tangannya di setir, lalu menepuk paha anak perempuannya dengan lembut. "Ayah tahu kamu marah. Tapi coba lihat dari sisi lain. Cowok itu mungkin hanya bercanda. Atau mungkin dia memang punya maksud tertentu."
"Maksud tertentu? Apa? Merusak baju orang?"
"Mendekati kamu."
Amanda terdiam. Kata-kata ayahnya menusuk lebih dalam daripada yang dia kira. Mendekati kamu. Apakah mungkin Herman menempelkan permen karet itu sebagai cara untuk mendekatinya? Apakah itu strategi? Atau hanya kebodohan murni?
"Kalau dia benar-benar bermaksud mendekati kamu," lanjut ayahnya, "dia akan datang lagi. Dengan cara yang tidak konyol. Dan saat itu, kamu bisa menilainya. Apakah dia layak kamu hiraukan atau tidak."
"Dan kalau dia tidak datang lagi?"
"Berarti dia hanya iseng. Dan kamu tidak perlu membuang energimu untuk orang iseng."
Amanda mengangguk pelan. Ayahnya selalu punya cara untuk membuat segalanya terlihat sederhana. Terlalu sederhana, kadang-kadang. Tapi di saat seperti ini, kesederhanaan itu justru membantu.
Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Amanda membuka pintu, turun, lalu menutup pintu dengan pelan. "Hati-hati di jalan, Yah."
"Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di sekolah. Jangan cari masalah dengan cowok-cowok nakal."
"Kalau cowok nakalnya yang cari aku?"
"Lapor guru."
"Dan kalau gurunya tidak memihak?"
"Lapor Ayah."
Amanda tersenyum kecil. Dia melambaikan tangan pada ayahnya sebelum berjalan masuk ke gerbang sekolah. Di dalam, teman-temannya sudah menunggu di dekat tiang bendera.
"Akhirnya datang juga!" sapa Dahlia dengan suara riang. Empat perempuan itu berdiri melingkar di dekat pohon rindang, tempat biasa mereka berkumpul sebelum bel pertama berbunyi.
"Muka Amanda kok kayak habis begadang semalaman?" tanya Yunita sambil menyelidik.
"Tidur nggak nyenyak," jawab Amanda singkat.
"Mimpi buruk?" tanya Anita.
"Mimpi dikejar permen karet raksasa," jawab Amanda tanpa ekspresi.
Semua temannya langsung tertawa. Bahkan Sania yang biasanya paling kalem ikut tertawa kecil.
"Gila, mimpi apa itu?" Dahlia memegang perutnya.
"Aku juga gak tahu. Yang jelas, sepeninggalan kalian kemarin, aku gak bisa berhenti mikirin cowok idiot itu. Bajunya sudah aku cuci pakai sabun, minyak kayu putih, cuka, pasta gigi, bahkan aku gigit, tapi permen karetnya gak mau lepas."
"Kamu gigit? GIGIT?" Yunita membelalakkan mata. "Pakai gigi kamu sendiri?"
"Iya."
"GILA! Itu berbahaya! Gigi kamu bisa copot!"
"Tapi permen karetnya juga gak lepas," jawab Amanda dengan nada sedikit menyesal.
Dahlia menggeleng-gelengkan kepala. "Amanda, kamu tuh terlalu serius. Coba santai sedikit. Nikmati saja drama ini."
"Menikmati drama? Bajuku yang kena, Dahlia. Bukan baju kamu."
"Tapi kamu yang dapat cerita lucu buat diceritakan ke cucu kamu nanti," potong Sania dengan tenang.
"Kenapa semua orang di sekitarku suka bilang soal anak cucu? Aku baru kelas dua belas!"
"Ya, persiapan dini," jawab Sania tanpa mengedip.
Amanda menghela napas panjang. Dia tahu teman-temannya tidak bermaksud jahat. Mereka hanya ingin membuatnya tertawa. Tapi Amanda belum siap tertawa. Kemarahannya masih terlalu segar, seperti luka sayatan yang baru saja ditutup plester.
"Oke, lupakan dulu soal permen karet dan cowok idiot itu," kata Amanda sambil mengatur tas di pundaknya. "Kita fokus ke pelajaran. Hari ini ada ujian Matematika, kan?"
"Iya," jawab Anita. "Jam ketiga. Kamu sudah belajar?"
"Semalam gak bisa belajar. Pikiran kacau."
"Tenang, nanti aku pinjemin catatan," tawar Yunita.
"Makasih, Nit."
Bel pertama berbunyi. Para siswa mulai berjalan menuju kelas masing-masing. Amanda berjalan paling depan, diikuti oleh keempat temannya. Sesekali dia melirik ke arah kiri dan kanan, berharap tidak melihat sesuatu yang tidak diinginkan. Seperti misalnya, seorang cowok dengan kumis tipis yang tersenyum canggung di balik pagar sekolah.
Tapi tidak ada Herman. Yang ada hanya siswa-siswa lain yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Legaaaa, pikir Amanda. Setidaknya dia gak se-stalker itu.
Tapi di dalam hati kecilnya, ada suara lain yang mengatakan: Atau jangan-jangan dia memang tidak tertarik sama sekali untuk mencarimu?
Amanda menggelengkan kepala keras-keras, cukup keras sampai Dahlia di belakangnya bertanya, "Kamu kenapa, Am?"
"Enggak. Cuma ada nyamuk."
"Di sekolah? Jam segini?"
"Nyamuk bandel."
Dahlia hanya mengangkat bahu. Mereka terus berjalan menuju kelas, meninggalkan halaman sekolah yang mulai ramai oleh siswa-siswa yang berlarian mengejar bel.
Jam pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Guru yang mengajar adalah Bu Siti, seorang perempuan paruh baya dengan suara lantang dan kacamata tebal yang membuat matanya terlihat seperti mata ikan. Hari itu, Bu Siti sedang membahas tentang puisi. Khususnya puisi cinta.
"Puisi cinta tidak selalu harus romantis," kata Bu Siti di depan kelas. "Puisi cinta juga bisa berisi kemarahan, kekecewaan, bahkan kebencian. Karena cinta dan benci itu dua sisi dari koin yang sama. Orang yang sangat kamu cintai, suatu saat bisa menjadi orang yang paling kamu benci."
Amanda yang sedang melamun langsung tersadar. Cinta dan benci itu dua sisi dari koin yang sama. Kalimat itu terngiang di kepalanya seperti gema di lembah yang sunyi.
"Contohnya," lanjut Bu Siti, "pernah ada seorang siswa kelas dua belas yang menulis puisi tentang kekesalannya pada seorang cowok yang mengganggunya setiap pulang sekolah. Puisi itu sangat kasar, penuh amarah, tetapi gurunya tetap memberikan nilai sembilan karena puisi itu jujur dan sangat menghayati."
"Mana puisinya, Bu?" tanya seorang siswa di bangku depan.
"Saya tidak bisa bacakan di sini karena isinya terlalu kasar. Tapi saya bisa kasih kesimpulan: puisi itu intinya si penulis benci banget sama cowok itu, tapi di akhir puisi dia bilang, 'Aku benci kamu karena kamu membuatku merasakan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.' Itu adalah puisi paling jujur yang pernah saya baca."
Seluruh kelas berdiskusi kecil. Ada yang tertawa. Ada yang mengangguk-angguk. Ada pula yang diam sambil merenung.
Amanda tidak melakukan apapun. Dia hanya duduk di bangkunya, tidak bergerak, tidak berbicara. Matanya menatap papan tulis tanpa benar-benar melihat. Pikirannya melayang ke tempat yang tidak bisa dia kendalikan.
Aku benci kamu karena kamu membuatku merasakan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
Apakah itu yang dia rasakan terhadap Herman? Apakah kemarahannya bukan sekadar kemarahan biasa, tetapi kemarahan yang lahir dari kebingungan karena dia tidak bisa menjelaskan mengapa cowok itu begitu mudah memasuki pikirannya?
"Amanda!" panggil Bu Siti.
Amanda tersentak. "Iya, Bu?"
"Kamu dari tadi diam saja. Tidak ikut diskusi?"
"Maaf, Bu. Sedang... memikirkan sesuatu."
"Pikirkan apa?"
"Pikirkan tentang puisi yang Ibu ceritakan tadi."
"Bagus. Kalau begitu, coba buat satu puisi pendek tentang perasaan yang sedang kamu rasakan sekarang. Kumpulkan di akhir jam pelajaran."
Amanda mengerjap. "Sekarang, Bu?"
"Iya, sekarang. Kamu punya waktu tiga puluh menit. Tulis di selembar kertas."
Amanda mengeluarkan buku catatan. Dia membuka halaman kosong, lalu memegang pulpen dengan jari yang sedikit gemetar. Apa yang harus dia tulis? Tentang permen karet? Tentang kemarahan? Tentang Herman?
Dia mulai menulis.
"Aku marah padamu,
Bukan karena permen karet itu,
Tapi karena setelah permen karet itu lengket,
Yang lengket bukan hanya bajuku,
Tapi juga bayanganmu."
Dia berhenti. Membaca ulang. Lalu mengernyit.
"Apa-apaan ini?" bisiknya. "Ini bukan puisi cinta. Ini puisi orang yang sudah kehilangan akal sehat."
Tapi dia tidak menghapusnya. Dia melanjutkan menulis.
"Aku ingin marah selamanya,
Tapi kenapa setiap kali marah,
Aku justru semakin mengingat wajahmu?
Ini tidak adil,
Kamu merusak bajuku,
Dan aku yang harus memikirkanmu."
Amanda meletakkan pulpennya. Puisi itu pendek, tidak puitis, bahkan cenderung kaku. Tapi itu jujur. Itu adalah jujur yang paling jujur yang pernah dia tulis.
Dia melipat kertas itu menjadi dua, lalu menulis namanya di sudut kanan atas. Tiga puluh menit kemudian, dia berjalan ke depan kelas dan menyerahkan puisi itu ke Bu Siti.
Bu Siti membacanya sekilas, lalu tersenyum. "Ini puisi yang bagus, Amanda."
"Bagus apa, Bu? Aku hanya curhat."
"Curhat yang jujur selalu lebih bagus daripada puisi yang dibuat-buat. Kamu boleh ambil nilai sembilan untuk ini."
Amanda tersenyum kecil. Ini adalah senyum pertamanya sejak kemarin pagi.
Jam istirahat pertama, Amanda dan teman-temannya duduk di kantin sekolah. Mereka memesan bakso dan es teh manis. Suasana kantin ramai oleh siswa-siswa lain yang juga sedang mengisi perut. Ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang berdebat soal jawaban ujian, ada pula yang diam-diam saling kirim pesan di ponsel masing-masing.
"Am, aku lihat tadi kamu nulis puisi di kelas," kata Dahlia sambil menyedot bakso.
"Iya. Suruhan Bu Siti."
"Itu puisi tentang apa?"
"Tentang... perasaan."
"Perasaan apa? Perasaan marah? Perasaan kesal? Perasaan rindu?"
"DAHLIA!" Amanda memukul meja plastik di depan mereka. Beberapa siswa di meja sebelah menoleh, lalu kembali ke urusan masing-masing setelah menyadari tidak ada yang serius.
"Kenapa sih kalian semua sepertinya sangat ingin aku mengaku bahwa aku suka sama Herman?" tanya Amanda dengan suara sedikit tinggi.
"Karena kamu jelas-jelas suka sama dia," jawab Sania dengan tenang sambil mengaduk es tehnya.
"APA TANDANYA?"
"Tadinya aku tidak yakin. Tapi sejak kamu tiba-tiba marah besar ketika kami menyebut namanya, aku jadi yakin. Orang yang tidak suka biasanya cuek. Orang yang suka biasanya... overreact."
"DAN AKU OVERREACT?"
"Sekali lagi, buktinya sekarang," Sania tersenyum tipis. "Kamu marah karena kami bilang kamu suka dia. Seharusnya kalau kamu benar-benar tidak suka, kamu hanya akan tertawa dan bilang, Ah, enggak lah, gila aja. Tapi kamu malah memukul meja dan berteriak."
Amanda terdiam. Mulutnya terbuka setengah, seolah ingin membantah, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Yunita menepuk bahu Amanda pelan. "Tenang, Am. Tidak ada yang salah dengan suka sama orang. Bahkan orang yang awalnya kamu benci sekalipun."
"Aku tidak suka dia," desis Amanda.
"Iya, kamu tidak suka dia. Kamu cuma... penasaran."
"Iya. Penasaran."
"Penasaran yang berlebihan sampai mimpi dikejar permen karet raksasa."
"ITU KEJADIAN TERPISAH!"
Semua temannya tertawa. Amanda ikut tertawa, meskipun terpaksa. Tapi tawa itu membuat dadanya terasa lebih ringan. Setidaknya untuk sementara.
Jam pelajaran ketiga adalah Matematika. Ujian. Soal-soal deret dan logaritma berjejer rapi di lembar kertas. Amanda mengerjakannya dengan konsentrasi penuh. Tidak ada ruang untuk memikirkan Herman. Tidak ada ruang untuk permen karet. Hanya angka, rumus, dan perhitungan.
Dia menyelesaikan semua soal dalam waktu empat puluh menit. Masih tersisa dua puluh menit untuk memeriksa ulang. Dan dalam dua puluh menit itulah, celah kosong di pikirannya mulai diisi kembali oleh bayangan Herman.
Herman pekerja kontraktor. Herman umur dua puluh tiga. Herman belum pernah pacaran.
"Berhenti," bisik Amanda.
Dia membaca soal nomor lima lagi. Deret aritmatika. Suku pertama a, beda b. Tentukan jumlah dua puluh suku pertama. Rumusnya Sn = n/2 (2a + (n-1)b). Dia menulis rumus itu di lembar jawaban, memasukkkan angka-angka, menghitung dengan teliti.
Herman. Amanda. Permen karet. Car Free Day .
"SIALAN!" umpat Amanda pelan-pelan.
Dia menghapus tulisannya dan mulai menghitung dari awal.
Tapi semakin dia mencoba fokus, semakin kacau pikirannya. Akhirnya dia hanya bisa pasrah. Dia menyerahkan lembar jawaban kepada guru pengawas, lalu keluar dari ruang ujian meskipun masih ada waktu sepuluh menit.
Di luar kelas, udara terasa lebih segar. Amanda berdiri di depan jendela koridor, menatap lapangan upacara yang kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya burung-burung pipit yang bertengger di tiang bendera, berkicau tanpa peduli dengan segala kegalauan yang dialami oleh seorang siswa kelas dua belas bernama Amanda.
"Kamu kenapa?" Suara datang dari belakang. Amanda menoleh. Itu Ragil. Cowok kelas dua belas dari kelas sebelah yang terkenal ganteng, populer, dan sering mengiriminya pesan di Instagram.
"Enggak kenapa-kenapa," jawab Amanda datar.
"Keluar duluan dari ujian. Itu tanda kamu stres."
"Bukan stres. Cuma... pusing."
Ragil mendekat. Dia berdiri di samping Amanda, juga menatap lapangan upacara yang kosong. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Enggak. Makasih."
"Kamu yakin? Aku bisa temani kalau kamu butuh teman cerita."
"Ragil, aku baik-baik saja. Serius."
Ragil tersenyum. Senyum yang biasa dia gunakan untuk membuat perempuan-perempuan di sekolah meleleh. Tapi tidak untuk Amanda. Amanda sudah kebal terhadap senyum semacam itu.
"Baiklah," kata Ragil. "Tapi kalau kamu berubah pikiran, kamu tahu di mana aku berada."
"Iya. Makasih."
Ragil berjalan pergi. Amanda menghela napas lega. Dia tidak butuh Ragil. Yang dia butuhkan adalah... dia tidak tahu apa yang dia butuhkan. Mungkin tidur. Mungkin makan es krim. Atau mungkin pergi ke Car Free Day lagi, berharap bertemu Herman, lalu memarahinya sekali lagi untuk melepaskan semua beban ini.
Itu ide gila, pikirnya. Tapi semua ide yang berhubungan dengan Herman memang gila.
Sepulang sekolah, Amanda tidak langsung pulang. Dia mampir ke toko buku di dekat sekolah untuk membeli alat tulis. Di dalam toko, dia tidak sengaja melihat setoples permen karet rasa stroberi yang dijual di dekat kasir. Persis seperti permen karet yang ditempelkan Herman di bajunya.
Matanya terpaku pada toples itu selama beberapa detik. Wajahnya berubah campur aduk antara marah dan ingin tertawa.
"Mbak, mau beli?" tanya kasir.
"Enggak," jawab Amanda cepat. "Saya benci permen karet."
Dia keluar dari toko dengan langkah cepat, tanpa membeli apapun.
Malam tiba. Amanda duduk di kamarnya, ditemani secangkir susu coklat hangat dan ponsel yang dia pegang di tangan kiri. Layar ponsel menampilkan Instagram. Profil @herman_kontraktor.
Dia sudah setengah jam bergulir di profil Herman. Melihat foto-foto proyek bangunan yang menurutnya membosankan. Melihat foto-foto makanan di warung pinggir jalan yang menurutnya tidak istimewa. Melihat foto-foto Herman bersama teman-temannya, tertawa dengan mulut terbuka lebar, tidak peduli apakah gigi mereka rapi atau tidak.
Dia terlihat bahagia di foto-foto ini, pikir Amanda. Bahagia dengan hal-hal sederhana. Tidak butuh kemewahan. Tidak butuh pengakuan. Hanya bersyukur dengan apa yang dia miliki.
"Kenapa aku bisa kepikiran begini?" tanya Amanda pada dirinya sendiri.
Dia mematikan ponsel. Menyeruput susu coklatnya. Memandangi bulan di luar jendela yang berbentuk sabit tipis, seperti permen karet yang sudah dimakan setengah.
"Ya Allah," bisik Amanda. "Hari ini aku marah seharian. Aku marah karena permen karet. Aku marah karena Herman. Aku marah karena teman-temanku yang selalu tertawa. Aku marah karena Bu Siti yang menyuruhku menulis puisi. Aku marah karena Ragil yang tiba-tiba peduli. Aku marah karena semuanya."
Tapi di akhir kalimatnya, dia tersenyum.
"Tapi kenapa di tengah semua kemarahan ini, aku merasa... hidup?"
Dia tidak tahu jawabannya.
Yang dia tahu, dua puluh empat jam pertama setelah peristiwa permen karet telah berlalu. Dan dia masih belum bisa melupakan Herman. Mungkin dua puluh empat jam berikutnya juga sama. Atau dua puluh empat jam setelahnya. Atau selamanya.
Amanda merebahkan diri di kasur. Susu coklat diletakkan di meja samping tempat tidur. Ponsel dimatikan. Lampu kamar dipadamkan.
Dalam gelap, dia berbisik, "Herman, kamu membuatku marah seharian penuh. Tapi anehnya, aku tidak benar-benar ingin kemarahan ini berakhir."
Dia memejamkan mata.
Dan untuk kedua kalinya, dia tertidur dengan bayangan Herman di pelupuk matanya.
Tapi kali ini, bayangan itu tidak membuatnya marah.
Hanya membuatnya tersenyum.
BAB 3
PENAMPAKAN PERTAMA HANTU PERMEN KARET
Dua hari telah berlalu sejak peristiwa permen karet di Car Free Day . Dua hari yang terasa seperti dua tahun bagi Herman. Setiap malam dia tidur dengan bayangan Amanda yang marah-marah di depan umum. Setiap pagi dia bangun dengan harapan bahwa hari ini dia akan bertemu Amanda lagi, meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika pertemuan itu benar-benar terjadi. Apakah dia akan meminta maaf lagi? Apakah dia akan diam saja? Atau apakah dia akan melakukan hal bodoh lain yang akan membuat Amanda semakin membencinya? Herman tidak tahu. Yang dia tahu, dia tidak bisa terus-terusan berada dalam ketidakpastian seperti ini.
Hari Minggu. Tidak ada kerja untuk Herman karena proyek perumahan tempat dia bekerja libur di akhir pekan. Biasanya dia menghabiskan hari Minggu dengan tidur sampai siang, lalu nongkrong di warung kopi sampai sore. Tapi hari Minggu ini berbeda. Hari ini, Ahmat telah mengatur rencana pencarian alamat rumah Amanda. Rencana yang kemarin sempat tertunda karena hujan deras di sore hari, tetapi hari ini cuaca cerah sempurna, seolah-olah langit sendiri mendukung misi konyol mereka.
"Kumpul di depan GOR jam satu siang," kata Ahmat di grup WhatsApp semalam.
"Jam satu siang panas, Mat," balas Yanto.
"Biarpun panas, kita tetap jalan. Sudah janji."
"Aku tidak janji. Kalian yang janji," balas Yanto lagi.
"Kamu ikut atau tidak?"
"Ikut."
"Ya sudah, diam."
Itulah Ahmat. Tidak suka banyak basa-basi. Jika dia sudah memegang komando, semua orang harus mengikuti. Tidak ada pengecualian. Tidak ada toleransi. Apalagi untuk urusan yang menurutnya penting, seperti membantu teman yang sedang jatuh cinta.
Herman tiba di depan GOR Panunjung Tarung pukul dua belas siang, satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Dia duduk di trotoar beton favoritnya, menghadap ke jalan raya yang sepi di siang hari. Sesekali mobil lewat. Sesekali motor. Tapi kebanyakan hanya angin panas yang berhembus, membawa debu dari jalan yang tidak pernah disiram.
"Datang cepat banget, Man." Suara Ahmat datang dari belakang.
Herman menoleh. Ahmat berdiri di belakangnya sambil membawa dua botol air mineral dingin. Salah satunya dia sodorkan ke Herman.
"Minum dulu. Biar tidak dehidrasi."
"Makasih, Mat."
Mereka berdua duduk di pagar beton, minum air mineral dalam diam. Matahari tepat di atas kepala mereka, membakar kulit dengan intensitas yang tidak ramah. Keringat mulai mengalir di pelipis Herman, menetes ke pipi, lalu jatuh ke tanah yang kering.
"Kamu gugup?" tanya Ahmat.
"Enggak."
"Bohong lagi."
"Sedikit."
Ahmat tertawa kecil. "Wajar. Kamu mau datang ke rumah cewek yang baru kamu tempelin permen karet. Itu bukan hal yang biasa dilakukan orang setiap hari."
"Aku tidak datang sendirian. Kalian ikut."
"Iya, kami ikut. Tapi yang masuk ke rumahnya tetap kamu. Kami hanya akan menunggu di luar. Atau di warung terdekat. Atau di dalam mobil jika ada yang bawa mobil."
"Kita tidak punya mobil, Mat."
"Ya sudah, di bawah pohon rindang."
Herman menghela napas. Dia sudah membayangkan skenario terburuk: Amanda melihatnya dari balik jendela, lalu keluar rumah dengan membawa sapu, lalu menghajarnya sampai babak belur. Atau ayah Amanda yang ternyata preman pasar, lalu membawanya ke pos ronda untuk diinterogasi. Atau ibunya yang langsung pingsan melihat anak perempuannya didatangi cowok asing. Semua skenario buruk itu berputar di kepalanya seperti film horor yang tidak bisa dia matikan.
"Mat, menurutmu apa yang harus aku katakan nanti?" tanya Herman.
"Katakan kamu datang untuk meminta maaf. Bawa baju baru kalau perlu."
"Aku belum beli baju baru."
"Kenapa belum?"
"Uangku belum cair."
"Ya sudah, bilang kamu akan ganti minggu depan."
"Kalau dia marah?"
"Ya sudah, terima marahnya. Kamu memang pantas dimarahi."
Herman tidak bisa membantah. Ahmat selalu logis. Kadang terlalu logis sehingga menyebalkan. Tapi di saat seperti ini, logika Ahmat adalah satu-satunya jangkar yang mencegah Herman hanyut dalam kekalutannya sendiri.
Pukul setengah satu siang, Yanto, Mahdili, Yuni, Bintang dan Herawati datang. Mereka datang dengan berboncengan motor, dua motor butut yang sering mogok di jalan. Yanto membawa helm tanpa kaca, rambutnya acak-acakan seperti habis diaduk angin. Mahdili membawa ransel besar berisi air mineral dan camilan. Yuni dan Herawati masing-masing membawa payung kecil untuk melindungi kulit putih mereka dari sengatan matahari.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Yanto sambil mengusap keringat di dahinya.
"Tunggu sebentar," jawab Ahmat. "Aku masih memastikan alamatnya."
"Alamatnya belum pasti?"
"Iya. Yang aku tahu cuma Jalan Nusa Indah. Rumahnya besar, nomor tiga belas. Tapi Jalan Nusa Indah itu panjang. Bisa jadi kita harus keliling dulu."
"Berarti kita bakalan muter-muter di Jalan Nusa Indah kayak orang nyasar?" tanya Herawati dengan nada sedikit kesal.
"Kurang lebih begitu."
"Ya Allah, Mat. Kenapa tidak kamu pastikan dulu dari rumah?"
"Kemarin aku sibuk. Ada kerjaan."
"Libur."
"Ya, kerjaan rumah."
Yuni menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah muak dengan gaya Ahmat yang suka setengah-setengah. Tapi karena dia sudah terlanjur ikut, dia tidak bisa mundur. Yang bisa dia lakukan hanya pasrah.
"Baiklah," kata Yuni. "Ayo kita cari. Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak tahan panas begini."
Mereka berangkat. Ahmat dan Yanto satu motor. Mahdili dan Herawati satu motor. Herman bonceng dengan Yuni, posisi yang paling tidak nyaman karena Yuni membawa payung yang kadang terbang tertiup angin. Mereka melaju pelan-pelan di sepanjang Jalan Usa Indah, mata masing-masing mengamati nomor rumah di setiap pintu gerbang.
Jalan Nusa Indah adalah salah satu kawasan perumahan menengah ke atas di Kuala Kapuas. Rumah-rumah di sini kebanyakan berdinding bata dengan halaman yang cukup luas. Ada taman kecil di depan, ada pagar besi, ada juga beberapa rumah yang memelihara anjing. Herman merasa asing di lingkungan ini. Udara di sini terasa berbeda. Lebih bersih. Lebih tenang. Jauh dari hiruk-pikuk pasar dan suara knalpot motor yang sering dia dengar setiap hari di kontrakannya.
"Nomor satu... nomor dua... nomor tiga..." hitung Yanto dari motor di depan.
"Nomor tiga belas pasti jauh," kata Mahdili.
"Sabar. Kita baru sampai nomor lima."
Mereka terus melaju. Rumah-rumah di Jalan Nusa Indah semakin jarang seiring mereka masuk ke bagian yang lebih dalam. Pepohonan rindang di kanan-kiri membuat udara sedikit lebih sejuk. Ada beberapa anak kecil yang bermain sepeda di pinggir jalan, sesekali mengeong kucing atau berteriak tanpa sebab.
"Nomor sepuluh!" teriak Ahmat.
"Nomor sebelas! Nomor dua belas!" tambah Yanto.
Lalu mereka sampai di sebuah rumah dengan pagar putih dan gerbang besi hitam. Di atas gerbang itu, tertempel plat kuningan dengan ukiran: Jalan Cemara No. 13.
"Ini dia," bisik Ahmat.
Semua motor berhenti. Mereka memarkir kendaraan di pinggir jalan, di bawah pohon mangga yang rindang. Herman turun dari motor Yuni dengan kaki yang sedikit gemetar. Bukan karena dingin, tetapi karena saraf-sarafnya yang tegang seperti tali biola yang siap putus kapan saja.
"Ini rumahnya?" tanya Herman dengan suara pelan.
"Plat nomornya sudah jelas. Jalan Nusa Indah tiga belas," jawab Ahmat.
"Rumahnya besar juga," komentar Herawati.
"Ya, sudah aku bilang dia anak orang kaya," timpal Yanto.
Herman memandangi rumah itu. Dua lantai, cat putih krem, jendela-jendela besar dengan tirai warna biru muda. Halaman depan cukup luas untuk memarkir dua mobil. Ada taman kecil dengan bunga-bunga mawar dan kamboja. Ada ayunan di teras, terbuat dari kayu jati yang mengkilap. Ini adalah rumah idaman bagi kebanyakan orang. Dan bagi Herman, ini adalah istana yang tidak pernah dia impikan untuk dia masuki.
"Kamu masuk sekarang?" tanya Mahdili.
Herman menelan ludah. "Sebentar. Aku perlu mengatur napas."
"Kamu sudah mengatur napas sejak dari GOR. Itu setengah jam yang lalu."
"Itu belum cukup."
"Man, jangan banyak alasan," Ahmat menepuk pundak Herman. "Kamu sudah sampai di depan tujuannya. Jangan mundur hanya karena kamu takut."
"Aku tidak takut. Aku cuma... ingin waktu yang tepat."
"Tidak ada waktu yang tepat untuk sesuatu yang salah. Yang ada hanya keberanian untuk melakukannya meskipun salah."
Herman memandang Ahmat. Sahabatnya itu tersenyum tipis, memberikan semacam dorongan moral yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Herman mengangguk. Dia berjalan menuju gerbang besi hitam itu, membuka palangnya pelan-pelan, lalu masuk ke halaman rumah.
Langkahnya berat. Setiap langkah terasa seperti menginjak batu bara panas. Jantungnya berdebar sangat kencang. Telinganya berdengung. Tangannya berkeringat. Dia berhenti di depan pintu utama, sebuah pintu kayu solid berwarna coklat mahoni dengan gagang kuningan yang berkilat.
Dia mengangkat tangan. Mengetuk dua kali. Pelan.
Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk tiga kali. Lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Dia menekan bel di samping pintu. Bunyi kring... kring... terdengar sampai ke dalam rumah. Lalu langkah kaki. Seseorang mendekati pintu dari dalam.
Pintu terbuka.
Yang muncul bukan Amanda. Bukan ayahnya. Bukan ibunya. Tetapi seorang perempuan paruh baya dengan rambut sebahu yang diikat kuda. Dia memakai daster batik dan sandal jepit. Wajahnya mirip dengan Amanda. Mata yang sama. Hidung yang sama. Bahkan ekspresi curiga yang sama.
"Ya?" tanya perempuan itu dengan nada datar.
Herman membungkuk sedikit. "Permisi, Bu. Saya Herman. Saya mencari Amanda."
"Amanda? Anak saya?" Ibu Amanda mengerjap. Matanya menyelidik Herman dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu teman sekolahnya?"
"Bukan, Bu. Saya... kenalan dari Car Free Day ."
Ibu Amanda terdiam sejenak. Lalu matanya membelalak. "KAMU? Kamu cowok yang nempelkan permen karet di baju Amanda?"
Herman tersentak. "Iya, Bu. Itu saya."
Diam.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Lalu Ibu Amanda tertawa. Tertawa terbahak-bahak sampai dia memegang pagar pintu agar tidak jatuh. "Ya Allah, barulah ketemu! Amanda dari kemarin cuma marah-marah mulu, ngomongin kamu terus, sampai-sampai aku pusing tujuh keliling!"
Herman tidak tahu harus bereaksi apa. Dia hanya berdiri di sana, kaku, sementara Ibu Amanda terus tertawa.
"Masuk, masuk!" kata Ibu Amanda sambil membuka pintu lebar-lebar. "Jangan berdiri di luar. Nanti panas."
"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud mengganggu. Saya hanya ingin minta maaf karena telah merusak baju Amanda."
"Masuk dulu. Kita bicara di dalam."
Herman menoleh ke belakang. Teman-temannya masih berdiri di pinggir jalan, di bawah pohon mangga, melihat dengan mata melotot. Ahmat memberi isyarat jempol. Yanto tersenyum lebar. Mahdili mengangkat kedua tangannya seperti pesepak bola yang baru mencetak gol.
Herman berbalik dan mengikuti Ibu Amanda masuk ke dalam rumah.
Rumah itu lebih besar dari yang Herman bayangkan. Ruang tamu dilengkapi sofa kulit berwarna krem, meja kaca dengan vas bunga segar di atasnya, televisi empat puluh inci yang menggantung di dinding, dan lampu gantung kristal yang berkilauan diterpa sinar matahari dari jendela. Ada rak buku di sudut ruangan, berisi novel-novel tebal dan beberapa foto keluarga dalam bingkai kayu.
"Silakan duduk," kata Ibu Amanda sambil menunjuk sofa.
Herman duduk dengan hati-hati. Pantatnya hanya menyentuh setengah permukaan sofa. Dia takut merusak sesuatu. Takut meninggalkan bekas. Takut dianggap tidak sopan.
Ibu Amanda duduk di seberangnya. Dia memanggil seorang pembantu untuk membawakan minuman. "Ada es teh manis, jus jeruk, atau air putih?"
"Cukup air putih saja, Bu. Terima kasih."
Pembantu itu datang membawa segelas air putih dingin. Herman meminumnya sedikit, hanya untuk melegakan tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.
"Jadi, kamu Herman," kata Ibu Amanda sambil tersenyum. "Pekerja kontraktor. Umur dua puluh tiga. Belum pernah punya pacar."
Herman hampir tersedak. "Amanda cerita, Bu?"
"Iya. Dia cerita panjang lebar. Termasuk detail tentang kamu yang bilang belum pernah pacaran di depan umum. Aku sampai tertawa waktu dengar."
Herman menunduk. Wajahnya panas. Malu. "Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud aneh-aneh. Waktu itu saya panik. Teman-teman saya menyuruh saya melakukan hal bodoh. Saya ikut-ikutan tanpa berpikir."
"Jadi, kamu tidak punya inisiatif sendiri?"
"Punya, Bu. Tapi inisiatif saya biasanya buruk."
Ibu Amanda tertawa lagi. "Kamu lucu, Herman. Aneh, tapi lucu." Dia menyilangkan kaki, lalu menatap Herman dengan mata yang mulai serius. "Sekarang, cerita yang sebenarnya. Kenapa kamu datang ke sini? Benar-benar hanya minta maaf? Atau ada yang lain?"
Herman menggigit bibir bawahnya. Dia ragu. Haruskah dia jujur? Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa dia tidak hanya datang untuk meminta maaf. Bahwa dia datang karena dia tidak bisa berhenti memikirkan Amanda. Bahwa dia datang karena dia ingin melihatnya lagi. Bahwa dia datang karena mungkin, hanya mungkin, dia mulai menyukai perempuan yang paling galak di Kuala Kapuas.
"Jujur, Bu," kata Herman akhirnya. "Saya datang karena saya tidak bisa melupakan Amanda."
Ibu Amanda mengangkat alis. "Tidak bisa melupakan? Baru bertemu sekali?"
"Iya, Bu. Hanya sekali. Tapi sejak saat itu, saya tidak bisa berhenti memikirkan dia. Saya tahu ini terdengar gila. Saya tahu ini tidak masuk akal. Tapi ini yang saya rasakan."
"Kamu yakin itu bukan rasa bersalah? Atau rasa penasaran? Atau sekadar tantangan karena Amanda tidak mudah didekati?"
"Tidak, Bu. Saya yakin ini lebih dari itu."
Ibu Amanda terdiam. Dia memandang Herman dengan mata yang sulit diartikan. Bukan marah. Bukan kesal. Tapi semacam kehati-hatian. Seperti seseorang yang sedang menilai apakah lawan bicaranya layak dipercaya atau tidak.
"Kamu tahu, Herman," kata Ibu Amanda setelah beberapa saat. "Amanda itu anak yang keras kepala. Dia tidak mudah jatuh cinta. Dia juga tidak mudah dibodohi. Jika kamu datang dengan niat yang tidak baik, lebih baik kamu pulang sekarang."
"Saya datang dengan niat baik, Bu. Saya tidak akan berani main-main dengan perasaan anak orang."
"Bagaimana saya bisa percaya?"
Herman mengeluarkan dompet dari saku celana. Dompet kulit hitam yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Dia membukanya, mengambil selembar foto, lalu menyerahkannya kepada Ibu Amanda. "Ini foto saya dengan ibu saya. Ibu saya sudah meninggal tiga tahun lalu. Saya janji pada ibu saya sebelum meninggal bahwa saya akan menjadi laki-laki yang jujur dan bertanggung jawab. Saya tidak akan mengingkari janji itu hanya untuk main-main dengan perasaan seseorang."
Ibu Amanda mengambil foto itu. Sebuah foto dengan latar belakang rumah sakit. Herman yang masih muda, rambutnya lebih panjang, wajahnya lebih kurus, berdiri di samping seorang perempuan paruh baya yang terbaring di tempat tidur. Perempuan itu tersenyum lemah, tangannya memegang tangan Herman erat-erat.
Ibu Amanda menghela napas. Dia mengembalikan foto itu kepada Herman. "Kamu anak yang baik, Herman. Saya bisa lihat itu dari matamu."
"Terima kasih, Bu."
"Tapi saya tidak bisa memutuskan apa pun untuk Amanda. Dia sudah besar. Dia punya pikirannya sendiri. Yang bisa saya lakukan hanya mengizinkan kamu untuk berbicara dengannya. Itu pun kalau dia mau."
"Itu sudah cukup, Bu. Terima kasih."
Ibu Amanda berdiri. Dia berjalan ke tangga di sudut ruangan, lalu memanggil ke atas. "AMANDA! TURUN! ADA TAMU!"
Tidak ada jawaban.
"AMANDA!" panggil Ibu Amanda lagi, lebih keras.
"APAAN, MAH? AKU SEDANG TIDURAN!" suara Amanda dari atas.
"TURUN! ADA TAMU!"
"TAMU SIAPA?"
"COWOK YANG TEMPELIN PERMEN KARET DI BAJU KAMU!"
Diam.
Kemudian suara langkah kaki yang terburu-buru. Pintu kamar terbuka. Amanda muncul di ujung tangga, wajahnya masih kusut karena habis tidur siang. Rambutnya acak-acakan. Dia memakai piyama warna pink dengan motif kelinci. Matanya masih sayu, tetapi begitu melihat Herman yang duduk di sofa ruang tamu, matanya langsung membelalak seperti sedang melihat hantu.
"LO?! LO NGAPAIN DI SINI?!" teriak Amanda.
Herman berdiri. Tangannya gemetar lagi. "Aku datang untuk..."
"JANGAN MASUK RUMAH GUE! KELUAR! SEKARANG!"
"Amanda, dengarkan dulu..."
"GAK MAU DENGAR! MAH, KENAPA LO BIARIN DIA MASUK?!"
Ibu Amanda hanya mengangkat bahu dengan santai. "Dia tamu. Harus dihormati."
"TAMU APAAN, MAH? INI MUSUH!"
"Musuh atau bukan, dia tetap manusia. Turunlah, jangan teriak-teriak dari atas. Nanti didengar tetangga."
Amanda menggerutu. Dia turun dari tangga dengan langkah berat, setiap anak tangga dia injak seperti sedang menginjak wajah Herman. Begitu sampai di ruang tamu, dia berdiri di depan Herman dengan tangan bersilang di dada. Matanya menyala-nyala. Wajahnya merah padam.
"Kamu mau apa?" tanya Amanda dengan suara dingin.
Herman menarik napas panjang. "Aku mau minta maaf."
"Kamu sudah minta maaf kemarin. Aku belum memaafkan."
"Kalau begitu, aku minta maaf lagi."
"Tidak cukup."
"Aku minta maaf seribu kali kalau perlu."
"Seribu kali pun tidak akan cukup."
Herman terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Setiap kata yang dia ucapkan sepertinya hanya membuat Amanda semakin marah. Mungkin memang tidak ada kata-kata yang cukup. Mungkin yang dia butuhkan adalah tindakan.
Karena itu, Herman berlutut.
Bukan setengah berlutut. Bukan berlutut dengan satu kaki. Tapi berlutut sempurna dengan kedua kaki di lantai keramik ruang tamu rumah Amanda. Kepalanya menunduk. Tangannya di samping badan.
"Apa-apaan lo?" tanya Amanda kaget.
"Ini bentuk permintaan maafku yang paling tulus," kata Herman tanpa mengangkat kepala. "Aku sadar aku salah. Aku sadar aku sudah merusak baju kamu. Aku sadar aku sudah mempermalukan kamu di depan umum. Tapi aku datang ke sini bukan hanya untuk minta maaf. Aku datang ke sini karena aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu sejak pertama kali kita bertemu."
Amanda tercengang. Mulutnya terbuka lebar. "Lo... lo gila."
"Mungkin. Tapi setidaknya aku gila yang jujur."
Ibu Amanda yang dari tadi hanya diam memperhatikan, kini ikut berlutut di samping Herman. "Aku juga minta maaf, Ndah. Ibu yang bukakan pintu untuk dia."
"MAH! LO JUGA GILA?"
"Mungkin. Tapi setidaknya Ibu gila yang tahu mana laki-laki yang tulus dan mana yang tidak."
Amanda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia berjalan mondar-mandir di ruang tamu seperti singa yang baru dikurung. Matanya melirik ke arah Herman yang masih berlutut. Lalu ke ibunya yang ikut-ikutan berlutut. Lalu ke pembantu yang bersandar di dinding dapur sambil tersenyum geli. Lalu ke jendela, di mana di balik pagar, lima orang teman Herman sedang mengintip dengan mata melotot.
"GILA! SEMUANYA GILA!" teriak Amanda.
Dia masuk ke kamar mandi di dekat dapur, membanting pintu, lalu mengunci dirinya di dalam.
Herman masih berlutut. Ibu Amanda sudah bangkit dan duduk kembali di sofa.
"Jangan khawatir," kata Ibu Amanda dengan tenang. "Dia hanya butuh waktu. Biarkan dia di kamar mandi sebentar. Nanti dia keluar dengan kepala lebih dingin."
"Maaf, Bu. Saya sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, Herman. Ini justru lucu. Sudah lama tidak ada drama begini di rumah ini."
Amanda duduk di kloset kamar mandi. Air matanya tidak keluar, tetapi dadanya terasa sesak. Bukan karena marah. Bukan karena sedih. Tapi karena bingung. Bingung yang keterlaluan. Kenapa ada cowok yang rela berlutut di lantai rumah orang hanya untuk meminta maaf soal permen karet? Kenapa cowok itu tidak bisa melupakannya? Kenapa cowok itu terus muncul di mana-mana seolah-olah takdir memang sengaja mempertemukan mereka?
"Aku tidak mengerti," bisik Amanda pada bayangannya di cermin.
Bayangannya tidak menjawab.
Dia membuka keran air, membasuh wajahnya dengan air dingin. Wajahnya yang merah perlahan mulai mereda. Dia mengeringkan wajah dengan handuk kecil yang tergantung di dinding, lalu menghela napas panjang.
Baiklah, pikirnya. Aku akan keluar. Aku akan bicara dengan dia. Aku akan bilang bahwa aku belum memaafkan dia. Tapi aku akan mendengarkan apa yang dia katakan. Itu saja. Tidak lebih.
Dia membuka pintu kamar mandi.
Herman masih berlutut di tempat yang sama.
"Bangun, Herman," kata Amanda.
Herman mengangkat kepala. "Kamu memaafkanku?"
"Belum. Tapi aku akan mendengarkan."
Herman berdiri. Lututnya terasa sakit karena terlalu lama berlutut di lantai keramik yang keras. Tapi dia tidak peduli. Yang penting Amanda mau mendengarkan. Itu sudah lebih dari cukup.
"Terima kasih," kata Herman.
"Jangan makasih dulu. Aku belum bilang iya."
Mereka berdua duduk di sofa. Ibu Amanda dengan bijak meninggalkan ruang tamu, masuk ke dapur untuk menyiapkan camilan. Pembantu juga ikut menghilang. Kini hanya Herman dan Amanda yang tersisa di ruang tamu, berhadapan, dengan jarak satu meter yang terasa seperti satu mil.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Amanda.
Herman mengatur napas. "Aku minta maaf. Bukan hanya karena permen karet itu, tapi karena sikapku yang kekanak-kanakan. Aku membiarkan teman-temanku mempengaruhiku tanpa memikirkan perasaanmu. Itu salah. Itu sangat salah."
"Ya. Itu salah."
"Aku tahu. Dan aku akan bertanggung jawab. Baju kamu akan aku ganti. Minggu depan, kalau gajiku cair."
"Baju itu sudah tidak dijual lagi. Limited edition."
"Kalau begitu, aku akan mencari di toko lain. Atau memesan secara online. Atau apapun yang kamu mau."
Amanda terdiam. Dia memandang Herman dengan mata yang tidak lagi marah, tetapi masih penuh dengan kehati-hatian. "Kamu benar-benar aneh, Herman. Cowok lain kalau sudah dimarahi pasti kabur. Tapi kamu malah datang ke rumahku, berlutut di lantai, dan minta maaf berkali-kali. Apa kamu tidak punya harga diri?"
"Punya. Tapi harga diriku tidak lebih penting dari perasaanmu."
Amanda mengerjap. Kata-kata Herman menusuk sesuatu di dalam dadanya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Sesuatu yang hangat, sedikit sakit, tetapi juga membuatnya ingin tersenyum.
"Kamu berbahaya, Herman," kata Amanda pelan.
"Berbahaya bagaimana?"
"Berbahaya karena kamu bisa membuat orang yang membencimu menjadi... bingung."
"Apakah kamu bingung?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya menunduk, memainkan ujung piyamanya yang berbulu.
Herman tidak memaksa. Dia hanya duduk diam di samping Amanda, menunggu, seperti pemancing yang sabar menanti ikan menggigit umpan. Dia tahu bahwa memaksa tidak akan membawa hasil. Yang dia butuhkan adalah waktu. Waktu untuk Amanda memproses semuanya. Waktu untuk kemarahan itu berubah menjadi sesuatu yang lain.
"Baiklah," kata Amanda akhirnya. "Aku belum memaafkanmu. Tapi aku akan mempertimbangkannya. Dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Jangan datang ke rumahku lagi tanpa izin. Kalau mau ketemu, ketemulah di Car Free Day . Itu tempat netral."
"Setuju."
"Dan jangan bawa teman-temanmu yang norak itu. Mereka cuma bikin situasi tambah kacau."
"Setuju lagi."
Amanda berdiri. Dia berjalan ke pintu, membukanya lebar-lebar, lalu menunjuk ke arah luar. "Sekarang pulang. Aku mau ganti baju."
Herman berdiri. Dia berjalan ke pintu, tetapi sebelum keluar, dia berbalik dan berkata, "Amanda."
"Apa?"
"Terima kasih sudah mau mendengarkan."
Amanda tidak menjawab. Dia hanya menutup pintu setelah Herman keluar, tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan. Cukup untuk membuat Herman tahu bahwa pintu itu belum sepenuhnya tertutup untuknya.
Di luar pagar, teman-teman Herman sudah tidak sabar menunggu. Mereka melihat Herman keluar dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Ada yang lega, ada yang tegang. Ahmat yang paling cepat bertanya.
"Gimana?"
"Belum memaafkan," jawab Herman.
"Terus lo ngapain aja di dalam?"
"Berlutut, minta maaf, duduk diam, lalu disuruh pulang."
"Berlutut?" Yanto membelalak. "Lo berlutut di depan dia?"
"Iya."
"GILA! Lo benar-benar gila!"
"Mungkin," kata Herman sambil berjalan ke motor Yuni. "Tapi setidaknya sekarang dia tahu aku serius."
Mereka berboncengan kembali ke pusat kota. Di perjalanan, Herman tidak bicara. Pikirannya penuh dengan Amanda. Wajahnya yang bingung. Matanya yang mulai melunak. Suaranya yang tidak lagi seterang sebelumnya.
Ini awal yang baik, pikir Herman. Setidaknya dia mau mendengarkan. Setidaknya dia tidak mengusirku dengan sapu. Itu sudah kemajuan.
Dia tersenyum kecil di balik helm pinjaman yang terlalu longgar untuk kepalanya.
Malam harinya, setelah ayahnya pulang dari toko, Amanda duduk di ruang keluarga bersama orang tuanya. Tv menyala, tetapi tidak ada yang benar-benar menonton. Ibu Amanda sedang merajut. Ayah Amanda membaca koran. Amanda duduk di tengah, memeluk bantal sofa, dengan wajah yang masih sedikit cemberut.
"Ada kabar, Ayah dengar," kata ayah Amanda sambil melipat korannya. "Ada cowok yang datang ke rumah. Berlutut di lantai minta maaf soal permen karet."
Amanda mengerang pelan. "Mah, ngapain cerita sih?"
"Ibu hanya memberi tahu ayahmu. Tidak ada yang salah dengan itu."
"Jadi, bagaimana kesannya?" tanya ayah Amanda.
"Kesan apa, Yah?"
"Kesan tentang cowok itu. Herman, namanya?"
Amanda menghela napas. "Dia aneh, Yah. Aneh sekali. Cowok normal mana yang berlutut di lantai rumah orang cuma buat minta maaf soal permen karet?"
"Justru itu yang membuatnya tidak biasa," kata ayah Amanda. "Cowok normal biasanya hanya minta maaf lewat pesan singkat. Atau tidak minta maaf sama sekali. Tapi dia datang ke rumah, berlutut di lantai, dan minta maaf secara langsung. Itu menunjukkan dia bertanggung jawab."
"Atau dia gila."
"Bisa jadi dua-duanya."
Amanda mendengus. Dia tidak suka kalau ayahnya mulai berpihak pada Herman. Tapi di dalam hati, dia tahu ayahnya benar. Herman memang berbeda. Dan perbedaan itu, entah mengapa, mulai terasa menarik.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya ibu Amanda.
"Aku belum tahu, Mah. Aku masih marah. Tapi... marahku mulai berkurang."
"Itu pertanda baik."
"Atau pertanda aku mulai kehilangan akal sehat."
Ibu Amanda tersenyum. Dia tahu anak perempuannya tidak sedang kehilangan akal sehat. Dia sedang kehilangan kendali atas perasaannya sendiri. Dan itu adalah hal yang paling berbahaya sekaligus paling indah yang bisa dialami oleh seorang gadis seusia Amanda.
Di kontrakannya, Herman berbaring di kasur dengan ponsel di tangan. Dia membuka Instagram, membuka profil @amanda_cans, lalu mengirimkan pesan.
@herman_kontraktor: Terima kasih untuk hari ini. Aku tahu aku masih salah di matamu. Tapi aku akan berusaha menjadi lebih baik. Selamat malam, Amanda.
Dia menekan kirim. Lalu menunggu.
Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Pesan itu sudah dibaca. Tapi tidak ada balasan.
Herman tersenyum. Tidak ada balasan pun tidak apa-apa. Yang penting Amanda membacanya. Yang penting Amanda tahu bahwa dia ada, bahwa dia menunggu, bahwa dia tidak akan pergi.
Dia mematikan ponsel, memejamkan mata, dan tidur dengan senyum di wajahnya.
Di rumahnya, Amanda membaca pesan Herman berulang-ulang. Jarinya bergetar di atas layar. Dia ingin membalas. Tapi dia tidak tahu harus menulis apa.
Terima kasih kembali? Terlalu ramah.
Sama-sama? Terlalu formal.
Iya, sama-sama, semoga kamu jadi orang baik? Terlalu panjang.
Akhirnya dia tidak membalas apapun. Dia hanya membaca pesan itu sekali lagi, lalu mematikan ponsel.
Tapi sebelum tidur, dia berbisik pada bantalnya, "Herman, kamu benar-benar hantu. Hantu permen karet. Muncul di mana-mana tanpa diundang."
Dia tertawa kecil. Lalu memejamkan mata.
Dan untuk ketiga kalinya, dia tertidur dengan bayangan Herman.
Kali ini, bayangan itu tidak lagi membuatnya marah.
Hanya membuatnya penasaran.
Penuh rasa ingin tahu yang tidak bisa dia padamkan sampai dia bertemu lagi dengan cowok idiot itu.
BAB 4
TAMAN KOTA SIMPANG ADIPURA, TEMPAT SENSUS BENCI
Tiga hari setelah kunjungan kontroversial Herman ke rumah Amanda, suasana di antara mereka berdua masih menggantung seperti awan mendung yang tidak kunjung hujan. Tidak ada komunikasi. Tidak ada pesan. Tidak ada tegur sapa. Hanya keheningan yang canggung, seperti dua orang yang pernah bertengkar hebat tetapi dipaksa duduk bersama dalam ruangan yang sama. Herman memilih untuk tidak memaksa. Dia ingat janjinya kepada Amanda: tidak akan datang ke rumah lagi tanpa izin. Dia juga ingat syarat Amanda: jika ingin bertemu, bertemulah di Car Free Day . Masalahnya, Car Free Day hanya digelar sekali seminggu. Dan hari ini baru Selasa.
Selasa sore. Langit Kuala Kapuas berwarna jingga kemerahan, seperti kulit jeruk Bali yang sudah matang. Herman baru saja pulang dari proyek perumahan di pinggir kota. Badannya pegal. Bajunya penuh debu. Tangannya kotor oleh sisa-sisa semen yang mengering di sela-sela jari. Biasanya dia langsung pulas ke kontrakan, mandi, lalu tidur. Tapi hari ini dia memilih untuk mampir ke Taman Kota Simpang Adipura. Bukan karena dia ingin bersenang-senang. Bukan karena dia ingin bertemu orang. Tapi karena dia butuh tempat untuk duduk diam dan merenung. Dan Taman Kota Simpang Adipura, dengan bangku-bangku kayunya yang teduh di bawah pohon trembesi, adalah tempat yang sempurna untuk itu.
Taman Kota Simpang Adipura terletak di pusat Kuala Kapuas, tepat di pertemuan empat jalan besar dan satu jalan keci yang selalu macet di jam sibuk. Tidak terlalu luas, hanya sekitar seperdelapan hektar, tetapi ditata dengan cukup apik. Ada jalur pedestrian yang dilapisi paving block merah, ada air mancur kecil yang hanya menyemburkan air di akhir pekan, ada beberapa patung burung enggang yang menjadi ikon kota, dan ada banyak bangku taman yang tersebar di sudut-sudut rindang. Taman ini bukan hanya milik anak-anak muda. Ibu-ibu juga sering duduk di sini sambil menjaga anak-anak mereka yang bermain di ayunan. Bapak-bapak juga sering datang untuk sekadar membaca koran atau tidur siang di bawah pohon. Taman ini milik semua orang. Termasuk milik Herman yang sedang duduk sendirian dengan wajah merenung seperti pematung yang kehabisan ide.
"Kamu kenapa duduk sendirian di sini, Man?" Suara Ahmat datang dari belakang. Herman tidak terkejut. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Ahmat yang sering muncul tanpa diundang, seperti iklan di YouTube yang tidak bisa di-skip.
"Lagunya lagi butuh ketenangan," jawab Herman tanpa menoleh.
"Taman ini bukan tempat yang tepat untuk ketenangan. Lihat saja, ada anak-anak berlarian, ada ibu-ibu bergosip, ada bapak-bapak yang tidur sambil ngorok."
"Tidak mengapa. Aku butuh suasana ramai untuk merenung."
"Kamu merenung soal apa?"
"Amanda."
Ahmat mendesah. Dia duduk di bangku yang sama, di samping Herman, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya. "Kapan kamu tidak merenung soal Amanda? Dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang ada di kepalamu cuma Amanda. Aku khawatir otakmu lama-lama hanya berisi satu nama."
"Tidak apa-apa. Otakku dari dulu memang hanya berisi satu-dua hal. Kalau pun ganti konten, tidak akan jauh berbeda."
"Paling tidak ganti ke topik pekerjaan. Atau topik makanan. Atau topik jodoh."
"Amanda itu topik jodohku."
Ahmat menyalakan rokoknya, menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke udara sore yang mulai mendingin. "Kamu yakin, Man? Yakin bahwa Amanda adalah jodohmu? Kamu baru bertemu sekali. Belum kenal dekat. Belum tahu kebiasaannya. Belum tahu sifat aslinya. Yang kamu tahu cuma dia cantik, galak, dan pelit maaf."
"Dia tidak pelit maaf. Dia hanya berhak marah."
"Kamu terlalu membela dia."
"Aku tidak membela dia. Aku hanya berusaha memahami."
Ahmat menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah terlalu sering melihat Herman jatuh cinta. Bukan jatuh cinta yang sesungguhnya, tetapi jatuh cinta yang didasari oleh rasa penasaran yang berlebihan. Biasanya, rasa penasaran itu akan hilang setelah satu atau dua minggu, digantikan oleh rasa bosan atau kekecewaan. Tapi kali ini berbeda. Herman tidak menunjukkan tanda-tanda bosan. Sebaliknya, dia semakin dalam terjebak dalam pusaran perasaannya sendiri.
"Baiklah," kata Ahmat. "Aku tidak akan menghakimi. Tapi ingat, Man. Jangan terlalu berharap. Jangan sampai kamu terjatuh terlalu dalam, lalu tidak bisa bangkit lagi jika semuanya tidak berjalan sesuai harapan."
"Aku sudah terjatuh, Mat. Sejak permen karet itu. Sekarang aku hanya bisa berusaha bangkit sambil tetap terjatuh."
"Filosofi yang aneh."
"Hidup memang aneh."
Mereka berdua terdiam. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dari suatu tempat di kejauhan. Burung-burung pipit mulai pulang ke sarangnya. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat.
Di tempat yang sama, tetapi di waktu yang berbeda, Amanda juga sedang dalam perjalanan menuju Taman Kota Simpang Adipura. Dia tidak sendirian. Dahlia menemani, sambil sesekali memotret langit senja dengan ponselnya yang kameraanya bagus. Mereka baru saja selesai membeli jajanan di Pasar Sari Mulya. Dahlia membawa gemblong, kue tradisional dari ketan yang dibalut gula merah. Amanda membawa cendol, minuman dingin yang segar di tenggorokan.
"Kok kamu mau banget ke taman? Biasanya kamu langsung pulang," tanya Dahlia sambil berjalan.
"Lagunya butuh udara segar," jawab Amanda.
"Kamu sakit?"
"Enggak. Cuma pusing."
"Pusing karena apa? Kerjaan rumah? Sekolah? Cowok?"
Amanda tidak menjawab. Dahlia tersenyum curiga. Dia tahu temannya itu sedang tidak jujur. Biasanya Amanda akan langsung berteriak jika ditanya soal cowok. Tapi kali ini dia diam. Diam adalah cara Amanda untuk mengakui sesuatu tanpa harus mengatakannya dengan suara keras.
"Jadi, masih soal Herman?" tanya Dahlia.
"Bukan soal Herman. Soal... perasaan campur aduk yang dia sebabkan."
"Itu sama saja dengan soal Herman."
"Tidak. Soal Herman adalah soal orangnya. Soal perasaan campur aduk adalah soal diriku sendiri."
Dahlia mengangkat alis. "Wah, hebat. Kamu sekarang bisa membedakan hal-hal rumit seperti itu. Tanda-tanda sudah dewasa."
"Atau tanda-tanda sudah gila."
"Keduanya sama saja."
Mereka tertawa kecil. Kemudian berjalan melewati gerbang taman, melewati patung burung enggang yang sudah mulai kusam, lalu menuju ke bangku kayu di bawah pohon trembesi. Bangku yang sama di mana Herman duduk beberapa jam sebelumnya. Tapi Herman sudah pergi. Berganti dengan pasangan lain yang sedang berduaan.
"Bangku itu sudah ada yang punya," kata Dahlia sambil menunjuk.
Amanda melihat ke arah bangku. Yang duduk di sana bukan Herman, tetapi seorang cowok yang tidak asing di matanya. Cowok itu memakai jaket jeans biru, rambutnya disisir rapi ke samping, dan dia sedang tersenyum manis kepada seorang perempuan yang duduk di sampingnya.
"Ragil," bisik Amanda.
"Ragil? Cowok yang suka kirim pesan ke Instagram kamu?"
"Iya."
"Dan dia sedang ngedate di taman? Dengan perempuan lain?"
"Iya."
Dahlia bersiul kecil. "Wah, parah. Dia bilang suka sama kamu, tapi dia malah kencan sama cewek lain."
"Tidak apa-apa. Aku tidak tertarik dengan Ragil."
"Tapi dia bilang dia tertarik dengan kamu."
"Itu haknya. Aku tidak punya hak untuk melarang dia tertarik dengan orang lain."
Dahlia mengangguk. Dia mengagumi kematangan Amanda. Tidak semua cewek seusia Amanda bisa se-rasional itu. Kebanyakan akan cemburu, marah, atau setidaknya kesal. Tapi Amanda tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia hanya memandang Ragil sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Mari kita cari bangku lain," kata Amanda.
Mereka berjalan ke sisi timur taman, di mana air mancur kecil itu berada. Sayangnya air mancur sedang tidak menyala karena bukan akhir pekan. Yang ada hanya kolam kering dengan keramik biru yang mulai retak di beberapa bagian. Amanda duduk di pinggiran kolam, merentangkan kakinya, lalu menyeruput cendol pelan-pelan.
"Enak juga duduk di sini," kata Amanda.
"Agak panas. Tidak ada pohon rindang," timpal Dahlia.
"Tidak apa-apa. Aku suka panas. Panas membuatku sadar."
"Sadar akan apa?"
"Sadar bahwa aku terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Di dalam pikiran sendiri. Di dalam kemarahan yang sebenarnya tidak perlu."
Dahlia tidak menyela. Dia tahu Amanda sedang dalam proses merangkai kata-kata yang sudah lama dia pendam.
"Kemarin, setelah Herman datang ke rumah, aku tidak bisa tidur. Bukan karena dia, tetapi karena kata-kata yang dia ucapkan. Dia bilang dia tidak bisa melupakanku. Dia bilang dia jujur. Dia bilang dia tidak akan main-main dengan perasaanku. Awalnya aku pikir itu cuma gombalan. Tapi ketika dia berlutut, ketika dia menunjukkan foto ibunya, ketika dia bicara dengan matanya yang jujur itu, aku mulai percaya."
"Kamu percaya apa?" tanya Dahlia.
"Percaya bahwa dia tidak berbohong. Percaya bahwa dia benar-benar tulus. Dan itu yang membuatku takut."
"Takut kenapa?"
"Karena jika dia tulus, maka aku harus mempertimbangkannya. Dan jika aku mempertimbangkannya, maka aku harus siap untuk membuka hati. Dan jika aku membuka hati, maka aku harus siap untuk terluka. Dan aku tidak ingin terluka, Dahlia."
Dahlia meletakkan gemblongnya di pangkuan. Dia menatap Amanda dengan mata yang penuh kasih. "Kamu tahu, Am. Tidak ada cinta yang bebas risiko. Setiap kali kamu membuka hati, kamu selalu berisiko terluka. Tapi apakah karena takut terluka, kamu akan menutup hati selamanya? Apakah itu yang kamu inginkan?"
"Tidak. Tapi aku belum siap."
"Kapan kamu akan siap?"
"Aku tidak tahu."
Dahlia menghela napas. Dia mengambil gemblongnya kembali, menggigitnya kecil-kecil, lalu mengunyah dengan lambat. Di depannya, Amanda sedang menatap kosong ke arah kolam kering. Wajahnya tidak marah, tidak sedih, hanya kosong. Seperti kanvas yang belum dilukis.
"Coba kamu santai saja, Am. Nikmati prosesnya. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu memutuskan semuanya sekarang. Biarkan waktu yang menjawab."
"Iya," jawab Amanda pelan. "Mungkin itu yang terbaik."
Mereka berdua duduk di pinggiran kolam sampai senja berganti malam. Lampu-lampu taman mulai terang. Kunang-kunang mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Amanda menghabiskan cendolnya, lalu berdiri.
"Ayo pulang. Besok sekolah."
"Iya. Ayo."
Mereka berjalan ke arah gerbang taman. Di tengah perjalanan, Amanda tidak sengaja melihat seseorang yang duduk di bangku dekat pintu masuk. Orang itu memakai kaos lusuh, celana jeans belel, dan topi baseball yang sudah pudar warnanya. Wajahnya tidak terlalu jelas karena tertutup bayangan pohon. Tapi postur tubuhnya... postur tubuh itu akrab di mata Amanda.
"Herman?" bisik Amanda.
Dahlia menoleh. "Herman? Mana?"
"Di bangku dekat pintu masuk. Itu dia, kan?"
Dahlia menyipitkan matanya. Lalu mengangguk. "Iya. Itu Herman. Dia sedang duduk sendirian. Tidak ada teman-temannya."
"Kenapa dia di sini?"
"Mungkin dia juga butuh udara segar."
Amanda diam. Pikirannya berputar cepat. Apakah Herman sengaja mengikutinya? Atau hanya kebetulan? Atau jangan-jangan dia sudah tahu bahwa Amanda akan ke taman hari ini, lalu dia datang untuk "kebetulan" bertemu? Itu terlalu lebay. Bahkan untuk ukuran cowok gila sekelas Herman.
"Aku ingin pulang," kata Amanda cepat.
"Kamu tidak ingin menyapa dia?"
"Tidak. Aku belum siap."
"Tapi dia sudah melihatmu."
Benar. Herman sudah mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Amanda. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling pandang dari jarak sekitar lima belas meter. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Hanya tatapan yang penuh dengan seribu pertanyaan yang tidak terjawab.
Herman berdiri. Dia berjalan perlahan ke arah Amanda. Langkahnya tidak tergesa-gesa. Tidak seperti seseorang yang sedang mengejar. Lebih seperti seseorang yang berjalan di taman pada sore hari untuk menikmati angin. Tapi Amanda tahu, Herman sedang mendekatinya. Dan dia tidak tahu harus lari atau diam.
"Amanda," sapa Herman begitu jarak mereka tinggal tiga meter.
"Herman," balas Amanda dingin.
"Kamu sama Dahlia?"
"Iya. Baru beli cendol."
"Enak?"
"Enak."
Diam. Herman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Amanda memainkan sedotan cendol di tangannya. Dahlia yang menjadi saksi bisu hanya bisa tersenyum geli.
"Maaf, aku tidak sengaja melihatmu," kata Herman. "Aku dari tadi di sini. Nongkrong sendirian. Tiba-tiba kamu lewat."
"Jadi, kamu tidak sengaja?"
"Tidak. Aku bahkan tidak tahu kamu akan ke sini."
"Bagaimana aku bisa percaya?"
"Karena aku tidak pernah berbohong."
Amanda menghela napas. Dia ingin marah. Tapi dia tidak bisa menemukan alasan untuk marah. Herman tidak melakukan kesalahan apapun. Dia hanya duduk di taman umum. Itu haknya. Tidak ada aturan yang melarang Herman duduk di Taman Kota Simpang Adipura. Tidak ada aturan yang melarang dia bernapas di udara yang sama dengan Amanda. Semua hanya kebetulan. Atau takdir. Terserah bagaimana Amanda mau menyikapinya.
"Baiklah," kata Amanda. "Aku percaya kamu tidak sengaja. Tapi jangan harap aku akan duduk bersamamu."
"Aku tidak minta itu. Aku hanya ingin menyapa."
"Sudah. Sekarang permisi."
Amanda berjalan melewati Herman, diikuti oleh Dahlia yang melambai kecil pada Herman. Herman hanya tersenyum dan membalas lambaian itu. Dia tidak merasa kecewa. Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Amanda. Yang penting mereka bertemu. Yang penting mereka bicara. Itu sudah cukup untuk hari ini.
Setelah Amanda dan Dahlia pergi, Herman kembali duduk di bangkunya. Dia mengeluarkan ponsel, membuka grup WhatsApp "Geng Car Free Day ", lalu mengetik pesan.
Herman: Tadi aku ketemu Amanda di Taman Kota Simpang Adipura.
Yanto: Apa? SENGAAJA?
Herman: Enggak sengaja. Aku dari tadi di sana. Dia lewat.
Ahmat: Lalu?
Herman: Dia nyapa aku. Aku nyapa dia. Lalu dia pergi.
Mahdili: Singkat. Tidak ada drama?
Herman: Enggak. Cuma saling pandang, saling sapa, lalu pisah.
Herawati: Itu namanya pertemuan singkat yang penuh makna.
Yuni: Atau pertemuan singkat yang tidak bermakna sama sekali.
Herman: Terserah. Yang penting aku bahagia.
Yanto: Bahagia cuma karena nyapa? Dasar mabuk cinta.
Herman: Iya. Aku mabuk cinta. Obatnya hanya satu. Amanda.
Ahmat: Awas, jangan kecanduan.
Herman: Sudah.
Dia mematikan ponsel, menyimpannya di saku, lalu memandangi langit malam yang mulai dipenuhi bintang. Kuala Kapuas tidak terlalu terang di malam hari, jadi bintang-bintang terlihat cukup jelas. Ada jutaan titik cahaya di sana, masing-masing berkedip seperti mata kecil yang penasaran dengan kehidupan manusia di bawah.
"Amanda," bisik Herman. "Suatu hari nanti, kamu akan duduk di sampingku di taman ini. Bukan karena kebetulan. Tapi karena kamu memilih untuk ada di sini."
Dia tersenyum pada bintang-bintang itu. Lalu berdiri, merapikan celananya, dan berjalan pulang.
Sementara itu, di dalam mobil yang diantar oleh Dahlia (Dahlia membawa mobil kecil warna putih milik orang tuanya), Amanda duduk diam di kursi penumpang dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Dahlia menyetir pelan-pelan, sesekali melirik ke samping untuk melihat ekspresi temannya.
"Kamu kenapa diem aja?" tanya Dahlia.
"Lagunya mikir."
"Mikir soal apa?"
"Tentang tadi. Tentang Herman."
"Memangnya ada yang istimewa?"
"Aku tidak tahu. Yang jelas, ketika aku melihat dia duduk sendirian di bangku itu, aku merasa... aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Seperti ada yang menarik dadaku ke arah dia. Bukan dengan paksa, tapi dengan lembut. Seperti magnet. Atau seperti gravitasi. Aku tidak bisa menjelaskannya."
Dahlia tersenyum. Dia sudah mendengar deskripsi seperti itu berkali-kali dari teman-temannya yang sedang jatuh cinta. Gravitasi. Magnet. Tarikan tak terlihat. Semua itu adalah kiasan untuk satu hal: ketertarikan.
"Am, apa kamu yakin kamu tidak suka sama Herman?" tanya Dahlia.
"Tidak."
"Bohong."
"Mungkin. Aku sendiri bingung."
"Nikmati saja kebingungan itu. Tidak semua orang berkesempatan untuk bingung karena cinta."
"Mencintai atau dicintai?"
"Keduanya."
Amanda tidak menjawab. Dia hanya menatap jalan di depan yang mulai gelap. Lampu-lampu jalan menyala redup, memberikan cahaya secukupnya untuk mobil-mobil yang melintas. Ada beberapa warung yang masih buka, menjual nasi goreng dan mie instan. Ada sekelompok anak muda yang nongkrong di pinggir jalan, tertawa-tawa tanpa sebab yang jelas.
"Berhenti di sini," kata Amanda tiba-tiba.
Dahlia menginjak rem. "Ada apa?"
"Aku mau beli sesuatu."
"Mau beli apa?"
"Permen karet."
Dahlia menoleh cepat. "Permen karet? Kamu mau beli permen karet? Setelah semua yang terjadi?"
"Iya. Aku mau beli permen karet rasa stroberi."
"Untuk apa?"
"Untuk aku kunyah. Supaya aku tahu apa yang membuat Herman begitu berani menempelkan permen karet di bajuku."
Dahlia terdiam. Dia tidak bisa menahan senyumnya. Amanda memang aneh. Tapi kegilaan Amanda-lah yang membuat hidup terasa lebih berwarna.
"Baiklah," kata Dahlia. "Aku tunggu di sini."
Amanda turun dari mobil. Dia berjalan ke warung kecil di pinggir jalan, yang menjual berbagai macam camilan dan minuman. Di etalase kaca di depan warung, terlihat jelas stoples permen karet rasa stroberi. Persis seperti yang Herman tempelkan di bajunya.
"Bang, beli permen karetnya satu," kata Amanda.
"Yang rasa stroberi, Mbak?"
"Iya."
"Berapa biji?"
"Sepuluh."
Penjaga warung mengambil sepuluh permen karet stroberi dari stoples, memasukkannya ke dalam kantong plastik kecil, lalu menyerahkannya kepada Amanda.
"Berapa, Bang?"
"Lima ribu."
Amanda membayar, lalu kembali ke mobil. Dia membuka kantong plastik itu, mengambil satu permen karet, membuka bungkusnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Dahlia melongo. "Kamu kunyah sekarang?"
"Iya. Aku mau tahu rasa stroberi yang ada di baju aku dulu."
"GILA!"
"Biar. Aku butuh kepastian."
Amanda mengunyah permen karet itu. Rasa stroberi manis menyebar di lidahnya. Teksturnya kenyal, lengket, sedikit aneh. enak. Tidak juga. Hanya berbeda.
"Rasanya biasa saja," kata Amanda setelah beberapa saat.
"Terus kenapa kamu membeli sepuluh?"
"Karena aku masih penasaran. Mungkin permen karet yang digunakan Herman berbeda. Mungkin ada rasa khusus yang tidak dijual di warung biasa."
"Atau mungkin kamu yang terlalu overthinking."
"Mungkin."
Amanda mengunyah permen karet itu sampai tidak berasa. Lalu meludahkannya ke tisu, membungkusnya rapi-rapi, lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di dalam mobil.
"Aneh," gumam Amanda.
"Apa yang aneh?"
"Aku tidak tahu. Tapi ada sesuatu yang berbeda tentang permen karet itu. Sesuatu yang membuatku tidak bisa melupakan Herman."
Dahlia menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak bisa mengikuti logika Amanda. Tapi dia tidak perlu mengikuti. Dia hanya perlu menjadi teman yang baik, yang akan mendengarkan tanpa menghakimi.
"Ayo pulang," kata Dahlia.
"Iya. Ayo."
Mobil melaju perlahan meninggalkan warung kecil itu. Di dalam mobil, Amanda terus memandang ke luar jendela, sambil sesekali memainkan kantong plastik berisi sembilan permen karet stroberi yang tersisa.
Malam itu, di kamarnya, Herman membuka ponsel dan melihat ada notifikasi pesan Instagram. Dari @amanda_cans.
Jantungnya berdegup kencang. Dia segera membuka pesan itu.
@amanda_cans: Besok Car Free Day . Aku akan jogging seperti biasa. Tidak perlu menempelkan permen karet lagi. Cukup tersenyum dan melambai. Itu saja.
Herman membaca pesan itu berulang-ulamg. Matanya berbinar. Senyumnya tidak bisa dia tahan. Dia ingin berteriak kegirangan, tetapi kontrakannya sempit dan dindingnya tipis, jadi dia hanya berguling-guling di atas kasur seperti anak kecil yang baru diberi hadiah.
@herman_kontraktor: Baik. Aku hanya akan tersenyum dan melambai. Terima kasih, Amanda.
Pesan itu dibaca. Tidak dibalas. Tapi Herman tidak peduli. Yang penting Amanda mengundangnya. Meskipun hanya untuk tersenyum dan melambai. Itu sudah lebih dari cukup.
Dia tidur malam itu dengan hati penuh harapan. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak bermimpi tentang permen karet. Dia bermimpi tentang Amanda yang tersenyum padanya di bawah matahari Car Free Day . Senyum itu lembut, hangat, dan penuh dengan seribu janji yang belum diucapkan.
Di sisi lain, Amanda juga sedang terbaring di kasurnya. Ponsel sudah dia letakkan di meja belajar. Pesan Herman sudah dia baca, tetapi tidak dia balas. Bukan karena dia tidak ingin. Tapi karena dia tidak tahu harus membalas apa. Sama-sama terdengar terlalu formal. Iya, sama-sama terlalu kaku. Terima kasih kembali terlalu berlebihan. Akhirnya dia memilih diam. Diam adalah jawaban yang paling aman. Diam adalah cara untuk tidak memberikan harapan palsu. Diam adalah cara untuk melindungi hatinya yang masih rapuh.
Tapi di dalam diam itu, dia tersenyum. Senyum kecil yang tidak dia sadari, yang muncul begitu saja ketika dia mengingat wajah Herman yang canggung di Taman Kota Simpang Adipura. Wajah yang tidak terlalu ganteng, tetapi memiliki mata yang jujur. Mata yang tidak bisa berbohong. Mata yang berkata, "Aku di sini untukmu, Amanda. Aku tidak akan pergi."
"Kita lihat saja besok, Herman," bisik Amanda pada bantalnya. "Kita lihat apakah kamu bisa menjaga janji. Hanya tersenyum dan melambai. Tidak lebih."
Dia memejamkan mata. Dan untuk keempat kalinya, dia tertidur dengan bayangan Herman. Kali ini, bayangan itu tidak marah. Tidak bingung. Tidak penasaran. Hanya damai. Damai seperti danau di pagi hari yang tidak beriak.
BAB 5
SAHABAT BERSEKRETARIAT, STRATEGI ANEH DIMULAI
Minggu pagi tiba dengan sempurna. Matahari terbit di ufuk timur seperti bola api raksasa yang baru saja dicuci, bersih, cerah, dan menyilaukan. Langit tidak memiliki secuil awan hitam, hanya gumpalan putih tipis yang bergerak lambat seperti kapas yang ditiup angin. Suhu udara berada di angka dua puluh lima derajat celsius, tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin. Sempurna untuk jogging. Sempurna untuk Car Free Day . Sempurna untuk Herman dan Amanda bertemu lagi setelah lima hari terpisah oleh waktu, jarak, dan segudang perasaan yang tidak terucapkan.
Herman sudah bangun sejak pukul empat pagi. Dia tidak bisa tidur lagi setelah bermimpi aneh tentang Amanda yang tersenyum padanya sambil memegang seikat permen karet berwarna-warni. Dalam mimpi itu, Amanda berkata, "Kalau kamu bisa mengumpulkan seribu permen karet, aku akan memaafkanmu." Lalu Herman bangun dengan keringat dingin di dahi dan perasaan yang sulit dijelaskan. Apakah itu pertanda baik? Atau pertanda buruk? Atau hanya mimpi konyol yang tidak ada artinya? Herman memilih untuk mengabaikan mimpi itu dan fokus pada kenyataan: hari ini dia akan bertemu Amanda. Hanya untuk tersenyum dan melambai. Tidak lebih.
Dia mandi lebih lama dari biasanya. Sabun dipakai dua kali. Sampo dipakai tiga kali. Bahkan dia meminjam parfum Ahmat yang wanginya menyengat seperti campuran melati dan bahan kimia. Setelah berpakaian rapi, dia berdiri di depan cermin kontrakan yang retak di sudut kanan, lalu tersenyum ke bayangannya sendiri. "Hari ini kamu hanya akan tersenyum dan melambai. Jangan lakukan hal bodoh. JANGAN."
Dia mengulangi kalimat itu tiga kali, seperti mantra, seperti doa, seperti peringatan kepada dirinya sendiri yang sering kali tidak bisa dipercaya.
Kemudian dia berangkat ke Car Free Day . Tidak sendiri. Seperti biasa, teman-temannya sudah menunggu di depan GOR Panunjung Tarung. Ahmat duduk di trotoar beton sambil minum kopi dari cangkir plastik. Yanto dan Mahdili sedang bermain tebak-tebakan yang tidak jelas. Yuni dan Herawati sibuk memotret bunga bougenville yang tumbuh di pinggir pagar.
"Kita hari ini tidak akan melakukan apapun," kata Herman begitu dia tiba.
Semua temannya menoleh.
"Maksudmu kita hanya duduk diam?" tanya Yanto.
"Iya. Kita hanya duduk diam, melihat orang jogging, menikmati udara pagi, lalu pulang."
"Lalu bagaimana dengan Amanda?"
"Aku akan tersenyum dan melambai padanya. Itu saja."
"GILA!" teriak Mahdili. "Lo bangun subuh-subuh, mandi lama-lama, pakai parfum pinjaman, cuma buat tersenyum dan melambai?"
"Iya."
"Kenapa gak lo ajak ngobrol? Atau traktir makan? Atau jogging bareng?"
"Karena aku sudah berjanji. Hanya tersenyum dan melambai."
“Alamak sekarang sudah jaman edan, orang jatuh cinta cukup dengan tersenyus, trus melambaikan tangan”. Bintang berseloroh geli.
Ahmat yang dari tadi diam, kini ikut angkat bicara. "Herman benar. Lebih baik pelan-pelan daripada terburu-buru dan membuat Amanda semakin marah. Dia sudah memberi kesempatan. Jangan rusak kesempatan itu hanya karena kita terlalu bersemangat."
"Tapi pelan-pelan kayak siput juga gak baik," bantah Yanto.
"Tidak usah terlalu pelan. Cukup lambat, tetapi pasti."
Yuni mengangguk setuju. "Aku setuju dengan Ahmat. Herman sudah mendapatkan satu undangan untuk tersenyum dan melambai. Itu adalah awal yang baik. Jangan rusak dengan tindakan yang tidak diminta."
Herman tersenyum kecil. Dia bangga memiliki teman-teman yang peduli, meskipun kadang peduli mereka diekspresikan dengan cara yang menjengkelkan. "Baiklah. Sekarang kita cari posisi yang strategis. Aku harus bisa melihat Amanda dari kejauhan, tetapi tidak terlalu dekat sehingga dia merasa terganggu."
Mereka berlima berjalan menyusuri area Car Free Day , mencari tempat duduk yang ideal. Setelah berkeliling sebentar, mereka memutuskan untuk duduk di bangku taman Hutan Kota sampan stadion yang lansung menhaadap jalaan Tambun Bungai tepat di seberang RSUD. dr. Soemarno Sosroatmodjo. Dari posisi itu, Herman bisa melihat seluruh jalur jogging yang biasa dilalui Amanda dan gengnya. Jaraknya sekitar sepuluh puluh meter, cukup dekat untuk melihat wajah, cukup jauh untuk tidak dianggap menguntit.
"Di sini bagus," kata Herman.
"Kita duduk di sini sampai jam berapa?" tanya Herawati.
"Sampai Amanda datang dan pergi."
"Berarti bisa sampai jam sembilan."
"Iya."
"Lama amat."
"Kamu bisa pulang kalau mau."
"Tidak mau. Aku penasaran."
Herman hanya tersenyum. Dia duduk di bangku taman, merentangkan kakinya, lalu memandang ke arah timur, ke arah matahari yang mulai meninggi. Perlahan-lahan, Car Free Day mulai ramai. Ibu-ibu senam dengan gerakan yang tidak sinkron. Bapak-bapak jogging sambil memegang botol minuman. Anak-anak berlarian dengan sepeda mini yang rodanya berputar kencang. Semua orang bahagia. Semua orang menjalani hidupnya masing-masing tanpa tahu bahwa di bangku taman Hutan Kota , ada seorang pemuda yang hatinya berdebar-debar menunggu seorang gadis yang paling dibencinya ataau bahkan di rindukannya.
Pukul setengah tujuh pagi, rombongan Amanda muncul dari arah selatan menyusuri jalan tambun bungai, yang menjadi area Car Free Day. Mereka berlari kecil dengan formasi yang sama seperti minggu lalu. Amanda di depan, diikuti oleh Yunita, Dahlia, Anita, dan Sania. Mereka memakai kaos olahraga putih yang baru, celana legging hitam, dan sepatu kets warna senada. Amanda memakai kaos putih polos tanpa motif, berbeda dengan minggu lalu yang terkena permen karet. Mungkin dia sengaja memilih kaos yang lebih murah hari ini, atau mungkin dia hanya ingin tampil sederhana.
Herman berhenti bernapas sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Telapak tangannya berkeringat. Dia ingin berdiri, tetapi Ahmat menarik tangannya.
"Jangan berdiri. Kamu hanya akan tersenyum dan melambai. Dari posisi duduk."
Herman mengangguk. Dia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu memasang senyum terbaiknya. Senyum yang sudah dia latih di depan cermin kontrakan sejak pukul empat pagi. Senyum yang tidak terlalu lebar, tidak terlalu kecil, tidak terlalu genit, tidak terlalu dingin. Senyum yang pas. Senyum yang sempurna.
Rombongan Amanda semakin mendekat. Jarak tinggal dua puluh meter. Lima belas meter. Sepuluh meter.
Amanda melirik ke arah bangku taman Hutan Kota. Matanya bertemu dengan mata Herman.
Herman mengangkat tangan kanannya. Melambai pelan. Dua kali. Tidak berlebihan. Hanya cukup untuk memberi tahu bahwa dia ada, bahwa dia menepati janji, bahwa dia tidak akan melakukan hal bodoh.
Amanda tidak membalas lambaian itu. Dia hanya tersenyum kecil. Senyum yang sangat kecil, hampir tidak terlihat, seperti bayangan senyum yang muncul lalu lenyap dalam sepersekian detik. Tapi Herman melihatnya. Matanya cukup tajam untuk menangkap senyum itu. Dan senyum itu cukup untuk membuat jantungnya meletup-letup seperti kembang api di malam tahun baru.
Rombongan Amanda berlalu. Mereka terus jogging ke arah utara kemudian belok kearah barat Jalan simpang Patih Rumbih, menjauhi bangku taman, menjauhi Herman, tetapi tidak menjauhi pikirannya.
"Dia tersenyum!" bisik Herman.
"Siapa yang tersenyum?" tanya Yanto.
"Amanda!"
"Lo yakin? Atau cuma hayalan lo?"
"Aku yakin. Senyumnya kecil, tapi nyata."
"Kamu terlalu berharap, Man," kata Mahdili. "Bisa saja itu cuma gerakan otot wajah biasa. Bukan senyum sungguhan."
"Senyum tetaplah senyum. Entah itu disengaja atau tidak."
Ahmat menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak ingin merusak suasana hati Herman. Biarlah temannya itu bahagia dengan senyum imajiner atau senyum nyata. Tidak ada yang rugi. "Bagus. Sekarang kita tunggu putaran kedua. Biasanya mereka jogging tiga putaran."
"Tiga putaran?" Yuni mengerjap. "Berarti Herman akan tersenyum dan melambai tiga kali?"
"Iya. Tiga kali senyum, tiga kali lambai. Cukup untuk satu minggu."
"Romantis juga sih," kata Herawati sambil tersenyum. "Cinta yang diungkapkan dengan lambaian tangan dari kejauhan. Tidak perlu kata-kata. Tidak perlu sentuhan. Hanya pandang dan isyarat."
"Atau buang-buang waktu," timpal Yanto.
"Kamu tidak pernah paham cinta, Yanto. Kamu hanya paham bakso dan es jeruk."
"Itu sudah cukup untuk membuatku bahagia."
Herawati tertawa kecil. Yanto memang polos. Terlalu polos untuk memahami drama cinta Herman dan Amanda. Tapi itu tidak masalah. Setiap orang punya cara masing-masing untuk bahagia. Yanto bahagia dengan bakso dan es jeruk. Herman bahagia dengan senyuman kecil Amanda. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Hanya berbeda.
Putaran kedua. Rombongan Amanda muncul lagi dari arah selatan. Kali ini mereka berlari lebih lambat karena sudah mulai terlihat lelah. Amanda masih di depan, tetapi posturnya sedikit membungkuk. Mungkin dia tidak cukup tidur semalam. Atau mungkin dia terlalu banyak berpikir sehingga energinya terkuras.
Herman kembali tersenyum. Kembali melambai. Kali ini lambaiannya lebih kecil, lebih pendek, lebih sopan.
Amanda kembali menoleh. Senyum kecil yang sama muncul di bibirnya. Lalu dia melanjutkan lari tanpa memperlambat langkah.
"Lihat! Dia senyum lagi!" seru Herman.
"Kami lihat," jawab Ahmat. "Senyumnya masih sama. Kecil. Samar. Tapi nyata."
"Kali ini bukan hayalan?"
"Bukan. Kami semua melihatnya."
"Terima kasih, Tuhan," bisik Herman sambil menengadah ke langit.
Yanto menggeleng-gelengkan kepala. "Dia sudah mulai gila. Tolong, jangan dibiarkan sendiri."
"Biarkan dia gila," kata Yuni. "Terkadang, kegilaan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dunia yang terlalu serius."
Herman tidak mendengarkan omongan teman-temannya. Dia terlalu sibuk menikmati rasa bahagia yang menyebar di dadanya seperti madu yang meleleh di atas roti hangat. Rasanya manis, sedikit lengket, tetapi sangat nikmat.
Putaran ketiga. Rombongan Amanda muncul untuk terakhir kalinya. Kali ini mereka sudah sangat lelah. Ada yang berhenti di pinggir jalan untuk memegang lutut. Ada yang memegang pinggang sambil mengatur napas. Amanda sendiri sudah tidak berlari lagi. Dia berjalan cepat, hampir merangkak, dengan wajah yang memerah seperti udang rebus.
Herman tersenyum. Melambai. Kali ini lambaiannya paling kecil, hampir tidak bergerak. Hanya sedikit mengangkat tangan, lalu menurunkannya kembali.
Amanda menoleh. Senyumnya kali ini sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Masih kecil, tetapi lebih jelas. Seperti sinar matahari yang mulai muncul dari balik awan. Dia mengangkat tangan kanannya, lalu melambai balik. Lambaian yang sangat singkat, hanya satu kali, seperti orang yang melambai tanpa sengaja.
Tapi itu cukup.
Cukup untuk membuat Herman berdiri dari bangku taman.
Cukup untuk membuat air matanya hampir menetes.
Cukup untuk membuatnya yakin bahwa semua perjuangan ini tidak sia-sia.
"Dia melambai balik!" teriak Herman tidak bisa menahan diri lagi.
"Sst! Jangan teriak-teriak! Nanti dia kapok!" Ahmat menarik tangan Herman.
"Tapi dia melambai, Mat!"
"Aku lihat. Aku lihat. Tenanglah."
"Bagaimana mungkin aku tenang? Amanda yang paling galak di Kuala Kapuas baru saja melambai padaku!"
"Ya, sudah. Sekarang duduk. Tarik napas. Jangan pingsan."
Herman duduk kembali. Dadanya naik turun seperti gelombang laut di tengah badai. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya hanya bisa tersenyum. Senyum lebar yang tidak bisa dia sembunyikan, meskipun dia sudah berusaha menahannya.
Akhirnya, setelah rombongan Amanda benar-benar hilang dari pandangan, Herman berdiri dan berkata pada teman-temannya, "Aku ingin mentraktir kalian semua bakso di Dermaga KP3. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah mendukungku."
"BARU DIA NGOMONG BEGITU!" teriak Yanto kegirangan.
"Aku mau bakso urat sapi!" tambah Mahdili.
"Aku mau bakso telur!" kata Herawati.
"Aku mau bakso biasa tapi kuahnya banyak!" timpal Yuni.
"Aku mau apa saja yang penting gratis," ucap Ahmat santai.
“Bakso special.” Bintang tak mau kalah.
Mereka berlima berjalan menuju Dermaga KP3 dengan langkah riang. Herman di tengah, dikelilingi oleh teman-temannya, seperti presiden yang baru saja memenangkan pemilu. Wajahnya masih belum bisa berhenti tersenyum. Matanya masih berbinar-binar seperti anak kecil yang baru diberi sepeda baru.
"Man, tolong sadar," kata Ahmat di tengah perjalanan. "Ini baru lambaian tangan. Belum ciuman. Belum pelukan. Belum pernyataan cinta. Masih panjang perjuangannya."
"Aku tahu. Tapi setidaknya aku sudah melewati satu level. Dari ditolak menjadi dilambai. Itu sudah kemajuan besar."
"Kemajuan besar atau kecil, yang penting kamu tidak berhenti."
"Aku tidak akan berhenti, Mat. Aku akan terus berjalan sampai Amanda benar-benar membuka hatinya untukku."
"Dan jika dia tidak pernah membuka hatinya?"
Herman berhenti berjalan. Dia menatap Ahmat dengan mata yang tiba-tiba menjadi serius. "Maka aku akan belajar untuk menerima. Tapi setidaknya aku sudah mencoba. Setidaknya aku tidak akan menyesal di kemudian hari karena tidak pernah berani."
Ahmat terdiam. Dia tidak bisa membantah. Herman benar. Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Dan sejauh ini, Herman sudah mencoba. Meskipun dengan cara yang paling konyol, paling memalukan, paling tidak masuk akal, dia sudah mencoba. Dan itu layak dihormati.
Dermaga KP3 terletak di tepi sungai Kapuas, tepat di area yang disebut warga sebagai "Wisata Kuliner Ikonik". Ada puluhan lapak makanan yang berjajar rapi di sepanjang koridor jalan Jendral Sudirma serta Restro Teraapung dekat Dermaga. Mulai dari bakso, mie ayam, sate, ketoprak, es campur, hingga makanan khas Kuala Kapuas seperti nasi kuning dengan lauk pauk yang beragam. Suara pedagang yang menawarkan dagangan bercampur dengan suara pengunjung yang berbincang-bincang, menghasilkan simfoni keramaian yang khas.
Herman dan teman-temannya memilih lapak bakso langganan, yaitu Bakso "Lumer" yang terletak di ujung Selatan dermaga. Pemiliknya adalah Pak RT, seorang bapak bertubuh tambun dengan kumis tebal dan suara yang sangat keras. Begitu melihat Herman datang, Pak RT langsung berteriak.
"HERMAN! LAMA TIDAK MAMPIR! KAMU DIKEJAR UTANG ATAU BAGAIMANA?"
"Tidak, Pak. Saya masih sibuk kerja," jawab Herman sambil tersenyum canggung.
"Kerja? Kerja yang benar! Jangan malas-malas! Nanti tidak laku di kolom jodoh!"
"Iya, Pak."
Mereka duduk di meja kayu panjang yang dilapisi taplak plastik bermotif kotak-kota. Pak RT datang dengan notepad kecil di tangannya. "PESAN APA SAJA?"
"Bakso urat sapi dua, bakso special satu, bakso telur sau, bakso biasa satu, kuahnya banyak, sambal dipisah," kata Ahmat mewakili grup.
"MINUMNYA?"
"Es jeruk dua, es teh dua, es campur satu."
"OKE, TUNGGU BENTAR!" Pak RT berjalan ke dapur dengan langkah tegap seperti tentara yang sedang berpatroli.
Sambil menunggu pesanan, Herman mengeluarkan ponsel. Dia membuka Instagram, lalu tersenyum sendiri melihat profil Amanda. Foto terakhirnya adalah foto dia sedang memegang es krim di pinggir jalan, dengan caption: "Manisnya hidup hanya sementara, yang abadi hanya permen karet." Herman hampir tersedak membaca caption itu. Apakah itu sindiran untuknya? Atau hanya kebetulan?
"Ada apa, Man?" tanya Yuni.
"Lihat ini. Caption Instagram Amanda."
Yuni mengambil ponsel Herman, lalu membaca caption itu dengan suara pelan. "Manisnya hidup hanya sementara, yang abadi hanya permen karet." Dia tertawa kecil. "Ini pasti sindiran buat kamu. Dia masih kesal."
"Kalau dia masih kesal, kenapa dia melambai balik padaku?"
"Mungkin karena dia tidak mau dianggap terlalu serius. Atau mungkin karena dia mulai..." Yuni berhenti di tengah kalimat.
"Mulai apa?"
"Mulai... menerima."
Herman mengangguk. Dia tidak ingin terlalu berharap. Tapi harapan itu sudah terlanjur tumbuh seperti benih yang disiram setiap hari. Sulit untuk dicabut. Sulit untuk diabaikan.
"Yang penting," kata Herawati, "kamu jangan melakukan hal bodoh lagi. Tidak ada permen karet. Tidak ada puisi cinta. Tidak ada berlutut di rumahnya. Cukup lambaian tangan dari kejauhan sampai Amanda benar-benar nyaman."
"Berapa lama?"
"Tidak tahu. Bisa satu minggu. Bisa satu bulan. Bisa satu tahun."
"Setahun cuma lambai-lambai?"
“Mana aku taahan.” Bisik Bintang
"Iya. Itu ujian kesabaran."
Herman menghela napas panjang. Dia tidak sabaran. Dia pernah mencoba diet dan gagal di hari ketiga. Dia pernah mencoba belajar bahasa Inggris dan berhenti di pertemuan kedua. Tapi untuk Amanda, dia rela bersabar. Bahkan jika harus bersabar selama satu tahun penuh. "Baiklah. Aku akan coba."
"Jangan coba. Lakukan," tegas Herawati.
"Iya. Aku akan lakukan."
Pesanan datang. Sepuluh mangkok bakso berjejer rapi di atas meja, ditemani oleh gelas-gelas es jeruk, es teh, dan satu mangkok es campur untuk Yuni. Mereka makan dengan lahap, sesekali bercanda, sesekali mengejek Herman yang masih tersenyum-senyum sendiri.
"Aku rasa Herman perlu pingsan sebentar," kata Yanto sambil mengunyah bakso.
"Kenapa pingsan?" tanya Mahdili.
"Supaya dia sadar bahwa dunia ini tidak sedang berputar hanya karena lambaian tangan Amanda."
"Diam, Yanto. Biarkan dia bahagia. Sudah jarang dia bahagia seperti ini," potong Yuni.
Yanto mengangkat bahu. Dia kembali fokus ke baksonya yang masih mengepul.
Selesai makan, mereka berjalan menyusuri dermaga sambil menikmati pemandangan sungai. Air sungai Kapuas Murung mengalir tenang, kehitaman karena kedalamannya, tetapi tetap memantulkan cahaya matahari dengan indah. Beberapa Longboat melintas, membawa penumpang dari satu desa ke desa lain. Di kejauhan, jembatan besar membentang gagah, menghubungkan dua sisi kota.
"Man, kamu tahu apa yang akan aku lakukan jika jadi kamu?" tiba-tiba Ahmat bertanya.
"Apa?"
"Aku akan membuat tim sukses."
"Tim sukses? Untuk apa?"
"Untuk membantu kamu mendekati Amanda. Tidak mungkin kamu sendiri. Kamu butuh orang-orang yang bisa membantumu dari berbagai sisi."
"Seperti tim pemenangan pilkada?"
"Iya. Kurang lebih seperti itu."
Herman mengerjap. Ide itu terdengar gila. Tapi bukankah semua ide yang berhubungan dengan Amanda memang gila? "Tim suksesnya siapa saja?"
"Kita semua," Ahmat menunjuk dirinya sendiri, Yanto, Mahdili, Yuni, Bintang dan Herawati. "Kita akan bahagi tugas. Ada yang fokus mendekati teman-teman Amanda. Ada yang fokus mengumpulkan informasi tentang kegemaran Amanda. Ada yang fokus membuat strategi agar kamu bisa bertemu Amanda tanpa terlihat seperti penguntit."
"Aku tidak suka kata penguntit."
"Ya, kita ganti dengan pendekatan sistematis."
Herawati mengangguk setuju. "Aku setuju dengan Ahmat. Selama ini kita hanya reaktif. Menunggu kejadian, lalu merespons. Sekarang saatnya kita proaktif. Kita yang membuat kejadian."
"Aku proaktif atau reaktif, yang penting jangan sampai saya dituduh melecehkan," kata Yanto.
"Kamu tidak bakal dituduh melecehkan karena kamu tidak akan melakukan apa-apa selain makan bakso," timpal Mahdili.
"Baguslah. Aku tidak mau pusing dengan drama cinta."
Yuni tersenyum. "Baiklah. Kita bentuk tim sukses. Namanya... Tim Sukses Taklukkan Amanda."
"Terlalu panjang," bantah Ahmat. "Cukup Tim STS."
"STS?"
"Save The Soul. Atau Sesuai Target Selesai. Terserah."
"Kenapa tidak Tim Permen Karet?" saran Yanto.
"Terlalu konyol."
"Semuanya konyol. Tapi tidak apa-apa. Yang penting berhasil."
Mereka berlima akhirnya sepakat untuk membentuk tim sukses. Tidak ada surat keputusan. Tidak ada agenda rapat. Tidak ada struktur organisasi yang jelas. Hanya komitmen bersama untuk membantu teman yang sedang jatuh cinta. Itu sudah cukup.
Herman tidak bisa menahan senyumnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa teman-temannya yang sering dianggapnya menyebalkan ini akan begitu peduli. "Makasih, kalian. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan kalian dengan apa."
"Balas dengan memenangkan hati Amanda," kata Ahmat. "Itu saja."
"Tapi kalau aku gagal?"
"Kita gagal bersama. Tidak ada yang disalahkan."
Herman mengangguk. Air matanya hampir menetes lagi. Dia menahan. Tersenyum. Lalu berjalan bersama teman-temannya menyusuri dermaga, meninggalkan jejak kaki di atas papan kayu yang sudah tua, menuju ke arah matahari yang semakin tinggi.
Malam harinya, di grup WhatsApp "Geng Car Free Day ", Ahmat memulai rapat virtual pertama Tim STS. Dia menulis pesan panjang berisi pembagian tugas untuk setiap anggota.
Ahmat: Oke, sesuai kesepakatan siang tadi, kita akan membentuk tim sukses untuk membantu Herman mendekati Amanda. Berikut pembagian tugas:
- Yanto, tugas kamu mendekati Dahlia. Dahlia adalah teman dekat Amanda. Dia hobi jajanan pasar. Kamu hobi jajan. Cocok.
Yanto: Dahlia yang mana? Yang suka bawa gemblong?
Ahmat: Iya.
Yanto: Oke. Aku coba. Tapi kalau dia gak suka sama aku, jangan salahkan aku.
Ahmat: Kamu lakukan yang terbaik. Lapor setiap hari.
- Mahdili, tugas kamu mendekati Anita. Anita suka hal-hal berbau teknologi. Kamu suka gonta-ganti HP. Cocok.
Mahdili: Aku gak suka Anita. Anita jutek.
Ahmat: Kamu tidak harus suka. Kamu hanya perlu jadi teman. Sebagai jalan untuk Herman.
Mahdili: Baiklah. Tapi kalau dia jutek, aku mundur.
Ahmat: Kamu hanya akan mundur kalau dunia kiamat.
- Yuni, tugas kamu mendekati Sania. Sania pendiam, suka baca buku. Kamu juga pendiam, suka baca buku. Cocok.
Yuni: Aku kenal Sania sebentar. Dia anaknya baik. Tapi dia jarang buka mulut. Aku butuh kesabaran ekstra.
Ahmat: Kesabaran ekstra diberikan.
- Herawati, tugas kamu mendekati Yunita. Yunita suka kecantikan, make up, perawatan kulit. Kamu juga suka hal yang sama. Cocok.
Herawati: Aku sudah follow Instagram Yunita. Dia sering posting produk kecantikan. Aku bisa mulai dengan nanya soal skincare.
Ahmat: Bagus. Lanjutkan.
- Bintang bagian dokumentasi dan media social dan Aku sendiri yang akan fokus mengatur strategi jangka panjang. Juga melobi orang tua Amanda jika diperlukan.
Selain itu, Herman akan tetap melakukan kontak langsung dengan Amanda. Tapi hanya lambaian tangan dan senyum dari kejauhan. Tidak lebih. Setuju?
Yanto: Setuju.
Mahdili: Setuju.
Yuni: Setuju.
Herawati: Setuju.
Herman: Aku setuju. Tapi jangan aneh-aneh ya. Aku tidak mau Amanda semakin benci.
Ahmat: Tenang. Semua sudah terencana. Tidak ada yang aneh-aneh.
Yanto: Kecuali kalau Dahlia bawa gemblong ke mana-mana. Itu aneh.
Ahmat: Itu tidak aneh. Itu kebiasaan.
Yanto: Bagiku aneh.
Baintang”Setuju.”
Ahmat: Lakukan. Fokus ke tugas masing-masing. Lapor perkembangan setiap malam pukul sembilan. Yang tidak lapor, traktir bakso sepuluh mangkok.
Yanto: Siap.
Mahdili: Siap.
Yuni: Siap.
Herawati: Siap.
Bintang”Siap.”
Herman: Siap. Terima kasih, teman-teman. Aku beruntung punya kalian.
Yanto: Jangan baper. Nanti aku mual.
Herman: Baik, aku tidak baper. Tapi terima kasih tetap kuucapkan.
Ahmat: Sudah, tidur. Besok kerja. Kita mulai misi lusa.
Grup WhatsApp itu pun sunyi. Herman mematikan ponsel, meletakkannya di samping bantal, lalu memandang langit-langit kamar yang retak-retak. Dia tersenyum sendiri. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa sendirian. Ada lima orang yang siap membantunya. Lima orang yang rela melakukan hal-hal konyol hanya untuk melihatnya bahagia.
"Terima kasih, Tuhan," bisik Herman. "Terima kasih untuk teman-teman yang menyebalkan tapi setia. Terima kasih untuk permen karet yang membuat semuanya dimulai. Terima kasih untuk Amanda yang masih memberiku kesempatan meskipun hanya untuk tersenyum dan melambai."
Dia memejamkan mata. Dan untuk kesekian kalinya, dia tertidur dengan bayangan Amanda. Kali ini, bayangan itu tidak sendiri. Ada Dahlia, Yunita, Anita, Sania di samping Amanda. Dan di belakang mereka, ada Yanto, Mahdili, Yuni, Herawati, Bintang dan Ahmat. Semua tersenyum. Semu bahagia. Seperti satu keluarga besar yang sedang berkumpul di Car Free Day .
BAB 6
JURUS KE 01 SAMPAI 10, GAGAL TOTAL
Dua minggu telah berlalu sejak Tim STS resmi dibentuk. Dua minggu yang penuh dengan harapan, strategi, dan kegagalan yang bertubi-tubi. Setiap anggota tim sudah melaksanakan tugasnya masing-masing dengan semangat membara, tetapi hasilnya tidak pernah sesuai harapan. Yanto gagal mendekati Dahlia karena Dahlia lebih tertarik pada Ahmat yang sama sekali tidak berusaha. Mahdili gagal mendekati Anita karena Anita ternyata sudah punya pacar. Yuni berhasil menjadi teman baik Sania, tetapi Sania tidak pernah mau membantu Herman karena dia berprinsip bahwa cinta harus alami, bukan rekayasa. Herawati sukses berteman dengan Yunita, tetapi Yunita bilang Amanda masih sangat marah pada Herman meskipun sudah sempat melambai di Car Free Day . Semua upaya tim berakhir dengan kebuntuan, dan Herman sadar bahwa dia tidak bisa bergantung pada orang lain selamanya. Dia harus bergerak sendiri. Dia harus menciptakan jurus-jurus cinta yang spektakuler, meskipun kemungkinan besar akan gagal.
Ahmat menyebutnya "Jurus 001 sampai 010" sebagai bentuk penghormatan kepada film-film silat Mandarin yang sering mereka tonton bersama di kontrakan Herman setiap Sabtu malam. Dalam film-film itu, sang pahlawan biasanya memiliki jurus andalan yang selalu berhasil mengalahkan musuh. Tapi Herman bukan pahlawan film silat. Herman hanyalah pekerja kontraktor biasa yang jatuh cinta pada perempuan paling galak di Kuala Kapuas. Jurus-jurusnya tidak dirancang untuk mengalahkan musuh, tetapi untuk meluluhkan hati seorang Amanda. Sayangnya, hati Amanda ternyata lebih keras dari baja. Setiap jurus yang Herman coba berakhir dengan kegagalan yang memalukan.
Jurus pertama Herman adalah puisi cinta. Bukan puisi biasa, tetapi puisi yang dia tulis sendiri setelah begadang semalaman dengan ditemani segelas kopi hitam dan sebatang rokok. Dia menulis, menghapus, menulis lagi, menghapus lagi, sampai akhirnya dia menghasilkan tiga bait yang menurutnya cukup puitis. Isinya tentang seorang kesatria yang jatuh cinta pada seorang putri yang marah-marah, lalu kesatria itu berjanji akan setia meskipun harus dimarahi seumur hidup. Herman menganggap puisinya bagus. Ahmat bilang lebay. Yanto bilang garing. Tapi Herman tidak peduli. Dia mencetak puisi itu di warnet dekat kontrakan, lalu menempelkannya di loker sekolah Amanda pada malam hari, ketika sekolah sedang sepi.
"Besok pagi dia akan membaca puisiku," kata Herman pada Ahmat dengan penuh keyakinan.
Keesokan paginya, Amanda memang membaca puisi itu. Tapi dia tidak tersenyum, tidak terharu, tidak juga marah. Dia hanya mengernyit, lalu menunjukkan puisi itu pada Dahlia.
"Baca ini. Puisi dari Herman."
Dahlia membaca puisi itu, lalu tertawa terbahak-bahak. "Ini puisi atau lamaran kerja? Bahasa Indonesianya amburadul."
"Kesatrianya kumisnya tipis. Putrinya galaknya minta ampun. Ini jelas tentang kita," kata Amanda sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lucu sih. Dia berusaha."
"Berusaha atau buang-buang kertas?"
Dahlia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil melipat puisi itu menjadi pesawat kertas, lalu menerbangkannya ke luar jendela kelas.
Puisi itu terbang beberapa meter, lalu jatuh di selokan. Di sanalah puisi cinta pertama Herman berakhir.
Jurus kedua adalah bunga. Herman menghabiskan uang makannya selama tiga hari untuk membeli setangkai mawar merah di toko bunga langganan ibunya Yanto. Mawar itu segar, berduri, dan harum. Herman membungkusnya dengan plastik bening dan pita merah, lalu mengirimkannya ke rumah Amanda melalui jasa ojek online. Dia menyertakan kartu kecil bertuliskan, "Untuk Amanda, dari Herman yang minta maaf."
Dua jam setelah mawar itu sampai, Herman menerima pesan dari Amanda.
@amanda_cans: Bunga saya kembalikan lewat ojek. Jangan kirim bunga lagi. Saya alergi mawar.
Herman membaca pesan itu berkali-kali. Dia tidak tahu apakah Amanda benar-benar alergi atau hanya alasan untuk menolak. Tapi satu hal yang dia tahu: mawar merah yang dia beli dengan susah payah kini sudah kembali ke tangannya, layu sedikit karena perjalanan bolak-balik, seperti harapannya yang mulai pudar.
Jurus ketiga adalah menjadi kurir tahu walik. Tahu walik adalah makanan khas Kuala Kapuas, terbuat dari tahu yang dibalik, diisi dengan adonan ayam atau udang, lalu digoreng hingga renyah. Herman tahu bahwa Amanda suka tahu walik dari warung Mak Endut di Pasar Sari Mulya. Karena itu, dia memesan dua bungkus tahu walik, lalu berpura-pura menjadi kurir yang mengantarkan pesanan ke rumah Amanda.
"Permisi, pesanan tahu walik untuk Amanda," kata Herman sambil tersenyum canggung di depan pintu rumah Amanda.
Pintu terbuka. Yang muncul bukan Amanda, tetapi ibunya. Ibu Amanda memandang Herman dengan tatapan setengah lucu setengah iba. "Kamu jadi kurir, Herman?"
"Iya, Bu. Kurir dadakan."
"Amanda sedang mandi. Titip saja sama saya."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Herman menyerahkan dua bungkus tahu walik, lalu berbalik pulang. Dia tidak sampai bertemu Amanda. Yang dia dapatkan hanyalah senyuman ibunya yang mengatakan, "Kamu anak yang baik, tapi jangan terlalu banyak akal."
Baru saja Herman sampai di gang depan kontrakannya, ponselnya berbunyi. Pesan dari Amanda.
@amanda_cans: Tahu walik nya enak. Mending jualan tahu walik daripada ngejar cewek.
Herman tersenyum pahit. Setidaknya Amanda mengakui tahu waliknya enak. Itu sudah lebih baik daripada tidak diakui sama sekali.
Jurus keempat adalah mengajak jogging bersama di Car Free Day . Herman sudah berlatih jogging setiap sore selama satu minggu penuh agar tidak kehabisan napas di depan Amanda. Dia juga membeli sepatu olahraga baru di pasar murah, meskipun kualitasnya diragukan. Pada Minggu pagi berikutnya, ketika rombongan Amanda jogging melewati bangku taman tempat Herman biasa duduk, Herman berdiri dan berlari kecil di samping Amanda.
"Amanda, aku sudah janji gak bakal tempelin permen karet lagi. Tapi bolehkah aku jogging di sampingmu?"
Amanda tidak menjawab. Dia justru mempercepat langkahnya. Herman mencoba mengimbangi, tetapi kakinya lebih pendek dari kaki Amanda. Ditambah lagi sepatu barunya ternyata kekecilan, membuat jari-jari kakinya terasa seperti digencet. Dia berlari sekencang mungkin, tetapi Amanda berlari lebih kencang. Seperti atlet nasional yang sedang latihan untuk olimpiade. Dalam waktu kurang dari satu menit, Amanda sudah meninggalkan Herman tertatih-tatih di belakang.
"Jangan ikuti aku!" teriak Amanda tanpa menoleh.
Herman berhenti. Dia memegang lututnya sambil mengatur napas. Sepatu barunya sudah mulai melepuh. Jari-jari kakinya terasa panas. Dia menyesal membeli sepatu murah. Tapi bukan sepatunya yang salah. Ini murni kesalahannya sendiri karena terlalu bersemangat.
Di bangku taman, teman-temannya tertawa melihat pemandangan itu. Yanto sampai berguling-guling di atas rumput. Mahdili menepuk-nepuk pahanya. Bahkan Ahmat, yang biasanya serius, ikut tertawa kecil.
"Sebaiknya kamu fokus jadi kontraktor saja, Man," teriak Yanto dari kejauhan. "Jadi atlet bukan bidangmu!"
Herman hanya bisa mengangkat kedua tangannya, menyerah. Jurus keempat gagal total.
Jurus kelima adalah memberikan sarapan ke sekolah Amanda. Herman bangun pukul tiga pagi, memasak nasi goreng sendiri di kontrakan (meskipun hasilnya agak gosong di bagian bawah), lalu membungkusnya dengan daun pisang agar terlihat tradisional dan romantis. Dia pergi ke sekolah Amanda sebelum bel pertama berbunyi, lalu menitipkan nasi goreng itu kepada satpam sekolah.
"Tolong sampaikan ke Amanda, Pak. Dari Herman."
Satpam itu mengangguk. "Siap, Dik. Nanti saya sampaikan."
Sepulang sekolah, Amanda mengirim pesan lagi.
@amanda_cans: Nasi gorengnya gosong. Saya hampir keracunan. Jangan masak lagi kalau tidak bisa masak.
Herman membaca pesan itu sambil menunduk. Dia tahu nasi gorengnya memang gosong. Dia juga tahu rasanya tidak enak. Tapi dia berharap Amanda akan menghargai usahanya. Ternyata tidak. Amanda bukan tipe perempuan yang mudah terharu oleh usaha. Dia tipe perempuan yang realistis. Enak ya enak. Tidak enak ya tidak enak. Tidak ada kata "yang penting ada usaha".
Jurus keenam adalah membuat video puisi. Herman berdiri di depan kamera ponsel yang dipinjam dari Ahmat, lalu membaca puisi karyanya sendiri dengan gaya yang menurutnya paling romantis. Dia meminjam jas dari tetangga, berdiri di depan tembok putih kontrakannya, dan merekam video itu berkali-kali sampai suaranya serak.
"Amanda, sejak kau tempel permen karet di hatiku, aku tak bisa lepas. Kau lukai aku, tapi kau juga yang menyembuhkan. Aku cinta padamu, walau kau benci padaku."
Setelah selesai, dia mengirim video itu ke Instagram Amanda melalui Direct Message. Video itu sudah dilihat. Tapi tidak dibalas. Herman menunggu satu jam, dua jam, tiga jam. Tidak ada balasan. Dia cek lagi. Ternyata Amanda sudah meng-unread pesan itu. Artinya dia sudah melihat, tetapi memilih untuk tidak membalas.
Herman hampir menangis. Tapi dia tahan.
Jurus ketujuh adalah mengirim lagu. Herman tahu bahwa Amanda suka musik pop Indonesia tahun sembilan puluhan. Karena itu, dia memilih lagu "Cinta Itu Buta" dari band legendaris, lalu merekam dirinya sendiri menyanyikan lagu itu dengan iringan gitar yang dia pinjam dari tetangga kontrakan. Suaranya fals. Iramanya kacau. Gitar yang dipinjam ternyata tidak disetel dengan baik. Tapi Herman tetap mengirim rekaman itu ke Amanda.
@herman_kontraktor: Ini lagu untukmu. Maaf kalau jelek. Aku masih belajar.
Pesan itu dibaca. Kali ini ada balasan.
@amanda_cans: Kamu tidak usah belajar menyanyi. Kamu tidak usah belajar gitar. Kamu tidak usah belajar jadi orang romantis. Cukup jadi diri sendiri. Itu sudah cukup.
Herman membaca balasan itu berulang-ulang. Apa maksudnya? Apakah Amanda menerimanya? Atau hanya menyuruhnya berhenti berusaha? Dia tidak tahu. Tapi satu hal yang dia tahu, Amanda tidak marah. Itu sudah kemajuan.
Jurus kedelapan adalah menjadi sukarelawan di acara amal yang juga dihadiri Amanda. Herman mendengar dari Yuni bahwa Amanda akan ikut serta dalam acara bakti sosial di panti asuhan pada hari Minggu. Herman mendaftar sebagai sukarelawan, meskipun dia tidak punya keahlian apapun selain mengangkat barang berat.
Di panti asuhan, Herman bertemu Amanda. Amanda memakai kaos putih polos dan celana jeans. Dia sedang membagikan makanan kepada anak-anak panti. Herman mendekat.
"Bisa saya bantu?" tanya Herman.
"Angkat kotak ini ke dapur," perintah Amanda singkat.
Herman mengangkat kotak itu. Beratnya sekitar dua puluh kilogram. Dia membawanya ke dapur tanpa mengeluh. Kemudian dia kembali lagi.
"Angkat yang ini ke halaman belakang."
Herman mengangkat. Tidak mengeluh.
"Cuci piring ini."
Herman mencuci. Tidak mengeluh.
"Sapu halaman."
Herman menyapu. Tidak mengeluh.
Sepanjang acara, Herman hanya disuruh-suruh tanpa ada ucapan terima kasih. Tapi dia tidak peduli. Yang penting dia bisa membantu. Yang penting dia ada di dekat Amanda. Setelah acara selesai, Amanda mendekatinya.
"Kamu capek?" tanya Amanda.
"Sedikit," jawab Herman jujur.
"Ini air mineral." Amanda menyodorkan sebotol air mineral. "Minum. Jangan pingsan. Nanti aku yang repot."
Herman menerima botol itu. Dia meminumnya sedikit demi sedikit. Airnya dingin, menyegarkan, seperti hujan di musim kemarau.
"Besok aku butuh orang untuk angkat barang di toko," kata Amanda lagi. "Kamu bisa?"
"Bisa."
"Datang jam delapan pagi."
"Baik."
Amanda pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Herman berdiri di halaman panti asuhan, memegang botol air mineral, dengan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan. Ini bukan kemenangan. Tapi setidaknya dia tidak gagal. Dia hanya diperbolehkan membantu. Itu sudah cukup.
Jurus kesembilan adalah datang ke toko sembako milik ayah Amanda. Herman datang tepat pukul delapan pagi seperti yang dijanjikan. Toko sembako itu besar, terletak di Pasar Sari Mulya, menjual segala macam kebutuhan rumah tangga mulai dari beras, gula, minyak goreng, hingga mie instan. Ayah Amanda sudah menunggu di depan toko dengan daftar barang-barang yang harus diangkut.
"Kamu Herman?" tanya ayah Amanda.
"Iya, Pak."
"Anak yang tempelin permen karet di baju Amanda?"
Herman hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. "Iya, Pak. Itu saya."
"Kamu punya nyali. Aku suka." Ayah Amanda tertawa kecil. "Ayo bantu angkat karung beras ke gudang belakang. Ada lima puluh karung. Masing-masing dua puluh kilogram."
Herman menelan ludah. Dia tidak pernah mengangkat beban seberat itu secara terus-menerus. Pekerjaannya sebagai kontraktor lebih banyak mengawasi daripada mengangkat. Tapi dia tidak mau menolak.
Dia mulai mengangkat karung beras satu per satu. Karung pertama masih terasa ringan. Karung kedua mulai berat. Karung ketiga membuat otot tangannya terasa tertarik. Karung keempat membuat napasnya tersengal. Karung kelima membuatnya hampir terjatuh.
"Kamu berhenti dulu kalau capek," kata ayah Amanda.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya masih kuat."
Dia melanjutkan hingga karung kedelapan. Wajahnya sudah merah. Keringatnya bercucuran. Bajunya basah. Tapi dia tidak berhenti. Dia terus mengangkat sampai akhirnya Amanda datang dengan segelas es teh manis.
"Coba minum dulu," kata Amanda sambil menyodorkan gelas itu.
Herman menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih."
"Ini bukan karena aku baik. Ini karena kalau kamu pingsan di tokoku, reputasi toko bisa turun."
"Aku paham."
Herman meminum es teh itu sampai habis. Rasanya manis, sedikit kental, seperti buatan orang yang tahu cara membuat es teh yang benar. Amanda tidak pergi. Dia berdiri di samping Herman, memandang ke arah toko, ke arah ayahnya yang sedang melayani pembeli.
"Kamu kenapa mau jadi kuli angkat begini, Herman?" tanya Amanda.
"Karena kamu minta tolong."
"Hanya itu?"
"Hanya itu."
"Dasar tolol."
"Mungkin."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi matanya tidak lagi dingin seperti sebelumnya. Ada sedikit kehangatan di sana. Sedikit kelembutan. Sedikit rasa terima kasih yang tidak diucapkan.
"Lanjutkan," kata Amanda. "Tapi jangan sampai pingsan."
"Iya."
Herman mengangkat karung kesembilan, kesepuluh, kesebelas, hingga akhirnya semua karung beras berhasil dia pindahkan ke gudang belakang. Ayah Amanda tersenyum puas. "Anak ini kuat. Cocok jadi menantu."
"YAH!" teriak Amanda.
"Apa? Ayah hanya bercanda."
"Jangan bercanda soal itu!"
"Iya, iya. Ayah diam."
Herman hanya tersenyum malu. Dia tidak berani berharap. Tapi senyum ayah Amanda adalah sesuatu yang tidak bisa dia abaikan.
Jurus kesepuluh adalah mengajak Amanda nonton bioskop. Setelah nyaris tiga minggu berusaha, Herman merasa sudah saatnya untuk mengambil langkah yang lebih berani. Dia membeli dua lembar tiket bioskop untuk film terbaru yang sedang hype di kalangan anak muda. Film Korea, bergenre roman komedi, dengan pemeran cowok ganteng dan cewek cantik.
@herman_kontraktor: Amanda, aku punya dua tiket bioskop untuk hari Sabtu malam. Kamu mau ikut?
Pesan itu dibaca. Dibaca. Dibiarkan dua jam.
@amanda_cans: Dengan siapa lagi?
@herman_kontraktor: Dengan aku. Hanya kita berdua.
@amanda_cans: Tidak mau.
@herman_kontraktor: Kenapa?
@amanda_cans: Karena aku tidak mau terlihat pacaran dengan orang yang pernah nempelkan permen karet di bajuku.
@herman_kontraktor: Itu sudah beberapa minggu yang lalu.
@amanda_cans: Luka di hati tidak punya batas waktu.
Herman membaca pesan terakhir itu. Luka di hati tidak punya batas waktu. Apakah itu artinya Amanda masih sakit hati? Atau hanya alasan untuk menolak? Herman tidak tahu. Tapi yang dia tahu, jurus kesepuluh gagal. Tiket bioskop yang sudah dia beli terpaksa diberikan kepada Ahmat dan Yanto.
"Terima kasih tiket gratisnya, Man," kata Yanto sambil tersenyum lebar. "Aku dan Ahmat akan menikmatinya."
"Jangan terlalu menikmati. Ini tiket untuk cinta, bukan untuk hiburan," balas Herman sinis.
"Ya, ya. Kami akan berdoa untuk cintamu di dalam bioskop."
"Kaampret, lo."
Malam itu, setelah sepuluh jurus gagal total, Herman duduk sendirian di bangku taman depan GOR Panunjung Tarung. Tempatnya sepi, hanya ada beberapa pasangan yang sedang berduaan di sudut-sudut gelap. Lampu taman menyala redup, memberikan cahaya yang cukup untuk melihat wajah, tetapi tidak cukup untuk membaca ekspresi.
Ahmat datang tanpa diundang. Dia duduk di samping Herman, lalu menyalakan sebatang rokok. "Gagal lagi, Man?"
"Gagal total."
"Sudah sepuluh jurus."
"Iya. Sepuluh jurus. Nol hasil."
"Kamu menyerah?"
Herman menatap Ahmat. Matanya lelah, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. "Tidak. Aku tidak akan menyerah. Aku hanya sedang mencari jurus kesebelas."
"Jurus kesebelas apa?"
"Aku belum tahu. Tapi aku yakin ada."
Ahmat tersenyum. Dia mengembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Kamu kuat, Man. Cowok lain sudah lama menyerah. Tapi kamu masih bertahan."
"Karena aku yakin, Mat. Aku yakin bahwa di balik kemarahan Amanda, ada hati yang baik. Aku hanya belum menemukan cara untuk menyentuhnya."
"Atau mungkin dia memang sedang dalam masa sulit. Mungkin dia butuh waktu."
"Mungkin. Tapi aku tidak bisa hanya diam dan menunggu. Aku harus terus bergerak."
Ahmat mengangguk. Dia mematikan rokoknya, membuang puntungnya ke tempat sampah, lalu berdiri. "Baiklah. Aku dukung jurus kesebelas apapun itu. Tapi jangan lupa istirahat. Kamu juga manusia, bukan robot."
"Iya, Mat. Terima kasih."
Ahmat pergi. Meninggalkan Herman sendirian di bangku taman. Herman memandang bintang-bintang di langit. Bintang-bintang itu berkedip seperti biasa, tidak peduli dengan kegagalan sepuluh jurusnya. Tidak peduli dengan sakit hatinya. Tidak peduli dengan cintanya yang tidak berbalas.
Tapi entah mengapa, melihat bintang-bintang itu membuat Herman merasa tenang. Seolah-olah alam semesta sedang berkata, "Kamu tidak sendiri. Ada jutaan bintang yang juga gagal. Tapi lihat, mereka masih bersinar."
Herman tersenyum. Dia berdiri, merapikan celananya, lalu berjalan pulang.
Besok dia akan mencari jurus kesebelas.
Dan untuk kesebelas kalinya, dia akan mencoba lagi.
BAB 7
RAGIL DAN 1001 SENYUM MANIS PALSU
Kehadiran Ragil dalam kehidupan Amanda bukanlah hal yang baru. Sejak kelas sepuluh, Ragil sudah sering muncul di pinggir-pinggir, seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Dia adalah cowok yang dikenal banyak orang karena wajahnya yang ganteng, rambutnya yang selalu ditata rapi, dan senyumnya yang manis seperti gula jawa. Tidak heran jika banyak gadis di sekolah yang mengaguminya, mengiriminya surat cinta, atau sekadar pura-pura tidak sengaja bertemu di lorong sekolah. Ragil menikmati semua perhatian itu. Dia tumbuh besar dalam pujian, dalam sorak-sorai, dalam kepercayaan diri yang melambung tinggi. Bagi Ragil, dunia adalah panggung, dan dia adalah bintang utamanya.
Namun ada satu bintang yang tidak mau tunduk pada pesonanya. Amanda. Sejak pertama kali Ragil melihat Amanda di upacara bendera kelas sepuluh, dia sudah tertarik. Amanda berdiri di barisan depan, posturnya tegap, matanya lurus ke depan, tidak bergeming seperti patung. Dia tidak tersenyum. Tidak melirik kiri-kanan. Fokus pada bendera, pada lagu kebangsaan, pada apapun yang sedang dia pikirkan. Ragil mendekati Amanda beberapa kali. Di kantin. Di perpustakaan. Di depan kelas. Tapi setiap kali dia mencoba memulai percakapan, Amanda selalu menjawab dengan singkat, dingin, tanpa minat. "Iya." "Tidak." "Maaf, saya sedang sibuk." Itu saja. Tidak ada celah. Tidak ada peluang.
Tapi Ragil tidak menyerah. Dia percaya bahwa suatu saat Amanda akan luluh. Bahwa semua perempuan pada akhirnya akan jatuh pada pesonanya. Bahwa dia hanya perlu waktu, strategi, dan sedikit bantuan dari teman-temannya. Karena itu, Ragil membentuk tim kecil yang dia beri nama "Tim Gengsi". Anggotanya adalah Iwan, Feri, dan Sukat. Tiga cowok yang setia membantunya dalam segala hal, mulai dari mengantar Amanda les, membawakan jajanan ke rumahnya, hingga memantau pergerakan Herman yang mulai dianggap sebagai saingan serius.
"Bos, aku dengar Herman sudah sepuluh kali berusaha mendekati Amanda," lapor Iwan suatu sore di kantin sekolah.
Ragil yang sedang meminum es jeruk, langsung menghentikan sedotannya. "Sepuluh kali? Apa saja jurusnya?"
"Puisi, bunga, tahu walik, jogging, nasi goreng, video puisi, lagu, sukarelawan, kuli angkat, dan ajakan nonton bioskop."
"Semuanya gagal?"
"Semuanya gagal. Amanda menolak mentah-mentah."
Ragil tersenyum. Senyum yang lega dan sedikit angkuh. "Bagus. Berarti dia masih waras. Tidak mudah terpikat oleh cowok murahan seperti Herman."
"Tapi Bos, kabar terakhir Herman membantu di toko ayah Amanda. Ayah Amanda sudah mulai suka sama dia."
Ragil mengerutkan dahi. Kerutan itu tidak mengurangi ketampanannya, tetapi menambah kesan serius yang kadang membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman. "Ayah Amanda? Dia bilang apa?"
"Dia bilang, 'Anak ini kuat. Cocok jadi menantu.'"
Ragil hampir tersedak. "Itu cuma bercanda. Ayah Amanda terkenal suka bercanda."
"Tapi Bos, bercanda berulang-ulang bisa menjadi doa."
"Diam, Iwan. Kamai terlalu lebay."
Iwan diam. Feri yang dari tadi hanya mendengarkan, kini ikut buka suara. "Bos, mungkin kita harus mempercepat strategi. Jangan sampai Herman lebih dulu mendapat restu dari orang tua Amanda."
"Bagaimana caranya?"
"Ajak Amanda ke acara-acara yang lebih eksklusif. Tunjukkan bahwa kamu punya segalanya: mobil, uang, masa depan. Hal-hal yang tidak dimiliki oleh Herman."
Ragil mengangguk. Feri benar. Herman hanya pekerja kontraktor dengan gaji pas-pasan. Dia tinggal di kontrakan sempit, tidak punya motor, tidak punya mobil, tidak punya prospek cerah. Sementara Ragil adalah anak pengusaha sukses, punya mobil sendiri sejak kelas sebelas, dan masa depan yang sudah terjamin. Keunggulan itu harus dia manfaatkan.
"Oke. Mulai besok, aku akan lebih intens mendekati Amanda. Iwan, kamu cari tahu jadwal les Amanda. Feri, kamu urus jajanan kesukaannya. Sukat, kamu pantau terus pergerakan Herman. Jangan sampai dia punya kesempatan untuk dekat dengan Amanda."
"Siap, Bos!" teriak mereka bertiga bersamaan.
Ragil tersenyum puas. Dia memandang keluar jendela kantin, ke arah lapangan upacara yang kosong. Di sana, di bangku taman, dia melihat sekelompok siswa sedang duduk-duduk. Amanda tidak ada di antara mereka. Tapi Ragil tahu, di suatu tempat di sekolah ini, Amanda sedang berjalan, sedang tersenyum, sedang hidup tanpa memikirkannya. Dan itu adalah tantangan yang paling menggoda bagi seorang Ragil.
Dua hari kemudian, Ragil mendapat informasi bahwa Amanda akan les Matematika di rumah salah satu temannya, Dahlia, pada sore hari. Dia segera menyusun strategi. Dia akan "kebetulan" lewat di depan rumah Dahlia pada jam yang sama, lalu "kebetulan" melihat Amanda, lalu menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Skenario sederhana tetapi efektif.
"Feri, kamu sudah siapkan mobil?" tanya Ragil.
"Sudah, Bos. Mobil sudah dicuci, bahan bakar penuh, parfum mobil yang wangi juga sudah disemprot."
"Bagus. Iwan, kamu pastikan Amanda benar-benar ada di rumah Dahlia."
"Sudah, Bos. Sukat yang memantau dari kejauhan."
"Oke. Kita berangkat."
Mobil putih Ragil melaju pelan-pelan di Jalan Jawa dekat area pemakaman nasrani, tempat di mana Dahlia tinggal. Rumah Dahlia tidak sebesar rumah Amanda, tetapi cukup bagus dengan pagar putih dan taman kecil di depan. Ragil memarkir mobilnya di seberang jalan, lalu menunggu. Matanya mengawasi pintu rumah Dahlia. Sesekali dia melihat ke belakang, memastikan tidak ada Herman yang juga sedang menguntit.
Pukul setengah lima sore, pintu rumah Dahlia terbuka. Amanda keluar, diikuti oleh Dahlia. Mereka berbincang-bincang kecil, tertawa tipis, lalu saling melambai. Dahlia masuk kembali ke rumah. Amanda berjalan ke arah gerbang.
Ragil segera turun dari mobil. Wajahnya dipasang senyum terbaiknya. Senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berjam-jam. Senyum yang konon bisa membuat hati perempuan meleleh seperti es krim di terik matahari.
"Amanda!" sapa Ragil dengan suara ceria.
Amanda menoleh. Wajahnya datar. "Ragil. Kamu ngapain di sini?"
"Kebetulan lewat. Mau ke rumah paman di ujung jalan. Eh, ketemu kamu."
"Kebetulan sekali."
"Iya. Takdir mungkin." Ragil tertawa kecil. "Kamu pulang? Aku anter. Mobilku ada di seberang."
"Tidak usah. Aku bisa jalan kaki. Rumahku tidak jauh."
"Tapi hari sudah sore. Nanti gelap. Aku khawatir."
"Khawatir apa? Aku sudah besar. Tidak akan diculik orang."
Ragil sedikit tersinggung, tetapi dia tidak menunjukkan. Senyumnya tetap terpampang. "Baiklah kalau begitu. Tapi setidaknya izinkan aku menemanimu berjalan. Untuk menemani, bukan untuk mengantar."
Amanda menghela napas. Dia tahu Ragil tidak akan mundur sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. "Terserah. Tapi jangan banyak bicara. Aku sedang pusing."
"Baik."
Mereka berdua berjalan di trotoar Jalan Jawa, trus belok di Lampu Merah Perempataan Patih rumbuh menuju jalan Tambun Bungai. Jarak antara mereka sekitar satu meter, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Ragil sesekali melirik ke samping, menikmati profil wajah Amanda yang tajam dan tegas. Sementara Amanda hanya memandang lurus ke depan, sesekali mengusap dahinya yang terasa berdenyut.
"Kamu kenapa pusing?" tanya Ragil.
"Banyak pikiran."
"Pikiran apa?"
"Pikiran yang tidak perlu kamu ketahui."
Ragil tersenyum. Dia suka dengan sikap Amanda yang keras. Itu membuatnya semakin tertantang. "Baiklah, aku tidak akan bertanya. Tapi kalau kamu butuh teman cerita, aku siap mendengarkan."
"Aku punya Dahlia untuk itu."
"Dahlia teman baikmu, aku tahu. Tapi terkadang, cerita dengan orang yang berbeda bisa memberikan perspektif yang berbeda."
Amanda berhenti berjalan. Dia menatap Ragil dengan mata yang tajam. "Ragil, aku tahu maksudmu. Kamu baik. Kamu perhatian. Tapi aku tidak tertarik. Maaf."
Ragil terdiam. Itu adalah penolakan langsung yang tidak dia duga. Biasanya perempuan yang dia dekati akan setidaknya tersipu atau tersenyum malu. Tapi Amanda berbeda. Dia langsung menusuk, langsung ke pokok masalah, tanpa basa-basi.
"Aku tidak mengatakan bahwa aku tertarik padamu, Amanda," kata Ragil akhirnya. "Aku hanya menawarkan pertemanan. Tidak lebih."
"Kalau hanya pertemanan, baik. Tapi jangan berharap lebih."
"Tidak."
"Janji."
"Janji."
Mereka berjalan lagi. Kali ini dengan jarak yang sedikit lebih jauh. Satu setengah meter. Diam. Hanya suara langkah kaki dan suara angin sore yang berhembus. Sesampainya di depan rumah Amanda, Amanda berbalik.
"Terima kasih sudah menemani. Sekarang pulang."
"Selamat sore, Amanda."
Amanda tidak menjawab. Dia masuk ke halaman rumah, menutup pagar, lalu menghilang di balik pintu.
Ragil berdiri di depan pagar beberapa saat, merenung. Dia tidak kecewa. Justru semakin penasaran. Amanda bukanlah perempuan biasa. Dia adalah teka-teki yang sulit dipecahkan. Dan Ragil menyukai teka-teki.
Di lain sisi, Tim Gengsi terus beraksi. Iwan, Feri, dan Sukat bergerak seperti bayangan, selalu ada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Ketika Amanda les di bimbingan belajar di pusat kota, Ragil tiba-tiba muncul dengan sekotak donat. "Untuk teman-teman les," katanya sambil tersenyum. Ketika Amanda sedang berbelanja di Pasar Sari Mulya bersama ibunya, Ragil "kebetulan" sedang membantu ibunya berbelanja di pasar yang sama. Dia menyapa, membantu mengangkat belanjaan, lalu mengantar sampai ke mobil. Ketika Amanda sedang sakit dan tidak masuk sekolah, Ragil datang ke rumah dengan membawa sup ayam buatan ibunya.
"Kamu kenapa repot-repot?" tanya ibu Amanda saat menerima sup ayam itu.
"Tidak repot, Bu. Amanda teman saya. Saya hanya ingin membantu."
"Kamu baik sekali, Nak. Siapa namanya?"
"Ragil, Bu."
Ibu Amanda tersenyum. "Ragil. Nama yang bagus. Saya dengar dari Amanda, kamu anak pengusaha?"
"Iya, Bu. Ayah saya punya usaha properti."
"Wah, hebat. Masa depan cerah."
"Terima kasih, Bu."
Ragil tidak tinggal lama. Dia pamit setelah memastikan sup ayamnya sampai dengan selamat. Ibu Amanda memanggil Amanda yang sedang terbaring di kamar.
"Ndah, ada teman kamu, Ragil. Dia bawain sup ayam."
Amanda mengerang. "Mah, suruh dia pulang. Aku gak mau dilihat dalam keadaan sakit."
"Dia sudah pulang. Tapi supnya masih hangat. Kamu makan?"
"Tidak."
"Jangan keras kepala. Kamu harus makan biar cepat sembuh."
"Aku tidak lapar."
Ibu Amanda menghela napas. Dia meletakkan sup ayam di meja samping tempat tidur, lalu duduk di tepi kasur. "Amanda, Ibu tahu kamu tidak suka dengan Ragil?"
"Bukan tidak suka. Hanya tidak tertarik."
"Apa bedanya?"
"Tidak suka itu benci. Tidak tertarik itu... biasa saja."
"Kalau begitu, mengapa kamu tidak mau menerima bantuannya? Dia hanya ingin berteman."
"Karena aku tahu, di balik pertemanannya, ada maksud lain. Dia ingin dekat denganku. Dia ingin aku jatuh cinta. Dan aku tidak mau memberikan harapan palsu."
Ibu Amanda tersenyum. Dia mengusap rambut Amanda yang kusut. "Kamu bijak, Ndah. Tapi jangan terlalu keras pada orang yang hanya ingin baik."
"Aku tidak keras, Mah. Aku hanya jujur."
"Jujur itu baik. Tapi jangan sampai kebaikan orang lain terbuang sia-sia hanya karena kejujuranmu yang terlalu kaku."
Amanda tidak menjawab. Dia memejamkan mata, berpura-pura tidur. Ibunya pergi meninggalkan kamar, membawa sup ayam yang masih utuh, tidak tersentuh.
Herman tidak tinggal diam mendengar kabar tentang Ragil. Dari Yanto yang mendapat informasi dari Dahlia (meskipun Yanto gagal mendekati Dahlia, dia masih bisa mengobrol biasa), Herman tahu bahwa Ragil mulai sering muncul di sekitar Amanda. Di les. Di pasar. Di rumah sakit saat Amanda sakit. Bahkan di Car Free Day , Ragil ikut jogging bersama rombongan Amanda meskipun dia tidak pernah jogging sebelumnya.
"Ragil itu anjing," kata Yanto suatu malam di kontrakan Herman. "Dia punya tim. Dia punya strategi. Dia punya mobil. Sementara kamu hanya punya kontrakan bocor dan kipas angin rusak."
Herman tidak marah. "Memangnya hubungan cinta diukur dari kontrakan dan kipas angin?"
"Tidak. Tapi diukur dari kemampuan memberikan kenyamanan. Dan Ragil jelas lebih nyaman daripada kamu."
"Aku juga bisa memberikan kenyamanan. Mungkin tidak dengan mobil atau uang. Tapi dengan ketulusan."
"Ketulusan tidak bisa dibeli di pasar, Man. Tapi mobil dan uang bisa dibeli di pasar."
Herman terdiam. Yanto memang kasar, tetapi logikanya sulit dibantah. Di dunia yang materialistis ini, ketulusan sering kalah oleh kemewahan. Orang lebih mudah terpesona oleh mobil baru daripada hati yang jujur.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Herman.
"Lawan. Jangan biarkan Ragil terus mendekati Amanda tanpa perlawanan."
"Tapi aku tidak ingin terlihat seperti orang yang cemburu buta."
"Memang kamu cemburu buta!"
"Hanya sedikit."
"Ya sudah. Tunjukkan sedikit kecemburuanmu. Biar Amanda tahu bahwa ada orang yang benar-benar peduli padanya, bukan hanya ingin memanfaatkan."
Herman mengangguk. Mungkin Yanto benar. Mungkin sudah saatnya dia menunjukkan bahwa dia tidak akan tinggal diam melihat Ragil mengambil alih posisi yang belum tentu dia miliki sekalipun.
Keesokan harinya, Herman mendatangi sekolah Amanda saat jam istirahat. Dia tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di depan gerbang, menunggu. Beberapa siswa melihatnya dengan curiga, tetapi Herman tidak peduli. Matanya terus mencari Amanda di antara kerumunan.
Setelah lima belas menit, Amanda muncul. Dia berjalan bersama Dahlia dan Sania menuju kantin. Herman melambaikan tangan.
Amanda melihat. Wajahnya sedikit berubah, antara terkejut dan kesal. "Herman? Ngapain kamu di sini?"
"Mau ngobrol. Bentar saja."
"Tidak bisa. Aku sedang istirahat. Jam istirahat hanya tiga puluh menit."
"Lima menit saja."
Amanda menghela napas. Dia memandang Dahlia dan Sania yang hanya mengangkat bahu. "Baiklah. Lima menit. Tapi di sini, tidak usah jauh-jauh."
Mereka berdua berdiri di bawah pohon rindang dekat gerbang sekolah. Herman mengatur napas, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar seperti drum band di pawai.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Amanda.
"Aku dengar Ragil sering mendekatimu."
"Lalu? Itu urusanku, bukan urusanmu."
"Aku tahu itu urusanmu. Tapi sebagai seseorang yang... yang peduli padamu, aku ingin mengingatkan bahwa Ragil tidak sebaik yang kamu lihat."
"Kamu kenal Ragil?"
"Tidak. Tapi temanku, Yanto, kenal dengan temannya Ragil. Ragil itu playboy. Dia sudah dekat dengan banyak cewek, lalu meninggalkan mereka ketika bosan."
Amanda tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, tetapi senyum sinis. "Kamu datang ke sekolahku, di jam istirahat, hanya untuk memfitnah Ragil?"
"Aku tidak memfitnah. Ini fakta."
"Fakta atau bukan, itu tidak penting. Karena aku tidak tertarik pada Ragil. Aku juga tidak tertarik padamu. Jadi, kamu tidak usah cemburu."
"aku tidak cemburu."
"Kamu cemburu. Matamu merah. Wajahmu panas. Tanganmu gemetar. Itu tanda-tanda orang cemburu."
Herman terdiam. Dia tidak bisa membantah. Amanda memang jeli membaca ekspresi orang.
"Pulanglah, Herman," kata Amanda. "Kembalilah ke kontrakanmu, tidur, lupakan Ragil, lupakan aku. Fokuslah pada pekerjaanmu. Itu lebih bermanfaat."
"Amanda..."
"Lima menit sudah habis. Permisi."
Amanda berbalik dan berjalan ke kantin, meninggalkan Herman yang berdiri di bawah pohon rindang dengan perasaan campur aduk. Dahlia melambai kecil pada Herman. Sania hanya menatap sekilas lalu mengikuti Amanda.
Herman menghela napas panjang. Dia gagal lagi. Jurus kesebelas yang baru dia rencanakan belum sempat dia lontarkan. Amanda sudah lebih dulu menusuk jantungnya dengan kata-kata tajam.
"Tapi setidaknya dia bilang tidak tertarik pada Ragil," bisik Herman pada dirinya sendiri. "Itu kabar baik."
Dia berjalan pulang dengan langkah berat, tetapi hatinya sedikit lebih ringan.
Sementara itu, di kantin sekolah, Amanda duduk di meja favoritnya dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Dahlia dan Sania duduk di hadapannya, memerhatikan dengan seksama.
"Jadi, Herman datang ke sekolah hanya untuk bilang bahwa Ragil playboy?" tanya Dahlia.
"Iya. Lucu, kan."
"Lucu atau menggemaskan?"
"Memuakkan."
"Tidak, Am. Menurutku itu menggemaskan. Dia cemburu, tapi tidak mau mengaku. Dia peduli, tapi tidak mau terlihat terlalu peduli. Itu tanda-tanda cowok yang benar-benar jatuh cinta."
Amanda menggeleng. "Jangan mulai, Dahlia. Aku tidak mau dengar ceramah cinta."
"Aku tidak berceramah. Aku hanya mengamati."
"Berhenti mengamati."
"Tidak bisa. Aku sudah terlanjur menjadi pengamat cinta kalian berdua."
Amanda melempar sedotan ke arah Dahlia, tetapi Dahlia dengan sigap menangkapnya. "Hei! Bisa kena mata!"
"Untung tidak kena."
Sania yang dari tadi diam, kini ikut bicara. "Am, aku setuju dengan Dahlia. Herman memang cemburu. Tapi kecemburuannya tidak beracun. Dia tidak memaki Ragil. Dia tidak mencemarkan nama baik Ragil. Dia hanya mengingatkan. Itu bentuk kepedulian yang halus."
"Kalian berdua sudah dia bayar, ya? Kok bela Herman terus?"
"Kamu minta bukti transfer?" tanya Dahlia.
"DIAM!"
Mereka bertiga tertawa. Amanda tertawa paling kecil, tetapi tetap tertawa. Dan di sela-sela tawanya, dia sedikit lega karena Herman tidak benar-benar pergi. Dia masih ada. Masih berusaha. Masih peduli meskipun ditolak mentah-mentah.
Malam harinya, Ragil mengadakan pertemuan darurat Tim Gengsi di warung kopi favorit mereka. Iwan, Feri, dan Sukat duduk di sekeliling meja, masing-masing memegang gelas kopi hitam yang sudah hampir habis.
"Bos, kabar buruk," kata Iwan.
"Apa?"
"Herman datang ke sekolah hari ini. Dia bilang ke Amanda bahwa Bos playboy. Bahwa Bos sudah dekat dengan banyak cewek dan meninggalkannya."
Ragil meneguk kopinya sampai habis. Wajahnya sedikit berubah, tetapi masih bisa mengendalikan diri. "Lalu bagaimana reaksi Amanda?"
"Amanda bilang dia tidak tertarik pada Bos. Juga tidak tertarik pada Herman. Jadi impas."
"Impas?"
"Iya. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang kalah."
Ragil menghela napas. "Setidaknya dia tidak percaya pada omongan Herman. Itu sudah cukup."
"Tapi Bos, reputasi Bos mulai dipertanyakan. Beberapa cewek di sekolah mulai bergosip bahwa Bos suka mengganti-ganti pacar."
"Biarkan mereka bergosip. Yang penting Amanda tidak percaya."
"Dan kalau Amanda mulai percaya?"
Ragil terdiam. Dia memainkan sendok di atas meja, memikirkannya seribu kali. "Kalau sampai terjadi, kita akan hadapi. Tapi untuk saat ini, kita teruskan strategi. Jangan sampai Herman unggul."
"Bos, aku punya ide," kata Sukat yang jarang bicara.
"Ide apa?"
"Kita sebarkan isu bahwa Herman playboy juga. Bahwa Herman punya banyak utang. Bahwa Herman orangnya tidak bertanggung jawab. Biar Amanda menjauh dengan sendirinya."
Ragil mengerutkan dahi. "Itu terlalu kejam."
"Ini perang, Bos. Tidak ada tempat untuk kelembutan."
Ragil berpikir panjang. Sebagai anak pengusaha, dia tahu bahwa dalam persaingan, kadang diperlukan cara-cara yang tidak sepenuhnya jujur. Tapi apakah dia rela melakukannya untuk Amanda? Apakah Amanda sepadan dengan pengorbanan moral itu?
"Belum," kata Ragil akhirnya. "Kita belum perlu pakai cara kotor. Cukup cara-cara elegan yang sudah kita lakukan. Herman tidak akan bertahan lama dengan sumber dayanya yang terbatas."
"Siap, Bos!" jawab mereka bertiga.
Mereka menghabiskan kopi masing-masing, lalu pulang ke rumah. Di perjalanan, Ragil terus memikirkan Herman. Cowok kontraktor yang tidak punya mobil. Cowok yang rela berlutut di lantai rumah orang hanya untuk minta maaf. Cowok yang menulis puisi cinta meskipun hasilnya jelek. Cowok yang membuatnya merasa terancam, meskipun secara logika dia tidak perlu merasa terancam sama sekali.
"Kenapa aku bisa kalah sama orang seperti Herman?" bisik Ragil pada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berhembus, membawa bau tanah basah dan aroma khas kota kecil yang sedang terlelap.
Di kontrakannya, Herman juga tidak bisa tidur. Dia memandang ponselnya, membuka Instagram, lalu melihat foto terbaru Amanda. Foto itu diambil di Car Free Day minggu lalu. Amanda jogging sendirian, tanpa rombongan, tanpa Ragil. Wajahnya serius, fokus, tidak tersenyum. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Herman merasa bahwa dia tidak sepenuhnya menutup pintu.
"Amanda," bisik Herman. "Aku tahu kamu tidak tertarik padaku sekarang. Tapi suatu hari nanti, kamu akan sadar bahwa aku ada di sini. Bukan untuk mengejar, tetapi untuk menunggu. Dan menunggu adalah bentuk cinta yang paling sabar."
Dia mematikan ponsel, memejamkan mata, dan tertidur dengan bayangan Amanda yang jogging sendirian di Car Free Day . Tanpa Ragil. Tanpa Herman. Hanya Amanda dan jalan panjang yang membentang di depannya.
Dan di dalam mimpinya, Herman berjalan di samping Amanda. Mereka tidak berbicara. Hanya berjalan. Bersama. Menuju ke arah yang sama.
Mimpi yang mungkin suatu hari menjadi nyata.
BAB 8
HUTAN KOTA, AIR MATA DAN JURUS KE 17
Taman Hutan Kota Kuala Kapuas terletak di depan Rumah Sakit Umum Daerah, di sebidang tanah seluas sekitar setengah hektar yang dipenuhi oleh pohon-pohon perindang yang tidak terlalu tinggi. Tempat ini bukanlah taman biasa. Ini adalah tempat di mana orang-orang datang untuk istirahat di pagi hari, untuk duduk-duduk di sore hari, atau untuk menangis di malam hari. Karena letaknya yang persis di seberang RSUD, tak jarang keluarga pasien yang sedang menunggu kabar dari dalam rumah sakit duduk di sini sambil merokok, menangis, atau sekadar menatap kosong ke arah langit. Taman ini adalah saksi bisu dari ribuan cerita manusia. Cerita tentang sakit, tentang sembuh, tentang harapan, dan tentang putus asa.
Hari itu, Kamis sore, langit Kuala Kapuas mendung sejak jam dua siang. Awan-awan hitam bergulung perlahan di atas kota, seperti raksasa yang sedang meregangkan otot-ototnya sebelum menurunkan hujan deras. Namun hujan belum turun hingga pukul setengah lima sore. Udara terasa panas dan lembab, seperti keringat yang menguap perlahan dari pori-pori bumi. Tidak banyak orang yang berani keluar rumah pada sore seperti ini. Mereka lebih memilih tinggal di dalam, menyalakan kipas angin, dan menunggu hujan turun dengan sabar. Tapi ada satu orang yang justru memilih untuk duduk sendirian di Taman Hutan Kota pada sore yang mencekam itu. Orang itu adalah Amanda.
Amanda datang dengan berjalan kaki dari rumahnya yang berjarak sekitar satu kilometer. Dia tidak memakai sepatu, hanya sandal jepit. Dia tidak memakai jaket, hanya kaos oblong longgar berwarna abu-abu. Rambutnya dibiarkan terurai, tidak diikat seperti biasanya. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan hidungnya sedikit merah. Tanda-tanda bahwa dia baru saja menangis, atau setidaknya sedang menahan tangis yang sangat kuat.
Bukan tanpa alasan Amanda memilih Taman Hutan Kota sebagai tempat pelariannya. Tiga puluh menit yang lalu, di rumahnya yang megah di Jalan Nusa Indah, dia bertengkar hebat dengan orang tuanya. Bukan tentang Ragil. Bukan tentang Herman. Bukan tentang cowok-cowok yang mendekatinya. Tapi tentang nilai ujian. Nilai ujian Matematika yang baru saja keluar hari ini. Amanda mendapat nilai tujuh puluh lima. Angka yang sebenarnya tidak jelek-jelek amat. Masih di atas rata-rata kelas yang hanya enam puluh delapan. Tapi bagi ayah Amanda, yang memiliki standar sangat tinggi untuk anak tunggalnya, nilai tujuh puluh lima adalah kegagalan.
"Kamu tidak serius belajar!" bentak ayah Amanda di ruang tengah, dengan suara yang cukup keras untuk membuat pembantu di dapur ikut bergidik.
"Aku sudah belajar, Yah," jawab Amanda dengan suara tertahan.
"Belajar? Belajar apa? Main Instagram? Main TikTok? Jalan-jalan sama teman?"
"Aku belajar setiap malam, Yah. Aku serius."
"Buktinya? Nilaimu tujuh puluh lima! Itu angka yang memalukan!"
Amanda menunduk. Tangannya menggenggam erat lembar nilai yang baru saja dia terima dari sekolah. Kertas itu sudah sedikit kusut karena digenggam terlalu keras. "Aku akan berusaha lebih baik lagi, Yah."
"Berusaha saja tidak cukup! Kamu harus berhasil!"
Ayah Amanda terus mengomel selama sepuluh menit penuh. Ibu Amanda mencoba menengahi, tetapi ayah Amanda sudah terlalu marah. Dia terus membandingkan Amanda dengan anak-anak temannya yang katanya lebih pintar, lebih rajin, lebih berprestasi. Amanda mendengar semua itu dalam diam. Tidak membantah. Tidak menangis. Hanya diam. Sampai akhirnya dia tidak tahan lagi.
"CUKUP, YAH!" teriak Amanda tiba-tiba. Air matanya jatuh. "Aku sudah berusaha! Aku sudah belajar mati-matian! Tapi aku juga manusia! Aku punya batas!"
Ayah Amanda terkejut. Dia jarang melihat anaknya berteriak seperti itu. Amanda adalah anak yang pendiam di rumah, jarang membantah, jarang melawan. Tapi kali ini, air matanya berbicara lebih keras daripada kata-katanya.
"Kamu... berani-beraninya kamu membentak ayahmu?" suara ayah Amanda mulai meninggi lagi.
"Amanda, jangan," potong ibu Amanda cepat. "Kamu ke kamar dulu. Tenangkan diri."
Amanda tidak menunggu perintah kedua. Dia berlari ke kamar, membanting pintu, lalu mengambil kunci motornya. Tanpa pamit, dia keluar dari rumah melalui pintu belakang, menyalakan motor, dan melaju kencang meninggalkan Jalan Nusa Indah. Dia tidak tahu mau ke mana. Yang dia tahu, dia tidak bisa tinggal di rumah satu menit pun lebih lama. Dia butuh udara. Dia butuh tempat untuk menangis tanpa dilihat oleh orang tuanya. Dan pilihannya jatuh pada Taman Hutan Kota.
Setibanya di taman, Amanda memarkir motornya di pinggir jalan, lalu berjalan masuk ke area taman. Dia memilih bangku kayu yang paling tersembunyi, di bawah pohon trembesi paling rindang, di sudut paling sepi taman. Dari sana, dia tidak bisa terlihat dari jalan raya. Hanya burung-burung pipit dan sesekali kucing liar yang menjadi temannya.
Amanda duduk. Diam. Menatap rumput di depannya yang mulai menguning karena musim kemarau. Lalu air matanya jatuh. Perlahan pada awalnya, seperti tetesan air keran yang bocor. Kemudian semakin deras, seperti hujan yang tidak bisa lagi ditahan oleh langit. Dia menangis dengan suara yang teredam, tertahan, karena dia tidak ingin ada orang yang mendengarnya. Tapi di taman yang sepi sore itu, suara tangisannya tetap terdengar, bergema di antara batang-batang pohon trembesi yang menjulang tinggi.
"Kenapa aku tidak cukup baik?" bisik Amanda di sela-sela tangisannya. "Kenapa aku selalu gagal memenuhi harapan mereka? Kenapa nilai tujuh puluh lima dianggap sebagai kegagalan? Kenapa cinta mereka begitu bersyarat?"
Dia tidak mengharapkan jawaban. Dia hanya ingin meluapkan. Taman ini adalah tempat yang aman untuk menangis. Tidak ada yang akan menghakimi. Tidak ada yang akan membandingkannya dengan anak orang. Hanya dia dan pohon-pohon pelindung yang setia mendengarkan tanpa memberikan nasihat yang tidak diminta.
Pada saat yang hampir bersamaan, sekitar lima ratus meter dari Taman Hutan Kota, Herman sedang berjalan kaki pulang dari proyek perumahan. Hari ini dia lembur karena pengiriman material semen molor tiga jam dari jadwal. Badannya pegal, bajunya penuh debu, dan perutnya keroncongan karena belum makan siang. Biasanya dia akan langsung ke kontrakan, mandi, lalu makan nasi bungkus sambil menonton televisi pinjaman dari tetangga. Tapi hari ini, entah mengapa, kakinya membawanya ke arah Taman Hutan Kota. Bukan karena dia tahu bahwa Amanda ada di sana. Hanya karena dia ingin duduk sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Taman itu adalah tempat yang pas untuk beristirahat.
Herman masuk ke taman dari pintu utara, berjalan perlahan menyusuri jalur pedestrian yang dilapisi paving block merah. Matanya mengamati sekeliling. Beberapa pasangan muda duduk di bangku-bangku lain, tetapi dia tidak peduli. Dia terus berjalan ke arah selatan, ke arah bangku yang paling sepi di bawah pohon pelindung.
Lalu dia melihatnya.
Seorang perempuan dengan kaos abu-abu, rambut terurai, duduk sendirian di bangku kayu itu. Wajahnya tertunduk, bahunya bergetar pelan. Suara isak tangis terdengar samar-samar, seperti orang yang berusaha mati-matian untuk tidak bersuara.
Herman berhenti melangkah. Hampir saja dia berbalik untuk pergi. Dia tidak ingin mengganggu. Dia tahu bahwa orang yang menangis biasanya ingin sendirian. Tapi kemudian dia mengenali kaos abu-abu itu. Dia mengenali rambut panjang yang tergerai itu. Dia mengenali postur tubuh yang meskipun tertunduk, tetap tegas dan berwibawa.
"Amanda?" bisik Herman.
Dia menggeleng. Tidak mungkin. Amanda tidak mungkin berada di sini, di taman depan RSUD, pada sore mendung seperti ini. Amanda adalah perempuan kuat yang tidak mudah menangis. Amanda adalah perempuan yang lebih sering marah daripada sedih. Tapi suara isak tangis itu terlalu mirip. Terlalu familiar.
Herman mendekat perlahan. Setiap langkahnya terasa berat, seperti menginjak tanah liat basah yang lengket di sepatu. Dia tidak ingin mengagetkan. Dia tidak ingin diusir. Dia hanya ingin memastikan.
Ketika jarak mereka tinggal tiga meter, Herman berhenti.
"Amanda?" panggilnya dengan suara pelan, hampir berbisik.
Perempuan itu mengangkat kepala.
Mata mereka bertemu.
Ya. Itu Amanda. Wajahnya basah oleh air mata. Matanya merah, sembab, dan berkaca-kaca. Hidungnya merah seperti badut sirkus. Bibirnya gemetar menahan tangis yang baru saja sempat berhenti. Dia tampak sangat rapuh, sangat berbeda dengan Amanda yang biasa marah-marah, yang biasa membentak Herman dengan suara lantang.
"HERMAN?" suara Amanda parau, seperti orang yang baru saja berteriak sekencang-kencangnya. "KAMU NGAPAIN DI SINI?"
Herman mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Aku tidak sengaja. Aku hanya mau duduk bentar. Capek habis lembur. Aku tidak tahu kamu di sini."
"PERGI! JANGAN LIHAT AKU!"
"Amanda..."
"PERGI, HERMAN! SEKARANG!"
Tapi Herman tidak pergi. Dia justru duduk di bangku yang sama, di ujung lainnya, dengan jarak sekitar satu meter dari Amanda. Dia tidak mendekat. Tidak mencoba menyentuh. Hanya duduk diam, menatap ke arah yang berbeda, memberi ruang bagi Amanda untuk menangis tanpa merasa diawasi.
"Aku tidak akan pergi," kata Herman pelan. "Tapi aku juga tidak akan mengganggumu. Aku hanya akan duduk di sini. Kalau kamu butuh tisu, aku punya. Kalau kamu butuh bahu, aku bisa pinjamkan. Kalau kamu butuh didiamkan, aku juga bisa diam."
"AKU TIDAK BUTUH APA-APA DARI KAMU!" teriak Amanda.
"Iya, aku tahu. Tapi biarkan aku tetap di sini."
Amanda ingin berteriak lagi. Ingin membentak Herman habis-habisan seperti biasanya. Tapi tangisnya lebih kuat daripada amarahnya. Dia kembali menunduk, kembali menangis, kali ini dengan suara yang lebih keras, lebih lepas, tidak lagi ditahan-tahan. Dia menangis untuk nilai tujuh puluh lima. Dia menangis untuk kata-kata ayahnya yang tajam seperti pecahan kaca. Dia menangis untuk semua harapan yang tidak bisa dia penuhi. Dia menangis untuk dirinya sendiri yang merasa tidak pernah cukup baik.
Herman mendengar tangisan itu. Dadanya terasa sesak. Matanya ikut berkaca-kaca, meskipun dia tidak menangis. Dia hanya duduk diam di ujung bangku, menawarkan kehadirannya sebagai bentuk solidaritas yang paling sederhana. Tidak ada kata-kata hikmah. Tidak ada nasihat bijak. Hanya kehadiran yang tenang, yang mengatakan, "Kamu tidak sendirian."
Dari dalam saku celananya, Herman mengeluarkan sebungkus tisu mini yang selalu dia bawa sejak ibunya meninggal. Tisu itu adalah kebiasaan lama, warisan dari ibunya yang selalu berkata, "Anak laki-laki juga boleh bawa tisu. Tidak ada yang salah dengan menjadi lembut." Herman menyodorkan tisu itu ke arah Amanda tanpa berkata apa-apa.
Amanda melihat tisu itu. Tangannya gemetar mengambil satu lembar, lalu mengusap air matanya yang masih terus mengalir. "Makasih," bisiknya. Suara tangisnya masih terdengar di sela-sela kata itu.
"Sama-sama," jawab Herman.
Mereka duduk dalam diam. Amanda menangis. Herman menunggu. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang masih setia menunggu hujan. Daun-daun trembesi bergoyang-goyang seperti berbisik satu sama lain tentang dua anak muda yang sedang duduk di bangku taman dengan hati yang sama-sama luka. Satu terluka karena nilai dan orang tua. Satu lagi terluka karena cinta yang belum berbalas. Tapi di sore yang mendung itu, luka mereka seolah menyatu, menjadi satu rasa yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Setelah sekitar sepuluh menit, tangis Amanda mulai mereda. Dia mengusap sisa-sisa air mata di pipinya dengan tisu terakhir yang dia miliki. Wajahnya masih merah, matanya masih sembab, tetapi ekspresinya tidak lagi sekacau sebelumnya. Dia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menatap Herman yang masih setia duduk di ujung bangku.
"Kamu masih di sini," kata Amanda dengan suara datar.
"Iya. Aku bilang aku tidak akan pergi."
"Kamu bodoh."
"Mungkin."
"Kenapa kamu tidak pergi ketika aku menyuruhmu pergi?"
"Karena kamu tidak benar-benar ingin aku pergi."
Amanda mengerjap. "Maksudmu?"
"Kalau kamu benar-benar ingin aku pergi, kamu akan berdiri dan pergi sendiri. Tapi kamu tetap duduk di sini. Itu artinya, di dalam hatimu yang paling dalam, kamu menginginkan seseorang untuk tetap di sampingmu. Dan aku memilih menjadi orang itu."
Amanda terdiam. Kata-kata Herman menusuk sesuatu yang selama ini dia sembunyikan. Selama ini dia selalu berusaha terlihat kuat, mandiri, tidak butuh siapa-siapa. Tapi kenyataannya, di saat-saat seperti ini, ketika semua topeng jatuh, dia hanyalah seorang gadis yang lelah. Lelah berpura-pura kuat. Lelah memenuhi ekspektasi. Lelah hidup dengan standar yang tidak pernah dia minta.
"Kamu terlalu percaya diri, Herman," kata Amanda setelah beberapa saat.
"Bukan percaya diri. Aku hanya jujur."
"Jujur itu kadang menyebalkan."
"Aku tahu. Tapi lebih baik menyebalkan daripada berbohong."
Amanda menghela napas. Dia memandang langit di atas mereka yang masih mendung. Hujan belum turun, tetapi udara sudah terasa dingin. Angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya, membuat rambutnya yang terurai terbang ke sana kemari.
"Kamu mau tahu kenapa aku menangis?" tanya Amanda.
"Kalau kamu mau cerita, aku akan mendengarkan."
"Aku bertengkar dengan ayahku. Soal nilai ujian. Aku dapat tujuh puluh lima. Dia bilang itu memalukan."
Herman tidak terkejut. Dia sudah mendengar dari Yuni bahwa ayah Amanda terkenal keras dalam hal pendidikan. "Nilai tujuh puluh lima itu bagus," kata Herman.
"Tidak menurut ayahku."
"Ayahmu salah."
Amanda menoleh. Matanya sedikit membelalak. "Kamu bilang ayahku salah?"
"Iya. Ayahmu salah. Memarahi anak karena nilai tujuh puluh lima adalah kesalahan. Seharusnya dia mendukungmu, bukan menghakimimu. Seharusnya dia bertanya apa yang membuatmu kesulitan, bukan langsung marah. Tapi mungkin ayahmu tidak tahu cara yang benar untuk menunjukkan kepedulian. Mungkin dia juga manusia biasa yang bisa salah."
Amanda tidak menyangka Herman akan sebaik itu. Biasanya orang-orang akan berkata, "Ya, orang tua pasti benar," atau "Kamu harus menghormati orang tua." Tapi Herman berbeda. Dia berani mengatakan bahwa ayah Amanda salah. Dan di dalam hati Amanda yang paling dalam, dia setuju.
"Kamu berani," kata Amanda.
"Sekali-sekali berani tidak ada salahnya."
"Kamu tidak takut aku marah?"
"Kamu sudah marah berkali-kali padaku. Aku sudah kebal."
Amanda tersenyum kecil. Senyum pertama setelah tangisan panjangnya. Senyum yang membuat Herman merasa bahwa semua perjuangannya tidak sia-sia. "Kamu aneh, Herman. Cowok lain pasti sudah kabar karena aku galak. Tapi kamu malah bertahan."
"Karena aku melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh cowok lain."
"Apa?"
"Hati yang baik. Di balik semua kemarahanmu, di balik semua bentakanmu, aku melihat hati yang baik. Hati yang peduli. Hati yang sebenarnya lembut, tetapi terpaksa keras karena keadaan."
Amanda terdengar. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia tidak tahu harus berkata apa. Selama ini, tidak ada satupun cowok yang mengatakan hal seperti itu padanya. Mereka hanya melihat kecantikannya, atau popularitasnya, atau status sosialnya. Tapi tidak ada yang melihat hatinya. Sampai Herman datang dengan segala kekonyolannya.
"Herman, aku..."
"Tidak usah bilang apa-apa kalau kamu belum siap. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini. Bukan untuk menekanmu. Bukan untuk memaksamu. Tapi untuk menemanimu. Kapan pun kamu butuh."
Amanda menggigit bibir bawahnya. Air matanya hampir jatuh lagi, tetapi bukan air mata sedih. Ini air mata haru. Air mata yang keluar karena seseorang akhirnya melihat dirinya sebagai manusia, bukan sebagai objek atau prestasi.
"Terima kasih, Herman," bisik Amanda.
"Sama-sama, Amanda."
Mereka berdua duduk di bangku taman itu hingga langit mulai gelap. Hujan tidak kunjung turun, meskipu awan-awan hitam masih bergelayut di atas kepala mereka. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, memberikan cahaya kuning keemasan yang romantis. Di kejauhan, terdengar suara azan Magrib dari masjid di seberang RSUD. Suara merdu yang mengingatkan bahwa hari sudah berganti sore, dan malam akan segera datang.
"Aku harus pulang," kata Amanda sambil berdiri.
"Aku antar."
"Tidak usah. Aku bawa motor."
"Setidaknya aku akan menemanimu sampai ke motormu."
"Baik."
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju pintu utara taman, tempat di mana motor Amanda terparkir. Jarak antara mereka masih sekitar setengah meter, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup untuk merasakan kehadiran satu sama lain, tetapi tidak untuk disentuh.
"Sampai di sini," kata Amanda ketika sampai di motornya.
"Baik. Hati-hati di jalan."
"Kamu juga. Jangan pulang larut malam. Nanti dipalakin preman."
"Aku tidak punya apa-apa untuk dirampok. Hanya tisu dan permen karet."
Amanda tertawa kecil. "Kamu masih bawa permen karet?"
"Hanya untuk jaga-jaga. Kalau ada yang perlu ditempelin."
"Jangan coba-coba, Herman."
"Iya. Aku hanya bercanda."
Amanda menyalakan motornya. Mesinnya bergetar pelan, seperti jantung yang berdegup setelah lama beristirahat. Dia memasang helm, mengikat tali dagunya, lalu menatap Herman untuk terakhir kalinya.
"Hei, Herman."
"Ya?"
"Jurus ke berapa ini?"
Herman mengerjap. "Apa?"
"Jurus ke berapa. Kamu kan punya jurus-jurus. Aku dengar dari Dahlia. Sampai jurus sepuluh semuanya gagal. Ini jurus ke berapa?"
Herman tersenyum. "Ini jurus ke tujuh belas."
"Tujuh belas? Gila. Sepuluh gagal, tujuh belasnya?"
"Belum tahu. Masih berlangsung."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu benar-benar gila, Herman. Tapi entah mengapa, kegilaanmu mulai terasa... tidak terlalu mengganggu."
"Itu artinya aku mulai diterima?"
"Itu artinya aku mulai terbiasa. Belum tentu menerima."
"Tidak masalah. Terbiasa adalah awal dari penerimaan."
Amanda tidak menjawab. Dia menginjak gas dan melaju perlahan meninggalkan Taman Hutan Kota. Herman berdiri di pinggir jalan, melambai, sampai motor Amanda benar-benar hilang dari pandangan.
Dia kemudian berjalan pulang ke kontrakannya dengan langkah ringan. Pikirannya penuh dengan Amanda yang menangis, Amanda yang tersenyum, Amanda yang bilang kegilaannya tidak terlalu mengganggu. Itu adalah kemajuan besar. Kemajuan yang tidak bisa diukur dengan angka, tetapi dengan perasaan.
"Mungkin ini saatnya untuk jurus ke delapan belas," bisik Herman pada dirinya sendiri sambil tersenyum.
Sesampainya di rumah, Amanda memarkir motor di garasi, lalu masuk ke dalam melalui pintu dapur. Ibunya sedang memasak di dapur. Wajahnya sedikit cemas melihat Amanda yang masuk dengan mata masih sembab.
"Ndah, kamu sudah pulang," sapa ibunya pelan.
"Iya, Mah."
"Ayahmu sudah tenang. Dia menyesal sudah membentakmu."
"Tidak apa-apa, Mah. Aku juga salah sudah membentak balik."
"Kamu mau makan? Ibu masak sup ayam."
"Tidak, Mah. Aku mau tidur."
Amanda berjalan ke kamarnya. Sepanjang koridor, dia tidak bertemu ayahnya. Mungkin ayahnya sedang di kamar, atau di ruang keluarga, atau di teras. Amanda tidak tahu. Yang dia tahu, dia butuh waktu sendiri untuk memproses semua yang terjadi sore ini. Nilai tujuh puluh lima. Pertengkaran dengan ayah. Tangisan di taman. Dan kehadiran Herman yang tidak terduga.
Dia membaringkan diri di kasur, memeluk bantal, lalu menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Di sudut kamar, baju olahraga putih yang terkena permen karet masih tergeletak. Sudah lebih dari sebulan, tetapi permen karet itu masih menempel dengan setia. Amanda belum berhasil membersihkannya, meskipun dia sudah mencoba puluhan cara.
"Apa aku memang harus menerima bahwa permen karet itu tidak akan pernah lepas?" bisik Amanda pada dirinya sendiri.
Dia memejamkan mata. Bayangan Herman muncul lagi. Herman yang duduk di ujung bangku taman, diam, setia, menawarkan tisu tanpa banyak bicara. Herman yang berani mengatakan ayahnya salah. Herman yang menyebut hatinya baik.
"Kenapa kamu tidak seperti ini dari awal, Herman?" bisik Amanda. "Kenapa kamu harus memulai dengan permen karet?"
Tapi pada saat yang sama, dia sadar bahwa jika Herman memulai dengan cara biasa, mungkin dia tidak akan pernah memperhatikan. Permen karet itulah yang membuat semuanya berbeda. Permen karet itulah yang membuat Herman tidak bisa dilupakan.
"Herman..." bisik Amanda sekali lagi sebelum dia tertidur.
Untuk pertama kalinya, dia menyebut nama Herman dengan lembut. Tanpa kemarahan. Tanpa kebencian. Hanya dengan rasa syukur yang aneh.
BAB 9
DARI BENCI JADI PENASARAN
Tiga hari setelah pertemuan di Taman Hutan Kota, suasana hati Amanda berubah secara perlahan tetapi pasti. Seperti es batu yang dibiarkan di suhu ruangan, kemarahannya mulai mencair dari tepi-tepi, meninggalkan genangan air jernih yang memantulkan cahaya dengan cara yang berbeda. Dia tidak lagi merasa kesal setiap kali mendengar nama Herman. Dia tidak lagi menggerutu setiap kali mengingat permen karet yang masih setia menempel di baju olahraga putihnya. Bahkan, tanpa dia sadari, dia mulai mencari-cari sosok Herman di keramaian Car Free Day , di deretan toko di Pasar Sari Mulya, di antara wajah-wajah asing yang lalu-lalang di jalanan Kota Kuala Kapuas.
Amanda sedang berubah. Dan perubahan itu, meskipun dia enggan mengakuinya, adalah buah dari ketulusan Herman yang terus-menerus mengalir seperti air sungai yang tidak pernah berhenti. Sehari setelah kejadian di taman, Herman tidak mengirim pesan. Dia tidak muncul di depan rumah. Dia tidak mengirim puisi atau bunga atau tahu walik. Dia hanya diam, seperti dia pernah janji bahwa dia akan memberi ruang bagi Amanda. Kedua hari setelahnya, Herman muncul di Car Free Day seperti biasa, duduk di bangku taman Hutan Kota, melambai pelan dan tersenyum, ketika rombongan Amanda lewat. Tidak lebih. Tiga hari setelahnya, Herman tidak muncul sama sekali. Dan di situlah perubahan itu mulai terasa.
Hari Sabtu pagi, Amanda bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja terbit di ufuk timur, langit masih berwarna jingga keemasan, dan ayam-ayam tetangga masih bersahut-sahutan dengan suara yang saling bersaing. Amanda duduk di tepi kasurnya, matanya setengah terbuka, rambutnya masih kusut seperti sarang burung yang baru ditinggalkan induknya. Dia menguap, menggaruk lengannya yang gatal bekas gigitan nyamuk semalam, lalu menggapai ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur.
Dia membuka Instagram.
Menggulir.
Menggulir lagi.
Tidak ada postingan baru dari Herman. Postingan terakhirnya masih tiga hari yang lalu, foto langit sore dengan tulisan, "Hari ini aku belajar bahwa diam juga bisa menjadi bentuk cinta."
Amanda membaca caption itu berkali-kali. Diam juga bisa menjadi bentuk cinta. Apa maksudnya? Apakah Herman sedang marah? Sedih? Kecewa? Atau hanya sedang sibuk dengan pekerjaannya? Amanda penasaran. Sangat penasaran. Dan rasa penasaran itu menggelitik perutnya seperti ada ulat bulu yang merayap perlahan di atas kulit.
"Mungkin dia lagi sibuk di proyek," bisik Amanda pada dirinya sendiri.
Tapi pikirannya tidak bisa berhenti. Dia membuka aplikasi peta, mencari lokasi proyek perumahan tempat Herman bekerja. Ada tiga proyek perumahan di Kuala Kapuas, tetapi dia tidak tahu yang mana. Dia bisa bertanya pada Dahlia, atau Yuni, atau siapapun yang mungkin tahu. Tapi apakah dia terlihat terlalu berlebihan jika sampai mencari alamat tempat kerja Herman? Tentu saja. Itu gila. Itu tidak masuk akal. Amanda bukan tipe perempuan yang mengejar cowok. Apalagi cowok yang sudah dia benci sejak pertemuan pertama.
Tapi rasa penasaran itu tidak bisa dia padamkan dengan alasan-alasan logis.
"Pokoknya hari ini aku harus ke Car Free Day ," putus Amanda. "Bukan karena Herman. Karena aku butuh olahraga. Sudah seminggu tidak jogging."
Alasan yang bagus. Alasan yang logis. Alasan yang bisa dia pertanggungjawabkan jika ada yang bertanya.
Pukul setengah tujuh pagi, Amanda sudah berada di Car Free Day . Dia tidak bersama rombongannya. Dahlia sedang pergi ke luar kota. Yunita sedang sakit. Anita dan Sania sedang ada acara keluarga. Jadi Amanda datang sendirian, memakai kaos olahraga putih baru (yang ini tidak perlu ditempeli permen karet), celana legging hitam, dan sepatu kets yang sudah agak lusuh karena terlalu sering dipakai.
Dia berlari kecil di sepanjang jalur jogging, matanya sesekali melirik ke bangku taman Hutan Kota, tempat Herman biasa duduk.
Bangku itu kosong.
Amanda mengerjap. Dia memperlambat larinya, lalu berjalan biasa, agar bisa melihat lebih jelas.
Bangku itu benar-benar kosong. Tidak ada Herman. Tidak ada Ahmat. Tidak ada Yanto atau Mahdili atau Yuni , Bintang atau Herawati. Tidak ada siapa-siapa. Hanya bangku kosong dengan serpihan daun kering di atasnya.
"Mungkin mereka telat," bisik Amanda.
Dia melanjutkan larinya. Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran.
Tidak ada Herman.
Setelah putaran keempat, Amanda berhenti di dekat air mancur (yang lagi-lagi tidak menyala karena bukan akhir pekan). Dia duduk di pinggiran kolam kering, minum air putih dari botol yang dia bawa dari rumah, lalu memandangi bangku kosong itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Kecewa? Mungkin. Sedih? Sedikit. Kesal? Juga sedikit. Tapi yang paling dominan adalah rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi seperti api yang disiram bensin.
Herman tidak muncul.
Dia juga tidak muncul di Car Free Day minggu lalu. Dan minggu sebelumnya? Amanda mencoba mengingat. Minggu sebelumnya Herman masih ada, duduk di bangku itu, melambai padanya. Lalu minggu ini? Tidak ada. Benar-benar hilang seperti ditelan bumi.
"Kenapa dia tidak datang?" gumam Amanda.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku pinggangnya. Membuka Instagram. Membuka chat dengan Herman. Pesan terakhir mereka masih seminggu yang lalu, tentang tiket bioskop yang ditolak Amanda. Belum ada pesan baru.
Jarinya bergetar. Dia ingin mengetik sesuatu. "Kamu kenapa tidak datang ke Car Free Day ?" atau "Apa kamu sakit?" atau "Apa kamu sudah menyerah?" Tapi dia tidak jadi. Tombol kirim tidak pernah dia sentuh.
"Mengapa aku repot-repot memikirkan dia?" desis Amanda kesal.
Dia memasukkan ponsel kembali ke saku, berdiri, dan berlari lebih kencang dari sebelumnya. Seolah-olah dengan berlari, dia bisa meninggalkan rasa penasaran itu di belakangnya. Tapi rasa penasaran itu terus mengejarnya, seperti bayangan yang tidak bisa dia hindari.
Pulang dari Car Free Day , Amanda mampir ke Pasar Sari Mulya. Ayahnya menyuruhnya membeli tahu walik dari warung Mak Endut, tahu walik favorit keluarga yang katanya paling enak di Kota Kuala Kapuas. Amanda berjalan di antara deretan lapak basah, mencium bau ikan asin, daging mentah, dan sayuran segar yang baru dipetik dari kebun. Matanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu. Atau seseorang.
Lalu dia melihatnya.
Di sudut pasar, dekat lapak sayur milik nenek-nenek tua yang selalu memakai topi caping, seorang laki-laki sedang jongkok sambil memilih cabai merah. Laki-laki itu memakai kaos abu-abu lusuh, celana jeans belel, dan sandal jepit yang sudah hampir putus di bagian talinya.
Herman.
Amanda berhenti melangkah. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia tidak tahu kenapa dia bereaksi seperti itu. Bukankah ini hanya Herman? Cowok gila yang pernah nempelkan permen karet di bajunya? Cowok yang selalu gagal dalam setiap jurus cintanya? Cowok yang sering membuatnya jengkel setengah mati? Kenapa dia harus berdebar-debar hanya karena melihatnya sedang memilih cabai di pasar?
Herman belum melihat Amanda. Dia terlalu fokus pada cabai-cabai merah yang dia pilih satu per satu dengan sangat teliti, seperti seorang ilmuwan yang sedang meneliti spesimen langka. Kadang dia menekan cabai dengan ibu jari, mencium baunya, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik. Kadang dia menolak cabai yang terlalu lembek atau terlalu kecil. Dia sangat serius. Sangat fokus. Seolah-olah memilih cabai adalah pekerjaan paling penting di dunia.
Amanda tersenyum tanpa sadar. Ada sesuatu yang menggemaskan dari Herman yang sedang serius memilih cabai. Sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kerapuhan. Kesederhanaan. Ketulusan dalam hal-hal kecil.
"Herman," panggil Amanda pelan.
Herman menoleh. Matanya membelalak. Wajahnya berubah dari fokus menjadi kaget, lalu dari kaget menjadi senang. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi depannya yang agak maju ke depan. "Amanda! Kamu di sini?"
"Iya. Belanja."
"Belanja apa?"
"Tahu walik."
"Tahu walik warung Mak Endut?"
"Iya."
"Enak tuh. Aku juga suka."
Amanda mengerjap. "Kamu tahu warung Mak Endut?"
"Tahu. Aku pernah beli tahu walik di sana buat... seseorang."
"Buat siapa?"
Herman tersenyum malu. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Buat kamu."
Amanda terdiam. Jadi tahu walik yang dia terima beberapa minggu lalu itu dari Herman. Bukan dari kurir biasa. Herman sendiri yang mengantarkannya, meskipun dia tidak sampai bertemu karena sedang mandi.
"Kamu yang antar tahu walik itu?" tanya Amanda.
"Iya. Tapi kamu mandi waktu itu, jadi aku titip sama ibumu."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Bilang apa? 'Aku yang antar tahu waliknya, bukan kurir'? Itu akan terdengar seperti aku mencari perhatian."
"Memang kamu mencari perhatian."
"Sekali-sekali tidak apa-apa."
Amanda menghela napas. Dia berjalan mendekat, lalu jongkok di samping Herman. Dari jarak dekat, dia bisa melihat wajah Herman dengan lebih jelas. Ada kumis tipis yang mulai tumbuh di atas bibirnya. Ada bekas jerawat di pipi kirinya. Ada keringat di pelipisnya karena udara pasar yang panas. Wajah biasa. Bukan wajah bintang film. Bukan wajah model. Tapi biasa. Dan di dalam kewajaran itu, Amanda menemukan sesuatu yang anehnya menarik.
"Kamu belanja cabai untuk apa?" tanya Amanda.
"Untuk masak. Aku mau masak rendang."
"Kamu bisa masak rendang?"
"Belajar. Ibuku dulu jago masak rendang. Aku ingin melanjutkan resepnya."
"Kenapa tidak minta diajarin langsung?"
Herman terdiam. Wajahnya sedikit berubah. "Ibuku sudah meninggal, Amanda. Tiga tahun yang lalu."
Amanda tersentak. Dia tidak tahu. Selama ini dia hanya melihat Herman sebagai cowok idiot yang mengganggunya. Dia tidak pernah bertanya tentang keluarga Herman. Tidak pernah peduli dengan latar belakangnya. Dan sekarang, ketika Herman mengatakannya dengan suara pelan, Amanda merasa seperti ada yang menusuk dadanya. Bukan sakit fisik. Tapi sakit perasaan.
"Maaf, aku tidak tahu," kata Amanda.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu tahu."
"Tapi aku ingin tahu."
Herman mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Amanda. "Kamu ingin tahu tentang aku?"
"Ya. Sedikit."
"Mengapa?"
"Karena... aku penasaran."
Herman tersenyum. Bukan senyum yang sombong. Bukan senyum yang penuh arti. Hanya senyum biasa yang lahir dari rasa syukur. "Baiklah. Nanti aku cerita. Tapi tidak di sini. Di sini terlalu ramai."
"Lalu di mana?"
"Di toko HP Sanjaya. Aku mau beli case HP baru. Kamu bisa temani?"
Amanda terdiam. Ini adalah ajakan tidak langsung. Bukan ajakan kencan. Hanya ajakan untuk pergi ke toko HP bersama. Tapi Amanda tahu persis bahwa di balik ajakan itu, ada maksud lain. Tapi anehnya, dia tidak menolak. "Baik," jawab Amanda.
Hampir saja dia menggigit lidahnya sendiri. Kenapa dia setuju? Kenapa dia tidak menolak seperti biasanya? Apa yang terjadi pada dirinya? Atau apa yang terjadi pada Amanda? Entahlah. Yang dia tahu, rasa penasarannya lebih kuat daripada logikanya.
Toko HP Sanjaya terletak di Jalan Jendral Ahmaad Yani, tidak jauh dari pasar. Toko ini tidak terlalu besar, tetapi cukup lengkap menyediakan berbagai aksesoris HP, dari case, tempered glass, power bank, hingga earphone bluetooth. Pemiliknya adalah Pak Sony, seorang laki-laki paruh baya dengan perut buncit yang selalu memakai kemeja kotak-kotak dan peci hitam di kepalanya.
Herman dan Amanda masuk ke toko itu sekitar pukul sembilan pagi. Toko masih sepi, hanya ada satu pembeli lain yang sedang memilih charger di rak sebelah. Pak Sony menyapa Herman dengan ramah.
"Nak Herman! Baru datang! HP-mu kenapa lagi?"
"Enggak kenapa-kenapa, Pak. Mau beli case baru. Yang lama sudah robek."
"Case untuk HP apa?"
"Yang ini." Herman mengeluarkan HP-nya, sebuah HP android murah dengan layar yang sudah retak di sudut kanan atas.
Pak Sony melihat HP itu, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Nak Herman, mending kamu ganti HP dulu. Case-nya seharga setengah HP kamu. Tidak sebanding."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya sayang HP ini. Hadiah dari ibu saya."
Pak Sanjaya terdiam. Dia mengangguk, lalu berjalan ke rak display untuk mengambil beberapa pilihan case. Herman mengikuti, sementara Amanda berdiri di samping pintu, memperhatikan.
Matanya mengamati Herman yang dengan sabar mencoba satu per satu case HP yang ditawarkan. Dia memegangnya, menempelkannya ke HP-nya, melepasnya lagi, lalu menempelkan yang lain. Tidak ada yang dia beli. Semuanya kurang pas, kurang nyaman, atau kurang sesuai dengan seleranya.
"Yang ini bagus," kata Amanda tiba-tiba.
Herman menoleh. Amanda telah mengambil sebuah case HP warna biru tua dengan tekstur lembut seperti kulit. Case itu sederhana, tidak banyak motif, hanya polos dengan sedikit garis di pinggirnya.
"Menurutmu bagus?" tanya Herman.
"Iya. Sederhana, tidak norak, dan warnanya cocok denganmu."
Herman mengambil case itu, menempelkannya ke HP-nya. Pas. Sempurna. Seperti sudah ditakdirkan.
"Berapa, Pak?" tanya Herman.
"Tiga puluh lima ribu," jawab Pak Sony.
Herman mengeluarkan dompetnya. Dia menghitung uang receh dengan jari yang sedikit gemetar. Tiga lembar sepuluh ribuan, satu lembar lima ribuan, dua keping seribuan. Cukup. Dia membayar, lalu memasukkan HP-nya ke case baru itu.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Nak. Doakan toko saya laris."
"Aamiin."
Mereka keluar dari toko HP. Amanda berjalan di samping Herman, sesekali melirik ke arah case biru tua di HP Herman. "Untung aku ikut," kata Amanda. "Kalau tidak, kamu mungkin masih di dalam toko sampai sore."
"Iya. Terima kasih, Amanda."
"Ini bukan karena aku baik. Ini karena aku tidak ingin melihat orang buang-buang waktu."
"Iya. Aku tahu."
Mereka berjalan di trotoar Jalan A.Yani, melewati deretan toko-toko yang masih buka. Pedagang bakso, mie ayam, es campur, dan jajanan pasar lainnya mulai berteriak-teriak menawarkan dagangan. Amanda tidak lapar. Tapi perutnya yang lain, perasaan yang tidak bisa dia beri nama, mulai merasa sesuatu yang aneh. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
Setelah dari toko HP, Herman mengajak Amanda ke Pasar Sari Mulya lagi. Bukan untuk berbelanja, tetapi untuk menunjukkan sesuatu. Mereka berjalan melewati lapak-lapak basah, melewati tumpukan sayuran dan buah-buahan, hingga sampai di sebuah lapak kecil di ujung selatan pasar.
"Ini lapak langganan ibuku dulu," kata Herman sambil menunjuk lapak kosong yang sudah tidak beroperasi. "Dulu ibu jualan sayur di sini. Setiap pagi, dari jam empat sampai jam sepuluh. Aku sering membantu ibu memilih cabai, seperti tadi."
Amanda melihat lapak kosong itu. Meja kayunya sudah usang, catnya mengelupas di beberapa bagian. Ada kain terpal biru yang menutupi sebagian meja, mungkin untuk melindungi dari debu. Tidak ada yang istimewa. Tapi bagi Herman, ini adalah tempat yang penuh kenangan.
"Ibu saya meninggal karena sakit tiga tahun lalu," lanjut Herman. "Sebulan sebelum dia meninggal, dia bilang, 'Herman, jadilah laki-laki yang jujur. Jangan pernah berbohong. Jangan pernah bermain-main dengan perasaan orang.' Aku janji pada ibu untuk menepati itu."
"Jadi, semua yang kamu lakukan selama ini, semua kejujuranmu, karena janji pada ibumu?" tanya Amanda.
"Sebagian besar. Sebagian kecil karena aku memang menyukaimu."
Amanda tersenyum kecil. "Jujur sekali."
"Aku sudah bilang, aku tidak bisa bohong."
"Aku percaya."
Mereka berdiri di depan lapak kosong itu beberapa saat, tidak berbicara. Angin pasar berhembus, membawa bau sayuran basah dan daging mentah. Tapi Amanda tidak merasa tidak nyaman. Dia justru merasa nyaman. Ada ketenangan yang dia temukan di samping Herman. Ketenangan yang tidak dia temukan di rumah, di sekolah, atau di tempat manapun.
"Herman, aku ingin bertanya sesuatu," kata Amanda.
"Tanya apa?"
"Mengapa kamu memilih aku? Di Car Free Day itu. Dari sekian banyak perempuan yang jogging, mengapa kamu memilih aku? Jangan bilang karena aku paling cantik."
Herman tersenyum. "Kamu memang paling cantik. Tapi itu bukan alasan utamanya."
"Lalu apa alasan utamanya?"
"Aku memilihmu karena wajahmu paling serius. Paling tidak tersenyum. Paling terlihat tidak ingin diganggu. Aku pikir, jika aku bisa membuatmu tersenyum, itu akan menjadi pencapaian terbesar dalam hidupku."
Amanda terdiam. Jantungnya berdegup kencang lagi. "Dan sekarang? Apa kamu sudah berhasil membuatku tersenyum?"
"Kadang. Meskipun sering kali aku membuatmu marah."
"Tapi setidaknya kamu membuatku merasa... ada."
"Ada?"
"Ada. Di dunia yang sibuk ini, di antara tuntutan orang tua dan ekspektasi sekolah, kadang aku merasa tidak terlihat. Seperti aku hanya mesin penghasil nilai bagus. Tapi denganmu, aku merasa terlihat. Aku merasa penting. Meskipun penting dengan cara yang aneh."
Herman tidak menyangka Amanda akan berkata seperti itu. Selama ini dia mengira Amanda hanya melihatnya sebagai pengganggu, sebagai cowok idiot yang tidak tahu diri. Tapi ternyata, di balik semua kemarahan itu, Amanda juga merasakan hal yang sama. Dia juga merasa ada yang berubah dalam dirinya. Dan perubahan itu, sebagian besar, adalah ulah Herman.
"Terima kasih, Amanda," kata Herman.
"Jangan makasih. Aku belum selesai marah padamu."
"Tapi marahmu sudah berbeda."
"Memangnya beda bagaimana?"
"Dulu marahmu penuh kebencian. Sekarang marahmu... marah yang biasa. Seperti orang yang marah karena digigit nyamuk. Tidak terlalu serius."
Amanda hampir tertawa. Dia menahan. Tapi sudut bibirnya naik sedikit, memberi isyarat bahwa Herman benar. Marahnya sudah berubah. Dan dia tidak tahu harus bersyukur atau malu.
Dari pasar, Herman mengajak Amanda ke toko baju di seberang jalan. Bukan toko baju mahal, tetapi toko baju biasa yang menjual kaos-kaos polos dengan harga terjangkau.
"Kita ke toko baju? Ngapain?" tanya Amanda curiga.
"Aku mau beli baju."
"Baju apa?"
"Baju olahraga. Yang putih."
"Kenapa putih?"
"Karena aku ingin jogging di Car Free Day dengan baju putih. Supaya suatu hari nanti jika ada orang yang nempelkan permen karet di bajuku, aku akan tahu rasanya."
Amanda memukul lengan Herman pelan. "Jangan becanda soal itu."
"Aku serius."
"Kamu memang aneh."
"Aku sudah bilang."
Mereka masuk ke toko baju. Herman memilih beberapa kaos putih polos, mencobanya satu per satu di depan cermin, lalu meminta pendapat Amanda.
"Yang mana bagus?"
"Yang itu terlalu besar."
"Yang ini?"
"Terlalu kecil. Dadamu kelihatan seperti mau meledak."
"Kalau yang ini?"
"Pas. Tapi warnanya tidak putih benar. Agak abu-abu."
"Ya sudah, beli yang putih bersih."
Herman membeli tiga kaos putih sekaligus, meskipun uangnya hampir habis. Dia membayar di kasir, lalu keluar dari toko dengan senyum puas.
"Sekarang kita punya baju yang sama," kata Herman sambil menunjukkan kaos putihnya.
"Kita tidak punya baju yang sama. Kamu punya baju putih. Aku juga punya baju putih. Tapi bukan berarti sama."
"Ya, secara fisik memang berbeda. Tapi secara warna, sama."
"Pembawaanmu ini yang kadang membuatku kesal."
"Maaf. Aku hanya bercanda."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi di dalam hati, dia tersenyum. Herman memang aneh. Tapi kegilaannya mulai terasa seperti bumbu dalam makanan. Tanpanya, hidup terasa hambar.
Sore harinya, Amanda pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak lagi marah. Tidak lagi kesal. Hanya ada rasa penasaran yang terus tumbuh seperti pohon yang akarnya semakin dalam ke bumi.
Dia duduk di kamarnya, memeluk bantal, lalu memandang baju olahraga putih yang masih terkena permen karet di sudut kamar. Selama berbulan-bulan, baju itu hanya menjadi simbol kemarahan. Tapi sekarang, setelah hari ini, setelah melihat Herman memilih cabai di pasar, membeli case HP, bercerita tentang ibunya, dan membeli kaos putih, baju itu mulai berubah makna. Bukan lagi simbol kemarahan. Tapi simbol awal dari segalanya. Awal dari pertemuan dua orang yang awalnya saling membenci, tetapi perlahan mulai menemukan rasa penasaran yang tidak bisa dipungkiri.
Dia membuka ponsel, membuka Instagram, lalu mengetik pesan untuk Herman.
@amanda_cans: Besok Car Free Day . Aku akan jogging seperti biasa. Kamu boleh datang. Tapi jangan bawa permen karet.
Pesan itu dikirim. Dan untuk pertama kalinya, Amanda tidak menyesal setelah mengirim pesan pada Herman.
Di kontrakannya, Herman membaca pesan itu berulang-ulang. Matanya berbinar. Senyumnya tidak bisa dia tahan. Dia ingin berteriak kegirangan, tetapi kontrakannya sempit dan dindingnya tipis, jadi dia hanya berguling-guling di atas kasur seperti anak kecil yang baru diberi mainan baru.
@herman_kontraktor: Baik. Aku hanya akan bawa hati yang jujur. Tidak ada permen karet. Janji.
@amanda_cans: Hati yang jujur. Itu saja sudah cukup.
Herman membaca balasan itu sekali lagi, lalu mematikan ponsel. Dia memandang langit-langit kontrakannya yang retak-retak, tetapi langit-langit itu terasa lebih indah dari biasanya. Mungkin karena hatinya yang penuh dengan cinta. Atau mungkin karena dia akhirnya sadar bahwa perubahan tidak selalu datang dengan ledakan. Kadang perubahan datang dengan pelan, seperti air yang meresap ke dalam tanah, tidak terlihat, tetapi ada.
"Besok Car Free Day ," bisik Herman. "Besok aku akan jogging dengan baju putih baruku. Aku akan berlari di sampingmu, Amanda. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Secepat yang kamu mau."
Dia memejamkan mata. Dan untuk kesekian kalinya, dia tertidur dengan bayangan Amanda. Kali ini, bayangan itu tersenyum padanya. Senyum yang tulus. Senyum yang memberinya harapan bahwa suatu hari nanti, semua perjuangannya akan berbuah manis.
Seperti permen karet.
Tapi kali ini, permen karet itu tidak lengket.
Hanya manis.
BAB 10
JURUS KE 50 MENYATAKAN CINTA DI DERMAGA DANAU MARE
Danau Mare terletak sekitar lima belas kilometer dari pusat kota Kuala Kapuas, di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh perkebunan karet dan sawah yang menghijau. Tidak banyak orang yang tahu tentang danau ini karena letaknya yang tersembunyi di balik perbukitan kecil dan jalan setapak yang sempit. Hanya warga lokal dan beberapa anak muda yang suka berpetualang yang pernah menginjakkan kaki di tepian danau ini. Airnya tenang, berwarna hijau kebiruan seperti telur bebek yang direbus setengah matang, dan di pagi hari sering terlihat kabut tipis yang melayang-layang di atas permukaan air seperti tirai sutra putih yang ditiup angin. Dermaga Danau Mare terbuat dari kayu ulin yang sudah tua, menghitam karena usia, tetapi masih kokoh berdiri meskipun sudah puluhan tahun diterpa angin dan hujan. Di ujung dermaga, terdapat sebuah bangku kayu sederhana yang biasa digunakan oleh pemancing untuk duduk sambil menunggu ikan menyantap umpan.
Tempat inilah yang dipilih Herman untuk melancarkan jurus kelima puluh.
Bukan tanpa alasan Herman memilih Danau Mare. Setelah empat puluh sembilan jurus gagal, dia menyadari bahwa pendekatan-pendekatan biasa tidak akan pernah berhasil menembus tembok tinggi yang dibangun Amanda di sekeliling hatinya. Puisi gagal. Bunga gagal. Tahu walik gagal. Jogging bersama gagal. Nasi goreng gosong gagal. Video puisi gagal. Lagu fals gagal. Kuli angkat gagal. bahkan pertemuan-pertemuan kebetulan di taman dan di pasar hanya membawa perubahan kecil yang tidak signifikan. Amanda masih belum yakin. Masih belum mau membuka hati. Masih selalu menjaga jarak meskipun kadang terlihat mulai luluh. Herman butuh sesuatu yang spektakuler. Sesuatu yang tidak akan pernah dia lakukan jika tidak sedang jatuh cinta. Sesuatu yang akan membuat Amanda terkejut, bingung, marah, tetapi pada akhirnya tersenyum.
Danau Mare adalah tempat yang tepat untuk itu. Sepi, tenang, jauh dari keramaian, dan penuh dengan keindahan alam yang akan membuat siapa pun merasa kecil di hadapan kebesaran ciptaan Tuhan. Herman berencana untuk membawa Amanda ke dermaga itu pada suatu sore Minggu, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahayanya berubah menjadi keemasan. Dia akan membawa gitarnya. Dia akan menyanyikan lagu cinta. Dan di akhir lagu, dia akan menyatakan cintanya dengan tulus, tanpa basa-basi, tanpa permen karet.
"Sounds like a plan," kata Ahmat ketika Herman menceritakan rencananya di kontrakan pada Sabtu malam.
"Tapi aku tidak bisa main gitar," kata Herman jujur.
"Kamu bisa belajar. Masih ada waktu satu hari."
"Satu hari tidak cukup untuk belajar gitar, Mat. Orang butuh bulanan, bahkan tahunan."
"Kamu tidak perlu jago. Kamu hanya perlu berani. Yang penting lagunya sampai, bukan gitarnya."
Herman menghela napas. Ahmat memang selalu bisa memberikan semangat dengan cara yang paling sederhana. "Baiklah. Aku akan pinjam gitar tetangga. Yang suka main di depan kontrakan setiap malam itu."
"Gitar Mang Udin?"
"Iya."
"Gitar itu cuma punya tiga senar."
"Tidak apa-apa. Tiga senar cukup."
"Kamu yakin?"
"Tidak. Tapi aku akan tetap melakukannya."
Ahmat mengangguk. Dia menepuk pundak Herman seperti seorang kakak yang merestui adiknya untuk terbang meninggalkan sarang. "Aku bangga sama kamu, Man. Kamu gila, tapi kamu gila yang konsisten."
"Terima kasih, Mat. Itu pujian terbaik yang pernah aku dengar."
Minggu sore, langit cerah tanpa awan. Matahari bersinar dengan ramah di ufuk barat, tidak terlalu panas, tidak terlalu redup. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma dedaunan kering dan tanah basah dari kejauhan. Herman sudah tiba di Danau Mare sejak pukul tiga sore, membawa gitar pinjaman dari Mang Udin yang benar-benar hanya memiliki tiga senar, dua tas besar berisi makanan dan minuman, serta selembar tikar plastik untuk duduk di dermaga. Dia datang lebih awal untuk mempersiapkan segalanya. Dia membersihkan dermaga dari daun-daun kering yang berserakan, menata tikar di ujung dermaga, meletakkan makanan dan minuman di atas tikar, lalu duduk bersila dengan gitar di pangkuannya.
Jari-jarinya gemetar. Bibirnya kering. Jantungnya berdebar seperti drum band di pawai kemerdekaan. Dia sudah berlatih lagu "Cinta Ini Membunuhku" dari band legendaris selama dua puluh empat jam nonstop, tetapi hasilnya masih jauh dari kata layak dengar. Suaranya fals, iramanya kacau, dan gitarnya sumbang karena hanya tiga senar. Tapi dia tidak peduli. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan tetap bernyanyi, meskipun suaranya terdengar seperti kucing yang diinjak ekornya.
Pukul setengah empat sore, Amanda datang. Dia mengendarai motor matic putihnya, memakai kaos oblong hitam dan celana jeans yang sudah sedikit pudar di bagian lutut. Rambutnya diikat kuda sederhana, tidak banyak gaya, tetapi tetap membuat Herman terpana seperti baru pertama kali melihatnya.
"Dermaga Danau Mare ini ternyata indah juga," kata Amanda sambil turun dari motor. Matanya mengamati pemandangan sekitar. Air sungai Kapuas yang tenang, rumah-rumah di tepian, dan kabut tipis yang mulai terbentuk di permukaan air. "Kenapa kamu baru mengajakku ke sini sekarang?"
"Karena aku baru siap sekarang," jawab Herman.
"Bawa apa saja ini?" Amanda menunjuk tikar dan makanan di dermaga.
"Ini untuk kita. Makanan, minuman, dan... hiburan."
"Hiburan apa?"
Herman mengangkat gitarnya. "Ini."
Amanda mengerjap. "Kamu bisa main gitar?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu bawa gitar?"
"Karena aku ingin menyanyikan lagu untukmu."
Amanda menarik napas panjang. Dia berjalan ke dermaga, duduk di tikar, lalu memandang Herman dengan ekspresi antara iba dan geli. "Herman, kamu tahu kan bahwa aku bisa sangat kejam kalau mendengar suara sumbang?"
"Aku tahu."
"Dan kamu tetap mau bernyanyi?"
"Aku tetap mau."
"Baiklah. Silakan. Tapi jangan salahkan aku kalau aku tertawa atau lari."
Herman tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, lalu mulai memetik senar gitar yang hanya tiga itu. Bunyi pertama yang keluar adalah jreng... jreng... jreng... seperti suara kaleng kosong yang dijatuhkan ke lantai. Herman tidak gentar. Dia terus memetik, mencoba mencari nada yang tepat, meskipun jari-jarinya tidak pernah dilatih untuk memainkan alat musik apapun selain ponsel.
Lalu dia mulai bernyanyi.
"Cinta ini... membunuhku... perlahan... lahan... lahan..."
Amanda menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bukan karena terharu. Tapi karena dia hampir tertawa. Suara Herman benar-benar tidak karuan. Nadanya melayang ke sana kemari seperti kupu-kupu yang kehilangan arah. Kadang terlalu tinggi, kadang terlalu rendah, kadang berhenti di tengah lagu karena lupa lirik. Tapi Herman terus bernyanyi. Dia tidak berhenti. Matanya terpejam, konsentrasi, seolah-olah dia sedang menyanyikan lagu paling sakral di dunia.
Lagu itu berlangsung sekitar tiga menit. Tiga menit yang terasa seperti tiga jam bagi Amanda yang berusaha mati-matian untuk tidak tertawa. Tapi di akhir lagu, ketika Herman membuka matanya dan berkata, "Itu lagu untukmu, Amanda," Amanda tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Hahahahaha!" Amanda tertawa terbahak-bahak. Dia memegang perutnya, menunduk, sampai air matanya keluar. "Herman, itu lagu paling jelek yang pernah aku dengar seumur hidupku!"
"Aku tahu," kata Herman tanpa tersinggung.
"Suaramu fals!"
"Aku tahu."
"Gitarmu hanya tiga senar!"
"Aku juga tahu."
"Tapi kenapa kamu tetap bernyanyi?"
Herman meletakkan gitarnya di samping tikar. Matanya menatap Amanda dengan serius. "Karena aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak takut membuat kesalahan di depanmu. Bahwa aku tidak takut terlihat bodoh. Bahwa aku tidak takut ditertawakan. Karena bagiku, kamu sepadan dengan semua rasa malu itu."
Amanda berhenti tertawa. Wajahnya berubah. Matanya berkaca-kaca. Dadanya naik turun. Kata-kata Herman menusuk tepat di jantungnya yang paling dalam. Selama ini, setiap cowok yang mendekatinya selalu berusaha tampil sempurna. Pakaian rapi, rambut disisir, kata-kata manis, senyum menggoda. Mereka takut membuat kesalahan. Mereka takut terlihat buruk. Mereka takut kehilangan muka. Tapi Herman berbeda. Dia bersedia terlihat bodoh. Dia bersedia ditertawakan. Dia bersedia kehilangan muka. Semua demi satu tujuan: membuat Amanda tersenyum.
"Herman," bisik Amanda.
"Ya?"
"Aku benci kamu."
"Aku tahu."
"Aku benci karena kamu membuatku merasa... aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Aneh seperti... aku tidak ingin kamu pergi. Meskipun kamu menyebalkan. Meskipun kamu tidak bisa main gitar. Meskipun kamu nempelkan permen karet di bajuku. Aku tidak ingin kamu pergi."
Herman terdiam. Jantungnya berhenti berdetak sejenak. Kemudian berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Apakah ini saat yang dia tunggu-tunggu? Apakah ini saat di mana Amanda akhirnya membuka hati? Atau hanya ilusi yang akan sirna begitu dia mengedipkan mata?
"Amanda, aku..."
"Belum selesai." Amanda mengangkat tangannya, memotong ucapan Herman. "Aku bilang aku tidak ingin kamu pergi. Tapi aku belum bilang aku mencintaimu. Jangan salah paham."
"Tidak. Aku tidak salah paham."
"Yang aku rasakan sekarang adalah... rasa nyaman. Rasa aman. Rasa... seperti pulang ke rumah setelah lama bepergian. Aku tidak tahu apakah itu cinta atau hanya kebiasaan. Yang aku tahu, aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu. Dan itu membuatku takut."
"Mengapa takut?"
"Karena jika aku terbiasa, maka aku akan kehilangan jika kamu pergi. Dan aku tidak mau kehilangan."
Herman mengangguk. Dia paham. Dia juga merasa hal yang sama. Setiap hari, dia semakin terbiasa dengan kehadiran Amanda. Dengan wajahnya yang galak. Dengan suaranya yang melengking saat marah. Dengan senyum kecilnya yang jarang muncul tetapi sangat berharga. Jika suatu hari Amanda pergi, Herman akan kehilangan separuh jiwanya.
"Amanda, aku tidak akan pergi," kata Herman.
"Kamu tidak bisa janji."
"Aku bisa. Karena aku sudah memilih. Aku memilihmu. Bukan karena kamu cantik. Bukan karena kamu populer. Bukan karena orang tuamu kaya. Tapi karena kamu... kamu. Aku jatuh cinta pada versi terburukmu sekaligus versi terbaikmu. Aku jatuh cinta pada kemarahanmu. Aku jatuh cinta pada tangismu. Aku jatuh cinta apa adanya. Aku jatuh cinta pada caramu menggigit bibir saat bingung. Aku jatuh cinta pada semuanya, Amanda. Sejak permen karet itu, aku sudah jatuh cinta."
Amanda tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya jatuh. Bukan air mata sedih. Bukan air mata marah. Tapi air mata haru. Air mata yang keluar karena seseorang akhirnya melihat dirinya sebagai manusia utuh, bukan sebagai potongan-potongan yang harus disusun sesuai ekspektasi.
"Herman, kamu menang," bisik Amanda.
"Menang apa?"
"Kamu berhasil membuatku... luluh."
Herman tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah dia tunjukkan dalam hidupnya. Dia ingin melompat ke sungai. Dia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Dia ingin memeluk Amanda. Tapi dia tidak melakukan satupun dari semua itu. Dia hanya duduk diam di samping Amanda, di ujung dermaga Danau Mare, ditemani oleh air sungai yang tenang dan matahari sore yang perlahan tenggelam.
"Boleh aku memegang tanganmu?" tanya Herman.
Amanda tidak menjawab. Dia hanya mengulurkan tangan kirinya. Herman menggenggamnya dengan lembut. Tangannya hangat. Tangannya lembut. Tangannya terasa seperti miliknya sejak awal.
Mereka berdua duduk di dermaga itu hingga matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat. Langit berubah warna dari jingga menjadi merah, dari merah menjadi ungu, dari ungu menjadi gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, seperti lampu-lampu kecil yang dinyalakan oleh malaikat. Angin malam berhembus lebih dingin dari sebelumnya, tetapi Herman dan Amanda tidak merasa kedinginan. Mereka saling berbagi panas tubuh, saling berbagi harapan, saling berbagi mimpi.
Herman, aku takut," kata Amanda setelah lama terdiam.
"Takut apa?"
"Takut bahwa ini hanya mimpi. Bahwa besok pagi aku akan bangun dan semuanya hilang."
"Ini bukan mimpi, Amanda. Ini nyata."
"Buktinya?"
Herman melepas genggaman tangannya, lalu berdiri. Dia berjalan ke tepi dermaga, mencelupkan tangannya ke air sungai, lalu mengusapkannya ke pipi Amanda.
"Apa rasanya?" tanya Herman.
"Dingin."
"Ini bukan mimpi. Mimpi tidak terasa dingin." Herman tersenyum. "Kecuali kamu mimpi masuk kulkas."
Amanda tertawa kecil. Dia memukul lengan Herman pelan. "Kamu selalu bisa membuatku tertawa meskipun aku sedang serius."
"Itu bakatku."
"Bakat yang aneh."
"Tapi kamu suka."
Amanda tidak bisa membantah. Dia memang suka. Dia suka cara Herman membuatnya tertawa. Dia suka cara Herman memandanginya seperti dia adalah satu-satunya perempuan di dunia. Dia suka cara Herman tidak pernah menyerah meskipun sudah ditolak berkali-kali.
"Herman, aku ingin memulai semuanya dari awal," kata Amanda.
"Maksudnya?"
"Aku ingin kita lupakan permen karet itu. Lupakan kemarahan. Lupakan semua kebencian. Aku ingin kita memulai dari nol. Seperti dua orang asing yang baru bertemu. Tapi dengan perasaan yang sudah ada."
"Kita tidak bisa memulai dari nol, Amanda. Karena permen karet itu sudah menjadi bagian dari sejarah kita. Kita tidak bisa menghapusnya."
"Tapi kita bisa memaafkannya."
Bisakah?"
"Kalau kita berdua mau, bisa."
Herman mengangguk. Dia memandang air sungai yang mulai gelap, memantulkan cahaya bintang-bintang yang berkelap-kelip. "Maafkan aku karena sudah menempelkan permen karet di bajumu."
"Herman, aku sudah maafkan kamu sejak di taman itu."
"Sejak di Taman Hutan Kota?"
"Iya. Saat kamu memberikan tisu. Saat kamu bilang ayahku salah. Saat itu, aku sadar bahwa kamu tidak pantas dibenci. Kamu hanya pria bodoh yang jatuh cinta dengan cara yang paling konyol."
Herman tersenyum. "Terima kasih, Amanda. Itu kata-kata terindah yang pernah aku dengar."
"Jangan terbiasa. Aku tidak akan sering-sering memujimu."
"Tidak apa-apa. Sekali seumur hidup sudah cukup."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lepas, tawa yang tulus, tawa yang tidak lagi dibatasi oleh rasa benci atau marah. Di tengah tawa itu, Herman merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Kedamaian. Kedamaian yang lahir dari penerimaan. Bahwa dia diterima apa adanya. Bahwa dia dicintai meskipun dengan segala kekurangannya.
"Amanda," panggil Herman.
"Ya?"
"Aku cinta kamu."
Amanda tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menggenggam tangan Herman lebih erat. Di dalam genggaman itu, terkandung seribu jawaban. Aku cinta kamu juga. Aku belum bisa mengatakannya. Tapi aku akan belajar. Suatu hari nanti.
Mereka duduk di dermaga Danau Mare hingga larut malam. Bintang-bintang bergeser di langit. Bulan sabit tipis muncul di ufuk timur. Air danau semakin tenang, seperti cermin raksasa yang memantulkan keindahan alam yang tidak akan pernah habis untuk dinikmati.
Sekitar pukul sembilan malam, mereka memutuskan untuk pulang. Herman mengemas tikar dan sisa makanan. Amanda membersihkan dermaga dari sampah-sampah kecil. Mereka berjalan berdampingan menuju motor yang terparkir di pinggir jalan setapak.
"Aku antar kamu pulang," kata Herman.
"Naik apa? Kamu tidak bawa motor."
"Aku bonceng sama kamu."
"Kamu laki-laki, kok bonceng?"
"Tidak ada aturan yang melarang laki-laki bonceng."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi dia mengizinkan Herman duduk di belakang motornya. Mereka melaju pelan di jalan A.Yani yang gelap menuju jalan Nusa Indah, hanya diterangi oleh lampu motor yang redup. Herman tidak berani memeluk pinggang Amanda. Dia hanya berpegangan di jok belakang, menjaga jarak meskipun hatinya ingin lebih dekat.
Setelah sekitar dua puluh menit, mereka sampai di depan rumah Amanda. Lampu teras masih menyala. Mungkin ibu Amanda sedang menunggu.
"Sampai di sini," kata Amanda sambil mematikan mesin motor.
"Baik. Terima kasih sudah mau datang ke Dermaga Danau Mare."
"Terima kasih sudah menyanyikan lagu terjelek sepanjang sejarah."
Herman tertawa. "Sama-sama."
Mereka berdua berdiri di depan pagar rumah Amanda, tidak ada yang mau masuk lebih dulu. Herman ingin memeluk Amanda. Amanda ingin mencium pipi Herman. Tapi mereka masih canggung. Masih belum terbiasa dengan status baru yang belum jelas.
"Besok Car Free Day ?" tanya Herman.
"Besok Car Free Day . Aku akan jogging seperti biasa. Kamu datang?"
"Aku datang. Tapi kali ini aku akan jogging di sampingmu. Bukan di bangku taman."
"Kamu bisa mengimbangi langkahku?"
"Aku sudah latihan."
"Bagus. Jangan sampai kehabisan napas."
"Janji."
Amanda tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah Herman lihat. Senyum yang menghapus semua rasa lelah, semua rasa sakit, semua rasa ragu.
"Selamat malam, Herman."
"Selamat malam, Amanda."
Amanda masuk ke halaman rumah, membuka pintu, lalu melambai sebelum menutup pintu. Herman berdiri di depan pagar beberapa saat, menikmati sisa-sisa kehangatan pertemuan mereka. Lalu dia berjalan pulang dengan langkah ringan, dengan senyum yang tidak bisa dia hilangkan, dan dengan hati yang penuh dengan harapan.
Sesampainya di kontrakan, Herman langsung merebahkan diri di kasur. Dia memandang langit-langit yang retak-retak, tetapi langit-langit itu terasa seperti kanvas tempat dia melukis masa depannya. Masa depan bersama Amanda. Masa depan yang tidak lagi sendirian.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Amanda.
@amanda_cans: Herman.
@herman_kontraktor: Ya?
@amanda_cans: Aku lupa bilang tadi. Lagu kamu jelek. Tapi liriknya... bagus.
@herman_kontraktor: Liriknya aku tulis sendiri.
@amanda_cans: Itu sebabnya bagus. Karena jujur.
@herman_kontraktor: Terima kasih, Amanda.
@amanda_cans: Sama-sama. Sekarang tidur. Besok Car Free Day .
@herman_kontraktor: Siap.
Herman mematikan ponsel, memejamkan mata, dan tertidur dengan senyum yang tidak pernah pudar. Dia bermimpi tentang Dermaga Danau Mare, tentang air danau yang tenang, tentang dermaga kayu ulin yang tua, dan tentang seorang perempuan bernama Amanda yang menggenggam tangannya erat-erat.
Dan di dalam mimpi itu, dia berkata, "Aku cinta kamu, Amanda. Selamanya."
Dan Amanda menjawab, "Aku tahu, Herman. Aku juga."
BAB 11
GENG AMANDA VS GENG HERMAN, KONFLIK SOSIAL KELAS
Kabar tentang pertemuan Herman dan Amanda di Dermaga Danau Mare menyebar cepat seperti api di musim kemarau. Bukan karena mereka berdua yang menyebarkan, karena Herman terlalu rendah hati untuk bercerita dan Amanda terlalu malu untuk mengakuinya. Tapi Dahlia, yang kebetulan melihat pesan Amanda di grup WhatsApp "Geng Jogging Cantik" tentang "Dermaga Danau Mare itu tempat yang indah, kalian harus kesana suatu hari," langsung mencium sesuatu yang tidak beres. Dahlia memang detektif ulung dalam urusan percintaan teman-temannya. Dengan hanya bermodalkan satu kalimat ambisius, dia bisa menyusun teori konspirasi yang rumit seperti novel detektif karya Agatha Christie.
"Amanda pasti ke Dermaga Danau Mare dengan Herman," bisik Dahlia pada Yunita, Anita, dan Sania saat istirahat sekolah keesokan harinya.
"Kok bisa kamu simpulin begitu?" tanya Yunita.
"Coba lihat matanya. Matanya berbinar. Orang yang baru jatuh cinta matanya selalu berbinar. Itu ilmu pengetahuan."
"Itu bukan ilmu pengetahuan, itu gosip," bantah Anita.
"Gosip yang didasari bukti ilmiah."
Sania yang paling pendiam di antara mereka, hanya tersenyum kecil. "Biarkan saja. Kalau Amanda bahagia, kita tidak perlu ikut campur."
"Tapi kita gengnya Amanda, San. Kita punya hak untuk tahu," desak Dahlia.
"Kita punya hak untuk mendukung, bukan ikut campur."
Dahlia mendengus kesal. Tapi dia tidak bisa membantah Sania yang selalu bijak seperti seorang filsuf yang lahir terlalu cepat.
Sementara itu, di grup "Geng Car Free Day ", suasana berbeda. Yanto, Mahdili, Yuni, Bintag, Herawati, dan Ahmat sudah berkumpul di kontrakan Herman sejak jam delapan malam, memaksa Herman untuk menceritakan seluruh kejadian di Dermaga Danau Mare dengan detail yang paling mendetail. Herman yang tadinya enggan, akhirnya menyerah setelah Yanto mengancam akan menyebarkan foto Herman sedang memeluk boneka beruang di kamar kontrakannya (foto lama yang sangat memalukan dan tidak boleh diketahui siapapun).
"Jadi, kamu menyanyikan lagu cinta dengan gitar tiga senar?" tanya Ahmat.
"Iya."
"Lalu Amanda tertawa?"
"Iya. Sampai keluar air mata."
"Lalu setelah dia tertawa, dia bilang apa?"
"Dia bilang dia tidak ingin aku pergi."
Yuni yang dari tadi diam, tiba-tiba bertepuk tangan. "Selamat, Herman! Kamu berhasil!"
"Berhasil apa? Dia belum bilang cinta."
"Bukan cinta yang diucapkan dengan kata-kata yang penting, Man. Yang penting adalah perasaan. Dan dari ceritamu, Amanda sudah mulai nyaman denganmu. Itu awal dari segalanya."
Herman tersenyum tipis. Dia memang merasa ada yang berbeda. Amanda tidak lagi memasang wajah dingin setiap kali bertemu dengannya. Tidak lagi membentak tanpa alasan. Kadang, di sela-sela percakapan mereka, Amanda tersenyum kecil. Senyum yang tidak akan dilihat oleh orang lain. Senyum yang hanya untuk Herman.
"Tapi perjuanganmu belum selesai, Man," kata Ahmat. "Ini baru awal. Sekarang kamu harus menghadapi tantangan yang lebih besar."
"Tantangan apa?"
"Orang tua Amanda, gengnya Amanda, dan tentu saja status sosial."
Herman mengerutkan dahi. "Status sosial?"
"Kamu anak kontraktor dengan gaji pas-pasan. Amanda anak pengusaha dengan rumah besar. Dunia kalian berbeda. Orang tua Amanda mungkin akan keberatan."
Herman terdiam. Ahmat tidak salah. Meskipun selama ini ayah Amanda terlihat ramah padanya, itu karena dia hanya membantu di toko. Belum tentu ayah Amanda merestui hubungan mereka jika sudah sampai ke jenjang yang lebih serius. Apalagi ibu Amanda yang terlihat baik-baik, tetapi belum tentu setuju dengan anak perempuannya yang dekat dengan cowok selevel Herman.
"Aku tidak peduli dengan status sosial," kata Herman akhirnya. "Yang aku peduli adalah perasaan Amanda. Sisanya akan aku hadapi satu per satu."
"Itu semangat yang bagus," kata Herawati. "Tapi jangan lupa bahwa dunia tidak berputar hanya di sekitar perasaan. Ada faktor-faktor eksternal yang bisa mempengaruhi."
"Faktor-faktor eksternal seperti apa?"
"Seperti omongan orang. Seperti geng Amanda yang mungkin tidak setuju. Seperti teman-teman sekolah Amanda yang akan bergosip. Dan yang paling berat, seperti orang tua Amanda."
Herman menghela napas. Dia tahu Herawati benar. Tapi dia sudah terlalu jauh untuk mundur. Dia sudah terlalu dalam untuk berbalik. Jika dia harus berperang melawan dunia demi Amanda, dia akan lakukan.
"Kalau begitu," kata Herman sambil berdiri, "kita harus memenangkan mereka satu per satu. Mulai dari geng Amanda."
"Gimana caranya?" tanya Yanto.
"Kita ajak mereka makan bakso."
"Bakso? Pakai bakso kamu mau memenangkan hati mereka?"
"Bukan baksonya. Tapi kebersamaannya. Orang yang makan bersama cenderung lebih mudah akrab."
Ahmat mengangguk. "Ide yang tidak terlalu buruk. Tapi kita harus mengundang mereka secara resmi. Bukan sembarangan. Buat acara kecil-kecilan. Makan bersama di Dermaga KP3."
"Setuju!" teriak Yanto.
"Setuju!" teriak Mahdili.
"Setuju!" seru Yuni dan Herawati bersamaan.
Herman tersenyum. Dia punya tim yang solid. Tim yang siap membantunya dalam suka dan duka. Tim yang rela melakukan hal-hal konyol demi kebahagiaannya.
"Besok Car Free Day ," kata Herman. "Setelah acara Car Free Day , kita ajak mereka ke Dermaga KP3. Aku yang traktir."
"Ingat, Man," kata Ahmat. "Kamu traktir, bukan kami."
"Iya, Mat. Aku tahu. Aku sudah siapkan uang dari hasil lembur."
"Bagus. Sekarang tidur. Besok kita mulai operasi."
Minggu pagi tiba. Car Free Day berlangsung seperti biasa. Ribuan warga memadati area Stadion Panunjung Tarung dari para pejabat hingga rakyat biasa. Ada yang senam, ada yang jogging, ada yang sekadar cuci mata. Herman datang dengan pakaian olahraga baru, kaos putih polos yang dia beli di toko baju beberapa minggu lalu, dan sepatu lari baru yang dipinjam dari Ahmat karena sepatunya sendiri masih basah setelah dicuci.
Rombongan Amanda datang tepat pukul setengah tujuh. Mereka berlari kecil dengan formasi yang sama seperti biasanya. Amanda di depan, diikuti oleh Dahlia, Yunita, Anita, dan Sania. Kaos olahraga mereka serba putih, seperti barisan angsa yang sedang berenang di danau.
Herman tidak duduk di bangku taman seperti biasanya. Kali ini dia berdiri di pinggir jalur jogging, siap memulai lari bersama mereka. Begitu rombongan Amanda mendekat, Herman langsung melesat dan berlari di samping Amanda.
"Pagi, Amanda," sapa Herman sambil mengatur napas.
"Pagi, Herman," jawab Amanda tanpa menoleh.
"Kamu izinkan aku berlari di sampingmu?"
"Terserah. Tapi jangan mengganggu konsentrasiku."
"Baik."
Herman berlari di samping Amanda. Kecepatannya pas, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Persis seperti yang dia latih selama dua minggu terakhir. Sesekali dia melirik ke samping, menikmati profil wajah Amanda yang serius tetapi tetap cantik.
Di belakang mereka, Dahlia berbisik pada Yunita. "Lihat tuh. Mereka berdua sudah mulai akrab."
"Dahlia, kamu jangan bisik-bisik. Nanti kedengaran," jawab Yunita.
"Pelan-pelan kok."
"Tetap saja."
Anita yang berlari di samping Dahlia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sementara Sania di paling belakang tersenyum tipis. Dia senang melihat Amanda akhirnya membuka hati. Meskipun perlahan. Meskipun masih penuh dengan keraguan.
Setelah tiga putaran, rombongan Amanda berhenti di dekat air mancur. Herman juga berhenti. Dia mengambil botol air mineral dari tas pinggangnya, lalu menyodorkannya pada Amanda.
"Minum dulu. Capai, kan?"
Amanda menerima botol itu. Dia meminumnya sedikit, lalu mengembalikannya pada Herman. "Terima kasih."
"Dahlia, Yunita, Anita, Sania," panggil Herman. "Kalian mau minum? Aku punya persediaan banyak."
Mereka berempat saling berpandangan. Dahlia yang paling berani, maju mengambil botol air mineral dari tangan Herman. "Makasih, Herman."
"Sama-sama."
Setelah mereka semua selesai minum dan mengatur napas, Herman mulai melancarkan aksinya. "Hari ini setelah Car Free Day , aku mau traktir kalian bakso di Dermaga KP3. Sebagai rasa terima kasih karena sudah menjadi teman baik Amanda."
Dahlia tersenyum lebar. "Kamu baik banget, Herman."
"Ini bukan karena baik. Ini karena aku butuh teman untuk makan. Sendirian makan bakso itu sedih."
"Maksudmu kamu tidak mau makan sendiri, jadi kamu ajak kami?" tanya Yunita.
"Kurang lebih begitu."
"Lucu juga kamu, Herman," kata Anita.
Sania tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk kecil, tanda setuju.
Amanda yang dari tadi hanya diam, kini buka suara. "Herman, kamu tidak usah traktir mereka. Mereka punya uang sendiri."
"Biarkan saja, Am," potong Dahlia cepat. "Ini rezeki. Jangan ditolak."
"Kalian ini," Amanda menggeleng-gelengkan kepala.
"Jadi, setuju?" tanya Herman.
"Setuju!" seru Dahlia, Yunita, Anita, dan Sania bersamaan.
"Bagus. Kita kumpul di sini jam sembilan. Setelah acara Car Free Day selesai."
Mereka berpisah. Herman kembali ke bangku taman tempat teman-temannya menunggu. Yanto, Mahdili, Yuni, Herawati, dan Ahmat melambai dari kejauhan.
"Gimana?" tanya Ahmat begitu Herman sampai.
"Mereka setuju. Mereka akan datang."
"Bagus. Sekarang kita siapkan mental. Jangan sampai ada yang salah bicara."
"Yang salah bicara biasanya Yanto," kata Herawati.
"Hei, kenapa selalu aku?" protes Yanto.
"Karena mulutmu lebih cepat dari pada angin."
"Itu tidak sopan."
"Tapi benar."
Ahmat memotong. "Sudah, jangan bertengkar. Fokus ke acara nanti. Yang penting, kita harus membuat mereka merasa nyaman. Jangan membahas topik-topik sensitif seperti politik, agama, atau pacar."
"Pacar boleh dibahas?" tanya Yanto.
"Pacar Herman dan Amanda boleh. Tapi jangan berlebihan."
"Baik."
Pukul sembilan pagi, mereka semua berkumpul di Dermaga KP3. Para pedagang bakso, mie ayam, es campur, dan jajanan lainnya sudah mulai beroperasi dengan semangat. Suara orang-orang yang menawarkan dagangan bercampur dengan suara tawa dan obrolan pengunjung. Di sini, tidak ada perbedaan status sosial. Yang ada hanya perut lapar dan dompet yang siap dikuras.
Herman memesan sebelas mangkok bakso. Kuahnya panas, baksonya kenyal, dan sambalnya pedas. Dia juga memesan es jeruk dan es teh untuk menemani. Semua pesanan diletakkan di dua meja panjang yang digabungkan, sehingga mereka semua bisa duduk bersama.
"Silakan makan," kata Herman sambil mempersilakan.
Dahlia yang paling antusias langsung mengambil satu mangkok bakso dan mulai menyantapnya dengan lahap. "Enak banget, Herman! Baksonya lumer di mulut!"
"Ini langganan kami. Pak RT Yang jualan."
"Wah, langganan. Pak RT yang jualan!" Yunita ikut memuji. "Aku tahu itu. Baksonya memang juara."
Anita dan Sania juga mulai makan. Mereka tidak banyak bicara, tetapi ekspresi wajah mereka menunjukkan kepuasan. Sementara Amanda duduk di samping Herman, sesekali melirik ke arah pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu tidak makan?" tanya Herman.
"Nanti. Aku masih kenyang."
"Kamu tadi habis jogging, pasti lapar. Coba makan sedikit."
"Paksa ya."
"Biarin. Aku yang nanggung."
Amanda menghela napas. Dia mengambil sendok, lalu mulai menyantap baksonya pelan-pelan. "Enak juga. Tidak enak banget, tapi enak."
"Terima kasih, pujian yang sangat berharga."
Dahlia yang mendengar percakapan itu, tersenyum curiga. "Kalian berdua sudah mulai saling perhatian, ya?"
"Dahlia, jangan," potong Amanda.
"Apa? Aku hanya bertanya."
"Pertanyaanmu mengganggu."
"Oke, oke. Aku diam."
Yanto yang dari tadi diam, kini ikut nimbrung. "Dahlia, kamu suka gemblong, ya?"
Dahlia menoleh. "Iya. Kamu tahu?"
"Aku tahu. Tadi pagi aku beli gemblong di Pasar Sari Mulya. Yang enak itu yang di lapak dekat pintu masuk."
"Mak Endut?"
"Iya, Mak Endut."
"Wah, kita sama! Aku juga suka gemblong Mak Endut."
Yanto tersenyum lebar. Akhirnya dia menemukan topik yang cocok untuk memulai percakapan dengan Dahlia. "Besok kalau kamu mau, aku bisa belikan."
"Jangan belikan. Aku punya uang."
"Bukan memberi, kok. Aku hanya ingin teman makan gemblong. Sendirian itu sedih."
Dahlia tertawa. "Kalian berdua dengan Herman sama persis. Sama-sama tidak mau makan sendirian."
"Lain orang, lain strategi," kata Yanto sambil mengangkat bahu.
Ahmat yang menyaksikan dari ujung meja, tersenyum puas. Rencana berjalan dengan baik. Herman berhasil membawa geng Amanda ke dalam lingkaran persahabatan mereka. Sekarang tinggal bagaimana mempertahankan dan memperdalam hubungan itu.
Setelah makan, mereka duduk bersantai di dermaga. Beberapa orang melepas sandal dan mencelupkan kaki ke air sungai yang dingin. Yang lain hanya duduk di bangku kayu sambil bercerita tentang hal-hal ringan. Yanto dan Dahlia asyik membahas gemblong dan jajanan pasar lainnya. Yuni dan Sania berbincang tentang buku-buku favorit mereka. Herawati dan Anita saling bertukar tips perawatan kulit. Sementara Mahdili dan Yunita berdebat tentang smartphone mana yang paling bagus untuk fotografi.
Herman duduk di samping Amanda, tidak banyak bicara. Sesekali mereka saling pandang, lalu tersenyum canggung. Tidak ada yang berani memulai percakapan yang serius. Tapi tidak ada yang merasa perlu. Karena di antara mereka, sudah ada pengertian. Pengertian bahwa mereka sedang bersama, dan itu sudah cukup.
"Herman," panggil Amanda pelan.
"Ya?"
"Terima kasih untuk hari ini."
"Untuk apa?"
"Untuk membuat teman-temanku bahagia. Untuk membuatku merasa... biasa."
"Biasa bagaimana?"
"Biasa seperti orang lain. Tidak istimewa. Tidak dibeda-bedakan."
Herman tersenyum. Dia mengerti maksud Amanda. Sebagai anak pengusaha, Amanda sering diperlakukan secara istimewa. Orang-orang mendekatinya karena status, bukan karena ketulusan. Tapi dengan Herman dan teman-temannya, Amanda merasa sama. Tidak lebih. Tidak kurang.
"Kamu memang biasa, Amanda," kata Herman. "Tapi kebiasaanmu itu yang membuatmu istimewa."
"Omong kosong."
"Tapi kamu tersenyum."
Amanda tidak bisa membantah. Dia memang tersenyum. Senyum kecil yang lahir dari hatinya yang mulai terbuka.
Acara makan bersama itu berlangsung hingga pukul sebelas siang. Mereka berpisah dengan senyuman dan lambaian tangan. Dahlia berbisik pada Amanda, "Herman itu baik, Am. Jangan lepaskan."
"Dahlia, kamu mulai lagi."
"Aku hanya jujur."
"Jujur atau ikut campur?"
"Keduanya."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi di dalam hati, dia setuju. Herman memang baik. Dan dia tidak ingin melepaskannya.
Di rumah, Herman merebahkan diri di kasur. Ahmat ikut masuk tanpa permisi, seperti biasa.
"Kamu lihat tadi, Mat?" tanya Herman.
"Apa?"
"Mereka semua akrab. Seperti sudah lama berteman."
"Iya. Itu pertanda bagus."
"Tapi aku masih khawatir dengan orang tua Amanda."
"Jangan khawatir dulu. Hadapi satu per satu. Sekarang kamu sudah punya geng Amanda di pihakmu. Itu senjata yang kuat."
"Senjata apa?"
"Mereka akan membantumu ketika orang tua Amanda mulai menolak."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena mereka teman yang baik."
Herman mengangguk. Dia memejamkan mata, berusaha menghilangkan rasa khawatir yang mulai mengganggu pikirannya. Tapi bayangan ayah Amanda yang berkata, "Kamu pikir cinta bisa diukur dengan permen karet?" masih terus menghantuinya.
"Mat, aku takut," bisik Herman.
"Takut apa?"
"Takut bahwa semua ini hanya sementara. Bahwa suatu hari nanti, orang tua Amanda akan melarang kita bertemu. Dan Amanda akan memilih mereka."
"Kalau itu terjadi, maka kamu harus menerima. Tapi kamu tidak akan menyerah, kan?"
"Tidak."
"Itu jawaban yang benar."
Ahmat berdiri, merapikan celananya, lalu berjalan ke pintu. "Istirahatlah, Man. Besok kamu akan bertemu lagi dengan Amanda. Teruslah berjuang. Jangan pernah menyerah."
"Terima kasih, Mat."
"Jangan makasih. Itu tugas teman."
Pintu ditutup. Herman sendirian di kontrakannya yang gelap. Dia memandang langit-langit yang retak-retak, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Tapi langit-langit itu tidak menjawab. Hanya diam seperti biasanya.
Tapi di dalam dadanya, ada keyakinan. Keyakinan bahwa cinta tidak mengenal status sosial. Keyakinan bahwa ketulusan akan selalu menemukan jalannya. Keyakinan bahwa suatu hari nanti, semua keraguan akan sirna, dan yang tersisa hanya cinta.
Cinta yang dimulai dari sehelai permen karet.
BAB 12
RAGIL BERBUHUNG, HERMAN BERJUANG
Ragil mendengar kabar tentang kedekatan Herman dan Amanda dari Iwan, mata-matanya yang paling andal, pada suatu sore yang panas di kantin sekolah. Iwan datang dengan napas tersengal-sengal, seperti baru saja berlari lima putaran keliling lapangan sepak bola, padahal dia hanya berjalan dari lorong utara ke selatan. Wajahnya merah padam, keringat mengalir di pelipisnya, dan matanya membelalak seperti orang yang baru melihat hantu di siang bolong.
"Bos, kabar buruk!" seru Iwan begitu sampai di meja Ragil.
Ragil yang sedang asyik meminum es jeruk, langsung menghentikan sedotannya. "Apa? Herman datang ke sekolah lagi?"
"Lebih buruk dari itu, Bos. Herman sudah traktir gengnya Amanda makan bakso di Dermaga KP3. Mereka semua akrab. Dahlia, Yunita, Anita, Sania, semuanya sudah seperti teman lama. Bahkan Yanto dan Dahlia sudah saling bertukar nomor telepon."
Ragil meletakkan gelas es jeruknya dengan keras di atas meja. Bunyi duar itu membuat beberapa siswa di meja sebelah menoleh, tetapi Ragil tidak peduli. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh senyum, kini berubah menjadi serius. Matanya menyipit, alisnya mengerut, dan bibirnya mengeras seperti batu.
"Bagaimana bisa?" tanya Ragil dengan suara tertahan.
"Herman yang menginisiasi, Bos. Dia yang mengundang mereka. Dia yang traktir. Bahkan konon kabarnya, Herman dan Amanda sudah sering bertemu di luar Car Free Day . Di pasar, di toko HP, bahkan di Dermaga Danau Mare."
Ragil terdiam. Dermaga Danau Mare? Tempat romantis yang hanya diketahui oleh warga lokal? Itu artinya Herman sudah membawa Amanda ke tempat yang spesial. Tempat yang tidak akan diajak sembarang orang. Dan itu berarti hubungan mereka sudah semakin dalam.
"Aku tidak boleh kalah," bisik Ragil pada dirinya sendiri.
"Bos, bagaimana strategi kita?" tanya Feri yang ikut nimbrung.
"Kita harus mempercepat langkah. Herman sudah unggul di beberapa titik. Tapi kita masih punya keunggulan."
"Keunggulan apa, Bos?"
"Uang, mobil, status sosial, dan masa depan yang cerah. Hal-hal yang tidak dimiliki oleh Herman."
Iwan dan Feri mengangguk-angguk. Mereka percaya pada Ragil. Selama ini, Ragil selalu berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Perempuan. Prestasi. Popularitas. Semua bisa dia raih dengan mudah. Amanda mungkin lebih sulit dari yang lain, tapi bukan berarti tidak mungkin.
"Bos, aku dengar orang tua Amanda sangat protektif," kata Sukat yang juga ikut dalam pertemuan dadakan itu. "Mereka tidak akan sembarangan merestui anaknya dekat dengan cowok yang status sosialnya di bawah."
"Itu keunggulan kita," kata Ragil dengan senyum tipis. "Aku akan mendekati orang tua Amanda. Tunjukkan bahwa aku punya masa depan. Bahwa aku layak untuk Amanda. Sementara Herman hanya pekerja kontraktor dengan gaji pas-pasan dan kontrakan bocor."
"Tapi Bos, jangan meremehkan Herman. Dia punya ketulusan. Dan ketulusan kadang lebih kuat daripada uang."
Ragil menatap Sukat dengan mata tajam. "Kamu meragukanku?"
"Bukan meragukan, Bos. Hanya mengingatkan."
"Peringatanmu diterima. Tapi aku tidak akan kalah. Aku Ragil. Aku tidak pernah kalah dalam hal apapun."
Dua hari kemudian, Ragil mulai menjalankan strateginya. Langkah pertama adalah mendekati ibu Amanda. Dia tahu bahwa ibu Amanda sering berbelanja di Pasar Sari Mulya pada Selasa dan Kamis sore. Ragil sudah memetakan jadwal itu dengan bantuan Iwan yang menguntit dari kejauhan (dengan cara yang sangat tidak kentara, tentu saja).
Pada hari Kamis sore, Ragil berdiri di depan lapak sayur langganan ibu Amanda. Dia memakai kemeja batik lengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Penampilannya rapi, seperti anak orang kaya yang baru pulang dari kuliah di kota besar. Dia tersenyum ramah ketika ibu Amanda menghampiri lapak sayur itu.
"Selamat sore, Bu," sapa Ragil dengan suara manis.
Ibu Amanda menoleh. Matanya mengamati Ragil dari ujung rambut sampai ujung sepatu. "Selamat sore, Nak. Kamu siapa? Wajahmu familiar."
"Saya Ragil, Bu. Teman Amanda di sekolah."
"Ragil? Yang sering bawa sup ayam waktu Amanda sakit?"
Ragil tersenyum lebar. Senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berjam-jam. "Iya, Bu. Itu saya."
"Wah, kamu anak yang baik. Ibu masih ingat sup ayamnya. Enak sekali."
"Terima kasih, Bu. Itu buatan ibu saya. Ibu saya suka masak."
"Oh, jadi ibumu yang masak? Hebat sekali. Tolong sampaikan terima kasih saya."
"Baik, Bu. Nanti saya sampaikan."
Ibu Amanda memilih sayuran dengan teliti. Ragil membantu memegangi keranjang belanjaan. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Tentang sekolah, tentang cita-cita, tentang masa depan. Ragil menceritakan bahwa dia ingin melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada, mengambil jurusan manajemen, lalu membantu usaha ayahnya yang bergerak di bidang properti.
Ibu Amanda terkesan. "Kamu anak yang punya rencana. Bagus sekali. Amanda harusnya bergaul dengan orang-orang seperti kamu."
Ragil tersenyum sopan. Di dalam hati, dia bersorak. Langkah pertama berhasil. Ibu Amanda mulai melihatnya sebagai kandidat yang layak untuk Amanda.
"Saya dengar Amanda sering jalan dengan seorang pemuda bernama Herman," kata ibu Amanda tiba-tiba, sambil memilih cabai merah. "Kamu tahu dia?"
Ragil mengatur ekspresinya. Jangan sampai terlihat terlalu antusias. Jangan sampai terlihat terlalu benci. Cukup netral. "Saya tahu, Bu. Herman memang sering mendekati Amanda. Tapi sejujurnya, Bu, saya agak khawatir."
"Khawatir kenapa?"
"Herman bekerja sebagai kontraktor. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu. Tapi penghasilannya tidak tetap. Dia tinggal di kontrakan sempit di belakang pasar. Saya khawatir, jika Amanda terlalu dekat dengan Herman, reputasinya bisa terganggu. Apalagi status keluarga Amanda yang terpandang di kota ini."
Ibu Amanda terdiam. Wajahnya berubah menjadi serius. "Kamu tahu persis tentang Herman?"
"Hanya sekadar tahu, Bu. Saya tidak ingin ikut campur, tapi sebagai teman Amanda, saya merasa perlu mengingatkan."
"Baiklah, Nak. Terima kasih informasinya. Ibu akan pikirkan."
Ragil mengangguk. Dia tidak ingin terdorong terlalu jauh. Cukup sampai di sini. Benih keraguan sudah ditanam di hati ibu Amanda. Sekarang tinggal menunggu sampai benih itu tumbuh menjadi pohon yang kuat.
Di lain pihak, Herman tidak tinggal diam. Dia mendengar dari Yanto bahwa Ragil mulai gencar mendekati ibu Amanda di pasar. Yanto mendapat informasi dari Dahlia, yang mendapat informasi dari ibunya yang kebetulan berteman dengan ibu Amanda. Lingkaran informasi di Kota Kuala Kapuas memang sangat sempit. Satu orang bicara, sepuluh orang tahu.
"Ragil sudah mulai main di belakang," kata Ahmat saat mereka berkumpul di kontrakan Herman pada malam harinya.
"Apa maksudnya main di belakang?" tanya Herman.
"Dia mendekati orang tua Amanda. Memengaruhi mereka dengan kata-kata manis. Membuat citramu buruk di mata mereka."
Herman menghela napas. Dia sudah menduga ini. Ragil tidak akan tinggal diam melihatnya unggul. Ragil akan menggunakan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak sepenuhnya jujur, untuk merebut Amanda darinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Herman.
"Kamu harus membersihkan namamu. Jangan biarkan Ragil menyebarkan fitnah tanpa perlawanan."
"Tapi aku tidak punya bukti. Aku hanya tahu dari Yanto yang tahu dari Dahlia."
"Itu sudah cukup. Yang penting kita punya informasi. Sekarang kita kumpulkan bukti-bukti bahwa Ragil berbohong."
"Bukti apa?"
"Kita selidiki latar belakang Ragil. Cari tahu apakah benar dia playboy. Cari tahu apakah benar dia sering berganti-ganti pacar. Kalau kita punya bukti, kita bisa tunjukkan ke Amanda dan orang tuanya."
Herman setuju. Dia tidak ingin menggunakan cara kotor seperti Ragil. Tapi dia juga tidak bisa tinggal diam. Jika reputasinya dihancurkan, maka semua perjuangannya selama ini akan sia-sia. Dia harus membersihkan namanya, dengan cara yang bersih.
"Bagaimana caranya?" tanya Herman.
"Kita bagi tugas. Yanto dan Dahlia akan mengumpulkan informasi dari teman-teman sekolah. Yuni dan Sania akan mencari tahu dari guru-guru. Herawati dan Anita akan memantau media sosial Ragil. Aku dan Mahdili akan mencari tahu dari teman-teman lamanya."
"Lalu aku?"
"Kamu tetap fokus pada Amanda. Jangan biarkan dia terpengaruh oleh Racun yang disebarkan Ragil. Kamu harus terus meyakinkannya bahwa kamu bukanlah orang yang seperti yang digambarkan Ragil."
Herman mengangguk. Dia akan melakukan tugasnya dengan baik. Dia akan terus berada di sisi Amanda, meskipun dunia berkonspirasi melawannya.
Sementara Tim STS bergerak mengumpulkan informasi, Ragil terus melancarkan serangan. Dia tidak hanya mendekati ibu Amanda, tetapi juga ayah Amanda. Suatu sore, dia datang ke toko sembako milik ayah Amanda dengan membawa oleh-oleh berupa kopi luwak yang katanya sangat langka dan mahal.
"Permisi, Pak," sapa Ragil dengan sopan.
Ayah Amanda yang sedang menghitung stok barang di gudang, menoleh. "Iya, Nak. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya Ragil, Pak. Teman Amanda."
"Ragil? Yang sering disebut-sebut Ibu Amanda?"
"Iya, Pak. Saya hanya mampir, sekalian membawakan kopi untuk Bapak. Kopi luwak asli, Pak. Saya dapat dari tetangga yang baru pulang dari Sumatra."
Ayah Amanda tersenyum. Dia mengambil kopi itu, menimbangnya di tangan seperti orang yang tahu persis nilai sebuah barang. "Ini mahal, Nak. Kamu tidak usah repot-repot."
"Tidak repot, Pak. Anggap saja sebagai rasa hormat saya kepada Bapak."
Mereka berbincang-bincang sebentar. Ragil bercerita tentang ayahnya yang juga pengusaha properti. Tentang rencana masa depannya. Tentang keinginannya untuk memiliki keluarga yang harmonis seperti keluarga Amanda. Ayah Amanda tampak terkesan. Matanya berbinar mendengar cerita Ragil tentang bisnis properti yang sangat dia kuasai.
"Kamu anak yang cerdas, Ragil," puji ayah Amanda. "Orang tuamu pasti bangga."
"Terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha."
"Amanda harusnya punya teman seperti kamu. Teman yang bisa membawanya ke arah yang lebih baik."
Ragil tersenyum. Di dalam hati, dia bersorak lagi. Langkah kedua berhasil. Ayah Amanda juga mulai terpengaruh.
Beberapa hari kemudian, Herman mendengar kabar bahwa orang tua Amanda mulai melarang Amanda bertemu dengannya. Larangan itu disampaikan secara halus, tetapi jelas. Ibu Amanda berkata, "Ndah, Ibu dengar kamu sering jalan dengan Herman. Ibu tidak melarang kamu berteman, tapi jangan terlalu sering. Fokuslah pada sekolahmu dulu."
Amanda yang mendengar itu, langsung curiga. "Mah, siapa yang bilang?"
"Itu bukan masalah. Yang penting Ibu mengingatkan."
"Tapi Mah, Herman baik. Dia tidak seperti yang orang lain katakan."
"Ibu tidak bilang dia tidak baik. Ibu hanya bilang, fokus pada sekolah. Setelah lulus, kamu bebas bergaul dengan siapa pun."
Amanda tidak bisa membantah. Dia hanya bisa diam dan menurut. Tapi di dalam hatinya, dia tahu ada yang tidak beres. Seseorang telah mempengaruhi orang tuanya. Dan orang itu sangat mungkin adalah Ragil.
Malam harinya, Amanda mengirim pesan pada Herman.
@amanda_cans: Herman, orang tuaku mulai melarang aku bertemu denganmu. Aku tidak tahu siapa yang mempengaruhi mereka, tapi aku curiga itu Ragil.
@herman_kontraktor: Aku tahu. Aku sudah dengar. Tapi jangan khawatir. Aku tidak akan menyerah.
@amanda_cans: Kamu harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau kehilangan kamu.
@herman_kontraktor: Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku janji.
@amanda_cans: Janji itu mudah diucapkan, Herman.
@herman_kontraktor: Tapi sulit diingkari. Aku tidak akan mengingkarinya.
Amanda membaca pesan itu berulang-ulang. Air matanya hampir jatuh. Dia percaya pada Herman. Tapi dunia di sekitarnya terlalu berat. Ekspektasi orang tua, gosip teman-teman, dan tekanan sosial yang terus-menerus. Kadang dia merasa lelah. Kadang dia ingin menyerah. Tapi setiap kali dia melihat pesan Herman, setiap kali dia mengingat senyum canggungnya, setiap kali dia merasakan genggaman tangannya yang hangat, dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa cinta sejati layak diperjuangkan.
Tim STS bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari satu minggu, mereka berhasil mengumpulkan informasi yang cukup tentang Ragil. Yanto dan Dahlia menemukan tiga mantan pacar Ragil yang bersedia diwawancarai. Mereka semua bercerita hal yang sama: Ragil adalah playboy. Dia pandai merayu, pandai membuat perempuan merasa istimewa, tapi setelah bosan, dia pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab.
Yuni dan Sania mendapat informasi dari guru BK bahwa Ragil pernah dipanggil karena kasus perundungan terhadap seorang siswa yang lebih muda. Kasus itu tidak sampai ke polisi karena orang tua Ragil menyelesaikannya dengan uang. Herawati dan Anita menemukan bukti di media sosial bahwa Ragil sering memamerkan kekayaannya. Foto mobil mewah, liburan ke luar negeri, pakaian-pakaian mahal. Semua dipamerkan untuk menunjukkan bahwa dia hidup di atas rata-rata.
Ahmat dan Mahdili berhasil mewawancarai mantan sahabat Ragil yang kini sudah tidak berteman lagi karena suatu konflik. Mantan sahabat itu bercerita bahwa Ragil adalah orang yang manipulatif. Dia suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri, lalu membuangnya ketika tidak lagi berguna.
"Kita punya cukup bukti," kata Ahmat dalam rapat Tim STS di kontrakan Herman. "Sekarang tinggal bagaimana cara menyampaikannya ke Amanda dan orang tuanya."
"Kita tidak bisa sembarangan," kata Yuni. "Kalau kita salah menyampaikan, bisa dianggap fitnah."
"Kita harus menyampaikan dengan sopan, berdasarkan fakta, tanpa Emosi."
Herman setuju. Dia tidak ingin menggunakan cara kotor seperti Ragil. Dengan bukti-bukti yang ada, dia akan menyampaikan secara langsung kepada Amanda. Biarkan Amanda yang memutuskan apakah dia percaya atau tidak.
Suatu sore, Herman mengajak Amanda bertemu di Taman Kota Simpang Adipura. Tempat di mana mereka pertama kali bertemu secara tidak sengaja. Tempat di mana kebencian Amanda mulai berubah menjadi rasa penasaran.
"Mengapa kamu ajak aku ke sini?" tanya Amanda.
"Karena di sinilah semuanya mulai berubah," jawab Herman. "Di sinilah aku pertama kali menyadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu. Dan di sinilah aku ingin jujur padamu."
Mereka duduk di bangku kayu yang sama. Herman membuka tas ranselnya, mengeluarkan sebuah map berisi dokumen-dokumen yang dikumpulkan Tim STS. Lalu dia menceritakan semuanya. Tentang Ragil yang mendekati orang tuanya. Tentang fitnah yang disebarkan. Tentang bukti-bukti bahwa Ragil bukanlah orang yang baik.
Amanda membaca semua dokumen itu dengan teliti. Wajahnya berubah dari terkejut menjadi marah, dari marah menjadi sedih, dari sedih menjadi kecewa.
"Jadi, selama ini dia hanya berpura-pura?" bisik Amanda.
"Iya. Dia hanya ingin memenangkan hati orang tuamu, lalu merebutmu dariku."
"Kenapa dia tega melakukan itu?"
"Karena dia tidak tahu arti cinta sejati. Baginya, cinta hanya permainan. Siapa yang menang, siapa yang kalah. Tapi bagiku, cinta bukan permainan. Cinta adalah perjuangan. Cinta adalah pengorbanan. Cinta adalah kejujuran."
Amanda tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menggenggam tangan Herman erat-erat. Di dalam genggaman itu, terkandung rasa terima kasih, rasa percaya, dan rasa cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku akan bicara dengan orang tuaku," kata Amanda akhirnya. "Aku akan tunjukkan bukti-bukti ini. Mereka harus tahu siapa Ragil sebenarnya."
"Jangan terlalu keras pada mereka," kata Herman. "Mereka hanya ingin melindungimu. Mereka tidak tahu bahwa perlindungan mereka salah sasaran."
"Aku tahu. Tapi aku tetap harus bicara."
Mereka duduk di taman itu hingga senja tiba. Matahari tenggelam di ufuk barat, meninggalkan sisa-sisa cahaya keemasan yang indah. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma bunga dari taman.
"Herman," panggil Amanda.
"Ya?"
"Terima kasih sudah jujur padaku."
"Aku tidak akan pernah berbohong padamu, Amanda. Janji."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua tersenyum. Di tengah senja yang perlahan berubah menjadi malam, di bawah gemerlap lampu taman yang mulai menyala, dua hati yang awalnya saling membenci kini bersatu. Bukan karena permen karet. Tapi karena kejujuran. Karena perjuangan. Dan karena cinta.
Keesokan harinya, Amanda datang ke toko sembako ayahnya dengan membawa map berisi dokumen-dokumen itu. Dia menunjukkan semua bukti tentang Ragil. Mantan-mantan pacar. Kasus perundungan. Postingan media sosial yang pamer kekayaan. Semua.
Ayah Amanda membacanya dengan teliti. Wajahnya berubah dari terkejut menjadi marah. "Jadi, selama ini dia hanya memanfaatkan kita?"
"Iya, Yah. Dia ingin mencitrakan diri sebagai anak baik-baik, padahal di belakang dia memfitnah Herman dan berusaha memisahkan aku dari dia."
Ayah Amanda menghela napas panjang. Dia menyesal sudah termakan bujukan Ragil. Dia menyesal sudah melarang Amanda bertemu Herman tanpa mendengar klarifikasi terlebih dahilu.
"Maafkan Ayah, Ndah," kata ayah Amanda. "Ayah terlalu terburu-buru menilai."
"Tidak apa-apa, Yah. Yang penting sekarang Ayah tahu kebenarannya."
"Iya. Sekarang Ayah tahu. Dan Ayah tidak akan melarang kamu bertemu Herman lagi. Tapi tetap jaga batasan. Kamu masih sekolah."
"Baik, Yah."
Amanda keluar dari toko dengan hati yang lega. Dia mengirim pesan pada Herman.
@amanda_cans: Selesai. Orang tuaku tahu semuanya. Mereka tidak akan melarang kita bertemu lagi. Terima kasih, Herman.
@herman_kontraktor: Sama-sama, Amanda. Tapi jangan berterima kasih dulu. Belum selesai.
@amanda_cans: Apa lagi?
@herman_kontraktor: Ragil. Dia masih bebas. Dia masih bisa menyakiti orang lain. Aku harus menghentikannya.
@amanda_cans: Jangan main hakim sendiri, Herman.
@herman_kontraktor: Aku tidak akan. Aku hanya akan memastikan bahwa dia tidak bisa berbuat jahat lagi. Dengan cara yang baik.
Amanda tidak membalas. Dia percaya pada Herman. Herman orang yang baik. Dia tidak akan melakukan hal-hal bodoh. Setidaknya, tidak sengaja.
Di warung kopi favoritnya, Ragil duduk sendirian. Iwan, Feri, dan Sukat tidak datang malam itu. Mungkin mereka sudah tahu bahwa rencana Ragil gagal. Atau mungkin mereka sudah bosan menjadi antek-antek yang selalu disuruh-suruh. Entahlah. Yang jelas, Ragil merasa sendirian untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Dia memandang layar ponselnya. Pesan dari Amanda sudah dia baca. Isinya singkat: Aku tahu semuanya, Ragil. Jangan dekati aku lagi. Jangan dekati orang tuaku lagi. Aku tidak mau melihat wajahmu.
Ragil tersenyum pahit. Dia kalah. Kalah dari seorang pekerja kontraktor yang tidak punya mobil, tidak punya rumah, tidak punya masa depan cerah. Kalah dari seorang pria yang hanya mengandalkan kejujuran dan ketulusan.
"Cinta tidak bisa dibeli dengan uang, Ragil," bisiknya pada dirinya sendiri. "Maaf, aku baru sadar sekarang."
Dia mematikan ponsel, menghabiskan kopinya, lalu berjalan pulang dengan langkah gontai. Malam itu, untuk pertama kalinya, Ragil tidak memikirkan strategi untuk merebut Amanda. Dia hanya memikirkan satu hal: bagaimana menjadi manusia yang lebih baik.
BAB 13
JURUS KE 77 MENGORBANKAN HARGA DIRI DI CAR FREE DAY
Kemenangan Herman atas Ragil bukanlah akhir dari perjuangan. Itu hanyalah awal dari babak baru yang lebih menantang. Karena meskipun orang tua Amanda sudah tidak melarang mereka bertemu, dan meskipun geng Amanda sudah menerima Herman sebagai bagian dari lingkaran pertemanan, ada satu hal yang masih mengganjal di hati Amanda. Sesuatu yang tidak pernah dia bicarakan secara langsung, tetapi selalu muncul di setiap pertemuan mereka, seperti bayangan yang tidak pernah mau pergi meskipun matahari sudah terik di atas kepala.
Sesuatu itu adalah permen karet. Bukan permen karet sebagai benda fisik yang masih setia menempel di baju olahraga putihnya, tetapi permen karet sebagai simbol dari awal mula segalanya. Sebagai simbol dari penghinaan yang tidak sengaja. Sebagai simbol dari luka kecil yang meskipun sudah mulai mengering, tetap meninggalkan bekas yang tidak bisa dihilangkan.
Suatu malam, setelah mereka pulang dari makan malam bersama di Dermaga KP3, Amanda mengirim pesan panjang pada Herman. Pesan yang membuat Herman terjaga semalaman, memandangi langit-langit kontrakannya yang retak-retak, sambil memikirkan arti dari setiap kata yang ditulis Amanda.
@amanda_cans: Herman, aku ingin jujur padamu. Selama ini, meskipun aku sudah mulai nyaman denganmu, meskipun aku sudah mulai percaya padamu, ada satu hal yang masih membuatku tidak bisa sepenuhnya membuka hati. Bukan Ragil. Bukan orang tuaku. Bukan teman-temanku. Tapi permen karet itu. Bukan permen karetnya sebagai benda, karena baju itu sudah lama tidak aku pakai. Tapi permen karet itu sebagai kenangan. Sebagai awal dari segalanya. Aku tidak bisa melupakan bagaimana rasanya ketika di depan umum, di Car Free Day , seorang pria asing menempelkan permen karet di bajuku. Aku merasa direndahkan. Aku merasa tidak dihargai. Aku merasa seperti bahan lelucon. Dan meskipun aku sudah berusaha, aku tidak bisa sepenuhnya memaafkanmu sebelum kamu benar-benar menunjukkan bahwa kamu menyesal. Bukan hanya dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan. Tindakan yang membuatku yakin bahwa kamu tidak akan pernah lagi melakukan hal bodoh seperti itu.
Herman membaca pesan itu berkali-kali. Matanya perih karena kurang tidur, tetapi pikirannya terus berputar mencari solusi. Apa yang diminta Amanda sebenarnya sederhana. Dia hanya ingin Herman menunjukkan penyesalan yang tulus melalui tindakan. Bukan sekadar kata maaf yang diucapkan berkali-kali. Bukan sekadar bunga atau tahu walik atau puisi atau lagu fals. Tapi tindakan yang benar-benar mengorbankan sesuatu. Tindakan yang menunjukkan bahwa Herman rela melakukan apa pun, bahkan hal yang paling memalukan sekalipun, untuk menebus kesalahannya.
"Jurus ke tujuh puluh tujuh," bisik Herman pada dirinya sendiri. "Ini saatnya untuk jurus yang paling berani."
Dia tidak tahu persis apa yang akan dia lakukan. Tapi dia tahu bahwa jurus ini harus spektakuler. Jurus ini harus melibatkan Car Free Day , karena di sanalah semuanya dimulai. Jurus ini harus melibatkan publik, karena di depan publiklah Amanda merasa paling dipermalukan. Dan jurus ini harus melibatkan pengorbanan harga diri, karena hanya dengan mengorbankan harga dirilah Herman bisa menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh menyesal.
Dia mematikan ponsel, memejamkan mata, dan mencoba tidur. Tapi tidur tidak datang. Yang datang hanya bayangan Amanda yang duduk di bangku taman dengan mata sembab, mengatakan bahwa dia belum bisa sepenuhnya memaafkan. Bayangan itu terus menghantuinya sampai fajar menyingsing di ufuk timur.
Pagi harinya, Herman mengadakan rapat darurat Tim STS di kontrakannya. Semua anggota hadir, termasuk Yanto yang masih mengantuk dan Yuni yang sibuk menyisir rambutnya yang kusut. Ahmat yang paling segar di antara mereka, sudah duduk bersila di lantai dengan secangkir kopi hitam di tangan kirinya dan notepad di tangan kanannya.
"Aku butuh ide," kata Herman tanpa basa-basi.
"Ide untuk apa?" tanya Ahmat.
"Untuk jurus ke tujuh puluh tujuh. Jurus yang akan membuat Amanda benar-benar memaafkanku."
"Bukannya dia sudah memaafkanmu?" tanya Yanto sambil menguap.
"Secara lisan, ya. Tapi di dalam hati, masih ada luka. Luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata. Aku harus menunjukkan penyesalanku dengan tindakan nyata."
Mereka semua terdiam. Masing-masing berpikir keras. Yanto berpikir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mahdili berpikir sambil memainkan ponselnya. Yuni berpikir sambil terus menyisir rambutnya meskipun rambutnya sudah tidak kusut lagi. Herawati berpikir sambil menggigit bibir bawahnya. Ahmat berpikir sambil menyesap kopinya pelan-pelan.
"Bagaimana kalau kamu jogging telanjang di Car Free Day ?" tiba-tiba Yanto mengajukan ide.
Semua mata tertuju pada Yanto. Ada yang melotot, ada yang menggeleng, ada yang menutup muka karena malu.
"Yanto, itu ide terburuk yang pernah kamu lontarkan sepanjang sejarah persahabatan kita," kata Herawati.
"Tapi kan itu mengorbankan harga diri?" Yanto membela diri.
"Mengorbankan harga diri beda dengan menjadi bahan tontonan publik yang menjijikkan."
"Ya sudah, kalau tidak jogging telanjang, bagaimana kalau jogging pakai kostum badut?"
Ahmat yang dari tadi diam, tiba-tiba meletakkan gelas kopinya. Matanya berbinar. "Kostum badut. Itu ide yang menarik, Yanto."
"Hei, serius? Ideku diterima?" Yanto terkejut.
"Ide jogging telanjang tidak. Tapi ide kostum badut, ya. Itu bisa kita olah."
Herman mengerutkan dahi. "Kostum badut? Maksudnya aku jogging di Car Free Day pakai kostum badut?"
"Iya. Kamu jogging membawa balon. Di balon itu kamu tulis permintaan maafmu. 'Amanda, maafkan permen karetnya.' Atau kalimat lain yang lebih puitis."
"Bukankah itu akan membuatku semakin terlihat seperti orang gila?"
"Itulah gunanya. Dengan menjadi orang gila di depan umum, kamu menunjukkan bahwa kamu rela melakukan apa pun, bahkan hal yang paling memalukan sekalipun, untuk meminta maaf pada Amanda. Itu pengorbanan harga diri sejati."
Herman terdiam. Ide Ahmat Cs memang gila. Tapi bukankah semua ide yang berhubungan dengan Amanda selalu gila? Dia sudah melakukan hal-hal gila sebelumnya. Berlutut di rumah Amanda. Menyanyikan lagu fals di Danau Mare. Menjadi kuli angkat di toko sembako. Jadi, apa bedanya menambah satu kegilaan lagi? Paling-paling dia akan dianggap sinting oleh seluruh warga Car Free Day . Tapi setidaknya Amanda akan tahu bahwa dia serius. Bahwa dia tidak main-main. Bahwa dia rela mengorbankan apapun, bahkan harga dirinya yang terakhir, demi mendapatkan maaf darinya.
"Baiklah," kata Herman akhirnya. "Aku setuju. Tapi aku butuh kostum badut."
"Aku bisa pinjam dari keponakanku," kata Yuni. "Dia punya kostum badut lengkap dengan hidung merah dan wig warna-warni."
"Bagus. Sekarang kita siapkan balonnya. Herman, kamu mau tulis apa di balon itu?"
Herman berpikir sejenak. "Tulis saja, 'Amanda, maafkan permen karetnya. Aku serius menyesal.'"
"Terlalu panjang. Balonnya tidak muat."
"'Maafkan permen karetku'?"
"Masih panjang."
"'Maafkan aku, Amanda'?"
"Bisa. Singkat, padat, dan jelas."
"Baik. 'Maafkan aku, Amanda'."
Mereka berlima mengangguk setuju. Rencana sudah matang. Sekarang tinggal eksekusi. Herman akan jogging di Car Free Day pada minggu depan, memakai kostum badut, membawa balon bertuliskan permintaan maaf. Teman-temannya akan berada di pinggir jalur jogging untuk memberi dukungan moral. Dan Amanda akan menjadi saksi dari kegilaan terbesar Herman sepanjang hidupnya.
Hari yang dinanti pun tiba. Minggu pagi, matahari terbit dengan cerah seperti biasa. Langit biru tanpa awan, angin berhembus sepoi-sepoi, dan ribuan warga mulai memadati area Car Free Day . Ada yang senam, ada yang jogging, ada yang sekadar cuci mata. Herman datang dengan kostum badut yang dipinjam dari keponakan Yuni. Kostum itu berwarna-warni, berukuran sedikit terlalu kecil untuk tubuhnya yang tidak terlalu besar tetapi tidak terlalu kecil. Celananya panjang, tetapi bajunya agak sempit di bagian dada. Wig merah menyala menutupi rambutnya yang hitam. Hidung merah bulat menempel di ujung hidung aslinya yang sudah mancung. Sepatu besarnya terasa berat, seperti membawa batu bata di setiap langkah.
"Kamu siap?" tanya Ahmat.
"Siap atau tidak, aku sudah di sini," jawab Herman.
"Bagus. Ingat, jangan malu. Anggap saja semua orang yang melihatmu adalah patung. Mereka tidak punya mulut untuk tertawa. Mereka tidak punya mata untuk melihat. Mereka hanya patung."
"Itu tidak membantu, Mat."
"Aku tahu. Tapi setidaknya kau sudah berusaha."
Herman menarik napas panjang. Dia memegang balon berwarna pink yang sudah ditiup dengan helium. Balon itu mengambang di atas kepalanya, bertuliskan dengan huruf besar berwarna merah: "MAAFKAN AKU, AMANDA." Di bawahnya ada gambar permen karet kecil yang digambar dengan spidol hitam. Sederhana, tetapi cukup jelas.
"Baiklah. Aku mulai."
Herman mulai jogging. Perlahan pada awalnya, karena sepatu besarnya terasa sangat berat. Kemudian sedikit lebih cepat, setelah dia terbiasa dengan bebannya. Wig merahnya bergoyang-goyang tertiup angin. Hidung merahnya sesekali hampir terlepas, tetapi dia selalu menyentuhnya dengan tangan kiri untuk memastikan masih menempel dengan baik.
Warga Car Free Day mulai memperhatikannya. Seorang ibu-ibu yang sedang senam berhenti bergerak, matanya mengikuti Herman dari kejauhan. Seorang bapak-bapak yang sedang jogging memperlambat langkahnya, mulutnya terbuka setengah, seperti sedang melihat fenomena alam yang langka. Anak-anak kecil yang sedang bermain sepeda berhenti di pinggir jalan, lalu tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk ke arah Herman.
"Ibu, lihat! Ada badut jogging!" teriak seorang anak laki-laki.
"Iya, Nak. Itu badut lagi olahraga."
"Lucu banget, Bu!"
Herman mendengar semua itu. Dadanya berdebar keras. Jantungnya terasa mau keluar dari rongga dada. Tapi dia tidak berhenti. Dia terus melangkah, terus jogging, membawa balon permintaan maafnya, berkeliling di sepanjang jalur Car Free Day .
Di pinggir jalan, teman-temannya memberi dukungan. Yanto berteriak, "SEMANGAT, MAN! KAMU HEBAT!" Mahdili bersiul nyaring. Yuni dan Herawati bertepuk tangan. Ahmat hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol. Herman tidak menoleh. Fokus pada jalan di depannya. Fokus pada satu tujuan: bertemu Amanda.
Setelah hampir sepuluh menit jogging, Herman melihat rombongan Amanda dari kejauhan. Mereka berlari kecil dengan formasi yang sama seperti biasanya. Amanda di depan, diikuti oleh Dahlia, Yunita, Anita, dan Sania. Wajah mereka masih biasa, belum melihat Herman karena jarak masih cukup jauh.
Herman mempercepat langkahnya. Sepatu besarnya berbunyi tak... tak... tak... di aspal. Balon pinknya melambai-lambai di atas kepalanya. Wig merahnya hampir terbang, tetapi dia tahan dengan tangan kanannya.
Rombongan Amanda semakin dekat. Jarak tinggal lima puluh meter. Empat puluh. Tiga puluh.
Amanda melihatnya.
Matanya membelalak. Mulutnya terbuka. Wajahnya berubah dari biasa menjadi terkejut, dari terkejut menjadi bingung, dari bingung menjadi... tidak tahu harus bereaksi apa.
"H-Herman?" suara Amanda terdengar gagap.
Herman berhenti tepat di depan Amanda. Dadanya naik turun karena kelelahan. Keringat bercucuran di dahi, membuat cat di wajahnya sedikit luntur. Hidung merahnya miring ke kanan, memberikan kesan yang lebih absurd dari yang sudah absurd.
"Amanda," kata Herman sambil mengatur napas.
"K-Kamu... pakai kostum badut?"
"Iya."
"Bawa balon?"
"Iya."
"Bertuliskan 'Maafkan aku, Amanda'?"
"Iya."
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini?"
Herman menarik napas panjang. Dia melepaskan balon dari tangannya, membiarkannya mengambang di udara. Balon itu naik perlahan, berhenti di ketinggian sekitar dua meter, lalu bergoyang-goyang tertiup angin. Semua mata tertuju padanya. Semua telinga mendengarkan.
"Amanda, aku minta maaf," kata Herman dengan suara lantang, cukup untuk didengar oleh puluhan orang di sekitarnya. "Aku minta maaf karena sudah menempelkan permen karet di bajumu. Aku minta maaf karena sudah mempermalukanmu di depan umum. Aku minta maaf karena sudah membuatmu marah, kesal, dan benci. Tapi yang paling aku sesali, aku minta maaf karena sudah membuatmu ragu bahwa aku sungguh-sungguh menyesal."
Amanda terdiam. Matanya berkaca-kaca. Mulutnya bergetar. Dia ingin marah. Dia ingin tertawa. Dia ingin menangis. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu, seperti sayur sop yang kebanyakan bumbu.
"Kamu tahu, Herman," kata Amanda dengan suara tertahan. "Kamu bisa saja minta maaf dengan cara biasa. Cukup datang ke rumahku, bilang maaf, lalu pergi."
"Tapi itu tidak cukup, Amanda. Kamu sudah bilang, kamu butuh tindakan. Kamu butuh bukti bahwa aku benar-benar menyesal. Maka inilah buktinya. Aku rela menjadi badut di Car Free Day . Aku rela ditertawakan oleh ribuan orang. Aku rela kehilangan harga diri. Semua demi kamu. Demi maaf yang tulus darimu."
Air mata Amanda jatuh. Dia tidak bisa menahannya lagi. Bukan air mata sedih. Bukan air mata marah. Tapi air mata haru. Air mata yang keluar karena seseorang rela melakukan hal gila hanya untuk meminta maaf padanya.
"Kamu gila, Herman."
"Aku tahu."
"Kamu benar-benar gila."
"Aku sudah bilang dari awal."
"Tapi...," Amanda berhenti sebentar, mengusap air matanya dengan punggung tangan, "...entah mengapa, kegilaanmu membuatku... gemas."
Herman mengerjap. "Gemas? Maksudnya?"
"Maksudnya, aku jadi... tidak bisa marah lagi. Aku jadi... ingin memaafkanmu. Sungguh-sungguh memaafkanmu. Bukan karena kamu pakai kostum badut. Tapi karena kamu berani melakukan hal ini di depan umum. Kamu berani mengorbankan harga dirimu. Itu lebih dari cukup sebagai bukti penyesalanmu."
"Jadi, kamu memaafkanku?"
Amanda tidak menjawab dengan kata-kata. Dia berjalan mendekat, lalu meraih tangan Herman. Genggamannya erat, hangat, penuh dengan makna. Di dalam genggaman itu, Herman menemukan jawaban yang dia cari selama ini. Maaf. Memaafkan. Dan mungkin, sedikit demi sedikit, cinta.
"Maafkan aku, Amanda," bisik Herman.
"Kamu sudah aku maafkan, Herman. Sejak di Dermaga Danau Mare. Hanya saja aku belum siap mengakuinya."
"Kenapa kamu belum siap?"
"Karena aku takut. Takut bahwa setelah aku memaafkanmu, kamu akan pergi. Takut bahwa maafku akan membuatmu merasa cukup, lalu kamu berhenti berusaha. Tapi sekarang aku sadar, kamu tidak akan pergi. Kamu tidak akan berhenti. Kamu akan terus berusaha, meskipun sudah dimaafkan. Karena kamu bukan mengejar maafku. Kamu mengejar hatiku."
Herman tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah dia tunjukkan di depan Amanda. "Amanda, aku tidak akan pernah berhenti berusaha. Bahkan setelah kamu menjadi milikku, aku akan terus berusaha. Karena cinta bukan hanya tentang mendapatkan. Tapi tentang menjaga."
Amanda tersenyum balik. Senyum yang tulus. Senyum yang tidak lagi dibatasi oleh rasa benci atau ragu atau takut. Hanya senyum yang lahir dari hati yang mulai terbuka.
Mereka berdua berdiri di tengah keramaian Car Free Day , berpegangan tangan, saling menatap, tanpa peduli dengan ribuan pasang mata yang memperhatikan. Di sekeliling mereka, orang-orang bertepuk tangan. Ada yang bersiul. Ada yang berteriak, "CINTA BENERAN, NIH!" Ada yang merekam dengan ponsel untuk diunggah ke media sosial. Tapi Herman dan Amanda tidak peduli. Mereka hanya peduli satu sama lain.
Dahlia yang menjadi saksi dari kejadian itu, menangis haru. "Akhirnya... akhirnya mereka berdua akur."
"Jangan nangis, Lia," kata Yunita sambil menyodorkan tisu. "Nanti make upmu rusak."
"Biar rusak. Yang penting Amanda bahagia."
Anita dan Sania hanya tersenyum. Mereka sudah menduga bahwa suatu hari nanti, Herman dan Amanda akan bersatu. Meskipun dengan cara yang paling tidak terduga. Meskipun dengan drama yang paling absurd.
Di sisi lain, Yanto memeluk Ahmat erat-erat. "Kita berhasil, Mat! Kita berhasil!"
"Belum berhasil, Yanto. Ini baru awal."
"Awal dari apa?"
"Awal dari hubungan yang sesungguhnya. Sekarang Herman harus membuktikan bahwa dia bukan hanya bisa mendapatkan Amanda, tapi juga bisa menjaganya."
"Ah, Mat, kamu terlalu serius. Nikmati dulu kemenangannya."
Ahmat tersenyum. Dia melepas pelukan Yanto, lalu bertepuk tangan bersama yang lain. Herman pantas bahagia. Setelah puluhan jurus gagal, akhirnya dia menemukan satu jurus yang berhasil. Bukan jurus yang paling cerdik. Bukan jurus yang paling elegan. Tapi jurus yang paling tulus. Jurus yang lahir dari hati yang benar-benar menyesal dan benar-benar ingin memperbaiki kesalahan.
Setelah Car Free Day usai, Amanda mengajak Herman ke dermaga KP3. Mereka duduk di bangku kayu yang sama seperti beberapa minggu lalu, ketika Herman pertama kali mentraktir geng Amanda. Tapi kali ini, hanya mereka berdua. Tidak ada Dahlia. Tidak ada Yanto. Hanya Herman dan Amanda, berdua di tepi sungai Kapuas Murung yang mengalir tenang.
"Herman, aku ingin bertanya sesuatu," kata Amanda.
"Tanya apa?"
"Apakah kamu tidak malu? Jogging pakai kostum badut di depan umum?"
"Malu. Tapi rasa maluku tidak sebesar rasa ingin mendapatkan maafmu."
"Kamu benar-benar tidak punya harga diri, ya."
"Bukan tidak punya. Tapi harga diriku tidak lebih penting daripada perasaanmu."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi senyumnya tidak bisa dia sembunyikan. "Kamu aneh, Herman. Aneh sekali."
"Aneh yang membuatmu jatuh cinta?"
"Jangan terlalu percaya diri. Aku belum jatuh cinta. Aku baru... menyukaimu."
"Menyukai itu awal dari jatuh cinta."
"Kamu terlalu banyak teori."
"Aku belajar dari pengalaman."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lepas, tawa yang tulus, tawa yang tidak lagi dibebani oleh rasa benci atau ragu. Di bawah sinar matahari pagi yang semakin meninggi, di tepi sungai yang airnya berkilauan, dua remaja yang awalnya saling membenci kini duduk berdampingan, berbagi cerita, berbagi mimpi, berbagi harapan.
"Amanda," panggil Herman.
"Ya?"
"Aku janji tidak akan pernah menempelkan permen karet di bajumu lagi."
"Kalau kamu melakukannya lagi?"
"Aku akan jogging pakai kostum badut seumur hidup."
Amanda tertawa lagi. "Aku simpan janjimu itu. Jangan sampai kamu ingkar."
"Aku tidak akan ingkar. Aku orang yang menepati janji."
"Kita lihat saja."
Mereka berdua duduk di dermaga itu hingga matahari meninggi, hingga perut mereka keroncongan karena belum sarapan, hingga akhirnya Herman mengajak Amanda makan bakso di lapaknya Pak RT. Amanda setuju. Mereka berjalan berdampingan, sesekali bersenggolan tangan, sesekali tersenyum canggung. Tidak ada yang berani memegang tangan yang lain. Tidak ada yang berani melangkah lebih jauh. Tapi di dalam hati, mereka sudah saling memiliki. Dan itu sudah cukup untuk hari ini.
BAB 14
MAKIN DEKAT, MAKIN RUWET
Setelah Herman resmi mendapatkan maaf dari Amanda di Car Free Day dengan cara yang paling spektakuler dan paling memalukan sepanjang sejarah Car Free Day , hubungan mereka memasuki fase baru. Fase di mana tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi kemarahan, tidak ada lagi permen karet yang mengganjal di hati. Yang tersisa hanyalah rasa suka yang tumbuh dengan subur seperti rumput liar di musim hujan, cepat, lebat, dan kadang sulit dikendalikan. Herman dan Amanda mulai sering bertemu di luar Car Free Day . Bukan hanya di pasar atau di toko HP. Tapi juga di tempat-tempat yang lebih personal, seperti di rumah masing-masing, di kafe-kafe kecil yang sepi, atau di tepi sungai Kapuas Murung pada sore hari ketika matahari mulai condong ke barat dan air sungai berubah warna menjadi keemasan.
Namun, seperti pepatah mengatakan, semakin dekat seseorang dengan kita, semakin banyak pula masalah yang muncul. Bukan karena mereka berdua tidak cocok, tetapi karena kedekatan membawa konsekuensi. Kedekatan berarti lebih sering bertemu, lebih sering berinteraksi, lebih sering melihat sisi-sisi buruk satu sama lain yang sebelumnya tersembunyi di balik topeng kesopanan. Herman mulai menyadari bahwa Amanda tidak hanya galak di depan umum, tetapi juga keras kepala di dalam rumah. Dia tidak suka diatur, tidak suka ditegur, dan tidak suka jika rencananya diganggu oleh hal-hal sepele. Sementara Amanda mulai menyadari bahwa Herman tidak hanya konyol di depan umum, tetapi juga ceroboh di dalam kehidupan sehari-hari. Dia sering lupa janji, sering terlambat datang, dan sering tidak sadar bahwa kata-katanya kadang menyakitkan meskipun tidak dia maksudkan.
Suatu sore, mereka bertengkar untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi sepasang kekasih (meskipun status "pacar" belum pernah mereka bicarakan secara terbuka). Pertengkaran itu dimulai dari hal yang sepele: Herman lupa membawakan tahu walik untuk Amanda seperti yang dia janjikan seminggu yang lalu.
"Kamu bilang kamu akan belikan tahu walik, Herman," kata Amanda dengan suara sedikit tinggi. Mereka sedang duduk di sebuah kafe kecil di dekat Pasar Sari Mulya, menikmati es teh manis dan pisang goreng.
"Aku lupa," jawab Herman jujur.
"Lupa? Kamu selalu lupa. Minggu lalu lupa membawakan buku yang aku pinjamkan. Dua minggu lalu lupa datang ke rumahku tepat waktu. Sekarang lupa tahu walik. Kapan kamu tidak lupa?"
"Aku tidak lupa dengan kamu. Aku tidak lupa dengan perasaan aku ke kamu."
"Tapi kamu lupa dengan hal-hal kecil. Dan hal-hal kecil itu penting, Herman. Karena dari hal-hal kecil aku bisa menilai seberapa besar kamu peduli."
Herman terdiam. Dia tidak bisa membantah. Amanda benar. Dia memang sering lupa dengan hal-hal kecil. Bukan karena dia tidak peduli, tetapi karena pikirannya terlalu sibuk dengan pekerjaan, dengan proyek perumahan yang deadlines nya mepet, dengan keuangan yang selalu tipis, dan dengan seribu masalah lain yang tidak pernah dia ceritakan pada Amanda. Tapi dia tidak mau menyalahkan kesibukannya. Itu akan terdengar seperti alasan.
"Maaf, Amanda. Aku akan coba lebih ingat."
"Kamu selalu bilang akan coba. Tapi kapan berhasilnya?"
Herman tidak menjawab. Dia hanya menunduk, memainkan sedotan es teh manisnya yang sudah tidak berisi. Amanda melihat kekalahannya. Untuk sesaat, kemarahannya mereda, digantikan oleh rasa kasihan. Dia tahu Herman bukan orang jahat. Dia tahu Herman tidak sengaja melupakan hal-hal kecil. Tapi sebagai seorang perempuan yang terbiasa diperhatikan oleh orang tuanya (meskipun kadang perhatian itu berlebihan), Amanda merasa bahwa perhatian adalah bentuk cinta yang paling konkret. Jika Herman tidak bisa memberikan perhatian pada hal-hal kecil, bagaimana dia bisa memberikan perhatian pada hal-hal besar di masa depan?
"Herman," panggil Amanda dengan suara lebih lembut.
"Ya?"
"Aku tidak marah. Aku hanya kecewa."
"Itu lebih buruk dari marah."
"Mungkin. Tapi setidaknya aku jujur."
Herman mengangguk. Amanda memang selalu jujur. Kadang kejujurannya menyakitkan, tetapi Herman lebih suka itu daripada kebohongan yang manis. "Aku akan berubah, Amanda. Aku janji."
"Jangan janji dulu. Buktikan."
"Baik. Aku akan buktikan."
Mereka berdua duduk diam beberapa saat. Tidak ada yang bicara. Hanya suara mesin kafe yang berdengung pelan dan suara pengunjung lain yang berbincang-bincang. Di luar jendela, hujan mulai turun. Gerimis pada awalnya, kemudian semakin deras, mengguyur atap-atap seng di pasar dengan suara yang keras dan berirama.
"Aku tidak bawa payung," kata Amanda.
"Aku juga tidak."
"Kita kehujanan."
"Kita bisa menunggu sampai reda."
"Tapi aku harus pulang. Ibu sudah menunggu."
Herman melepas jaketnya, lalu menyerahkannya pada Amanda. "Pakai ini. Untuk melindungi kepalamu."
"Kamu tidak akan kedinginan?"
"Aku sudah biasa. Dokter bilang aku kelebihan panas badan."
"Itu bukan alasan medis."
"Tapi berhasil membuatmu tersenyum."
Amanda tersenyum kecil. Dia menerima jaket Herman, memakainya di atas kepalanya, lalu berjalan keluar kafe. Herman mengikutinya, basah kuyup di tengah hujan, tetapi tidak peduli. Yang dia peduli hanyalah Amanda yang sedikit terlindungi dari air hujan.
Mereka berjalan cepat di trotoar yang basah. Genangan air di mana-mana membuat sepatu mereka basah. Amanda sesekali menoleh ke belakang, memastikan Herman masih mengikutinya. Herman selalu ada di sana, dengan senyum canggungnya, dengan jaket yang sudah tidak dipakainya, dengan hati yang basah kuyup oleh hujan dan cinta.
"Sampai di sini," kata Amanda ketika mereka tiba di depan rumahnya. Dia melepas jaket Herman, lalu mengembalikannya. "Terima kasih."
"Sama-sama."
"Kamu masuk, mandi, ganti baju. Jangan sampai sakit."
"Huajan ini tidak akan membuatku sakit."
"Kamu keras kepala."
"Kamu juga."
Mereka berdua tersenyum. Amanda masuk ke halaman rumah, membuka pintu, lalu melambai sebelum menutupnya. Herman berdiri di depan pagar beberapa saat, menikmati sisa-sisa kehangatan pertemuan mereka, meskipun tubuhnya basah dan dingin.
Dia berjalan pulang dengan langkah berat. Sepatu squit-squit karena penuh air. Jaketnya basah. Rambutnya basah. Tapi hatinya hangat.
Sementara itu, di dalam rumah, Ibu Amanda melihat anak perempuannya masuk dengan wajah yang sedikit basah oleh air hujan. Matanya langsung menyelidik.
"Kamu kehujanan?"
"Iya, Mah. Hujan deras tiba-tiba."
"Dengan siapa?"
"Dengan... teman."
"Teman yang mana? Herman?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya berjalan ke kamarnya, menghindari pertanyaan ibunya. Tapi Ibu Amanda tidak bodoh. Dia tahu bahwa anak perempuannya semakin dekat dengan Herman. Dan dia tidak sepenuhnya nyaman dengan kedekatan itu.
Bukan karena Herman tidak baik. Herman baik. Herman jujur. Herman pekerja keras. Tapi Herman tidak punya masa depan yang jelas. Pekerjaan kontraktor tidak tetap. Penghasilannya pas-pasan. Dia tinggal di kontrakan sempit di belakang pasar. Bagaimana mungkin dia bisa membahagiakan Amanda? Bagaimana mungkin dia bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak semata wayangnya?
Ibu Amanda menghela napas. Dia memandang ke arah kamar Amanda, lalu berbisik pada dirinya sendiri, "Ibu harus melakukan sesuatu."
Keesokan harinya, Ibu Amanda datang ke kontrakan Herman tanpa pemberitahuan. Dia tahu alamat kontrakan itu dari Dahlia yang tidak sengaja menyebutkannya di depan ibu Amanda saat berkunjung ke rumah. Ibu Amanda datang dengan mobil, ditemani oleh sopir pribadinya. Dia memakai daster batik dan sandal jepit, tetapi aura kewibawaannya tetap terpancar meskipun dengan pakaian sederhana.
Herman yang sedang mandi, kaget bukan kepalang ketika mendengar ketukan pintu yang keras. Dia menyelesaikan mandinya dengan terburu-buru, memakai baju seadanya, lalu membuka pintu. Di depan pintu, berdiri Ibu Amanda dengan ekspresi serius.
"Bu... Ibu Amanda?" Herman gagap.
"Ibu bisa masuk?"
"Bisa, Bu. Silakan."
Ibu Amanda masuk ke kontrakan. Matanya mengamati ruangan sempit 3x4 itu. Kasur lipat yang sudah kempes, lemaka kecil dengan cat mengelupas, kipas angin yang berputar lambat, dan dinding-dinding yang lembab. Ini bukan tempat yang layak untuk ditinggali. Apalagi untuk dikunjungi oleh mertua potensial.
"Maaf, Bu. Rumahnya kecil. Tidak rapi," kata Herman sambil merapikan selimut yang berantakan di kasur.
"Tidak apa-apa, Herman. Ibu tidak datang untuk menilai rumahmu."
"Lalu Ibu datang untuk apa?"
Ibu Amanda duduk di kursi plastik satu-satunya yang ada di kontrakan itu. Herman duduk di lantai, di depannya. Mereka berhadapan seperti seorang pimpinan perusahaan yang sedang mewawancarai calon pegawai.
"Herman, Ibu tidak suka basa-basi. Ibu akan terus terang."
"Silakan, Bu."
"Ibu tahu kamu dekat dengan Amanda. Ibu tahu kamu menyukainya. Dan Ibu tahu Amanda juga mulai menyukaimu. Tapi Ibu tidak bisa merestui hubungan kalian."
Herman terdiam. Dadanya terasa sesak. Dia sudah menduga ini. Sejak awal, dia tahu bahwa status sosialnya akan menjadi penghalang terbesar dalam hubungannya dengan Amanda. Tapi mendengarnya langsung dari mulut ibu Amanda, rasanya seperti ditampar dengan handuk basah.
"Boleh saya tahu alasannya, Bu?"
"Alasannya sederhana, Herman. Kamu tidak punya masa depan yang jelas. Pekerjaanmu tidak tetap. Penghasilanmu pas-pasan. Kamu tinggal di kontrakan sempit. Bagaimana kamu bisa membahagiakan Amanda? Bagaimana kamu bisa memberikan kehidupan yang layak untuknya?"
Herman menunduk. Jari-jarinya gemetar. Dia ingin marah. Dia ingin membantah. Tapi semua argumennya terasa lemah di hadapan kenyataan yang pahit ini.
"Saya mengerti kekhawatiran Ibu, Bu," kata Herman dengan suara tertahan. "Tapi saya mohon, jangan menilai saya hanya dari apa yang Ibu lihat sekarang. Saya masih muda. Saya masih punya banyak waktu untuk memperbaiki diri. Saya akan bekerja lebih keras. Saya akan menabung. Saya akan membangun masa depan yang layak untuk Amanda."
"Kata-kata manis, Herman. Tapi kata-kata tidak bisa memberi makan. Kata-kata tidak bisa membeli rumah. Kata-kata tidak bisa membiayai sekolah anak."
"Ibu benar. Karena itu saya tidak hanya berkata-kata. Saya akan bertindak. Saya akan buktikan bahwa saya layak untuk Amanda."
Ibu Amanda menghela napas. Dia tidak ingin bersikap kejam pada Herman. Tapi sebagai seorang ibu, dia harus melindungi anaknya. Dunia ini kejam. Perempuan harus dilindungi oleh laki-laki yang mapan, bukan laki-laki yang masih berjuang di ujung tanduk.
"Ibu tidak akan melarang kamu bertemu Amanda," kata Ibu Amanda. "Tapi Ibu minta kamu menjaga jarak. Jangan terlalu dekat. Jangan sampai timbul perasaan yang terlalu dalam. Karena jika suatu saat nanti kamu tidak bisa memenuhi harapan Amanda, luka yang ditinggalkan akan sangat dalam."
Herman ingin berteriak, "Tapi perasaan itu sudah ada, Bu! Sudah terlalu dalam! Tidak bisa dijaga jarak lagi!" Tapi dia tidak punya nyali. Dia hanya diam, menunduk, menerima setiap kata Ibu Amanda seperti pukulan tinju di perut.
"Baik, Bu. Saya akan coba."
"Jangan coba. Lakukan."
"Baik, Bu. Saya akan lakukan."
Ibu Amanda berdiri. Dia berjalan ke pintu, lalu berbalik untuk terakhir kalinya. "Herman, Ibu tidak membenci kamu. Ibu hanya melindungi anak Ibu. Suatu hari nanti, jika kamu sudah berhasil, jika kamu sudah mapan, Ibu akan dengan senang hati menerimamu sebagai bagian dari keluarga."
"Terima kasih, Bu. Kata-kata Ibu akan saya ingat."
Ibu Amanda pergi. Pintu kontrakan ditutup. Herman sendirian di ruangan sempit itu, dengan kipas angin yang masih berputar lambat, dengan dinding-dinding lembab, dengan langit-langit retak. Dia menangis. Bukan karena sakit hati. Bukan karena marah. Tapi karena dia sadar bahwa Ibu Amanda benar. Dia belum layak untuk Amanda. Dia masih jauh dari kata mapan. Dan jika dia terus memaksakan hubungan ini tanpa persiapan yang matang, dia hanya akan menyakiti Amanda pada akhirnya.
Malam harinya, Amanda menelepon Herman. Suaranya panik.
"Herman, Ibu bilang dia sudah datang ke kontrakanmu. Apa yang dia katakan?"
"Tidak apa-apa. Dia hanya mengingatkanku untuk fokus kerja."
"Jangan bohong, Herman. Aku tahu Ibu. Pasti dia bilang sesuatu yang menyakitkan."
Herman terdiam. Dia tidak ingin berbohong pada Amanda. Tapi dia juga tidak ingin membuat Amanda marah pada ibunya. "Dia bilang aku belum layak untukmu."
"Dan kamu?"
"Aku setuju."
"Setuju? KAMU SETUJU?"
"Amanda, dengarkan aku. Ibumu benar. Aku belum layak. Aku belum punya masa depan yang jelas. Aku belum mapan. Jika kita terus memaksakan hubungan ini tanpa persiapan, kita hanya akan saling menyakiti."
"Jadi, kamu mau putus?"
"Tidak. Aku tidak mau putus. Aku hanya ingin kita melambat. Aku hanya ingin kamu memberiku waktu. Waktu untuk membuktikan bahwa aku layak."
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu. Mungkin setahun. Mungkin dua tahun. Mungkin lebih."
"Aku tidak bisa menunggu selama itu, Herman."
"Kamu tidak harus menunggu. Kamu bisa melanjutkan hidupmu. Kamu bisa bertemu dengan laki-laki lain yang lebih layak."
"Kamu tega?"
"Tidak tega. Tapi aku tidak egois."
Amanda menangis di ujung telepon. Herman mendengar isak tangisnya. Dadanya terasa seperti diremas-remas oleh tangan raksasa. Tapi dia tidak bisa menyerah pada perasaannya sendiri. Dia harus realistis. Cinta saja tidak cukup. Butuh persiapan, butuh kematangan, butuh kesiapan materi.
"Herman, aku benci kamu," isak Amanda.
"Aku tahu."
"Tapi aku juga sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu. Karena itu aku rela mundur."
"Jangan mundur, Herman. Mundur itu untuk tentara, bukan untuk kekasih."
Herman tersenyum pahit. "Kita bukan kekasih, Amanda. Kita baru sebatas teman dekat."
"Tapi aku ingin lebih."
"Aku juga ingin lebih. Tapi tidak sekarang. Beri aku waktu."
"Baik. Aku akan beri kamu waktu. Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak sabar."
Herman mengangguk meskipun Amanda tidak bisa melihatnya. "Janji."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua terdiam. Hanya suara napas yang terdengar di sela-sela sambungan telepon. Suara napas yang berirama, seperti dua orang yang sedang berjalan bersama di jalan yang sama, meskipun terpisah oleh jarak dan waktu.
"Selamat malam, Herman."
"Selamat malam, Amanda."
Telepon ditutup. Herman memandang ponselnya yang sudah gelap. Layarnya memantulkan wajahnya yang lelah, yang basah oleh air mata, yang penuh dengan keraguan.
"Haruskah aku mundur?" bisiknya pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang menjawab. Hanya langit-langit kontrakan yang retak-retak, yang selalu menjadi saksi bisu setiap kegalauannya.
BAB 15
UJIAN SEKOLAH, UJIAN HATI
Keputusan Herman untuk melambatkan hubungan dengan Amanda tidak berjalan mulus. Bagaimana mungkin berjalan mulus ketika dua orang yang saling menyukai dipaksa untuk menjaga jarak, seperti dua planet yang ditarik oleh gravitasi yang sama tetapi ditahan oleh tali karet yang melingkar di pinggang masing-masing? Setiap hari mereka tetap bertemu di Car Free Day , tetap bertegur sapa, tetap tersenyum, tetapi ada dinding tipis yang tidak terlihat di antara mereka. Dinding yang dibangun oleh kekhawatiran Ibu Amanda, yang diperkuat oleh rasa tidak percaya diri Herman, yang dirawat oleh rasa takut Amanda akan kehilangan.
Amanda memasuki masa ujian akhir sekolah. Kelas dua belas bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan asmara. Ada puluhan buku yang harus dibaca, ratusan soal yang harus dikerjakan, ribuan rumus yang harus dihafalkan. Ujian nasional sudah di depan mata, seperti monster raksasa yang siap menelan siapa saja yang tidak siap. Orang tua Amanda, terutama ayahnya, semakin menekan. Setiap malam, ayah Amanda duduk di samping meja belajar Amanda, mengawasi setiap gerak-geriknya, seperti sipir penjara yang mengawasi narapidana yang dicurigai akan kabur.
"Kamu harus dapat nilai minimal sembilan puluh untuk Matematika," kata ayah Amanda suatu malam, dengan suara yang tidak bisa ditawar.
"Tapi, Yah, soal ujian tahun lalu susah sekali," protes Amanda.
"Kamu bisa. Kamu anak pintar. Ayah tidak mau alasan."
Amanda menghela napas. Dia kembali menunduk ke buku catatannya, meskipun matanya sudah perih dan kepalanya sudah pusing. Di sudut meja, ponselnya bergetar pelan. Notifikasi dari Herman. Amanda tidak berani membukanya di depan ayahnya. Dia hanya bisa membayangkan isi pesan itu. Mungkin Herman bertanya kabar. Mungkin Herman mengucapkan selamat belajar. Mungkin Herman hanya mengirim stiker lucu untuk menghibur. Tapi apapun isinya, Amanda tidak bisa membalas sekarang. Dia harus fokus.
Setelah ayahnya pergi ke ruang tamu untuk menonton berita malam, Amanda membuka ponselnya dengan hati-hati. Pesan dari Herman pendek, hanya satu kalimat.
@herman_kontraktor: Aku tahu kamu sedang sibuk ujian. Jangan lupa istirahat. Aku tidak akan ganggu sampai ujian selesai. Semangat, Amanda.
Amanda membaca pesan itu berkali-kali. Matanya berkaca-kaca. Herman selalu tahu kapan harus mendekat dan kapan harus menjauh. Dia tidak pernah memaksa. Tidak pernah menuntut. Dia hanya hadir ketika dibutuhkan, dan pergi ketika diminta. Itulah yang membuat Amanda semakin sulit melupakannya, semakin sulit menjaga jarak, semakin sulit untuk tidak jatuh cinta.
"Kenapa kamu harus sempurna di saat yang paling tidak tepat?" bisik Amanda pada ponselnya.
Dia tidak membalas pesan itu. Dia hanya membacanya sekali lagi, lalu mematikan ponsel, menyimpannya di laci meja belajar, dan mengunci lacinya dengan kunci kecil yang tidak pernah dia gunakan sebelumnya. Dia tidak ingin tergoda. Dia tidak ingin pikirannya terpecah. Ujian adalah prioritas nomor satu sekarang. Segala sesuatu yang lain, termasuk Herman, harus ditunda dulu.
Sementara Amanda bergulat dengan buku-buku tebal dan soal-soal ujian yang rumit, Herman bergulat dengan proyek perumahan yang semakin mendekati tenggat waktu. Mandor proyek, seorang laki-laki paruh baya dengan perut buncit dan suara keras seperti sirine ambulans, terus-menerus menekan para pekerja untuk menyelesaikan target mingguan. Herman, sebagai kontraktor lapangan, harus memastikan bahwa semua material datang tepat waktu, semua tukang bekerja sesuai jadwal, dan semua pekerjaan selesai dengan kualitas yang memuaskan.
"Ini minggu terakhir sebelum deadline besar," kata mandor suatu pagi di lokasi proyek. "Tidak ada yang boleh libur. Tidak ada yang boleh sakit. Tidak ada yang boleh alasan."
Herman mengangguk. Dia sudah terbiasa dengan tekanan seperti ini. Tapi kali ini berbeda. Karena kali ini, tekanan di tempat kerja berbarengan dengan tekanan di kehidupan asmaranya. Dia tidak bisa memikirkan Amanda dengan tenang. Setiap kali dia mencoba melamun, mandor akan berteriak memanggil namanya. Setiap kali dia mencoba mengirim pesan, mandor akan menyuruhnya mengangkat semen atau mengecek plafon. Hidupnya sepenuhnya diambil alih oleh proyek.
Pada malam hari, ketika semua pekerja sudah pulang, Herman duduk sendirian di atas tumpukan kayu sisa. Lampu proyek yang temaram menerangi wajahnya yang lelah. Dia mengeluarkan ponsel, membuka chat dengan Amanda. Pesan terakhirnya masih belum dibalas. Sudah tiga hari sejak dia mengirim pesan dukungan itu. Mungkin Amanda sangat sibuk. Mungkin ponselnya dimatikan. Mungkin dia sengaja tidak membalas karena ingin fokus.
Herman tidak mau berpikir negatif. Dia memilih untuk percaya bahwa Amanda baik-baik saja, bahwa dia hanya sedang fokus belajar, bahwa setelah ujian selesai, semuanya akan kembali normal. Tapi di dalam hati yang paling dalam, ada suara kecil yang terus-menerus bertanya, "Apakah dia masih mengingatmu? Apakah dia masih menyukaimu? Apakah dia masih menunggumu?"
Herman memejamkan mata. Angin malam berhembus dingin, membawa aroma debu dan semen. Dia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu berbisik pada bintang-bintang di langit, "Amanda, apa kabar? Aku merindukanmu."
Dua minggu berlalu. Dua minggu tanpa kabar. Dua minggu tanpa pesan. Dua minggu tanpa suara. Herman mulai khawatir. Bukan khawatir yang membuatnya panik, tetapi khawatir yang membuatnya murung, seperti langit mendung yang tidak kunjung hujan. Teman-temannya di Tim STS mulai menyadari perubahan sikap Herman. Dia tidak lagi banyak bicara. Tidak lagi banyak bercanda. Dia hanya datang ke Car Free Day , duduk di bangku taman, memandangi rombongan Amanda yang jogging dari kejauhan, lalu pulang tanpa menyapa.
"Kamu kenapa, Man?" tanya Ahmat suatu pagi di Car Free Day .
"Enggak kenapa-kenapa."
"Bohong. Matamu sayu. Wajahmu lesu. Posturmu bungkuk. Ini tanda-tanda orang yang sedang patah hati."
"Aku tidak patah hati. Aku hanya... merindukan seseorang."
"Siapa? Amanda?"
Herman tidak menjawab. Dia hanya memandangi rombongan Amanda yang sedang berlari di seberang lapangan. Amanda masih terlihat sama. Rambutnya masih terikat kuda. Kaos olahraganya masih putih. Wajahnya masih serius. Tapi ada yang berbeda. Dia tidak lagi menoleh ke arah Herman. Tidak lagi melambai. Tidak lagi tersenyum. Seolah-olah Herman tidak ada di sana.
"Mungkin dia sedang fokus ujian," kata Ahmat mencoba menghibur.
"Iya. Mungkin."
"Kamu tidak usah terlalu khawatir. Setelah ujian selesai, semuanya akan kembali normal."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Karena cinta tidak akan hilang hanya karena ujian. Cinta hanya akan tertidur sebentar, lalu bangun ketika waktunya tepat."
Herman mengangguk meskipun hatinya masih ragu. Dia ingin percaya pada Ahmat. Tapi pengalaman telah mengajarinya bahwa cinta tidak selalu berjalan mulus. Kadang cinta harus berjuang melawan waktu, jarak, dan keadaan. Dan perjuangan itu bisa sangat melelahkan.
Di sisi lain, Amanda sebenarnya tidak sengaja mengabaikan Herman. Ujian telah menyedot seluruh energinya. Setiap pagi dia bangun pukul empat untuk mengulang pelajaran. Setiap malam dia tidur pukul sebelas setelah menyelesaikan puluhan latihan soal. Ponselnya mati selama dua minggu penuh, atas saran gurunya yang mengatakan bahwa ponsel adalah sumber distraksi terbesar bagi siswa yang sedang menghadapi ujian. Amanda menurut. Dia matikan ponselnya, simpan di lemari, dan kunci rapat-rapat.
Di saat-saat seperti ini, Amanda baru menyadari betapa dia bergantung pada Herman. Bukan bergantung secara finansial atau fisik, tetapi bergantung secara emosional. Setiap kali dia merasa lelah, dia ingin mendengar suara Herman yang ceria. Setiap kali dia merasa putus asa, dia ingin membaca pesan Herman yang penuh semangat. Setiap kali dia merasa sendirian, dia ingin merasakan kehadiran Herman di sampingnya, meskipun hanya dalam bentuk pesan singkat.
Tapi ponselnya mati. Dan dia tidak berani menyalakannya karena takut godaan. Karena dia tahu, begitu ponsel menyala, dia akan langsung membuka chat dengan Herman, dan jam-jam belajarnya akan terbuang percuma.
Ayah Amanda terus mengawasi. Ibu Amanda terus mendukung. Tidak ada ruang untuk Herman dalam jadwal padatnya. Tidak ada waktu untuk memikirkan perasaan.
Hingga suatu malam, setelah ujian terakhir selesai, Amanda pulang ke rumah dengan perasaan lega yang luar biasa. Dia melepas sepatu, melepas tas, melepas semua beban yang selama dua minggu ini menggendong pundaknya. Dia berjalan ke kamar, membuka lemari, mengambil ponselnya yang sudah dua minggu tidak tersentuh.
Ponsel itu menyala. Layarnya terang. Ada ratusan notifikasi. Grup WhatsApp, Instagram, pesan singkat. Semuanya dari teman-temannya, dari Dahlia, dari Yunita, dari geng jogging. Tapi yang paling dia cari adalah pesan dari Herman. Amanda membuka chat dengan Herman.
Ada tiga pesan yang belum dibaca.
@herman_kontraktor: Aku tahu kamu sedang sibuk ujian. Jangan lupa istirahat. Aku tidak akan ganggu sampai ujian selesai. Semangat, Amanda. (Dikirim dua minggu lalu)
@herman_kontraktor: Hari ini aku ke Car Free Day sendirian. Teman-teman yang lain pada sibuk. Aku jogging pelan-pelan sambil membayangkan kamu di sampingku. Aku rindu, Amanda. Tapi aku tidak akan ganggu. Fokus ujian dulu. (Dikirim sepuluh hari lalu)
@herman_kontraktor: Besok ujian terakhirmu. Aku yakin kamu bisa. Kamu anak pintar. Kamu anak hebat. Kamu anak yang kuat. Aku bangga padamu, apa pun hasilnya. Tetap semangat. Aku menunggumu di Car Free Day . (Dikirim dua hari lalu)
Amanda membaca semua pesan itu berulang-ulang. Air matanya jatuh. Bukan air mata sedih. Bukan air mata marah. Tapi air mata haru. Air mata yang keluar karena seseorang terus mengingatnya meskipun dia tidak membalas, seseorang terus mendukungnya meskipun dia tidak merespon, seseorang terus menunggunya meskipun dia tidak memberikan kepastian.
"Herman, maafkan aku," bisik Amanda sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Dia segera mengetik balasan.
@amanda_cans: Herman, maaf baru balas. Ponselku mati selama ujian. Aku baru selesai ujian hari ini. Aku rindu kamu. Aku rindu banget. Besok Car Free Day , kita ketemu ya? Aku ingin memelukmu.
Pesan itu dikirim. Dibaca. Dan balasan datang hanya dalam hitungan detik.
@herman_kontraktor: Aku juga rindu kamu, Amanda. Lebih dari yang kamu tahu. Besok Car Free Day , aku akan ada di bangku taman Hutan Kota. Seperti biasa. Aku akan menunggumu.
@amanda_cans: Jangan di bangku taman. Aku ingin kamu jogging di sampingku. Seperti dulu. Tapi tanpa permen karet.
@herman_kontraktor: Janji. Tanpa permen karet. Hanya aku dan kamu.
@amanda_cans: Dan hati kita.
@herman_kontraktor: Dan hati kita.
Amanda tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, dia tersenyum dengan tulus. Senyum yang tidak dipaksakan. Senyum yang lahir dari kebahagiaan yang sederhana: akan bertemu dengan orang yang dicintai setelah sekian lama berpisah.
Minggu pagi tiba. Car Free Day berlangsung seperti biasa. Ribuan warga memadati area Stadion Panunjung Tarung, melakukan aktivitas mingguan mereka. Herman datang lebih awal, memakai kaos putih polos yang sama, sepatu lari yang sama, dan hati yang sama. Penuh dengan cinta untuk Amanda.
Dia tidak duduk di bangku taman. Dia berdiri di pinggir jalur jogging, pemanasan dengan gerakan-gerakan sederhana, matanya terus memandang ke arah timur, ke arah di mana Amanda biasanya muncul.
Rombongan Amanda datang tepat pukul setengah tujuh. Mereka berlari kecil dengan formasi yang sama. Amanda di depan, Dahlia di belakangnya, lalu Yunita, Anita, dan Sania. Kaos olahraga mereka putih, seperti barisan angsa yang berenang di danau.
Begitu jarak mereka tinggal sepuluh meter, Amanda mempercepat langkahnya. Dia berlari lebih kencang, meninggalkan teman-temannya, hingga akhirnya dia berdiri tepat di depan Herman.
Napasnya tersengal. Wajahnya merah. Matanya berbinar.
"Herman," sapa Amanda.
"Amanda," balas Herman.
Mereka saling memandang. Tidak ada yang bicara. Hanya ada tatapan yang penuh dengan seribu makna. Tatapan yang mengatakan, "Aku rindu kamu." Tatapan yang mengatakan, "Aku senang bertemu kamu." Tatapan yang mengatakan, "Aku mencintai kamu."
"Boleh aku memelukmu?" tanya Herman.
Amanda tidak menjawab. Dia langsung melompat ke arah Herman, memeluknya erat-erat. Kepalanya bersandar di dada Herman. Tangannya melingkar di pinggang Herman. Herman membalas pelukan itu dengan lembut, tangannya memeluk punggung Amanda, kepalanya menunduk di atas rambut Amanda yang wangi.
"Ikutan baper, nih," bisik Dahlia dari belakang.
"Udah, jangan ganggu," kata Yunita.
"Mereka berdua pantas bahagia," tambah Anita.
Sania hanya tersenyum. Dia mengambil ponsel, memotret momen itu, lalu menyimpannya untuk kenang-kenangan.
Di sisi lain, Yanto menangis haru. "Akhirnya... akhirnya mereka berpelukan."
"Jangan nangis, Yan," kata Ahmat. "Nanti dikira kamu yang putus cinta."
"Biar. Yang penting mereka bahagia."
Mahdili, Yuni, Bintang dan Herawati bertepuk tangan bersama yang lain. Seluruh Car Free Day seolah berhenti sejenak untuk menyaksikan dua insan yang awalnya saling membenci, kini saling memeluk dengan penuh kasih.
Setelah pelukan itu usai, Herman dan Amanda jogging bersama di sepanjang jalur Car Free Day . Mereka berlari pelan, beriringan, sesekali saling pandang, sesekali tersenyum canggung. Tidak ada permen karet. Tidak ada kemarahan. Hanya ada dua orang yang saling menyukai, yang akhirnya bersatu setelah melewati badai.
"Kamu tidak mengirimiku pesan selama dua minggu," kata Herman.
"Ponselku mati. Aku sengaja mematikannya untuk fokus ujian."
"Aku mengira kamu melupakanku."
"Mustahil. Aku tidak bisa melupakanmu meskipun aku berusaha."
"Kamu sudah berusaha?"
"Sedikit. Tapi gagal."
Herman tersenyum. "Aku senang mendengarnya."
"Senang karena aku gagal melupakanmu?"
"Iya. Karena itu artinya aku berhasil membuatmu jatuh cinta."
"Belum jatuh cinta. Masih suka."
"Suka itu awal dari cinta."
"Kamu selalu punya teori."
"Aku belajar dari pengalaman."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lepas, tawa yang tulus, tawa yang tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu.
"Herman," panggil Amanda di tengah jogging.
"Ya?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tanya apa?"
"Apakah hubungan ini masih bisa dilanjutkan? Setelah semua yang terjadi? Setelah ibuku melarang? Setelah kita berdua sibuk?"
Herman berhenti berlari. Amanda juga berhenti. Mereka berdiri di pinggir jalur jogging, di bawah pohon rindang, di tempat yang sama di mana semuanya dimulai.
"Amanda, aku tidak tahu masa depan," kata Herman. "Aku tidak tahu apakah kita akan bersama selamanya atau tidak. Tapi yang aku tahu, saat ini, di sini, aku ingin bersamamu. Aku tidak ingin menunda kebahagiaan hanya karena takut masa depan. Aku ingin menikmati setiap detik bersamamu, tanpa beban, tanpa tekanan."
"Tapi ibuku..."
"Aku akan bicara dengan ibumu. Aku akan buktikan bahwa aku layak untukmu. Aku akan kerja lebih keras. Aku akan menabung. Aku akan membangun masa depan. Tapi semua itu butuh waktu. Dan selama waktu itu berjalan, aku hanya ingin kamu percaya padaku."
Amanda terdiam. Dia memandang Herman dengan mata yang berkaca-kaca. Air matanya hampir jatuh, tetapi dia tahan. "Aku percaya padamu, Herman."
"Terima kasih."
"Tapi jangan buat aku kecewa."
"Aku tidak akan."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua tersenyum. Lalu melanjutkan jogging bersama, menyusuri jalur Car Free Day yang panjang, melewati puluhan bahkan ratusan orang yang sedang berolahraga. Sesekali mereka disapa oleh teman-teman yang kenal, sesekali mereka melambai pada Dahlia dan Yanto yang masih setia mengikuti dari kejauhan.
Matahari semakin tinggi. Udara semakin panas. Tapi Herman dan Amanda tidak peduli. Mereka hanya fokus satu sama lain, fokus pada langkah kaki yang seirama, fokus pada detak jantung yang berdegup kencang, fokus pada cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Cinta yang dimulai dari sehelai permen karet.
Cinta yang bertahan melewati badai.
Cinta yang akan terus berjuang, apapun yang terjadi.
BAB 16
JURUS KE 100, JURUS PAMUNGKAS
Hari-hari setelah ujian berjalan seperti sungai yang mengalir, kadang deras, kadang lambat, tetapi tidak pernah berhenti. Persetujuan diam-diam antara Herman dan Amanda untuk "melanjutkan hubungan dengan lebih realistis" ternyata lebih sulit dipraktikkan daripada diucapkan. Karena cinta tidak pernah realistis. Cinta selalu ingin lebih. Cinta selalu ingin dekat. Cinta selalu ingin memeluk, meskipun akal sehat mengatakan untuk menjaga jarak. Herman sudah berusaha. Dia bekerja lebih keras di proyek perumahan, mengambil lembur setiap hari, bahkan akhir pekan sekalipun. Dia menabung setiap rupiah yang bisa dia sisihkan, meskipun jumlahnya tidak seberapa, hanya cukup untuk membeli baju baru atau traktir makan bakso sekali seminggu. Dia juga mulai belajar investasi kecil-kecilan, membeli emas batangan satu gram setiap bulan, meskipun untuk itu dia harus mengorbankan makan siangnya hampir setiap hari.
Tapi Amanda tidak hanya butuh uang atau masa depan yang cerah. Amanda butuh perhatian. Amanda butuh kehadiran. Amanda butuh seseorang yang bisa dia ajak bicara ketika dia sedih, ketika dia marah, ketika dia bingung menghadapi hidup yang semakin rumit setelah kelulusan. Setelah ujian selesai, Amanda tidak lagi sibuk dengan buku dan soal. Dia memiliki banyak waktu luang, waktu yang seharusnya bisa dia habiskan bersama Herman, tetapi Herman tidak pernah punya waktu. Pekerjaannya sebagai kontraktor tidak mengenal hari libur. Proyek perumahan tempat dia bekerja memasuki fase akhir, dan semua orang dituntut untuk bekerja maksimal.
"Kamu sibuk terus, Herman," kata Amanda suatu sore ketika mereka bertemu di depan toko buku di pusat kota.
"Iya. Maaf. Proyeknya sedang padat."
"Kapan selesai?"
"Dua minggu lagi. Setelah itu, kita bisa lebih sering bertemu."
"Kamu selalu bilang dua minggu. Tapi dua minggu yang lalu kamu juga bilang dua minggu. Kapan tepatnya?"
Herman terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Karena dia sendiri tidak tahu kapan proyek itu akan benar-benar selesai. Mandornya selalu memberi tenggat waktu, tetapi tenggat waktu itu sering berubah. Kadang mundur, kadang maju, kadang diubah tanpa pemberitahuan. Hidup seorang kontraktor adalah hidup yang tidak pasti. Dan ketidakpastian itulah yang paling dibenci oleh Amanda.
"Aku capek, Herman," kata Amanda dengan suara lelah.
"Capek bagaimana?"
"Capek menunggu. Capek berharap. Capek menjadi prioritas kesekian setelah pekerjaanmu, setelah teman-temanmu, setelah proyekmu."
"Kamu selalu menjadi prioritas utamaku, Amanda."
"Buktinya?"
Herman tidak punya bukti. Karena kata-kata saja tidak cukup untuk menjadi bukti. Dia butuh tindakan. Tapi tindakan macam apa yang bisa dia lakukan di tengah kesibukannya yang luar biasa?
"Aku akan buktikan," kata Herman. "Tapi beri aku waktu."
"Waktu? Kita sudah membuang banyak waktu, Herman. Aku tidak ingin membuang lebih banyak lagi."
Amanda pergi. Dia berbalik, berjalan cepat meninggalkan Herman yang berdiri di depan toko buku dengan perasaan hancur. Herman ingin mengejar, ingin menarik tangan Amanda, ingin memeluknya, ingin berteriak bahwa dia mencintainya. Tapi kakinya tidak bergerak. Hanya diam di tempat, seperti patung yang kehilangan nyawa.
Malam harinya, Amanda menangis di kamarnya. Bantal basah oleh air mata. Dadanya sesak. Pikirannya kacau. Dia mencintai Herman. Tapi cinta saja tidak cukup. Dia butuh kepastian. Dia butuh komitmen. Dan Herman, sejujurnya, belum bisa memberikan keduanya.
Ibu Amanda masuk ke kamar tanpa mengetuk. Dia duduk di tepi kasur, mengusap rambut Amanda yang kusut, lalu bertanya dengan suara lembut, "Ada apa, Ndah? Cerita sama Ibu."
"Aku capek, Mah."
"Capek kenapa?"
"Capek dengan semuanya. Dengan Herman. Dengan perasaan ini. Dengan ketidakpastian."
Ibu Amanda menghela napas. Dia sudah memprediksi ini. Sejak awal, dia tahu bahwa hubungan Amanda dengan Herman tidak akan mudah. Perbedaan status sosial, perbedaan tingkat ekonomi, perbedaan visi masa depan. Semua itu adalah batu sandungan yang suatu saat akan membuat mereka tersandung.
"Ibu sudah bilang, Ndah. Herman anak baik, tapi dia belum siap. Dia belum layak."
"Tapi aku sayang dia, Mah."
"Sayang tidak cukup, Nak. Butuh kesiapan. Butuh kematangan. Butuh stabilitas. Hal-hal yang belum dimiliki Herman."
"Aku tidak mau mendengar itu, Mah."
"Ibu tahu kamu tidak mau mendengar. Tapi Ibu harus mengatakan karena Ibu sayang kamu."
Amanda menangis lebih keras. Ibunya memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya, seperti saat Amanda masih kecil dulu, ketika dia jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah. Ibu selalu ada. Ibu selalu menjadi tempat terbaik untuk bersandar.
"Sudahlah, Ndah. Tidur dulu. Besok pikirkan lagi dengan kepala dingin."
Amanda mengangguk. Dia merebahkan diri di kasur, memeluk bantal, dan memejamkan mata. Tapi tidur tidak datang. Yang datang hanya bayangan Herman dengan senyum canggungnya, dengan kumis tipisnya, dengan permen karet yang sudah menjadi legenda di antara mereka.
Sepanjang minggu itu, Herman tidak menghubungi Amanda. Bukan karena dia tidak mau, tetapi karena dia tidak tahu harus berkata apa. Setiap kali dia membuka chat dengan Amanda, setiap kali jarinya hampir mengetik pesan, selalu ada suara di kepalanya yang berkata, "Apa yang akan kamu katakan? Kamu tidak punya waktu untuknya. Kamu tidak punya masa depan untuknya. Lebih baik kamu diam daripada memberi harapan palsu."
Herman mematikan ponsel, menyimpannya di saku, lalu kembali bekerja. Mengangkat semen, mengecek plafon, mengawasi tukang, menghitung material. Pekerjaan yang melelahkan, tetapi setidaknya bisa mengalihkan pikirannya dari Amanda. Untuk sementara.
Ahmat datang ke lokasi proyek pada Hari Minggu sore. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya. Matanya menyelidik, mencari Herman di antara tumpukan material bangunan.
"Man, kita harus bicara," kata Ahmat begitu menemukan Herman yang sedang jongkok di dekat tumpukan pasir.
"Bicara apa? Aku sedang sibuk."
"Sibuk atau menghindar?"
Herman terdiam. Dia bangkit, mengusap keringat di dahinya, lalu berjalan ke arah gubuk kecil di pinggir proyek yang biasa digunakan untuk istirahat para pekerja. Ahmat mengikutinya.
"Amanda menghubungiku," kata Ahmat begitu mereka berdua duduk di dalam gubuk.
Herman terkejut. "Apa? Dia menghubungimu? Kenapa?"
"Dia bilang dia bingung. Dia bilang dia sayang sama kamu, tapi dia juga capek menunggu. Dia bilang dia ingin putus, tapi dia tidak punya nyali."
Herman menunduk. Tangannya gemetar. Dadanya terasa sesak. "Jadi, dia sudah memutuskan?"
"Belum. Dia masih berpikir. Tapi dia butuh jawaban darimu. Apakah kamu serius dengan hubungan ini? Apakah kamu punya rencana? Apakah kamu bisa memberikan kepastian? Jika tidak, dia akan pergi."
Herman mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia lelah. Lelah bekerja. Lelah memikirkan Amanda. Lelah memikirkan masa depan. Tapi dia tidak bisa menjawab pertanyaan Ahmat dengan ketidakpastian. Dia harus memberikan jawaban yang jelas.
"Aku sayang Amanda, Mat."
"Itu sudah jelas. Tapi sayang saja tidak cukup."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Bukan aku yang harus menjawab itu. Kamu sendiri yang harus mencari jawabannya."
Herman terdiam. Dia memandang ke luar gubuk, ke arah langit sore yang mulai berwarna jingga. Pikirannya berputar cepat, mencari solusi, mencari jalan keluar, mencari jurus yang ke seratus.
Jurus ke seratus, pikir Herman. Jurus pamungkas. Jika seratus jurus ini gagal, maka tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.
Malam harinya, Herman tidak bisa tidur. Dia berguling-guling di kasurnya, memandangi langit-langit kontrakan yang retak-retak, berusaha mencari inspirasi. Sesekali dia melihat ponselnya, membuka chat dengan Amanda, lalu menutupnya lagi. Tidak ada pesan baru. Tidak ada kabar. Hanya keheningan yang mencekam.
Ahmat benar. Dia harus memberikan jawaban. Tapi jawaban apa yang bisa dia berikan di tengah ketidakpastiannya? Dia tidak bisa menjanjikan masa depan yang cerah jika masa depannya sendiri masih gelap gulita. Dia tidak bisa menjanjikan komitmen jika dirinya sendiri belum siap. Tapi dia juga tidak bisa kehilangan Amanda. Kehilangan Amanda berarti kehilangan separuh jiwanya. Kehilangan Amanda berarti kehilangan alasan untuk terus berjuang.
Pukul satu dini hari, Herman mengambil keputusan. Dia akan melakukan jurus pamungkas. Jurus yang paling berisiko. Jurus yang bisa membuatnya menang atau kalah. Jurus yang tidak bisa dia tarik kembali setelah dilakukan.
Jurus itu adalah: tidak melakukan apa-apa.
Dia tidak akan mengirim pesan. Tidak akan menelepon. Tidak akan datang ke rumah Amanda. Tidak akan muncul di Car Free Day . Dia hanya akan hadir seperti biasa, menjalani hidupnya seperti biasa, bekerja seperti biasa, tanpa drama, tanpa permen karet, tanpa semua kegilaan yang selama ini dia lakukan. Dia akan memberi Amanda ruang untuk berpikir. Dia akan memberi Amanda waktu untuk memutuskan. Apakah dia benar-benar mencintai Herman apa adanya, atau hanya mencintai versi Herman yang selalu berusaha keras untuk membuatnya terkesan.
Keputusan itu berat. Sangat berat. Setiap detiknya terasa seperti setahun. Tapi Herman harus melakukannya. Karena jika tidak, hubungan mereka akan selalu berjalan di tempat, tidak pernah maju, tidak pernah dewasa.
Minggu pagi. Car Free Day . Amanda datang dengan harapan besar bahwa Herman akan ada di bangku taman dekat papan skor, melambai padanya, tersenyum canggung, seperti yang selalu dia lakukan. Tapi bangku itu kosong. Tidak ada Herman. Tidak ada Ahmat. Tidak ada Yanto. Tidak ada siapa pun.
Amanda mengerjap. Dia berhenti berlari, berdiri di pinggir jalur jogging, matanya terus memandangi bangku kosong itu. Hatinya berdebar. Pikirannya berputar.
Mungkin dia telat. Mungkin dia sedang sibuk. Mungkin dia lupa.
Dia melanjutkan lari. Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran.
Bangku itu tetap kosong.
Setelah putaran keempat, Amanda berhenti. Dadanya sesak. Bukan karena kelelahan, tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia beri nama. Kecewa? Sedih? Marah? Atau mungkin takut? Takut bahwa Herman sudah menyerah. Takut bahwa Herman sudah lelah berjuang. Takut bahwa semua yang mereka bangun selama ini akan runtuh dalam sekejap.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku pinggangnya. Membuka chat dengan Herman. Pesan terakhir masih seminggu yang lalu, ketika Herman mengucapkan selamat atas selesainya ujian. Tidak ada pesan baru setelah itu.
Jarinya bergetar. Dia ingin mengetik sesuatu. "Kamu di mana?" atau "Kamu kenapa tidak datang?" atau "Apa kamu baik-baik saja?" Tapi dia tidak jadi. Dia memasukkan ponsel kembali ke saku, lalu berjalan pulang dengan langkah berat, tanpa senyum, tanpa sapaan, tanpa apa pun.
Dahlia yang melihat perubahan sikap Amanda, langsung curiga. Di tengah perjalanan pulang, dia memarkir motornya di pinggir jalan, lalu menghampiri Amanda yang sedang berjalan sendirian di trotoar.
"Am, kamu kenapa?"
"Enggak kenapa-kenapa."
"Bohong. Wajahmu pucat. Matamu sembab. Kamu habis nangis?"
"Sedikit."
"Ada masalah dengan Herman?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya terus berjalan, matanya lurus ke depan, tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Dahlia mengikutinya, tidak mau ketinggalan.
"Cerita sama aku, Am. Aku temanmu."
Amanda berhenti. Dia menatap Dahlia dengan mata yang berkaca-kaca. "Dia tidak datang ke Car Free Day , Lia."
"Siapa? Herman?"
"Iya. Bangku favoritnya kosong. Tidak ada dia. Tidak ada teman-temannya."
"Mungkin dia sedang sibuk."
"Atau mungkin dia sudah menyerah."
Dahlia terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Herman tidak pernah terlihat seperti orang yang mudah menyerah. Selama berbulan-bulan, dia terus berjuang, terus berusaha, terus membuat Amanda tersenyum meskipun sering gagal. Tapi manusia punya batas. Mungkin Herman sudah mencapai batasnya. Mungkin dia lelah. Mungkin dia butuh istirahat.
"Am, coba kamu hubungi dia," kata Dahlia.
"Tidak. Aku tidak mau memulai lebih dulu."
"Kenapa?"
"Karena selama ini dia selalu yang memulai. Aku ingin tahu, apakah dia akan memulai lagi? Atau apakah dia sudah berhenti?"
"Tapi kalau dia berhenti, kamu akan kehilangan dia."
"Mungkin itu risiko yang harus aku ambil."
Dahlia menghela napas. Dia tidak bisa memaksa Amanda. Keputusan ada di tangan Amanda sendiri. "Baiklah, kalau itu maumu. Tapi jangan menyesal nanti."
"Aku tidak akan menyesal."
Dahlia tidak yakin. Tapi dia tidak mengatakan itu. Dia hanya memeluk Amanda sebentar, lalu pamit pulang.
Satu minggu berlalu. Herman tidak muncul di Car Free Day . Tidak di pasar. Tidak di toko HP. Tidak di mana pun. Seolah-olah dia menghilang ditelan bumi. Amanda mulai panik. Bukan panik yang membuatnya histeris, tetapi panik yang membuatnya gelisah, seperti orang yang kehilangan barang berharga dan tidak tahu harus mencari ke mana.
Dia mencoba menghubungi Herman. Pesan di Instagram tidak dibalas. Telepon tidak diangkat. Bahkan Yanto dan Ahmat tidak bisa dihubungi. Semua orang dalam lingkaran Herman seolah-olah ikut menghilang.
"Apa yang terjadi?" tanya Amanda frustrasi pada Dahlia.
"Aku tidak tahu. Yanto juga tidak membalas pesanku."
"Ada apa dengan mereka?"
"Mungkin mereka sedang sibuk. Atau mungkin mereka sedang merencanakan sesuatu."
"Merencanakan apa?"
"Entahlah. Yang jelas, jangan panik dulu. Coba tunggu."
Amanda tidak bisa menunggu. Setiap hari dia gelisah. Setiap malam dia susah tidur. Ponselnya selalu dia genggam, berharap ada notifikasi dari Herman. Tapi tidak ada. Tidak ada apa pun. Hanya keheningan yang menyiksa.
Hari keempat belas. Tepat dua minggu sejak Herman terakhir kali muncul di Car Free Day , Amanda duduk di kamarnya dengan perasaan putus asa. Bantal di pangkuannya basah oleh air mata. Matanya merah. Wajahnya pucat. Dia sudah menyerah. Dia sudah menganggap bahwa Herman benar-benar pergi. Bahwa semua janji yang diucapkan hanyalah omong kosong. Bahwa cinta yang selama ini dia bangun hanya ilusi.
"Sudahlah," bisik Amanda pada dirinya sendiri. "Mungkin ini yang terbaik. Mungkin Ibu benar. Dia belum layak. Dan aku tidak pantas menunggu."
Dia mematikan ponsel, meletakkannya di meja belajar, lalu merebahkan diri di kasur. Air matanya terus mengalir. Tidak ada yang menghibur. Tidak ada yang menepuk punggungnya. Tidak ada yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pukul sembilan malam, ponselnya bergetar.
Amanda terkejut. Dia menggapai ponsel dengan tangan gemetar. Layar menyala. Ada satu notifikasi.
@herman_kontraktor: Besok Car Free Day . Aku akan ada di bangku taman dekat papan skor. Seperti biasa. Datanglah jika kamu masih mau. Jika tidak, aku mengerti.
Amanda membaca pesan itu berulang-ulang. Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini, air mata bahagia.
@amanda_cans: Aku akan datang, Herman. Aku akan selalu datang.
@herman_kontraktor: Terima kasih, Amanda. Sampai jumpa besok.
@amanda_cans: Sampai jumpa.
Amanda tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, dia tersenyum dengan tulus. Senyum yang lahir dari kelegaan. Senyum yang lahir dari kepastian. Bahwa Herman tidak pergi. Bahwa Herman masih ada. Bahwa Herman masih mencintainya.
Minggu pagi. Car Free Day . Amanda datang dengan pakaian olahraga favoritnya, kaos putih polos, celana legging hitam, sepatu kets yang sudah agak lusuh. Rambutnya diikat kuda. Wajahnya segar, matanya berbinar, senyumnya mengembang.
Dia berlari kecil menyusuri jalur jogging, matanya tertuju pada bangku taman Hutan Kota. Bangku itu tidak kosong. Herman duduk di sana, seorang diri, dengan kaos putih polos yang sama, dengan senyum canggung yang sama, dengan hati yang sama. Penuh cinta untuk Amanda.
Amanda mempercepat langkahnya. Dia berlari sekencang mungkin, melewati puluhan orang yang sedang jogging, melewati ibu-ibu yang sedang senam, melewati anak-anak yang bermain sepeda, hingga akhirnya dia berdiri tepat di depan Herman.
Mereka saling memandang. Tidak ada yang bicara. Hanya ada tatapan yang penuh dengan seribu makna. Tatapan yang mengatakan, "Aku rindu kamu." Tatapan yang mengatakan, "Aku senang bertemu kamu." Tatapan yang mengatakan, "Aku mencintai kamu."
"Kamu datang," kata Herman.
"Aku datang," jawab Amanda.
"Aku mengira kamu tidak akan datang."
"Aku mengira kamu sudah pergi untuk selamanya."
"Aku tidak akan pergi, Amanda. Aku hanya memberi ruang."
"Ruang untuk apa?"
"Ruang untukmu berpikir. Ruang untukmu memutuskan. Apakah kamu benar-benar mencintaiku apa adanya, atau hanya mencintai versiku yang selalu berusaha keras membuatmu terkesan."
Amanda terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Aku sudah memutuskan, Herman."
"Keputusan apa?"
"Aku mencintaimu apa adanya. Bukan karena usaha kerasmu. Bukan karena permen karetmu. Bukan karena semua jurus konyolmu. Tapi karena kamu. Kamu yang sederhana. Kamu yang jujur. Kamu yang tidak pernah menyerah. Kamu yang selalu ada meskipun kadang menjauh."
Herman tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah dia tunjukkan dalam hidupnya. "Terima kasih, Amanda. Kata-katamu adalah hadiah terbaik yang pernah aku terima."
"Kamu pantas mendapatkannya. Setelah semua yang kamu lakukan untukku."
"Belum seberapa. Aku akan melakukan lebih banyak lagi."
"Jangan. Cukup kamu menjadi dirimu sendiri. Itu sudah lebih dari cukup."
Mereka berdua saling memandang. Lalu Herman berdiri dari bangku taman. Amanda mengambil langkah maju. Dan di bawah sinar matahari Car Free Day yang cerah, di antara ribuan orang yang sedang berolahraga, mereka berpelukan. Pelukan yang hangat. Pelukan yang tulus. Pelukan yang mengatakan, "Aku pulang."
Dahlia menangis di kejauhan. Yanto ikut menangis. Bahkan Ahmat, yang biasanya paling cool, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Akhirnya... jurus ke seratus berhasil," bisik Ahmat.
"Jurus apa?" tanya Yanto.
"Jurus pamungkas. Jurus tidak melakukan apa-apa."
"Tidak melakukan apa-apa itu jurus?"
"Terkadang, tidak melakukan apa-apa adalah tindakan yang paling berani."
Yanto tidak mengerti. Tapi dia tidak perlu mengerti. Yang dia tahu, Herman dan Amanda akhirnya bersatu. Dan itu sudah cukup.
BAB 17
PERTEMUAN KEMBALI DI TAMAN YANG SAMA
Tiga bulan telah berlalu sejak jurus pamungkas Herman berhasil menyatukan mereka kembali. Tiga bulan yang penuh dengan kebahagiaan sederhana, dengan tawa yang tulus, dengan pelukan yang hangat, dan dengan cinta yang tumbuh semakin dalam setiap harinya seperti akar pohon beringin yang merambat ke bumi, kokoh, tidak mudah goyah, dan semakin sulit dicabut. Herman masih bekerja sebagai kontraktor dengan jadwal yang padat, tetapi dia belajar untuk membagi waktu.
Setiap Minggu pagi, dia selalu ada di Car Free Day . Setiap Sabtu sore, dia datang ke rumah Amanda untuk makan malam bersama keluarganya. Setiap Minggu pagi, mereka pergi ke danau Mare atau ke Taman Kota Simpang Adipura atau sekadar duduk di dermaga KP3 sambil menikmati bakso dan es jeruk. Karena bagi Herman, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa sering dia bertemu Amanda, tetapi dari kualitas pertemuan itu sendiri. Sebentar tetapi bermakna, lebih baik daripada lama tetapi hampa.
Amanda sudah lulus ujian dengan hasil yang membanggakan. Nilai Matematikanya mencapai sembilan puluh lima, membuat ayahnya melompat kegirangan seperti anak kecil yang baru diberi sepeda baru. Nilai-nilai lainnya juga tidak ada yang di bawah delapan puluh. Ayah Amanda memeluknya erat-erat, menangis haru, dan berkata,
"Ayah bangga padamu, Nak. Ayah minta maaf jika selama ini terlalu keras padamu."
Amanda menangis dalam pelukan ayahnya, air mata kebahagiaan yang sudah lama tidak dia rasakan. Ibu Amanda juga ikut menangis, memeluk mereka berdua, dan untuk pertama kalinya dalam keluarganya, tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi tuntutan, yang ada hanya rasa syukur yang luar biasa.
"Sebentar lagi kamu akan kuliah," kata ayah Amanda sambil mengusap air matanya.
"Iya, Yah. Aku akan kuliah di Universitas Palangka Raya. Jurusan Manajemen."
"Kenapa tidak di Jakarta atau Surabaya? Ayah bisa biayai."
"Aku ingin dekat dengan rumah. Aku ingin dekat dengan kalian."
Ayah Amanda tersenyum. Dia tahu sebenarnya Amanda ingin dekat dengan Herman. Tapi dia tidak perlu mengatakan itu. Cukup dia mengerti di dalam hati.
Sementara itu, Herman juga mendapat kabar baik. Proyek perumahan yang dia tangani selesai tepat waktu dan mendapatkan bonus dari mandor karena kualitas pekerjaannya yang memuaskan. Bonus itu tidak besar, hanya sekitar dua juta rupiah, tetapi bagi Herman, itu adalah pencapaian yang luar biasa. Dia menabung setengahnya, dan setengahnya lagi dia gunakan untuk membeli hadiah kelulusan untuk Amanda.
"Sengaja aku tidak bilang-bilang," kata Herman ketika menyerahkan kotak kecil berwarna biru kepada Amanda di dermaga KP3 pada suatu sore yang cerah.
Amanda membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya, terdapat sebuah gelang perak sederhana dengan liontin kecil berbentuk permen karet.
"Permen karet?" tanya Amanda sambil tersenyum.
"Sebagai pengingat. Bahwa cinta kita dimulai dari hal yang paling konyol."
"Kamu tidak pernah berhenti membuatku tersenyum, Herman."
"Itu tugas saya seumur hidup."
"Apakah kamu yakin mau bertanggung jawab seumur hidup?"
"Yakin. Seratus persen."
Amanda memakai gelang itu di tangan kirinya. Liontin permen karet kecil itu bergoyang-goyang setiap kali dia bergerak, seperti mengingatkannya pada masa lalu yang penuh dengan kemarahan dan kebencian, yang kini telah berubah menjadi cinta yang sangat dalam.
Selepas kelulusan, Amanda dan teman-temannya mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan di Taman Kota Simpang Adipura. Tempat di mana dulu Herman dan Amanda pertama kali bertemu secara tidak sengaja setelah kejadian permen karet. Tempat di mana kebencian Amanda mulai berubah menjadi rasa penasaran. Tempat di mana benih-benih cinta pertama kali ditanam, meskipun saat itu tidak ada yang menyadarinya.
Acara itu sederhana. Hanya kumpul-kumpul, makan-makan, bernyanyi-nyanyi, dan berfoto-foto. Yang hadir adalah geng Amanda lengkap dengan pasangan masing-masing. Dahlia sudah resmi berpacaran dengan Yanto, meskipun hubungan mereka masih sering diwarnai pertengkaran kecil soal gemblong dan jajanan pasar lainnya. Yunita berpacaran dengan Mahdili. Anita dan Herawati menjalin hubungan yang masih sangat rahasia, tidak ada yang tahu pasti, tetapi semua orang sudah menduga. Sania tetap sendiri, tetapi dia tidak pernah merasa kesepian karena baginya buku adalah teman yang paling setia.
Herman datang bersama Ahmat dan rombongan. Dia membawa kue tart besar bertuliskan, "Selamat Lulus, Amanda dan Geng." Dahlia berteriak kegirangan. Yanto mencoba mengambil kue lebih dulu, tetapi dicegah oleh Dahlia dengan sentakan keras.
"Belum dinyalakan lilinnya!" teriak Dahlia.
"Iya, iya. Sabar."
Lilin dinyalakan. Amanda meniupnya dengan satu hembusan napas panjang, sementara teman-temannya bertepuk tangan dan bersorak. Herman berdiri di sampingnya, tersenyum bangga.
"Kamu tidak minta permintaan?" tanya Herman.
"Permintaan sudah aku ucapkan dalam hati."
"Permintaan apa?"
"Rahasia."
Herman tidak memaksa. Dia tahu bahwa suatu saat nanti Amanda akan memberitahunya. Malam itu, mereka duduk di bangku taman yang sama, di bawah pohon yang sama, di tempat yang sama di mana semuanya dimulai. Bintang-bintang bertaburan di langit, bulan sabit tipis tersenyum dari kejauhan, dan angin malam berhembus sepoi-sepoi.
"Herman," panggil Amanda.
"Ya?"
"Apa yang akan kamu lakukan jika suatu hari nanti ada cowok lain yang menempelkan permen karet di bajuku?"
Herman tertawa kecil. "Pertanyaan aneh. Tapi baiklah, aku jawab. Aku akan mencari cowok itu, lalu aku akan mengajarinya cara menempelkan permen karet yang benar."
"Bukan memukulinya?"
"Bukan. Karena tanpa dia, aku mungkin tidak akan pernah bertemu denganmu."
"Kamu terlalu baik."
"Tidak. Aku hanya bersyukur."
Amanda menggenggam tangan Herman. Genggaman yang erat, hangat, penuh dengan makna. Di dalam genggaman itu, terkandung janji. Janji untuk tidak saling meninggalkan. Janji untuk selalu bersama. Janji untuk menghadapi masa depan dengan penuh keberanian.
"Herman, aku mencintaimu," bisik Amanda.
Herman terkejut. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka setengah. Selama ini, Amanda tidak pernah mengucapkan kata cinta dengan langsung. Selalu ada pengganti. Aku sayang kamu. Aku suka kamu. Aku nyaman denganmu. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Amanda mengatakan cinta.
"Aku juga mencintaimu, Amanda," jawab Herman dengan suara yang sedikit bergetar.
"Seberapa besar?"
"Sebesar lautan. Setinggi langit. Seluas alam semesta."
"Kamu terlalu lebay."
"Tapi kamu tersenyum."
Amanda tersenyum. Senyum paling indah yang pernah Herman lihat. Senyum yang menghapus semua rasa lelah, semua rasa sakit, semua rasa ragu. Senyum yang membuat Herman yakin bahwa semua perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
Mereka berdua duduk di bangku taman itu hingga larut malam, berbincang tentang masa depan, tentang impian, tentang hal-hal kecil yang tidak pernah mereka bicarakan sebelumnya. Setiap kali Amanda tertawa, Herman ikut tertawa. Setiap kali Amanda serius, Herman ikut serius. Mereka selaras, seperti dua nada yang berbeda tetapi berpadu menjadi harmoni yang indah.
Pukul sebelas malam, Amanda pulang. Herman mengantarnya sampai ke depan pagar rumahnya, seperti biasa. Lampu teras masih menyala. Mungkin Ibu Amanda sedang menunggu.
"Sampai di sini," kata Amanda.
"Baik. Selamat malam, Amanda."
"Selamat malam, Herman."
Mereka saling memandang. Tidak ada yang mau masuk lebih dulu. Herman ingin mencium kening Amanda, tetapi tidak berani. Amanda ingin mencium pipi Herman, tetapi malu.
"Besok Car Free Day ?" tanya Herman.
"Besok Car Free Day . Aku akan jogging seperti biasa."
"Aku akan jogging di sampingmu."
"Kamu bisa mengimbangi langkahku?"
"Aku sudah berlatih."
"Bagus. Jangan sampai kehabisan napas."
"Janji."
Amanda masuk ke halaman rumah. Herman memandanginya sampai pintu tertutup. Lalu dia berjalan pulang dengan langkah ringan, dengan senyum yang tidak bisa dia hilangkan, dengan hati yang penuh dengan cinta.
BAB 18
PENGAKUAN, PELUKAN DAN PERTENTANGAN TERAKHIR
Setelah malam pengakuan cinta di Taman Kota Simpang Adipura, hubungan Herman dan Amanda memasuki babak baru yang lebih dewasa. Tidak ada lagi drama yang berlebihan, tidak ada lagi pertengkaran yang tidak perlu, tidak ada lagi saling curiga satu sama lain. Mereka belajar untuk saling percaya, saling mendukung, dan saling mengisi kekurangan masing-masing seperti dua keping puzzle yang berbeda bentuk tetapi ketika disatukan menjadi gambar yang utuh dan sempurna.
Herman semakin rajin menabung, menyisihkan hampir separuh gajinya setiap bulan untuk masa depan yang belum jelas kapan akan tiba tetapi harus tetap dipersiapkan. Amanda semakin rajin belajar, mempersiapkan diri untuk kuliah di Universitas Palangka Raya sambil sesekali membantu ayahnya di toko sembako untuk mengisi waktu luang dan belajar tentang dunia bisnis yang kelak mungkin akan dia geluti.
Namun, seperti pepatah mengatakan, sebelum pelangi selalu ada hujan. Sebelum kebahagiaan yang sesungguhnya, selalu ada ujian terakhir yang paling berat. Dan ujian itu datang dari sumber yang paling tidak terduga: ayah Amanda.
Selama ini, ayah Amanda terlihat ramah pada Herman. Dia memuji kerja keras Herman. Dia mengakui ketulusan Herman. Dia bahkan pernah bercanda tentang Herman yang cocok menjadi menantunya. Tapi di balik keramahan itu, ayah Amanda menyimpan kekhawatiran yang tidak pernah dia ungkapkan secara terbuka. Kekhawatiran tentang masa depan anak semata wayangnya. Tentang jaminan hidup. Tentang stabilitas. Tentang status.
Suatu malam, setelah Amanda pamit tidur, ayah Amanda memanggil istrinya ke ruang keluarga. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya yang penuh dengan senyum dan candaan. Ibu Amanda yang sedang merajut di kursi goyang, langsung meletakkan jarum rajutnya ketika melihat ekspresi suaminya.
"Ada apa, Pak?" tanya Ibu Amanda.
"Kita harus bicara tentang Amanda," jawab ayah Amanda.
"Tentang apa?"
"Tentang Herman."
Ibu Amanda menghela napas. Dia sudah menduga ini. Sejak awal, dia tahu bahwa suaminya tidak sepenuhnya setuju dengan hubungan Amanda dan Herman. Keramahan yang ditunjukkan selama ini hanyalah topeng. Di balik topeng itu, ada kekhawatiran yang mendalam.
"Ayah tidak suka Herman?" tanya Ibu Amanda.
"Bukan tidak suka. Herman anak baik. Kerja keras. Jujur. Tulus. Ayah tidak bisa memungkiri itu. Tapi apakah kebaikan saja cukup untuk masa depan? Apakah ketulusan saja bisa memberi makan? Apakah kerja keras saja bisa menjamin kehidupan yang layak untuk Amanda?"
"Ayah meragukan kemampuan Herman?"
"Ayah meragukan kesiapannya. Herman masih muda. Penghasilannya tidak tetap. Dia tinggal di kontrakan. Belum punya tabungan yang cukup. Belum punya rumah. Belum punya kendaraan. Apakah ayah harus merelakan Amanda menikah dengan pria yang masih dalam tahap merangkak?"
Ibu Amanda tidak bisa membantah. Suaminya benar. Herman memang masih dalam tahap membangun diri. Dan proses membangun diri itu bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Sementara Amanda tidak bisa menunggu selamanya. Perempuan memiliki masa subur yang terbatas. Perempuan memiliki standar yang harus dipenuhi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Ibu Amanda.
"Kita harus memisahkan mereka. Sebelum perasaan mereka semakin dalam. Sebelum terlalu sulit untuk dipisahkan."
"Tapi, Pak, memisahkan mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan. Amanda sudah sangat sayang pada Herman. Herman juga sudah sangat sayang pada Amanda."
"Maka kita harus tega. Untuk kebaikan mereka berdua."
Ibu Amanda menunduk. Air matanya menetes. Dia tidak setuju dengan cara suaminya, tetapi dia tidak bisa melawan. Sebagai istri, dia harus patuh. Sebagai ibu, dia harus melindungi anaknya, meskipun dengan cara yang menyakitkan.
"Besok pagi, Ayah akan panggil Herman ke rumah," kata ayah Amanda. "Ayah akan bicara padanya. Ayah akan memintanya untuk mengakhiri hubungan dengan Amanda."
"Apakah itu tidak terlalu kejam?"
"Terkadang, kebaikan harus dibungkus dengan kekejaman, Bu."
Ibu Amanda tidak menjawab. Dia hanya berdiri, berjalan ke kamarnya, dan menangis dalam diam.
Keesokan paginya, Herman menerima telepon dari ayah Amanda. Suara ayah Amanda terdengar serius, tidak seperti biasanya yang ramah dan penuh canda.
"Herman, kamu bisa datang ke rumah? Ayah ingin bicara denganmu."
"Ada apa, Pak? Apakah ada yang salah dengan proyek toko?" tanya Herman.
"Tidak ada yang salah dengan proyek toko. Ayah hanya ingin bicara. Tentang kamu dan Amanda."
Herman merasakan ada yang tidak beres. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar. Tapi dia tidak bisa menolak. "Baik, Pak. Saya akan datang setelah jam kerja."
Jangan setelah jam kerja. Sekarang. Ini penting."
Herman melihat jam tangannya. Masih pukul delapan pagi. Dia baru saja sampai di lokasi proyek. Mandornya akan marah jika dia tidak masuk. Tapi ini tentang Amanda. Tentang hubungannya dengan Amanda. Tidak ada yang lebih penting dari itu.
"Baik, Pak. Saya akan datang sekarang."
Herman pamit pada mandornya. Mandor itu marah, mengomel panjang lebar tentang tanggung jawab dan profesionalisme. Tapi Herman tidak peduli. Dia berlari ke arah jalan raya, menumpang ojek online, dan melaju ke rumah Amanda dengan hati yang berdebar-debar seperti genderang perang yang siap ditabuh.
Di rumah Amanda, suasana tegang. Ayah Amanda duduk di sofa dengan kemeja batik lengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Ibu Amanda duduk di sampingnya, sesekali menyeka air mata yang tidak berhasil dia sembunyikan. Amanda berdiri di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi, matanya merah, bibirnya gemetar.
"Yah, jangan lakukan ini," pinta Amanda.
"Ayah harus lakukan ini, Ndah. Demi kebaikanmu."
"Aku sudah dewasa, Yah. Aku bisa memutuskan sendiri."
"Kamu belum dewasa. Kamu masih delapan belas tahun. Masih labil. Masih mudah terpengaruh."
"Aku tidak terpengaruh, Yah. Aku mencintai Herman dengan kesadaranku sendiri."
Ayah Amanda menghela napas. Dia tidak ingin berdebat dengan anaknya di depan Herman. Dia ingin menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin, dengan argumentasi yang logis, dengan cara yang dewasa.
Pintu rumah terbuka. Herman masuk. Wajahnya masih basah oleh keringat karena terburu-buru. Bajunya masih penuh debu dari lokasi proyek. Sepatunya kotor. Tapi ekspresinya serius, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
"Selamat pagi, Pak. Selamat pagi, Bu," sapa Herman.
"Silakan duduk, Herman," kata ayah Amanda.
Herman duduk di sofa seberang, berhadapan langsung dengan ayah Amanda. Di sampingnya, Ibu Amanda menunduk, tidak berani menatap matanya. Di belakangnya, Amanda berdiri dengan tangan mengepal, menahan diri untuk tidak ikut campur.
"Herman, Ayah tidak suka basa-basi. Ayah akan terus terang," kata ayah Amanda.
"Silakan, Pak."
"Ayah minta kamu mengakhiri hubungan dengan Amanda."
Herman terdiam. Dadanya terasa sesak. Meskipun dia sudah menduga ini sejak telepon tadi pagi, mendengarnya langsung dari mulut ayah Amanda tetap terasa seperti pukulan keras di ulu hati yang membuatnya sulit bernapas sejenak.
"Boleh saya tahu alasannya, Pak?" tanya Herman dengan suara tertahan.
"Alasannya sederhana. Kamu belum layak untuk Amanda."
Pak, saya tahu saya belum layak. Saya tahu saya belum mapan. Saya tahu saya masih jauh dari kata sukses. Tapi saya mohon, jangan nilai saya hanya dari apa yang Bapak lihat sekarang. Saya masih muda. Saya masih punya banyak waktu untuk memperbaiki diri. Saya akan bekerja lebih keras. Saya akan menabung. Saya akan membangun masa depan yang layak untuk Amanda.
“Kata-kata, Herman. Hanya kata-kata. Ayah sudah sering mendengar kata-kata seperti itu dari banyak orang. Tapi kenyataannya, hanya sedikit yang bisa membuktikan."
"Apakah Bapak tidak percaya pada saya?"
"Ayah tidak, tidak percaya. Ayah hanya realistis. Dunia ini keras, Herman. Tidak cukup hanya dengan kerja keras dan ketulusan. Butuh koneksi, butuh modal, butuh keberuntungan. Hal-hal yang belum kamu miliki."
Herman menunduk. Jari-jarinya gemetar. Air matanya hampir jatuh, tetapi dia tahan. Dia tidak ingin menangis di depan ayah Amanda. Dia tidak ingin terlihat lemah.
“Yah, jangan!" Amanda tidak bisa menahan diri lagi. Dia berjalan ke depan, berdiri di samping Herman, lalu menggenggam tangan Herman erat-erat. "Aku tidak akan putus dengan Herman. Apapun yang Bapak katakan. Aku tidak akan."
"Amanda, jangan keras kepala," kata ayah Amanda dengan suara mulai meninggi.
“Aku tidak keras kepala, Yah. Aku hanya mempertahankan apa yang aku cintai."
"Kamu masih muda. Kamu belum tahu apa itu cinta."
"Justru karena aku muda, aku tahu bahwa cinta tidak bisa diukur dengan uang atau status. Cinta adalah perasaan. Dan perasaanku pada Herman adalah nyata."
Ayah Amanda berdiri. Wajahnya merah padam. Matanya menyala-nyala. Dia tidak terbiasa dibantah oleh anaknya. Apalagi di depan orang lain.
“Amanda, duduk!" bentak ayah Amanda.
“Tidak, Yah! Aku tidak akan duduk sebelum Bapak mendengarkan aku!"
Suasana ruangan menjadi panas. Ibu Amanda menangis. Herman hanya bisa diam, menggenggam balik tangan Amanda, memberinya kekuatan meskipun dia sendiri sedang hancur.
Ayah Amanda berjalan mondar-mandir di ruang tamu, mengatur napas, mencoba menenangkan diri. Setelah beberapa saat, dia duduk kembali di sofa, lalu menatap Herman dengan mata yang sedikit lebih lunak.
“Herman, Ayah tidak membenci kamu. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk anak Ayah. Dan maaf, menurut Ayah, kamu belum menjadi yang terbaik."
“Saya mengerti, Pak."
"Tapi Ayah juga tidak tega memisahkan kalian dengan paksa. Karena Ayah tahu, cinta yang dipisahkan dengan paksa hanya akan melahirkan kebencian."
“Lalu apa yang harus saya lakukan, Pak?"
“Ayah akan memberi kamu waktu satu tahun."
“Satu tahun?"
“Iya. Satu tahun untuk membuktikan bahwa kamu layak untuk Amanda. Dalam satu tahun ini, kamu harus menunjukkan bahwa kamu bisa mandiri secara finansial. Kamu harus punya tabungan yang cukup. Kamu harus punya rencana masa depan yang jelas. Jika kamu bisa membuktikan itu, Ayah akan merestui hubungan kalian. Jika tidak, kamu harus rela melepaskan Amanda."
Herman terdiam. Satu tahun. Waktu yang singkat untuk ukuran membangun masa depan. Tapi waktu yang cukup untuk membuktikan ketulusan dan kesungguhannya.
“Saya akan buktikan, Pak."
“Kamu yakin?"
“Saya yakin."
“Jangan hanya yakin. Buktikan."
“Saya akan buktikan, Pak. Dengan tindakan, bukan hanya kata-kata."
Ayah Amanda mengangguk. Dia berdiri, berjalan ke arah Herman, lalu menjabat tangannya. Jabat tangan yang kuat, tegas, seperti perjanjian antara dua laki-laki yang saling menghormati meskipun sedang bersaing.
“Selamat berjuang, Herman."
“Terima kasih, Pak."
Amanda memeluk Herman dari samping, menangis haru. Ibu Amanda ikut memeluk dari belakang, air matanya juga jatuh. Ayah Amanda hanya tersenyum tipis, lalu berjalan ke teras untuk mengambil rokok yang sudah lama tidak dia hisap.
Setelah kejadian itu, Herman bekerja dengan semangat yang berkobar-kobar seperti api yang disiram bensin. Setiap pagi dia bangun pukul empat, mandi, sarapan seadanya, lalu berangkat ke proyek sebelum matahari terbit. Setiap malam dia pulang pukul delapan atau sembilan, kadang lebih, tergantung seberapa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Dia tidak lagi mengambil lembur hanya untuk mendapat uang tambahan, tetapi juga untuk belajar. Belajar tentang manajemen proyek, tentang negosiasi dengan pemasok, tentang estimasi biaya dan waktu. Dia ingin naik pangkat. Dia ingin menjadi mandor, kemudian menjadi manajer proyek, kemudian mungkin membuka usaha kontraktor sendiri.
Ahmat dan teman-temannya mendukung penuh. Yanto kadang membantu mengantarkan material dengan sepeda motornya yang butut. Mahdili dan Bintang membantu menghitung kebutuhan material dengan aplikasi di ponselnya. Yuni dan Herawati membantu memasak untuk Herman setiap malam agar dia tidak perlu repot memikirkan makanan. Mereka adalah sahabat sejati, yang selalu ada dalam suka dan duka.
Amanda juga tidak tinggal diam. Dia membantu Herman mencari informasi tentang pelatihan-pelatihan konstruksi, tentang sertifikasi yang dibutuhkan untuk naik pangkat, tentang cara membangun relasi dengan pengusaha properti. Kadang dia ikut menemui pemasok material untuk belajar negosiasi. Kadang dia ikut ke lokasi proyek untuk melihat langsung bagaimana Herman bekerja. Dia tidak hanya menjadi pendukung pasif, tetapi juga pendukung aktif yang terlibat langsung dalam perjuangan Herman.
Dalam sebulan, Herman mendapat sertifikasi mandor muda dari dinas tenaga kerja. Dalam tiga bulan, dia dipromosikan menjadi kepala lapangan dengan gaji yang hampir dua kali lipat. Dalam enam bulan, dia sudah dipercaya mengelola proyek perumahan kecil sendiri, dengan tim yang dia bentuk sendiri, dengan material yang dia pilih sendiri, dengan hasil yang dia tanggung jawabkan sendiri.
Dalam sembilan bulan, Herman sudah bisa menyewa kontrakan yang lebih layak, bukan kontrakan 3x4 di gang sempit belakang pasar, tetapi rumah petak 4x6 dengan kamar mandi dalam dan dapur kecil. Bukan istana, tetapi setidaknya dia tidak perlu lagi berbagi kamar mandi dengan tetangga yang suka mandi lama.
Dalam sebelas bulan, Herman sudah memiliki tabungan yang cukup untuk uang muka rumah sederhana. Dia juga sudah memiliki rencana bisnis untuk membuka usaha kontraktor kecil-kecilan setelah dia mengumpulkan pengalaman dan modal yang cukup. Semua ini dia capai bukan karena keberuntungan, tetapi karena kerja keras, ketekunan, dan dukungan dari orang-orang yang mencintainya.
Tepat satu tahun setelah perjanjian dengan ayah Amanda, Herman datang ke rumah Amanda dengan setelan baru, rambut yang dipotong rapi, dan senyum yang penuh percaya diri. Dia membawa map tebal berisi bukti-bukti pencapaiannya selama setahun. Sertifikat, slip gaji, tabungan, rencana bisnis, semua tertata rapi seperti laporan keuangan perusahaan publik.
Ayah Amanda menerima map itu, membacanya satu per satu dengan teliti. Matanya berbinar. Mulutnya tersenyum. Jari-jarinya bergetar ketika memegang lembaran-lembaran yang membuktikan bahwa Herman tidak hanya pandai bicara, tetapi juga pandai bertindak.
“Herman, Ayah tidak menyangka," kata ayah Amanda dengan suara terharu.
“Saya sudah berjanji, Pak. Saya akan buktikan."
“Kamu benar-benar anak hebat. Ayah minta maaf karena dulu meragukanmu."
“Tidak perlu minta maaf, Pak. Kekhawatiran Bapak adalah bentuk cinta Bapak pada Amanda. Saya mengerti itu."
Ayah Amanda berdiri, berjalan ke arah Herman, lalu memeluknya erat-erat. Pelukan yang tulus, pelukan yang mengakui bahwa Herman sudah layak, bahwa Herman sudah pantas, bahwa Herman sudah menjadi bagian dari keluarga.
“Selamat datang di keluarga kami, Nak," bisik ayah Amanda di telinga Herman.
“Terima kasih, Pak."
Herman tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia menangis. Bukan air mata sedih. Bukan air mata haru. Tapi air mata kemenangan. Air mata yang keluar karena setelah berjuang selama satu tahun penuh, akhirnya dia diterima. Diterima sebagai kekasih Amanda. Diterima sebagai calon menantu. Diterima sebagai manusia yang layak.
Amanda juga menangis. Dia berlari ke arah Herman, memeluknya dari belakang, kepalanya menyandar di punggung Herman yang lebar, tangannya melingkar di perut Herman. Ibu Amanda ikut memeluk mereka bertiga. Keluarga kecil itu berdiri di ruang tamu rumah Jalan Nusa Indah, berpelukan, menangis, tertawa, bersyukur.
Setelah selesai berpelukan, ayah Amanda mengajak Herman duduk di teras. Mereka berdua minum kopi buatan ibu Amanda, yang terkenal sangat pahit tetapi sangat aromatik.
“Herman, Ayah ingin bertanya sesuatu," kata ayah Amanda.
“Tanya apa, Pak?"
“Apa rencanamu dengan Amanda setelah ini?"
“Saya akan melamar Amanda, Pak. Tentu setelah saya mendapat restu dari Bapak dan Ibu. Saya akan mempersiapkan semuanya dengan matang. Bukan hanya secara finansial, tetapi juga secara mental dan spiritual."
“Kamu yakin dengan keputusanmu?"
“Saya yakin, Pak. Sejak permen karet itu, saya sudah yakin bahwa Amanda adalah takdir saya."
Ayah Amanda tertawa kecil mendengar kata permen karet. "Kisah cinta kalian memang unik, Herman. Dimulai dari hal yang konyol, tetapi berakhir dengan sesuatu yang indah."
“Kadang, cinta tidak perlu dimulai dengan sempurna, Pak. Yang penting adalah bagaimana kita menjalaninya."
Ayah Amanda mengangguk. Dia menyesap kopinya, menikmati pahit yang perlahan berubah menjadi manis di lidahnya, seperti perjalanan cinta Herman dan Amanda yang penuh dengan rintangan tetapi akhirnya berbuah manis.
“Herman, Ayah merestui kamu. Ayah merestui hubungan kamu dengan Amanda. Ayah juga merestui jika kamu ingin melamarnya. Tapi ingat, satu syarat."
“Apa syaratnya, Pak?"
“Jangan pernah sakiti Amanda. Jika kamu menyakitinya, Ayah yang akan mencarimu."
Herman tersenyum. "Saya tidak akan menyakiti Amanda, Pak. Janji."
“Janji?"
“Janji."
Ayah Amanda mengulurkan tangannya. Herman menjabatnya. Jabat tangan yang mengikat janji antara dua laki-laki yang sama-sama mencintai perempuan yang sama. Satu sebagai ayah, satu sebagai kekasih. Satu sebagai pelindung, satu sebagai pendamping.
BAB 19
MASA DEPAN YANG DIGARAP BERSAMA
Lamaran Herman kepada Amanda berlangsung enam bulan setelah restu resmi dari ayah Amanda. Bukan lamaran mewah dengan gedung megah dan dekorasi ribuan bunga, tetapi lamaran sederhana di Dermaga Danau Mare, tempat di mana Herman pertama kali menyatakan cintanya dengan suara fals dan gitar tiga senar yang sumbang. Tempat itu memiliki makna tersendiri bagi mereka berdua.
Di sanalah Herman menunjukkan kerentanannya untuk pertama kalinya, di sanalah Amanda tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata, di sanalah mereka mulai jujur satu sama lain bahwa perasaan yang tumbuh di antara mereka bukan sekadar suka atau penasaran, tetapi sudah merambat ke akar yang lebih dalam bernama cinta.
Herman datang lebih awal, seperti yang selalu dia lakukan jika menyangkut hal-hal penting. Dia membawa satu tangkai mawar merah, bukan karangan bunga besar yang mahal, karena dia tahu Amanda lebih menyukai kesederhanaan daripada kemewahan palsu. Dia juga membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam berisi cincin perak dengan ukiran kecil berbentuk permen karet di bagian dalamnya. Cincin itu tidak mahal, hanya seharga empat ratus ribu rupiah, butuh waktu tiga bulan untuk menabung sambil terus memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyisihkan sebagian untuk investasi masa depan. Tapi bagi Herman, cincin itu adalah segalanya. Cincin itu adalah simbol dari perjuangan, pengorbanan, dan komitmen yang tidak bisa diukur dengan uang.
Amanda datang setengah jam kemudian, diantar oleh Dahlia dan Yanto yang sudah seperti saudara sendiri bagi mereka berdua. Dia memakai dress putih sederhana, tidak panjang, tidak pendek, tidak ketat, tidak longgar. Pas di tubuhnya, seperti perasaan Herman yang pas di hatinya selama ini. Rambutnya dibiarkan terurai, hanya dijepit sedikit di bagian belakang dengan jepit bambu hadiah dari Herman pada ulang tahunnya yang lalu.
"Herman, kamu manggil aku ke sini serius banget," kata Amanda begitu turun dari mobil. Matanya mengamati dermaga yang sepi, hanya mereka berdua dan dua orang saksi yang sengaja Herman undang untuk momen spesial ini. "Ada apa? Jangan-jangan kamu mau..."
"Tebak saja," potong Herman sambil tersenyum misterius.
Amanda mendekat, jantungnya berdebar kencang. Dia sudah menduga apa yang akan terjadi, tapi dia tidak mau berprasangka terlalu jauh. Takut kecewa jika ternyata hanya sekadar makan malam romantis atau sekadar jalan-jalan sore seperti biasanya.
Herman berlutut. Bukan berlutut setengah hati atau berlutut dengan satu kaki seperti yang sering dia lihat di film-film romantis barat. Herman berlutut dengan kedua kaki di atas papan kayu dermaga yang sudah tua dan menghitam karena usia. Tangannya sedikit gemetar saat membuka kotak hitam itu, memperlihatkan cincin perak dengan ukiran permen karet di bagian dalamnya. Matanya menatap Amanda dengan penuh harap, penuh cinta, penuh dengan seribu janji yang tidak akan pernah dia ingkari seumur hidupnya.
"Amanda," kata Herman dengan suara yang bergetar tetapi jelas, "aku tahu aku bukan laki-laki sempurna. Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku dengan menempelkan permen karet di bajumu di Car Free Day . Aku tahu aku sering lupa janji, sering telat datang, sering tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Tapi satu hal yang aku tahu pasti: aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali melihat wajahmu yang galak itu, sejak pertama kali mendengar suaramu yang melengking saat marah, sejak pertama kali merasakan betapa berartinya seseorang ketika dia hadir dalam hidupku."
Air mata Amanda mulai mengalir. Bukan air mata sedih, bukan air mata terharu biasa, tetapi air mata yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya, tempat di mana selama ini dia menyimpan semua rasa takut, semua rasa ragu, semua rasa tidak percaya bahwa cinta sejati itu benar-benar ada.
"Herman, aku..."
"Belum selesai," potong Herman dengan senyum tipis. "Aku belum selesai, Amanda. Tolong jangan potong sebelum aku pingsan karena gugup."
Amanda tertawa kecil di sela-sela tangisnya. "Baik, baik. Lanjutkan."
"Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Bukan karena kamu cantik, bukan karena kamu pintar, bukan karena kamu anak orang kaya. Tapi karena kamu adalah kamu. Kamu yang marah-marah tanpa sebab, kamu yang keras kepala, kamu yang tidak pernah mau mengalah, kamu yang membuatku merasa hidup untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun. Aku tidak bisa menjanjikan istana atau mobil mewah atau liburan ke luar negeri setiap tahun. Tapi aku bisa menjanjikan satu hal: aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Aku tidak akan pernah berhenti berusaha menjadi lebih baik untukmu. Aku tidak akan pernah berhenti berterima kasih pada takdir yang mempertemukan kita melalui sehelai permen karet."
Amanda tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Hanya air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya, jatuh ke dress putihnya, meninggalkan noda basah kecil seperti titik-titik kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh waktu.
"Amanda Regina Prameswari," Herman membuka kotak cincin itu lebar-lebar, "maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Maukah kamu melalui suka dan duka bersama aku? Maukah kamu memaafkan semua kesalahanku di masa lalu dan bersamaku membangun masa depan yang lebih baik?"
Amanda mengangguk. Bukan anggukan pelan yang ragu-ragu, tetapi anggukan tegas yang keluar dari hati yang paling dalam. Dia meraih tangan Herman yang gemetar, lalu berkata dengan suara yang lantang tetapi penuh getaran, "Ya, Herman. Aku mau. Aku mau menjadi pendamping hidupmu. Aku mau melalui suka dan duka bersamamu. Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu sejak lama. Dan aku ingin membangun masa depan bersamamu, bukan hanya yang lebih baik, tetapi yang terbaik."
Herman tersenyum. Senyum paling bahagia yang pernah dia tunjukkan sepanjang hidupnya. Tangannya yang gemetar memasangkan cincin perak itu di jari manis Amanda. Cincin itu pas, tidak longgar, tidak sempit, seolah-olah cincin itu memang sudah ditakdirkan untuk melingkar di jari Amanda sejak awal mula dunia diciptakan.
Dahlia menangis histeris di pinggir dermaga. Yanto ikut menangis meskipun dia tidak tahu persis mengapa dia menangis. Mungkin karena bahagia melihat sahabatnya akhirnya menemukan kebahagiaan. Mungkin karena terharu melihat perjuangan Herman yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Atau mungkin karena dia ikut merasakan getaran cinta yang menyelimuti seluruh dermaga Danau Mare pada sore yang cerah itu.
"FOTO! FOTO!" teriak Dahlia sambil mengusap air matanya dengan tangan. "Kalian harus berfoto! Ini momen bersejarah!"
Herman dan Amanda berfoto dengan latar belakang Dermaga Danau Mare yang tenang, airnya berwarna keemasan karena dipantulkan oleh sinar matahari sore yang mulai condong ke barat. Amanda menunjukkan cincinnya ke arah kamera, tersenyum lebar, matanya berbinar seperti bintang di langit malam yang paling gelap sekalipun. Herman memeluk pinggang Amanda, kepalanya sedikit menunduk, senyumnya tidak bisa dia sembunyikan meskipun dia sudah berusaha mati-matian untuk terlihat cool.
"Kirim foto ini ke grup!" perintah Amanda.
"Grup yang mana?" tanya Dahlia sambil memegang ponsel.
"Semua grup! Geng Car Free Day , Geng Jogging Cantik, grup keluarga, grup apa saja yang penting mereka tahu bahwa aku sudah dilamar oleh laki-laki tergila se-Kota Kuala Kapuas."
"Aku tidak gila, Amanda. Aku hanya... kreatif," protes Herman.
"Kreatif atau gila, sama saja. Yang penting kamu adalah kamu. Dan aku mencintai kamu apa adanya."
Herman tersenyum mendengar kata cinta yang keluar dari mulut Amanda dengan begitu mudahnya. Dulu, Amanda sangat pelit mengucapkan kata itu. Bisa dihitung dengan jari berapa kali dia mengatakan cinta pada Herman selama setahun terakhir. Tapi sekarang, setelah cincin itu melingkar di jarinya, setelah restu orang tua sudah di kantong, setelah perjuangan panjang yang melelahkan tetapi membahagiakan, Amanda tidak lagi takut mengucapkan kata itu. Karena cinta bukan lagi sekadar perasaan yang mengambang di udara, tetapi sudah menjadi komitmen yang mengikat, janji yang harus ditepati, dan tanggung jawab yang harus dijalani bersama-sama.
Pernikahan Herman dan Amanda digelar enam bulan setelah lamaran, tidak terlalu mewah, tidak terlalu sederhana, pas di tengah-tengah seperti watak mereka berdua yang selalu mencari titik keseimbangan dalam segala hal. Yang hadir bukan hanya keluarga dan kerabat dekat, tetapi juga teman-teman lama yang setia mendampingi perjalanan cinta mereka sejak awal. Geng Car Free Day hadir semua, Ahmat menjadi salah satu saksi pernikahan, Yanto menjadi koordinator konsumsi (meskipun akhirnya dia lebih banyak makan daripada bekerja seperti yang diharapkan dari seorang koordinator konsumsi yang bertanggung jawab).
Mahdili menjadi dokumentator dengan ponsel barunya yang katanya kamernya paling bagus untuk menangkap momen bahagia seperti ini. Yuni dan Herawati menjadi pengiring pengantin, berdiri di samping Amanda dengan gaun serba pink yang membuat mereka terlihat seperti dua peri yang sedang menjaga putri tidurnya yang baru saja terbangun oleh ciuman cinta sejati, dan Bintang dapat bagian keamanan dan perpakiran.
Dari pihak Amanda, geng jogging datang semua. Dahlia menjadi maids of honor, memegang buket bunga dengan tangan gemetar karena terlalu emosional. Yunita, Anita, dan Sania duduk di barisan depan, sesekali tersenyum, sesekali menangis, sesekali saling memeluk karena tidak percaya bahwa akhirnya Amanda, perempuan paling galak di Kota Kuala Kapuas, berhasil dijinakkan oleh seorang kontraktor sederhana yang tidak memiliki apa-apa selain ketulusan, kerja keras, dan cinta yang tidak pernah pudar meskipus dihantam badai berkali-kali.
Ragil juga datang. Bukan sebagai tamu undangan utama, tetapi sebagai teman lama yang ingin memberikan restu. Dia datang bersama perempuan baru yang tidak terlalu cantik tetapi matanya jujur dan senyumnya tulus. Ragil sudah berubah. Setelah kekalahannya dari Herman, dia banyak merenung, banyak belajar, banyak memperbaiki diri. Dia tidak lagi menjadi playboy yang suka memanipulasi perempuan. Dia menjadi laki-laki yang lebih rendah hati, lebih menghargai perasaan orang lain, lebih paham bahwa cinta tidak bisa dibeli dengan uang atau status atau wajah ganteng.
"Selamat, Herman. Selamat, Amanda," kata Ragil sambil menjabat tangan Herman dan mencium pipi Amanda (dengan izin Herman, tentu saja). "Kalian berdua pantas bahagia."
"Terima kasih, Ragil," jawab Herman dengan tulus. "Kamu juga pantas bahagia dengan perempuan di sampingmu itu. Jaga dia baik-baik."
"Insya Allah. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang dulu."
Mereka berpelukan sebentar, dua laki-laki yang dulu bersaing untuk memperebutkan hati perempuan yang sama, kini bersahabat dalam damai, tanpa dendam, tanpa sakit hati, hanya ada rasa syukur bahwa semuanya telah berlalu dan meninggalkan pelajaran berharga tentang arti cinta yang sesungguhnya, tentang arti keikhlasan yang sejati, tentang arti menerima kenyataan bahwa tidak semua yang kita inginkan akan menjadi milik kita, dan itu bukanlah akhir dari segalanya.
Akad nikah berlangsung pukul sepuluh pagi di teras rumah Amanda yang sudah dihias dengan nuansa putih dan krem yang elegan tapi tetap sederhana seperti pesan kedua mempelai yang tidak ingin berlebihan dalam hal apapun. Penghulu datang tepat waktu, membawa kitab dan berkas-berkas yang sudah disiapkan berhari-hari sebelumnya. Herman duduk di pelaminan dengan kemeja putih dan jas hitam, rambutnya disisir rapi, kumis tipisnya dicukur bersih sehingga wajahnya terlihat lebih muda dari usianya yang sudah menginjak kepala dua puluh lima. Amanda duduk di sampingnya dengan gaun pengantin putih yang tidak terlalu panjang, tidak banyak payet, hanya sederhana dengan sedikit renda di bagian lengan dan kerah.
Prosesi akad nikah berlangsung lancar. Herman mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang, tidak terbata-bata, tidak gemetar, seperti seorang laki-laki yang sudah mempersiapkan dirinya dengan matang untuk memikul tanggung jawab yang sangat besar.
"Saya terima nikahnya Amanda Regina Prameswari Binti Hemawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin perak dibayar tunai."
“SAH.” Ujar kedua saksi.
Semua tamu bertepuk tangan. Ada yang bersorak. Ada yang bersiul. Ada yang menangis haru, terutama ibu Amanda yang dari awal acara sudah tidak bisa berhenti menyeka air matanya dengan tisu yang sudah bergelimpangan di pangkuannya.
"Kamu resmi menjadi suami saya sekarang, Herman," bisik Amanda setelah akad nikah selesai, sambil menggenggam tangan Herman erat-erat.
"Dan kamu resmi menjadi istri saya, Amanda," balas Herman dengan suara yang penuh kebahagiaan. "Kita akan melewati semuanya bersama-sama. Suka, duka, miskin, kaya, sakit, sehat. Sampai maut memisahkan kita."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua tersenyum. Senyum yang penuh dengan masa depan yang belum pasti, tetapi tidak perlu pasti karena yang penting mereka akan menggarapnya bersama-sama, bahu membahu, tangan dalam tangan, hati menyatu dalam satu irama yang sama, satu tujuan yang sama, satu cinta yang tidak akan pernah pudar meskipun waktu terus berjalan dan meninggalkan kerutan di wajah serta uban di rambut.
Resepsi pernikahan berlangsung meriah tetapi tetap dalam batas kesederhanaan yang mereka sepakati bersama. Tidak ada panggung megah, tidak ada lampu sorot yang menyilaukan, tidak ada karpet merah yang panjang. Hanya tenda putih di halaman rumah Amanda yang sudah dihias dengan balon-balon warna pastel dan lampu-lampu hias yang memberikan nuansa hangat di malam hari. Makanan disajikan dalam bentuk prasmanan sederhana, menu utamanya adalah tahu walik dan bakso dari langganan Pak RT, sebagai penghormatan pada kenangan-kenangan manis yang mereka lalui bersama selama masa pendekatan yang penuh dengan drama dan tawa.
Yanto dan Dahlia menjadi pembawa acara, sebuah kombinasi yang berbahaya karena mereka berdua sama-sama tidak bisa serius lebih dari lima menit tanpa melontarkan lelucon yang kadang terlalu jayus tetapi tetap membuat orang tertawa.
Yanto membuka acara dengan kalimat, "Selamat datang di pernikahan pasangan yang paling tidak mungkin bersatu di seluruh Kuala Kapuas. Seorang kontraktor gila yang suka tempelin permen karet di baju orang, dan seorang perempuan galak yang tidak pernah mau mengaku bahwa dia sebenarnya lembut." Semua tamu tertawa, termasuk kedua mempelai yang duduk di pelaminan dengan wajah sedikit memerah karena malu.
Dahlia melanjutkan, "Cerita cinta mereka dimulai dari permen karet. Ya, permen karet. Bukan dari tatapan mata, bukan dari senyuman manis, bukan dari puisi cinta. Tapi dari permen karet yang lengket di baju olahraga putih milik Amanda. Lucu, konyol, tidak masuk akal. Tapi itulah cinta. Cinta tidak pernah masuk akal. Cinta tidak pernah logis. Cinta datang begitu saja, kadang dari hal-hal yang paling tidak terduga, dan jika kita membiarkannya tumbuh, ia akan berkembang menjadi sesuatu yang indah."
Ibu Amanda menangis lagi. Ayah Amanda ikut menangis meskipun dia berusaha menyembunyikannya dengan menunduk dan menyeka mata dengan ujung jari. Herman menggenggam tangan Amanda lebih erat. Amanda membalas genggaman itu dengan tekanan yang sama, tanda bahwa mereka berdua sama-sama merasakan getaran kebahagiaan yang luar biasa di hari yang paling bersejarah dalam hidup mereka.
Acara dilanjutkan dengan pemotongan kue, pemberian hadiah dari tamu undangan, dan sesi foto bersama yang memakan waktu hampir dua jam karena semua orang ingin berfoto dengan kedua mempelai yang tampak sangat bahagia itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan momen spesial ini. Herman tidak mengeluh meskipun pipinya sudah hampir kaku karena terlalu banyak tersenyum, tangannya sudah hampir lepas karena terlalu banyak dijabat, dan punggungnya sudah hampir patah karena terlalu banyak difoto dengan berbagai pose yang kadang sangat aneh dan tidak ergonomis untuk ukuran tulang manusia normal pada umumnya.
Hari mulai malam ketika para tamu satu per satu pamit pulang. Herman dan Amanda berdiri di pintu gerbang, melambaikan tangan, mengucapkan terima kasih pada setiap tamu yang datang. Dahlia dan Yanto pulang paling akhir, setelah membantu membersihkan sisa-sisa makanan dan merapikan kursi-kursi yang berantakan.
"Selamat malam, pengantin baru," kata Dahlia sambil memeluk Amanda erat-erat. "Semoga kalian bahagia selamanya."
"Aamiin," jawab Amanda dengan suara yang sedikit pecah karena emosi yang tidak bisa dia sembunyikan lagi.
"Jangan sakiti Herman, ya, Am," tambah Yanto sambil memeluk Herman. "Dia sudah berjuang keras untuk mencapai hari ini."
"Aku tidak akan menyakiti dia," janji Amanda.
"Dan aku tidak akan menyakiti Amanda," timpal Herman.
Mereka berempat tertawa kecil. Lalu Dahlia dan Yanto masuk ke mobil dan melaju perlahan meninggalkan rumah Jalan Nusa Indah, meninggalkan Herman dan yang kini sah menjadi suami istri untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Setelah semua tamu pulang dan rumah mulai sepi, Herman dan Amanda duduk di teras, berdua saja, ditemani oleh teh manis hangat buatan Ibu Amanda yang sengaja disiapkan untuk menenangkan saraf setelah seharian penuh dengan keramaian.
"Kita sudah menikah, Herman," kata Amanda sambil menyesap teh manisnya perlahan.
"Iya. Kita sudah menikah. Akhirnya."
"Kamu tidak menyesal?"
"Menyesal? Kenapa harus menyesal? Aku sudah menunggu momen ini sejak permen karet itu. Apa kamu menyesal?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, lalu menunduk, memainkan cincin di jari manisnya. Cincin perak dengan ukiran permen karet di bagian dalamnya. Cincin yang tidak pernah dia lepas sejak Herman memasangkannya di dermaga Danau Mare enam bulan lalu.
"Herman, aku ingin bertanya sesuatu," kata Amanda setelah beberapa lama terdiam.
"Apa?"
"Apakah kamu masih ingat jurus ke berapa yang paling berhasil menurutmu?"
Herman tertawa kecil. "Jurus ke berapa? Semua jurus berhasil. Karena setiap jurus yang gagal membawaku semakin dekat padamu."
"Jawaban diplomatis."
"Tapi jujur."
Amanda mengangguk. Dia tahu Herman tidak pernah berbohong. Dari awal, sejak permen karet itu, Herman selalu jujur. Terlalu jujur, kadang, sampai-sampai orang lain menganggapnya tolol atau tidak punya otak. Tapi bagi Amanda, kejujuran Herman adalah hal yang paling membuatnya jatuh cinta. Di dunia yang penuh dengan kepalsuan dan kepura-puraan, Herman adalah satu-satunya orang yang selalu mengatakan apa yang dia pikirkan dan merasakan apa yang ada di hatinya, tanpa tedeng aling-aling, tanpa basa-basi, tanpa takut dinilai buruk oleh siapapun.
"Besok Car Free Day ," kata Herman.
"Iya. Besok Car Free Day . Kita akan jogging bersama, seperti biasa. Tapi sekarang sebagai suami istri."
"Boleh aku menempelkan permen karet di bajumu?"
"Jangan coba-coba!"
"Tapi aku ingin mengulang kenangan."
"Kenangan yang itu cukup sekali seumur hidup. Tidak perlu diulang."
Herman tertawa. Amanda ikut tertawa. Mereka berdua tertawa di teras rumah Jalan Nusa Indah di bawah sinar bulan yang mulai muncul dari balik awan tipis yang bergerak lambat ditiup angin malam yang berhembus sepoi-sepoi.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Herman tidur di rumah Amanda. Bukan di kontrakan 3x4 dengan kipas angin rusak dan langit-langit yang retak-retak. Tapi di kamar Amanda, yang kini sudah menjadi kamar mereka berdua, dengan sprei baru hadiah dari Yuni dan Herawati, dengan bantal-bantal empuk yang membuat tidur terasa sangat nyaman, dan dengan kehadiran Amanda di sampingnya, mendengkur pelan dengan wajah yang sangat damai seperti bayi yang baru saja selesai menyusu.
Herman tidak bisa tidur. Dia hanya memandang wajah Amanda yang tenang, yang tidak lagi memucat karena marah, tidak lagi merah padam karena emosi meledak-ledak, tidak lagi sembab karena menangis sejadi-jadinya. Wajah yang damai, wajah yang bahagia, wajah yang menjadi alasan Herman bangun setiap pagi untuk terus berjuang, terus bekerja, terus menjadi lebih baik.
"Aku mencintaimu, Amanda," bisik Herman di telinga Amanda yang sedang tidur.
Amanda tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dalam tidurnya, senyum kecil yang menandakan bahwa alam bawah sadarnya mendengar kata-kata itu dan merespon dengan kebahagiaan yang tidak perlu diungkapkan dengan suara.
Herman memejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidur dengan nyenyak tanpa mimpi buruk tentang permen karet raksasa yang mengejarnya di Car Free Day . Yang ada hanya mimpi indah tentang masa depan, tentang rumah kecil dengan halaman yang ditanami bunga, tentang anak-anak yang berlarian dengan sepeda mini, tentang hari tua yang dijalani bersama Amanda, berpegangan tangan, tersenyum, bersyukur bahwa mereka pernah bertemu melalui sehelai permen karet yang lengket di baju olahraga putih.
BAB 20
JUTAAN LANGKAH DI CAR FREE DAY
Lima tahun telah berlalu sejak Herman dan Amanda mengucapkan janji suci di pelaminan yang sederhana namun penuh makna. Lima tahun yang terasa seperti lima menit ketika kebahagiaan mengalir begitu derasnya, tetapi terasa seperti lima abad ketika badai kehidupan datang menerpa tanpa kenal ampun. Seperti semua pasangan suami istri di muka bumi yang tidak sempurna dan tidak pernah akan sempurna, Herman dan Amanda juga mengalami pasang surut dalam bahtera rumah tangga mereka. Kadang ombak kecil menggoyang perahu, kadang badai besar datang hampir menenggelamkan, tetapi mereka selalu berhasil bertahan, selalu berhasil menemukan jalan kembali ke pelukan satu sama lain, karena komitmen mereka tidak diucapkan dengan bibir tetapi ditulis dengan darah, keringat, dan air mata di atas lembaran kehidupan yang tidak pernah mudah bagi siapa pun.
Herman kini tidak lagi menjadi kontraktor lapangan yang setiap hari mengangkat semen dan mengecek plafon dengan risiko jatuh dari ketinggian. Dia sudah membuka usaha kontraktor sendiri, kecil-kecilan pada awalnya, dengan modal tabungan pernikahan yang tidak seberapa plus pinjaman dari Ahmat yang tidak pernah dia bayar-bayar karena Ahmat dengan ikhlas merelakannya sebagai modal usaha saudara. Namun perlahan, dengan kerja keras yang tidak pernah mengenal lelah, dengan strategi yang dia pelajari dari buku-buku manajemen yang dipinjamkan oleh Sania, dengan doa yang tidak pernah putus dari ibu dan ayah Amanda serta arwah ibunya sendiri yang dia yakini selalu menyaksikan dari surga yang paling indah, usaha Herman berkembang pesat.
Sekarang dia memiliki tim beranggotakan lima belas orang, mengerjakan proyek-proyek perumahan di seluruh Kota Kuala Kapuas dan sekitarnya, bahkan beberapa proyek di Palangka Raya yang memaksanya untuk bolak-balik antara dua kota setiap minggu. Dia tidak lagi tinggal di kontrakan sempit di belakang pasar, tetapi sudah memiliki rumah sederhana di kompleks perumahan yang tidak terlalu mewah tetapi cukup nyaman untuk tempat berteduh setelah seharian bergelut dengan debu dan semen. Rumah itu tidak besar, hanya tipe lima puluh empat dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, dan dapur kecil di belakang yang selalu wangi karena Amanda hobi memasak sejak menikah.
Rumah itu dibeli dari hasil kerja keras Herman selama tiga tahun pertama pernikahan mereka, bukan dari uang orang tua Amanda seperti yang dituduhkan oleh orang-orang yang iri dengan kebahagiaan mereka. Herman ingin membuktikan pada dunia bahwa dia tidak menikahi Amanda karena hartanya. Amanda juga ingin membuktikan pada dunia bahwa dia tidak salah memilih pendamping hidup yang hanya mengandalkan ketulusan tanpa kesiapan materi. Mereka berdua sukses membuktikannya, meskipun prosesnya tidak mudah, berliku, penuh dengan pengorbanan yang tidak terhitung jumlahnya dengan mata uang apapun.
Amanda lulus kuliah tepat waktu dengan predikat cumlaude dari Universitas Palangka Raya, Jurusan Manajemen, konsentrasi Manajemen Keuangan. Dia tidak langsung bekerja setelah lulus, karena dia memilih untuk fokus mengurus rumah tangga dan membantu Herman mengelola keuangan usaha kontraktornya. Bukan karena dia tidak bisa bekerja di perusahaan orang atau malas mencari pengalaman di luar sana, tetapi karena dia sadar bahwa Herman membutuhkannya. Usaha kontraktor yang baru dirintis membutuhkan pengelolaan keuangan yang rapi, administrasi yang tidak berantakan, dan negosiasi dengan pemasok yang tidak boleh asal-asalan. Amanda mengambil peran itu. Dia menjadi bendahara, akuntan, sekaligus penasihat keuangan bagi Herman. Tanpa Amanda, mungkin usaha Herman akan hancur dalam enam bulan pertama karena buruknya manajemen kas dan tidak terkendalinya arus utang piutang yang bisa menjerat siapa saja yang tidak paham dunia keuangan.
Geng lama mereka masih tetap solid, meskipun kesibukan masing-masing sering kali membuat mereka tidak bisa berkumpul seperti dulu lagi. Ahmat sekarang menjadi manajer di perusahaan properti milik pamannya, sering bepergian ke luar kota, kadang ke luar pulau, tetapi setiap kali ada kesempatan untuk pulang ke Kota Kuala Kapuas, dia selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Herman dan Amanda, membawa oleh-oleh yang tidak pernah terlalu mahal tetapi selalu dipilih dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Yanto dan Dahlia menikah setahun setelah Herman dan Amanda. Mereka tidak menggelar pesta besar, hanya undangan terbatas untuk keluarga dan teman-teman terdekat, karena mereka lebih memilih mengalokasikan dana untuk modal usaha katering yang hingga sekarang masih berjalan dengan baik, bahkan sudah memiliki empat karyawan tetap dan puluhan langganan tetap dari kalangan pegawai kantoran dan pebisnis kecil di Kuala Kapuas yang tidak sempat memasak sendiri karena kesibukan yang luar biasa.
Mahdili dan Yunita pacaran selama tiga tahun, putus selama satu tahun, lalu rujuk kembali dan menikah pada tahun keempat sejak Herman dan Amanda menikah. Hubungan mereka seperti roller coaster, naik turun, penuh dengan tikungan tajam yang membuat mual, tetapi pada akhirnya berhenti di stasiun yang sama, dengan hati yang sama, dan dengan komitmen yang sama untuk tidak pernah lagi saling meninggalkan apapun yang terjadi di masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.
Herawati menikah dengan seorang pengusaha meubel dari Palangka Raya, pindah ke sana, dan jarang pulang ke Kuala Kapuas. Tapi setiap Natal dan tahun baru, dia selalu kembali, berkumpul dengan teman-teman lamanya, tertawa, bernostalgia, mengenang masa-masa ketika mereka masih muda dan bodoh dan penuh dengan mimpi yang setinggi langit meskipun jangkauan tangan mereka sangat pendek untuk menggapai semua keinginan yang melambung tinggi tanpa perhitungan matang.
Sania dan Bintang tetap sendiri. Bukan karena tidak ada yang mau, tetapi karena dia memilih untuk sendiri. Dia bilang, kebahagiaan tidak selalu harus dengan pasangan. Kebahagiaan bisa ditemukan dalam buku, dalam secangkir kopi di sore hari, dalam perjalanan ke tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Sania menjadi penulis lepas, menulis cerita-cerita pendek yang dimuat di media daring, kadang juga menulis novel yang laris di pasaran meskipun dia tidak pernah mengakui bahwa dia adalah penulisnya karena dia menggunakan nama pena yang sangat rahasia, tidak diketahui siapa pun, termasuk teman-temannya sendiri.
Dan ada satu anggota baru dalam keluarga Herman dan Amanda. Seorang bayi laki-laki yang lahir pada tahun ketiga pernikahan mereka, setelah dua tahun mencoba dan berdoa dan berobat ke sana kemari tanpa hasil yang memuaskan. Bayi itu lahir dengan selamat pada suatu pagi di bulan Juni, ketika hujan deras mengguyur Kuala Kapuas seperti air bah yang hendak menghanyutkan segala duka yang pernah ada. Beratnya dua kilo sembilan ratus gram, panjangnya empat puluh delapan sentimeter, rambutnya hitam lebat seperti rambut Herman, tetapi hidungnya mancung seperti hidung Amanda, dan matanya bulat besar dengan sorot tajam yang mengingatkan semua orang pada tatapan galak Amanda ketika dia masih muda dan mudah tersulut emosinya hanya karena hal-hal sepele yang sebenarnya tidak perlu dia hiraukan.
Herman menamainya Karet.
Ya, Karet.
Bukan nama yang umum di telinga orang kebanyakan, bahkan cenderung aneh dan sulit diterima oleh akal sehat. Banyak yang protes, terutama Ibu Amanda yang mengusulkan nama-nama yang lebih Islami seperti Muhammad atau Ahmad atau Abdullah. Ayah Amanda mengusulkan nama yang lebih jawa seperti Joko atau Suyono. Teman-teman mereka mengusulkan nama-nama kekinian yang sedang tren di kalangan artis dan selebriti media sosial. Tapi Herman bersikukuh.
"Namanya Karet," kata Herman di meja makan, ketika semua orang berkumpul untuk memberikan saran nama untuk bayi yang baru lahir itu.
"Karet? Seperti permen karet?" tanya Ibu Amanda dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa tidak setujunya.
"Bukan seperti permen karet, Mah. Tapi terinspirasi dari permen karet. Karena permen karet itulah yang mempertemukan saya dengan Amanda. Permen karet itulah yang mengubah hidup saya. Tanpa permen karet, mungkin saya tidak akan pernah berani mendekati Amanda. Tanpa permen karet, mungkin kami tidak akan pernah saling mengenal. Tanpa permen karet, mungkin Karet tidak akan pernah lahir ke dunia ini."
"Tapi, Herman, nama Karet itu aneh. Anaknya nanti diejek teman-temannya."
"Biarkan mereka mengejek, Mah. Suatu hari nanti, ketika Karet sudah besar dan bertanya kenapa dia diberi nama Karet, saya akan ceritakan kisah cinta saya dengan Amanda. Dan dia akan bangga, bukan malu."
Ibu Amanda tidak bisa berdebat lagi. Herman sudah bulat. Amanda juga mendukung suaminya. Dia bilang, "Biarlah, Mah. Nama itu doa. Herman mendoakan agar anaknya jadi pengingat akan cinta yang tulus, bukan sekedar nama yang bagus di telinga tapi hampa makna."
Maka jadilah Karet nama resmi yang tercatat di akta kelahiran, kartu keluarga, dan semua dokumen kependudukan lainnya. Karet. Nama yang akan terus menjadi bahan perbincangan setiap kali ada orang baru yang mendengarnya.
Nama yang akan selalu memicu pertanyaan, "Karet? Seperti karet gelang? Karet ban? Karet permen?" Dan Herman akan dengan sabar menjawab, "Karet permen. Seperti permen karet. Itu adalah awal dari segalanya."
Car Free Day masih berlangsung setiap Minggu pagi, seperti yang sudah menjadi tradisi turun-temurun di Kuala Kapuas sejak puluhan tahun yang lalu, mungkin bahkan sejak sebelum Herman dan Amanda lahir ke dunia yang penuh dengan kejutan ini. Ribuan warga masih memadati area Stadion Panunjung Tarung dan jalan-jalan di sekitarnya, melakukan kegiatan yang kurang lebih sama seperti dua puluh tahun yang lalu, tradisi ini terus berlanjut tanpa henti oleh perubahan zaman yang tidak pernah bisa diprediksi oleh siapa pun.
Herman dan Amanda tetap hadir setiap minggu. Tidak pernah absen, kecuali ketika Karet sakit atau ketika ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Kini mereka tidak datang berdua, tetapi bertiga dengan kereta dorong bayi yang selalu membuat orang-orang di sekitar tersenyum setiap kali melihat bayi montok dengan rambut hitam lebat itu tertidur pulas sambil menggigit jempol kakinya yang mungil dan menggemaskan.
Herman sudah tidak jogging lagi. Usianya yang sudah mendekati kepala tiga membuat lututnya sedikit bermasalah. Dokter bilang dia harus mengurangi aktivitas yang membebani sendi, terutama lari di aspal keras yang tidak ramah untuk lutut yang sudah mulai menua sebelum waktunya. Tapi Herman tetap hadir. Dia berjalan santai, menggendong Karet di pinggangnya, sesekali menunjuk ke arah orang-orang yang berlalu-lalang, lalu berkata dengan suara lembut pada putranya yang masih terlalu kecil untuk mengerti, "Lihat, Nak. Itu tempat pertama kali Ayah bertemu Ibu."
Karet hanya bergumam tidak jelas, lalu kembali tidur di pundak Herman yang bidang dan hangat, tidak peduli dengan cerita cinta orang tuanya yang sangat romantis tetapi juga sangat konyol pada saat yang bersamaan.
Amanda masih jogging, meskipun tidak sekencang dulu ketika dia masih lajang dan harus menjaga penampilan agar tetap langsing dan menarik di mata lawan jenis yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Sekarang dia jogging pelan-pelan, kadang berjalan, kadang berhenti untuk membeli es campur atau gemblong di pinggir jalan, karena tidak ada lagi yang perlu dibuktikan dan tidak ada lagi yang perlu dikejar kecuali kebahagiaan yang sederhana dan kesehatan yang prima.
Dahlia dan Yanto juga hadir. Mereka membawa anak pertama mereka, perempuan, bernama Gemblong, sebagai penghormatan pada jajanan pasar yang mempertemukan mereka di Pasar Sari Mulya pada suatu sore yang panas dan membosankan. Yanto sesekali membelikan gemblong untuk istrinya, lalu mereka berdua makan bersama sambil tertawa, mengingat masa-masa ketika mereka masih saling malu-maluan dan tidak berani mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya, padahal semua orang sudah tahu bahwa mereka saling suka sejak pertemuan pertama yang tidak direncanakan oleh siapapun.
Ahmat datang sendirian, tanpa pasangan. Dia masih betah sendiri, katanya. Menikah bukan prioritas, katanya. Tapi semua orang tahu bahwa Ahmat diam-diam menyukai Sania, dan Sania juga diam-diam menyukai Ahmat, tetapi mereka berdua sama-sama keras kepala, sama-sama tidak mau mengaku, sama-sama menunggu yang lain mengambil langkah pertama yang tidak akan pernah terjadi jika tidak ada campur tangan dari orang-orang di sekitarnya.
Mahdili dan Yunita datang terlambat, seperti biasa. Mereka bertengkar di jalan tentang rute mana yang paling cepat menuju Car Free Day , apakah lewat jalan utara yang lebih jauh tetapi lebih lancar, atau lewat jalan selatan yang lebih dekat tetapi sering macet karena pasar tradisional yang buka sejak subuh dan baru tutup ketika matahari sudah condong ke barat. Herman hanya tersenyum melihat mereka. Pertengkaran kecil seperti itu dulu juga sering terjadi antara dia dan Amanda. Sekarang mereka sudah dewasa, sudah lebih bijak, sudah tidak perlu bertengkar soal hal-hal sepele yang tidak akan mereka ingat lagi lima tahun yang akan datang.
Herawati pulang ke Kuala Kapuas untuk Car Free Day kali ini. Dia datang bersama suaminya dan dua orang anak kembar laki-laki yang sangat nakal dan tidak bisa diam lebih dari tiga puluh detik tanpa melakukan sesuatu yang merusak atau setidaknya membuat orang di sekitarnya jengkel. Tapi semua orang memaklumi. Anak-anak memang begitu. Mereka adalah karunia yang tidak bisa kita pilih, tidak bisa kita pesan sesuai selera, tidak bisa kita kembalikan jika tidak sesuai harapan. Kita hanya bisa menerima dengan lapang dada, mendidik dengan penuh kesabaran, dan mencintai dengan segenap hati tanpa pamrih sedikit pun.
Pada suatu Car Free Day yang cerah, ketika matahari bersinar dengan ramah tidak terlalu panas dan tidak terlalu redup, ketika angin berhembus sepoi-sepoi membawa aroma kue cubit dan pisang goreng dari pedagang kaki lima yang setia setiap minggu, Karet terbangun dari tidurnya. Matanya yang bulat dan tajam itu membuka perlahan, seperti dua jendela yang dibuka di pagi hari untuk menyambut sinar mentari yang hangat dan menyejukkan jiwa yang sedang galau. Dia menoleh ke kiri, melihat Amanda yang sedang jogging pelan di sampingnya. Dia menoleh ke kanan, melihat Herman yang berjalan sambil menggendongnya.
"Ayah," kata Karet. Bukan kata lengkap, lebih seperti gumaman, tetapi cukup jelas untuk didengar oleh telinga Herman yang sangat peka terhadap suara anak kesayangannya itu.
"Iya, Nak. Ayah di sini."
"Ibu."
"Iya. Ibu juga di sini."
Karet tersenyum. Senyuman pertamanya di Car Free Day . Senyuman yang tidak direkam oleh kamera ponsel mana pun, karena semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak ada yang sempat mengabadikan momen berharga itu dengan layar ponsel yang selalu siap sedia di saku celana depan yang mudah dijangkau oleh tangan kanan kapan saja tanpa perlu repot-repot berdiri atau mengganggu aktivitas jogging yang sedang berlangsung.
Herman berhenti berjalan. Amanda juga berhenti berlari. Mereka berdua berdiri di pinggir jalur jogging, di Taman Hutan Kota, di tempat yang sama di mana semuanya dimulai bertahun-tahun yang lalu ketika Herman masih muda dan tolol dan penuh dengan ide-ide gila yang tidak masuk akal tetapi pada akhirnya berhasil mengubah hidupnya secara permanen.
"Amanda, apa kamu ingat bangku itu?" tanya Herman sambil menunjuk ke arah bangku taman Hutan Kota di samping stadion.
"Tentu saja aku ingat. Di sanalah kamu selalu duduk sambil melambai padaku setiap Car Free Day ."
"Dan kamu selalu pura-pura tidak melihat. Padahal hatimu berdebar-debar."
"Tidak pernah. Aku tidak pernah berdebar-debar."
"Bohong."
"Bohong sedikit tidak apa-apa."
Mereka berdua tertawa. Karet yang digendong Herman ikut tertawa, meskipun dia tidak tahu apa yang lucu. Bayi seusianya akan tertawa pada apa pun jika orang tuanya tertawa. Itulah salah satu keajaiban masa kanak-kanak yang hilang ketika kita tumbuh dewasa dan mulai berpikir bahwa tertawa tanpa alasan adalah tanda kegilaan atau ketidakdewasaan yang harus diobati dengan obat penenang atau konsultasi psikolog yang biayanya tidak murah dan tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
"Herman, aku ingin bertanya sesuatu," kata Amanda sambil mengatur napas yang masih sedikit terengah-engah karena jogging yang baru saja dia lakukan.
"Apa?"
"Apa kamu menyesal? Dulu. Ketika kamu memutuskan untuk menempelkan permen karet di bajuku. Apa kamu menyesal?"
Herman terdiam sejenak. Dia memandang Amanda, memandang Karet, memandang bangku taman, memandang langit biru yang cerah tanpa awan, memandang semua orang yang berlalu-lalang dengan wajah bahagia masing-masing. Lalu dia menjawab dengan suara yang lembut tetapi penuh dengan keyakinan yang tidak perlu diragukan lagi oleh siapapun.
"Tidak, Amanda. Aku tidak menyesal. Kesalahan terbesarku adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Karena tanpa permen karet itu, aku mungkin masih duduk sendirian di kontrakan 3x4, tidak punya siapa-siapa, tidak punya tujuan hidup, tidak punya alasan untuk bangun setiap pagi dan tersenyum pada dunia yang tidak pernah ramah padaku."
Amanda mengangguk. Air matanya menetes lagi. Untuk kesekian kalinya dalam hidupnya, dia menangis di Car Free Day . Tapi kali ini bukan karena marah. Bukan karena malu. Bukan karena kesal. Hanya karena bahagia. Bahagia yang sangat dalam, yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, yang hanya bisa dia luapkan melalui air mata yang jatuh ke pipi dan membasahi kerah bajunya yang sudah mulai basah karena keringat.
"Aku juga tidak menyesal, Herman. Aku tidak menyesal memaafkanmu. Aku tidak menyesal jatuh cinta padamu. Aku tidak menyesal menikahimu. Aku tidak menyesal melahirkan Karet untukmu. Aku tidak menyesal menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
"Apakah itu lamaran kedua?"
"Bisa dibilang begitu."
"Kalau begitu, aku terima."
Mereka berdua tersenyum. Kemudian Amanda menggendong Karet dari tangan Herman. Bayi itu tertawa kecil, memukul-mukul pipi Amanda dengan tangannya yang mungil dan lucu seperti kepalan tangan petinju kelas bulu yang sedang berlatih di atas ring yang tidak pernah dia masuki dalam hidupnya.
"Karet, lihat itu," kata Amanda sambil menunjuk ke arah rombongan ibu-ibu yang sedang senam dengan gerakan yang tidak sinkron antara satu dengan yang lain. "Itu Car Free Day . Di sanalah Ayah dan Ibu pertama kali bertemu."
Karet tidak mengerti. Dia hanya tertawa kecil, lalu menggigit jari telunjuknya yang basah oleh air liurnya sendiri yang tidak pernah habis meskipun sudah dia hisap selama berjam-jam tanpa henti.
Herman memeluk Amanda dari samping. Amanda menyandarkan kepalanya di bahu Herman yang bidang dan hangat. Karet duduk di pangkuan Amanda, bergumam tidak jelas, sesekali berusaha meraih rambut Herman yang tertiup angin dan bergoyang-goyang seperti rumput di padang rumput yang luas yang belum pernah dia lihat dengan matanya sendiri.
Di kejauhan, Yanto melambai sambil membawa sebungkus permen karet. Bukan untuk ditempelkan di baju siapapun, tetapi untuk dimakan bersama-sama. Rasanya manis, kenyal, sedikit lengket di gigi, tetapi tidak ada yang peduli karena mereka semua sudah dewasa dan tidak perlu lagi menjaga penampilan di depan lawan jenis yang tidak jelas maksud dan tujuannya.
Herman melambai balik. Amanda ikut melambai. Karet tidak melambai, karena dia terlalu sibuk dengan jempol kakinya yang tiba-tiba terasa sangat menarik untuk diamati dan dijilat meskipun tidak ada rasa sama sekali karena tidak dibumbui garam atau gula atau penyedap rasa apapun.
Matahari terus meninggi di langit. Car Free Day perlahan mulai sepi. Ibu-ibu pulang untuk memasak. Bapak-bapak pulang untuk mandi dan berangkat kerja. Anak-anak sekolah yang ikut orang tua mereka sudah harus berganti baju seragam karena bel pertama akan berbunyi dalam waktu kurang dari satu jam lagi dari sekarang.
Herman dan Amanda berjalan perlahan menuju tempat parkir. Karet sudah tertidur lagi, lelah karena terlalu banyak melihat dunia yang masih sangat baru baginya, yang masih sangat asing, yang masih penuh dengan misteri yang tidak akan dia pahami sampai dia cukup dewasa untuk bertanya dan cukup sabar untuk mendengarkan jawaban yang mungkin tidak akan pernah memuaskan rasa ingin tahunya yang tidak terbatas.
"Herman," panggil Amanda sebelum mereka naik ke mobil.
"Ya, Amanda?"
"Terima kasih. Untuk permen karet itu. Untuk semua jurus konyolmu. Untuk semua kesalahan yang kamu perbaiki. Untuk semua perjuangan yang tidak pernah kamu ceritakan. Untuk Sabar yang tidak pernah habis. Untuk cinta yang tidak pernah pudar."
Herman tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mencium kening Amanda pelan, lalu membuka pintu mobil, menata Karet di kursi belakang dengan sabuk pengaman yang sudah dia pasang khusus untuk bayi, lalu duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan melaju perlahan meninggalkan Stadion Panunjung Tarung yang mulai sepi.
Di dalam mobil, Amanda meraih tangan Herman yang memegang setir. Tangannya kecil, lembut, hangat. Herman membalas genggaman itu dengan tekanan yang sama, tanda bahwa mereka berdua sama-sama merasakan getaran kebahagiaan yang sederhana tetapi sangat dalam di hati masing-masing.
"Kamu tahu, Herman," kata Amanda pelan, matanya tertuju pada Karet yang tidur pulas di kursi belakang dengan ekspresi paling damai yang pernah ada.
"Apa?"
"Aku tidak sabar untuk menceritakan kisah kita pada Karet. Suatu hari nanti, ketika dia sudah besar dan mulai bertanya-tanya tentang cinta."
"Apa yang akan kamu ceritakan?"
"Aku akan ceritakan tentang seorang pria gila yang menempelkan permen karet di baju putihku di Car Free Day . Tentang bagaimana awalnya aku membencinya. Tentang bagaimana perlahan kebencian itu berubah menjadi rasa penasaran. Tentang bagaimana rasa penasaran itu berubah menjadi rasa suka. Tentang bagaimana rasa suka itu berubah menjadi cinta. Cinta yang tidak instan. Cinta yang melalui proses. Cinta yang tidak mudah menyerah. Cinta yang bertahan meskipun badai terus menerpa."
"Itu cerita yang panjang, Amanda."
"Tapi itu cerita yang indah. Dan Karet pantas mendengarnya."
Herman tersenyum. Dia melihat Karet di spion tengah. Bayi itu tersenyum dalam tidurnya, mungkin sedang bermimpi tentang permen karet raksasa yang tidak pernah berhenti mengikutinya ke mana pun dia pergi.
Mobil terus melaju menyusuri jalan lingkar stadion, melewati bangku taman, melewati jalan Tambun Bungai, , melewati Taman Kota Simpang Adipura, melewati semua tempat di mana kenangan mereka terukir dengan tinta emas yang tidak akan pernah pudar oleh waktu.
Matahari berada tepat di atas kepala ketika mobil berbelok ke kompleks perumahan Jalan Pemuda tempat mereka tinggal. Herman memarkir mobil di garasi, mematikan mesin, lalu menoleh ke samping. Amanda sudah tertidur di kursi penumpang, kepalanya sedikit miring ke kanan, mulutnya terbuka sedikit seperti Karet yang juga masih tidur pulas di kursi belakang.
Herman tidak membangunkan mereka. Dia hanya duduk diam, memandang istri dan anaknya yang sedang tidur dengan ekspresi paling damai yang pernah dilihatnya dalam hidupnya.
Di dalam hatinya yang paling dalam, dia berbisik pada dirinya sendiri, "Inilah cinta. Bukan tentang permen karet. Bukan tentang Car Free Day . Bukan tentang drama dan tawa dan air mata. Tapi tentang ini. Tentang saat-saat sederhana ketika tidak ada yang perlu diucapkan karena keheningan sudah menjadi bahasa yang paling indah. Tentang kehadiran yang tidak perlu dibuktikan karena sudah terasa. Tentang komitmen yang tidak perlu diikrarkan kembali karena sudah tertanam dalam-dalam di setiap denyut nadi dan setiap helaan napas."
Dia mengambil ponselnya dari saku celana, membuka aplikasi kamera, lalu memotret Amanda dan Karet yang tidur bersama di dalam mobil. Foto itu akan dia simpan di album kenangan, akan dia tunjukkan pada Karet ketika dia sudah besar, akan dia ceritakan kisah di balik foto itu dengan penuh cinta dan kebanggaan.
"Suatu hari nanti, Karet," bisik Herman pada bayangan anaknya di spion tengah, "kamu akan mengerti mengapa Ayah memilih nama itu untukmu. Bukan karena Ayah gila. Bukan karena Ayah kurang kerjaan. Tapi karena Ayah ingin kamu selalu ingat bahwa cinta sejati bisa dimulai dari hal yang paling tidak terduga. Bahkan dari sehelai permen karet yang lengket di baju orang yang paling Ayah benci sekaligus paling Ayah cintai di seluruh dunia."
Matahari terus bergerak di langit. Waktu terus berjalan tanpa pernah mau berhenti meskipun kita berteriak sekencang-kencangnya memintanya untuk diam sebentar dan menikmati kebahagiaan yang sedang kita rasakan saat ini juga.
Tapi Herman tidak menyesali itu. Karena baginya, kebahagiaan bukanlah tentang menghentikan waktu, tetapi tentang mengisi setiap detik yang diberikan dengan cinta, dengan tawa, dengan air mata, dengan permen karet, dengan Car Free Day , dengan jutaan langkah yang dia dan Amanda ambil bersama sepanjang jalan kehidupan yang tidak pernah lurus dan tidak pernah mulus tetapi selalu indah pada akhirnya.
Herman keluar dari mobil, membuka pintu belakang, menggendong Karet dengan hati-hati, lalu berjalan menuju pintu rumah. Amanda terbangun karena suara pintu yang tertutup. Dia menguap, menggaruk kepalanya yang gatal, lalu tersenyum melihat Herman yang sudah sampai di teras dengan Karet di pangkuannya.
"Aku tidur berapa lama?" tanya Amanda sambil turun dari mobil.
"Hanya sebentar. Mungkin lima belas menit."
"Maaf, aku terlalu lelah."
"Tidak perlu minta maaf. Kamu istriku. Kamu boleh tidur kapan saja kamu mau."
Amanda tersenyum. Dia berjalan ke arah Herman, memeluknya dari samping, lalu mencium pipi Karet yang masih tidur dengan mulut mungil yang terbuka sedikit dan mengeluarkan suara desisan halus seperti kucing kecil yang sedang bermimpi tentang ikan asin digoreng dengan minyak panas di dapur yang wangi.
"Herman, aku mencintaimu," bisik Amanda.
"Aku juga mencintaimu, Amanda. Lebih dari kemarin. Kurang dari besok."
"Hari ini kita bahagia."
"Dan besok kita akan lebih bahagia."
"Apakah cinta kita akan bertahan selamanya?"
"Selamanya itu tidak ada, Amanda. Tapi aku akan berusaha mencintaimu sampai napas terakhirku. Itu lebih dari cukup, bukan?"
"Lebih dari cukup, Herman. Lebih dari cukup."
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Pintu ditutup perlahan. Di luar, matahari terus bersinar. Angin berhembus sepoi-sepoi. Burung-burung pipit beterbangan di langit biru yang cerah tanpa awan.
Dan di sudut ruang keluarga, di atas lemari pajangan, sebuah baju olahraga putih dengan sehelai permen karet yang sudah mengeras bertahun-tahun yang lalu masih tergantung dengan bangga. Baju itu tidak pernah lagi dipakai. Permen karet itu tidak pernah lagi dibersihkan. Karena bagi Herman dan Amanda, baju dan permen karet itu adalah monumen. Monumen untuk cinta yang tidak sempurna tetapi abadi. Monumen untuk perjuangan yang tidak mudah tetapi membahagiakan. Monumen untuk dua orang yang awalnya saling membenci, tetapi takdir mempertemukan mereka dengan cara yang paling konyol.
Monumen untuk sehelai permen karet di Car Free Day .
EPILOG
Lima belas tahun kemudian.
Kuala Kapuas tidak berubah banyak. Sungai Kapuas Murung masih mengalir dengan warna kehitaman yang sama seperti puluhan tahun yang lalu. Pasar Sari Mulya masih ramai dengan tawar-menawar antara pedagang dan pembeli yang saling bersaing dalam seni mengurangi harga dan mempertahankan keuntungan. Jalan Nusa Indah masih teduh dengan pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri, memberikan perlindungan dari terik matahari yang tidak pernah kenal musim jika sedang berada di puncak kejayaannya. Dermaga KP3 masih menjadi tempat favorit warga untuk menikmati bakso dan es jeruk sambil bercerita tentang segala hal mulai dari harga cabai yang meroket hingga kisah cinta anak muda yang selalu berulang dari generasi ke generasi tanpa pernah bosan.
Car Free Day masih berlangsung setiap Minggu pagi dengan semangat yang tidak pernah pudar. Ribuan warga masih memadati area Stadion Panunjung Tarung, ada yang senam, ada yang jogging, ada yang sekadar cuci mata, ada pula yang datang untuk bernostalgia dengan masa lalu ketika mereka masih muda dan penuh mimpi yang kadang terlalu tinggi untuk ukuran langit kota kecil yang tidak punya gedung pencakar langit untuk dijadikan patokan kesuksesan.
Herman sekarang berusia empat puluh tahun. Rambutnya mulai beruban di bagian pelipis, tidak banyak, hanya beberapa helai yang sesekali membuat Amanda bergurau bahwa dia sudah tua dan harus bersiap menjadi kakek-kakek yang suka duduk di teras sambil minum kopi dan membaca koran tanpa kacamata karena matanya masih tajam meskipun usia terus berjalan meninggalkan jejak di wajah berupa garis-garis halus yang tidak bisa dihilangkan dengan krim atau serum atau perawatan apapun yang dijual di toko kecantikan dengan harga selangit.
Dia tidak lagi menjadi kontraktor lapangan yang setiap hari berkutat dengan debu, semen, dan tukang yang suka minta uang muka lalu menghilang tanpa kabar ketika pekerjaan baru setengah jalan. Usaha kontraktornya sudah besar, mengerjakan proyek-proyek di seluruh Kalimantan Tengah, bahkan sudah mulai merambah ke Kalimantan Selatan. Dia memiliki puluhan karyawan, beberapa mandor kepercayaan, dan seorang manajer keuangan yang tidak lain adalah istrinya sendiri, Amanda, yang masih setia mendampinginya dalam suka dan duka bisnis yang tidak pernah seindah yang dibayangkan oleh orang-orang di luar sana yang hanya melihat hasilnya tanpa pernah tahu prosesnya yang penuh dengan keringat, air mata, dan doa yang tidak pernah putus.
Amanda sekarang berusia tiga puluh lima tahun. Usia yang tidak lagi muda tetapi juga tidak bisa disebut tua. Dia masih cantik dengan segala kekurangan yang tidak pernah dia sadari karena terlalu sibuk mengurus rumah, mengurus anak, mengurus suami, dan mengurus bisnis yang kadang membuat kepalanya pusing tujuh keliling ketika ada pemasok material yang tiba-tiba menaikkan harga di saat kontrak sudah ditandatangani dengan harga lama yang tidak bisa diubah lagi karena klausul yang tidak dia baca dengan teliti ketika sedang terburu-buru karena Karet menangis di tengah malam dan dia harus bangun untuk menyusui.
Karet sekarang berusia dua belas tahun. Dia duduk di bangku kelas satu SMP, sekolah favorit di Kuala Kapuas yang tidak mudah dimasuki karena persaingan yang ketat dan koneksi yang harus dibangun jauh-jauh hari sebelum pendaftaran dibuka. Dia tidak sepintar Amanda, tidak secerdik Herman, tetapi dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya: rasa ingin tahu yang luar biasa tentang kisah cinta orang tuanya.
"Ayah, ceritakan lagi tentang permen karet," pinta Karet setiap malam sebelum tidur, meskipun dia sudah mendengar cerita itu ratusan kali, mungkin ribuan kali jika dihitung dengan teliti dan tanpa pembulatan ke atas yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang terlalu malas untuk menghitung secara akurat.
"Kamu tidak bosan, Nak?" tanya Herman sambil membetulkan letak bantal di bawah kepala Karet yang selalu bergerak tidak menentu ketika tidur seperti orang yang sedang bermimpi dikejar oleh kucing raksasa bertaring tajam dan bermata merah menyala.
"Tidak pernah, Ayah. Cerita itu selalu membuatku bahagia."
Herman tersenyum. Setiap kali dia menceritakan kisah itu, dia selalu tersenyum. Seperti pertama kali, seperti kesekian kalinya, senyum yang tidak pernah pudar meskipun waktu terus berjalan meninggalkan kerutan di wajah dan uban di rambut. Senyum yang lahir dari kenangan indah yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kenangan apapun di dunia ini.
"Baiklah. Suatu pagi di Car Free Day , Ayah yang masih muda dan tolol, bersama teman-teman Ayah yang juga tidak kalah tolol, membuat tantangan konyol..."
Dan Karet mendengarkan dengan saksama, matanya berbinar, telinganya terbuka lebar, hatinya penuh dengan kebahagiaan yang sederhana tetapi sangat dalam, kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang atau jabatan atau status sosial setinggi apapun.
Ragil sekarang menjadi pengusaha properti yang sukses. Dia menikah dengan perempuan yang dulu dia bawa ke pernikahan Herman dan Amanda, seorang perempuan sederhana bernama Wati yang tidak terlalu cantik tetapi sangat setia dan tidak pernah mengeluh meskipun Ragil sering pulang larut malam karena urusan bisnis yang tidak pernah selesai sebelum tenggat waktu yang dipaksakan oleh klien yang tidak punya rasa kemanusiaan.
Mereka dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan, yang katanya sangat nakal dan sulit diatur. Ragil sering mengeluh pada Herman bahwa anak-anaknya tidak ada yang mau mendengarkan nasihat orang tua. Herman hanya tertawa, karena dia tahu persis bahwa Ragil dulu juga seperti itu ketika masih muda dan merasa bahwa dunia berputar di sekelilingnya tanpa perlu peduli pada orang lain yang mungkin juga ingin kebahagiaannya sendiri.
"Kamu dulu lebih nakal, Gil," kata Herman suatu sore ketika mereka bertemu di Dermaga KP3.
"Aku tidak nakal. Aku hanya kreatif."
"Kreatif atau manipulatif?"
"Keduanya."
Mereka berdua tertawa. Persahabatan yang dulu dimulai dengan persaingan memperebutkan hati Amanda, kini telah berubah menjadi persaudaraan yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun, termasuk oleh perbedaan pendapat dalam hal-hal kecil yang tidak akan diingat lagi lima tahun kemudian ketika semua sudah tua dan pikun dan tidak bisa membedakan antara kenangan nyata dengan mimpi yang pernah dialami pada malam hari setelah makan terlalu kenyang dan tidur dalam posisi yang salah sehingga leher terasa kaku ketika bangun pagi.
Ahmat akhirnya menikah dengan Sania pada tahun ketujuh sejak Herman dan Amanda menikah. Bukan karena mereka saling mencintai, kata mereka, tetapi karena sudah lelah dengan status jomblo yang membuat keluarga mereka gelisah dan terus-menerus menjodohkan dengan orang yang tidak dikenal yang kadang baik kadang buruk kadang aneh kadang normal tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Pernikahan mereka tidak dihadiri oleh banyak orang, hanya keluarga dan teman-teman terdekat yang betul-betul mengerti dinamika hubungan mereka yang aneh dan tidak biasa. Tidak ada pesta mewah, tidak ada riasan pengantin yang berlebihan, tidak ada sesi foto yang memakan waktu berjam-jam dengan pose-pose yang membuat otot wajah kaku karena terlalu banyak tersenyum dalam waktu yang lama tanpa istirahat yang cukup.
Sania tetap menulis. Ahmat tetap bekerja di perusahaan properti pamannya. Mereka hidup berdampingan dengan damai, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, seperti dua orang yang sepakat untuk berbagi rumah tanpa perlu saling mencintai dengan cara yang romantis dan lebay seperti yang sering ditayangkan di sinetron televisi setiap malam.
"Kalian aneh," kata Yanto suatu hari ketika berkunjung ke rumah Ahmat dan Sania.
"Biarin. Hidup kami, aturan kami," jawab Ahmat santai.
Yang jelas, mereka bahagia. Dan bagi Ahmat dan Sania, kebahagiaan adalah ketika tidak ada yang mengatur dan tidak ada yang diatur, ketika semua mengalir seperti air sungai yang tidak pernah memaksa untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Yanto dan Dahlia sekarang memiliki tiga orang anak. Setelah Gemblong, lahirlah Kue Lumpur dan getuk. Nama-nama yang semuanya terinspirasi dari jajanan pasar yang mereka sukai. Orang-orang sering menertawakan pilihan nama mereka, tetapi Yanto dan Dahlia tidak pernah peduli. Mereka terlalu sibuk mengurus katering yang semakin besar dan tiga orang anak yang semakin nakal dan membutuhkan perhatian lebih dari yang bisa mereka berikan karena waktu terasa sangat terbatas jika dibagi antara urusan dapur yang tidak pernah sepi dan urusan anak yang tidak pernah diam.
Katering mereka sekarang melayani hampir seluruh acara pernikahan dan syukuran di Kuala Kapuas dan sekitarnya. Menu andalan mereka adalah tahu walik dan bakso, resep turunan dari Pak RT yang sudah pensiun dan menikmati masa tuanya dengan memancing di sungai sambil tidur siang di bawah pohon rindang yang tidak pernah dia dapatkan ketika masih sibuk berjualan dari subuh hingga malam tiba dengan lelah yang tidak pernah dia keluhkan.
"Kapan aku bisa jadi nenek?" tanya Ibu Amanda pada Dahlia setiap kali mereka bertemu.
"Tanya anakmu sendiri, Bu," jawab Dahlia sambil tertawa.
Ibu Amanda menoleh pada Amanda yang sedang menyuapi Karet dengan bubur ayam buatan sendiri yang rasanya tidak pernah enak karena Amanda tidak mewarisi bakat memasak dari ibunya yang terkenal sebagai koki rumahan terbaik di lingkungan Jalan Cemara sepanjang masa.
Amanda hanya tersenyum. Belum. Dia belum siap punya anak kedua. Karet masih terlalu kecil, masih terlalu manja, masih terlalu membutuhkan perhatian penuh dari orang tuanya. Mungkin nanti. Ketika usahanya sudah lebih mapan. Ketika Karet sudah lebih mandiri. Ketika badai kehidupan sudah sedikit reda dan menyisakan ketenangan untuk merawat kehidupan baru yang akan lahir ke dunia dengan segala tangisan dan tawa yang tidak bisa diprediksi sebelumnya.
Suatu hari, Karet yang sudah beranjak remaja pulang dari sekolah dengan wajah cemberut. Bibirnya mengerucut seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga tetapi tidak tahu persis apa yang hilang dan di mana terakhir kali dia melihatnya.
"Ada apa, Nak?" tanya Amanda sambil menyiapkan makan siang di meja makan yang sudah tertata rapi dengan piring dan gelas dan sendok dan garpu dan serbet yang dilipat dengan bentuk segitiga yang tidak rapi karena Amanda tidak pernah bisa melipat serbet dengan baik meskipun sudah berusaha belajar dari video tutorial di YouTube yang durasinya hanya tiga menit tetapi dia tidak pernah bisa mengikuti karena jari-jarinya terlalu kaku dan tidak sabar.
"Ada anak sekolah yang mengejekku, Bu," jawab Karet dengan suara cemberut yang masih terdengar seperti anak kecil meskipun usianya sudah menginjak kepala dua belas yang katanya sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa dunia tidak selalu ramah pada orang yang berbeda dari yang lain dalam hal sekecil apapun.
"Di mana-mana ada anak sekolah yang suka mengejek, Nak. Biarkan saja. Mereka akan berhenti sendiri ketika bosan."
"Tapi dia mengejek namaku, Bu."
Amanda berhenti menata meja. Tangannya terhenti di udara, memegang sendok sayur yang baru saja dia cuci dan masih basah karena tidak sempat dikeringkan dengan lap bersih yang tergantung di belakang pintu dapur. "Nama? Karet?"
"Iya. Dia bilang nama Karet itu aneh. Karet permen. Karet ban. Karet gelang. Karet apa pun yang membuat dia bisa tertawa."
Amanda menarik napas panjang. Dia meletakkan sendok sayur di atas meja, lalu duduk di samping Karet, memeluk anaknya erat-erat, seperti waktu dia masih kecil dan menangis karena jatuh dari sepeda yang baru dibelikan oleh Herman dengan uang tabungan selama tiga bulan yang tidak pernah dia sesali karena melihat senyum Karet ketika pertama kali menaiki sepeda itu adalah kebahagiaan yang tidak ternilai dengan uang sepeser pun.
"Nak, Ayah dan Ibu tidak sengaja memilih nama itu. Kami sengaja memilihnya. Karena di balik nama itu, ada kisah yang sangat indah. Kisah tentang cinta yang lahir dari kebencian. Kisah tentang perjuangan yang tidak mengenal lelah. Kisah tentang dua orang yang awalnya saling membenci, kemudian saling jatuh cinta, kemudian saling memiliki, kemudian melahirkan kamu ke dunia ini dengan segala kelebihan dan kekurangan yang tidak perlu kamu buktikan pada siapapun."
"Ceritakan, Bu," pinta Karet dengan mata berbinar, seperti malam-malam ketika dia masih kecil dan Herman menceritakan kisah permen karet dengan suara lantang dan ekspresi wajah yang berlebihan untuk ukuran orang dewasa yang seharusnya sudah bisa mengendalikan emosi di depan umum.
Amanda menceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Dari Car Free Day sampai pernikahan. Dari permen karet sampai nama Karet yang dipilih dengan penuh perhitungan dan pertimbangan dan doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa tempat semua doa dikabulkan atau ditunda atau diganti dengan yang lebih baik yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Karet mendengarkan dengan saksama. Tidak menyela. Tidak bertanya. Hanya mendengarkan. Air matanya menetes ketika Amanda menceritakan tentang Herman yang berlutut di rumahnya, tentang Herman yang jogging dengan kostum badut di Car Free Day , tentang Herman yang menyanyikan lagu fals dengan gitar tiga senar di Dermaga Danau Mare.
"Jadi, Ayah benar-benar gila?" tanya Karet setelah Amanda selesai bercerita.
"Iya. Ayahmu gila. Tapi kegilaannyalah yang membuat Ibu jatuh cinta. Karena di dunia yang terlalu serius ini, orang yang berani menjadi dirinya sendiri, tanpa topeng, tanpa kepura-puraan, adalah orang yang paling menarik."
Karet mengangguk. Dia memeluk ibunya erat-erat, lalu berjanji untuk tidak pernah malu dengan namanya lagi. Karena nama itu bukan sekadar rangkaian huruf yang tidak bermakna. Nama itu adalah doa. Nama itu adalah cerita. Nama itu adalah warisan cinta yang akan dia bawa seumur hidupnya.
Malam harinya, Herman pulang dari proyek agak telat karena ada masalah dengan kiriman material yang tidak kunjung datang karena truknya mogok di tengah jalan raya yang gelap dan sepi karena sudah larut malam dan orang-orang sudah pada tidur atau begadang menonton sinetron yang alurnya tidak masuk akal tetapi tetap ditonton karena tidak ada acara lain yang lebih menarik di televisi.
"Karet sudah tidur?" tanya Herman sambil melepas sepatu dan mencium pipi Amanda yang masih segar meskipun sudah seharian mengurus rumah dan anak dan bisnis yang tidak pernah berhenti menuntut perhatian.
"Sudah. Tadi dia nangis."
"Kenapa?"
"Ada anak sekolah yang mengejek namanya."
Herman terdiam. Dia berjalan ke kamar Karet, membuka pintu perlahan, lalu berdiri di samping tempat tidur anaknya. Karet tidur dengan posisi miring ke kanan, tangan kanannya di bawah bantal, tangan kirinya memeluk boneka beruang pemberian Herman pada ulang tahunnya yang kelima dulu.
"Nak, Ayah minta maaf," bisik Herman. "Ayah tidak tahu bahwa nama itu akan membuatmu menderita. Tapi Ayah tidak akan menggantinya. Karena nama itu adalah satu-satunya cara Ayah untuk mengingatkan dirimu setiap hari bahwa cinta sejati bisa datang dari mana saja. Bahkan dari sehelai permen karet yang lengket di baju orang yang paling Ayah benci."
Karet bergumam dalam tidurnya. Tidak jelas. Mungkin dia mendengar. Mungkin tidak. Tapi Herman tidak peduli. Karena baginya, yang penting adalah dia sudah mengucapkan apa yang harus diucapkan. Selebihnya, biarlah waktu yang menjawab.
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun.
Car Free Day tetap berlangsung. Herman dan Amanda tetap hadir. Karet ikut ketika libur sekolah, bermain dengan anak-anak lain yang juga ikut orang tua mereka, saling kenal, saling berteman, tanpa peduli dari mana asal mereka atau berapa banyak uang yang dimiliki orang tua mereka.
Suatu Car Free Day , ketika Karet sudah duduk di bangku SMA, dia bertanya pada Herman, "Ayah, apa Ayah tidak takut dulu? Ketika menempelkan permen karet di baju Ibu? Apa Ayah tidak takut ditonjok atau dilaporkan ke polisi?"
"Ibu mu dulu ganas, Nak. Bisa saja dia menonjok Ayah sampai babak belur. Tapi Ayah sudah terlanjur jatuh cinta. Dan rasa takut tidak akan pernah cukup kuat untuk mengalahkan cinta."
"Kata kata yang bagus, Ayah."
"Bukan kata-kata, Nak. Itu pengalaman."
Karet tersenyum. Dia memandang ibunya yang sedang jogging di kejauhan, ditemani oleh Dahlia dan Yunita dan Anita dan Herawati yang sedang berkumpul lagi setelah sekian lama tidak pernah bersama karena kesibukan masing-masing yang tidak pernah ada habisnya.
"Suatu hari nanti, Ayah," kata Karet, "aku akan menemukan cintaku. Mungkin tidak melalui permen karet. Tapi aku akan menemukannya."
"Kamu pasti akan menemukannya, Nak. Tapi ingat, cinta tidak harus dimulai dengan sempurna. Kadang cinta dimulai dengan kesalahan. Kadang cinta dimulai dengan kebencian. Kadang cinta dimulai dengan permen karet yang lengket di baju orang yang paling kita benci. Yang penting adalah bagaimana kita menjalaninya, bukan bagaimana kita memulainya."
Karet mengangguk. Dia memeluk ayahnya, lalu berlari mengejar ibunya yang sudah mulai jauh meninggalkan mereka.
Herman berdiri di tempat, tersenyum, memandang istri dan anaknya yang berlari di bawah sinar matahari Car Free Day yang cerah dan hangat.
Di tangannya, dia menggenggam sehelai permen karet rasa stroberi.
Bukan untuk ditempelkan di baju siapapun.
Tapi untuk dimakan.
Karena permen karet itu manis.
Dan cinta, pada akhirnya, juga selalu manis.
Meskipun kadang pahit di awal.
TAMAT
PERMEN KARET DI CAR FREE DAY
“Berawal dari Sebuah Tantangan Konyol di Pagi Hari, Sebuah Kesalahan yang Mengundang Amarah, hingga Takdir yang Perlahan Menyatukan Dua Hati yang Awalnya Saling Membenci”
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kemiripan dengan individu atau kejadian nyata adalah kebetulan belaka. Cerita ini tidak bermaksud melecehkan budaya Car Free Day atau institusi mana pun. Nikmati drama, tawa, dan amarahnya, tetapi jangan coba-coba mengoleskan permen karet ke baju orang lain.
PROLOG
“Tak Ada Cinta yang Dimulai dengan Gaya Paling Memalukan”
Kuala Kapuas. Minggu pagi. Udara masih segar seperti baru saja dicuci dengan embun. Langit cerah tanpa secuil awan hitam, hanya sedikit kabut tipis yang melayang-layang di atas sungai. Ribuan warga memadati area Car Free Day , mulai dari anak-anak kecil yang berlarian dengan sepeda mini, ibu-ibu yang senam sambil bergosip, bapak-bapak yang jogging pelan-pelan sambil sesekali berhenti untuk mengatur napas, hingga remaja-remaja yang datang tidak untuk berolahraga, melainkan untuk cuci mata.
Car Free Day di Kuala Kapuas memang bukan sekadar acara mingguan. Ini adalah ritual. Ini adalah panggung tempat orang-orang menunjukkan siapa mereka. Ada yang datang dengan baju senam serba branded, ada yang datang dengan kaos oblong lusuh yang sudah dicuci berkali-kali, ada yang datang hanya untuk duduk-duduk di bangku taman sambil menikmati jajanan pasar yang dijajakan pedagang kaki lima. Semua orang punya hak yang sama di Car Free Day : untuk hidup, untuk tertawa, dan untuk bertemu.
Herman, dua puluh tiga tahun, pekerja kontraktor di sebuah proyek perumahan kecil di pinggir kota, belum pernah punya pacar seumur hidupnya. Bukan karena dia jelek, karena sejujurnya wajahnya masih bisa disebut lumayan. Hidungnya mancung, matanya tidak terlalu sipit, dan senyumnya cukup manis kalau dia tidak sedang grogi. Masalahnya terletak pada satu hal: Herman terlalu takut. Takut ditolak. Takut dibilang kurang. Takut tidak cukup baik. Maka selama dua puluh tiga tahun, dia hanya bisa diam dari kejauhan, melihat perempuan-perempuan cantik berlalu lalang tanpa pernah punya nyali untuk mendekati satu pun dari mereka.
Teman-temannya gerah.
Ahmat, Yanto, Mahdili, Yuni, Bintang dan Herawati, kelima sahabat Herman yang paling setia sekaligus paling biadab dalam memberikan tekanan, sudah tidak tahan melihat kondisi pria muda itu. Mereka berkumpul setiap habis kerja, setiap Minggu malam, setiap hari Minggu sore, membahas satu topik yang sama: bagaimana caranya agar Herman punya pacar. Berbagai strategi sudah disusun. Ada yang menyarankan Herman untuk mulai aktif di media sosial, ada yang menyarankan untuk ikut les bahasa Inggris hanya untuk mencari teman perempuan, ada pula yang menyarankan untuk sekadar berani berbicara dengan kasir minimarket yang kebetulan cantik. Semuanya gagal.
Herman selalu punya alasan.
"Kasirnya sibuk, tidak enak."
"Cewek di media sosial itu kebanyakan hanya mencari perhatian."
"Les bahasa Inggris? Uangku habis buat bayar kontrakan."
Begitu seterusnya, berulang-ulang, seperti piringan hitam yang rusak di bagian yang sama. Teman-temannya mulai berpikir bahwa Herman mungkin tidak akan pernah berubah. Mungkin dia akan mati sebagai seorang perjaka tua yang hanya ditemani oleh kipas angin rusak dan tumpukan majalah bekas di sudut kamar.
Namun takdir berkata lain.
Suatu malam, di warung kopi langganan di pinggir Jalan Pemuda, Ahmat yang terkenal sebagai otak di balik segala rencana konyol grup mereka, meletakkan gelas kopi hitamnya dengan keras di atas meja plastik. Bunyi duar itu membuat semua orang di warung menoleh, tetapi Ahmat tidak peduli.
"Aku punya ide," kata Ahmat.
Semua temannya diam. Mereka tahu bahwa ketika Ahmat berkata aku punya ide, biasanya diikuti oleh sesuatu yang gila, tidak masuk akal, dan berpotensi besar membuat mereka dikejar-kejar massa.
"Ide apa?" tanya Yanto dengan mata setengah sipit karena sudah mengantuk.
"Permen karet," jawab Ahmat dengan wajah serius.
"Permen karet?" Herawati mengangkat alis kirinya. "Maksudmu kita jualan permen karet?"
"Bukan. Kita suruh Herman menempelkan permen karet di baju seorang cewek saat Car Free Day ."
“Gila, kau Mat” jawab Bintang bingung
“ Tidak, Itu Gokil, abis”. Ahmat menyeringai dengan semangat empat lima , semuatemanya diam seribu bahasa.
Diam, dan diam, ruang warung kopi terasa mencapai klimksnya.
Semua orang di meja itu terdiam. Bahkan udara di sekitar mereka seolah ikut membeku.
"Kamu serius?" tanya Yuni akhirnya.
"Aku tidak pernah lebih serius dari ini," jawab Ahmat.
Herman yang dari tadi hanya diam menghisap rokoknya, hampir tersedak. "Kamu gila, Mat. Aku disuruh tempelin permen karet di baju cewek? Itu pelecehan."
"Itu bukan pelecehan. Itu... pendekatan kreatif."
"Pendekatan kreatif?" suara Yanto meninggi setengah oktaf. "Kreatif macam apa yang ujung-ujungnya mukanya ditonjok?"
"Kita tidak akan tahu hasilnya sebelum mencoba," Ahmat tetap pada pendiriannya. "Selama ini Herman sudah menggunakan cara aman. Diam-diam. Tidak berani. Hasilnya? Nol besar. Sekarang kita coba cara ekstrem. Biar dia keluar dari zona nyaman."
"Zona nyamanku adalah kontrakan," Herman menyahut cepat. "Bukan di depan cewek galak yang bajunya kutempelin permen karet."
"Kamu pilih sendiri ceweknya," kata Mahdili ikut nimbrung. "Pilih yang paling ramah, yang paling tidak mungkin marah."
"Di Car Free Day tidak ada cewek yang tidak marah kalau bajunya ditempelin permen karet," Yuni menggelengkan kepala. "Itu sama saja bunuh diri sosial."
"Tepat," Ahmat tersenyum lebar. "Itulah gunanya. Dengan melakukan hal yang paling memalukan, Herman akan kehilangan rasa malunya untuk selamanya. Setelah itu, dia tidak akan takut lagi untuk mendekati cewek manapun."
Logika Ahmat memang aneh. Tidak masuk akal. Tetapi anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membantah dengan alasan yang kuat. Mungkin karena mereka juga lelah melihat Herman yang terus-menerus sendiri. Mungkin karena mereka ingin temannya bahagia, meskipun dengan cara yang paling konyol sekalipun.
"Baiklah," kata Herman akhirnya setelah menimbang-nimbang selama lima menit. "Aku setuju. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Aku yang pilih targetnya."
"Bebas," Ahmat mengangkat kedua tangannya. "Yang penting kamu benar-benar melakukannya. Tidak mundur di tengah jalan."
"Janji."
Herman menggenggam erat gelas kopi di tangannya. Dia tidak tahu mengapa dia menyetujui rencana gila itu. Mungkin karena tekanan teman-temannya yang terlalu kuat. Mungkin karena dia juga lelah dengan dirinya sendiri. Atau mungkin karena di dalam hatinya yang paling dalam, dia ingin menguji apakah dia benar-benar sepengecut yang selama ini dia kira.
Dia tidak tahu bahwa persetujuan di warung kopi itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Minggu pagi itu tiba.
Cuaca cerah sempurna. Matahari bersinar dengan ramah, tidak terlalu panas, tidak terlalu redup. Awan-awan putih bergerak lambat di langit seperti domba-domba yang sedang merumput. Ribuan warga sudah memenuhi area sekitar Stadion Panunjung Tarung. Ada yang sudah mulai jogging, ada yang masih melakukan pemanasan, ada pula yang hanya duduk-duduk di bangku taman sambil menunggu teman.
Grup Herman berdiri di depan pagar beton GOR Panunjung Tarung, tepat di tikungan sebelum jalur jogging utama. Dari posisi itu, mereka bisa melihat semua orang yang lewat. Bisa mengamati. Bisa memilih target.
"Lihat tuh," Yanto menunjuk ke arah utara. "Lima cewek lagi jogging bareng. Rapi banget."
Herman mengikuti arah telunjuk Yanto. Di kejauhan, lima orang perempuan berlari kecil dengan kecepatan sedang. Mereka memakai kaos olahraga putih dan celana legging hitam. Rambut mereka diikat kuda, kecuali satu orang yang paling depan. Perempuan itu memiliki rambut sebahu yang diikat setengah, wajahnya tajam, matanya menyipit konsentrasi, dan ekspresinya terlihat paling serius di antara yang lain.
"Siapa mereka?" tanya Herman.
"Gengnya Amanda," jawab Yuni cepat. "Amanda itu yang paling depan. Kelas XII SMA. Cantik. Populer. Bawel. Dan... jangan pernah macam-macam sama dia."
"Kenapa?"
"Karena dia gampang marah. Sekali waktu ada cowok yang berani-beraninya melirik dadanya lebih dari tiga detik, cowok itu masuk puskesmas."
Herman merasakan ada yang tidak beres di perutnya. Mual. Atau mungkin hanya saraf-sarafnya yang mulai panik.
"Itu targetmu," kata Ahmat dengan suara rendah, persis seperti komandan pasukan khusus yang memberikan instruksi terakhir kepada anak buahnya. "Kamu pilih yang paling galak. Berarti kamu laki-laki sejati."
"Aku tidak mau jadi laki-laki sejati kalau ujung-ujungnya masuk UGD."
"Terlambat. Kamu sudah setuju."
Herman menelan ludah. Dia melihat rombongan Amanda semakin mendekat. Kini jarak mereka hanya sekitar lima puluh meter. Wajah-perempuan-perempuan itu mulai terlihat jelas. Amanda di depan, di belakangnya ada Yunita, Dahlia, Anita, dan Sania. Mereka berbincang-bincang kecil sambil berlari. Kadang tertawa. Kadang saling menyikut.
"Pergi sekarang," bisik Mahdili.
“Saatnya beraksi, Herman”. Tambag Bintang memberi semangat.
“Target sudah dekat Man”, Herawati memberi semangat.
“ Wow, aku mau lihat pria sejati beraksi”. Kata yuni deg-degan darahnya mendesir cepat.
“Jangan grogi, man” Yanto memberi semangat.
“gunakan trik terbaikmu, Man”. Bintang mengingatkan.
Herman menggerakkan kakinya. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Rasanya seperti berjalan di atas panggung dengan ribuan pasang mata yang menonton, padahal tidak ada satu pun yang benar-benar memperhatikannya.
Dia meremas permen karet rasa stroberi di tangan kanannya. Permen itu sudah dia kunyah sejak sepuluh menit lalu, jadi teksturnya super lengket, elastis, dan siap ditempelkan di mana saja. Herman pernah membaca di internet bahwa permen karet paling lengket adalah yang sudah dikunyah antara lima hingga lima belas menit. Setelah itu, kelengketannya perlahan berkurang. Itu berarti Herman berada di puncak lengket saat itu juga.
Dia mendekati rombongan Amanda tepat saat mereka berhenti di trotoar depan GOR di bawah pohon yang tidak terlalu rindang. Amanda meregangkan tangannya ke atas, lalu membungkukkan badan untuk melakukan peregangan. Kaos putihnya sedikit terangkat di bagian belakang, memperlihatkan sedikit kulit pinggangnya.
Herman berpaling. Dia tidak ingin jadi korban kedua yang masuk puskesmas.
"Permisi," ucap Herman dengan suara pelan.
Tidak ada yang mendengar.
"PERMISI!" ulangnya sedikit lebih keras.
Amanda menoleh.
Mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Amanda hanya mengerjap dengan tatapan biasa, seperti melihat orang yang tidak dikenal di pinggir jalan. Herman sempat merasa lega. Mungkin dia tidak segalak yang diceritakan teman-temannya.
"Ada apa?" tanya Amanda dengan suara datar.
"Maaf, aku cuma mau..."
"Kamu mau apa?"
"Kamu..."
"Kenapa dengan aku?"
Herman merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Dia tidak siap. Tiga hari latihan di depan cermin kontrakan bersama Yuni yang berperan sebagai Amanda ternyata tidak cukup. Sekarang dia berdiri di hadapan yang asli, tanpa skrip, tanpa kamera, tanpa kesempatan untuk ulang.
"Aku cuma mau..."
Tiba-tiba Yanto dari kejauhan berteriak dengan suara yang sangat keras, "TEMPELIN AJA, MAN!"
Kepala Amanda menoleh ke arah suara itu. Telinganya mendengar. Otaknya memproses. Kemarahannya mulai menyala.
Itu adalah kesalahan fatal Herman.
Karena dalam keadaan panik total, tanpa pikir panjang, tanpa pertimbangan moral, Herman mengambil langkah maju, mengulurkan tangan kanannya, dan menempelkan permen karet stroberi itu tepat di bahu kanan baju olahraga putih milik Amanda.
Detik itu, waktu seolah berhenti.
Herman bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Bisa mendengar suara angin yang berhembus pelan. Bisa mendengar keringat yang menetes dari pelipisnya ke tanah.
Amanda menunduk. Matanya melihat permen karet merah muda yang menempel sempurna di bahu kanannya. Wajahnya berubah dalam sekejap. Dari datar menjadi merah. Dari merah menjadi ungu. Dari ungu menjadi sesuatu yang tidak punya nama dalam kamus emosi manusia.
"KAMU TEMPELIN PERMEN KARET DI BAJU KU?" teriak Amanda dengan volume yang membuat semua orang di radius dua ratus meter otomatis menoleh.
"Maaf, aku..."
"MAKSUD KAMU APA? APA KAMU GILA?"
"Permen karetnya rasa stroberi, enak sebenarnya..."
"GUE GAK PEDULI RASA APA? LENGKET, TOLOL!"
Amanda memegang bahu kanannya. Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Bukan karena dingin. Tapi karena marah yang sangat dahsyat sehingga dia harus menahan diri agar tidak langsung menjitak kepala Herman di tempat.
"Siapa namamu?" tanya Amanda dengan suara yang mencoba tenang tetapi gagal total.
"Herman."
"Herman apa?"
"Herman... pekerja kontraktor."
"Gue tidak minta CV. Nama panjang."
"Herman Saputra."
"Umur?"
"Dua puluh tiga."
"Belum pernah pacaran?" tanya Amanda sarkastik.
Herman terdiam. "Iya. Belum pernah."
Amanda mengerjap. Dia tidak menyangka jawaban itu. Untuk sesaat, kemarahannya sedikit mereda, digantikan oleh rasa bingung yang luar biasa. "Kenapa kamu bilang belum pernah pacaran? Apa hubungannya dengan permen karet ini?"
"Tidak ada hubungannya, aku hanya... jujur."
"Jujur? Kamu tempelin permen karet di baju orang terus kamu ngomongin kejujuran?"
"Itu memang salahku. Aku minta maaf."
"Minta maaf tidak cukup, Tolol. Baju ini seratus dua puluh lima ribu!"
"Tadi aku pikir seratus ribu."
"TOLOL! HARGA BARANG ORANG JANGAN DIBAHAS!"
Herman tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya berdiri di sana, kaku seperti patung, sementara di sekelilingnya ratusan pasang mata menonton dengan ekspresi yang beragam. Ada yang tertawa. Ada yang kasihan. Ada pula yang merekam dengan ponsel masing-masing untuk diunggah ke media sosial dengan judul yang kira-kira berbunyi "Cowok Goblok Kena Batunya di Car Free Day ."
"Kamu tahu apa yang akan aku lakukan sekarang?" tanya Amanda.
"Tidak tahu."
"Aku akan mencari tahu siapa kamu, di mana kamu tinggal, di mana kamu kerja, lalu aku akan datang ke tempat itu dan menempelkan permen karet di seluruh bajumu."
"Tidak perlu repot-repot. Aku bisa datang sendiri ke rumahmu."
Amanda membelalakkan matanya. "KAMU BERANI YA?"
"Aku hanya mau bertanggung jawab," jawab Herman dengan suara pelan tetapi jelas.
Kata-kata itu membuat Amanda terdiam. Dia tidak tahu harus marah atau bingung. Cowok di depannya ini jelas idiot. Tetapi idiot yang aneh. Idiot yang tidak bisa dia baca. Dan Amanda benci ketika tidak bisa membaca seseorang.
"Pergilah," kata Amanda akhirnya. "Pergi sebelum aku benar-benar marah."
Herman mengangguk. Dia berbalik lalu berjalan perlahan. Tidak berlari seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Dia berjalan dengan tenang, melewati kerumunan, melewati bangku-bangku taman, melewati pedagang es kelapa muda, hingga akhirnya hilang di antara lautan manusia.
Di belakangnya, Amanda masih berdiri di tempat dengan tangan mengepal. Perempuan-perempuan di rombongannya sudah tidak bisa menahan tawa.
"Lucu banget sih," kata Dahlia sambil memegang perut.
"Dia polos," timpal Sania.
"Polos atau tolol?" tanya Anita.
"Keduanya," jawab Yunita.
"DIAM KALIAN!" bentak Amanda. Tapi di dalam hatinya, dia mengakui satu hal: cowok itu berbeda.
Dan perbedaan, entah mengapa, kadang terasa lebih berbahaya daripada kemarahan.
Minggu pagi itu berakhir dengan Herman yang duduk di dermaga KP3, ditemani oleh segelas es jeruk dan sebatang rokok yang hampir habis. Teman-temannya masih tertawa di sekelilingnya. Ahmat memukul-mukul punggung Herman seperti memberi selamat, Yanto sudah berguling-guling di bangku kayu, Mahdili tercengang-cengang menahan tawa, sementara Yuni dan Herawati saling bersandaran sambil mengusap air mata.
"Luar biasa," kata Ahmat di sela-sela tawanya. "Aku tidak menyangka kamu benar-benar melakukannya."
"Aku juga tidak menyangka," jawab Herman datar.
"Kamu hebat, Man," Yanto mengangkat jempol. "Pertama dalam sejarah Car Free Day , ada cowok yang berani tempelin permen karet di baju cewek."
"Itu bukan prestasi."
"Ya tetap saja. Kamu berani."
“Dan Aku , salut”. Tambah Bintang bangga.
Herman menghela napas. Dia menyesal. Tetapi di sudut hatinya yang paling gelap, dia juga merasa... hidup. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, dia melakukan sesuatu yang spontan, gila, dan tanpa perhitungan. Rasanya seperti melompat dari tebing ke sungai yang tidak diketahui kedalamannya.
Dan saat dia melompat, dia melihat sesuatu di mata Amanda yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan amarah. Bukan kebencian. Ada yang lain. Mungkin rasa ingin tahu. Mungkin keterkejutan. Atau mungkin hanya bayangan yang dia ciptakan sendiri.
"Aku akan minta maaf lagi minggu depan," kata Herman.
Semua temannya berhenti tertawa.
"Minta maaf lagi?" tanya Herawati. "Kamu sudah minta maaf tadi."
"Tidak cukup. Aku harus benar-benar meminta maaf. Dengan bunga. Atau cendol. Atau apa pun yang bisa membuatnya tersenyum."
"Amanda tidak mudah tersenyum," kata Yuni.
"Maka aku akan membuatnya tersenyum."
“Luar biasa, Man, aku dukung” Yantu ikut menguatkan pendapatnya.
Ahmat menggeleng-gelengkan kepala. "Kau jatuh cinta, Man. Kau jatuh cinta pada perempuan yang marah-marah kepadamu."
"Bukan jatuh cinta. Hanya... penasaran."
"Permulaan yang indah untuk sebuah bencana."
“Dan, Kami semua mendukung, Man”. Kata Mahdili sambil tersenyum geli.
Herman tidak menjawab. Dia hanya menatap sungai di depannya yang mengalir lambat. Airnya keruh kecoklatan seperti biasanya, tetapi sore itu terlihat sedikit lebih berkilau. Atau mungkin itu hanya matanya yang mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Membuka Instagram. Mencari nama Amanda di kolom pencarian.
Akun @amanda_cans muncul di urutan pertama dengan foto profil seorang perempuan yang tersenyum di depan Candi Borobudur.
Herman menggigit bibir bawahnya. Lalu tanpa berpikir dua kali, dia menekan tombol Follow.
Dua puluh kilometer dari dermaga KP3, Amanda sedang duduk di tepi tempat tidurnya dengan tangan masih mengepal. Baju olahraga putih yang terkena permen karet sudah dia lepas dan lempar ke sudut kamar seperti sampah.
Dia sudah mencoba membersihkannya dengan es batu. Gagal. Minyak kayu putih. Gagal. Bahkan dia sempat menggigit permen karet itu dengan giginya sendiri, dengan harapan bisa melepaskannya, tetapi yang terjadi adalah sakit di gigi belakangnya.
"Gila. Bener-bener gila," umpatnya sambil memijat pelipis yang berdenyut.
Ponsel di samping bantal berbunyi. Sebuah notifikasi dari Instagram.
@herman_kontraktor mulai mengikuti Anda.
Amanda membuka notifikasi itu. Jari-jarinya gemetar karena marah yang belum sepenuhnya reda. Dia melihat profil Herman. Foto profilnya: foto seorang pria muda dengan kumis tipis dan senyum canggung, berdiri di depan proyek bangunan setengah jadi.
"Berani banget," bisik Amanda.
Jarinya bergerak ke tombol Block.
Tetap saja jarinya tidak menekan.
"Kenapa aku tidak memblokir dia?" tanya Amanda pada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban. Hanya debaran aneh di dadanya yang tidak bisa dia mengerti.
Akhirnya dia mematikan ponsel dan membaringkan diri di atas kasur. Wajah Herman yang canggung itu terus muncul di pelupuk matanya, di antara mimpi dan kenyataan, di antara amarah dan tawa yang tidak dia sadari mulai tumbuh di sudut hatinya.
Demikianlah semuanya dimulai.
Bukan dengan sapaan manis atau tatapan mesra. Tidak juga dengan puisi atau lagu cinta. Semuanya dimulai dengan sehelai permen karet rasa stroberi yang menempel di baju olahraga putih milik seorang perempuan yang paling galak di Kuala Kapuas.
Dan di dalam karet lengket itu, takdir sedang tertawa. Karena dia tahu, ini baru permulaan dari seribu jurus cinta yang akan membuat mereka marah, bingung, menangis, tertawa, dan akhirnya jatuh ke dalam pelukan satu sama lain.
Tak ada cinta yang dimulai dengan gaya paling memalukan.
Tapi cinta yang paling kuat sering lahir dari hal-hal yang paling tidak terduga.
Termasuk dari permen karet.
BAB 1
CAR FREE DAY , BUKAN CAR UNTUK MENCARI MUSUH
Car Free Day di Kuala Kapuas bukan sekadar acara mingguan. Ini adalah ritual. Ini adalah panggung. Ini adalah tempat di mana ribuan manusia dari berbagai lapisan masyarakat dari para pejabat hingga rakyat jelata berkumpul setiap Minggu pagi untuk melakukan kegiatan yang kurang lebih sama: bergerak, bercanda, dan bergosip. Ada yang datang dengan pakaian senam mahal seharga sebulan gaji, ada yang datang dengan kaos oblong lusuh yang sudah dicuci berkali-kali hingga warnanya berubah dari hitam menjadi abu-abu tua. Ada yang datang untuk benar-benar berolahraga, ada yang datang untuk pamer tubuh langsing hasil diet ketat, ada pula yang datang hanya untuk duduk-duduk di bangku taman sambil menghabiskan satu bungkus pisang goreng dan segelas es teh manis. Semua orang punya hak yang sama di Car Free Day. Suasana pagi yang sejuk bebas dari emisi carbon . Semua orang bebas menjadi diri mereka sendiri. Termasuk orang-orang bodoh yang nekat menempelkan permen karet di baju orang lain.
GOR Panunjung Tarung berdiri megah di ujung barat area Car Free Day . Bangunan itu tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, cukup untuk menampung ratusan orang jika ada pertandingan olahraga antar desa atau tingkat Kabupaten. Namun pada Minggu pagi, GOR itu lebih sering menjadi latar belakang foto-foto atau swafoto daripada digunakan untuk kegiatan olahraga yang sesungguhnya. Di depan GOR, ada trotoar beton setinggi pinggang orang dewasa yang menjadi tempat favorit bagi anak-anak muda untuk bersandar atau duduk sambil mengamati orang-orang yang lewat. Di sanalah Herman dan kelima temannya berdiri pada pagi itu, sesaat setelah kejadian permen karet yang mengubah hidup mereka semua.
Herman sudah duduk di trotoar beton itu selama hampir satu jam. Pantatnya mulai terasa pegal, tetapi dia tidak beranjak. Matanya terus menerawang ke arah timur, ke arah mana rombongan Amanda pergi setelah dia berhasil mempermalukan dirinya sendiri di depan umum untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun. Dia tidak bicara. Dia hanya duduk diam, sesekali menghela napas panjang, sesekali memainkan ibu jari kirinya yang tiba-tiba terasa sangat menarik untuk diamati.
"Lo masih mikirin dia, ya?" tanya Yanto sambil duduk di sebelah Herman tanpa permisi.
"Enggak," jawab Herman singkat.
"Enggak bohong?"
"Bohong."
Yanto tertawa kecil. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari saku celana, menyalakannya, lalu menyodorkannya ke arah Herman. "Hisap. Nanti sedikit tenang."
"Aku gak hisap rokok pagi-pagi."
"Kamu mau hisap permen karet yang sudah kamu tempelin tadi pagi?"
Herman menoleh dengan ekspresi jengkel. "Lucu, ya? Kamu pikir ini lucu?"
"Iya, lucu," Yanto mengangguk mantap. "Buat kami lucu. Buat kamu mungkin belum. Tapi nanti kalau sudah lewat satu minggu, kamu juga akan ketawa sendiri mengingat kejadian ini."
"Aku tidak akan pernah ketawa. Bajunya seratus dua puluh lima ribu, Yanto. Bayangkan kalau kamu yang harus ganti."
"Untung aku bukan kamu," Yanto tersenyum lebar memperlihatkan gigi depannya yang agak maju ke depan.
Herman memukul bahu Yanto tidak terlalu keras tetapi tidak terlalu pelan. Yanto hanya terkekeh-kekeh seperti orang yang sedang digelitiki.
Di belakang mereka, Ahmat sedang duduk di atas ember plastik terbalik yang dia pinjam dari pedagang bakso langganan. Wajahnya serius, tangannya memegang dagu, matanya menyipit seperti sedang menghitung sesuatu yang sangat rumit.
"Menurut perhitunganku," kata Ahmat setelah beberapa lama, "kamu masih punya kesempatan lima puluh persen untuk tidak dibenci seumur hidupmu oleh Amanda."
"Lima puluh persen?" Herman segera menoleh. "Lima puluh persen untuk apa?"
"Untuk tidak dibenci seumur hidupmu. Setengah mati-matian dia benci sama kamu, setengah lagi mungkin dia cuma sebel. Itu masih lebih baik daripada dibenci total, kan?"
"Aku tidak butuh setengah tidak dibenci. Aku butuh dia memaafkan aku."
"Memafkan itu butuh waktu," Herawati ikut nimbrung. Perempuan itu sedang duduk bersila di atas tikar plastik yang dia bawa dari rumah. "Kamu tidak bisa memaksa seseorang memaafkan kamu hanya karena kamu sudah minta maaf. Memaafkan itu proses. Perlu waktu. Perlu kedewasaan. Perlu juga perasaan."
"Perasaan apa?" tanya Yanto polos.
"Perasaan yang membuat seseorang rela melepaskan kemarahannya meskipun dia masih berhak marah," jawab Herawati dengan nada bijak.
"Bahasa Indonesianya?"
"Ikhlaskan hati."
“Mungkin”. Kata Yanto sambil mengangguk-anggukan kepala, seolah paham, padahal matanya tetap kosong seperti biasanya.
Herman mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasanya panas. Bukan karena demam, tetapi karena pikirannya yang terlalu panas memikirkan Amanda. Dia tidak tahu kenapa perempuan semarah itu bisa terus menempati pikirannya selama berjam-jam. Padahal baru beberapa jam yang lalu dia bertemu. Padahal pertemuan itu pun tidak berjalan dengan baik. Bahkan cenderung buruk. Sangat buruk. Termasuk dalam kategori sepuluh pertemuan terburuk yang pernah dialami manusia di muka bumi. Tapi tetap saja, bayangan Amanda tidak mau pergi.
"Kamu jatuh cinta, Herman," kata Yuni tiba-tiba.
Herman tersentak. "Apa?"
"Jatuh cinta. Kamu jatuh cinta sama Amanda. Tidak mungkin kamu seserius ini kalau hanya sekadar kepo atau penasaran. Ini sudah masuk ke tahap kegalauan akut yang biasanya hanya diderita oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta."
"Aku tidak jatuh cinta, Yun. Aku cuma... prihatin."
"Pria-hati? Maksudnya pria berhati lembut?"
"Bukan! Aku prihatin karena bajunya mahal. Itu saja."
"Bohong," kata Yuni dan Herawati bersamaan.
"SUMPAH BOHONG," tambah Yanto dari samping.
Herman menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia ingin berteriak. Dia ingin memukul tembok. Dia ingin melompat ke sungai dan berenang sampai kehilangan arah. Tapi dia tidak melakukan satupun dari semua itu. Dia hanya duduk diam di pagar beton GOR Panunjung Tarung, ditemani oleh lima orang sahabat yang paling menyebalkan di seluruh Kota Kuala Kapuas, Kta AIR yang ikonik.
Pukul setengah sembilan pagi, kerumunan Car Free Day mulai berkurang. Ibu-ibu pulang untuk memasak. Bapak-bapak pulang untuk mandi dan berangkat kerja di proyek. Anak-anak sekolah yang ikut orang tua mereka sudah harus berganti baju harian. Hanya segelintir orang yang tersisa, kebanyakan anak-anak muda yang tidak punya kegiatan lain selain nongkrong dan membicarakan orang lain.
Herman dan teman-temannya masih bertahan di tempat mereka. Kini mereka sudah pindah ke bangku taman di bawah pohon rindang Taman Hutan Kota di sampan stadion. Bangku itu terbuat dari semen yang dilapisi keramik hijau tua, dingin saat diduduki meskipun matahari sudah cukup tinggi. Di atas pohon rindang itu, burung-burung pipit beterbangan sambil berkicau riang seolah tidak peduli dengan drama manusia yang terjadi di bawah mereka.
"Jadi gimana rencana lo ke depan?" tanya Mahdili sambil memainkan sendok plastik bekas es campur yang sudah dia habiskan sepuluh menit lalu.
"Rencana apa?" tanya Herman lirih.
"Rencana buat ngejar Amanda."
"Gue gak ngejar Amanda. Gue cuma mau minta maaf yang sebenar-benarnya."
"Sama saja. Prosesnya sama. Kamu akan terus muncul di depannya, terus-terusan minta maaf, lama-lama dia terbiasa dengan kehadiranmu, lama-lama dia mulai penasaran, lama-lama dia..."
"Gue paham teorinya, Mahdili. Tapi gue gak perlu denger dari lo. Gue butuh solusi praktis."
"Solusi praktisnya adalah beli baju baru," ujar Mahdili santai.
“Itu, solusi yang masuk akal”. Kata Bintang sambil berpikir membayangkan herman ketika bertemu kembali, mungkin dunia seperti akan kiamat.
"Dengan uang apa? Gaji gue baru cair tanggal muda, sekarang masih tanggal tua."
"Pinjam dulu sama Ahmat. Ahmat kan anak orang kaya."
Ahmat yang sedang asyik memotret langit dengan ponsel barunya langsung menjerit. "Anak orang kaya? Anak orang kaya masih numpang kontrakan sama Herman? Gaji gue lebih kecil dari gaji lo, Mahdili!"
"Tapi orang tua lo kaya."
"Orang tua lo juga kaya."
"Orang tua lo punya tiga toko."
"Iya, tapi itu toko orang tua gue, bukan toko gue!"
"Ya sudah, nanti gue pinjamin dulu," potong Yuni dengan suara sedikit kesal. "Jangan ribut soal uang begini. Herman, lo butuh berapa?"
Herman mengerjap. "Enggak usah, Yun. Gue gak mau ngutang ke lo."
"Lo ngutang ke Ahmat juga enggak pernah bayar."
"Itu berbeda. Utang ke Ahmat sudah masuk kategori sumbangan."
Ahmat memukul kepala Herman pelan-pelan. "Kurang ajar lo, Man. Sumbangan apaan? Itu utang! Nanti kalau lo sudah kaya, lo bayar dua kali lipat."
"Kapan gue kaya? Gaji pekerja kontraktor cuma cukup buat makan dan bayar kontrakan."
"Makanya cari pacar kaya," saran Yanto serius. "Kayak Amanda. Orang tuanya punya usaha sembako."
Semua mata langsung tertuju pada Yanto.
"Amanda anak orang kaya?" tanya Herawati.
"Iya. Itu kata temen gue yang sekelas sama dia. Bapaknya punya toko sembako besar di Pasar Sari Mulya. Rumahnya juga gede di Jalan Nusa Indah."
Herman yang tadinya hanya setengah hati mendengarkan, kini duduk tegak. Bukan karena dia tertarik dengan kekayaan Amanda. Tapi karena informasi itu membuatnya semakin menyadari ketimpangan antara dirinya dan perempuan itu. Dia hanya seorang pekerja kontraktor dengan gaji pas-pasan. Amanda adalah anak orang berada yang bisa membeli baju seratus dua puluh lima ribu tanpa perlu memikirkan uang belanja sebulan.
"Jadi makin susah dong," gumam Herman.
"Apanya yang makin susah, Man?" tanya Ahmat.
"Buat minta maaf. Orang kayak dia mana mau denger permintaan maaf dari orang kayak gue."
"Kamu salah, Man," Yuni menggeleng. "Orang kaya juga manusia. Mereka juga bisa marah, sedih, kecewa, dan juga bisa memaafkan. Kamu tidak perlu minder cuma karena dia lebih berada darimu. Yang dia lihat nanti bukan uangmu, tapi ketulusanmu."
"Omongannya bagus, Yun," kata Mahdili. "Tapi sulit dipraktikkan."
"Semua omongan yang bagus memang sulit dipraktikkan. Karena kalau mudah, semua orang sudah jadi orang baik."
Herman tidak ikut dalam debat kecil yang terjadi di antara teman-temannya. Pikirannya melayang ke tempat lain. Dia membayangkan Amanda yang sedang duduk di rumahnya yang besar di Jalan Nusa Indah. Mungkin rumahnya berkamar banyak, berhalaman luas, dan bertelevisi sebesar apa yang Herman lihat hanya di toko elektronik. Sementara dia sendiri tidur di kontrakan 3x4 dengan kipas angin yang suaranya lebih keras dari hembusannya.
Tapi anehnya, perbedaan itu tidak membuatnya mundur. Justru sebaliknya. Dia merasa ada sesuatu yang harus dia kejar. Bukan rumah besar. Bukan uang. Bukan status sosial. Tapi sesuatu yang lebih abstrak: kesempatan untuk dilihat. Untuk dianggap. Untuk diperhatikan oleh perempuan yang matanya bisa membunuh jika dia marah.
"Gue akan cari tahu alamat rumahnya," kata Herman tiba-tiba.
Semua temannya langsung diam.
"Alamat rumah siapa?" tanya Yanto.
"Amanda."
"Lo mau apa ke rumahnya? Diarak sama satpam?"
"Dia gak punya satpam, Yanto. Rumahnya di kompleks perumahan biasa."
"Tetap saja. Lo datang ke rumah cewek yang baru lo tempelin permen karet di bajunya itu sama saja dengan bunuh diri. Nyari malu."
"Lebih baik nyari malu daripada diem aja dan gak pernah memaafkan diri sendiri," jawab Herman dengan suara pelan tapi tegas.
Ahmat menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau kamu sudah bulat, kami akan bantu. Tapi ingat, Herman. Jangan harap kami akan ikut masuk ke rumahnya. Kami hanya akan mengantar sampai depan gang, itu pun kalau tidak hujan."
"Hujan nggak akan turun, Mat. Ini musim kemarau."
"Ya sudah. Tapi tetap saja, kalau ada orang yang mau mukul kamu, kamu lari sendiri. Jangan harap kami akan menolong."
"Setuju," kata Mahdili cepat.
"Setuju," tambah Yanto.
"Setuju," timpal Herawati.
Yuni hanya mengangkat bahu. "Aku tidak pernah setuju dengan ide gila kalian. Tapi karena kalian semua sudah setuju, aku juga ikut setuju. Tidak enak dibilang pengecut."
"Maka sudah ditetapkan," Ahmat berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Herman. "Misi pencarian alamat rumah Amanda akan dimulai besok siang sepulang kerja. Siapa yang tidak hadir tanpa alasan yang jelas, traktir bakso satu mangkok plus es jeruk satu gelas."
"Setuju!" teriak mereka berlima bersamaan.
Herman hanya tersenyum kecil. Ingin rasanya dia tertawa lebar, tetapi tubuhnya masih terlalu kaku. Di dalam dadanya, ada perasaan campur aduk antara takut, malu, dan anehnya, sedikit bahagia. Bahagia karena dia tidak sendirian. Bahagia karena ada orang-orang yang bersedia ikut serta dalam kekonyolannya. Bahagia karena meskipun semuanya dimulai dari permen karet, perjalanan ini terasa seperti sebuah petualangan yang tidak akan dia lupakan seumur hidup.
Sementara itu, di sebuah rumah di Jalan Nusa Indah, Amanda sedang duduk di ruang tamu dengan tangan bersilang di dada. Wajahnya masih merah meskipun sudah hampir tiga jam sejak kejadian di Car Free Day . Ibunya, seorang perempuan paruh baya dengan rambut sebahu yang diikat kuda, sedang menuangkan teh manis ke dalam gelas kaca di meja. Sesekali dia melirik ke arah anak perempuannya yang duduk dengan ekspresi seperti bulan kesiangan.
"Kamu kenapa dari tadi diem aja?" tanya ibunya sambil duduk di kursi seberang.
"Enggak kenapa-kenapa, Mah."
"Wajah kamu merah. Sakit?"
"Enggak."
"Kesel sama teman?"
"Enggak."
"Kesel sama guru?"
"Enggak."
"Kesel sama cowok?"
Amanda terdiam. Itu adalah tanda yang paling jelas bahwa ibunya tepat sasaran.
"Ada cowok, ya?" tanya ibunya lagi dengan nada sedikit bergairah. "Siapa? Teman sekelas? Kakak kelas? Cowok dari luar sekolah? Cerita sama Ibu."
"Tidak ada cowok, Mah. Aku cuma lagi mikirin... nilaiku yang jelek di ujian semester kemarin."
"Nilaimu jelek? Bukannya kamu dapat sembilan besar untuk Matematika dan delapan untuk Bahasa Inggris?"
"Itu belum cukup. Aku target dapat sepuluh semua."
Ibunya menghela napas. "Amanda, Ibu kenal kamu dari kecil. Kamu bukan tipe orang yang terlalu ambisius soal nilai. Kamu paling benci belajar. Jadi kalau kamu bilang sedang mikirin nilai, itu bohong. Sekarang cerita yang sebenarnya. Ibu tidak akan marah."
Amanda menggigit bibir bawahnya. Dia memandang ibunya dengan mata setengah sayu setengah kesal. "Aku cuma... ada cowok yang buat aku geregetan, Mah."
Ibu Amanda langsung duduk tegak. Matanya berbinar seperti melihat berlian jatuh di tengah jalan. "Cowok? Cowok macam apa? Ganteng? Pintar? Kaya? Agamanya bagus?"
"Mah, aku baru kenal. Belum tahu detailnya."
"Tapi kamu bisa cerita, kan? Siapa namanya? Dari mana?"
"Herman," jawab Amanda dengan suara kecil. "Namanya Herman Saputra. Dia pekerja kontraktor. Usia dua puluh tiga."
Ibu Amanda mengernyit. "Dua puluh tiga? Kamu masih kelas dua belas, Ndah. Itu beda umurnya lumayan jauh."
"Aku tahu."
"Kerja kontraktor? Apa itu orang bangunan?"
"Semacam itu, Mah. Dia kerja di proyek perumahan."
Ibu Amanda terdiam sejenak. Matanya menerawang ke langit-langit rumah seperti sedang memperhitungkan sesuatu yang sangat rumit. "Kalau begitu, kenapa dia bisa buat kamu geregetan? Apa dia baik? Sopan? Rajin ibadah?"
"Mah, aku baru kenal. Aku tidak tahu dia baik atau tidak. Yang bikin aku geregetan adalah... dua jam yang lalu dia nempelkan permen karet di baju olahragaku yang baru pertama kali aku pakai di Car Free Day ."
Diam.
Keheningan yang sangat panjang.
Lalu ibu Amanda tertawa. Bukan tertawa kecil. Bukan tertawa tertahan. Tapi tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar dan perutnya terasa sakit.
"MAH! JANGAN TERTAWA!" teriak Amanda sambil memukul bantal sofa di sampingnya.
"Maaf, maaf, maaf," ibu Amanda mengusap air matanya. "Tapi ini lucu, Nak. Ada cowok yang nempelkan permen karet di baju kamu. Bukannya kamu mukul dia, kamu malah duduk di sini sambil mikirin dia."
"Aku tidak mikirin dia, Mah!"
"Iya, kamu tidak mikirin dia. Kamu cuma... geregetan. Sama cowok yang tempelin permen karet di baju kamu."
"MAH!"
"Baik, baik. Ibu tidak akan tertawa lagi." Ibu Amanda menarik napas panjang untuk menenangkan diri, meskipus dadanya masih naik turun menahan sisa-sisa tawa. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan? Kamu mau cari dia dan minta ganti rugi?"
"Seharusnya begitu. Tapi entah kenapa, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak punya nomor teleponnya. Tidak tahu alamatnya. Yang aku tahu cuma namanya, pekerjaannya, dan fakta bahwa dia belum pernah punya pacar."
"Belum pernah punya pacar?" Ibu Amanda mengangkat alis. "Itu informasi yang sangat spesifik untuk seseorang yang baru kamu temui dua jam lalu."
"Dia yang ngomong sendiri, Mah. Aku tidak nanya-nanya."
"Berarti dia sangat jujur. Atau sangat tolol."
"Menurutku sih tolol."
"Tolol yang lucu atau tolol yang menyebalkan?"
"Keduanya."
Ibu Amanda tersenyum. Dia meraih tangan anak perempuannya lalu menepuk-nepuknya pelan. "Sudah, Ibu tidak tahu apakah cowok ini baik untukmu atau tidak. Tapi Ibu tahu satu hal: pria yang berani melakukan hal gila di depan umum untuk menarik perhatianmu, biasanya adalah pria yang benar-benar tertarik. Bukan sekadar main-main."
"Tapi dia tempelin permen karet di baju baru aku, Mah."
"Dan itu akan menjadi cerita yang lucu untuk diceritakan kepada cucu-cucu kamu nanti."
"MAH!"
"Apa? Kamu tidak mau punya anak?"
"Aku masih kelas dua belas, Mah!"
"Punya anak itu tidak harus sekarang, Nak. Bisa lima atau sepuluh tahun lagi. Ibu cuma bilang, suatu saat nanti kamu akan tertawa mengingat kejadian ini."
Amanda menghela napas frustrasi. Kenapa semua orang di sekitarnya sepertinya tidak menganggap serius kemarahannya? Teman-temannya tertawa. Ibunya tertawa. Bahkan Herman, cowok idiot itu, tidak terlihat takut meskipun sudah dia bentak habis-habisan. Apa dia tidak cukup menakutkan? Apa semua orang sudah kehilangan rasa takut? Atau jangan-jangan, ada yang salah dengan caranya marah?
"Aku akan tidur, Mah," kata Amanda sambil berdiri.
"Belum makan siang."
"Tidak lapar."
"Nanti sakit."
"Biar sakit. Setidaknya sakit perut lebih jelas penyebabnya daripada sakit hati karena bajunya dirusak cowok gila."
Ibu Amanda hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat anak perempuannya yang berjalan lunglai menuju kamar. Sebagai seorang ibu, dia tahu bahwa ini bukan kemarahan biasa. Ini kemarahan yang bercampur dengan rasa ingin tahu. Dan rasa ingin tahu, jika dibiarkan tumbuh terlalu besar, bisa berubah menjadi perasaan lain yang lebih rumit.
Kamar Amanda tidak terlalu besar tetapi tertata rapi. Ada tempat tidur ukuran sedang dengan sprei berwarna pastel, ada meja belajar kayu yang dilengkapi lampu baca, lemari baju dua pintu, dan satu rak buku yang berisi novel-novel remaja dan buku pelajaran. Di sudut kamar, baju olahraga putih yang terkena permen karet masih tergeletak seperti sampah yang tidak diinginkan. Setiap kali Amanda melihatnya, perasaan campur aduk menyerang lagi.
Amanda merebahkan diri di atas kasur. Matanya menatap kipas angin di langit-langit yang berputar perlahan. Suara kipas itu mendengung monoton, seperti lagu pengantar tidur yang membosankan. Dia memejamkan mata, berharap bisa tertidur dan melupakan semuanya. Tapi setiap kali matanya tertutup, yang muncul justru wajah Herman.
Wajah itu tidak terlalu ganteng. Tidak juga jelek. Hidungnya mancung, matanya tidak sipit, kulitnya sawo matang, dan senyumnya selalu canggung seperti orang yang baru belajar tersenyum. Tapi ada sesuatu di mata Herman yang membuat Amanda tidak bisa berhenti memikirkannya. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Mungkin ketulusan. Atau mungkin hanya rasa tidak enak karena sudah membentaknya di depan umum.
"Bukan salah aku," bisik Amanda pada dirinya sendiri. "Dia yang salah. Dia yang mulai. Aku cuma membela diri."
Ponsel di samping bantal berbunyi. Amanda membukanya. Grup WhatsApp "Geng Jogging Cantik" ramai dengan pesan-pesan yang sebagian besar membahas tentang Herman.
Dahlia: Am, aku baru lihat Instagram-nya Herman. Followersnya dikit banget. Cuma seratusan.
Yunita: Wajar lah dia pekerja bangunan. Mana punya waktu buat Instagraman.
Anita: Tapi fotonya lucu-lucu. Banyak foto proyek bangunan sama foto makanan di warung pinggir jalan.
Sania: Itu tandanya dia anak rumahan. Gak suka pamer.
Dahlia: Atau gak punya gaya hidup yang layak dipamerkan?
Yunita: Kamu jahat, Lia.
Sania: Aku setuju sama Yunita. Jangan nilai orang dari Instagramnya.
Amanda: KALIAN BERHENTI BAHAS DIA!
Dahlia: Nah, dia muncul. Pasti lagi galau.
Amanda: GALAU APA, TOH?
Anita: Galau karena kepikiran cowok yang nempelin permen karet di baju barunya.
Amanda: GUE GAK KEPIKIRAN!
Sania: Kalau gak kepikiran, kamu tidak akan nyuruh kami berhenti bahas dia. Orang yang gak kepikiran biasanya cuek saja.
Amanda: SANIA!
Dahlia: Sania kali ini kali ini bener sih.
Yunita: Am, kamu harus jujur sama perasaan kamu. Apakah kamu benar-benar marah, atau hanya marah karena tidak bisa melupakannya?
Amanda membaca pesan terakhir itu berulang-ulang. Jarinya berhenti di atas layar, tidak tahu harus mengetik apa. Apakah dia benar-benar marah? Atau hanya marah karena tidak bisa melupakan? Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab saat ini. Mungkin butuh waktu beberapa hari. Atau berminggu-minggu. Atau entahlah.
Amanda: Aku tidur dulu.
Dahlia: Belum makan siang kan?
Amanda: Gak lapar.
Yunita: Klasik. Tanda-tanda jatuh cinta.
Amanda: YUNITA!
Sania: Selamat tidur, Am. Semoga mimpi indah. Mimpi ketemu Herman pakai baju baru.
Amanda: SANIA! SEKALI LAGI!
Sania: Iya, iya. Aku diam.
Amanda mematikan ponsel dan membantingnya ke atas kasur di samping bantal. Dia menelungkupkan wajahnya ke bantal, lalu berteriak kecil. Tidak keras, tidak pelan. Cukup untuk membuat suaranya teredam oleh kapas dan dakron. Dia berteriak berkali-kali sampai napasnya habis, sampai pusing, sampai dia tidak lagi mampu memikirkan Herman.
Tapi setelah dia selesai berteriak, saat dia mengangkat wajah dari bantal, bayangan Herman masih saja ada di sana. Tidak mau pergi. Tidak mau lenyap. Hanya diam-diam bersembunyi di sudut pikirannya, menunggu waktu yang tepat untuk muncul lagi.
"Aku benci kamu, Herman," bisik Amanda.
Tapi suaranya tidak meyakinkan. Bahkan telinganya sendiri tidak percaya.
Hari mulai sore saat Herman pulang ke kontrakannya. Langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, seperti sambal yang digoreng terlalu lama. Kakinya terasa berat karena perjalanan dari Car Free Day ke kontrakan memakan waktu hampir setengah jam dengan berjalan kaki. Dia tidak punya motor. Tidak punya mobil. Hanya dua kaki yang setia mengantarnya ke mana pun dia pergi.
Kontrakan Herman berada di gang sempit di belakang Pasar Sari Mulya. Untuk masuk ke gang itu, dia harus melewati tumpukan karung beras, bau ikan asin yang menyengat, dan suara pedagang yang saling menawarkan dagangan. Tidak nyaman. Tidak juga menyedihkan. Hanya biasa untuk orang sekelasnya.
Begitu sampai di depan pintu kontrakan, Herman mengeluarkan kunci dari saku celana. Kunci itu sudah berkarat di beberapa bagian, tetapi masih berfungsi dengan baik. Dia memasukkan kunci ke lubang, memutarnya ke kanan dua kali, lalu mendorong pintu kayu yang berderit pelan. Di dalam, kegelapan menyambutnya. Dia menekan sakelar lampu, tapi tidak ada yang terjadi. Lampu mati lagi.
"Listrik mati lagi," gumam Herman kesal.
Tapi dia tidak marah. Dia sudah terbiasa. Setidaknya seminggu sekali, listrik di kontrakannya mati tanpa pemberitahuan. Kadang karena angin kencang. Kadang karena pemilik kontrakan lupa membayar tagihan. Kadang karena tidak ada alasan sama sekali. Kematian semacam itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Herman merebahkan diri di atas kasur lipat yang sudah mulai kempes di bagian tengah. Matanya menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Di salah satu sudut, ada bekas bocor yang sudah ditambal dengan lakban hitam. Lakban itu sudah mulai mengelupas, menandakan bahwa bocor itu akan muncul lagi jika hujan deras turun.
Dia menghela napas.
Pagi ini semuanya biasa-biasa saja. Dia bangun, mandi, makan nasi goreng sisa semalam, lalu berangkat ke Car Free Day bersama teman-temannya. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang berbeda. Hanya satu, Minggu pagi yang sama seperti Minggu-Minggu sebelumnya.
Tapi sekarang, setelah peristiwa permen karet, semuanya terasa berbeda. Dunia terasa lebih berwarna. Atau mungkin lebih kacau. Entahlah.
Herman mengeluarkan ponselnya. Listrik mati, tetapi baterai ponselnya masih tersisa empat puluh persen. Cukup untuk menjelajahi Instagram beberapa saat sebelum tidur.
Dia membuka aplikasi Instagram. Lalu membuka profil @amanda_cans.
Amanda belum membalas follow-nya. Belum follow balik. Juga belum memblokirnya. Itu adalah kabar baik. Setidaknya dia masih punya kesempatan untuk dilihat.
Gulir ke bawah. Gulir ke bawah.
Herman melihat foto-foto Amanda. Ada foto dia sedang makan es krim di pinggir jalan, dengan caption "Manisnya hidup kadang bikin diabetes". Ada foto dia bersama teman-temannya di depan sekolah, dengan caption "Geng sebelah, jangan macam-macam". Ada foto dia sedang memegang buku tebal, dengan caption "Belajar sampai mata pedih, tapi nilainya tetap manis".
Setiap foto membuat Herman tersenyum. Bukan senyum lebar, tetapi senyum kecil yang muncul tanpa izin. Senyum yang dia sendiri tidak sadar sedang dia tunjukkan.
"Kamu lagi senyum-senyum sendiri, Man." Suara Ahmat datang dari luar pintu.
Herman terkejut. Dia langsung mematikan layar ponsel dan menyembunyikannya di bawah bantal. "Enggak! Aku cuma... kedinginan."
"Kedinginan? Di dalam kontrakan yang panasnya kayak setrika?"
"Suasana hati sedang dingin."
Ahmat tertawa kecil. Dia masuk tanpa diundang lalu duduk di lantai dekat pintu. "Gue bawa makan malam. Nasi campur favorit lo dari warung Mak Endut."
Herman duduk. Matanya melihat bungkusan plastik hitam di tangan Ahmat. Aroma nasi campur mulai menyebar di ruangan sempit itu, bercampur dengan bau apek khas kontrakan yang tidak pernah hilang meskipun sudah berkali-kali dibersihkan.
"Makasih, Mat," kata Herman.
"Jangan makasih dulu. Makan dulu. Nanti keburu dingin."
Mereka berdua duduk bersila di lantai. Bungkusan nasi campur dibuka. Isinya nasi putih, ayam goreng, tempe goreng, tahu goreng, sambal terasi, dan lalapan mentah. Sederhana tetapi mengenyangkan. Untuk ukuran anak kontrakan, itu sudah mewah.
"Mikirin Amanda lagi?" tanya Ahmat sambil mengunyah tempe.
"Enggak."
"Bohong."
"Iya, bohong."
Ahmat tertawa. Dia menepuk paha Herman pelan. "Kamu tahu, Man. Aku iri sama kamu."
"Iri? Kenapa?"
"Karena kamu punya keberanian melakukan hal gila yang tidak pernah aku lakukan. Kamu berani mengambil risiko. Kamu berani dipermalukan di depan umum. Kamu berani mengejar cewek yang jelas-jelas lebih tinggi levelnya dari kamu."
"Level?"
"Status sosial, ekonomi, pergaulan. Semua level. Amanda di atas, kamu di bawah. Tapi kamu tetap berani. Itu yang membuat aku iri."
Herman mengunyah ayam gorengnya lebih lambat. Dia tidak pernah berpikir Ahmat iri padanya. Ahmat adalah teman yang paling mapan secara ekonomi. Orang tuanya punya tiga toko. Dia punya motor. Dia punya pakaian bagus. Dia punya masa depan yang lebih cerah. Sementara Herman hanya seorang pekerja kontraktor dengan gaji pas-pasan, hidup di kontrakan sempit, dan tidak punya prospek yang jelas.
"Kamu gak perlu iri sama aku, Mat," kata Herman pelan. "Aku hanya orang bodoh yang nekat tempelin permen karet di baju cewek tanpa mikir panjang."
"Justru itu yang membuatmu hebat. Kamu tidak terlalu banyak mikir. Kamu hanya melakukan."
"Tidak banyak mikir itu bukan hebat. Itu tolol."
"Sama saja kadang-kadang."
Herman tersenyum. Dia menghabiskan nasi campurnya dalam diam. Ahmat melakukan hal yang sama. Mereka berdua duduk di kontrakan yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya ponsel masing-masing, ditemani oleh suara jangkrik dari luar dan suara kipas angin yang tidak berputar karena listrik mati.
"Besok kita cari rumah Amanda?" tanya Ahmat setelah selesai makan.
"Iya."
"Yakin?"
"Iya."
"Tidak takut?"
"Takut. Tapi tidak melakukannya karena takut, itu lebih menakutkan."
Ahmat tertawa lagi. Dia berdiri, merapikan celananya yang kusut karena duduk di lantai. "Baiklah. Aku pamit pulang dulu. Besok jangan lupa. Kita kumpul di depan GOR jam satu siang."
"Jam satu siang panas, Mat."
"Ya, biar panas. Biar kita berkeringat. Biar tubuh kita sehat. Setidaknya kita tidak mandi pakai keringat orang lain."
"Gombal."
"Selamat malam, Man."
"Selamat malam, Mat."
Ahmat keluar dari kontrakan. Pintu kayu ditutup perlahan, meninggalkan Herman sendirian di dalam kegelapan.
Herman membaringkan dirinya lagi. Matanya menatap langit-langit yang tidak dia lihat karena gelap. Tapi dia tidak membutuhkan cahaya untuk melihat. Dia hanya butuh sedikit imajinasi.
Imajinasi tentang seorang perempuan bernama Amanda.
Perempuan yang marah-marah kepadanya.
Perempuan yang belum bisa dia lupakan meskipun baru bertemu sekali.
Perempuan yang mungkin akan menjadi awal dari segalanya.
Atau akhir dari segalanya.
Tapi Herman tidak peduli.
Yang dia tahu, dia sudah memulai. Dan dia tidak akan berhenti sampai selesai.
Pukul sepuluh malam, Amanda masih terjaga. Tidak biasanya dia begadang. Sebagai siswa kelas XII yang harus berangkat sekolah pukul setengah tujuh pagi, dia seharusnya sudah tidur sejak jam sembilan. Tapi malam ini, matanya tidak bisa terpejam. Bantal yang biasa dia peluk terasa panas. Sprei yang biasa dia guling-gulingi terasa kasar. Selimut yang biasa dia tarik hingga ke dagu terasa seperti kertas amplas.
Dia berguling ke kiri. Berguling ke kanan. Tengkurap. Telentang. Miring. Semua posisi dicoba, tetapi tidak ada yang nyaman.
"Aku benci ini," bisik Amanda frustrasi.
Dia menggapai ponsel di samping bantal. Layar menyala. Ada notifikasi dari Instagram.
@herman_kontraktor menyukai foto Anda.
Amanda membuka notifikasi itu. Foto yang disukai Herman adalah fotonya sedang makan es krim di pinggir jalan. Foto itu diunggah tiga bulan lalu. Artinya Herman telah menggulir ke bawah cukup jauh untuk menemukannya. Artinya dia tidak hanya sekadar melihat-lihat sekilas, tetapi benar-benar memperhatikan. Artinya...
"Berhenti," kata Amanda pada dirinya sendiri. "Berhenti overthinking. Dia hanya penasaran. Tidak lebih."
Tapi jarinya bergerak sendiri. Dia membuka profil Herman. Melihat foto-fotonya. Pemandangan proyek bangunan. Makanan di warung pinggir jalan. Teman-temannya yang sedang tertawa di depan GOR Panunjung Tarung. Tidak ada foto dengan perempuan. Tidak ada foto di tempat mewah. Semuanya sederhana. Bahkan cenderung kumuh.
Dia benar-benar belum pernah punya pacar, pikir Amanda. Cowok seusia itu biasanya sudah punya pacar atau setidaknya sudah pernah pacaran. Tapi dia belum. Apa dia terlalu pemalu? Atau terlalu aneh? Atau terlalu...
"Berhenti mikirin dia!" desis Amanda keras-keras.
Dia mematikan ponsel, meletakkannya di atas meja belajar, lalu memejamkan mata dengan sangat erat. Dia memaksa dirinya untuk tidur. Memaksa pikirannya untuk kosong. Memaksa bayangan Herman untuk pergi.
Tapi anehnya, semakin dia memaksa, semakin jelas bayangan itu. Semakin dia mencoba melawan, semakin kuat rasa ingin tahu itu.
Herman. Cowok kontraktor dengan kumis tipis. Cowok yang berani menempelkan permen karet di baju putihnya. Cowok yang bilang belum pernah punya pacar di depan umum tanpa rasa malu. Cowok yang membuatnya marah, bingung, dan anehnya, sedikit terhibur.
Kamu harus hati-hati, Amanda, kata suara di dalam kepalanya. Cowok seperti itu paling berbahaya. Karena dia tulus. Dan ketulusan adalah senjata yang paling sulit dihindari.
Amanda tidak menjawab suara hatinya itu. Dia hanya memeluk bantalnya lebih erat, lalu perlahan-lahan, tanpa dia sadari, matanya mulai terpejam.
Dia tertidur dengan bayangan Herman di pelupuk matanya.
Dan untuk pertama kalinya, bayangan itu tidak membuatnya marah.
BAB 2
AMANDA DAN 24 JAM KEMARAHAN
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Amanda terbangun. Bukan karena suara azan subuh dari masjid di ujung jalan, bukan karena ibunya yang mengetuk pintu kamar berkali-kali, bukan juga karena alarm ponsel yang berbunyi nyaring. Amanda terbangun karena dia bermimpi. Bukan mimpi indah tentang pangeran berkuda putih, tetapi mimpi buruk tentang seekor permen karet raksasa yang mengejarnya di tengah Car Free Day , lengket, kenyal, dan berwarna merah muda menyala. Dalam mimpi itu, permen karet raksasa itu terus berteriak dengan suara Herman, "TEMPELIN AJA, MAN! TEMPELIN AJA!"
"Sial," gumam Amanda sambil duduk di atas kasur. Keringat dingin membasahi lehernya. Rambutnya yang diikat kuda semalam kini telah tercerai-berai menjadi kusut yang mengerikan. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha menghilangkan sisa-sisa mimpi yang masih melekat di kepalanya seperti permen karet di baju.
Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 05.15. Biasanya Amanda baru bangun pukul 05.45, mandi kilat, sarapan dengan terburu-buru, lalu berangkat ke sekolah sebelum bel pertama berbunyi. Tapi pagi ini dia sudah terbangun tiga puluh menit lebih awal, dengan energi negatif yang melimpah seperti gunung berapi yang siap meletus kapan saja.
Dia melirik ke sudut kamar. Baju olahraga putih yang terkena permen karet masih tergeletak di sana, persis di tempat dia melemparkannya kemarin sore. Sepanjang malam, tidak ada peri ajaib yang datang untuk membersihkannya. Tidak ada keajaiban. Yang ada hanya permen karet yang sudah mengeras sempurna, menyatu dengan serat kain putih polos, seperti pasangan yang tidak terpisahkan.
Amanda berdiri, berjalan ke sudut kamar, lalu mengambil baju itu dengan dua jari, seolah-olah baju itu adalah bangkai tikus yang menjijikkan. Dia mengamati permen karet yang sudah mengeras itu. Bentuknya tidak lagi bulat sempurna, tetapi melebar seperti bintang laut yang mati kehausan. Warnanya masih merah muda, tetapi sedikit kusam karena sudah tercampur debu dan keringat.
"Ini permen karet paling menyebalkan yang pernah aku temui dalam hidupku," ucap Amanda kepada dirinya sendiri.
Dia membawa baju itu ke kamar mandi. Air dituang ke dalam waskom plastik berwarna biru tua. Sabun cuci piring disemprotkan berkali-kali hingga berbusa seperti salju di puncak gunung. Amanda merendam bahu baju yang terkena permen karet ke dalam air sabun, lalu menggosoknya dengan sikat gigi bekas yang sudah tidak terpakai.
Digosok. Digosok. Digosok.
Baju menjadi basah. Sabun meresap ke mana-mana. Tapi permen karetnya tetap menempel dengan angkuhnya. Tidak bergeming. Tidak melemah. Bahkan setelah digosok dengan kekuatan penuh, permen karet itu masih tersenyum kepadanya dengan rasa strawberry-nya yang palsu.
"BANDEL BANGET SIH!" teriak Amanda frustrasi. Suaranya bergema di kamar mandi kecil itu, memantul dari dinding ubin ke dinding ubin lainnya.
Ibunya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur langsung kaget. "AMANDA! KAMU TERIAK-TERIAK KENAPA? JATUH?"
"ENGGAK, MAH! CUMA PERMEN KARET! PERMEN KARETNYA BANDEL!"
"PERMEN KARET APAAN?"
"PERMEN KARET PUNYA COWOK GOBLOK!"
Diam sejenak. Lalu terdengar suara ibunya yang tertawa kecil dari dapur. Tertawa yang membuat Amanda semakin geram karena dia tahu ibunya sedang membayangkan adegan yang sama seperti kemarin: ada cowok idiot yang menempelkan permen karet di baju anaknya.
"MAH, JANGAN TERTAWA! INI SERIUS!"
"IYA, IYA, IBU GAK TERTAWA," jawab ibunya sambil terus tertawa.
Amanda hampir melempar sikat gigi ke arah pintu kamar mandi. Dia menahan diri. Menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan. Lalu mencoba metode lain.
Dia ingat pernah membaca di internet bahwa permen karet bisa dihilangkan dengan es batu. Biarkan permen karet membeku, lalu kerik dengan pisau tumpul. Itu teorinya. Praktiknya? Amanda mengambil es batu dari kulkas, menggenggamnya di tangan kiri, lalu menggosokkan es batu itu ke permen karet. Dinginnya menusuk jari-jarinya. Tangannya hampir beku. Tapi permen karet hanya menjadi keras dan lebih sulit dikerik.
Dicoba dengan minyak kayu putih seperti saran Dahlia kemarin. Bau minyak kayu putih menyebar di kamar mandi, membuat suasana seperti ruang pijat tradisional. Permen karetnya sedikit melunak, tetapi masih menempel.
Dicoba dengan cuka. Tidak berpengaruh.
Dicoba dengan pasta gigi. Malah jadi lengket-lengket sabun.
Dicoba dengan gigitan langsung. Gigi Amanda hampir copot.
"SUDAH!" pekik Amanda. Dia melempar baju itu ke lantai kamar mandi. Lalu duduk di kursi kloset jongkok sambil menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku tidak akan memakai baju ini lagi. Biar jadi kenang-kenangan paling menyebalkan."
Dari luar kamar mandi, suara ibunya terdengar lagi. "AMANDA! KAMU SUDAH MANDI? SARAPAN SUDAH SIAP!"
"SEBENTAR LAGI, MAH!"
Amanda berdiri, membuka keran air, dan mandi dengan air dingin. Biasanya dia mandi air hangat jika pagi terasa sedikit dingin. Tapi pagi ini dia butuh air dingin untuk menenangkan kepalanya yang panas membara. Air mengalir dari ujung rambut ke ujung kaki. Membasahi setiap pori-pori. Mendinginkan setiap denyut nadi yang berdetak terlalu cepat. Setelah sepuluh menit, Amanda keluar dari kamar mandi dengan tubuh sedikit menggigil, tetapi pikirannya sedikit lebih tenang.
Tidak sepenuhnya tenang. Tapi cukup untuk tidak membanting pintu kamar.
Sarapan pagi itu adalah nasi goreng dengan telur ceplok dan kerupuk udang. Menu favorit Amanda sejak kecil. Biasanya dia bisa menghabiskan dua piring nasi goreng tanpa kesulitan. Tapi pagi ini dia hanya menghabiskan setengah piring, itupun dengan wajah cemberut seperti anak kecil yang kehilangan permen.
"Cuma setengah?" tanya ibunya sambil duduk di seberang meja.
"Enggak lahap, Mah."
"Karena permen karet?"
Amanda menghentikan suapan di mulutnya. Dia menelan perlahan, lalu meneguk air putih untuk melancarkan makanan yang terasa seperti pasir di tenggorokan. "Iya. Karena permen karet."
Ibu Amanda menghela napas. Dia meletakkan sendoknya, lalu menatap anak perempuannya dengan mata lembut yang hanya dimiliki oleh seorang ibu. "Cerita sama Ibu, Ndah. Kenapa kamu begitu marah? Apakah hanya karena baju itu mahal? Ibu bisa belikan baju baru yang lebih mahal."
"Bukan soal uang, Mah."
"Lalu soal apa?"
Amanda terdiam. Dia memainkan kerupuk udang di piringnya, memecahkannya menjadi potongan-potongan kecil tanpa niat memakannya. "Aku marah karena... rasanya dia meremehkan aku. Aku diajak bercanda oleh orang yang tidak aku kenal. Di depan umum. Tanpa izin."
"Tapi dia sudah minta maaf."
"Minta maaf tidak cukup, Mah. Dia harus tahu bahwa perbuatannya itu menyebalkan. Bahwa tidak semua orang bisa diajak bercanda seperti itu."
"Jadi, apa yang kamu inginkan? Kamu ingin dia datang lagi, berlutut di depan rumah, sambil membawa seratus baju baru?"
Amanda membayangkan adegan itu. Herman berlutut dengan wajah memelas, dikelilingi oleh tumpukan baju olahraga putih. Entah kenapa, bayangan itu membuatnya hampir tersenyum. Tapi dia segera mengusir senyum itu sebelum sempat terlihat oleh ibunya.
"Aku tidak tahu apa yang aku inginkan, Mah. Aku hanya marah. Dan rasa marah ini tidak bisa hilang hanya dengan dia bilang maaf."
"Marah itu butuh waktu, Nak. Kamu tidak bisa memaksakan diri untuk berhenti marah. Yang bisa kamu lakukan hanya membiarkan waktu berjalan, dan perlahan-lahan rasa marah itu akan berkurang dengan sendirinya."
"Kalau tidak berkurang?"
"Ya sudah, kamu marah seumur hidup. Tapi apakah sepadan? Marah kepada seseorang yang mungkin tidak pernah berpikir panjang sebelum bertindak?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya menghabiskan sisa setengah piring nasi gorengnya dengan malas, lalu pamit pada ibunya untuk berganti pakaian sekolah.
Seragam SMA Amanda adalah rok abu-abu selutut dan kemeja putih lengan pendek. Setiap pagi, dia selalu memastikan seragamnya disetrika dengan rapi, tidak ada lipatan, tidak ada kusut. Dia juga selalu menyemprotkan parfum vanilla di pergelangan tangan dan leher, wangi yang menjadi ciri khasnya sejak kelas sepuluh.
Tapi pagi ini, ketika dia berdiri di depan cermin kamar, perhatiannya tidak tertuju pada kerapian seragam atau wangi parfum. Perhatiannya tertuju pada bahu kanannya. Di tempat yang sama di mana permen karet itu menempel kemarin pagi.
Dia bisa merasakan permen karet itu masih ada. Bukan secara fisik, karena bajunya sudah dia ganti. Tapi secara psikologis, seolah-olah permen karet itu sudah pindah dari baju olahraga ke kulitnya, menempel di sana, tidak mau pergi.
"Pokoknya hari ini aku harus fokus sekolah," bisik Amanda pada bayangannya sendiri di cermin. "Tidak boleh kepikiran cowok idiot itu. Tidak boleh. Tidak boleh. TIDAK BOLEH."
Dia mengulang kalimat itu tiga kali. Seperti mantra. Seperti doa. Tapi dia tahu, mantra terkuat sekalipun tidak akan bisa mengusir bayangan Herman jika bayangan itu sudah terlalu dalam bersarang di kepalanya.
SMA Negeri 2 Kuala Kapuas berdiri di atas lahan seluas satu hektar di Jalan Pemuda. Bangunannya tidak terlalu megah, tetapi cukup representatif untuk sekolah favorit di kota itu. Setiap pagi, ribuan siswa memadati gerbang utama, ada yang jalan kaki, ada yang naik sepeda motor, ada pula yang diantar oleh orang tua masing-masing.
Amanda termasuk yang terakhir. Ayahnya, yang kebetulan belum berangkat ke toko sembako, menawarkan diri untuk mengantar. Biasanya Amanda menolak karena dia lebih suka jalan bersama teman-temannya. Tapi pagi ini dia mengiyakan tawaran ayahnya. Alasannya sederhana: dia butuh ketenangan. Dan mobil adalah tempat yang tenang.
"Ayah dengar dari Ibu kamu ada cowok yang tempelin permen karet di baju kamu," kata ayah Amanda sambil memegang setir mobil dengan satu tangan.
Amanda langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Mamah, kok ngasih tahu sih?"
"Ibu kamu cerita tadi pagi setelah kamu mandi. Ayah sempat kaget, tapi setelah Ibu kamu cerita detailnya, Ayah jadi tertawa."
"KENAPA SETIAP ORANG TERTAWA? INI NGGAK LUCU!"
"Iya, Ndah. Buat kamu tidak lucu. Buat Ayah, agak lucu."
"AGAK LUCU JUGA NGGAK BOLEH!"
Ayah Amanda tertawa kecil. Dia menggeser posisi tangannya di setir, lalu menepuk paha anak perempuannya dengan lembut. "Ayah tahu kamu marah. Tapi coba lihat dari sisi lain. Cowok itu mungkin hanya bercanda. Atau mungkin dia memang punya maksud tertentu."
"Maksud tertentu? Apa? Merusak baju orang?"
"Mendekati kamu."
Amanda terdiam. Kata-kata ayahnya menusuk lebih dalam daripada yang dia kira. Mendekati kamu. Apakah mungkin Herman menempelkan permen karet itu sebagai cara untuk mendekatinya? Apakah itu strategi? Atau hanya kebodohan murni?
"Kalau dia benar-benar bermaksud mendekati kamu," lanjut ayahnya, "dia akan datang lagi. Dengan cara yang tidak konyol. Dan saat itu, kamu bisa menilainya. Apakah dia layak kamu hiraukan atau tidak."
"Dan kalau dia tidak datang lagi?"
"Berarti dia hanya iseng. Dan kamu tidak perlu membuang energimu untuk orang iseng."
Amanda mengangguk pelan. Ayahnya selalu punya cara untuk membuat segalanya terlihat sederhana. Terlalu sederhana, kadang-kadang. Tapi di saat seperti ini, kesederhanaan itu justru membantu.
Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Amanda membuka pintu, turun, lalu menutup pintu dengan pelan. "Hati-hati di jalan, Yah."
"Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di sekolah. Jangan cari masalah dengan cowok-cowok nakal."
"Kalau cowok nakalnya yang cari aku?"
"Lapor guru."
"Dan kalau gurunya tidak memihak?"
"Lapor Ayah."
Amanda tersenyum kecil. Dia melambaikan tangan pada ayahnya sebelum berjalan masuk ke gerbang sekolah. Di dalam, teman-temannya sudah menunggu di dekat tiang bendera.
"Akhirnya datang juga!" sapa Dahlia dengan suara riang. Empat perempuan itu berdiri melingkar di dekat pohon rindang, tempat biasa mereka berkumpul sebelum bel pertama berbunyi.
"Muka Amanda kok kayak habis begadang semalaman?" tanya Yunita sambil menyelidik.
"Tidur nggak nyenyak," jawab Amanda singkat.
"Mimpi buruk?" tanya Anita.
"Mimpi dikejar permen karet raksasa," jawab Amanda tanpa ekspresi.
Semua temannya langsung tertawa. Bahkan Sania yang biasanya paling kalem ikut tertawa kecil.
"Gila, mimpi apa itu?" Dahlia memegang perutnya.
"Aku juga gak tahu. Yang jelas, sepeninggalan kalian kemarin, aku gak bisa berhenti mikirin cowok idiot itu. Bajunya sudah aku cuci pakai sabun, minyak kayu putih, cuka, pasta gigi, bahkan aku gigit, tapi permen karetnya gak mau lepas."
"Kamu gigit? GIGIT?" Yunita membelalakkan mata. "Pakai gigi kamu sendiri?"
"Iya."
"GILA! Itu berbahaya! Gigi kamu bisa copot!"
"Tapi permen karetnya juga gak lepas," jawab Amanda dengan nada sedikit menyesal.
Dahlia menggeleng-gelengkan kepala. "Amanda, kamu tuh terlalu serius. Coba santai sedikit. Nikmati saja drama ini."
"Menikmati drama? Bajuku yang kena, Dahlia. Bukan baju kamu."
"Tapi kamu yang dapat cerita lucu buat diceritakan ke cucu kamu nanti," potong Sania dengan tenang.
"Kenapa semua orang di sekitarku suka bilang soal anak cucu? Aku baru kelas dua belas!"
"Ya, persiapan dini," jawab Sania tanpa mengedip.
Amanda menghela napas panjang. Dia tahu teman-temannya tidak bermaksud jahat. Mereka hanya ingin membuatnya tertawa. Tapi Amanda belum siap tertawa. Kemarahannya masih terlalu segar, seperti luka sayatan yang baru saja ditutup plester.
"Oke, lupakan dulu soal permen karet dan cowok idiot itu," kata Amanda sambil mengatur tas di pundaknya. "Kita fokus ke pelajaran. Hari ini ada ujian Matematika, kan?"
"Iya," jawab Anita. "Jam ketiga. Kamu sudah belajar?"
"Semalam gak bisa belajar. Pikiran kacau."
"Tenang, nanti aku pinjemin catatan," tawar Yunita.
"Makasih, Nit."
Bel pertama berbunyi. Para siswa mulai berjalan menuju kelas masing-masing. Amanda berjalan paling depan, diikuti oleh keempat temannya. Sesekali dia melirik ke arah kiri dan kanan, berharap tidak melihat sesuatu yang tidak diinginkan. Seperti misalnya, seorang cowok dengan kumis tipis yang tersenyum canggung di balik pagar sekolah.
Tapi tidak ada Herman. Yang ada hanya siswa-siswa lain yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Legaaaa, pikir Amanda. Setidaknya dia gak se-stalker itu.
Tapi di dalam hati kecilnya, ada suara lain yang mengatakan: Atau jangan-jangan dia memang tidak tertarik sama sekali untuk mencarimu?
Amanda menggelengkan kepala keras-keras, cukup keras sampai Dahlia di belakangnya bertanya, "Kamu kenapa, Am?"
"Enggak. Cuma ada nyamuk."
"Di sekolah? Jam segini?"
"Nyamuk bandel."
Dahlia hanya mengangkat bahu. Mereka terus berjalan menuju kelas, meninggalkan halaman sekolah yang mulai ramai oleh siswa-siswa yang berlarian mengejar bel.
Jam pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Guru yang mengajar adalah Bu Siti, seorang perempuan paruh baya dengan suara lantang dan kacamata tebal yang membuat matanya terlihat seperti mata ikan. Hari itu, Bu Siti sedang membahas tentang puisi. Khususnya puisi cinta.
"Puisi cinta tidak selalu harus romantis," kata Bu Siti di depan kelas. "Puisi cinta juga bisa berisi kemarahan, kekecewaan, bahkan kebencian. Karena cinta dan benci itu dua sisi dari koin yang sama. Orang yang sangat kamu cintai, suatu saat bisa menjadi orang yang paling kamu benci."
Amanda yang sedang melamun langsung tersadar. Cinta dan benci itu dua sisi dari koin yang sama. Kalimat itu terngiang di kepalanya seperti gema di lembah yang sunyi.
"Contohnya," lanjut Bu Siti, "pernah ada seorang siswa kelas dua belas yang menulis puisi tentang kekesalannya pada seorang cowok yang mengganggunya setiap pulang sekolah. Puisi itu sangat kasar, penuh amarah, tetapi gurunya tetap memberikan nilai sembilan karena puisi itu jujur dan sangat menghayati."
"Mana puisinya, Bu?" tanya seorang siswa di bangku depan.
"Saya tidak bisa bacakan di sini karena isinya terlalu kasar. Tapi saya bisa kasih kesimpulan: puisi itu intinya si penulis benci banget sama cowok itu, tapi di akhir puisi dia bilang, 'Aku benci kamu karena kamu membuatku merasakan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.' Itu adalah puisi paling jujur yang pernah saya baca."
Seluruh kelas berdiskusi kecil. Ada yang tertawa. Ada yang mengangguk-angguk. Ada pula yang diam sambil merenung.
Amanda tidak melakukan apapun. Dia hanya duduk di bangkunya, tidak bergerak, tidak berbicara. Matanya menatap papan tulis tanpa benar-benar melihat. Pikirannya melayang ke tempat yang tidak bisa dia kendalikan.
Aku benci kamu karena kamu membuatku merasakan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
Apakah itu yang dia rasakan terhadap Herman? Apakah kemarahannya bukan sekadar kemarahan biasa, tetapi kemarahan yang lahir dari kebingungan karena dia tidak bisa menjelaskan mengapa cowok itu begitu mudah memasuki pikirannya?
"Amanda!" panggil Bu Siti.
Amanda tersentak. "Iya, Bu?"
"Kamu dari tadi diam saja. Tidak ikut diskusi?"
"Maaf, Bu. Sedang... memikirkan sesuatu."
"Pikirkan apa?"
"Pikirkan tentang puisi yang Ibu ceritakan tadi."
"Bagus. Kalau begitu, coba buat satu puisi pendek tentang perasaan yang sedang kamu rasakan sekarang. Kumpulkan di akhir jam pelajaran."
Amanda mengerjap. "Sekarang, Bu?"
"Iya, sekarang. Kamu punya waktu tiga puluh menit. Tulis di selembar kertas."
Amanda mengeluarkan buku catatan. Dia membuka halaman kosong, lalu memegang pulpen dengan jari yang sedikit gemetar. Apa yang harus dia tulis? Tentang permen karet? Tentang kemarahan? Tentang Herman?
Dia mulai menulis.
"Aku marah padamu,
Bukan karena permen karet itu,
Tapi karena setelah permen karet itu lengket,
Yang lengket bukan hanya bajuku,
Tapi juga bayanganmu."
Dia berhenti. Membaca ulang. Lalu mengernyit.
"Apa-apaan ini?" bisiknya. "Ini bukan puisi cinta. Ini puisi orang yang sudah kehilangan akal sehat."
Tapi dia tidak menghapusnya. Dia melanjutkan menulis.
"Aku ingin marah selamanya,
Tapi kenapa setiap kali marah,
Aku justru semakin mengingat wajahmu?
Ini tidak adil,
Kamu merusak bajuku,
Dan aku yang harus memikirkanmu."
Amanda meletakkan pulpennya. Puisi itu pendek, tidak puitis, bahkan cenderung kaku. Tapi itu jujur. Itu adalah jujur yang paling jujur yang pernah dia tulis.
Dia melipat kertas itu menjadi dua, lalu menulis namanya di sudut kanan atas. Tiga puluh menit kemudian, dia berjalan ke depan kelas dan menyerahkan puisi itu ke Bu Siti.
Bu Siti membacanya sekilas, lalu tersenyum. "Ini puisi yang bagus, Amanda."
"Bagus apa, Bu? Aku hanya curhat."
"Curhat yang jujur selalu lebih bagus daripada puisi yang dibuat-buat. Kamu boleh ambil nilai sembilan untuk ini."
Amanda tersenyum kecil. Ini adalah senyum pertamanya sejak kemarin pagi.
Jam istirahat pertama, Amanda dan teman-temannya duduk di kantin sekolah. Mereka memesan bakso dan es teh manis. Suasana kantin ramai oleh siswa-siswa lain yang juga sedang mengisi perut. Ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang berdebat soal jawaban ujian, ada pula yang diam-diam saling kirim pesan di ponsel masing-masing.
"Am, aku lihat tadi kamu nulis puisi di kelas," kata Dahlia sambil menyedot bakso.
"Iya. Suruhan Bu Siti."
"Itu puisi tentang apa?"
"Tentang... perasaan."
"Perasaan apa? Perasaan marah? Perasaan kesal? Perasaan rindu?"
"DAHLIA!" Amanda memukul meja plastik di depan mereka. Beberapa siswa di meja sebelah menoleh, lalu kembali ke urusan masing-masing setelah menyadari tidak ada yang serius.
"Kenapa sih kalian semua sepertinya sangat ingin aku mengaku bahwa aku suka sama Herman?" tanya Amanda dengan suara sedikit tinggi.
"Karena kamu jelas-jelas suka sama dia," jawab Sania dengan tenang sambil mengaduk es tehnya.
"APA TANDANYA?"
"Tadinya aku tidak yakin. Tapi sejak kamu tiba-tiba marah besar ketika kami menyebut namanya, aku jadi yakin. Orang yang tidak suka biasanya cuek. Orang yang suka biasanya... overreact."
"DAN AKU OVERREACT?"
"Sekali lagi, buktinya sekarang," Sania tersenyum tipis. "Kamu marah karena kami bilang kamu suka dia. Seharusnya kalau kamu benar-benar tidak suka, kamu hanya akan tertawa dan bilang, Ah, enggak lah, gila aja. Tapi kamu malah memukul meja dan berteriak."
Amanda terdiam. Mulutnya terbuka setengah, seolah ingin membantah, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Yunita menepuk bahu Amanda pelan. "Tenang, Am. Tidak ada yang salah dengan suka sama orang. Bahkan orang yang awalnya kamu benci sekalipun."
"Aku tidak suka dia," desis Amanda.
"Iya, kamu tidak suka dia. Kamu cuma... penasaran."
"Iya. Penasaran."
"Penasaran yang berlebihan sampai mimpi dikejar permen karet raksasa."
"ITU KEJADIAN TERPISAH!"
Semua temannya tertawa. Amanda ikut tertawa, meskipun terpaksa. Tapi tawa itu membuat dadanya terasa lebih ringan. Setidaknya untuk sementara.
Jam pelajaran ketiga adalah Matematika. Ujian. Soal-soal deret dan logaritma berjejer rapi di lembar kertas. Amanda mengerjakannya dengan konsentrasi penuh. Tidak ada ruang untuk memikirkan Herman. Tidak ada ruang untuk permen karet. Hanya angka, rumus, dan perhitungan.
Dia menyelesaikan semua soal dalam waktu empat puluh menit. Masih tersisa dua puluh menit untuk memeriksa ulang. Dan dalam dua puluh menit itulah, celah kosong di pikirannya mulai diisi kembali oleh bayangan Herman.
Herman pekerja kontraktor. Herman umur dua puluh tiga. Herman belum pernah pacaran.
"Berhenti," bisik Amanda.
Dia membaca soal nomor lima lagi. Deret aritmatika. Suku pertama a, beda b. Tentukan jumlah dua puluh suku pertama. Rumusnya Sn = n/2 (2a + (n-1)b). Dia menulis rumus itu di lembar jawaban, memasukkkan angka-angka, menghitung dengan teliti.
Herman. Amanda. Permen karet. Car Free Day .
"SIALAN!" umpat Amanda pelan-pelan.
Dia menghapus tulisannya dan mulai menghitung dari awal.
Tapi semakin dia mencoba fokus, semakin kacau pikirannya. Akhirnya dia hanya bisa pasrah. Dia menyerahkan lembar jawaban kepada guru pengawas, lalu keluar dari ruang ujian meskipun masih ada waktu sepuluh menit.
Di luar kelas, udara terasa lebih segar. Amanda berdiri di depan jendela koridor, menatap lapangan upacara yang kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya burung-burung pipit yang bertengger di tiang bendera, berkicau tanpa peduli dengan segala kegalauan yang dialami oleh seorang siswa kelas dua belas bernama Amanda.
"Kamu kenapa?" Suara datang dari belakang. Amanda menoleh. Itu Ragil. Cowok kelas dua belas dari kelas sebelah yang terkenal ganteng, populer, dan sering mengiriminya pesan di Instagram.
"Enggak kenapa-kenapa," jawab Amanda datar.
"Keluar duluan dari ujian. Itu tanda kamu stres."
"Bukan stres. Cuma... pusing."
Ragil mendekat. Dia berdiri di samping Amanda, juga menatap lapangan upacara yang kosong. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Enggak. Makasih."
"Kamu yakin? Aku bisa temani kalau kamu butuh teman cerita."
"Ragil, aku baik-baik saja. Serius."
Ragil tersenyum. Senyum yang biasa dia gunakan untuk membuat perempuan-perempuan di sekolah meleleh. Tapi tidak untuk Amanda. Amanda sudah kebal terhadap senyum semacam itu.
"Baiklah," kata Ragil. "Tapi kalau kamu berubah pikiran, kamu tahu di mana aku berada."
"Iya. Makasih."
Ragil berjalan pergi. Amanda menghela napas lega. Dia tidak butuh Ragil. Yang dia butuhkan adalah... dia tidak tahu apa yang dia butuhkan. Mungkin tidur. Mungkin makan es krim. Atau mungkin pergi ke Car Free Day lagi, berharap bertemu Herman, lalu memarahinya sekali lagi untuk melepaskan semua beban ini.
Itu ide gila, pikirnya. Tapi semua ide yang berhubungan dengan Herman memang gila.
Sepulang sekolah, Amanda tidak langsung pulang. Dia mampir ke toko buku di dekat sekolah untuk membeli alat tulis. Di dalam toko, dia tidak sengaja melihat setoples permen karet rasa stroberi yang dijual di dekat kasir. Persis seperti permen karet yang ditempelkan Herman di bajunya.
Matanya terpaku pada toples itu selama beberapa detik. Wajahnya berubah campur aduk antara marah dan ingin tertawa.
"Mbak, mau beli?" tanya kasir.
"Enggak," jawab Amanda cepat. "Saya benci permen karet."
Dia keluar dari toko dengan langkah cepat, tanpa membeli apapun.
Malam tiba. Amanda duduk di kamarnya, ditemani secangkir susu coklat hangat dan ponsel yang dia pegang di tangan kiri. Layar ponsel menampilkan Instagram. Profil @herman_kontraktor.
Dia sudah setengah jam bergulir di profil Herman. Melihat foto-foto proyek bangunan yang menurutnya membosankan. Melihat foto-foto makanan di warung pinggir jalan yang menurutnya tidak istimewa. Melihat foto-foto Herman bersama teman-temannya, tertawa dengan mulut terbuka lebar, tidak peduli apakah gigi mereka rapi atau tidak.
Dia terlihat bahagia di foto-foto ini, pikir Amanda. Bahagia dengan hal-hal sederhana. Tidak butuh kemewahan. Tidak butuh pengakuan. Hanya bersyukur dengan apa yang dia miliki.
"Kenapa aku bisa kepikiran begini?" tanya Amanda pada dirinya sendiri.
Dia mematikan ponsel. Menyeruput susu coklatnya. Memandangi bulan di luar jendela yang berbentuk sabit tipis, seperti permen karet yang sudah dimakan setengah.
"Ya Allah," bisik Amanda. "Hari ini aku marah seharian. Aku marah karena permen karet. Aku marah karena Herman. Aku marah karena teman-temanku yang selalu tertawa. Aku marah karena Bu Siti yang menyuruhku menulis puisi. Aku marah karena Ragil yang tiba-tiba peduli. Aku marah karena semuanya."
Tapi di akhir kalimatnya, dia tersenyum.
"Tapi kenapa di tengah semua kemarahan ini, aku merasa... hidup?"
Dia tidak tahu jawabannya.
Yang dia tahu, dua puluh empat jam pertama setelah peristiwa permen karet telah berlalu. Dan dia masih belum bisa melupakan Herman. Mungkin dua puluh empat jam berikutnya juga sama. Atau dua puluh empat jam setelahnya. Atau selamanya.
Amanda merebahkan diri di kasur. Susu coklat diletakkan di meja samping tempat tidur. Ponsel dimatikan. Lampu kamar dipadamkan.
Dalam gelap, dia berbisik, "Herman, kamu membuatku marah seharian penuh. Tapi anehnya, aku tidak benar-benar ingin kemarahan ini berakhir."
Dia memejamkan mata.
Dan untuk kedua kalinya, dia tertidur dengan bayangan Herman di pelupuk matanya.
Tapi kali ini, bayangan itu tidak membuatnya marah.
Hanya membuatnya tersenyum.
BAB 3
PENAMPAKAN PERTAMA HANTU PERMEN KARET
Dua hari telah berlalu sejak peristiwa permen karet di Car Free Day . Dua hari yang terasa seperti dua tahun bagi Herman. Setiap malam dia tidur dengan bayangan Amanda yang marah-marah di depan umum. Setiap pagi dia bangun dengan harapan bahwa hari ini dia akan bertemu Amanda lagi, meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika pertemuan itu benar-benar terjadi. Apakah dia akan meminta maaf lagi? Apakah dia akan diam saja? Atau apakah dia akan melakukan hal bodoh lain yang akan membuat Amanda semakin membencinya? Herman tidak tahu. Yang dia tahu, dia tidak bisa terus-terusan berada dalam ketidakpastian seperti ini.
Hari Minggu. Tidak ada kerja untuk Herman karena proyek perumahan tempat dia bekerja libur di akhir pekan. Biasanya dia menghabiskan hari Minggu dengan tidur sampai siang, lalu nongkrong di warung kopi sampai sore. Tapi hari Minggu ini berbeda. Hari ini, Ahmat telah mengatur rencana pencarian alamat rumah Amanda. Rencana yang kemarin sempat tertunda karena hujan deras di sore hari, tetapi hari ini cuaca cerah sempurna, seolah-olah langit sendiri mendukung misi konyol mereka.
"Kumpul di depan GOR jam satu siang," kata Ahmat di grup WhatsApp semalam.
"Jam satu siang panas, Mat," balas Yanto.
"Biarpun panas, kita tetap jalan. Sudah janji."
"Aku tidak janji. Kalian yang janji," balas Yanto lagi.
"Kamu ikut atau tidak?"
"Ikut."
"Ya sudah, diam."
Itulah Ahmat. Tidak suka banyak basa-basi. Jika dia sudah memegang komando, semua orang harus mengikuti. Tidak ada pengecualian. Tidak ada toleransi. Apalagi untuk urusan yang menurutnya penting, seperti membantu teman yang sedang jatuh cinta.
Herman tiba di depan GOR Panunjung Tarung pukul dua belas siang, satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Dia duduk di trotoar beton favoritnya, menghadap ke jalan raya yang sepi di siang hari. Sesekali mobil lewat. Sesekali motor. Tapi kebanyakan hanya angin panas yang berhembus, membawa debu dari jalan yang tidak pernah disiram.
"Datang cepat banget, Man." Suara Ahmat datang dari belakang.
Herman menoleh. Ahmat berdiri di belakangnya sambil membawa dua botol air mineral dingin. Salah satunya dia sodorkan ke Herman.
"Minum dulu. Biar tidak dehidrasi."
"Makasih, Mat."
Mereka berdua duduk di pagar beton, minum air mineral dalam diam. Matahari tepat di atas kepala mereka, membakar kulit dengan intensitas yang tidak ramah. Keringat mulai mengalir di pelipis Herman, menetes ke pipi, lalu jatuh ke tanah yang kering.
"Kamu gugup?" tanya Ahmat.
"Enggak."
"Bohong lagi."
"Sedikit."
Ahmat tertawa kecil. "Wajar. Kamu mau datang ke rumah cewek yang baru kamu tempelin permen karet. Itu bukan hal yang biasa dilakukan orang setiap hari."
"Aku tidak datang sendirian. Kalian ikut."
"Iya, kami ikut. Tapi yang masuk ke rumahnya tetap kamu. Kami hanya akan menunggu di luar. Atau di warung terdekat. Atau di dalam mobil jika ada yang bawa mobil."
"Kita tidak punya mobil, Mat."
"Ya sudah, di bawah pohon rindang."
Herman menghela napas. Dia sudah membayangkan skenario terburuk: Amanda melihatnya dari balik jendela, lalu keluar rumah dengan membawa sapu, lalu menghajarnya sampai babak belur. Atau ayah Amanda yang ternyata preman pasar, lalu membawanya ke pos ronda untuk diinterogasi. Atau ibunya yang langsung pingsan melihat anak perempuannya didatangi cowok asing. Semua skenario buruk itu berputar di kepalanya seperti film horor yang tidak bisa dia matikan.
"Mat, menurutmu apa yang harus aku katakan nanti?" tanya Herman.
"Katakan kamu datang untuk meminta maaf. Bawa baju baru kalau perlu."
"Aku belum beli baju baru."
"Kenapa belum?"
"Uangku belum cair."
"Ya sudah, bilang kamu akan ganti minggu depan."
"Kalau dia marah?"
"Ya sudah, terima marahnya. Kamu memang pantas dimarahi."
Herman tidak bisa membantah. Ahmat selalu logis. Kadang terlalu logis sehingga menyebalkan. Tapi di saat seperti ini, logika Ahmat adalah satu-satunya jangkar yang mencegah Herman hanyut dalam kekalutannya sendiri.
Pukul setengah satu siang, Yanto, Mahdili, Yuni, Bintang dan Herawati datang. Mereka datang dengan berboncengan motor, dua motor butut yang sering mogok di jalan. Yanto membawa helm tanpa kaca, rambutnya acak-acakan seperti habis diaduk angin. Mahdili membawa ransel besar berisi air mineral dan camilan. Yuni dan Herawati masing-masing membawa payung kecil untuk melindungi kulit putih mereka dari sengatan matahari.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Yanto sambil mengusap keringat di dahinya.
"Tunggu sebentar," jawab Ahmat. "Aku masih memastikan alamatnya."
"Alamatnya belum pasti?"
"Iya. Yang aku tahu cuma Jalan Nusa Indah. Rumahnya besar, nomor tiga belas. Tapi Jalan Nusa Indah itu panjang. Bisa jadi kita harus keliling dulu."
"Berarti kita bakalan muter-muter di Jalan Nusa Indah kayak orang nyasar?" tanya Herawati dengan nada sedikit kesal.
"Kurang lebih begitu."
"Ya Allah, Mat. Kenapa tidak kamu pastikan dulu dari rumah?"
"Kemarin aku sibuk. Ada kerjaan."
"Libur."
"Ya, kerjaan rumah."
Yuni menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah muak dengan gaya Ahmat yang suka setengah-setengah. Tapi karena dia sudah terlanjur ikut, dia tidak bisa mundur. Yang bisa dia lakukan hanya pasrah.
"Baiklah," kata Yuni. "Ayo kita cari. Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak tahan panas begini."
Mereka berangkat. Ahmat dan Yanto satu motor. Mahdili dan Herawati satu motor. Herman bonceng dengan Yuni, posisi yang paling tidak nyaman karena Yuni membawa payung yang kadang terbang tertiup angin. Mereka melaju pelan-pelan di sepanjang Jalan Usa Indah, mata masing-masing mengamati nomor rumah di setiap pintu gerbang.
Jalan Nusa Indah adalah salah satu kawasan perumahan menengah ke atas di Kuala Kapuas. Rumah-rumah di sini kebanyakan berdinding bata dengan halaman yang cukup luas. Ada taman kecil di depan, ada pagar besi, ada juga beberapa rumah yang memelihara anjing. Herman merasa asing di lingkungan ini. Udara di sini terasa berbeda. Lebih bersih. Lebih tenang. Jauh dari hiruk-pikuk pasar dan suara knalpot motor yang sering dia dengar setiap hari di kontrakannya.
"Nomor satu... nomor dua... nomor tiga..." hitung Yanto dari motor di depan.
"Nomor tiga belas pasti jauh," kata Mahdili.
"Sabar. Kita baru sampai nomor lima."
Mereka terus melaju. Rumah-rumah di Jalan Nusa Indah semakin jarang seiring mereka masuk ke bagian yang lebih dalam. Pepohonan rindang di kanan-kiri membuat udara sedikit lebih sejuk. Ada beberapa anak kecil yang bermain sepeda di pinggir jalan, sesekali mengeong kucing atau berteriak tanpa sebab.
"Nomor sepuluh!" teriak Ahmat.
"Nomor sebelas! Nomor dua belas!" tambah Yanto.
Lalu mereka sampai di sebuah rumah dengan pagar putih dan gerbang besi hitam. Di atas gerbang itu, tertempel plat kuningan dengan ukiran: Jalan Cemara No. 13.
"Ini dia," bisik Ahmat.
Semua motor berhenti. Mereka memarkir kendaraan di pinggir jalan, di bawah pohon mangga yang rindang. Herman turun dari motor Yuni dengan kaki yang sedikit gemetar. Bukan karena dingin, tetapi karena saraf-sarafnya yang tegang seperti tali biola yang siap putus kapan saja.
"Ini rumahnya?" tanya Herman dengan suara pelan.
"Plat nomornya sudah jelas. Jalan Nusa Indah tiga belas," jawab Ahmat.
"Rumahnya besar juga," komentar Herawati.
"Ya, sudah aku bilang dia anak orang kaya," timpal Yanto.
Herman memandangi rumah itu. Dua lantai, cat putih krem, jendela-jendela besar dengan tirai warna biru muda. Halaman depan cukup luas untuk memarkir dua mobil. Ada taman kecil dengan bunga-bunga mawar dan kamboja. Ada ayunan di teras, terbuat dari kayu jati yang mengkilap. Ini adalah rumah idaman bagi kebanyakan orang. Dan bagi Herman, ini adalah istana yang tidak pernah dia impikan untuk dia masuki.
"Kamu masuk sekarang?" tanya Mahdili.
Herman menelan ludah. "Sebentar. Aku perlu mengatur napas."
"Kamu sudah mengatur napas sejak dari GOR. Itu setengah jam yang lalu."
"Itu belum cukup."
"Man, jangan banyak alasan," Ahmat menepuk pundak Herman. "Kamu sudah sampai di depan tujuannya. Jangan mundur hanya karena kamu takut."
"Aku tidak takut. Aku cuma... ingin waktu yang tepat."
"Tidak ada waktu yang tepat untuk sesuatu yang salah. Yang ada hanya keberanian untuk melakukannya meskipun salah."
Herman memandang Ahmat. Sahabatnya itu tersenyum tipis, memberikan semacam dorongan moral yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Herman mengangguk. Dia berjalan menuju gerbang besi hitam itu, membuka palangnya pelan-pelan, lalu masuk ke halaman rumah.
Langkahnya berat. Setiap langkah terasa seperti menginjak batu bara panas. Jantungnya berdebar sangat kencang. Telinganya berdengung. Tangannya berkeringat. Dia berhenti di depan pintu utama, sebuah pintu kayu solid berwarna coklat mahoni dengan gagang kuningan yang berkilat.
Dia mengangkat tangan. Mengetuk dua kali. Pelan.
Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk tiga kali. Lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Dia menekan bel di samping pintu. Bunyi kring... kring... terdengar sampai ke dalam rumah. Lalu langkah kaki. Seseorang mendekati pintu dari dalam.
Pintu terbuka.
Yang muncul bukan Amanda. Bukan ayahnya. Bukan ibunya. Tetapi seorang perempuan paruh baya dengan rambut sebahu yang diikat kuda. Dia memakai daster batik dan sandal jepit. Wajahnya mirip dengan Amanda. Mata yang sama. Hidung yang sama. Bahkan ekspresi curiga yang sama.
"Ya?" tanya perempuan itu dengan nada datar.
Herman membungkuk sedikit. "Permisi, Bu. Saya Herman. Saya mencari Amanda."
"Amanda? Anak saya?" Ibu Amanda mengerjap. Matanya menyelidik Herman dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu teman sekolahnya?"
"Bukan, Bu. Saya... kenalan dari Car Free Day ."
Ibu Amanda terdiam sejenak. Lalu matanya membelalak. "KAMU? Kamu cowok yang nempelkan permen karet di baju Amanda?"
Herman tersentak. "Iya, Bu. Itu saya."
Diam.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Lalu Ibu Amanda tertawa. Tertawa terbahak-bahak sampai dia memegang pagar pintu agar tidak jatuh. "Ya Allah, barulah ketemu! Amanda dari kemarin cuma marah-marah mulu, ngomongin kamu terus, sampai-sampai aku pusing tujuh keliling!"
Herman tidak tahu harus bereaksi apa. Dia hanya berdiri di sana, kaku, sementara Ibu Amanda terus tertawa.
"Masuk, masuk!" kata Ibu Amanda sambil membuka pintu lebar-lebar. "Jangan berdiri di luar. Nanti panas."
"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud mengganggu. Saya hanya ingin minta maaf karena telah merusak baju Amanda."
"Masuk dulu. Kita bicara di dalam."
Herman menoleh ke belakang. Teman-temannya masih berdiri di pinggir jalan, di bawah pohon mangga, melihat dengan mata melotot. Ahmat memberi isyarat jempol. Yanto tersenyum lebar. Mahdili mengangkat kedua tangannya seperti pesepak bola yang baru mencetak gol.
Herman berbalik dan mengikuti Ibu Amanda masuk ke dalam rumah.
Rumah itu lebih besar dari yang Herman bayangkan. Ruang tamu dilengkapi sofa kulit berwarna krem, meja kaca dengan vas bunga segar di atasnya, televisi empat puluh inci yang menggantung di dinding, dan lampu gantung kristal yang berkilauan diterpa sinar matahari dari jendela. Ada rak buku di sudut ruangan, berisi novel-novel tebal dan beberapa foto keluarga dalam bingkai kayu.
"Silakan duduk," kata Ibu Amanda sambil menunjuk sofa.
Herman duduk dengan hati-hati. Pantatnya hanya menyentuh setengah permukaan sofa. Dia takut merusak sesuatu. Takut meninggalkan bekas. Takut dianggap tidak sopan.
Ibu Amanda duduk di seberangnya. Dia memanggil seorang pembantu untuk membawakan minuman. "Ada es teh manis, jus jeruk, atau air putih?"
"Cukup air putih saja, Bu. Terima kasih."
Pembantu itu datang membawa segelas air putih dingin. Herman meminumnya sedikit, hanya untuk melegakan tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.
"Jadi, kamu Herman," kata Ibu Amanda sambil tersenyum. "Pekerja kontraktor. Umur dua puluh tiga. Belum pernah punya pacar."
Herman hampir tersedak. "Amanda cerita, Bu?"
"Iya. Dia cerita panjang lebar. Termasuk detail tentang kamu yang bilang belum pernah pacaran di depan umum. Aku sampai tertawa waktu dengar."
Herman menunduk. Wajahnya panas. Malu. "Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud aneh-aneh. Waktu itu saya panik. Teman-teman saya menyuruh saya melakukan hal bodoh. Saya ikut-ikutan tanpa berpikir."
"Jadi, kamu tidak punya inisiatif sendiri?"
"Punya, Bu. Tapi inisiatif saya biasanya buruk."
Ibu Amanda tertawa lagi. "Kamu lucu, Herman. Aneh, tapi lucu." Dia menyilangkan kaki, lalu menatap Herman dengan mata yang mulai serius. "Sekarang, cerita yang sebenarnya. Kenapa kamu datang ke sini? Benar-benar hanya minta maaf? Atau ada yang lain?"
Herman menggigit bibir bawahnya. Dia ragu. Haruskah dia jujur? Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa dia tidak hanya datang untuk meminta maaf. Bahwa dia datang karena dia tidak bisa berhenti memikirkan Amanda. Bahwa dia datang karena dia ingin melihatnya lagi. Bahwa dia datang karena mungkin, hanya mungkin, dia mulai menyukai perempuan yang paling galak di Kuala Kapuas.
"Jujur, Bu," kata Herman akhirnya. "Saya datang karena saya tidak bisa melupakan Amanda."
Ibu Amanda mengangkat alis. "Tidak bisa melupakan? Baru bertemu sekali?"
"Iya, Bu. Hanya sekali. Tapi sejak saat itu, saya tidak bisa berhenti memikirkan dia. Saya tahu ini terdengar gila. Saya tahu ini tidak masuk akal. Tapi ini yang saya rasakan."
"Kamu yakin itu bukan rasa bersalah? Atau rasa penasaran? Atau sekadar tantangan karena Amanda tidak mudah didekati?"
"Tidak, Bu. Saya yakin ini lebih dari itu."
Ibu Amanda terdiam. Dia memandang Herman dengan mata yang sulit diartikan. Bukan marah. Bukan kesal. Tapi semacam kehati-hatian. Seperti seseorang yang sedang menilai apakah lawan bicaranya layak dipercaya atau tidak.
"Kamu tahu, Herman," kata Ibu Amanda setelah beberapa saat. "Amanda itu anak yang keras kepala. Dia tidak mudah jatuh cinta. Dia juga tidak mudah dibodohi. Jika kamu datang dengan niat yang tidak baik, lebih baik kamu pulang sekarang."
"Saya datang dengan niat baik, Bu. Saya tidak akan berani main-main dengan perasaan anak orang."
"Bagaimana saya bisa percaya?"
Herman mengeluarkan dompet dari saku celana. Dompet kulit hitam yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Dia membukanya, mengambil selembar foto, lalu menyerahkannya kepada Ibu Amanda. "Ini foto saya dengan ibu saya. Ibu saya sudah meninggal tiga tahun lalu. Saya janji pada ibu saya sebelum meninggal bahwa saya akan menjadi laki-laki yang jujur dan bertanggung jawab. Saya tidak akan mengingkari janji itu hanya untuk main-main dengan perasaan seseorang."
Ibu Amanda mengambil foto itu. Sebuah foto dengan latar belakang rumah sakit. Herman yang masih muda, rambutnya lebih panjang, wajahnya lebih kurus, berdiri di samping seorang perempuan paruh baya yang terbaring di tempat tidur. Perempuan itu tersenyum lemah, tangannya memegang tangan Herman erat-erat.
Ibu Amanda menghela napas. Dia mengembalikan foto itu kepada Herman. "Kamu anak yang baik, Herman. Saya bisa lihat itu dari matamu."
"Terima kasih, Bu."
"Tapi saya tidak bisa memutuskan apa pun untuk Amanda. Dia sudah besar. Dia punya pikirannya sendiri. Yang bisa saya lakukan hanya mengizinkan kamu untuk berbicara dengannya. Itu pun kalau dia mau."
"Itu sudah cukup, Bu. Terima kasih."
Ibu Amanda berdiri. Dia berjalan ke tangga di sudut ruangan, lalu memanggil ke atas. "AMANDA! TURUN! ADA TAMU!"
Tidak ada jawaban.
"AMANDA!" panggil Ibu Amanda lagi, lebih keras.
"APAAN, MAH? AKU SEDANG TIDURAN!" suara Amanda dari atas.
"TURUN! ADA TAMU!"
"TAMU SIAPA?"
"COWOK YANG TEMPELIN PERMEN KARET DI BAJU KAMU!"
Diam.
Kemudian suara langkah kaki yang terburu-buru. Pintu kamar terbuka. Amanda muncul di ujung tangga, wajahnya masih kusut karena habis tidur siang. Rambutnya acak-acakan. Dia memakai piyama warna pink dengan motif kelinci. Matanya masih sayu, tetapi begitu melihat Herman yang duduk di sofa ruang tamu, matanya langsung membelalak seperti sedang melihat hantu.
"LO?! LO NGAPAIN DI SINI?!" teriak Amanda.
Herman berdiri. Tangannya gemetar lagi. "Aku datang untuk..."
"JANGAN MASUK RUMAH GUE! KELUAR! SEKARANG!"
"Amanda, dengarkan dulu..."
"GAK MAU DENGAR! MAH, KENAPA LO BIARIN DIA MASUK?!"
Ibu Amanda hanya mengangkat bahu dengan santai. "Dia tamu. Harus dihormati."
"TAMU APAAN, MAH? INI MUSUH!"
"Musuh atau bukan, dia tetap manusia. Turunlah, jangan teriak-teriak dari atas. Nanti didengar tetangga."
Amanda menggerutu. Dia turun dari tangga dengan langkah berat, setiap anak tangga dia injak seperti sedang menginjak wajah Herman. Begitu sampai di ruang tamu, dia berdiri di depan Herman dengan tangan bersilang di dada. Matanya menyala-nyala. Wajahnya merah padam.
"Kamu mau apa?" tanya Amanda dengan suara dingin.
Herman menarik napas panjang. "Aku mau minta maaf."
"Kamu sudah minta maaf kemarin. Aku belum memaafkan."
"Kalau begitu, aku minta maaf lagi."
"Tidak cukup."
"Aku minta maaf seribu kali kalau perlu."
"Seribu kali pun tidak akan cukup."
Herman terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Setiap kata yang dia ucapkan sepertinya hanya membuat Amanda semakin marah. Mungkin memang tidak ada kata-kata yang cukup. Mungkin yang dia butuhkan adalah tindakan.
Karena itu, Herman berlutut.
Bukan setengah berlutut. Bukan berlutut dengan satu kaki. Tapi berlutut sempurna dengan kedua kaki di lantai keramik ruang tamu rumah Amanda. Kepalanya menunduk. Tangannya di samping badan.
"Apa-apaan lo?" tanya Amanda kaget.
"Ini bentuk permintaan maafku yang paling tulus," kata Herman tanpa mengangkat kepala. "Aku sadar aku salah. Aku sadar aku sudah merusak baju kamu. Aku sadar aku sudah mempermalukan kamu di depan umum. Tapi aku datang ke sini bukan hanya untuk minta maaf. Aku datang ke sini karena aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu sejak pertama kali kita bertemu."
Amanda tercengang. Mulutnya terbuka lebar. "Lo... lo gila."
"Mungkin. Tapi setidaknya aku gila yang jujur."
Ibu Amanda yang dari tadi hanya diam memperhatikan, kini ikut berlutut di samping Herman. "Aku juga minta maaf, Ndah. Ibu yang bukakan pintu untuk dia."
"MAH! LO JUGA GILA?"
"Mungkin. Tapi setidaknya Ibu gila yang tahu mana laki-laki yang tulus dan mana yang tidak."
Amanda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia berjalan mondar-mandir di ruang tamu seperti singa yang baru dikurung. Matanya melirik ke arah Herman yang masih berlutut. Lalu ke ibunya yang ikut-ikutan berlutut. Lalu ke pembantu yang bersandar di dinding dapur sambil tersenyum geli. Lalu ke jendela, di mana di balik pagar, lima orang teman Herman sedang mengintip dengan mata melotot.
"GILA! SEMUANYA GILA!" teriak Amanda.
Dia masuk ke kamar mandi di dekat dapur, membanting pintu, lalu mengunci dirinya di dalam.
Herman masih berlutut. Ibu Amanda sudah bangkit dan duduk kembali di sofa.
"Jangan khawatir," kata Ibu Amanda dengan tenang. "Dia hanya butuh waktu. Biarkan dia di kamar mandi sebentar. Nanti dia keluar dengan kepala lebih dingin."
"Maaf, Bu. Saya sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, Herman. Ini justru lucu. Sudah lama tidak ada drama begini di rumah ini."
Amanda duduk di kloset kamar mandi. Air matanya tidak keluar, tetapi dadanya terasa sesak. Bukan karena marah. Bukan karena sedih. Tapi karena bingung. Bingung yang keterlaluan. Kenapa ada cowok yang rela berlutut di lantai rumah orang hanya untuk meminta maaf soal permen karet? Kenapa cowok itu tidak bisa melupakannya? Kenapa cowok itu terus muncul di mana-mana seolah-olah takdir memang sengaja mempertemukan mereka?
"Aku tidak mengerti," bisik Amanda pada bayangannya di cermin.
Bayangannya tidak menjawab.
Dia membuka keran air, membasuh wajahnya dengan air dingin. Wajahnya yang merah perlahan mulai mereda. Dia mengeringkan wajah dengan handuk kecil yang tergantung di dinding, lalu menghela napas panjang.
Baiklah, pikirnya. Aku akan keluar. Aku akan bicara dengan dia. Aku akan bilang bahwa aku belum memaafkan dia. Tapi aku akan mendengarkan apa yang dia katakan. Itu saja. Tidak lebih.
Dia membuka pintu kamar mandi.
Herman masih berlutut di tempat yang sama.
"Bangun, Herman," kata Amanda.
Herman mengangkat kepala. "Kamu memaafkanku?"
"Belum. Tapi aku akan mendengarkan."
Herman berdiri. Lututnya terasa sakit karena terlalu lama berlutut di lantai keramik yang keras. Tapi dia tidak peduli. Yang penting Amanda mau mendengarkan. Itu sudah lebih dari cukup.
"Terima kasih," kata Herman.
"Jangan makasih dulu. Aku belum bilang iya."
Mereka berdua duduk di sofa. Ibu Amanda dengan bijak meninggalkan ruang tamu, masuk ke dapur untuk menyiapkan camilan. Pembantu juga ikut menghilang. Kini hanya Herman dan Amanda yang tersisa di ruang tamu, berhadapan, dengan jarak satu meter yang terasa seperti satu mil.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Amanda.
Herman mengatur napas. "Aku minta maaf. Bukan hanya karena permen karet itu, tapi karena sikapku yang kekanak-kanakan. Aku membiarkan teman-temanku mempengaruhiku tanpa memikirkan perasaanmu. Itu salah. Itu sangat salah."
"Ya. Itu salah."
"Aku tahu. Dan aku akan bertanggung jawab. Baju kamu akan aku ganti. Minggu depan, kalau gajiku cair."
"Baju itu sudah tidak dijual lagi. Limited edition."
"Kalau begitu, aku akan mencari di toko lain. Atau memesan secara online. Atau apapun yang kamu mau."
Amanda terdiam. Dia memandang Herman dengan mata yang tidak lagi marah, tetapi masih penuh dengan kehati-hatian. "Kamu benar-benar aneh, Herman. Cowok lain kalau sudah dimarahi pasti kabur. Tapi kamu malah datang ke rumahku, berlutut di lantai, dan minta maaf berkali-kali. Apa kamu tidak punya harga diri?"
"Punya. Tapi harga diriku tidak lebih penting dari perasaanmu."
Amanda mengerjap. Kata-kata Herman menusuk sesuatu di dalam dadanya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Sesuatu yang hangat, sedikit sakit, tetapi juga membuatnya ingin tersenyum.
"Kamu berbahaya, Herman," kata Amanda pelan.
"Berbahaya bagaimana?"
"Berbahaya karena kamu bisa membuat orang yang membencimu menjadi... bingung."
"Apakah kamu bingung?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya menunduk, memainkan ujung piyamanya yang berbulu.
Herman tidak memaksa. Dia hanya duduk diam di samping Amanda, menunggu, seperti pemancing yang sabar menanti ikan menggigit umpan. Dia tahu bahwa memaksa tidak akan membawa hasil. Yang dia butuhkan adalah waktu. Waktu untuk Amanda memproses semuanya. Waktu untuk kemarahan itu berubah menjadi sesuatu yang lain.
"Baiklah," kata Amanda akhirnya. "Aku belum memaafkanmu. Tapi aku akan mempertimbangkannya. Dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Jangan datang ke rumahku lagi tanpa izin. Kalau mau ketemu, ketemulah di Car Free Day . Itu tempat netral."
"Setuju."
"Dan jangan bawa teman-temanmu yang norak itu. Mereka cuma bikin situasi tambah kacau."
"Setuju lagi."
Amanda berdiri. Dia berjalan ke pintu, membukanya lebar-lebar, lalu menunjuk ke arah luar. "Sekarang pulang. Aku mau ganti baju."
Herman berdiri. Dia berjalan ke pintu, tetapi sebelum keluar, dia berbalik dan berkata, "Amanda."
"Apa?"
"Terima kasih sudah mau mendengarkan."
Amanda tidak menjawab. Dia hanya menutup pintu setelah Herman keluar, tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan. Cukup untuk membuat Herman tahu bahwa pintu itu belum sepenuhnya tertutup untuknya.
Di luar pagar, teman-teman Herman sudah tidak sabar menunggu. Mereka melihat Herman keluar dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Ada yang lega, ada yang tegang. Ahmat yang paling cepat bertanya.
"Gimana?"
"Belum memaafkan," jawab Herman.
"Terus lo ngapain aja di dalam?"
"Berlutut, minta maaf, duduk diam, lalu disuruh pulang."
"Berlutut?" Yanto membelalak. "Lo berlutut di depan dia?"
"Iya."
"GILA! Lo benar-benar gila!"
"Mungkin," kata Herman sambil berjalan ke motor Yuni. "Tapi setidaknya sekarang dia tahu aku serius."
Mereka berboncengan kembali ke pusat kota. Di perjalanan, Herman tidak bicara. Pikirannya penuh dengan Amanda. Wajahnya yang bingung. Matanya yang mulai melunak. Suaranya yang tidak lagi seterang sebelumnya.
Ini awal yang baik, pikir Herman. Setidaknya dia mau mendengarkan. Setidaknya dia tidak mengusirku dengan sapu. Itu sudah kemajuan.
Dia tersenyum kecil di balik helm pinjaman yang terlalu longgar untuk kepalanya.
Malam harinya, setelah ayahnya pulang dari toko, Amanda duduk di ruang keluarga bersama orang tuanya. Tv menyala, tetapi tidak ada yang benar-benar menonton. Ibu Amanda sedang merajut. Ayah Amanda membaca koran. Amanda duduk di tengah, memeluk bantal sofa, dengan wajah yang masih sedikit cemberut.
"Ada kabar, Ayah dengar," kata ayah Amanda sambil melipat korannya. "Ada cowok yang datang ke rumah. Berlutut di lantai minta maaf soal permen karet."
Amanda mengerang pelan. "Mah, ngapain cerita sih?"
"Ibu hanya memberi tahu ayahmu. Tidak ada yang salah dengan itu."
"Jadi, bagaimana kesannya?" tanya ayah Amanda.
"Kesan apa, Yah?"
"Kesan tentang cowok itu. Herman, namanya?"
Amanda menghela napas. "Dia aneh, Yah. Aneh sekali. Cowok normal mana yang berlutut di lantai rumah orang cuma buat minta maaf soal permen karet?"
"Justru itu yang membuatnya tidak biasa," kata ayah Amanda. "Cowok normal biasanya hanya minta maaf lewat pesan singkat. Atau tidak minta maaf sama sekali. Tapi dia datang ke rumah, berlutut di lantai, dan minta maaf secara langsung. Itu menunjukkan dia bertanggung jawab."
"Atau dia gila."
"Bisa jadi dua-duanya."
Amanda mendengus. Dia tidak suka kalau ayahnya mulai berpihak pada Herman. Tapi di dalam hati, dia tahu ayahnya benar. Herman memang berbeda. Dan perbedaan itu, entah mengapa, mulai terasa menarik.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya ibu Amanda.
"Aku belum tahu, Mah. Aku masih marah. Tapi... marahku mulai berkurang."
"Itu pertanda baik."
"Atau pertanda aku mulai kehilangan akal sehat."
Ibu Amanda tersenyum. Dia tahu anak perempuannya tidak sedang kehilangan akal sehat. Dia sedang kehilangan kendali atas perasaannya sendiri. Dan itu adalah hal yang paling berbahaya sekaligus paling indah yang bisa dialami oleh seorang gadis seusia Amanda.
Di kontrakannya, Herman berbaring di kasur dengan ponsel di tangan. Dia membuka Instagram, membuka profil @amanda_cans, lalu mengirimkan pesan.
@herman_kontraktor: Terima kasih untuk hari ini. Aku tahu aku masih salah di matamu. Tapi aku akan berusaha menjadi lebih baik. Selamat malam, Amanda.
Dia menekan kirim. Lalu menunggu.
Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Pesan itu sudah dibaca. Tapi tidak ada balasan.
Herman tersenyum. Tidak ada balasan pun tidak apa-apa. Yang penting Amanda membacanya. Yang penting Amanda tahu bahwa dia ada, bahwa dia menunggu, bahwa dia tidak akan pergi.
Dia mematikan ponsel, memejamkan mata, dan tidur dengan senyum di wajahnya.
Di rumahnya, Amanda membaca pesan Herman berulang-ulang. Jarinya bergetar di atas layar. Dia ingin membalas. Tapi dia tidak tahu harus menulis apa.
Terima kasih kembali? Terlalu ramah.
Sama-sama? Terlalu formal.
Iya, sama-sama, semoga kamu jadi orang baik? Terlalu panjang.
Akhirnya dia tidak membalas apapun. Dia hanya membaca pesan itu sekali lagi, lalu mematikan ponsel.
Tapi sebelum tidur, dia berbisik pada bantalnya, "Herman, kamu benar-benar hantu. Hantu permen karet. Muncul di mana-mana tanpa diundang."
Dia tertawa kecil. Lalu memejamkan mata.
Dan untuk ketiga kalinya, dia tertidur dengan bayangan Herman.
Kali ini, bayangan itu tidak lagi membuatnya marah.
Hanya membuatnya penasaran.
Penuh rasa ingin tahu yang tidak bisa dia padamkan sampai dia bertemu lagi dengan cowok idiot itu.
BAB 4
TAMAN KOTA SIMPANG ADIPURA, TEMPAT SENSUS BENCI
Tiga hari setelah kunjungan kontroversial Herman ke rumah Amanda, suasana di antara mereka berdua masih menggantung seperti awan mendung yang tidak kunjung hujan. Tidak ada komunikasi. Tidak ada pesan. Tidak ada tegur sapa. Hanya keheningan yang canggung, seperti dua orang yang pernah bertengkar hebat tetapi dipaksa duduk bersama dalam ruangan yang sama. Herman memilih untuk tidak memaksa. Dia ingat janjinya kepada Amanda: tidak akan datang ke rumah lagi tanpa izin. Dia juga ingat syarat Amanda: jika ingin bertemu, bertemulah di Car Free Day . Masalahnya, Car Free Day hanya digelar sekali seminggu. Dan hari ini baru Selasa.
Selasa sore. Langit Kuala Kapuas berwarna jingga kemerahan, seperti kulit jeruk Bali yang sudah matang. Herman baru saja pulang dari proyek perumahan di pinggir kota. Badannya pegal. Bajunya penuh debu. Tangannya kotor oleh sisa-sisa semen yang mengering di sela-sela jari. Biasanya dia langsung pulas ke kontrakan, mandi, lalu tidur. Tapi hari ini dia memilih untuk mampir ke Taman Kota Simpang Adipura. Bukan karena dia ingin bersenang-senang. Bukan karena dia ingin bertemu orang. Tapi karena dia butuh tempat untuk duduk diam dan merenung. Dan Taman Kota Simpang Adipura, dengan bangku-bangku kayunya yang teduh di bawah pohon trembesi, adalah tempat yang sempurna untuk itu.
Taman Kota Simpang Adipura terletak di pusat Kuala Kapuas, tepat di pertemuan empat jalan besar dan satu jalan keci yang selalu macet di jam sibuk. Tidak terlalu luas, hanya sekitar seperdelapan hektar, tetapi ditata dengan cukup apik. Ada jalur pedestrian yang dilapisi paving block merah, ada air mancur kecil yang hanya menyemburkan air di akhir pekan, ada beberapa patung burung enggang yang menjadi ikon kota, dan ada banyak bangku taman yang tersebar di sudut-sudut rindang. Taman ini bukan hanya milik anak-anak muda. Ibu-ibu juga sering duduk di sini sambil menjaga anak-anak mereka yang bermain di ayunan. Bapak-bapak juga sering datang untuk sekadar membaca koran atau tidur siang di bawah pohon. Taman ini milik semua orang. Termasuk milik Herman yang sedang duduk sendirian dengan wajah merenung seperti pematung yang kehabisan ide.
"Kamu kenapa duduk sendirian di sini, Man?" Suara Ahmat datang dari belakang. Herman tidak terkejut. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Ahmat yang sering muncul tanpa diundang, seperti iklan di YouTube yang tidak bisa di-skip.
"Lagunya lagi butuh ketenangan," jawab Herman tanpa menoleh.
"Taman ini bukan tempat yang tepat untuk ketenangan. Lihat saja, ada anak-anak berlarian, ada ibu-ibu bergosip, ada bapak-bapak yang tidur sambil ngorok."
"Tidak mengapa. Aku butuh suasana ramai untuk merenung."
"Kamu merenung soal apa?"
"Amanda."
Ahmat mendesah. Dia duduk di bangku yang sama, di samping Herman, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya. "Kapan kamu tidak merenung soal Amanda? Dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang ada di kepalamu cuma Amanda. Aku khawatir otakmu lama-lama hanya berisi satu nama."
"Tidak apa-apa. Otakku dari dulu memang hanya berisi satu-dua hal. Kalau pun ganti konten, tidak akan jauh berbeda."
"Paling tidak ganti ke topik pekerjaan. Atau topik makanan. Atau topik jodoh."
"Amanda itu topik jodohku."
Ahmat menyalakan rokoknya, menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke udara sore yang mulai mendingin. "Kamu yakin, Man? Yakin bahwa Amanda adalah jodohmu? Kamu baru bertemu sekali. Belum kenal dekat. Belum tahu kebiasaannya. Belum tahu sifat aslinya. Yang kamu tahu cuma dia cantik, galak, dan pelit maaf."
"Dia tidak pelit maaf. Dia hanya berhak marah."
"Kamu terlalu membela dia."
"Aku tidak membela dia. Aku hanya berusaha memahami."
Ahmat menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah terlalu sering melihat Herman jatuh cinta. Bukan jatuh cinta yang sesungguhnya, tetapi jatuh cinta yang didasari oleh rasa penasaran yang berlebihan. Biasanya, rasa penasaran itu akan hilang setelah satu atau dua minggu, digantikan oleh rasa bosan atau kekecewaan. Tapi kali ini berbeda. Herman tidak menunjukkan tanda-tanda bosan. Sebaliknya, dia semakin dalam terjebak dalam pusaran perasaannya sendiri.
"Baiklah," kata Ahmat. "Aku tidak akan menghakimi. Tapi ingat, Man. Jangan terlalu berharap. Jangan sampai kamu terjatuh terlalu dalam, lalu tidak bisa bangkit lagi jika semuanya tidak berjalan sesuai harapan."
"Aku sudah terjatuh, Mat. Sejak permen karet itu. Sekarang aku hanya bisa berusaha bangkit sambil tetap terjatuh."
"Filosofi yang aneh."
"Hidup memang aneh."
Mereka berdua terdiam. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dari suatu tempat di kejauhan. Burung-burung pipit mulai pulang ke sarangnya. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat.
Di tempat yang sama, tetapi di waktu yang berbeda, Amanda juga sedang dalam perjalanan menuju Taman Kota Simpang Adipura. Dia tidak sendirian. Dahlia menemani, sambil sesekali memotret langit senja dengan ponselnya yang kameraanya bagus. Mereka baru saja selesai membeli jajanan di Pasar Sari Mulya. Dahlia membawa gemblong, kue tradisional dari ketan yang dibalut gula merah. Amanda membawa cendol, minuman dingin yang segar di tenggorokan.
"Kok kamu mau banget ke taman? Biasanya kamu langsung pulang," tanya Dahlia sambil berjalan.
"Lagunya butuh udara segar," jawab Amanda.
"Kamu sakit?"
"Enggak. Cuma pusing."
"Pusing karena apa? Kerjaan rumah? Sekolah? Cowok?"
Amanda tidak menjawab. Dahlia tersenyum curiga. Dia tahu temannya itu sedang tidak jujur. Biasanya Amanda akan langsung berteriak jika ditanya soal cowok. Tapi kali ini dia diam. Diam adalah cara Amanda untuk mengakui sesuatu tanpa harus mengatakannya dengan suara keras.
"Jadi, masih soal Herman?" tanya Dahlia.
"Bukan soal Herman. Soal... perasaan campur aduk yang dia sebabkan."
"Itu sama saja dengan soal Herman."
"Tidak. Soal Herman adalah soal orangnya. Soal perasaan campur aduk adalah soal diriku sendiri."
Dahlia mengangkat alis. "Wah, hebat. Kamu sekarang bisa membedakan hal-hal rumit seperti itu. Tanda-tanda sudah dewasa."
"Atau tanda-tanda sudah gila."
"Keduanya sama saja."
Mereka tertawa kecil. Kemudian berjalan melewati gerbang taman, melewati patung burung enggang yang sudah mulai kusam, lalu menuju ke bangku kayu di bawah pohon trembesi. Bangku yang sama di mana Herman duduk beberapa jam sebelumnya. Tapi Herman sudah pergi. Berganti dengan pasangan lain yang sedang berduaan.
"Bangku itu sudah ada yang punya," kata Dahlia sambil menunjuk.
Amanda melihat ke arah bangku. Yang duduk di sana bukan Herman, tetapi seorang cowok yang tidak asing di matanya. Cowok itu memakai jaket jeans biru, rambutnya disisir rapi ke samping, dan dia sedang tersenyum manis kepada seorang perempuan yang duduk di sampingnya.
"Ragil," bisik Amanda.
"Ragil? Cowok yang suka kirim pesan ke Instagram kamu?"
"Iya."
"Dan dia sedang ngedate di taman? Dengan perempuan lain?"
"Iya."
Dahlia bersiul kecil. "Wah, parah. Dia bilang suka sama kamu, tapi dia malah kencan sama cewek lain."
"Tidak apa-apa. Aku tidak tertarik dengan Ragil."
"Tapi dia bilang dia tertarik dengan kamu."
"Itu haknya. Aku tidak punya hak untuk melarang dia tertarik dengan orang lain."
Dahlia mengangguk. Dia mengagumi kematangan Amanda. Tidak semua cewek seusia Amanda bisa se-rasional itu. Kebanyakan akan cemburu, marah, atau setidaknya kesal. Tapi Amanda tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia hanya memandang Ragil sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Mari kita cari bangku lain," kata Amanda.
Mereka berjalan ke sisi timur taman, di mana air mancur kecil itu berada. Sayangnya air mancur sedang tidak menyala karena bukan akhir pekan. Yang ada hanya kolam kering dengan keramik biru yang mulai retak di beberapa bagian. Amanda duduk di pinggiran kolam, merentangkan kakinya, lalu menyeruput cendol pelan-pelan.
"Enak juga duduk di sini," kata Amanda.
"Agak panas. Tidak ada pohon rindang," timpal Dahlia.
"Tidak apa-apa. Aku suka panas. Panas membuatku sadar."
"Sadar akan apa?"
"Sadar bahwa aku terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Di dalam pikiran sendiri. Di dalam kemarahan yang sebenarnya tidak perlu."
Dahlia tidak menyela. Dia tahu Amanda sedang dalam proses merangkai kata-kata yang sudah lama dia pendam.
"Kemarin, setelah Herman datang ke rumah, aku tidak bisa tidur. Bukan karena dia, tetapi karena kata-kata yang dia ucapkan. Dia bilang dia tidak bisa melupakanku. Dia bilang dia jujur. Dia bilang dia tidak akan main-main dengan perasaanku. Awalnya aku pikir itu cuma gombalan. Tapi ketika dia berlutut, ketika dia menunjukkan foto ibunya, ketika dia bicara dengan matanya yang jujur itu, aku mulai percaya."
"Kamu percaya apa?" tanya Dahlia.
"Percaya bahwa dia tidak berbohong. Percaya bahwa dia benar-benar tulus. Dan itu yang membuatku takut."
"Takut kenapa?"
"Karena jika dia tulus, maka aku harus mempertimbangkannya. Dan jika aku mempertimbangkannya, maka aku harus siap untuk membuka hati. Dan jika aku membuka hati, maka aku harus siap untuk terluka. Dan aku tidak ingin terluka, Dahlia."
Dahlia meletakkan gemblongnya di pangkuan. Dia menatap Amanda dengan mata yang penuh kasih. "Kamu tahu, Am. Tidak ada cinta yang bebas risiko. Setiap kali kamu membuka hati, kamu selalu berisiko terluka. Tapi apakah karena takut terluka, kamu akan menutup hati selamanya? Apakah itu yang kamu inginkan?"
"Tidak. Tapi aku belum siap."
"Kapan kamu akan siap?"
"Aku tidak tahu."
Dahlia menghela napas. Dia mengambil gemblongnya kembali, menggigitnya kecil-kecil, lalu mengunyah dengan lambat. Di depannya, Amanda sedang menatap kosong ke arah kolam kering. Wajahnya tidak marah, tidak sedih, hanya kosong. Seperti kanvas yang belum dilukis.
"Coba kamu santai saja, Am. Nikmati prosesnya. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu memutuskan semuanya sekarang. Biarkan waktu yang menjawab."
"Iya," jawab Amanda pelan. "Mungkin itu yang terbaik."
Mereka berdua duduk di pinggiran kolam sampai senja berganti malam. Lampu-lampu taman mulai terang. Kunang-kunang mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Amanda menghabiskan cendolnya, lalu berdiri.
"Ayo pulang. Besok sekolah."
"Iya. Ayo."
Mereka berjalan ke arah gerbang taman. Di tengah perjalanan, Amanda tidak sengaja melihat seseorang yang duduk di bangku dekat pintu masuk. Orang itu memakai kaos lusuh, celana jeans belel, dan topi baseball yang sudah pudar warnanya. Wajahnya tidak terlalu jelas karena tertutup bayangan pohon. Tapi postur tubuhnya... postur tubuh itu akrab di mata Amanda.
"Herman?" bisik Amanda.
Dahlia menoleh. "Herman? Mana?"
"Di bangku dekat pintu masuk. Itu dia, kan?"
Dahlia menyipitkan matanya. Lalu mengangguk. "Iya. Itu Herman. Dia sedang duduk sendirian. Tidak ada teman-temannya."
"Kenapa dia di sini?"
"Mungkin dia juga butuh udara segar."
Amanda diam. Pikirannya berputar cepat. Apakah Herman sengaja mengikutinya? Atau hanya kebetulan? Atau jangan-jangan dia sudah tahu bahwa Amanda akan ke taman hari ini, lalu dia datang untuk "kebetulan" bertemu? Itu terlalu lebay. Bahkan untuk ukuran cowok gila sekelas Herman.
"Aku ingin pulang," kata Amanda cepat.
"Kamu tidak ingin menyapa dia?"
"Tidak. Aku belum siap."
"Tapi dia sudah melihatmu."
Benar. Herman sudah mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Amanda. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling pandang dari jarak sekitar lima belas meter. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Hanya tatapan yang penuh dengan seribu pertanyaan yang tidak terjawab.
Herman berdiri. Dia berjalan perlahan ke arah Amanda. Langkahnya tidak tergesa-gesa. Tidak seperti seseorang yang sedang mengejar. Lebih seperti seseorang yang berjalan di taman pada sore hari untuk menikmati angin. Tapi Amanda tahu, Herman sedang mendekatinya. Dan dia tidak tahu harus lari atau diam.
"Amanda," sapa Herman begitu jarak mereka tinggal tiga meter.
"Herman," balas Amanda dingin.
"Kamu sama Dahlia?"
"Iya. Baru beli cendol."
"Enak?"
"Enak."
Diam. Herman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Amanda memainkan sedotan cendol di tangannya. Dahlia yang menjadi saksi bisu hanya bisa tersenyum geli.
"Maaf, aku tidak sengaja melihatmu," kata Herman. "Aku dari tadi di sini. Nongkrong sendirian. Tiba-tiba kamu lewat."
"Jadi, kamu tidak sengaja?"
"Tidak. Aku bahkan tidak tahu kamu akan ke sini."
"Bagaimana aku bisa percaya?"
"Karena aku tidak pernah berbohong."
Amanda menghela napas. Dia ingin marah. Tapi dia tidak bisa menemukan alasan untuk marah. Herman tidak melakukan kesalahan apapun. Dia hanya duduk di taman umum. Itu haknya. Tidak ada aturan yang melarang Herman duduk di Taman Kota Simpang Adipura. Tidak ada aturan yang melarang dia bernapas di udara yang sama dengan Amanda. Semua hanya kebetulan. Atau takdir. Terserah bagaimana Amanda mau menyikapinya.
"Baiklah," kata Amanda. "Aku percaya kamu tidak sengaja. Tapi jangan harap aku akan duduk bersamamu."
"Aku tidak minta itu. Aku hanya ingin menyapa."
"Sudah. Sekarang permisi."
Amanda berjalan melewati Herman, diikuti oleh Dahlia yang melambai kecil pada Herman. Herman hanya tersenyum dan membalas lambaian itu. Dia tidak merasa kecewa. Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Amanda. Yang penting mereka bertemu. Yang penting mereka bicara. Itu sudah cukup untuk hari ini.
Setelah Amanda dan Dahlia pergi, Herman kembali duduk di bangkunya. Dia mengeluarkan ponsel, membuka grup WhatsApp "Geng Car Free Day ", lalu mengetik pesan.
Herman: Tadi aku ketemu Amanda di Taman Kota Simpang Adipura.
Yanto: Apa? SENGAAJA?
Herman: Enggak sengaja. Aku dari tadi di sana. Dia lewat.
Ahmat: Lalu?
Herman: Dia nyapa aku. Aku nyapa dia. Lalu dia pergi.
Mahdili: Singkat. Tidak ada drama?
Herman: Enggak. Cuma saling pandang, saling sapa, lalu pisah.
Herawati: Itu namanya pertemuan singkat yang penuh makna.
Yuni: Atau pertemuan singkat yang tidak bermakna sama sekali.
Herman: Terserah. Yang penting aku bahagia.
Yanto: Bahagia cuma karena nyapa? Dasar mabuk cinta.
Herman: Iya. Aku mabuk cinta. Obatnya hanya satu. Amanda.
Ahmat: Awas, jangan kecanduan.
Herman: Sudah.
Dia mematikan ponsel, menyimpannya di saku, lalu memandangi langit malam yang mulai dipenuhi bintang. Kuala Kapuas tidak terlalu terang di malam hari, jadi bintang-bintang terlihat cukup jelas. Ada jutaan titik cahaya di sana, masing-masing berkedip seperti mata kecil yang penasaran dengan kehidupan manusia di bawah.
"Amanda," bisik Herman. "Suatu hari nanti, kamu akan duduk di sampingku di taman ini. Bukan karena kebetulan. Tapi karena kamu memilih untuk ada di sini."
Dia tersenyum pada bintang-bintang itu. Lalu berdiri, merapikan celananya, dan berjalan pulang.
Sementara itu, di dalam mobil yang diantar oleh Dahlia (Dahlia membawa mobil kecil warna putih milik orang tuanya), Amanda duduk diam di kursi penumpang dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Dahlia menyetir pelan-pelan, sesekali melirik ke samping untuk melihat ekspresi temannya.
"Kamu kenapa diem aja?" tanya Dahlia.
"Lagunya mikir."
"Mikir soal apa?"
"Tentang tadi. Tentang Herman."
"Memangnya ada yang istimewa?"
"Aku tidak tahu. Yang jelas, ketika aku melihat dia duduk sendirian di bangku itu, aku merasa... aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Seperti ada yang menarik dadaku ke arah dia. Bukan dengan paksa, tapi dengan lembut. Seperti magnet. Atau seperti gravitasi. Aku tidak bisa menjelaskannya."
Dahlia tersenyum. Dia sudah mendengar deskripsi seperti itu berkali-kali dari teman-temannya yang sedang jatuh cinta. Gravitasi. Magnet. Tarikan tak terlihat. Semua itu adalah kiasan untuk satu hal: ketertarikan.
"Am, apa kamu yakin kamu tidak suka sama Herman?" tanya Dahlia.
"Tidak."
"Bohong."
"Mungkin. Aku sendiri bingung."
"Nikmati saja kebingungan itu. Tidak semua orang berkesempatan untuk bingung karena cinta."
"Mencintai atau dicintai?"
"Keduanya."
Amanda tidak menjawab. Dia hanya menatap jalan di depan yang mulai gelap. Lampu-lampu jalan menyala redup, memberikan cahaya secukupnya untuk mobil-mobil yang melintas. Ada beberapa warung yang masih buka, menjual nasi goreng dan mie instan. Ada sekelompok anak muda yang nongkrong di pinggir jalan, tertawa-tawa tanpa sebab yang jelas.
"Berhenti di sini," kata Amanda tiba-tiba.
Dahlia menginjak rem. "Ada apa?"
"Aku mau beli sesuatu."
"Mau beli apa?"
"Permen karet."
Dahlia menoleh cepat. "Permen karet? Kamu mau beli permen karet? Setelah semua yang terjadi?"
"Iya. Aku mau beli permen karet rasa stroberi."
"Untuk apa?"
"Untuk aku kunyah. Supaya aku tahu apa yang membuat Herman begitu berani menempelkan permen karet di bajuku."
Dahlia terdiam. Dia tidak bisa menahan senyumnya. Amanda memang aneh. Tapi kegilaan Amanda-lah yang membuat hidup terasa lebih berwarna.
"Baiklah," kata Dahlia. "Aku tunggu di sini."
Amanda turun dari mobil. Dia berjalan ke warung kecil di pinggir jalan, yang menjual berbagai macam camilan dan minuman. Di etalase kaca di depan warung, terlihat jelas stoples permen karet rasa stroberi. Persis seperti yang Herman tempelkan di bajunya.
"Bang, beli permen karetnya satu," kata Amanda.
"Yang rasa stroberi, Mbak?"
"Iya."
"Berapa biji?"
"Sepuluh."
Penjaga warung mengambil sepuluh permen karet stroberi dari stoples, memasukkannya ke dalam kantong plastik kecil, lalu menyerahkannya kepada Amanda.
"Berapa, Bang?"
"Lima ribu."
Amanda membayar, lalu kembali ke mobil. Dia membuka kantong plastik itu, mengambil satu permen karet, membuka bungkusnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Dahlia melongo. "Kamu kunyah sekarang?"
"Iya. Aku mau tahu rasa stroberi yang ada di baju aku dulu."
"GILA!"
"Biar. Aku butuh kepastian."
Amanda mengunyah permen karet itu. Rasa stroberi manis menyebar di lidahnya. Teksturnya kenyal, lengket, sedikit aneh. enak. Tidak juga. Hanya berbeda.
"Rasanya biasa saja," kata Amanda setelah beberapa saat.
"Terus kenapa kamu membeli sepuluh?"
"Karena aku masih penasaran. Mungkin permen karet yang digunakan Herman berbeda. Mungkin ada rasa khusus yang tidak dijual di warung biasa."
"Atau mungkin kamu yang terlalu overthinking."
"Mungkin."
Amanda mengunyah permen karet itu sampai tidak berasa. Lalu meludahkannya ke tisu, membungkusnya rapi-rapi, lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di dalam mobil.
"Aneh," gumam Amanda.
"Apa yang aneh?"
"Aku tidak tahu. Tapi ada sesuatu yang berbeda tentang permen karet itu. Sesuatu yang membuatku tidak bisa melupakan Herman."
Dahlia menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak bisa mengikuti logika Amanda. Tapi dia tidak perlu mengikuti. Dia hanya perlu menjadi teman yang baik, yang akan mendengarkan tanpa menghakimi.
"Ayo pulang," kata Dahlia.
"Iya. Ayo."
Mobil melaju perlahan meninggalkan warung kecil itu. Di dalam mobil, Amanda terus memandang ke luar jendela, sambil sesekali memainkan kantong plastik berisi sembilan permen karet stroberi yang tersisa.
Malam itu, di kamarnya, Herman membuka ponsel dan melihat ada notifikasi pesan Instagram. Dari @amanda_cans.
Jantungnya berdegup kencang. Dia segera membuka pesan itu.
@amanda_cans: Besok Car Free Day . Aku akan jogging seperti biasa. Tidak perlu menempelkan permen karet lagi. Cukup tersenyum dan melambai. Itu saja.
Herman membaca pesan itu berulang-ulamg. Matanya berbinar. Senyumnya tidak bisa dia tahan. Dia ingin berteriak kegirangan, tetapi kontrakannya sempit dan dindingnya tipis, jadi dia hanya berguling-guling di atas kasur seperti anak kecil yang baru diberi hadiah.
@herman_kontraktor: Baik. Aku hanya akan tersenyum dan melambai. Terima kasih, Amanda.
Pesan itu dibaca. Tidak dibalas. Tapi Herman tidak peduli. Yang penting Amanda mengundangnya. Meskipun hanya untuk tersenyum dan melambai. Itu sudah lebih dari cukup.
Dia tidur malam itu dengan hati penuh harapan. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak bermimpi tentang permen karet. Dia bermimpi tentang Amanda yang tersenyum padanya di bawah matahari Car Free Day . Senyum itu lembut, hangat, dan penuh dengan seribu janji yang belum diucapkan.
Di sisi lain, Amanda juga sedang terbaring di kasurnya. Ponsel sudah dia letakkan di meja belajar. Pesan Herman sudah dia baca, tetapi tidak dia balas. Bukan karena dia tidak ingin. Tapi karena dia tidak tahu harus membalas apa. Sama-sama terdengar terlalu formal. Iya, sama-sama terlalu kaku. Terima kasih kembali terlalu berlebihan. Akhirnya dia memilih diam. Diam adalah jawaban yang paling aman. Diam adalah cara untuk tidak memberikan harapan palsu. Diam adalah cara untuk melindungi hatinya yang masih rapuh.
Tapi di dalam diam itu, dia tersenyum. Senyum kecil yang tidak dia sadari, yang muncul begitu saja ketika dia mengingat wajah Herman yang canggung di Taman Kota Simpang Adipura. Wajah yang tidak terlalu ganteng, tetapi memiliki mata yang jujur. Mata yang tidak bisa berbohong. Mata yang berkata, "Aku di sini untukmu, Amanda. Aku tidak akan pergi."
"Kita lihat saja besok, Herman," bisik Amanda pada bantalnya. "Kita lihat apakah kamu bisa menjaga janji. Hanya tersenyum dan melambai. Tidak lebih."
Dia memejamkan mata. Dan untuk keempat kalinya, dia tertidur dengan bayangan Herman. Kali ini, bayangan itu tidak marah. Tidak bingung. Tidak penasaran. Hanya damai. Damai seperti danau di pagi hari yang tidak beriak.
BAB 5
SAHABAT BERSEKRETARIAT, STRATEGI ANEH DIMULAI
Minggu pagi tiba dengan sempurna. Matahari terbit di ufuk timur seperti bola api raksasa yang baru saja dicuci, bersih, cerah, dan menyilaukan. Langit tidak memiliki secuil awan hitam, hanya gumpalan putih tipis yang bergerak lambat seperti kapas yang ditiup angin. Suhu udara berada di angka dua puluh lima derajat celsius, tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin. Sempurna untuk jogging. Sempurna untuk Car Free Day . Sempurna untuk Herman dan Amanda bertemu lagi setelah lima hari terpisah oleh waktu, jarak, dan segudang perasaan yang tidak terucapkan.
Herman sudah bangun sejak pukul empat pagi. Dia tidak bisa tidur lagi setelah bermimpi aneh tentang Amanda yang tersenyum padanya sambil memegang seikat permen karet berwarna-warni. Dalam mimpi itu, Amanda berkata, "Kalau kamu bisa mengumpulkan seribu permen karet, aku akan memaafkanmu." Lalu Herman bangun dengan keringat dingin di dahi dan perasaan yang sulit dijelaskan. Apakah itu pertanda baik? Atau pertanda buruk? Atau hanya mimpi konyol yang tidak ada artinya? Herman memilih untuk mengabaikan mimpi itu dan fokus pada kenyataan: hari ini dia akan bertemu Amanda. Hanya untuk tersenyum dan melambai. Tidak lebih.
Dia mandi lebih lama dari biasanya. Sabun dipakai dua kali. Sampo dipakai tiga kali. Bahkan dia meminjam parfum Ahmat yang wanginya menyengat seperti campuran melati dan bahan kimia. Setelah berpakaian rapi, dia berdiri di depan cermin kontrakan yang retak di sudut kanan, lalu tersenyum ke bayangannya sendiri. "Hari ini kamu hanya akan tersenyum dan melambai. Jangan lakukan hal bodoh. JANGAN."
Dia mengulangi kalimat itu tiga kali, seperti mantra, seperti doa, seperti peringatan kepada dirinya sendiri yang sering kali tidak bisa dipercaya.
Kemudian dia berangkat ke Car Free Day . Tidak sendiri. Seperti biasa, teman-temannya sudah menunggu di depan GOR Panunjung Tarung. Ahmat duduk di trotoar beton sambil minum kopi dari cangkir plastik. Yanto dan Mahdili sedang bermain tebak-tebakan yang tidak jelas. Yuni dan Herawati sibuk memotret bunga bougenville yang tumbuh di pinggir pagar.
"Kita hari ini tidak akan melakukan apapun," kata Herman begitu dia tiba.
Semua temannya menoleh.
"Maksudmu kita hanya duduk diam?" tanya Yanto.
"Iya. Kita hanya duduk diam, melihat orang jogging, menikmati udara pagi, lalu pulang."
"Lalu bagaimana dengan Amanda?"
"Aku akan tersenyum dan melambai padanya. Itu saja."
"GILA!" teriak Mahdili. "Lo bangun subuh-subuh, mandi lama-lama, pakai parfum pinjaman, cuma buat tersenyum dan melambai?"
"Iya."
"Kenapa gak lo ajak ngobrol? Atau traktir makan? Atau jogging bareng?"
"Karena aku sudah berjanji. Hanya tersenyum dan melambai."
“Alamak sekarang sudah jaman edan, orang jatuh cinta cukup dengan tersenyus, trus melambaikan tangan”. Bintang berseloroh geli.
Ahmat yang dari tadi diam, kini ikut angkat bicara. "Herman benar. Lebih baik pelan-pelan daripada terburu-buru dan membuat Amanda semakin marah. Dia sudah memberi kesempatan. Jangan rusak kesempatan itu hanya karena kita terlalu bersemangat."
"Tapi pelan-pelan kayak siput juga gak baik," bantah Yanto.
"Tidak usah terlalu pelan. Cukup lambat, tetapi pasti."
Yuni mengangguk setuju. "Aku setuju dengan Ahmat. Herman sudah mendapatkan satu undangan untuk tersenyum dan melambai. Itu adalah awal yang baik. Jangan rusak dengan tindakan yang tidak diminta."
Herman tersenyum kecil. Dia bangga memiliki teman-teman yang peduli, meskipun kadang peduli mereka diekspresikan dengan cara yang menjengkelkan. "Baiklah. Sekarang kita cari posisi yang strategis. Aku harus bisa melihat Amanda dari kejauhan, tetapi tidak terlalu dekat sehingga dia merasa terganggu."
Mereka berlima berjalan menyusuri area Car Free Day , mencari tempat duduk yang ideal. Setelah berkeliling sebentar, mereka memutuskan untuk duduk di bangku taman Hutan Kota sampan stadion yang lansung menhaadap jalaan Tambun Bungai tepat di seberang RSUD. dr. Soemarno Sosroatmodjo. Dari posisi itu, Herman bisa melihat seluruh jalur jogging yang biasa dilalui Amanda dan gengnya. Jaraknya sekitar sepuluh puluh meter, cukup dekat untuk melihat wajah, cukup jauh untuk tidak dianggap menguntit.
"Di sini bagus," kata Herman.
"Kita duduk di sini sampai jam berapa?" tanya Herawati.
"Sampai Amanda datang dan pergi."
"Berarti bisa sampai jam sembilan."
"Iya."
"Lama amat."
"Kamu bisa pulang kalau mau."
"Tidak mau. Aku penasaran."
Herman hanya tersenyum. Dia duduk di bangku taman, merentangkan kakinya, lalu memandang ke arah timur, ke arah matahari yang mulai meninggi. Perlahan-lahan, Car Free Day mulai ramai. Ibu-ibu senam dengan gerakan yang tidak sinkron. Bapak-bapak jogging sambil memegang botol minuman. Anak-anak berlarian dengan sepeda mini yang rodanya berputar kencang. Semua orang bahagia. Semua orang menjalani hidupnya masing-masing tanpa tahu bahwa di bangku taman Hutan Kota , ada seorang pemuda yang hatinya berdebar-debar menunggu seorang gadis yang paling dibencinya ataau bahkan di rindukannya.
Pukul setengah tujuh pagi, rombongan Amanda muncul dari arah selatan menyusuri jalan tambun bungai, yang menjadi area Car Free Day. Mereka berlari kecil dengan formasi yang sama seperti minggu lalu. Amanda di depan, diikuti oleh Yunita, Dahlia, Anita, dan Sania. Mereka memakai kaos olahraga putih yang baru, celana legging hitam, dan sepatu kets warna senada. Amanda memakai kaos putih polos tanpa motif, berbeda dengan minggu lalu yang terkena permen karet. Mungkin dia sengaja memilih kaos yang lebih murah hari ini, atau mungkin dia hanya ingin tampil sederhana.
Herman berhenti bernapas sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Telapak tangannya berkeringat. Dia ingin berdiri, tetapi Ahmat menarik tangannya.
"Jangan berdiri. Kamu hanya akan tersenyum dan melambai. Dari posisi duduk."
Herman mengangguk. Dia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu memasang senyum terbaiknya. Senyum yang sudah dia latih di depan cermin kontrakan sejak pukul empat pagi. Senyum yang tidak terlalu lebar, tidak terlalu kecil, tidak terlalu genit, tidak terlalu dingin. Senyum yang pas. Senyum yang sempurna.
Rombongan Amanda semakin mendekat. Jarak tinggal dua puluh meter. Lima belas meter. Sepuluh meter.
Amanda melirik ke arah bangku taman Hutan Kota. Matanya bertemu dengan mata Herman.
Herman mengangkat tangan kanannya. Melambai pelan. Dua kali. Tidak berlebihan. Hanya cukup untuk memberi tahu bahwa dia ada, bahwa dia menepati janji, bahwa dia tidak akan melakukan hal bodoh.
Amanda tidak membalas lambaian itu. Dia hanya tersenyum kecil. Senyum yang sangat kecil, hampir tidak terlihat, seperti bayangan senyum yang muncul lalu lenyap dalam sepersekian detik. Tapi Herman melihatnya. Matanya cukup tajam untuk menangkap senyum itu. Dan senyum itu cukup untuk membuat jantungnya meletup-letup seperti kembang api di malam tahun baru.
Rombongan Amanda berlalu. Mereka terus jogging ke arah utara kemudian belok kearah barat Jalan simpang Patih Rumbih, menjauhi bangku taman, menjauhi Herman, tetapi tidak menjauhi pikirannya.
"Dia tersenyum!" bisik Herman.
"Siapa yang tersenyum?" tanya Yanto.
"Amanda!"
"Lo yakin? Atau cuma hayalan lo?"
"Aku yakin. Senyumnya kecil, tapi nyata."
"Kamu terlalu berharap, Man," kata Mahdili. "Bisa saja itu cuma gerakan otot wajah biasa. Bukan senyum sungguhan."
"Senyum tetaplah senyum. Entah itu disengaja atau tidak."
Ahmat menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak ingin merusak suasana hati Herman. Biarlah temannya itu bahagia dengan senyum imajiner atau senyum nyata. Tidak ada yang rugi. "Bagus. Sekarang kita tunggu putaran kedua. Biasanya mereka jogging tiga putaran."
"Tiga putaran?" Yuni mengerjap. "Berarti Herman akan tersenyum dan melambai tiga kali?"
"Iya. Tiga kali senyum, tiga kali lambai. Cukup untuk satu minggu."
"Romantis juga sih," kata Herawati sambil tersenyum. "Cinta yang diungkapkan dengan lambaian tangan dari kejauhan. Tidak perlu kata-kata. Tidak perlu sentuhan. Hanya pandang dan isyarat."
"Atau buang-buang waktu," timpal Yanto.
"Kamu tidak pernah paham cinta, Yanto. Kamu hanya paham bakso dan es jeruk."
"Itu sudah cukup untuk membuatku bahagia."
Herawati tertawa kecil. Yanto memang polos. Terlalu polos untuk memahami drama cinta Herman dan Amanda. Tapi itu tidak masalah. Setiap orang punya cara masing-masing untuk bahagia. Yanto bahagia dengan bakso dan es jeruk. Herman bahagia dengan senyuman kecil Amanda. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Hanya berbeda.
Putaran kedua. Rombongan Amanda muncul lagi dari arah selatan. Kali ini mereka berlari lebih lambat karena sudah mulai terlihat lelah. Amanda masih di depan, tetapi posturnya sedikit membungkuk. Mungkin dia tidak cukup tidur semalam. Atau mungkin dia terlalu banyak berpikir sehingga energinya terkuras.
Herman kembali tersenyum. Kembali melambai. Kali ini lambaiannya lebih kecil, lebih pendek, lebih sopan.
Amanda kembali menoleh. Senyum kecil yang sama muncul di bibirnya. Lalu dia melanjutkan lari tanpa memperlambat langkah.
"Lihat! Dia senyum lagi!" seru Herman.
"Kami lihat," jawab Ahmat. "Senyumnya masih sama. Kecil. Samar. Tapi nyata."
"Kali ini bukan hayalan?"
"Bukan. Kami semua melihatnya."
"Terima kasih, Tuhan," bisik Herman sambil menengadah ke langit.
Yanto menggeleng-gelengkan kepala. "Dia sudah mulai gila. Tolong, jangan dibiarkan sendiri."
"Biarkan dia gila," kata Yuni. "Terkadang, kegilaan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dunia yang terlalu serius."
Herman tidak mendengarkan omongan teman-temannya. Dia terlalu sibuk menikmati rasa bahagia yang menyebar di dadanya seperti madu yang meleleh di atas roti hangat. Rasanya manis, sedikit lengket, tetapi sangat nikmat.
Putaran ketiga. Rombongan Amanda muncul untuk terakhir kalinya. Kali ini mereka sudah sangat lelah. Ada yang berhenti di pinggir jalan untuk memegang lutut. Ada yang memegang pinggang sambil mengatur napas. Amanda sendiri sudah tidak berlari lagi. Dia berjalan cepat, hampir merangkak, dengan wajah yang memerah seperti udang rebus.
Herman tersenyum. Melambai. Kali ini lambaiannya paling kecil, hampir tidak bergerak. Hanya sedikit mengangkat tangan, lalu menurunkannya kembali.
Amanda menoleh. Senyumnya kali ini sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Masih kecil, tetapi lebih jelas. Seperti sinar matahari yang mulai muncul dari balik awan. Dia mengangkat tangan kanannya, lalu melambai balik. Lambaian yang sangat singkat, hanya satu kali, seperti orang yang melambai tanpa sengaja.
Tapi itu cukup.
Cukup untuk membuat Herman berdiri dari bangku taman.
Cukup untuk membuat air matanya hampir menetes.
Cukup untuk membuatnya yakin bahwa semua perjuangan ini tidak sia-sia.
"Dia melambai balik!" teriak Herman tidak bisa menahan diri lagi.
"Sst! Jangan teriak-teriak! Nanti dia kapok!" Ahmat menarik tangan Herman.
"Tapi dia melambai, Mat!"
"Aku lihat. Aku lihat. Tenanglah."
"Bagaimana mungkin aku tenang? Amanda yang paling galak di Kuala Kapuas baru saja melambai padaku!"
"Ya, sudah. Sekarang duduk. Tarik napas. Jangan pingsan."
Herman duduk kembali. Dadanya naik turun seperti gelombang laut di tengah badai. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya hanya bisa tersenyum. Senyum lebar yang tidak bisa dia sembunyikan, meskipun dia sudah berusaha menahannya.
Akhirnya, setelah rombongan Amanda benar-benar hilang dari pandangan, Herman berdiri dan berkata pada teman-temannya, "Aku ingin mentraktir kalian semua bakso di Dermaga KP3. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah mendukungku."
"BARU DIA NGOMONG BEGITU!" teriak Yanto kegirangan.
"Aku mau bakso urat sapi!" tambah Mahdili.
"Aku mau bakso telur!" kata Herawati.
"Aku mau bakso biasa tapi kuahnya banyak!" timpal Yuni.
"Aku mau apa saja yang penting gratis," ucap Ahmat santai.
“Bakso special.” Bintang tak mau kalah.
Mereka berlima berjalan menuju Dermaga KP3 dengan langkah riang. Herman di tengah, dikelilingi oleh teman-temannya, seperti presiden yang baru saja memenangkan pemilu. Wajahnya masih belum bisa berhenti tersenyum. Matanya masih berbinar-binar seperti anak kecil yang baru diberi sepeda baru.
"Man, tolong sadar," kata Ahmat di tengah perjalanan. "Ini baru lambaian tangan. Belum ciuman. Belum pelukan. Belum pernyataan cinta. Masih panjang perjuangannya."
"Aku tahu. Tapi setidaknya aku sudah melewati satu level. Dari ditolak menjadi dilambai. Itu sudah kemajuan besar."
"Kemajuan besar atau kecil, yang penting kamu tidak berhenti."
"Aku tidak akan berhenti, Mat. Aku akan terus berjalan sampai Amanda benar-benar membuka hatinya untukku."
"Dan jika dia tidak pernah membuka hatinya?"
Herman berhenti berjalan. Dia menatap Ahmat dengan mata yang tiba-tiba menjadi serius. "Maka aku akan belajar untuk menerima. Tapi setidaknya aku sudah mencoba. Setidaknya aku tidak akan menyesal di kemudian hari karena tidak pernah berani."
Ahmat terdiam. Dia tidak bisa membantah. Herman benar. Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Dan sejauh ini, Herman sudah mencoba. Meskipun dengan cara yang paling konyol, paling memalukan, paling tidak masuk akal, dia sudah mencoba. Dan itu layak dihormati.
Dermaga KP3 terletak di tepi sungai Kapuas, tepat di area yang disebut warga sebagai "Wisata Kuliner Ikonik". Ada puluhan lapak makanan yang berjajar rapi di sepanjang koridor jalan Jendral Sudirma serta Restro Teraapung dekat Dermaga. Mulai dari bakso, mie ayam, sate, ketoprak, es campur, hingga makanan khas Kuala Kapuas seperti nasi kuning dengan lauk pauk yang beragam. Suara pedagang yang menawarkan dagangan bercampur dengan suara pengunjung yang berbincang-bincang, menghasilkan simfoni keramaian yang khas.
Herman dan teman-temannya memilih lapak bakso langganan, yaitu Bakso "Lumer" yang terletak di ujung Selatan dermaga. Pemiliknya adalah Pak RT, seorang bapak bertubuh tambun dengan kumis tebal dan suara yang sangat keras. Begitu melihat Herman datang, Pak RT langsung berteriak.
"HERMAN! LAMA TIDAK MAMPIR! KAMU DIKEJAR UTANG ATAU BAGAIMANA?"
"Tidak, Pak. Saya masih sibuk kerja," jawab Herman sambil tersenyum canggung.
"Kerja? Kerja yang benar! Jangan malas-malas! Nanti tidak laku di kolom jodoh!"
"Iya, Pak."
Mereka duduk di meja kayu panjang yang dilapisi taplak plastik bermotif kotak-kota. Pak RT datang dengan notepad kecil di tangannya. "PESAN APA SAJA?"
"Bakso urat sapi dua, bakso special satu, bakso telur sau, bakso biasa satu, kuahnya banyak, sambal dipisah," kata Ahmat mewakili grup.
"MINUMNYA?"
"Es jeruk dua, es teh dua, es campur satu."
"OKE, TUNGGU BENTAR!" Pak RT berjalan ke dapur dengan langkah tegap seperti tentara yang sedang berpatroli.
Sambil menunggu pesanan, Herman mengeluarkan ponsel. Dia membuka Instagram, lalu tersenyum sendiri melihat profil Amanda. Foto terakhirnya adalah foto dia sedang memegang es krim di pinggir jalan, dengan caption: "Manisnya hidup hanya sementara, yang abadi hanya permen karet." Herman hampir tersedak membaca caption itu. Apakah itu sindiran untuknya? Atau hanya kebetulan?
"Ada apa, Man?" tanya Yuni.
"Lihat ini. Caption Instagram Amanda."
Yuni mengambil ponsel Herman, lalu membaca caption itu dengan suara pelan. "Manisnya hidup hanya sementara, yang abadi hanya permen karet." Dia tertawa kecil. "Ini pasti sindiran buat kamu. Dia masih kesal."
"Kalau dia masih kesal, kenapa dia melambai balik padaku?"
"Mungkin karena dia tidak mau dianggap terlalu serius. Atau mungkin karena dia mulai..." Yuni berhenti di tengah kalimat.
"Mulai apa?"
"Mulai... menerima."
Herman mengangguk. Dia tidak ingin terlalu berharap. Tapi harapan itu sudah terlanjur tumbuh seperti benih yang disiram setiap hari. Sulit untuk dicabut. Sulit untuk diabaikan.
"Yang penting," kata Herawati, "kamu jangan melakukan hal bodoh lagi. Tidak ada permen karet. Tidak ada puisi cinta. Tidak ada berlutut di rumahnya. Cukup lambaian tangan dari kejauhan sampai Amanda benar-benar nyaman."
"Berapa lama?"
"Tidak tahu. Bisa satu minggu. Bisa satu bulan. Bisa satu tahun."
"Setahun cuma lambai-lambai?"
“Mana aku taahan.” Bisik Bintang
"Iya. Itu ujian kesabaran."
Herman menghela napas panjang. Dia tidak sabaran. Dia pernah mencoba diet dan gagal di hari ketiga. Dia pernah mencoba belajar bahasa Inggris dan berhenti di pertemuan kedua. Tapi untuk Amanda, dia rela bersabar. Bahkan jika harus bersabar selama satu tahun penuh. "Baiklah. Aku akan coba."
"Jangan coba. Lakukan," tegas Herawati.
"Iya. Aku akan lakukan."
Pesanan datang. Sepuluh mangkok bakso berjejer rapi di atas meja, ditemani oleh gelas-gelas es jeruk, es teh, dan satu mangkok es campur untuk Yuni. Mereka makan dengan lahap, sesekali bercanda, sesekali mengejek Herman yang masih tersenyum-senyum sendiri.
"Aku rasa Herman perlu pingsan sebentar," kata Yanto sambil mengunyah bakso.
"Kenapa pingsan?" tanya Mahdili.
"Supaya dia sadar bahwa dunia ini tidak sedang berputar hanya karena lambaian tangan Amanda."
"Diam, Yanto. Biarkan dia bahagia. Sudah jarang dia bahagia seperti ini," potong Yuni.
Yanto mengangkat bahu. Dia kembali fokus ke baksonya yang masih mengepul.
Selesai makan, mereka berjalan menyusuri dermaga sambil menikmati pemandangan sungai. Air sungai Kapuas Murung mengalir tenang, kehitaman karena kedalamannya, tetapi tetap memantulkan cahaya matahari dengan indah. Beberapa Longboat melintas, membawa penumpang dari satu desa ke desa lain. Di kejauhan, jembatan besar membentang gagah, menghubungkan dua sisi kota.
"Man, kamu tahu apa yang akan aku lakukan jika jadi kamu?" tiba-tiba Ahmat bertanya.
"Apa?"
"Aku akan membuat tim sukses."
"Tim sukses? Untuk apa?"
"Untuk membantu kamu mendekati Amanda. Tidak mungkin kamu sendiri. Kamu butuh orang-orang yang bisa membantumu dari berbagai sisi."
"Seperti tim pemenangan pilkada?"
"Iya. Kurang lebih seperti itu."
Herman mengerjap. Ide itu terdengar gila. Tapi bukankah semua ide yang berhubungan dengan Amanda memang gila? "Tim suksesnya siapa saja?"
"Kita semua," Ahmat menunjuk dirinya sendiri, Yanto, Mahdili, Yuni, Bintang dan Herawati. "Kita akan bahagi tugas. Ada yang fokus mendekati teman-teman Amanda. Ada yang fokus mengumpulkan informasi tentang kegemaran Amanda. Ada yang fokus membuat strategi agar kamu bisa bertemu Amanda tanpa terlihat seperti penguntit."
"Aku tidak suka kata penguntit."
"Ya, kita ganti dengan pendekatan sistematis."
Herawati mengangguk setuju. "Aku setuju dengan Ahmat. Selama ini kita hanya reaktif. Menunggu kejadian, lalu merespons. Sekarang saatnya kita proaktif. Kita yang membuat kejadian."
"Aku proaktif atau reaktif, yang penting jangan sampai saya dituduh melecehkan," kata Yanto.
"Kamu tidak bakal dituduh melecehkan karena kamu tidak akan melakukan apa-apa selain makan bakso," timpal Mahdili.
"Baguslah. Aku tidak mau pusing dengan drama cinta."
Yuni tersenyum. "Baiklah. Kita bentuk tim sukses. Namanya... Tim Sukses Taklukkan Amanda."
"Terlalu panjang," bantah Ahmat. "Cukup Tim STS."
"STS?"
"Save The Soul. Atau Sesuai Target Selesai. Terserah."
"Kenapa tidak Tim Permen Karet?" saran Yanto.
"Terlalu konyol."
"Semuanya konyol. Tapi tidak apa-apa. Yang penting berhasil."
Mereka berlima akhirnya sepakat untuk membentuk tim sukses. Tidak ada surat keputusan. Tidak ada agenda rapat. Tidak ada struktur organisasi yang jelas. Hanya komitmen bersama untuk membantu teman yang sedang jatuh cinta. Itu sudah cukup.
Herman tidak bisa menahan senyumnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa teman-temannya yang sering dianggapnya menyebalkan ini akan begitu peduli. "Makasih, kalian. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan kalian dengan apa."
"Balas dengan memenangkan hati Amanda," kata Ahmat. "Itu saja."
"Tapi kalau aku gagal?"
"Kita gagal bersama. Tidak ada yang disalahkan."
Herman mengangguk. Air matanya hampir menetes lagi. Dia menahan. Tersenyum. Lalu berjalan bersama teman-temannya menyusuri dermaga, meninggalkan jejak kaki di atas papan kayu yang sudah tua, menuju ke arah matahari yang semakin tinggi.
Malam harinya, di grup WhatsApp "Geng Car Free Day ", Ahmat memulai rapat virtual pertama Tim STS. Dia menulis pesan panjang berisi pembagian tugas untuk setiap anggota.
Ahmat: Oke, sesuai kesepakatan siang tadi, kita akan membentuk tim sukses untuk membantu Herman mendekati Amanda. Berikut pembagian tugas:
- Yanto, tugas kamu mendekati Dahlia. Dahlia adalah teman dekat Amanda. Dia hobi jajanan pasar. Kamu hobi jajan. Cocok.
Yanto: Dahlia yang mana? Yang suka bawa gemblong?
Ahmat: Iya.
Yanto: Oke. Aku coba. Tapi kalau dia gak suka sama aku, jangan salahkan aku.
Ahmat: Kamu lakukan yang terbaik. Lapor setiap hari.
- Mahdili, tugas kamu mendekati Anita. Anita suka hal-hal berbau teknologi. Kamu suka gonta-ganti HP. Cocok.
Mahdili: Aku gak suka Anita. Anita jutek.
Ahmat: Kamu tidak harus suka. Kamu hanya perlu jadi teman. Sebagai jalan untuk Herman.
Mahdili: Baiklah. Tapi kalau dia jutek, aku mundur.
Ahmat: Kamu hanya akan mundur kalau dunia kiamat.
- Yuni, tugas kamu mendekati Sania. Sania pendiam, suka baca buku. Kamu juga pendiam, suka baca buku. Cocok.
Yuni: Aku kenal Sania sebentar. Dia anaknya baik. Tapi dia jarang buka mulut. Aku butuh kesabaran ekstra.
Ahmat: Kesabaran ekstra diberikan.
- Herawati, tugas kamu mendekati Yunita. Yunita suka kecantikan, make up, perawatan kulit. Kamu juga suka hal yang sama. Cocok.
Herawati: Aku sudah follow Instagram Yunita. Dia sering posting produk kecantikan. Aku bisa mulai dengan nanya soal skincare.
Ahmat: Bagus. Lanjutkan.
- Bintang bagian dokumentasi dan media social dan Aku sendiri yang akan fokus mengatur strategi jangka panjang. Juga melobi orang tua Amanda jika diperlukan.
Selain itu, Herman akan tetap melakukan kontak langsung dengan Amanda. Tapi hanya lambaian tangan dan senyum dari kejauhan. Tidak lebih. Setuju?
Yanto: Setuju.
Mahdili: Setuju.
Yuni: Setuju.
Herawati: Setuju.
Herman: Aku setuju. Tapi jangan aneh-aneh ya. Aku tidak mau Amanda semakin benci.
Ahmat: Tenang. Semua sudah terencana. Tidak ada yang aneh-aneh.
Yanto: Kecuali kalau Dahlia bawa gemblong ke mana-mana. Itu aneh.
Ahmat: Itu tidak aneh. Itu kebiasaan.
Yanto: Bagiku aneh.
Baintang”Setuju.”
Ahmat: Lakukan. Fokus ke tugas masing-masing. Lapor perkembangan setiap malam pukul sembilan. Yang tidak lapor, traktir bakso sepuluh mangkok.
Yanto: Siap.
Mahdili: Siap.
Yuni: Siap.
Herawati: Siap.
Bintang”Siap.”
Herman: Siap. Terima kasih, teman-teman. Aku beruntung punya kalian.
Yanto: Jangan baper. Nanti aku mual.
Herman: Baik, aku tidak baper. Tapi terima kasih tetap kuucapkan.
Ahmat: Sudah, tidur. Besok kerja. Kita mulai misi lusa.
Grup WhatsApp itu pun sunyi. Herman mematikan ponsel, meletakkannya di samping bantal, lalu memandang langit-langit kamar yang retak-retak. Dia tersenyum sendiri. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa sendirian. Ada lima orang yang siap membantunya. Lima orang yang rela melakukan hal-hal konyol hanya untuk melihatnya bahagia.
"Terima kasih, Tuhan," bisik Herman. "Terima kasih untuk teman-teman yang menyebalkan tapi setia. Terima kasih untuk permen karet yang membuat semuanya dimulai. Terima kasih untuk Amanda yang masih memberiku kesempatan meskipun hanya untuk tersenyum dan melambai."
Dia memejamkan mata. Dan untuk kesekian kalinya, dia tertidur dengan bayangan Amanda. Kali ini, bayangan itu tidak sendiri. Ada Dahlia, Yunita, Anita, Sania di samping Amanda. Dan di belakang mereka, ada Yanto, Mahdili, Yuni, Herawati, Bintang dan Ahmat. Semua tersenyum. Semu bahagia. Seperti satu keluarga besar yang sedang berkumpul di Car Free Day .
BAB 6
JURUS KE 01 SAMPAI 10, GAGAL TOTAL
Dua minggu telah berlalu sejak Tim STS resmi dibentuk. Dua minggu yang penuh dengan harapan, strategi, dan kegagalan yang bertubi-tubi. Setiap anggota tim sudah melaksanakan tugasnya masing-masing dengan semangat membara, tetapi hasilnya tidak pernah sesuai harapan. Yanto gagal mendekati Dahlia karena Dahlia lebih tertarik pada Ahmat yang sama sekali tidak berusaha. Mahdili gagal mendekati Anita karena Anita ternyata sudah punya pacar. Yuni berhasil menjadi teman baik Sania, tetapi Sania tidak pernah mau membantu Herman karena dia berprinsip bahwa cinta harus alami, bukan rekayasa. Herawati sukses berteman dengan Yunita, tetapi Yunita bilang Amanda masih sangat marah pada Herman meskipun sudah sempat melambai di Car Free Day . Semua upaya tim berakhir dengan kebuntuan, dan Herman sadar bahwa dia tidak bisa bergantung pada orang lain selamanya. Dia harus bergerak sendiri. Dia harus menciptakan jurus-jurus cinta yang spektakuler, meskipun kemungkinan besar akan gagal.
Ahmat menyebutnya "Jurus 001 sampai 010" sebagai bentuk penghormatan kepada film-film silat Mandarin yang sering mereka tonton bersama di kontrakan Herman setiap Sabtu malam. Dalam film-film itu, sang pahlawan biasanya memiliki jurus andalan yang selalu berhasil mengalahkan musuh. Tapi Herman bukan pahlawan film silat. Herman hanyalah pekerja kontraktor biasa yang jatuh cinta pada perempuan paling galak di Kuala Kapuas. Jurus-jurusnya tidak dirancang untuk mengalahkan musuh, tetapi untuk meluluhkan hati seorang Amanda. Sayangnya, hati Amanda ternyata lebih keras dari baja. Setiap jurus yang Herman coba berakhir dengan kegagalan yang memalukan.
Jurus pertama Herman adalah puisi cinta. Bukan puisi biasa, tetapi puisi yang dia tulis sendiri setelah begadang semalaman dengan ditemani segelas kopi hitam dan sebatang rokok. Dia menulis, menghapus, menulis lagi, menghapus lagi, sampai akhirnya dia menghasilkan tiga bait yang menurutnya cukup puitis. Isinya tentang seorang kesatria yang jatuh cinta pada seorang putri yang marah-marah, lalu kesatria itu berjanji akan setia meskipun harus dimarahi seumur hidup. Herman menganggap puisinya bagus. Ahmat bilang lebay. Yanto bilang garing. Tapi Herman tidak peduli. Dia mencetak puisi itu di warnet dekat kontrakan, lalu menempelkannya di loker sekolah Amanda pada malam hari, ketika sekolah sedang sepi.
"Besok pagi dia akan membaca puisiku," kata Herman pada Ahmat dengan penuh keyakinan.
Keesokan paginya, Amanda memang membaca puisi itu. Tapi dia tidak tersenyum, tidak terharu, tidak juga marah. Dia hanya mengernyit, lalu menunjukkan puisi itu pada Dahlia.
"Baca ini. Puisi dari Herman."
Dahlia membaca puisi itu, lalu tertawa terbahak-bahak. "Ini puisi atau lamaran kerja? Bahasa Indonesianya amburadul."
"Kesatrianya kumisnya tipis. Putrinya galaknya minta ampun. Ini jelas tentang kita," kata Amanda sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lucu sih. Dia berusaha."
"Berusaha atau buang-buang kertas?"
Dahlia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil melipat puisi itu menjadi pesawat kertas, lalu menerbangkannya ke luar jendela kelas.
Puisi itu terbang beberapa meter, lalu jatuh di selokan. Di sanalah puisi cinta pertama Herman berakhir.
Jurus kedua adalah bunga. Herman menghabiskan uang makannya selama tiga hari untuk membeli setangkai mawar merah di toko bunga langganan ibunya Yanto. Mawar itu segar, berduri, dan harum. Herman membungkusnya dengan plastik bening dan pita merah, lalu mengirimkannya ke rumah Amanda melalui jasa ojek online. Dia menyertakan kartu kecil bertuliskan, "Untuk Amanda, dari Herman yang minta maaf."
Dua jam setelah mawar itu sampai, Herman menerima pesan dari Amanda.
@amanda_cans: Bunga saya kembalikan lewat ojek. Jangan kirim bunga lagi. Saya alergi mawar.
Herman membaca pesan itu berkali-kali. Dia tidak tahu apakah Amanda benar-benar alergi atau hanya alasan untuk menolak. Tapi satu hal yang dia tahu: mawar merah yang dia beli dengan susah payah kini sudah kembali ke tangannya, layu sedikit karena perjalanan bolak-balik, seperti harapannya yang mulai pudar.
Jurus ketiga adalah menjadi kurir tahu walik. Tahu walik adalah makanan khas Kuala Kapuas, terbuat dari tahu yang dibalik, diisi dengan adonan ayam atau udang, lalu digoreng hingga renyah. Herman tahu bahwa Amanda suka tahu walik dari warung Mak Endut di Pasar Sari Mulya. Karena itu, dia memesan dua bungkus tahu walik, lalu berpura-pura menjadi kurir yang mengantarkan pesanan ke rumah Amanda.
"Permisi, pesanan tahu walik untuk Amanda," kata Herman sambil tersenyum canggung di depan pintu rumah Amanda.
Pintu terbuka. Yang muncul bukan Amanda, tetapi ibunya. Ibu Amanda memandang Herman dengan tatapan setengah lucu setengah iba. "Kamu jadi kurir, Herman?"
"Iya, Bu. Kurir dadakan."
"Amanda sedang mandi. Titip saja sama saya."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Herman menyerahkan dua bungkus tahu walik, lalu berbalik pulang. Dia tidak sampai bertemu Amanda. Yang dia dapatkan hanyalah senyuman ibunya yang mengatakan, "Kamu anak yang baik, tapi jangan terlalu banyak akal."
Baru saja Herman sampai di gang depan kontrakannya, ponselnya berbunyi. Pesan dari Amanda.
@amanda_cans: Tahu walik nya enak. Mending jualan tahu walik daripada ngejar cewek.
Herman tersenyum pahit. Setidaknya Amanda mengakui tahu waliknya enak. Itu sudah lebih baik daripada tidak diakui sama sekali.
Jurus keempat adalah mengajak jogging bersama di Car Free Day . Herman sudah berlatih jogging setiap sore selama satu minggu penuh agar tidak kehabisan napas di depan Amanda. Dia juga membeli sepatu olahraga baru di pasar murah, meskipun kualitasnya diragukan. Pada Minggu pagi berikutnya, ketika rombongan Amanda jogging melewati bangku taman tempat Herman biasa duduk, Herman berdiri dan berlari kecil di samping Amanda.
"Amanda, aku sudah janji gak bakal tempelin permen karet lagi. Tapi bolehkah aku jogging di sampingmu?"
Amanda tidak menjawab. Dia justru mempercepat langkahnya. Herman mencoba mengimbangi, tetapi kakinya lebih pendek dari kaki Amanda. Ditambah lagi sepatu barunya ternyata kekecilan, membuat jari-jari kakinya terasa seperti digencet. Dia berlari sekencang mungkin, tetapi Amanda berlari lebih kencang. Seperti atlet nasional yang sedang latihan untuk olimpiade. Dalam waktu kurang dari satu menit, Amanda sudah meninggalkan Herman tertatih-tatih di belakang.
"Jangan ikuti aku!" teriak Amanda tanpa menoleh.
Herman berhenti. Dia memegang lututnya sambil mengatur napas. Sepatu barunya sudah mulai melepuh. Jari-jari kakinya terasa panas. Dia menyesal membeli sepatu murah. Tapi bukan sepatunya yang salah. Ini murni kesalahannya sendiri karena terlalu bersemangat.
Di bangku taman, teman-temannya tertawa melihat pemandangan itu. Yanto sampai berguling-guling di atas rumput. Mahdili menepuk-nepuk pahanya. Bahkan Ahmat, yang biasanya serius, ikut tertawa kecil.
"Sebaiknya kamu fokus jadi kontraktor saja, Man," teriak Yanto dari kejauhan. "Jadi atlet bukan bidangmu!"
Herman hanya bisa mengangkat kedua tangannya, menyerah. Jurus keempat gagal total.
Jurus kelima adalah memberikan sarapan ke sekolah Amanda. Herman bangun pukul tiga pagi, memasak nasi goreng sendiri di kontrakan (meskipun hasilnya agak gosong di bagian bawah), lalu membungkusnya dengan daun pisang agar terlihat tradisional dan romantis. Dia pergi ke sekolah Amanda sebelum bel pertama berbunyi, lalu menitipkan nasi goreng itu kepada satpam sekolah.
"Tolong sampaikan ke Amanda, Pak. Dari Herman."
Satpam itu mengangguk. "Siap, Dik. Nanti saya sampaikan."
Sepulang sekolah, Amanda mengirim pesan lagi.
@amanda_cans: Nasi gorengnya gosong. Saya hampir keracunan. Jangan masak lagi kalau tidak bisa masak.
Herman membaca pesan itu sambil menunduk. Dia tahu nasi gorengnya memang gosong. Dia juga tahu rasanya tidak enak. Tapi dia berharap Amanda akan menghargai usahanya. Ternyata tidak. Amanda bukan tipe perempuan yang mudah terharu oleh usaha. Dia tipe perempuan yang realistis. Enak ya enak. Tidak enak ya tidak enak. Tidak ada kata "yang penting ada usaha".
Jurus keenam adalah membuat video puisi. Herman berdiri di depan kamera ponsel yang dipinjam dari Ahmat, lalu membaca puisi karyanya sendiri dengan gaya yang menurutnya paling romantis. Dia meminjam jas dari tetangga, berdiri di depan tembok putih kontrakannya, dan merekam video itu berkali-kali sampai suaranya serak.
"Amanda, sejak kau tempel permen karet di hatiku, aku tak bisa lepas. Kau lukai aku, tapi kau juga yang menyembuhkan. Aku cinta padamu, walau kau benci padaku."
Setelah selesai, dia mengirim video itu ke Instagram Amanda melalui Direct Message. Video itu sudah dilihat. Tapi tidak dibalas. Herman menunggu satu jam, dua jam, tiga jam. Tidak ada balasan. Dia cek lagi. Ternyata Amanda sudah meng-unread pesan itu. Artinya dia sudah melihat, tetapi memilih untuk tidak membalas.
Herman hampir menangis. Tapi dia tahan.
Jurus ketujuh adalah mengirim lagu. Herman tahu bahwa Amanda suka musik pop Indonesia tahun sembilan puluhan. Karena itu, dia memilih lagu "Cinta Itu Buta" dari band legendaris, lalu merekam dirinya sendiri menyanyikan lagu itu dengan iringan gitar yang dia pinjam dari tetangga kontrakan. Suaranya fals. Iramanya kacau. Gitar yang dipinjam ternyata tidak disetel dengan baik. Tapi Herman tetap mengirim rekaman itu ke Amanda.
@herman_kontraktor: Ini lagu untukmu. Maaf kalau jelek. Aku masih belajar.
Pesan itu dibaca. Kali ini ada balasan.
@amanda_cans: Kamu tidak usah belajar menyanyi. Kamu tidak usah belajar gitar. Kamu tidak usah belajar jadi orang romantis. Cukup jadi diri sendiri. Itu sudah cukup.
Herman membaca balasan itu berulang-ulang. Apa maksudnya? Apakah Amanda menerimanya? Atau hanya menyuruhnya berhenti berusaha? Dia tidak tahu. Tapi satu hal yang dia tahu, Amanda tidak marah. Itu sudah kemajuan.
Jurus kedelapan adalah menjadi sukarelawan di acara amal yang juga dihadiri Amanda. Herman mendengar dari Yuni bahwa Amanda akan ikut serta dalam acara bakti sosial di panti asuhan pada hari Minggu. Herman mendaftar sebagai sukarelawan, meskipun dia tidak punya keahlian apapun selain mengangkat barang berat.
Di panti asuhan, Herman bertemu Amanda. Amanda memakai kaos putih polos dan celana jeans. Dia sedang membagikan makanan kepada anak-anak panti. Herman mendekat.
"Bisa saya bantu?" tanya Herman.
"Angkat kotak ini ke dapur," perintah Amanda singkat.
Herman mengangkat kotak itu. Beratnya sekitar dua puluh kilogram. Dia membawanya ke dapur tanpa mengeluh. Kemudian dia kembali lagi.
"Angkat yang ini ke halaman belakang."
Herman mengangkat. Tidak mengeluh.
"Cuci piring ini."
Herman mencuci. Tidak mengeluh.
"Sapu halaman."
Herman menyapu. Tidak mengeluh.
Sepanjang acara, Herman hanya disuruh-suruh tanpa ada ucapan terima kasih. Tapi dia tidak peduli. Yang penting dia bisa membantu. Yang penting dia ada di dekat Amanda. Setelah acara selesai, Amanda mendekatinya.
"Kamu capek?" tanya Amanda.
"Sedikit," jawab Herman jujur.
"Ini air mineral." Amanda menyodorkan sebotol air mineral. "Minum. Jangan pingsan. Nanti aku yang repot."
Herman menerima botol itu. Dia meminumnya sedikit demi sedikit. Airnya dingin, menyegarkan, seperti hujan di musim kemarau.
"Besok aku butuh orang untuk angkat barang di toko," kata Amanda lagi. "Kamu bisa?"
"Bisa."
"Datang jam delapan pagi."
"Baik."
Amanda pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Herman berdiri di halaman panti asuhan, memegang botol air mineral, dengan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan. Ini bukan kemenangan. Tapi setidaknya dia tidak gagal. Dia hanya diperbolehkan membantu. Itu sudah cukup.
Jurus kesembilan adalah datang ke toko sembako milik ayah Amanda. Herman datang tepat pukul delapan pagi seperti yang dijanjikan. Toko sembako itu besar, terletak di Pasar Sari Mulya, menjual segala macam kebutuhan rumah tangga mulai dari beras, gula, minyak goreng, hingga mie instan. Ayah Amanda sudah menunggu di depan toko dengan daftar barang-barang yang harus diangkut.
"Kamu Herman?" tanya ayah Amanda.
"Iya, Pak."
"Anak yang tempelin permen karet di baju Amanda?"
Herman hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. "Iya, Pak. Itu saya."
"Kamu punya nyali. Aku suka." Ayah Amanda tertawa kecil. "Ayo bantu angkat karung beras ke gudang belakang. Ada lima puluh karung. Masing-masing dua puluh kilogram."
Herman menelan ludah. Dia tidak pernah mengangkat beban seberat itu secara terus-menerus. Pekerjaannya sebagai kontraktor lebih banyak mengawasi daripada mengangkat. Tapi dia tidak mau menolak.
Dia mulai mengangkat karung beras satu per satu. Karung pertama masih terasa ringan. Karung kedua mulai berat. Karung ketiga membuat otot tangannya terasa tertarik. Karung keempat membuat napasnya tersengal. Karung kelima membuatnya hampir terjatuh.
"Kamu berhenti dulu kalau capek," kata ayah Amanda.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya masih kuat."
Dia melanjutkan hingga karung kedelapan. Wajahnya sudah merah. Keringatnya bercucuran. Bajunya basah. Tapi dia tidak berhenti. Dia terus mengangkat sampai akhirnya Amanda datang dengan segelas es teh manis.
"Coba minum dulu," kata Amanda sambil menyodorkan gelas itu.
Herman menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih."
"Ini bukan karena aku baik. Ini karena kalau kamu pingsan di tokoku, reputasi toko bisa turun."
"Aku paham."
Herman meminum es teh itu sampai habis. Rasanya manis, sedikit kental, seperti buatan orang yang tahu cara membuat es teh yang benar. Amanda tidak pergi. Dia berdiri di samping Herman, memandang ke arah toko, ke arah ayahnya yang sedang melayani pembeli.
"Kamu kenapa mau jadi kuli angkat begini, Herman?" tanya Amanda.
"Karena kamu minta tolong."
"Hanya itu?"
"Hanya itu."
"Dasar tolol."
"Mungkin."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi matanya tidak lagi dingin seperti sebelumnya. Ada sedikit kehangatan di sana. Sedikit kelembutan. Sedikit rasa terima kasih yang tidak diucapkan.
"Lanjutkan," kata Amanda. "Tapi jangan sampai pingsan."
"Iya."
Herman mengangkat karung kesembilan, kesepuluh, kesebelas, hingga akhirnya semua karung beras berhasil dia pindahkan ke gudang belakang. Ayah Amanda tersenyum puas. "Anak ini kuat. Cocok jadi menantu."
"YAH!" teriak Amanda.
"Apa? Ayah hanya bercanda."
"Jangan bercanda soal itu!"
"Iya, iya. Ayah diam."
Herman hanya tersenyum malu. Dia tidak berani berharap. Tapi senyum ayah Amanda adalah sesuatu yang tidak bisa dia abaikan.
Jurus kesepuluh adalah mengajak Amanda nonton bioskop. Setelah nyaris tiga minggu berusaha, Herman merasa sudah saatnya untuk mengambil langkah yang lebih berani. Dia membeli dua lembar tiket bioskop untuk film terbaru yang sedang hype di kalangan anak muda. Film Korea, bergenre roman komedi, dengan pemeran cowok ganteng dan cewek cantik.
@herman_kontraktor: Amanda, aku punya dua tiket bioskop untuk hari Sabtu malam. Kamu mau ikut?
Pesan itu dibaca. Dibaca. Dibiarkan dua jam.
@amanda_cans: Dengan siapa lagi?
@herman_kontraktor: Dengan aku. Hanya kita berdua.
@amanda_cans: Tidak mau.
@herman_kontraktor: Kenapa?
@amanda_cans: Karena aku tidak mau terlihat pacaran dengan orang yang pernah nempelkan permen karet di bajuku.
@herman_kontraktor: Itu sudah beberapa minggu yang lalu.
@amanda_cans: Luka di hati tidak punya batas waktu.
Herman membaca pesan terakhir itu. Luka di hati tidak punya batas waktu. Apakah itu artinya Amanda masih sakit hati? Atau hanya alasan untuk menolak? Herman tidak tahu. Tapi yang dia tahu, jurus kesepuluh gagal. Tiket bioskop yang sudah dia beli terpaksa diberikan kepada Ahmat dan Yanto.
"Terima kasih tiket gratisnya, Man," kata Yanto sambil tersenyum lebar. "Aku dan Ahmat akan menikmatinya."
"Jangan terlalu menikmati. Ini tiket untuk cinta, bukan untuk hiburan," balas Herman sinis.
"Ya, ya. Kami akan berdoa untuk cintamu di dalam bioskop."
"Kaampret, lo."
Malam itu, setelah sepuluh jurus gagal total, Herman duduk sendirian di bangku taman depan GOR Panunjung Tarung. Tempatnya sepi, hanya ada beberapa pasangan yang sedang berduaan di sudut-sudut gelap. Lampu taman menyala redup, memberikan cahaya yang cukup untuk melihat wajah, tetapi tidak cukup untuk membaca ekspresi.
Ahmat datang tanpa diundang. Dia duduk di samping Herman, lalu menyalakan sebatang rokok. "Gagal lagi, Man?"
"Gagal total."
"Sudah sepuluh jurus."
"Iya. Sepuluh jurus. Nol hasil."
"Kamu menyerah?"
Herman menatap Ahmat. Matanya lelah, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. "Tidak. Aku tidak akan menyerah. Aku hanya sedang mencari jurus kesebelas."
"Jurus kesebelas apa?"
"Aku belum tahu. Tapi aku yakin ada."
Ahmat tersenyum. Dia mengembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Kamu kuat, Man. Cowok lain sudah lama menyerah. Tapi kamu masih bertahan."
"Karena aku yakin, Mat. Aku yakin bahwa di balik kemarahan Amanda, ada hati yang baik. Aku hanya belum menemukan cara untuk menyentuhnya."
"Atau mungkin dia memang sedang dalam masa sulit. Mungkin dia butuh waktu."
"Mungkin. Tapi aku tidak bisa hanya diam dan menunggu. Aku harus terus bergerak."
Ahmat mengangguk. Dia mematikan rokoknya, membuang puntungnya ke tempat sampah, lalu berdiri. "Baiklah. Aku dukung jurus kesebelas apapun itu. Tapi jangan lupa istirahat. Kamu juga manusia, bukan robot."
"Iya, Mat. Terima kasih."
Ahmat pergi. Meninggalkan Herman sendirian di bangku taman. Herman memandang bintang-bintang di langit. Bintang-bintang itu berkedip seperti biasa, tidak peduli dengan kegagalan sepuluh jurusnya. Tidak peduli dengan sakit hatinya. Tidak peduli dengan cintanya yang tidak berbalas.
Tapi entah mengapa, melihat bintang-bintang itu membuat Herman merasa tenang. Seolah-olah alam semesta sedang berkata, "Kamu tidak sendiri. Ada jutaan bintang yang juga gagal. Tapi lihat, mereka masih bersinar."
Herman tersenyum. Dia berdiri, merapikan celananya, lalu berjalan pulang.
Besok dia akan mencari jurus kesebelas.
Dan untuk kesebelas kalinya, dia akan mencoba lagi.
BAB 7
RAGIL DAN 1001 SENYUM MANIS PALSU
Kehadiran Ragil dalam kehidupan Amanda bukanlah hal yang baru. Sejak kelas sepuluh, Ragil sudah sering muncul di pinggir-pinggir, seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Dia adalah cowok yang dikenal banyak orang karena wajahnya yang ganteng, rambutnya yang selalu ditata rapi, dan senyumnya yang manis seperti gula jawa. Tidak heran jika banyak gadis di sekolah yang mengaguminya, mengiriminya surat cinta, atau sekadar pura-pura tidak sengaja bertemu di lorong sekolah. Ragil menikmati semua perhatian itu. Dia tumbuh besar dalam pujian, dalam sorak-sorai, dalam kepercayaan diri yang melambung tinggi. Bagi Ragil, dunia adalah panggung, dan dia adalah bintang utamanya.
Namun ada satu bintang yang tidak mau tunduk pada pesonanya. Amanda. Sejak pertama kali Ragil melihat Amanda di upacara bendera kelas sepuluh, dia sudah tertarik. Amanda berdiri di barisan depan, posturnya tegap, matanya lurus ke depan, tidak bergeming seperti patung. Dia tidak tersenyum. Tidak melirik kiri-kanan. Fokus pada bendera, pada lagu kebangsaan, pada apapun yang sedang dia pikirkan. Ragil mendekati Amanda beberapa kali. Di kantin. Di perpustakaan. Di depan kelas. Tapi setiap kali dia mencoba memulai percakapan, Amanda selalu menjawab dengan singkat, dingin, tanpa minat. "Iya." "Tidak." "Maaf, saya sedang sibuk." Itu saja. Tidak ada celah. Tidak ada peluang.
Tapi Ragil tidak menyerah. Dia percaya bahwa suatu saat Amanda akan luluh. Bahwa semua perempuan pada akhirnya akan jatuh pada pesonanya. Bahwa dia hanya perlu waktu, strategi, dan sedikit bantuan dari teman-temannya. Karena itu, Ragil membentuk tim kecil yang dia beri nama "Tim Gengsi". Anggotanya adalah Iwan, Feri, dan Sukat. Tiga cowok yang setia membantunya dalam segala hal, mulai dari mengantar Amanda les, membawakan jajanan ke rumahnya, hingga memantau pergerakan Herman yang mulai dianggap sebagai saingan serius.
"Bos, aku dengar Herman sudah sepuluh kali berusaha mendekati Amanda," lapor Iwan suatu sore di kantin sekolah.
Ragil yang sedang meminum es jeruk, langsung menghentikan sedotannya. "Sepuluh kali? Apa saja jurusnya?"
"Puisi, bunga, tahu walik, jogging, nasi goreng, video puisi, lagu, sukarelawan, kuli angkat, dan ajakan nonton bioskop."
"Semuanya gagal?"
"Semuanya gagal. Amanda menolak mentah-mentah."
Ragil tersenyum. Senyum yang lega dan sedikit angkuh. "Bagus. Berarti dia masih waras. Tidak mudah terpikat oleh cowok murahan seperti Herman."
"Tapi Bos, kabar terakhir Herman membantu di toko ayah Amanda. Ayah Amanda sudah mulai suka sama dia."
Ragil mengerutkan dahi. Kerutan itu tidak mengurangi ketampanannya, tetapi menambah kesan serius yang kadang membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman. "Ayah Amanda? Dia bilang apa?"
"Dia bilang, 'Anak ini kuat. Cocok jadi menantu.'"
Ragil hampir tersedak. "Itu cuma bercanda. Ayah Amanda terkenal suka bercanda."
"Tapi Bos, bercanda berulang-ulang bisa menjadi doa."
"Diam, Iwan. Kamai terlalu lebay."
Iwan diam. Feri yang dari tadi hanya mendengarkan, kini ikut buka suara. "Bos, mungkin kita harus mempercepat strategi. Jangan sampai Herman lebih dulu mendapat restu dari orang tua Amanda."
"Bagaimana caranya?"
"Ajak Amanda ke acara-acara yang lebih eksklusif. Tunjukkan bahwa kamu punya segalanya: mobil, uang, masa depan. Hal-hal yang tidak dimiliki oleh Herman."
Ragil mengangguk. Feri benar. Herman hanya pekerja kontraktor dengan gaji pas-pasan. Dia tinggal di kontrakan sempit, tidak punya motor, tidak punya mobil, tidak punya prospek cerah. Sementara Ragil adalah anak pengusaha sukses, punya mobil sendiri sejak kelas sebelas, dan masa depan yang sudah terjamin. Keunggulan itu harus dia manfaatkan.
"Oke. Mulai besok, aku akan lebih intens mendekati Amanda. Iwan, kamu cari tahu jadwal les Amanda. Feri, kamu urus jajanan kesukaannya. Sukat, kamu pantau terus pergerakan Herman. Jangan sampai dia punya kesempatan untuk dekat dengan Amanda."
"Siap, Bos!" teriak mereka bertiga bersamaan.
Ragil tersenyum puas. Dia memandang keluar jendela kantin, ke arah lapangan upacara yang kosong. Di sana, di bangku taman, dia melihat sekelompok siswa sedang duduk-duduk. Amanda tidak ada di antara mereka. Tapi Ragil tahu, di suatu tempat di sekolah ini, Amanda sedang berjalan, sedang tersenyum, sedang hidup tanpa memikirkannya. Dan itu adalah tantangan yang paling menggoda bagi seorang Ragil.
Dua hari kemudian, Ragil mendapat informasi bahwa Amanda akan les Matematika di rumah salah satu temannya, Dahlia, pada sore hari. Dia segera menyusun strategi. Dia akan "kebetulan" lewat di depan rumah Dahlia pada jam yang sama, lalu "kebetulan" melihat Amanda, lalu menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Skenario sederhana tetapi efektif.
"Feri, kamu sudah siapkan mobil?" tanya Ragil.
"Sudah, Bos. Mobil sudah dicuci, bahan bakar penuh, parfum mobil yang wangi juga sudah disemprot."
"Bagus. Iwan, kamu pastikan Amanda benar-benar ada di rumah Dahlia."
"Sudah, Bos. Sukat yang memantau dari kejauhan."
"Oke. Kita berangkat."
Mobil putih Ragil melaju pelan-pelan di Jalan Jawa dekat area pemakaman nasrani, tempat di mana Dahlia tinggal. Rumah Dahlia tidak sebesar rumah Amanda, tetapi cukup bagus dengan pagar putih dan taman kecil di depan. Ragil memarkir mobilnya di seberang jalan, lalu menunggu. Matanya mengawasi pintu rumah Dahlia. Sesekali dia melihat ke belakang, memastikan tidak ada Herman yang juga sedang menguntit.
Pukul setengah lima sore, pintu rumah Dahlia terbuka. Amanda keluar, diikuti oleh Dahlia. Mereka berbincang-bincang kecil, tertawa tipis, lalu saling melambai. Dahlia masuk kembali ke rumah. Amanda berjalan ke arah gerbang.
Ragil segera turun dari mobil. Wajahnya dipasang senyum terbaiknya. Senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berjam-jam. Senyum yang konon bisa membuat hati perempuan meleleh seperti es krim di terik matahari.
"Amanda!" sapa Ragil dengan suara ceria.
Amanda menoleh. Wajahnya datar. "Ragil. Kamu ngapain di sini?"
"Kebetulan lewat. Mau ke rumah paman di ujung jalan. Eh, ketemu kamu."
"Kebetulan sekali."
"Iya. Takdir mungkin." Ragil tertawa kecil. "Kamu pulang? Aku anter. Mobilku ada di seberang."
"Tidak usah. Aku bisa jalan kaki. Rumahku tidak jauh."
"Tapi hari sudah sore. Nanti gelap. Aku khawatir."
"Khawatir apa? Aku sudah besar. Tidak akan diculik orang."
Ragil sedikit tersinggung, tetapi dia tidak menunjukkan. Senyumnya tetap terpampang. "Baiklah kalau begitu. Tapi setidaknya izinkan aku menemanimu berjalan. Untuk menemani, bukan untuk mengantar."
Amanda menghela napas. Dia tahu Ragil tidak akan mundur sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. "Terserah. Tapi jangan banyak bicara. Aku sedang pusing."
"Baik."
Mereka berdua berjalan di trotoar Jalan Jawa, trus belok di Lampu Merah Perempataan Patih rumbuh menuju jalan Tambun Bungai. Jarak antara mereka sekitar satu meter, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Ragil sesekali melirik ke samping, menikmati profil wajah Amanda yang tajam dan tegas. Sementara Amanda hanya memandang lurus ke depan, sesekali mengusap dahinya yang terasa berdenyut.
"Kamu kenapa pusing?" tanya Ragil.
"Banyak pikiran."
"Pikiran apa?"
"Pikiran yang tidak perlu kamu ketahui."
Ragil tersenyum. Dia suka dengan sikap Amanda yang keras. Itu membuatnya semakin tertantang. "Baiklah, aku tidak akan bertanya. Tapi kalau kamu butuh teman cerita, aku siap mendengarkan."
"Aku punya Dahlia untuk itu."
"Dahlia teman baikmu, aku tahu. Tapi terkadang, cerita dengan orang yang berbeda bisa memberikan perspektif yang berbeda."
Amanda berhenti berjalan. Dia menatap Ragil dengan mata yang tajam. "Ragil, aku tahu maksudmu. Kamu baik. Kamu perhatian. Tapi aku tidak tertarik. Maaf."
Ragil terdiam. Itu adalah penolakan langsung yang tidak dia duga. Biasanya perempuan yang dia dekati akan setidaknya tersipu atau tersenyum malu. Tapi Amanda berbeda. Dia langsung menusuk, langsung ke pokok masalah, tanpa basa-basi.
"Aku tidak mengatakan bahwa aku tertarik padamu, Amanda," kata Ragil akhirnya. "Aku hanya menawarkan pertemanan. Tidak lebih."
"Kalau hanya pertemanan, baik. Tapi jangan berharap lebih."
"Tidak."
"Janji."
"Janji."
Mereka berjalan lagi. Kali ini dengan jarak yang sedikit lebih jauh. Satu setengah meter. Diam. Hanya suara langkah kaki dan suara angin sore yang berhembus. Sesampainya di depan rumah Amanda, Amanda berbalik.
"Terima kasih sudah menemani. Sekarang pulang."
"Selamat sore, Amanda."
Amanda tidak menjawab. Dia masuk ke halaman rumah, menutup pagar, lalu menghilang di balik pintu.
Ragil berdiri di depan pagar beberapa saat, merenung. Dia tidak kecewa. Justru semakin penasaran. Amanda bukanlah perempuan biasa. Dia adalah teka-teki yang sulit dipecahkan. Dan Ragil menyukai teka-teki.
Di lain sisi, Tim Gengsi terus beraksi. Iwan, Feri, dan Sukat bergerak seperti bayangan, selalu ada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Ketika Amanda les di bimbingan belajar di pusat kota, Ragil tiba-tiba muncul dengan sekotak donat. "Untuk teman-teman les," katanya sambil tersenyum. Ketika Amanda sedang berbelanja di Pasar Sari Mulya bersama ibunya, Ragil "kebetulan" sedang membantu ibunya berbelanja di pasar yang sama. Dia menyapa, membantu mengangkat belanjaan, lalu mengantar sampai ke mobil. Ketika Amanda sedang sakit dan tidak masuk sekolah, Ragil datang ke rumah dengan membawa sup ayam buatan ibunya.
"Kamu kenapa repot-repot?" tanya ibu Amanda saat menerima sup ayam itu.
"Tidak repot, Bu. Amanda teman saya. Saya hanya ingin membantu."
"Kamu baik sekali, Nak. Siapa namanya?"
"Ragil, Bu."
Ibu Amanda tersenyum. "Ragil. Nama yang bagus. Saya dengar dari Amanda, kamu anak pengusaha?"
"Iya, Bu. Ayah saya punya usaha properti."
"Wah, hebat. Masa depan cerah."
"Terima kasih, Bu."
Ragil tidak tinggal lama. Dia pamit setelah memastikan sup ayamnya sampai dengan selamat. Ibu Amanda memanggil Amanda yang sedang terbaring di kamar.
"Ndah, ada teman kamu, Ragil. Dia bawain sup ayam."
Amanda mengerang. "Mah, suruh dia pulang. Aku gak mau dilihat dalam keadaan sakit."
"Dia sudah pulang. Tapi supnya masih hangat. Kamu makan?"
"Tidak."
"Jangan keras kepala. Kamu harus makan biar cepat sembuh."
"Aku tidak lapar."
Ibu Amanda menghela napas. Dia meletakkan sup ayam di meja samping tempat tidur, lalu duduk di tepi kasur. "Amanda, Ibu tahu kamu tidak suka dengan Ragil?"
"Bukan tidak suka. Hanya tidak tertarik."
"Apa bedanya?"
"Tidak suka itu benci. Tidak tertarik itu... biasa saja."
"Kalau begitu, mengapa kamu tidak mau menerima bantuannya? Dia hanya ingin berteman."
"Karena aku tahu, di balik pertemanannya, ada maksud lain. Dia ingin dekat denganku. Dia ingin aku jatuh cinta. Dan aku tidak mau memberikan harapan palsu."
Ibu Amanda tersenyum. Dia mengusap rambut Amanda yang kusut. "Kamu bijak, Ndah. Tapi jangan terlalu keras pada orang yang hanya ingin baik."
"Aku tidak keras, Mah. Aku hanya jujur."
"Jujur itu baik. Tapi jangan sampai kebaikan orang lain terbuang sia-sia hanya karena kejujuranmu yang terlalu kaku."
Amanda tidak menjawab. Dia memejamkan mata, berpura-pura tidur. Ibunya pergi meninggalkan kamar, membawa sup ayam yang masih utuh, tidak tersentuh.
Herman tidak tinggal diam mendengar kabar tentang Ragil. Dari Yanto yang mendapat informasi dari Dahlia (meskipun Yanto gagal mendekati Dahlia, dia masih bisa mengobrol biasa), Herman tahu bahwa Ragil mulai sering muncul di sekitar Amanda. Di les. Di pasar. Di rumah sakit saat Amanda sakit. Bahkan di Car Free Day , Ragil ikut jogging bersama rombongan Amanda meskipun dia tidak pernah jogging sebelumnya.
"Ragil itu anjing," kata Yanto suatu malam di kontrakan Herman. "Dia punya tim. Dia punya strategi. Dia punya mobil. Sementara kamu hanya punya kontrakan bocor dan kipas angin rusak."
Herman tidak marah. "Memangnya hubungan cinta diukur dari kontrakan dan kipas angin?"
"Tidak. Tapi diukur dari kemampuan memberikan kenyamanan. Dan Ragil jelas lebih nyaman daripada kamu."
"Aku juga bisa memberikan kenyamanan. Mungkin tidak dengan mobil atau uang. Tapi dengan ketulusan."
"Ketulusan tidak bisa dibeli di pasar, Man. Tapi mobil dan uang bisa dibeli di pasar."
Herman terdiam. Yanto memang kasar, tetapi logikanya sulit dibantah. Di dunia yang materialistis ini, ketulusan sering kalah oleh kemewahan. Orang lebih mudah terpesona oleh mobil baru daripada hati yang jujur.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Herman.
"Lawan. Jangan biarkan Ragil terus mendekati Amanda tanpa perlawanan."
"Tapi aku tidak ingin terlihat seperti orang yang cemburu buta."
"Memang kamu cemburu buta!"
"Hanya sedikit."
"Ya sudah. Tunjukkan sedikit kecemburuanmu. Biar Amanda tahu bahwa ada orang yang benar-benar peduli padanya, bukan hanya ingin memanfaatkan."
Herman mengangguk. Mungkin Yanto benar. Mungkin sudah saatnya dia menunjukkan bahwa dia tidak akan tinggal diam melihat Ragil mengambil alih posisi yang belum tentu dia miliki sekalipun.
Keesokan harinya, Herman mendatangi sekolah Amanda saat jam istirahat. Dia tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di depan gerbang, menunggu. Beberapa siswa melihatnya dengan curiga, tetapi Herman tidak peduli. Matanya terus mencari Amanda di antara kerumunan.
Setelah lima belas menit, Amanda muncul. Dia berjalan bersama Dahlia dan Sania menuju kantin. Herman melambaikan tangan.
Amanda melihat. Wajahnya sedikit berubah, antara terkejut dan kesal. "Herman? Ngapain kamu di sini?"
"Mau ngobrol. Bentar saja."
"Tidak bisa. Aku sedang istirahat. Jam istirahat hanya tiga puluh menit."
"Lima menit saja."
Amanda menghela napas. Dia memandang Dahlia dan Sania yang hanya mengangkat bahu. "Baiklah. Lima menit. Tapi di sini, tidak usah jauh-jauh."
Mereka berdua berdiri di bawah pohon rindang dekat gerbang sekolah. Herman mengatur napas, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar seperti drum band di pawai.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Amanda.
"Aku dengar Ragil sering mendekatimu."
"Lalu? Itu urusanku, bukan urusanmu."
"Aku tahu itu urusanmu. Tapi sebagai seseorang yang... yang peduli padamu, aku ingin mengingatkan bahwa Ragil tidak sebaik yang kamu lihat."
"Kamu kenal Ragil?"
"Tidak. Tapi temanku, Yanto, kenal dengan temannya Ragil. Ragil itu playboy. Dia sudah dekat dengan banyak cewek, lalu meninggalkan mereka ketika bosan."
Amanda tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, tetapi senyum sinis. "Kamu datang ke sekolahku, di jam istirahat, hanya untuk memfitnah Ragil?"
"Aku tidak memfitnah. Ini fakta."
"Fakta atau bukan, itu tidak penting. Karena aku tidak tertarik pada Ragil. Aku juga tidak tertarik padamu. Jadi, kamu tidak usah cemburu."
"aku tidak cemburu."
"Kamu cemburu. Matamu merah. Wajahmu panas. Tanganmu gemetar. Itu tanda-tanda orang cemburu."
Herman terdiam. Dia tidak bisa membantah. Amanda memang jeli membaca ekspresi orang.
"Pulanglah, Herman," kata Amanda. "Kembalilah ke kontrakanmu, tidur, lupakan Ragil, lupakan aku. Fokuslah pada pekerjaanmu. Itu lebih bermanfaat."
"Amanda..."
"Lima menit sudah habis. Permisi."
Amanda berbalik dan berjalan ke kantin, meninggalkan Herman yang berdiri di bawah pohon rindang dengan perasaan campur aduk. Dahlia melambai kecil pada Herman. Sania hanya menatap sekilas lalu mengikuti Amanda.
Herman menghela napas panjang. Dia gagal lagi. Jurus kesebelas yang baru dia rencanakan belum sempat dia lontarkan. Amanda sudah lebih dulu menusuk jantungnya dengan kata-kata tajam.
"Tapi setidaknya dia bilang tidak tertarik pada Ragil," bisik Herman pada dirinya sendiri. "Itu kabar baik."
Dia berjalan pulang dengan langkah berat, tetapi hatinya sedikit lebih ringan.
Sementara itu, di kantin sekolah, Amanda duduk di meja favoritnya dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Dahlia dan Sania duduk di hadapannya, memerhatikan dengan seksama.
"Jadi, Herman datang ke sekolah hanya untuk bilang bahwa Ragil playboy?" tanya Dahlia.
"Iya. Lucu, kan."
"Lucu atau menggemaskan?"
"Memuakkan."
"Tidak, Am. Menurutku itu menggemaskan. Dia cemburu, tapi tidak mau mengaku. Dia peduli, tapi tidak mau terlihat terlalu peduli. Itu tanda-tanda cowok yang benar-benar jatuh cinta."
Amanda menggeleng. "Jangan mulai, Dahlia. Aku tidak mau dengar ceramah cinta."
"Aku tidak berceramah. Aku hanya mengamati."
"Berhenti mengamati."
"Tidak bisa. Aku sudah terlanjur menjadi pengamat cinta kalian berdua."
Amanda melempar sedotan ke arah Dahlia, tetapi Dahlia dengan sigap menangkapnya. "Hei! Bisa kena mata!"
"Untung tidak kena."
Sania yang dari tadi diam, kini ikut bicara. "Am, aku setuju dengan Dahlia. Herman memang cemburu. Tapi kecemburuannya tidak beracun. Dia tidak memaki Ragil. Dia tidak mencemarkan nama baik Ragil. Dia hanya mengingatkan. Itu bentuk kepedulian yang halus."
"Kalian berdua sudah dia bayar, ya? Kok bela Herman terus?"
"Kamu minta bukti transfer?" tanya Dahlia.
"DIAM!"
Mereka bertiga tertawa. Amanda tertawa paling kecil, tetapi tetap tertawa. Dan di sela-sela tawanya, dia sedikit lega karena Herman tidak benar-benar pergi. Dia masih ada. Masih berusaha. Masih peduli meskipun ditolak mentah-mentah.
Malam harinya, Ragil mengadakan pertemuan darurat Tim Gengsi di warung kopi favorit mereka. Iwan, Feri, dan Sukat duduk di sekeliling meja, masing-masing memegang gelas kopi hitam yang sudah hampir habis.
"Bos, kabar buruk," kata Iwan.
"Apa?"
"Herman datang ke sekolah hari ini. Dia bilang ke Amanda bahwa Bos playboy. Bahwa Bos sudah dekat dengan banyak cewek dan meninggalkannya."
Ragil meneguk kopinya sampai habis. Wajahnya sedikit berubah, tetapi masih bisa mengendalikan diri. "Lalu bagaimana reaksi Amanda?"
"Amanda bilang dia tidak tertarik pada Bos. Juga tidak tertarik pada Herman. Jadi impas."
"Impas?"
"Iya. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang kalah."
Ragil menghela napas. "Setidaknya dia tidak percaya pada omongan Herman. Itu sudah cukup."
"Tapi Bos, reputasi Bos mulai dipertanyakan. Beberapa cewek di sekolah mulai bergosip bahwa Bos suka mengganti-ganti pacar."
"Biarkan mereka bergosip. Yang penting Amanda tidak percaya."
"Dan kalau Amanda mulai percaya?"
Ragil terdiam. Dia memainkan sendok di atas meja, memikirkannya seribu kali. "Kalau sampai terjadi, kita akan hadapi. Tapi untuk saat ini, kita teruskan strategi. Jangan sampai Herman unggul."
"Bos, aku punya ide," kata Sukat yang jarang bicara.
"Ide apa?"
"Kita sebarkan isu bahwa Herman playboy juga. Bahwa Herman punya banyak utang. Bahwa Herman orangnya tidak bertanggung jawab. Biar Amanda menjauh dengan sendirinya."
Ragil mengerutkan dahi. "Itu terlalu kejam."
"Ini perang, Bos. Tidak ada tempat untuk kelembutan."
Ragil berpikir panjang. Sebagai anak pengusaha, dia tahu bahwa dalam persaingan, kadang diperlukan cara-cara yang tidak sepenuhnya jujur. Tapi apakah dia rela melakukannya untuk Amanda? Apakah Amanda sepadan dengan pengorbanan moral itu?
"Belum," kata Ragil akhirnya. "Kita belum perlu pakai cara kotor. Cukup cara-cara elegan yang sudah kita lakukan. Herman tidak akan bertahan lama dengan sumber dayanya yang terbatas."
"Siap, Bos!" jawab mereka bertiga.
Mereka menghabiskan kopi masing-masing, lalu pulang ke rumah. Di perjalanan, Ragil terus memikirkan Herman. Cowok kontraktor yang tidak punya mobil. Cowok yang rela berlutut di lantai rumah orang hanya untuk minta maaf. Cowok yang menulis puisi cinta meskipun hasilnya jelek. Cowok yang membuatnya merasa terancam, meskipun secara logika dia tidak perlu merasa terancam sama sekali.
"Kenapa aku bisa kalah sama orang seperti Herman?" bisik Ragil pada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berhembus, membawa bau tanah basah dan aroma khas kota kecil yang sedang terlelap.
Di kontrakannya, Herman juga tidak bisa tidur. Dia memandang ponselnya, membuka Instagram, lalu melihat foto terbaru Amanda. Foto itu diambil di Car Free Day minggu lalu. Amanda jogging sendirian, tanpa rombongan, tanpa Ragil. Wajahnya serius, fokus, tidak tersenyum. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Herman merasa bahwa dia tidak sepenuhnya menutup pintu.
"Amanda," bisik Herman. "Aku tahu kamu tidak tertarik padaku sekarang. Tapi suatu hari nanti, kamu akan sadar bahwa aku ada di sini. Bukan untuk mengejar, tetapi untuk menunggu. Dan menunggu adalah bentuk cinta yang paling sabar."
Dia mematikan ponsel, memejamkan mata, dan tertidur dengan bayangan Amanda yang jogging sendirian di Car Free Day . Tanpa Ragil. Tanpa Herman. Hanya Amanda dan jalan panjang yang membentang di depannya.
Dan di dalam mimpinya, Herman berjalan di samping Amanda. Mereka tidak berbicara. Hanya berjalan. Bersama. Menuju ke arah yang sama.
Mimpi yang mungkin suatu hari menjadi nyata.
BAB 8
HUTAN KOTA, AIR MATA DAN JURUS KE 17
Taman Hutan Kota Kuala Kapuas terletak di depan Rumah Sakit Umum Daerah, di sebidang tanah seluas sekitar setengah hektar yang dipenuhi oleh pohon-pohon perindang yang tidak terlalu tinggi. Tempat ini bukanlah taman biasa. Ini adalah tempat di mana orang-orang datang untuk istirahat di pagi hari, untuk duduk-duduk di sore hari, atau untuk menangis di malam hari. Karena letaknya yang persis di seberang RSUD, tak jarang keluarga pasien yang sedang menunggu kabar dari dalam rumah sakit duduk di sini sambil merokok, menangis, atau sekadar menatap kosong ke arah langit. Taman ini adalah saksi bisu dari ribuan cerita manusia. Cerita tentang sakit, tentang sembuh, tentang harapan, dan tentang putus asa.
Hari itu, Kamis sore, langit Kuala Kapuas mendung sejak jam dua siang. Awan-awan hitam bergulung perlahan di atas kota, seperti raksasa yang sedang meregangkan otot-ototnya sebelum menurunkan hujan deras. Namun hujan belum turun hingga pukul setengah lima sore. Udara terasa panas dan lembab, seperti keringat yang menguap perlahan dari pori-pori bumi. Tidak banyak orang yang berani keluar rumah pada sore seperti ini. Mereka lebih memilih tinggal di dalam, menyalakan kipas angin, dan menunggu hujan turun dengan sabar. Tapi ada satu orang yang justru memilih untuk duduk sendirian di Taman Hutan Kota pada sore yang mencekam itu. Orang itu adalah Amanda.
Amanda datang dengan berjalan kaki dari rumahnya yang berjarak sekitar satu kilometer. Dia tidak memakai sepatu, hanya sandal jepit. Dia tidak memakai jaket, hanya kaos oblong longgar berwarna abu-abu. Rambutnya dibiarkan terurai, tidak diikat seperti biasanya. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan hidungnya sedikit merah. Tanda-tanda bahwa dia baru saja menangis, atau setidaknya sedang menahan tangis yang sangat kuat.
Bukan tanpa alasan Amanda memilih Taman Hutan Kota sebagai tempat pelariannya. Tiga puluh menit yang lalu, di rumahnya yang megah di Jalan Nusa Indah, dia bertengkar hebat dengan orang tuanya. Bukan tentang Ragil. Bukan tentang Herman. Bukan tentang cowok-cowok yang mendekatinya. Tapi tentang nilai ujian. Nilai ujian Matematika yang baru saja keluar hari ini. Amanda mendapat nilai tujuh puluh lima. Angka yang sebenarnya tidak jelek-jelek amat. Masih di atas rata-rata kelas yang hanya enam puluh delapan. Tapi bagi ayah Amanda, yang memiliki standar sangat tinggi untuk anak tunggalnya, nilai tujuh puluh lima adalah kegagalan.
"Kamu tidak serius belajar!" bentak ayah Amanda di ruang tengah, dengan suara yang cukup keras untuk membuat pembantu di dapur ikut bergidik.
"Aku sudah belajar, Yah," jawab Amanda dengan suara tertahan.
"Belajar? Belajar apa? Main Instagram? Main TikTok? Jalan-jalan sama teman?"
"Aku belajar setiap malam, Yah. Aku serius."
"Buktinya? Nilaimu tujuh puluh lima! Itu angka yang memalukan!"
Amanda menunduk. Tangannya menggenggam erat lembar nilai yang baru saja dia terima dari sekolah. Kertas itu sudah sedikit kusut karena digenggam terlalu keras. "Aku akan berusaha lebih baik lagi, Yah."
"Berusaha saja tidak cukup! Kamu harus berhasil!"
Ayah Amanda terus mengomel selama sepuluh menit penuh. Ibu Amanda mencoba menengahi, tetapi ayah Amanda sudah terlalu marah. Dia terus membandingkan Amanda dengan anak-anak temannya yang katanya lebih pintar, lebih rajin, lebih berprestasi. Amanda mendengar semua itu dalam diam. Tidak membantah. Tidak menangis. Hanya diam. Sampai akhirnya dia tidak tahan lagi.
"CUKUP, YAH!" teriak Amanda tiba-tiba. Air matanya jatuh. "Aku sudah berusaha! Aku sudah belajar mati-matian! Tapi aku juga manusia! Aku punya batas!"
Ayah Amanda terkejut. Dia jarang melihat anaknya berteriak seperti itu. Amanda adalah anak yang pendiam di rumah, jarang membantah, jarang melawan. Tapi kali ini, air matanya berbicara lebih keras daripada kata-katanya.
"Kamu... berani-beraninya kamu membentak ayahmu?" suara ayah Amanda mulai meninggi lagi.
"Amanda, jangan," potong ibu Amanda cepat. "Kamu ke kamar dulu. Tenangkan diri."
Amanda tidak menunggu perintah kedua. Dia berlari ke kamar, membanting pintu, lalu mengambil kunci motornya. Tanpa pamit, dia keluar dari rumah melalui pintu belakang, menyalakan motor, dan melaju kencang meninggalkan Jalan Nusa Indah. Dia tidak tahu mau ke mana. Yang dia tahu, dia tidak bisa tinggal di rumah satu menit pun lebih lama. Dia butuh udara. Dia butuh tempat untuk menangis tanpa dilihat oleh orang tuanya. Dan pilihannya jatuh pada Taman Hutan Kota.
Setibanya di taman, Amanda memarkir motornya di pinggir jalan, lalu berjalan masuk ke area taman. Dia memilih bangku kayu yang paling tersembunyi, di bawah pohon trembesi paling rindang, di sudut paling sepi taman. Dari sana, dia tidak bisa terlihat dari jalan raya. Hanya burung-burung pipit dan sesekali kucing liar yang menjadi temannya.
Amanda duduk. Diam. Menatap rumput di depannya yang mulai menguning karena musim kemarau. Lalu air matanya jatuh. Perlahan pada awalnya, seperti tetesan air keran yang bocor. Kemudian semakin deras, seperti hujan yang tidak bisa lagi ditahan oleh langit. Dia menangis dengan suara yang teredam, tertahan, karena dia tidak ingin ada orang yang mendengarnya. Tapi di taman yang sepi sore itu, suara tangisannya tetap terdengar, bergema di antara batang-batang pohon trembesi yang menjulang tinggi.
"Kenapa aku tidak cukup baik?" bisik Amanda di sela-sela tangisannya. "Kenapa aku selalu gagal memenuhi harapan mereka? Kenapa nilai tujuh puluh lima dianggap sebagai kegagalan? Kenapa cinta mereka begitu bersyarat?"
Dia tidak mengharapkan jawaban. Dia hanya ingin meluapkan. Taman ini adalah tempat yang aman untuk menangis. Tidak ada yang akan menghakimi. Tidak ada yang akan membandingkannya dengan anak orang. Hanya dia dan pohon-pohon pelindung yang setia mendengarkan tanpa memberikan nasihat yang tidak diminta.
Pada saat yang hampir bersamaan, sekitar lima ratus meter dari Taman Hutan Kota, Herman sedang berjalan kaki pulang dari proyek perumahan. Hari ini dia lembur karena pengiriman material semen molor tiga jam dari jadwal. Badannya pegal, bajunya penuh debu, dan perutnya keroncongan karena belum makan siang. Biasanya dia akan langsung ke kontrakan, mandi, lalu makan nasi bungkus sambil menonton televisi pinjaman dari tetangga. Tapi hari ini, entah mengapa, kakinya membawanya ke arah Taman Hutan Kota. Bukan karena dia tahu bahwa Amanda ada di sana. Hanya karena dia ingin duduk sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Taman itu adalah tempat yang pas untuk beristirahat.
Herman masuk ke taman dari pintu utara, berjalan perlahan menyusuri jalur pedestrian yang dilapisi paving block merah. Matanya mengamati sekeliling. Beberapa pasangan muda duduk di bangku-bangku lain, tetapi dia tidak peduli. Dia terus berjalan ke arah selatan, ke arah bangku yang paling sepi di bawah pohon pelindung.
Lalu dia melihatnya.
Seorang perempuan dengan kaos abu-abu, rambut terurai, duduk sendirian di bangku kayu itu. Wajahnya tertunduk, bahunya bergetar pelan. Suara isak tangis terdengar samar-samar, seperti orang yang berusaha mati-matian untuk tidak bersuara.
Herman berhenti melangkah. Hampir saja dia berbalik untuk pergi. Dia tidak ingin mengganggu. Dia tahu bahwa orang yang menangis biasanya ingin sendirian. Tapi kemudian dia mengenali kaos abu-abu itu. Dia mengenali rambut panjang yang tergerai itu. Dia mengenali postur tubuh yang meskipun tertunduk, tetap tegas dan berwibawa.
"Amanda?" bisik Herman.
Dia menggeleng. Tidak mungkin. Amanda tidak mungkin berada di sini, di taman depan RSUD, pada sore mendung seperti ini. Amanda adalah perempuan kuat yang tidak mudah menangis. Amanda adalah perempuan yang lebih sering marah daripada sedih. Tapi suara isak tangis itu terlalu mirip. Terlalu familiar.
Herman mendekat perlahan. Setiap langkahnya terasa berat, seperti menginjak tanah liat basah yang lengket di sepatu. Dia tidak ingin mengagetkan. Dia tidak ingin diusir. Dia hanya ingin memastikan.
Ketika jarak mereka tinggal tiga meter, Herman berhenti.
"Amanda?" panggilnya dengan suara pelan, hampir berbisik.
Perempuan itu mengangkat kepala.
Mata mereka bertemu.
Ya. Itu Amanda. Wajahnya basah oleh air mata. Matanya merah, sembab, dan berkaca-kaca. Hidungnya merah seperti badut sirkus. Bibirnya gemetar menahan tangis yang baru saja sempat berhenti. Dia tampak sangat rapuh, sangat berbeda dengan Amanda yang biasa marah-marah, yang biasa membentak Herman dengan suara lantang.
"HERMAN?" suara Amanda parau, seperti orang yang baru saja berteriak sekencang-kencangnya. "KAMU NGAPAIN DI SINI?"
Herman mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Aku tidak sengaja. Aku hanya mau duduk bentar. Capek habis lembur. Aku tidak tahu kamu di sini."
"PERGI! JANGAN LIHAT AKU!"
"Amanda..."
"PERGI, HERMAN! SEKARANG!"
Tapi Herman tidak pergi. Dia justru duduk di bangku yang sama, di ujung lainnya, dengan jarak sekitar satu meter dari Amanda. Dia tidak mendekat. Tidak mencoba menyentuh. Hanya duduk diam, menatap ke arah yang berbeda, memberi ruang bagi Amanda untuk menangis tanpa merasa diawasi.
"Aku tidak akan pergi," kata Herman pelan. "Tapi aku juga tidak akan mengganggumu. Aku hanya akan duduk di sini. Kalau kamu butuh tisu, aku punya. Kalau kamu butuh bahu, aku bisa pinjamkan. Kalau kamu butuh didiamkan, aku juga bisa diam."
"AKU TIDAK BUTUH APA-APA DARI KAMU!" teriak Amanda.
"Iya, aku tahu. Tapi biarkan aku tetap di sini."
Amanda ingin berteriak lagi. Ingin membentak Herman habis-habisan seperti biasanya. Tapi tangisnya lebih kuat daripada amarahnya. Dia kembali menunduk, kembali menangis, kali ini dengan suara yang lebih keras, lebih lepas, tidak lagi ditahan-tahan. Dia menangis untuk nilai tujuh puluh lima. Dia menangis untuk kata-kata ayahnya yang tajam seperti pecahan kaca. Dia menangis untuk semua harapan yang tidak bisa dia penuhi. Dia menangis untuk dirinya sendiri yang merasa tidak pernah cukup baik.
Herman mendengar tangisan itu. Dadanya terasa sesak. Matanya ikut berkaca-kaca, meskipun dia tidak menangis. Dia hanya duduk diam di ujung bangku, menawarkan kehadirannya sebagai bentuk solidaritas yang paling sederhana. Tidak ada kata-kata hikmah. Tidak ada nasihat bijak. Hanya kehadiran yang tenang, yang mengatakan, "Kamu tidak sendirian."
Dari dalam saku celananya, Herman mengeluarkan sebungkus tisu mini yang selalu dia bawa sejak ibunya meninggal. Tisu itu adalah kebiasaan lama, warisan dari ibunya yang selalu berkata, "Anak laki-laki juga boleh bawa tisu. Tidak ada yang salah dengan menjadi lembut." Herman menyodorkan tisu itu ke arah Amanda tanpa berkata apa-apa.
Amanda melihat tisu itu. Tangannya gemetar mengambil satu lembar, lalu mengusap air matanya yang masih terus mengalir. "Makasih," bisiknya. Suara tangisnya masih terdengar di sela-sela kata itu.
"Sama-sama," jawab Herman.
Mereka duduk dalam diam. Amanda menangis. Herman menunggu. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang masih setia menunggu hujan. Daun-daun trembesi bergoyang-goyang seperti berbisik satu sama lain tentang dua anak muda yang sedang duduk di bangku taman dengan hati yang sama-sama luka. Satu terluka karena nilai dan orang tua. Satu lagi terluka karena cinta yang belum berbalas. Tapi di sore yang mendung itu, luka mereka seolah menyatu, menjadi satu rasa yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Setelah sekitar sepuluh menit, tangis Amanda mulai mereda. Dia mengusap sisa-sisa air mata di pipinya dengan tisu terakhir yang dia miliki. Wajahnya masih merah, matanya masih sembab, tetapi ekspresinya tidak lagi sekacau sebelumnya. Dia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menatap Herman yang masih setia duduk di ujung bangku.
"Kamu masih di sini," kata Amanda dengan suara datar.
"Iya. Aku bilang aku tidak akan pergi."
"Kamu bodoh."
"Mungkin."
"Kenapa kamu tidak pergi ketika aku menyuruhmu pergi?"
"Karena kamu tidak benar-benar ingin aku pergi."
Amanda mengerjap. "Maksudmu?"
"Kalau kamu benar-benar ingin aku pergi, kamu akan berdiri dan pergi sendiri. Tapi kamu tetap duduk di sini. Itu artinya, di dalam hatimu yang paling dalam, kamu menginginkan seseorang untuk tetap di sampingmu. Dan aku memilih menjadi orang itu."
Amanda terdiam. Kata-kata Herman menusuk sesuatu yang selama ini dia sembunyikan. Selama ini dia selalu berusaha terlihat kuat, mandiri, tidak butuh siapa-siapa. Tapi kenyataannya, di saat-saat seperti ini, ketika semua topeng jatuh, dia hanyalah seorang gadis yang lelah. Lelah berpura-pura kuat. Lelah memenuhi ekspektasi. Lelah hidup dengan standar yang tidak pernah dia minta.
"Kamu terlalu percaya diri, Herman," kata Amanda setelah beberapa saat.
"Bukan percaya diri. Aku hanya jujur."
"Jujur itu kadang menyebalkan."
"Aku tahu. Tapi lebih baik menyebalkan daripada berbohong."
Amanda menghela napas. Dia memandang langit di atas mereka yang masih mendung. Hujan belum turun, tetapi udara sudah terasa dingin. Angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya, membuat rambutnya yang terurai terbang ke sana kemari.
"Kamu mau tahu kenapa aku menangis?" tanya Amanda.
"Kalau kamu mau cerita, aku akan mendengarkan."
"Aku bertengkar dengan ayahku. Soal nilai ujian. Aku dapat tujuh puluh lima. Dia bilang itu memalukan."
Herman tidak terkejut. Dia sudah mendengar dari Yuni bahwa ayah Amanda terkenal keras dalam hal pendidikan. "Nilai tujuh puluh lima itu bagus," kata Herman.
"Tidak menurut ayahku."
"Ayahmu salah."
Amanda menoleh. Matanya sedikit membelalak. "Kamu bilang ayahku salah?"
"Iya. Ayahmu salah. Memarahi anak karena nilai tujuh puluh lima adalah kesalahan. Seharusnya dia mendukungmu, bukan menghakimimu. Seharusnya dia bertanya apa yang membuatmu kesulitan, bukan langsung marah. Tapi mungkin ayahmu tidak tahu cara yang benar untuk menunjukkan kepedulian. Mungkin dia juga manusia biasa yang bisa salah."
Amanda tidak menyangka Herman akan sebaik itu. Biasanya orang-orang akan berkata, "Ya, orang tua pasti benar," atau "Kamu harus menghormati orang tua." Tapi Herman berbeda. Dia berani mengatakan bahwa ayah Amanda salah. Dan di dalam hati Amanda yang paling dalam, dia setuju.
"Kamu berani," kata Amanda.
"Sekali-sekali berani tidak ada salahnya."
"Kamu tidak takut aku marah?"
"Kamu sudah marah berkali-kali padaku. Aku sudah kebal."
Amanda tersenyum kecil. Senyum pertama setelah tangisan panjangnya. Senyum yang membuat Herman merasa bahwa semua perjuangannya tidak sia-sia. "Kamu aneh, Herman. Cowok lain pasti sudah kabar karena aku galak. Tapi kamu malah bertahan."
"Karena aku melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh cowok lain."
"Apa?"
"Hati yang baik. Di balik semua kemarahanmu, di balik semua bentakanmu, aku melihat hati yang baik. Hati yang peduli. Hati yang sebenarnya lembut, tetapi terpaksa keras karena keadaan."
Amanda terdengar. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia tidak tahu harus berkata apa. Selama ini, tidak ada satupun cowok yang mengatakan hal seperti itu padanya. Mereka hanya melihat kecantikannya, atau popularitasnya, atau status sosialnya. Tapi tidak ada yang melihat hatinya. Sampai Herman datang dengan segala kekonyolannya.
"Herman, aku..."
"Tidak usah bilang apa-apa kalau kamu belum siap. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini. Bukan untuk menekanmu. Bukan untuk memaksamu. Tapi untuk menemanimu. Kapan pun kamu butuh."
Amanda menggigit bibir bawahnya. Air matanya hampir jatuh lagi, tetapi bukan air mata sedih. Ini air mata haru. Air mata yang keluar karena seseorang akhirnya melihat dirinya sebagai manusia, bukan sebagai objek atau prestasi.
"Terima kasih, Herman," bisik Amanda.
"Sama-sama, Amanda."
Mereka berdua duduk di bangku taman itu hingga langit mulai gelap. Hujan tidak kunjung turun, meskipu awan-awan hitam masih bergelayut di atas kepala mereka. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, memberikan cahaya kuning keemasan yang romantis. Di kejauhan, terdengar suara azan Magrib dari masjid di seberang RSUD. Suara merdu yang mengingatkan bahwa hari sudah berganti sore, dan malam akan segera datang.
"Aku harus pulang," kata Amanda sambil berdiri.
"Aku antar."
"Tidak usah. Aku bawa motor."
"Setidaknya aku akan menemanimu sampai ke motormu."
"Baik."
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju pintu utara taman, tempat di mana motor Amanda terparkir. Jarak antara mereka masih sekitar setengah meter, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup untuk merasakan kehadiran satu sama lain, tetapi tidak untuk disentuh.
"Sampai di sini," kata Amanda ketika sampai di motornya.
"Baik. Hati-hati di jalan."
"Kamu juga. Jangan pulang larut malam. Nanti dipalakin preman."
"Aku tidak punya apa-apa untuk dirampok. Hanya tisu dan permen karet."
Amanda tertawa kecil. "Kamu masih bawa permen karet?"
"Hanya untuk jaga-jaga. Kalau ada yang perlu ditempelin."
"Jangan coba-coba, Herman."
"Iya. Aku hanya bercanda."
Amanda menyalakan motornya. Mesinnya bergetar pelan, seperti jantung yang berdegup setelah lama beristirahat. Dia memasang helm, mengikat tali dagunya, lalu menatap Herman untuk terakhir kalinya.
"Hei, Herman."
"Ya?"
"Jurus ke berapa ini?"
Herman mengerjap. "Apa?"
"Jurus ke berapa. Kamu kan punya jurus-jurus. Aku dengar dari Dahlia. Sampai jurus sepuluh semuanya gagal. Ini jurus ke berapa?"
Herman tersenyum. "Ini jurus ke tujuh belas."
"Tujuh belas? Gila. Sepuluh gagal, tujuh belasnya?"
"Belum tahu. Masih berlangsung."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu benar-benar gila, Herman. Tapi entah mengapa, kegilaanmu mulai terasa... tidak terlalu mengganggu."
"Itu artinya aku mulai diterima?"
"Itu artinya aku mulai terbiasa. Belum tentu menerima."
"Tidak masalah. Terbiasa adalah awal dari penerimaan."
Amanda tidak menjawab. Dia menginjak gas dan melaju perlahan meninggalkan Taman Hutan Kota. Herman berdiri di pinggir jalan, melambai, sampai motor Amanda benar-benar hilang dari pandangan.
Dia kemudian berjalan pulang ke kontrakannya dengan langkah ringan. Pikirannya penuh dengan Amanda yang menangis, Amanda yang tersenyum, Amanda yang bilang kegilaannya tidak terlalu mengganggu. Itu adalah kemajuan besar. Kemajuan yang tidak bisa diukur dengan angka, tetapi dengan perasaan.
"Mungkin ini saatnya untuk jurus ke delapan belas," bisik Herman pada dirinya sendiri sambil tersenyum.
Sesampainya di rumah, Amanda memarkir motor di garasi, lalu masuk ke dalam melalui pintu dapur. Ibunya sedang memasak di dapur. Wajahnya sedikit cemas melihat Amanda yang masuk dengan mata masih sembab.
"Ndah, kamu sudah pulang," sapa ibunya pelan.
"Iya, Mah."
"Ayahmu sudah tenang. Dia menyesal sudah membentakmu."
"Tidak apa-apa, Mah. Aku juga salah sudah membentak balik."
"Kamu mau makan? Ibu masak sup ayam."
"Tidak, Mah. Aku mau tidur."
Amanda berjalan ke kamarnya. Sepanjang koridor, dia tidak bertemu ayahnya. Mungkin ayahnya sedang di kamar, atau di ruang keluarga, atau di teras. Amanda tidak tahu. Yang dia tahu, dia butuh waktu sendiri untuk memproses semua yang terjadi sore ini. Nilai tujuh puluh lima. Pertengkaran dengan ayah. Tangisan di taman. Dan kehadiran Herman yang tidak terduga.
Dia membaringkan diri di kasur, memeluk bantal, lalu menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Di sudut kamar, baju olahraga putih yang terkena permen karet masih tergeletak. Sudah lebih dari sebulan, tetapi permen karet itu masih menempel dengan setia. Amanda belum berhasil membersihkannya, meskipun dia sudah mencoba puluhan cara.
"Apa aku memang harus menerima bahwa permen karet itu tidak akan pernah lepas?" bisik Amanda pada dirinya sendiri.
Dia memejamkan mata. Bayangan Herman muncul lagi. Herman yang duduk di ujung bangku taman, diam, setia, menawarkan tisu tanpa banyak bicara. Herman yang berani mengatakan ayahnya salah. Herman yang menyebut hatinya baik.
"Kenapa kamu tidak seperti ini dari awal, Herman?" bisik Amanda. "Kenapa kamu harus memulai dengan permen karet?"
Tapi pada saat yang sama, dia sadar bahwa jika Herman memulai dengan cara biasa, mungkin dia tidak akan pernah memperhatikan. Permen karet itulah yang membuat semuanya berbeda. Permen karet itulah yang membuat Herman tidak bisa dilupakan.
"Herman..." bisik Amanda sekali lagi sebelum dia tertidur.
Untuk pertama kalinya, dia menyebut nama Herman dengan lembut. Tanpa kemarahan. Tanpa kebencian. Hanya dengan rasa syukur yang aneh.
BAB 9
DARI BENCI JADI PENASARAN
Tiga hari setelah pertemuan di Taman Hutan Kota, suasana hati Amanda berubah secara perlahan tetapi pasti. Seperti es batu yang dibiarkan di suhu ruangan, kemarahannya mulai mencair dari tepi-tepi, meninggalkan genangan air jernih yang memantulkan cahaya dengan cara yang berbeda. Dia tidak lagi merasa kesal setiap kali mendengar nama Herman. Dia tidak lagi menggerutu setiap kali mengingat permen karet yang masih setia menempel di baju olahraga putihnya. Bahkan, tanpa dia sadari, dia mulai mencari-cari sosok Herman di keramaian Car Free Day , di deretan toko di Pasar Sari Mulya, di antara wajah-wajah asing yang lalu-lalang di jalanan Kota Kuala Kapuas.
Amanda sedang berubah. Dan perubahan itu, meskipun dia enggan mengakuinya, adalah buah dari ketulusan Herman yang terus-menerus mengalir seperti air sungai yang tidak pernah berhenti. Sehari setelah kejadian di taman, Herman tidak mengirim pesan. Dia tidak muncul di depan rumah. Dia tidak mengirim puisi atau bunga atau tahu walik. Dia hanya diam, seperti dia pernah janji bahwa dia akan memberi ruang bagi Amanda. Kedua hari setelahnya, Herman muncul di Car Free Day seperti biasa, duduk di bangku taman Hutan Kota, melambai pelan dan tersenyum, ketika rombongan Amanda lewat. Tidak lebih. Tiga hari setelahnya, Herman tidak muncul sama sekali. Dan di situlah perubahan itu mulai terasa.
Hari Sabtu pagi, Amanda bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja terbit di ufuk timur, langit masih berwarna jingga keemasan, dan ayam-ayam tetangga masih bersahut-sahutan dengan suara yang saling bersaing. Amanda duduk di tepi kasurnya, matanya setengah terbuka, rambutnya masih kusut seperti sarang burung yang baru ditinggalkan induknya. Dia menguap, menggaruk lengannya yang gatal bekas gigitan nyamuk semalam, lalu menggapai ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur.
Dia membuka Instagram.
Menggulir.
Menggulir lagi.
Tidak ada postingan baru dari Herman. Postingan terakhirnya masih tiga hari yang lalu, foto langit sore dengan tulisan, "Hari ini aku belajar bahwa diam juga bisa menjadi bentuk cinta."
Amanda membaca caption itu berkali-kali. Diam juga bisa menjadi bentuk cinta. Apa maksudnya? Apakah Herman sedang marah? Sedih? Kecewa? Atau hanya sedang sibuk dengan pekerjaannya? Amanda penasaran. Sangat penasaran. Dan rasa penasaran itu menggelitik perutnya seperti ada ulat bulu yang merayap perlahan di atas kulit.
"Mungkin dia lagi sibuk di proyek," bisik Amanda pada dirinya sendiri.
Tapi pikirannya tidak bisa berhenti. Dia membuka aplikasi peta, mencari lokasi proyek perumahan tempat Herman bekerja. Ada tiga proyek perumahan di Kuala Kapuas, tetapi dia tidak tahu yang mana. Dia bisa bertanya pada Dahlia, atau Yuni, atau siapapun yang mungkin tahu. Tapi apakah dia terlihat terlalu berlebihan jika sampai mencari alamat tempat kerja Herman? Tentu saja. Itu gila. Itu tidak masuk akal. Amanda bukan tipe perempuan yang mengejar cowok. Apalagi cowok yang sudah dia benci sejak pertemuan pertama.
Tapi rasa penasaran itu tidak bisa dia padamkan dengan alasan-alasan logis.
"Pokoknya hari ini aku harus ke Car Free Day ," putus Amanda. "Bukan karena Herman. Karena aku butuh olahraga. Sudah seminggu tidak jogging."
Alasan yang bagus. Alasan yang logis. Alasan yang bisa dia pertanggungjawabkan jika ada yang bertanya.
Pukul setengah tujuh pagi, Amanda sudah berada di Car Free Day . Dia tidak bersama rombongannya. Dahlia sedang pergi ke luar kota. Yunita sedang sakit. Anita dan Sania sedang ada acara keluarga. Jadi Amanda datang sendirian, memakai kaos olahraga putih baru (yang ini tidak perlu ditempeli permen karet), celana legging hitam, dan sepatu kets yang sudah agak lusuh karena terlalu sering dipakai.
Dia berlari kecil di sepanjang jalur jogging, matanya sesekali melirik ke bangku taman Hutan Kota, tempat Herman biasa duduk.
Bangku itu kosong.
Amanda mengerjap. Dia memperlambat larinya, lalu berjalan biasa, agar bisa melihat lebih jelas.
Bangku itu benar-benar kosong. Tidak ada Herman. Tidak ada Ahmat. Tidak ada Yanto atau Mahdili atau Yuni , Bintang atau Herawati. Tidak ada siapa-siapa. Hanya bangku kosong dengan serpihan daun kering di atasnya.
"Mungkin mereka telat," bisik Amanda.
Dia melanjutkan larinya. Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran.
Tidak ada Herman.
Setelah putaran keempat, Amanda berhenti di dekat air mancur (yang lagi-lagi tidak menyala karena bukan akhir pekan). Dia duduk di pinggiran kolam kering, minum air putih dari botol yang dia bawa dari rumah, lalu memandangi bangku kosong itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Kecewa? Mungkin. Sedih? Sedikit. Kesal? Juga sedikit. Tapi yang paling dominan adalah rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi seperti api yang disiram bensin.
Herman tidak muncul.
Dia juga tidak muncul di Car Free Day minggu lalu. Dan minggu sebelumnya? Amanda mencoba mengingat. Minggu sebelumnya Herman masih ada, duduk di bangku itu, melambai padanya. Lalu minggu ini? Tidak ada. Benar-benar hilang seperti ditelan bumi.
"Kenapa dia tidak datang?" gumam Amanda.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku pinggangnya. Membuka Instagram. Membuka chat dengan Herman. Pesan terakhir mereka masih seminggu yang lalu, tentang tiket bioskop yang ditolak Amanda. Belum ada pesan baru.
Jarinya bergetar. Dia ingin mengetik sesuatu. "Kamu kenapa tidak datang ke Car Free Day ?" atau "Apa kamu sakit?" atau "Apa kamu sudah menyerah?" Tapi dia tidak jadi. Tombol kirim tidak pernah dia sentuh.
"Mengapa aku repot-repot memikirkan dia?" desis Amanda kesal.
Dia memasukkan ponsel kembali ke saku, berdiri, dan berlari lebih kencang dari sebelumnya. Seolah-olah dengan berlari, dia bisa meninggalkan rasa penasaran itu di belakangnya. Tapi rasa penasaran itu terus mengejarnya, seperti bayangan yang tidak bisa dia hindari.
Pulang dari Car Free Day , Amanda mampir ke Pasar Sari Mulya. Ayahnya menyuruhnya membeli tahu walik dari warung Mak Endut, tahu walik favorit keluarga yang katanya paling enak di Kota Kuala Kapuas. Amanda berjalan di antara deretan lapak basah, mencium bau ikan asin, daging mentah, dan sayuran segar yang baru dipetik dari kebun. Matanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu. Atau seseorang.
Lalu dia melihatnya.
Di sudut pasar, dekat lapak sayur milik nenek-nenek tua yang selalu memakai topi caping, seorang laki-laki sedang jongkok sambil memilih cabai merah. Laki-laki itu memakai kaos abu-abu lusuh, celana jeans belel, dan sandal jepit yang sudah hampir putus di bagian talinya.
Herman.
Amanda berhenti melangkah. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia tidak tahu kenapa dia bereaksi seperti itu. Bukankah ini hanya Herman? Cowok gila yang pernah nempelkan permen karet di bajunya? Cowok yang selalu gagal dalam setiap jurus cintanya? Cowok yang sering membuatnya jengkel setengah mati? Kenapa dia harus berdebar-debar hanya karena melihatnya sedang memilih cabai di pasar?
Herman belum melihat Amanda. Dia terlalu fokus pada cabai-cabai merah yang dia pilih satu per satu dengan sangat teliti, seperti seorang ilmuwan yang sedang meneliti spesimen langka. Kadang dia menekan cabai dengan ibu jari, mencium baunya, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik. Kadang dia menolak cabai yang terlalu lembek atau terlalu kecil. Dia sangat serius. Sangat fokus. Seolah-olah memilih cabai adalah pekerjaan paling penting di dunia.
Amanda tersenyum tanpa sadar. Ada sesuatu yang menggemaskan dari Herman yang sedang serius memilih cabai. Sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kerapuhan. Kesederhanaan. Ketulusan dalam hal-hal kecil.
"Herman," panggil Amanda pelan.
Herman menoleh. Matanya membelalak. Wajahnya berubah dari fokus menjadi kaget, lalu dari kaget menjadi senang. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi depannya yang agak maju ke depan. "Amanda! Kamu di sini?"
"Iya. Belanja."
"Belanja apa?"
"Tahu walik."
"Tahu walik warung Mak Endut?"
"Iya."
"Enak tuh. Aku juga suka."
Amanda mengerjap. "Kamu tahu warung Mak Endut?"
"Tahu. Aku pernah beli tahu walik di sana buat... seseorang."
"Buat siapa?"
Herman tersenyum malu. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Buat kamu."
Amanda terdiam. Jadi tahu walik yang dia terima beberapa minggu lalu itu dari Herman. Bukan dari kurir biasa. Herman sendiri yang mengantarkannya, meskipun dia tidak sampai bertemu karena sedang mandi.
"Kamu yang antar tahu walik itu?" tanya Amanda.
"Iya. Tapi kamu mandi waktu itu, jadi aku titip sama ibumu."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Bilang apa? 'Aku yang antar tahu waliknya, bukan kurir'? Itu akan terdengar seperti aku mencari perhatian."
"Memang kamu mencari perhatian."
"Sekali-sekali tidak apa-apa."
Amanda menghela napas. Dia berjalan mendekat, lalu jongkok di samping Herman. Dari jarak dekat, dia bisa melihat wajah Herman dengan lebih jelas. Ada kumis tipis yang mulai tumbuh di atas bibirnya. Ada bekas jerawat di pipi kirinya. Ada keringat di pelipisnya karena udara pasar yang panas. Wajah biasa. Bukan wajah bintang film. Bukan wajah model. Tapi biasa. Dan di dalam kewajaran itu, Amanda menemukan sesuatu yang anehnya menarik.
"Kamu belanja cabai untuk apa?" tanya Amanda.
"Untuk masak. Aku mau masak rendang."
"Kamu bisa masak rendang?"
"Belajar. Ibuku dulu jago masak rendang. Aku ingin melanjutkan resepnya."
"Kenapa tidak minta diajarin langsung?"
Herman terdiam. Wajahnya sedikit berubah. "Ibuku sudah meninggal, Amanda. Tiga tahun yang lalu."
Amanda tersentak. Dia tidak tahu. Selama ini dia hanya melihat Herman sebagai cowok idiot yang mengganggunya. Dia tidak pernah bertanya tentang keluarga Herman. Tidak pernah peduli dengan latar belakangnya. Dan sekarang, ketika Herman mengatakannya dengan suara pelan, Amanda merasa seperti ada yang menusuk dadanya. Bukan sakit fisik. Tapi sakit perasaan.
"Maaf, aku tidak tahu," kata Amanda.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu tahu."
"Tapi aku ingin tahu."
Herman mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Amanda. "Kamu ingin tahu tentang aku?"
"Ya. Sedikit."
"Mengapa?"
"Karena... aku penasaran."
Herman tersenyum. Bukan senyum yang sombong. Bukan senyum yang penuh arti. Hanya senyum biasa yang lahir dari rasa syukur. "Baiklah. Nanti aku cerita. Tapi tidak di sini. Di sini terlalu ramai."
"Lalu di mana?"
"Di toko HP Sanjaya. Aku mau beli case HP baru. Kamu bisa temani?"
Amanda terdiam. Ini adalah ajakan tidak langsung. Bukan ajakan kencan. Hanya ajakan untuk pergi ke toko HP bersama. Tapi Amanda tahu persis bahwa di balik ajakan itu, ada maksud lain. Tapi anehnya, dia tidak menolak. "Baik," jawab Amanda.
Hampir saja dia menggigit lidahnya sendiri. Kenapa dia setuju? Kenapa dia tidak menolak seperti biasanya? Apa yang terjadi pada dirinya? Atau apa yang terjadi pada Amanda? Entahlah. Yang dia tahu, rasa penasarannya lebih kuat daripada logikanya.
Toko HP Sanjaya terletak di Jalan Jendral Ahmaad Yani, tidak jauh dari pasar. Toko ini tidak terlalu besar, tetapi cukup lengkap menyediakan berbagai aksesoris HP, dari case, tempered glass, power bank, hingga earphone bluetooth. Pemiliknya adalah Pak Sony, seorang laki-laki paruh baya dengan perut buncit yang selalu memakai kemeja kotak-kotak dan peci hitam di kepalanya.
Herman dan Amanda masuk ke toko itu sekitar pukul sembilan pagi. Toko masih sepi, hanya ada satu pembeli lain yang sedang memilih charger di rak sebelah. Pak Sony menyapa Herman dengan ramah.
"Nak Herman! Baru datang! HP-mu kenapa lagi?"
"Enggak kenapa-kenapa, Pak. Mau beli case baru. Yang lama sudah robek."
"Case untuk HP apa?"
"Yang ini." Herman mengeluarkan HP-nya, sebuah HP android murah dengan layar yang sudah retak di sudut kanan atas.
Pak Sony melihat HP itu, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Nak Herman, mending kamu ganti HP dulu. Case-nya seharga setengah HP kamu. Tidak sebanding."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya sayang HP ini. Hadiah dari ibu saya."
Pak Sanjaya terdiam. Dia mengangguk, lalu berjalan ke rak display untuk mengambil beberapa pilihan case. Herman mengikuti, sementara Amanda berdiri di samping pintu, memperhatikan.
Matanya mengamati Herman yang dengan sabar mencoba satu per satu case HP yang ditawarkan. Dia memegangnya, menempelkannya ke HP-nya, melepasnya lagi, lalu menempelkan yang lain. Tidak ada yang dia beli. Semuanya kurang pas, kurang nyaman, atau kurang sesuai dengan seleranya.
"Yang ini bagus," kata Amanda tiba-tiba.
Herman menoleh. Amanda telah mengambil sebuah case HP warna biru tua dengan tekstur lembut seperti kulit. Case itu sederhana, tidak banyak motif, hanya polos dengan sedikit garis di pinggirnya.
"Menurutmu bagus?" tanya Herman.
"Iya. Sederhana, tidak norak, dan warnanya cocok denganmu."
Herman mengambil case itu, menempelkannya ke HP-nya. Pas. Sempurna. Seperti sudah ditakdirkan.
"Berapa, Pak?" tanya Herman.
"Tiga puluh lima ribu," jawab Pak Sony.
Herman mengeluarkan dompetnya. Dia menghitung uang receh dengan jari yang sedikit gemetar. Tiga lembar sepuluh ribuan, satu lembar lima ribuan, dua keping seribuan. Cukup. Dia membayar, lalu memasukkan HP-nya ke case baru itu.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Nak. Doakan toko saya laris."
"Aamiin."
Mereka keluar dari toko HP. Amanda berjalan di samping Herman, sesekali melirik ke arah case biru tua di HP Herman. "Untung aku ikut," kata Amanda. "Kalau tidak, kamu mungkin masih di dalam toko sampai sore."
"Iya. Terima kasih, Amanda."
"Ini bukan karena aku baik. Ini karena aku tidak ingin melihat orang buang-buang waktu."
"Iya. Aku tahu."
Mereka berjalan di trotoar Jalan A.Yani, melewati deretan toko-toko yang masih buka. Pedagang bakso, mie ayam, es campur, dan jajanan pasar lainnya mulai berteriak-teriak menawarkan dagangan. Amanda tidak lapar. Tapi perutnya yang lain, perasaan yang tidak bisa dia beri nama, mulai merasa sesuatu yang aneh. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
Setelah dari toko HP, Herman mengajak Amanda ke Pasar Sari Mulya lagi. Bukan untuk berbelanja, tetapi untuk menunjukkan sesuatu. Mereka berjalan melewati lapak-lapak basah, melewati tumpukan sayuran dan buah-buahan, hingga sampai di sebuah lapak kecil di ujung selatan pasar.
"Ini lapak langganan ibuku dulu," kata Herman sambil menunjuk lapak kosong yang sudah tidak beroperasi. "Dulu ibu jualan sayur di sini. Setiap pagi, dari jam empat sampai jam sepuluh. Aku sering membantu ibu memilih cabai, seperti tadi."
Amanda melihat lapak kosong itu. Meja kayunya sudah usang, catnya mengelupas di beberapa bagian. Ada kain terpal biru yang menutupi sebagian meja, mungkin untuk melindungi dari debu. Tidak ada yang istimewa. Tapi bagi Herman, ini adalah tempat yang penuh kenangan.
"Ibu saya meninggal karena sakit tiga tahun lalu," lanjut Herman. "Sebulan sebelum dia meninggal, dia bilang, 'Herman, jadilah laki-laki yang jujur. Jangan pernah berbohong. Jangan pernah bermain-main dengan perasaan orang.' Aku janji pada ibu untuk menepati itu."
"Jadi, semua yang kamu lakukan selama ini, semua kejujuranmu, karena janji pada ibumu?" tanya Amanda.
"Sebagian besar. Sebagian kecil karena aku memang menyukaimu."
Amanda tersenyum kecil. "Jujur sekali."
"Aku sudah bilang, aku tidak bisa bohong."
"Aku percaya."
Mereka berdiri di depan lapak kosong itu beberapa saat, tidak berbicara. Angin pasar berhembus, membawa bau sayuran basah dan daging mentah. Tapi Amanda tidak merasa tidak nyaman. Dia justru merasa nyaman. Ada ketenangan yang dia temukan di samping Herman. Ketenangan yang tidak dia temukan di rumah, di sekolah, atau di tempat manapun.
"Herman, aku ingin bertanya sesuatu," kata Amanda.
"Tanya apa?"
"Mengapa kamu memilih aku? Di Car Free Day itu. Dari sekian banyak perempuan yang jogging, mengapa kamu memilih aku? Jangan bilang karena aku paling cantik."
Herman tersenyum. "Kamu memang paling cantik. Tapi itu bukan alasan utamanya."
"Lalu apa alasan utamanya?"
"Aku memilihmu karena wajahmu paling serius. Paling tidak tersenyum. Paling terlihat tidak ingin diganggu. Aku pikir, jika aku bisa membuatmu tersenyum, itu akan menjadi pencapaian terbesar dalam hidupku."
Amanda terdiam. Jantungnya berdegup kencang lagi. "Dan sekarang? Apa kamu sudah berhasil membuatku tersenyum?"
"Kadang. Meskipun sering kali aku membuatmu marah."
"Tapi setidaknya kamu membuatku merasa... ada."
"Ada?"
"Ada. Di dunia yang sibuk ini, di antara tuntutan orang tua dan ekspektasi sekolah, kadang aku merasa tidak terlihat. Seperti aku hanya mesin penghasil nilai bagus. Tapi denganmu, aku merasa terlihat. Aku merasa penting. Meskipun penting dengan cara yang aneh."
Herman tidak menyangka Amanda akan berkata seperti itu. Selama ini dia mengira Amanda hanya melihatnya sebagai pengganggu, sebagai cowok idiot yang tidak tahu diri. Tapi ternyata, di balik semua kemarahan itu, Amanda juga merasakan hal yang sama. Dia juga merasa ada yang berubah dalam dirinya. Dan perubahan itu, sebagian besar, adalah ulah Herman.
"Terima kasih, Amanda," kata Herman.
"Jangan makasih. Aku belum selesai marah padamu."
"Tapi marahmu sudah berbeda."
"Memangnya beda bagaimana?"
"Dulu marahmu penuh kebencian. Sekarang marahmu... marah yang biasa. Seperti orang yang marah karena digigit nyamuk. Tidak terlalu serius."
Amanda hampir tertawa. Dia menahan. Tapi sudut bibirnya naik sedikit, memberi isyarat bahwa Herman benar. Marahnya sudah berubah. Dan dia tidak tahu harus bersyukur atau malu.
Dari pasar, Herman mengajak Amanda ke toko baju di seberang jalan. Bukan toko baju mahal, tetapi toko baju biasa yang menjual kaos-kaos polos dengan harga terjangkau.
"Kita ke toko baju? Ngapain?" tanya Amanda curiga.
"Aku mau beli baju."
"Baju apa?"
"Baju olahraga. Yang putih."
"Kenapa putih?"
"Karena aku ingin jogging di Car Free Day dengan baju putih. Supaya suatu hari nanti jika ada orang yang nempelkan permen karet di bajuku, aku akan tahu rasanya."
Amanda memukul lengan Herman pelan. "Jangan becanda soal itu."
"Aku serius."
"Kamu memang aneh."
"Aku sudah bilang."
Mereka masuk ke toko baju. Herman memilih beberapa kaos putih polos, mencobanya satu per satu di depan cermin, lalu meminta pendapat Amanda.
"Yang mana bagus?"
"Yang itu terlalu besar."
"Yang ini?"
"Terlalu kecil. Dadamu kelihatan seperti mau meledak."
"Kalau yang ini?"
"Pas. Tapi warnanya tidak putih benar. Agak abu-abu."
"Ya sudah, beli yang putih bersih."
Herman membeli tiga kaos putih sekaligus, meskipun uangnya hampir habis. Dia membayar di kasir, lalu keluar dari toko dengan senyum puas.
"Sekarang kita punya baju yang sama," kata Herman sambil menunjukkan kaos putihnya.
"Kita tidak punya baju yang sama. Kamu punya baju putih. Aku juga punya baju putih. Tapi bukan berarti sama."
"Ya, secara fisik memang berbeda. Tapi secara warna, sama."
"Pembawaanmu ini yang kadang membuatku kesal."
"Maaf. Aku hanya bercanda."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi di dalam hati, dia tersenyum. Herman memang aneh. Tapi kegilaannya mulai terasa seperti bumbu dalam makanan. Tanpanya, hidup terasa hambar.
Sore harinya, Amanda pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak lagi marah. Tidak lagi kesal. Hanya ada rasa penasaran yang terus tumbuh seperti pohon yang akarnya semakin dalam ke bumi.
Dia duduk di kamarnya, memeluk bantal, lalu memandang baju olahraga putih yang masih terkena permen karet di sudut kamar. Selama berbulan-bulan, baju itu hanya menjadi simbol kemarahan. Tapi sekarang, setelah hari ini, setelah melihat Herman memilih cabai di pasar, membeli case HP, bercerita tentang ibunya, dan membeli kaos putih, baju itu mulai berubah makna. Bukan lagi simbol kemarahan. Tapi simbol awal dari segalanya. Awal dari pertemuan dua orang yang awalnya saling membenci, tetapi perlahan mulai menemukan rasa penasaran yang tidak bisa dipungkiri.
Dia membuka ponsel, membuka Instagram, lalu mengetik pesan untuk Herman.
@amanda_cans: Besok Car Free Day . Aku akan jogging seperti biasa. Kamu boleh datang. Tapi jangan bawa permen karet.
Pesan itu dikirim. Dan untuk pertama kalinya, Amanda tidak menyesal setelah mengirim pesan pada Herman.
Di kontrakannya, Herman membaca pesan itu berulang-ulang. Matanya berbinar. Senyumnya tidak bisa dia tahan. Dia ingin berteriak kegirangan, tetapi kontrakannya sempit dan dindingnya tipis, jadi dia hanya berguling-guling di atas kasur seperti anak kecil yang baru diberi mainan baru.
@herman_kontraktor: Baik. Aku hanya akan bawa hati yang jujur. Tidak ada permen karet. Janji.
@amanda_cans: Hati yang jujur. Itu saja sudah cukup.
Herman membaca balasan itu sekali lagi, lalu mematikan ponsel. Dia memandang langit-langit kontrakannya yang retak-retak, tetapi langit-langit itu terasa lebih indah dari biasanya. Mungkin karena hatinya yang penuh dengan cinta. Atau mungkin karena dia akhirnya sadar bahwa perubahan tidak selalu datang dengan ledakan. Kadang perubahan datang dengan pelan, seperti air yang meresap ke dalam tanah, tidak terlihat, tetapi ada.
"Besok Car Free Day ," bisik Herman. "Besok aku akan jogging dengan baju putih baruku. Aku akan berlari di sampingmu, Amanda. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Secepat yang kamu mau."
Dia memejamkan mata. Dan untuk kesekian kalinya, dia tertidur dengan bayangan Amanda. Kali ini, bayangan itu tersenyum padanya. Senyum yang tulus. Senyum yang memberinya harapan bahwa suatu hari nanti, semua perjuangannya akan berbuah manis.
Seperti permen karet.
Tapi kali ini, permen karet itu tidak lengket.
Hanya manis.
BAB 10
JURUS KE 50 MENYATAKAN CINTA DI DERMAGA DANAU MARE
Danau Mare terletak sekitar lima belas kilometer dari pusat kota Kuala Kapuas, di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh perkebunan karet dan sawah yang menghijau. Tidak banyak orang yang tahu tentang danau ini karena letaknya yang tersembunyi di balik perbukitan kecil dan jalan setapak yang sempit. Hanya warga lokal dan beberapa anak muda yang suka berpetualang yang pernah menginjakkan kaki di tepian danau ini. Airnya tenang, berwarna hijau kebiruan seperti telur bebek yang direbus setengah matang, dan di pagi hari sering terlihat kabut tipis yang melayang-layang di atas permukaan air seperti tirai sutra putih yang ditiup angin. Dermaga Danau Mare terbuat dari kayu ulin yang sudah tua, menghitam karena usia, tetapi masih kokoh berdiri meskipun sudah puluhan tahun diterpa angin dan hujan. Di ujung dermaga, terdapat sebuah bangku kayu sederhana yang biasa digunakan oleh pemancing untuk duduk sambil menunggu ikan menyantap umpan.
Tempat inilah yang dipilih Herman untuk melancarkan jurus kelima puluh.
Bukan tanpa alasan Herman memilih Danau Mare. Setelah empat puluh sembilan jurus gagal, dia menyadari bahwa pendekatan-pendekatan biasa tidak akan pernah berhasil menembus tembok tinggi yang dibangun Amanda di sekeliling hatinya. Puisi gagal. Bunga gagal. Tahu walik gagal. Jogging bersama gagal. Nasi goreng gosong gagal. Video puisi gagal. Lagu fals gagal. Kuli angkat gagal. bahkan pertemuan-pertemuan kebetulan di taman dan di pasar hanya membawa perubahan kecil yang tidak signifikan. Amanda masih belum yakin. Masih belum mau membuka hati. Masih selalu menjaga jarak meskipun kadang terlihat mulai luluh. Herman butuh sesuatu yang spektakuler. Sesuatu yang tidak akan pernah dia lakukan jika tidak sedang jatuh cinta. Sesuatu yang akan membuat Amanda terkejut, bingung, marah, tetapi pada akhirnya tersenyum.
Danau Mare adalah tempat yang tepat untuk itu. Sepi, tenang, jauh dari keramaian, dan penuh dengan keindahan alam yang akan membuat siapa pun merasa kecil di hadapan kebesaran ciptaan Tuhan. Herman berencana untuk membawa Amanda ke dermaga itu pada suatu sore Minggu, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahayanya berubah menjadi keemasan. Dia akan membawa gitarnya. Dia akan menyanyikan lagu cinta. Dan di akhir lagu, dia akan menyatakan cintanya dengan tulus, tanpa basa-basi, tanpa permen karet.
"Sounds like a plan," kata Ahmat ketika Herman menceritakan rencananya di kontrakan pada Sabtu malam.
"Tapi aku tidak bisa main gitar," kata Herman jujur.
"Kamu bisa belajar. Masih ada waktu satu hari."
"Satu hari tidak cukup untuk belajar gitar, Mat. Orang butuh bulanan, bahkan tahunan."
"Kamu tidak perlu jago. Kamu hanya perlu berani. Yang penting lagunya sampai, bukan gitarnya."
Herman menghela napas. Ahmat memang selalu bisa memberikan semangat dengan cara yang paling sederhana. "Baiklah. Aku akan pinjam gitar tetangga. Yang suka main di depan kontrakan setiap malam itu."
"Gitar Mang Udin?"
"Iya."
"Gitar itu cuma punya tiga senar."
"Tidak apa-apa. Tiga senar cukup."
"Kamu yakin?"
"Tidak. Tapi aku akan tetap melakukannya."
Ahmat mengangguk. Dia menepuk pundak Herman seperti seorang kakak yang merestui adiknya untuk terbang meninggalkan sarang. "Aku bangga sama kamu, Man. Kamu gila, tapi kamu gila yang konsisten."
"Terima kasih, Mat. Itu pujian terbaik yang pernah aku dengar."
Minggu sore, langit cerah tanpa awan. Matahari bersinar dengan ramah di ufuk barat, tidak terlalu panas, tidak terlalu redup. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma dedaunan kering dan tanah basah dari kejauhan. Herman sudah tiba di Danau Mare sejak pukul tiga sore, membawa gitar pinjaman dari Mang Udin yang benar-benar hanya memiliki tiga senar, dua tas besar berisi makanan dan minuman, serta selembar tikar plastik untuk duduk di dermaga. Dia datang lebih awal untuk mempersiapkan segalanya. Dia membersihkan dermaga dari daun-daun kering yang berserakan, menata tikar di ujung dermaga, meletakkan makanan dan minuman di atas tikar, lalu duduk bersila dengan gitar di pangkuannya.
Jari-jarinya gemetar. Bibirnya kering. Jantungnya berdebar seperti drum band di pawai kemerdekaan. Dia sudah berlatih lagu "Cinta Ini Membunuhku" dari band legendaris selama dua puluh empat jam nonstop, tetapi hasilnya masih jauh dari kata layak dengar. Suaranya fals, iramanya kacau, dan gitarnya sumbang karena hanya tiga senar. Tapi dia tidak peduli. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan tetap bernyanyi, meskipun suaranya terdengar seperti kucing yang diinjak ekornya.
Pukul setengah empat sore, Amanda datang. Dia mengendarai motor matic putihnya, memakai kaos oblong hitam dan celana jeans yang sudah sedikit pudar di bagian lutut. Rambutnya diikat kuda sederhana, tidak banyak gaya, tetapi tetap membuat Herman terpana seperti baru pertama kali melihatnya.
"Dermaga Danau Mare ini ternyata indah juga," kata Amanda sambil turun dari motor. Matanya mengamati pemandangan sekitar. Air sungai Kapuas yang tenang, rumah-rumah di tepian, dan kabut tipis yang mulai terbentuk di permukaan air. "Kenapa kamu baru mengajakku ke sini sekarang?"
"Karena aku baru siap sekarang," jawab Herman.
"Bawa apa saja ini?" Amanda menunjuk tikar dan makanan di dermaga.
"Ini untuk kita. Makanan, minuman, dan... hiburan."
"Hiburan apa?"
Herman mengangkat gitarnya. "Ini."
Amanda mengerjap. "Kamu bisa main gitar?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu bawa gitar?"
"Karena aku ingin menyanyikan lagu untukmu."
Amanda menarik napas panjang. Dia berjalan ke dermaga, duduk di tikar, lalu memandang Herman dengan ekspresi antara iba dan geli. "Herman, kamu tahu kan bahwa aku bisa sangat kejam kalau mendengar suara sumbang?"
"Aku tahu."
"Dan kamu tetap mau bernyanyi?"
"Aku tetap mau."
"Baiklah. Silakan. Tapi jangan salahkan aku kalau aku tertawa atau lari."
Herman tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, lalu mulai memetik senar gitar yang hanya tiga itu. Bunyi pertama yang keluar adalah jreng... jreng... jreng... seperti suara kaleng kosong yang dijatuhkan ke lantai. Herman tidak gentar. Dia terus memetik, mencoba mencari nada yang tepat, meskipun jari-jarinya tidak pernah dilatih untuk memainkan alat musik apapun selain ponsel.
Lalu dia mulai bernyanyi.
"Cinta ini... membunuhku... perlahan... lahan... lahan..."
Amanda menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bukan karena terharu. Tapi karena dia hampir tertawa. Suara Herman benar-benar tidak karuan. Nadanya melayang ke sana kemari seperti kupu-kupu yang kehilangan arah. Kadang terlalu tinggi, kadang terlalu rendah, kadang berhenti di tengah lagu karena lupa lirik. Tapi Herman terus bernyanyi. Dia tidak berhenti. Matanya terpejam, konsentrasi, seolah-olah dia sedang menyanyikan lagu paling sakral di dunia.
Lagu itu berlangsung sekitar tiga menit. Tiga menit yang terasa seperti tiga jam bagi Amanda yang berusaha mati-matian untuk tidak tertawa. Tapi di akhir lagu, ketika Herman membuka matanya dan berkata, "Itu lagu untukmu, Amanda," Amanda tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Hahahahaha!" Amanda tertawa terbahak-bahak. Dia memegang perutnya, menunduk, sampai air matanya keluar. "Herman, itu lagu paling jelek yang pernah aku dengar seumur hidupku!"
"Aku tahu," kata Herman tanpa tersinggung.
"Suaramu fals!"
"Aku tahu."
"Gitarmu hanya tiga senar!"
"Aku juga tahu."
"Tapi kenapa kamu tetap bernyanyi?"
Herman meletakkan gitarnya di samping tikar. Matanya menatap Amanda dengan serius. "Karena aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak takut membuat kesalahan di depanmu. Bahwa aku tidak takut terlihat bodoh. Bahwa aku tidak takut ditertawakan. Karena bagiku, kamu sepadan dengan semua rasa malu itu."
Amanda berhenti tertawa. Wajahnya berubah. Matanya berkaca-kaca. Dadanya naik turun. Kata-kata Herman menusuk tepat di jantungnya yang paling dalam. Selama ini, setiap cowok yang mendekatinya selalu berusaha tampil sempurna. Pakaian rapi, rambut disisir, kata-kata manis, senyum menggoda. Mereka takut membuat kesalahan. Mereka takut terlihat buruk. Mereka takut kehilangan muka. Tapi Herman berbeda. Dia bersedia terlihat bodoh. Dia bersedia ditertawakan. Dia bersedia kehilangan muka. Semua demi satu tujuan: membuat Amanda tersenyum.
"Herman," bisik Amanda.
"Ya?"
"Aku benci kamu."
"Aku tahu."
"Aku benci karena kamu membuatku merasa... aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Aneh seperti... aku tidak ingin kamu pergi. Meskipun kamu menyebalkan. Meskipun kamu tidak bisa main gitar. Meskipun kamu nempelkan permen karet di bajuku. Aku tidak ingin kamu pergi."
Herman terdiam. Jantungnya berhenti berdetak sejenak. Kemudian berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Apakah ini saat yang dia tunggu-tunggu? Apakah ini saat di mana Amanda akhirnya membuka hati? Atau hanya ilusi yang akan sirna begitu dia mengedipkan mata?
"Amanda, aku..."
"Belum selesai." Amanda mengangkat tangannya, memotong ucapan Herman. "Aku bilang aku tidak ingin kamu pergi. Tapi aku belum bilang aku mencintaimu. Jangan salah paham."
"Tidak. Aku tidak salah paham."
"Yang aku rasakan sekarang adalah... rasa nyaman. Rasa aman. Rasa... seperti pulang ke rumah setelah lama bepergian. Aku tidak tahu apakah itu cinta atau hanya kebiasaan. Yang aku tahu, aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu. Dan itu membuatku takut."
"Mengapa takut?"
"Karena jika aku terbiasa, maka aku akan kehilangan jika kamu pergi. Dan aku tidak mau kehilangan."
Herman mengangguk. Dia paham. Dia juga merasa hal yang sama. Setiap hari, dia semakin terbiasa dengan kehadiran Amanda. Dengan wajahnya yang galak. Dengan suaranya yang melengking saat marah. Dengan senyum kecilnya yang jarang muncul tetapi sangat berharga. Jika suatu hari Amanda pergi, Herman akan kehilangan separuh jiwanya.
"Amanda, aku tidak akan pergi," kata Herman.
"Kamu tidak bisa janji."
"Aku bisa. Karena aku sudah memilih. Aku memilihmu. Bukan karena kamu cantik. Bukan karena kamu populer. Bukan karena orang tuamu kaya. Tapi karena kamu... kamu. Aku jatuh cinta pada versi terburukmu sekaligus versi terbaikmu. Aku jatuh cinta pada kemarahanmu. Aku jatuh cinta pada tangismu. Aku jatuh cinta apa adanya. Aku jatuh cinta pada caramu menggigit bibir saat bingung. Aku jatuh cinta pada semuanya, Amanda. Sejak permen karet itu, aku sudah jatuh cinta."
Amanda tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya jatuh. Bukan air mata sedih. Bukan air mata marah. Tapi air mata haru. Air mata yang keluar karena seseorang akhirnya melihat dirinya sebagai manusia utuh, bukan sebagai potongan-potongan yang harus disusun sesuai ekspektasi.
"Herman, kamu menang," bisik Amanda.
"Menang apa?"
"Kamu berhasil membuatku... luluh."
Herman tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah dia tunjukkan dalam hidupnya. Dia ingin melompat ke sungai. Dia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Dia ingin memeluk Amanda. Tapi dia tidak melakukan satupun dari semua itu. Dia hanya duduk diam di samping Amanda, di ujung dermaga Danau Mare, ditemani oleh air sungai yang tenang dan matahari sore yang perlahan tenggelam.
"Boleh aku memegang tanganmu?" tanya Herman.
Amanda tidak menjawab. Dia hanya mengulurkan tangan kirinya. Herman menggenggamnya dengan lembut. Tangannya hangat. Tangannya lembut. Tangannya terasa seperti miliknya sejak awal.
Mereka berdua duduk di dermaga itu hingga matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat. Langit berubah warna dari jingga menjadi merah, dari merah menjadi ungu, dari ungu menjadi gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, seperti lampu-lampu kecil yang dinyalakan oleh malaikat. Angin malam berhembus lebih dingin dari sebelumnya, tetapi Herman dan Amanda tidak merasa kedinginan. Mereka saling berbagi panas tubuh, saling berbagi harapan, saling berbagi mimpi.
Herman, aku takut," kata Amanda setelah lama terdiam.
"Takut apa?"
"Takut bahwa ini hanya mimpi. Bahwa besok pagi aku akan bangun dan semuanya hilang."
"Ini bukan mimpi, Amanda. Ini nyata."
"Buktinya?"
Herman melepas genggaman tangannya, lalu berdiri. Dia berjalan ke tepi dermaga, mencelupkan tangannya ke air sungai, lalu mengusapkannya ke pipi Amanda.
"Apa rasanya?" tanya Herman.
"Dingin."
"Ini bukan mimpi. Mimpi tidak terasa dingin." Herman tersenyum. "Kecuali kamu mimpi masuk kulkas."
Amanda tertawa kecil. Dia memukul lengan Herman pelan. "Kamu selalu bisa membuatku tertawa meskipun aku sedang serius."
"Itu bakatku."
"Bakat yang aneh."
"Tapi kamu suka."
Amanda tidak bisa membantah. Dia memang suka. Dia suka cara Herman membuatnya tertawa. Dia suka cara Herman memandanginya seperti dia adalah satu-satunya perempuan di dunia. Dia suka cara Herman tidak pernah menyerah meskipun sudah ditolak berkali-kali.
"Herman, aku ingin memulai semuanya dari awal," kata Amanda.
"Maksudnya?"
"Aku ingin kita lupakan permen karet itu. Lupakan kemarahan. Lupakan semua kebencian. Aku ingin kita memulai dari nol. Seperti dua orang asing yang baru bertemu. Tapi dengan perasaan yang sudah ada."
"Kita tidak bisa memulai dari nol, Amanda. Karena permen karet itu sudah menjadi bagian dari sejarah kita. Kita tidak bisa menghapusnya."
"Tapi kita bisa memaafkannya."
Bisakah?"
"Kalau kita berdua mau, bisa."
Herman mengangguk. Dia memandang air sungai yang mulai gelap, memantulkan cahaya bintang-bintang yang berkelap-kelip. "Maafkan aku karena sudah menempelkan permen karet di bajumu."
"Herman, aku sudah maafkan kamu sejak di taman itu."
"Sejak di Taman Hutan Kota?"
"Iya. Saat kamu memberikan tisu. Saat kamu bilang ayahku salah. Saat itu, aku sadar bahwa kamu tidak pantas dibenci. Kamu hanya pria bodoh yang jatuh cinta dengan cara yang paling konyol."
Herman tersenyum. "Terima kasih, Amanda. Itu kata-kata terindah yang pernah aku dengar."
"Jangan terbiasa. Aku tidak akan sering-sering memujimu."
"Tidak apa-apa. Sekali seumur hidup sudah cukup."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lepas, tawa yang tulus, tawa yang tidak lagi dibatasi oleh rasa benci atau marah. Di tengah tawa itu, Herman merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Kedamaian. Kedamaian yang lahir dari penerimaan. Bahwa dia diterima apa adanya. Bahwa dia dicintai meskipun dengan segala kekurangannya.
"Amanda," panggil Herman.
"Ya?"
"Aku cinta kamu."
Amanda tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menggenggam tangan Herman lebih erat. Di dalam genggaman itu, terkandung seribu jawaban. Aku cinta kamu juga. Aku belum bisa mengatakannya. Tapi aku akan belajar. Suatu hari nanti.
Mereka duduk di dermaga Danau Mare hingga larut malam. Bintang-bintang bergeser di langit. Bulan sabit tipis muncul di ufuk timur. Air danau semakin tenang, seperti cermin raksasa yang memantulkan keindahan alam yang tidak akan pernah habis untuk dinikmati.
Sekitar pukul sembilan malam, mereka memutuskan untuk pulang. Herman mengemas tikar dan sisa makanan. Amanda membersihkan dermaga dari sampah-sampah kecil. Mereka berjalan berdampingan menuju motor yang terparkir di pinggir jalan setapak.
"Aku antar kamu pulang," kata Herman.
"Naik apa? Kamu tidak bawa motor."
"Aku bonceng sama kamu."
"Kamu laki-laki, kok bonceng?"
"Tidak ada aturan yang melarang laki-laki bonceng."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi dia mengizinkan Herman duduk di belakang motornya. Mereka melaju pelan di jalan A.Yani yang gelap menuju jalan Nusa Indah, hanya diterangi oleh lampu motor yang redup. Herman tidak berani memeluk pinggang Amanda. Dia hanya berpegangan di jok belakang, menjaga jarak meskipun hatinya ingin lebih dekat.
Setelah sekitar dua puluh menit, mereka sampai di depan rumah Amanda. Lampu teras masih menyala. Mungkin ibu Amanda sedang menunggu.
"Sampai di sini," kata Amanda sambil mematikan mesin motor.
"Baik. Terima kasih sudah mau datang ke Dermaga Danau Mare."
"Terima kasih sudah menyanyikan lagu terjelek sepanjang sejarah."
Herman tertawa. "Sama-sama."
Mereka berdua berdiri di depan pagar rumah Amanda, tidak ada yang mau masuk lebih dulu. Herman ingin memeluk Amanda. Amanda ingin mencium pipi Herman. Tapi mereka masih canggung. Masih belum terbiasa dengan status baru yang belum jelas.
"Besok Car Free Day ?" tanya Herman.
"Besok Car Free Day . Aku akan jogging seperti biasa. Kamu datang?"
"Aku datang. Tapi kali ini aku akan jogging di sampingmu. Bukan di bangku taman."
"Kamu bisa mengimbangi langkahku?"
"Aku sudah latihan."
"Bagus. Jangan sampai kehabisan napas."
"Janji."
Amanda tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah Herman lihat. Senyum yang menghapus semua rasa lelah, semua rasa sakit, semua rasa ragu.
"Selamat malam, Herman."
"Selamat malam, Amanda."
Amanda masuk ke halaman rumah, membuka pintu, lalu melambai sebelum menutup pintu. Herman berdiri di depan pagar beberapa saat, menikmati sisa-sisa kehangatan pertemuan mereka. Lalu dia berjalan pulang dengan langkah ringan, dengan senyum yang tidak bisa dia hilangkan, dan dengan hati yang penuh dengan harapan.
Sesampainya di kontrakan, Herman langsung merebahkan diri di kasur. Dia memandang langit-langit yang retak-retak, tetapi langit-langit itu terasa seperti kanvas tempat dia melukis masa depannya. Masa depan bersama Amanda. Masa depan yang tidak lagi sendirian.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Amanda.
@amanda_cans: Herman.
@herman_kontraktor: Ya?
@amanda_cans: Aku lupa bilang tadi. Lagu kamu jelek. Tapi liriknya... bagus.
@herman_kontraktor: Liriknya aku tulis sendiri.
@amanda_cans: Itu sebabnya bagus. Karena jujur.
@herman_kontraktor: Terima kasih, Amanda.
@amanda_cans: Sama-sama. Sekarang tidur. Besok Car Free Day .
@herman_kontraktor: Siap.
Herman mematikan ponsel, memejamkan mata, dan tertidur dengan senyum yang tidak pernah pudar. Dia bermimpi tentang Dermaga Danau Mare, tentang air danau yang tenang, tentang dermaga kayu ulin yang tua, dan tentang seorang perempuan bernama Amanda yang menggenggam tangannya erat-erat.
Dan di dalam mimpi itu, dia berkata, "Aku cinta kamu, Amanda. Selamanya."
Dan Amanda menjawab, "Aku tahu, Herman. Aku juga."
BAB 11
GENG AMANDA VS GENG HERMAN, KONFLIK SOSIAL KELAS
Kabar tentang pertemuan Herman dan Amanda di Dermaga Danau Mare menyebar cepat seperti api di musim kemarau. Bukan karena mereka berdua yang menyebarkan, karena Herman terlalu rendah hati untuk bercerita dan Amanda terlalu malu untuk mengakuinya. Tapi Dahlia, yang kebetulan melihat pesan Amanda di grup WhatsApp "Geng Jogging Cantik" tentang "Dermaga Danau Mare itu tempat yang indah, kalian harus kesana suatu hari," langsung mencium sesuatu yang tidak beres. Dahlia memang detektif ulung dalam urusan percintaan teman-temannya. Dengan hanya bermodalkan satu kalimat ambisius, dia bisa menyusun teori konspirasi yang rumit seperti novel detektif karya Agatha Christie.
"Amanda pasti ke Dermaga Danau Mare dengan Herman," bisik Dahlia pada Yunita, Anita, dan Sania saat istirahat sekolah keesokan harinya.
"Kok bisa kamu simpulin begitu?" tanya Yunita.
"Coba lihat matanya. Matanya berbinar. Orang yang baru jatuh cinta matanya selalu berbinar. Itu ilmu pengetahuan."
"Itu bukan ilmu pengetahuan, itu gosip," bantah Anita.
"Gosip yang didasari bukti ilmiah."
Sania yang paling pendiam di antara mereka, hanya tersenyum kecil. "Biarkan saja. Kalau Amanda bahagia, kita tidak perlu ikut campur."
"Tapi kita gengnya Amanda, San. Kita punya hak untuk tahu," desak Dahlia.
"Kita punya hak untuk mendukung, bukan ikut campur."
Dahlia mendengus kesal. Tapi dia tidak bisa membantah Sania yang selalu bijak seperti seorang filsuf yang lahir terlalu cepat.
Sementara itu, di grup "Geng Car Free Day ", suasana berbeda. Yanto, Mahdili, Yuni, Bintag, Herawati, dan Ahmat sudah berkumpul di kontrakan Herman sejak jam delapan malam, memaksa Herman untuk menceritakan seluruh kejadian di Dermaga Danau Mare dengan detail yang paling mendetail. Herman yang tadinya enggan, akhirnya menyerah setelah Yanto mengancam akan menyebarkan foto Herman sedang memeluk boneka beruang di kamar kontrakannya (foto lama yang sangat memalukan dan tidak boleh diketahui siapapun).
"Jadi, kamu menyanyikan lagu cinta dengan gitar tiga senar?" tanya Ahmat.
"Iya."
"Lalu Amanda tertawa?"
"Iya. Sampai keluar air mata."
"Lalu setelah dia tertawa, dia bilang apa?"
"Dia bilang dia tidak ingin aku pergi."
Yuni yang dari tadi diam, tiba-tiba bertepuk tangan. "Selamat, Herman! Kamu berhasil!"
"Berhasil apa? Dia belum bilang cinta."
"Bukan cinta yang diucapkan dengan kata-kata yang penting, Man. Yang penting adalah perasaan. Dan dari ceritamu, Amanda sudah mulai nyaman denganmu. Itu awal dari segalanya."
Herman tersenyum tipis. Dia memang merasa ada yang berbeda. Amanda tidak lagi memasang wajah dingin setiap kali bertemu dengannya. Tidak lagi membentak tanpa alasan. Kadang, di sela-sela percakapan mereka, Amanda tersenyum kecil. Senyum yang tidak akan dilihat oleh orang lain. Senyum yang hanya untuk Herman.
"Tapi perjuanganmu belum selesai, Man," kata Ahmat. "Ini baru awal. Sekarang kamu harus menghadapi tantangan yang lebih besar."
"Tantangan apa?"
"Orang tua Amanda, gengnya Amanda, dan tentu saja status sosial."
Herman mengerutkan dahi. "Status sosial?"
"Kamu anak kontraktor dengan gaji pas-pasan. Amanda anak pengusaha dengan rumah besar. Dunia kalian berbeda. Orang tua Amanda mungkin akan keberatan."
Herman terdiam. Ahmat tidak salah. Meskipun selama ini ayah Amanda terlihat ramah padanya, itu karena dia hanya membantu di toko. Belum tentu ayah Amanda merestui hubungan mereka jika sudah sampai ke jenjang yang lebih serius. Apalagi ibu Amanda yang terlihat baik-baik, tetapi belum tentu setuju dengan anak perempuannya yang dekat dengan cowok selevel Herman.
"Aku tidak peduli dengan status sosial," kata Herman akhirnya. "Yang aku peduli adalah perasaan Amanda. Sisanya akan aku hadapi satu per satu."
"Itu semangat yang bagus," kata Herawati. "Tapi jangan lupa bahwa dunia tidak berputar hanya di sekitar perasaan. Ada faktor-faktor eksternal yang bisa mempengaruhi."
"Faktor-faktor eksternal seperti apa?"
"Seperti omongan orang. Seperti geng Amanda yang mungkin tidak setuju. Seperti teman-teman sekolah Amanda yang akan bergosip. Dan yang paling berat, seperti orang tua Amanda."
Herman menghela napas. Dia tahu Herawati benar. Tapi dia sudah terlalu jauh untuk mundur. Dia sudah terlalu dalam untuk berbalik. Jika dia harus berperang melawan dunia demi Amanda, dia akan lakukan.
"Kalau begitu," kata Herman sambil berdiri, "kita harus memenangkan mereka satu per satu. Mulai dari geng Amanda."
"Gimana caranya?" tanya Yanto.
"Kita ajak mereka makan bakso."
"Bakso? Pakai bakso kamu mau memenangkan hati mereka?"
"Bukan baksonya. Tapi kebersamaannya. Orang yang makan bersama cenderung lebih mudah akrab."
Ahmat mengangguk. "Ide yang tidak terlalu buruk. Tapi kita harus mengundang mereka secara resmi. Bukan sembarangan. Buat acara kecil-kecilan. Makan bersama di Dermaga KP3."
"Setuju!" teriak Yanto.
"Setuju!" teriak Mahdili.
"Setuju!" seru Yuni dan Herawati bersamaan.
Herman tersenyum. Dia punya tim yang solid. Tim yang siap membantunya dalam suka dan duka. Tim yang rela melakukan hal-hal konyol demi kebahagiaannya.
"Besok Car Free Day ," kata Herman. "Setelah acara Car Free Day , kita ajak mereka ke Dermaga KP3. Aku yang traktir."
"Ingat, Man," kata Ahmat. "Kamu traktir, bukan kami."
"Iya, Mat. Aku tahu. Aku sudah siapkan uang dari hasil lembur."
"Bagus. Sekarang tidur. Besok kita mulai operasi."
Minggu pagi tiba. Car Free Day berlangsung seperti biasa. Ribuan warga memadati area Stadion Panunjung Tarung dari para pejabat hingga rakyat biasa. Ada yang senam, ada yang jogging, ada yang sekadar cuci mata. Herman datang dengan pakaian olahraga baru, kaos putih polos yang dia beli di toko baju beberapa minggu lalu, dan sepatu lari baru yang dipinjam dari Ahmat karena sepatunya sendiri masih basah setelah dicuci.
Rombongan Amanda datang tepat pukul setengah tujuh. Mereka berlari kecil dengan formasi yang sama seperti biasanya. Amanda di depan, diikuti oleh Dahlia, Yunita, Anita, dan Sania. Kaos olahraga mereka serba putih, seperti barisan angsa yang sedang berenang di danau.
Herman tidak duduk di bangku taman seperti biasanya. Kali ini dia berdiri di pinggir jalur jogging, siap memulai lari bersama mereka. Begitu rombongan Amanda mendekat, Herman langsung melesat dan berlari di samping Amanda.
"Pagi, Amanda," sapa Herman sambil mengatur napas.
"Pagi, Herman," jawab Amanda tanpa menoleh.
"Kamu izinkan aku berlari di sampingmu?"
"Terserah. Tapi jangan mengganggu konsentrasiku."
"Baik."
Herman berlari di samping Amanda. Kecepatannya pas, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Persis seperti yang dia latih selama dua minggu terakhir. Sesekali dia melirik ke samping, menikmati profil wajah Amanda yang serius tetapi tetap cantik.
Di belakang mereka, Dahlia berbisik pada Yunita. "Lihat tuh. Mereka berdua sudah mulai akrab."
"Dahlia, kamu jangan bisik-bisik. Nanti kedengaran," jawab Yunita.
"Pelan-pelan kok."
"Tetap saja."
Anita yang berlari di samping Dahlia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sementara Sania di paling belakang tersenyum tipis. Dia senang melihat Amanda akhirnya membuka hati. Meskipun perlahan. Meskipun masih penuh dengan keraguan.
Setelah tiga putaran, rombongan Amanda berhenti di dekat air mancur. Herman juga berhenti. Dia mengambil botol air mineral dari tas pinggangnya, lalu menyodorkannya pada Amanda.
"Minum dulu. Capai, kan?"
Amanda menerima botol itu. Dia meminumnya sedikit, lalu mengembalikannya pada Herman. "Terima kasih."
"Dahlia, Yunita, Anita, Sania," panggil Herman. "Kalian mau minum? Aku punya persediaan banyak."
Mereka berempat saling berpandangan. Dahlia yang paling berani, maju mengambil botol air mineral dari tangan Herman. "Makasih, Herman."
"Sama-sama."
Setelah mereka semua selesai minum dan mengatur napas, Herman mulai melancarkan aksinya. "Hari ini setelah Car Free Day , aku mau traktir kalian bakso di Dermaga KP3. Sebagai rasa terima kasih karena sudah menjadi teman baik Amanda."
Dahlia tersenyum lebar. "Kamu baik banget, Herman."
"Ini bukan karena baik. Ini karena aku butuh teman untuk makan. Sendirian makan bakso itu sedih."
"Maksudmu kamu tidak mau makan sendiri, jadi kamu ajak kami?" tanya Yunita.
"Kurang lebih begitu."
"Lucu juga kamu, Herman," kata Anita.
Sania tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk kecil, tanda setuju.
Amanda yang dari tadi hanya diam, kini buka suara. "Herman, kamu tidak usah traktir mereka. Mereka punya uang sendiri."
"Biarkan saja, Am," potong Dahlia cepat. "Ini rezeki. Jangan ditolak."
"Kalian ini," Amanda menggeleng-gelengkan kepala.
"Jadi, setuju?" tanya Herman.
"Setuju!" seru Dahlia, Yunita, Anita, dan Sania bersamaan.
"Bagus. Kita kumpul di sini jam sembilan. Setelah acara Car Free Day selesai."
Mereka berpisah. Herman kembali ke bangku taman tempat teman-temannya menunggu. Yanto, Mahdili, Yuni, Herawati, dan Ahmat melambai dari kejauhan.
"Gimana?" tanya Ahmat begitu Herman sampai.
"Mereka setuju. Mereka akan datang."
"Bagus. Sekarang kita siapkan mental. Jangan sampai ada yang salah bicara."
"Yang salah bicara biasanya Yanto," kata Herawati.
"Hei, kenapa selalu aku?" protes Yanto.
"Karena mulutmu lebih cepat dari pada angin."
"Itu tidak sopan."
"Tapi benar."
Ahmat memotong. "Sudah, jangan bertengkar. Fokus ke acara nanti. Yang penting, kita harus membuat mereka merasa nyaman. Jangan membahas topik-topik sensitif seperti politik, agama, atau pacar."
"Pacar boleh dibahas?" tanya Yanto.
"Pacar Herman dan Amanda boleh. Tapi jangan berlebihan."
"Baik."
Pukul sembilan pagi, mereka semua berkumpul di Dermaga KP3. Para pedagang bakso, mie ayam, es campur, dan jajanan lainnya sudah mulai beroperasi dengan semangat. Suara orang-orang yang menawarkan dagangan bercampur dengan suara tawa dan obrolan pengunjung. Di sini, tidak ada perbedaan status sosial. Yang ada hanya perut lapar dan dompet yang siap dikuras.
Herman memesan sebelas mangkok bakso. Kuahnya panas, baksonya kenyal, dan sambalnya pedas. Dia juga memesan es jeruk dan es teh untuk menemani. Semua pesanan diletakkan di dua meja panjang yang digabungkan, sehingga mereka semua bisa duduk bersama.
"Silakan makan," kata Herman sambil mempersilakan.
Dahlia yang paling antusias langsung mengambil satu mangkok bakso dan mulai menyantapnya dengan lahap. "Enak banget, Herman! Baksonya lumer di mulut!"
"Ini langganan kami. Pak RT Yang jualan."
"Wah, langganan. Pak RT yang jualan!" Yunita ikut memuji. "Aku tahu itu. Baksonya memang juara."
Anita dan Sania juga mulai makan. Mereka tidak banyak bicara, tetapi ekspresi wajah mereka menunjukkan kepuasan. Sementara Amanda duduk di samping Herman, sesekali melirik ke arah pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu tidak makan?" tanya Herman.
"Nanti. Aku masih kenyang."
"Kamu tadi habis jogging, pasti lapar. Coba makan sedikit."
"Paksa ya."
"Biarin. Aku yang nanggung."
Amanda menghela napas. Dia mengambil sendok, lalu mulai menyantap baksonya pelan-pelan. "Enak juga. Tidak enak banget, tapi enak."
"Terima kasih, pujian yang sangat berharga."
Dahlia yang mendengar percakapan itu, tersenyum curiga. "Kalian berdua sudah mulai saling perhatian, ya?"
"Dahlia, jangan," potong Amanda.
"Apa? Aku hanya bertanya."
"Pertanyaanmu mengganggu."
"Oke, oke. Aku diam."
Yanto yang dari tadi diam, kini ikut nimbrung. "Dahlia, kamu suka gemblong, ya?"
Dahlia menoleh. "Iya. Kamu tahu?"
"Aku tahu. Tadi pagi aku beli gemblong di Pasar Sari Mulya. Yang enak itu yang di lapak dekat pintu masuk."
"Mak Endut?"
"Iya, Mak Endut."
"Wah, kita sama! Aku juga suka gemblong Mak Endut."
Yanto tersenyum lebar. Akhirnya dia menemukan topik yang cocok untuk memulai percakapan dengan Dahlia. "Besok kalau kamu mau, aku bisa belikan."
"Jangan belikan. Aku punya uang."
"Bukan memberi, kok. Aku hanya ingin teman makan gemblong. Sendirian itu sedih."
Dahlia tertawa. "Kalian berdua dengan Herman sama persis. Sama-sama tidak mau makan sendirian."
"Lain orang, lain strategi," kata Yanto sambil mengangkat bahu.
Ahmat yang menyaksikan dari ujung meja, tersenyum puas. Rencana berjalan dengan baik. Herman berhasil membawa geng Amanda ke dalam lingkaran persahabatan mereka. Sekarang tinggal bagaimana mempertahankan dan memperdalam hubungan itu.
Setelah makan, mereka duduk bersantai di dermaga. Beberapa orang melepas sandal dan mencelupkan kaki ke air sungai yang dingin. Yang lain hanya duduk di bangku kayu sambil bercerita tentang hal-hal ringan. Yanto dan Dahlia asyik membahas gemblong dan jajanan pasar lainnya. Yuni dan Sania berbincang tentang buku-buku favorit mereka. Herawati dan Anita saling bertukar tips perawatan kulit. Sementara Mahdili dan Yunita berdebat tentang smartphone mana yang paling bagus untuk fotografi.
Herman duduk di samping Amanda, tidak banyak bicara. Sesekali mereka saling pandang, lalu tersenyum canggung. Tidak ada yang berani memulai percakapan yang serius. Tapi tidak ada yang merasa perlu. Karena di antara mereka, sudah ada pengertian. Pengertian bahwa mereka sedang bersama, dan itu sudah cukup.
"Herman," panggil Amanda pelan.
"Ya?"
"Terima kasih untuk hari ini."
"Untuk apa?"
"Untuk membuat teman-temanku bahagia. Untuk membuatku merasa... biasa."
"Biasa bagaimana?"
"Biasa seperti orang lain. Tidak istimewa. Tidak dibeda-bedakan."
Herman tersenyum. Dia mengerti maksud Amanda. Sebagai anak pengusaha, Amanda sering diperlakukan secara istimewa. Orang-orang mendekatinya karena status, bukan karena ketulusan. Tapi dengan Herman dan teman-temannya, Amanda merasa sama. Tidak lebih. Tidak kurang.
"Kamu memang biasa, Amanda," kata Herman. "Tapi kebiasaanmu itu yang membuatmu istimewa."
"Omong kosong."
"Tapi kamu tersenyum."
Amanda tidak bisa membantah. Dia memang tersenyum. Senyum kecil yang lahir dari hatinya yang mulai terbuka.
Acara makan bersama itu berlangsung hingga pukul sebelas siang. Mereka berpisah dengan senyuman dan lambaian tangan. Dahlia berbisik pada Amanda, "Herman itu baik, Am. Jangan lepaskan."
"Dahlia, kamu mulai lagi."
"Aku hanya jujur."
"Jujur atau ikut campur?"
"Keduanya."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi di dalam hati, dia setuju. Herman memang baik. Dan dia tidak ingin melepaskannya.
Di rumah, Herman merebahkan diri di kasur. Ahmat ikut masuk tanpa permisi, seperti biasa.
"Kamu lihat tadi, Mat?" tanya Herman.
"Apa?"
"Mereka semua akrab. Seperti sudah lama berteman."
"Iya. Itu pertanda bagus."
"Tapi aku masih khawatir dengan orang tua Amanda."
"Jangan khawatir dulu. Hadapi satu per satu. Sekarang kamu sudah punya geng Amanda di pihakmu. Itu senjata yang kuat."
"Senjata apa?"
"Mereka akan membantumu ketika orang tua Amanda mulai menolak."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena mereka teman yang baik."
Herman mengangguk. Dia memejamkan mata, berusaha menghilangkan rasa khawatir yang mulai mengganggu pikirannya. Tapi bayangan ayah Amanda yang berkata, "Kamu pikir cinta bisa diukur dengan permen karet?" masih terus menghantuinya.
"Mat, aku takut," bisik Herman.
"Takut apa?"
"Takut bahwa semua ini hanya sementara. Bahwa suatu hari nanti, orang tua Amanda akan melarang kita bertemu. Dan Amanda akan memilih mereka."
"Kalau itu terjadi, maka kamu harus menerima. Tapi kamu tidak akan menyerah, kan?"
"Tidak."
"Itu jawaban yang benar."
Ahmat berdiri, merapikan celananya, lalu berjalan ke pintu. "Istirahatlah, Man. Besok kamu akan bertemu lagi dengan Amanda. Teruslah berjuang. Jangan pernah menyerah."
"Terima kasih, Mat."
"Jangan makasih. Itu tugas teman."
Pintu ditutup. Herman sendirian di kontrakannya yang gelap. Dia memandang langit-langit yang retak-retak, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Tapi langit-langit itu tidak menjawab. Hanya diam seperti biasanya.
Tapi di dalam dadanya, ada keyakinan. Keyakinan bahwa cinta tidak mengenal status sosial. Keyakinan bahwa ketulusan akan selalu menemukan jalannya. Keyakinan bahwa suatu hari nanti, semua keraguan akan sirna, dan yang tersisa hanya cinta.
Cinta yang dimulai dari sehelai permen karet.
BAB 12
RAGIL BERBUHUNG, HERMAN BERJUANG
Ragil mendengar kabar tentang kedekatan Herman dan Amanda dari Iwan, mata-matanya yang paling andal, pada suatu sore yang panas di kantin sekolah. Iwan datang dengan napas tersengal-sengal, seperti baru saja berlari lima putaran keliling lapangan sepak bola, padahal dia hanya berjalan dari lorong utara ke selatan. Wajahnya merah padam, keringat mengalir di pelipisnya, dan matanya membelalak seperti orang yang baru melihat hantu di siang bolong.
"Bos, kabar buruk!" seru Iwan begitu sampai di meja Ragil.
Ragil yang sedang asyik meminum es jeruk, langsung menghentikan sedotannya. "Apa? Herman datang ke sekolah lagi?"
"Lebih buruk dari itu, Bos. Herman sudah traktir gengnya Amanda makan bakso di Dermaga KP3. Mereka semua akrab. Dahlia, Yunita, Anita, Sania, semuanya sudah seperti teman lama. Bahkan Yanto dan Dahlia sudah saling bertukar nomor telepon."
Ragil meletakkan gelas es jeruknya dengan keras di atas meja. Bunyi duar itu membuat beberapa siswa di meja sebelah menoleh, tetapi Ragil tidak peduli. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh senyum, kini berubah menjadi serius. Matanya menyipit, alisnya mengerut, dan bibirnya mengeras seperti batu.
"Bagaimana bisa?" tanya Ragil dengan suara tertahan.
"Herman yang menginisiasi, Bos. Dia yang mengundang mereka. Dia yang traktir. Bahkan konon kabarnya, Herman dan Amanda sudah sering bertemu di luar Car Free Day . Di pasar, di toko HP, bahkan di Dermaga Danau Mare."
Ragil terdiam. Dermaga Danau Mare? Tempat romantis yang hanya diketahui oleh warga lokal? Itu artinya Herman sudah membawa Amanda ke tempat yang spesial. Tempat yang tidak akan diajak sembarang orang. Dan itu berarti hubungan mereka sudah semakin dalam.
"Aku tidak boleh kalah," bisik Ragil pada dirinya sendiri.
"Bos, bagaimana strategi kita?" tanya Feri yang ikut nimbrung.
"Kita harus mempercepat langkah. Herman sudah unggul di beberapa titik. Tapi kita masih punya keunggulan."
"Keunggulan apa, Bos?"
"Uang, mobil, status sosial, dan masa depan yang cerah. Hal-hal yang tidak dimiliki oleh Herman."
Iwan dan Feri mengangguk-angguk. Mereka percaya pada Ragil. Selama ini, Ragil selalu berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Perempuan. Prestasi. Popularitas. Semua bisa dia raih dengan mudah. Amanda mungkin lebih sulit dari yang lain, tapi bukan berarti tidak mungkin.
"Bos, aku dengar orang tua Amanda sangat protektif," kata Sukat yang juga ikut dalam pertemuan dadakan itu. "Mereka tidak akan sembarangan merestui anaknya dekat dengan cowok yang status sosialnya di bawah."
"Itu keunggulan kita," kata Ragil dengan senyum tipis. "Aku akan mendekati orang tua Amanda. Tunjukkan bahwa aku punya masa depan. Bahwa aku layak untuk Amanda. Sementara Herman hanya pekerja kontraktor dengan gaji pas-pasan dan kontrakan bocor."
"Tapi Bos, jangan meremehkan Herman. Dia punya ketulusan. Dan ketulusan kadang lebih kuat daripada uang."
Ragil menatap Sukat dengan mata tajam. "Kamu meragukanku?"
"Bukan meragukan, Bos. Hanya mengingatkan."
"Peringatanmu diterima. Tapi aku tidak akan kalah. Aku Ragil. Aku tidak pernah kalah dalam hal apapun."
Dua hari kemudian, Ragil mulai menjalankan strateginya. Langkah pertama adalah mendekati ibu Amanda. Dia tahu bahwa ibu Amanda sering berbelanja di Pasar Sari Mulya pada Selasa dan Kamis sore. Ragil sudah memetakan jadwal itu dengan bantuan Iwan yang menguntit dari kejauhan (dengan cara yang sangat tidak kentara, tentu saja).
Pada hari Kamis sore, Ragil berdiri di depan lapak sayur langganan ibu Amanda. Dia memakai kemeja batik lengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Penampilannya rapi, seperti anak orang kaya yang baru pulang dari kuliah di kota besar. Dia tersenyum ramah ketika ibu Amanda menghampiri lapak sayur itu.
"Selamat sore, Bu," sapa Ragil dengan suara manis.
Ibu Amanda menoleh. Matanya mengamati Ragil dari ujung rambut sampai ujung sepatu. "Selamat sore, Nak. Kamu siapa? Wajahmu familiar."
"Saya Ragil, Bu. Teman Amanda di sekolah."
"Ragil? Yang sering bawa sup ayam waktu Amanda sakit?"
Ragil tersenyum lebar. Senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berjam-jam. "Iya, Bu. Itu saya."
"Wah, kamu anak yang baik. Ibu masih ingat sup ayamnya. Enak sekali."
"Terima kasih, Bu. Itu buatan ibu saya. Ibu saya suka masak."
"Oh, jadi ibumu yang masak? Hebat sekali. Tolong sampaikan terima kasih saya."
"Baik, Bu. Nanti saya sampaikan."
Ibu Amanda memilih sayuran dengan teliti. Ragil membantu memegangi keranjang belanjaan. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Tentang sekolah, tentang cita-cita, tentang masa depan. Ragil menceritakan bahwa dia ingin melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada, mengambil jurusan manajemen, lalu membantu usaha ayahnya yang bergerak di bidang properti.
Ibu Amanda terkesan. "Kamu anak yang punya rencana. Bagus sekali. Amanda harusnya bergaul dengan orang-orang seperti kamu."
Ragil tersenyum sopan. Di dalam hati, dia bersorak. Langkah pertama berhasil. Ibu Amanda mulai melihatnya sebagai kandidat yang layak untuk Amanda.
"Saya dengar Amanda sering jalan dengan seorang pemuda bernama Herman," kata ibu Amanda tiba-tiba, sambil memilih cabai merah. "Kamu tahu dia?"
Ragil mengatur ekspresinya. Jangan sampai terlihat terlalu antusias. Jangan sampai terlihat terlalu benci. Cukup netral. "Saya tahu, Bu. Herman memang sering mendekati Amanda. Tapi sejujurnya, Bu, saya agak khawatir."
"Khawatir kenapa?"
"Herman bekerja sebagai kontraktor. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu. Tapi penghasilannya tidak tetap. Dia tinggal di kontrakan sempit di belakang pasar. Saya khawatir, jika Amanda terlalu dekat dengan Herman, reputasinya bisa terganggu. Apalagi status keluarga Amanda yang terpandang di kota ini."
Ibu Amanda terdiam. Wajahnya berubah menjadi serius. "Kamu tahu persis tentang Herman?"
"Hanya sekadar tahu, Bu. Saya tidak ingin ikut campur, tapi sebagai teman Amanda, saya merasa perlu mengingatkan."
"Baiklah, Nak. Terima kasih informasinya. Ibu akan pikirkan."
Ragil mengangguk. Dia tidak ingin terdorong terlalu jauh. Cukup sampai di sini. Benih keraguan sudah ditanam di hati ibu Amanda. Sekarang tinggal menunggu sampai benih itu tumbuh menjadi pohon yang kuat.
Di lain pihak, Herman tidak tinggal diam. Dia mendengar dari Yanto bahwa Ragil mulai gencar mendekati ibu Amanda di pasar. Yanto mendapat informasi dari Dahlia, yang mendapat informasi dari ibunya yang kebetulan berteman dengan ibu Amanda. Lingkaran informasi di Kota Kuala Kapuas memang sangat sempit. Satu orang bicara, sepuluh orang tahu.
"Ragil sudah mulai main di belakang," kata Ahmat saat mereka berkumpul di kontrakan Herman pada malam harinya.
"Apa maksudnya main di belakang?" tanya Herman.
"Dia mendekati orang tua Amanda. Memengaruhi mereka dengan kata-kata manis. Membuat citramu buruk di mata mereka."
Herman menghela napas. Dia sudah menduga ini. Ragil tidak akan tinggal diam melihatnya unggul. Ragil akan menggunakan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak sepenuhnya jujur, untuk merebut Amanda darinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Herman.
"Kamu harus membersihkan namamu. Jangan biarkan Ragil menyebarkan fitnah tanpa perlawanan."
"Tapi aku tidak punya bukti. Aku hanya tahu dari Yanto yang tahu dari Dahlia."
"Itu sudah cukup. Yang penting kita punya informasi. Sekarang kita kumpulkan bukti-bukti bahwa Ragil berbohong."
"Bukti apa?"
"Kita selidiki latar belakang Ragil. Cari tahu apakah benar dia playboy. Cari tahu apakah benar dia sering berganti-ganti pacar. Kalau kita punya bukti, kita bisa tunjukkan ke Amanda dan orang tuanya."
Herman setuju. Dia tidak ingin menggunakan cara kotor seperti Ragil. Tapi dia juga tidak bisa tinggal diam. Jika reputasinya dihancurkan, maka semua perjuangannya selama ini akan sia-sia. Dia harus membersihkan namanya, dengan cara yang bersih.
"Bagaimana caranya?" tanya Herman.
"Kita bagi tugas. Yanto dan Dahlia akan mengumpulkan informasi dari teman-teman sekolah. Yuni dan Sania akan mencari tahu dari guru-guru. Herawati dan Anita akan memantau media sosial Ragil. Aku dan Mahdili akan mencari tahu dari teman-teman lamanya."
"Lalu aku?"
"Kamu tetap fokus pada Amanda. Jangan biarkan dia terpengaruh oleh Racun yang disebarkan Ragil. Kamu harus terus meyakinkannya bahwa kamu bukanlah orang yang seperti yang digambarkan Ragil."
Herman mengangguk. Dia akan melakukan tugasnya dengan baik. Dia akan terus berada di sisi Amanda, meskipun dunia berkonspirasi melawannya.
Sementara Tim STS bergerak mengumpulkan informasi, Ragil terus melancarkan serangan. Dia tidak hanya mendekati ibu Amanda, tetapi juga ayah Amanda. Suatu sore, dia datang ke toko sembako milik ayah Amanda dengan membawa oleh-oleh berupa kopi luwak yang katanya sangat langka dan mahal.
"Permisi, Pak," sapa Ragil dengan sopan.
Ayah Amanda yang sedang menghitung stok barang di gudang, menoleh. "Iya, Nak. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya Ragil, Pak. Teman Amanda."
"Ragil? Yang sering disebut-sebut Ibu Amanda?"
"Iya, Pak. Saya hanya mampir, sekalian membawakan kopi untuk Bapak. Kopi luwak asli, Pak. Saya dapat dari tetangga yang baru pulang dari Sumatra."
Ayah Amanda tersenyum. Dia mengambil kopi itu, menimbangnya di tangan seperti orang yang tahu persis nilai sebuah barang. "Ini mahal, Nak. Kamu tidak usah repot-repot."
"Tidak repot, Pak. Anggap saja sebagai rasa hormat saya kepada Bapak."
Mereka berbincang-bincang sebentar. Ragil bercerita tentang ayahnya yang juga pengusaha properti. Tentang rencana masa depannya. Tentang keinginannya untuk memiliki keluarga yang harmonis seperti keluarga Amanda. Ayah Amanda tampak terkesan. Matanya berbinar mendengar cerita Ragil tentang bisnis properti yang sangat dia kuasai.
"Kamu anak yang cerdas, Ragil," puji ayah Amanda. "Orang tuamu pasti bangga."
"Terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha."
"Amanda harusnya punya teman seperti kamu. Teman yang bisa membawanya ke arah yang lebih baik."
Ragil tersenyum. Di dalam hati, dia bersorak lagi. Langkah kedua berhasil. Ayah Amanda juga mulai terpengaruh.
Beberapa hari kemudian, Herman mendengar kabar bahwa orang tua Amanda mulai melarang Amanda bertemu dengannya. Larangan itu disampaikan secara halus, tetapi jelas. Ibu Amanda berkata, "Ndah, Ibu dengar kamu sering jalan dengan Herman. Ibu tidak melarang kamu berteman, tapi jangan terlalu sering. Fokuslah pada sekolahmu dulu."
Amanda yang mendengar itu, langsung curiga. "Mah, siapa yang bilang?"
"Itu bukan masalah. Yang penting Ibu mengingatkan."
"Tapi Mah, Herman baik. Dia tidak seperti yang orang lain katakan."
"Ibu tidak bilang dia tidak baik. Ibu hanya bilang, fokus pada sekolah. Setelah lulus, kamu bebas bergaul dengan siapa pun."
Amanda tidak bisa membantah. Dia hanya bisa diam dan menurut. Tapi di dalam hatinya, dia tahu ada yang tidak beres. Seseorang telah mempengaruhi orang tuanya. Dan orang itu sangat mungkin adalah Ragil.
Malam harinya, Amanda mengirim pesan pada Herman.
@amanda_cans: Herman, orang tuaku mulai melarang aku bertemu denganmu. Aku tidak tahu siapa yang mempengaruhi mereka, tapi aku curiga itu Ragil.
@herman_kontraktor: Aku tahu. Aku sudah dengar. Tapi jangan khawatir. Aku tidak akan menyerah.
@amanda_cans: Kamu harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau kehilangan kamu.
@herman_kontraktor: Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku janji.
@amanda_cans: Janji itu mudah diucapkan, Herman.
@herman_kontraktor: Tapi sulit diingkari. Aku tidak akan mengingkarinya.
Amanda membaca pesan itu berulang-ulang. Air matanya hampir jatuh. Dia percaya pada Herman. Tapi dunia di sekitarnya terlalu berat. Ekspektasi orang tua, gosip teman-teman, dan tekanan sosial yang terus-menerus. Kadang dia merasa lelah. Kadang dia ingin menyerah. Tapi setiap kali dia melihat pesan Herman, setiap kali dia mengingat senyum canggungnya, setiap kali dia merasakan genggaman tangannya yang hangat, dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa cinta sejati layak diperjuangkan.
Tim STS bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari satu minggu, mereka berhasil mengumpulkan informasi yang cukup tentang Ragil. Yanto dan Dahlia menemukan tiga mantan pacar Ragil yang bersedia diwawancarai. Mereka semua bercerita hal yang sama: Ragil adalah playboy. Dia pandai merayu, pandai membuat perempuan merasa istimewa, tapi setelah bosan, dia pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab.
Yuni dan Sania mendapat informasi dari guru BK bahwa Ragil pernah dipanggil karena kasus perundungan terhadap seorang siswa yang lebih muda. Kasus itu tidak sampai ke polisi karena orang tua Ragil menyelesaikannya dengan uang. Herawati dan Anita menemukan bukti di media sosial bahwa Ragil sering memamerkan kekayaannya. Foto mobil mewah, liburan ke luar negeri, pakaian-pakaian mahal. Semua dipamerkan untuk menunjukkan bahwa dia hidup di atas rata-rata.
Ahmat dan Mahdili berhasil mewawancarai mantan sahabat Ragil yang kini sudah tidak berteman lagi karena suatu konflik. Mantan sahabat itu bercerita bahwa Ragil adalah orang yang manipulatif. Dia suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri, lalu membuangnya ketika tidak lagi berguna.
"Kita punya cukup bukti," kata Ahmat dalam rapat Tim STS di kontrakan Herman. "Sekarang tinggal bagaimana cara menyampaikannya ke Amanda dan orang tuanya."
"Kita tidak bisa sembarangan," kata Yuni. "Kalau kita salah menyampaikan, bisa dianggap fitnah."
"Kita harus menyampaikan dengan sopan, berdasarkan fakta, tanpa Emosi."
Herman setuju. Dia tidak ingin menggunakan cara kotor seperti Ragil. Dengan bukti-bukti yang ada, dia akan menyampaikan secara langsung kepada Amanda. Biarkan Amanda yang memutuskan apakah dia percaya atau tidak.
Suatu sore, Herman mengajak Amanda bertemu di Taman Kota Simpang Adipura. Tempat di mana mereka pertama kali bertemu secara tidak sengaja. Tempat di mana kebencian Amanda mulai berubah menjadi rasa penasaran.
"Mengapa kamu ajak aku ke sini?" tanya Amanda.
"Karena di sinilah semuanya mulai berubah," jawab Herman. "Di sinilah aku pertama kali menyadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu. Dan di sinilah aku ingin jujur padamu."
Mereka duduk di bangku kayu yang sama. Herman membuka tas ranselnya, mengeluarkan sebuah map berisi dokumen-dokumen yang dikumpulkan Tim STS. Lalu dia menceritakan semuanya. Tentang Ragil yang mendekati orang tuanya. Tentang fitnah yang disebarkan. Tentang bukti-bukti bahwa Ragil bukanlah orang yang baik.
Amanda membaca semua dokumen itu dengan teliti. Wajahnya berubah dari terkejut menjadi marah, dari marah menjadi sedih, dari sedih menjadi kecewa.
"Jadi, selama ini dia hanya berpura-pura?" bisik Amanda.
"Iya. Dia hanya ingin memenangkan hati orang tuamu, lalu merebutmu dariku."
"Kenapa dia tega melakukan itu?"
"Karena dia tidak tahu arti cinta sejati. Baginya, cinta hanya permainan. Siapa yang menang, siapa yang kalah. Tapi bagiku, cinta bukan permainan. Cinta adalah perjuangan. Cinta adalah pengorbanan. Cinta adalah kejujuran."
Amanda tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menggenggam tangan Herman erat-erat. Di dalam genggaman itu, terkandung rasa terima kasih, rasa percaya, dan rasa cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku akan bicara dengan orang tuaku," kata Amanda akhirnya. "Aku akan tunjukkan bukti-bukti ini. Mereka harus tahu siapa Ragil sebenarnya."
"Jangan terlalu keras pada mereka," kata Herman. "Mereka hanya ingin melindungimu. Mereka tidak tahu bahwa perlindungan mereka salah sasaran."
"Aku tahu. Tapi aku tetap harus bicara."
Mereka duduk di taman itu hingga senja tiba. Matahari tenggelam di ufuk barat, meninggalkan sisa-sisa cahaya keemasan yang indah. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma bunga dari taman.
"Herman," panggil Amanda.
"Ya?"
"Terima kasih sudah jujur padaku."
"Aku tidak akan pernah berbohong padamu, Amanda. Janji."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua tersenyum. Di tengah senja yang perlahan berubah menjadi malam, di bawah gemerlap lampu taman yang mulai menyala, dua hati yang awalnya saling membenci kini bersatu. Bukan karena permen karet. Tapi karena kejujuran. Karena perjuangan. Dan karena cinta.
Keesokan harinya, Amanda datang ke toko sembako ayahnya dengan membawa map berisi dokumen-dokumen itu. Dia menunjukkan semua bukti tentang Ragil. Mantan-mantan pacar. Kasus perundungan. Postingan media sosial yang pamer kekayaan. Semua.
Ayah Amanda membacanya dengan teliti. Wajahnya berubah dari terkejut menjadi marah. "Jadi, selama ini dia hanya memanfaatkan kita?"
"Iya, Yah. Dia ingin mencitrakan diri sebagai anak baik-baik, padahal di belakang dia memfitnah Herman dan berusaha memisahkan aku dari dia."
Ayah Amanda menghela napas panjang. Dia menyesal sudah termakan bujukan Ragil. Dia menyesal sudah melarang Amanda bertemu Herman tanpa mendengar klarifikasi terlebih dahilu.
"Maafkan Ayah, Ndah," kata ayah Amanda. "Ayah terlalu terburu-buru menilai."
"Tidak apa-apa, Yah. Yang penting sekarang Ayah tahu kebenarannya."
"Iya. Sekarang Ayah tahu. Dan Ayah tidak akan melarang kamu bertemu Herman lagi. Tapi tetap jaga batasan. Kamu masih sekolah."
"Baik, Yah."
Amanda keluar dari toko dengan hati yang lega. Dia mengirim pesan pada Herman.
@amanda_cans: Selesai. Orang tuaku tahu semuanya. Mereka tidak akan melarang kita bertemu lagi. Terima kasih, Herman.
@herman_kontraktor: Sama-sama, Amanda. Tapi jangan berterima kasih dulu. Belum selesai.
@amanda_cans: Apa lagi?
@herman_kontraktor: Ragil. Dia masih bebas. Dia masih bisa menyakiti orang lain. Aku harus menghentikannya.
@amanda_cans: Jangan main hakim sendiri, Herman.
@herman_kontraktor: Aku tidak akan. Aku hanya akan memastikan bahwa dia tidak bisa berbuat jahat lagi. Dengan cara yang baik.
Amanda tidak membalas. Dia percaya pada Herman. Herman orang yang baik. Dia tidak akan melakukan hal-hal bodoh. Setidaknya, tidak sengaja.
Di warung kopi favoritnya, Ragil duduk sendirian. Iwan, Feri, dan Sukat tidak datang malam itu. Mungkin mereka sudah tahu bahwa rencana Ragil gagal. Atau mungkin mereka sudah bosan menjadi antek-antek yang selalu disuruh-suruh. Entahlah. Yang jelas, Ragil merasa sendirian untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Dia memandang layar ponselnya. Pesan dari Amanda sudah dia baca. Isinya singkat: Aku tahu semuanya, Ragil. Jangan dekati aku lagi. Jangan dekati orang tuaku lagi. Aku tidak mau melihat wajahmu.
Ragil tersenyum pahit. Dia kalah. Kalah dari seorang pekerja kontraktor yang tidak punya mobil, tidak punya rumah, tidak punya masa depan cerah. Kalah dari seorang pria yang hanya mengandalkan kejujuran dan ketulusan.
"Cinta tidak bisa dibeli dengan uang, Ragil," bisiknya pada dirinya sendiri. "Maaf, aku baru sadar sekarang."
Dia mematikan ponsel, menghabiskan kopinya, lalu berjalan pulang dengan langkah gontai. Malam itu, untuk pertama kalinya, Ragil tidak memikirkan strategi untuk merebut Amanda. Dia hanya memikirkan satu hal: bagaimana menjadi manusia yang lebih baik.
BAB 13
JURUS KE 77 MENGORBANKAN HARGA DIRI DI CAR FREE DAY
Kemenangan Herman atas Ragil bukanlah akhir dari perjuangan. Itu hanyalah awal dari babak baru yang lebih menantang. Karena meskipun orang tua Amanda sudah tidak melarang mereka bertemu, dan meskipun geng Amanda sudah menerima Herman sebagai bagian dari lingkaran pertemanan, ada satu hal yang masih mengganjal di hati Amanda. Sesuatu yang tidak pernah dia bicarakan secara langsung, tetapi selalu muncul di setiap pertemuan mereka, seperti bayangan yang tidak pernah mau pergi meskipun matahari sudah terik di atas kepala.
Sesuatu itu adalah permen karet. Bukan permen karet sebagai benda fisik yang masih setia menempel di baju olahraga putihnya, tetapi permen karet sebagai simbol dari awal mula segalanya. Sebagai simbol dari penghinaan yang tidak sengaja. Sebagai simbol dari luka kecil yang meskipun sudah mulai mengering, tetap meninggalkan bekas yang tidak bisa dihilangkan.
Suatu malam, setelah mereka pulang dari makan malam bersama di Dermaga KP3, Amanda mengirim pesan panjang pada Herman. Pesan yang membuat Herman terjaga semalaman, memandangi langit-langit kontrakannya yang retak-retak, sambil memikirkan arti dari setiap kata yang ditulis Amanda.
@amanda_cans: Herman, aku ingin jujur padamu. Selama ini, meskipun aku sudah mulai nyaman denganmu, meskipun aku sudah mulai percaya padamu, ada satu hal yang masih membuatku tidak bisa sepenuhnya membuka hati. Bukan Ragil. Bukan orang tuaku. Bukan teman-temanku. Tapi permen karet itu. Bukan permen karetnya sebagai benda, karena baju itu sudah lama tidak aku pakai. Tapi permen karet itu sebagai kenangan. Sebagai awal dari segalanya. Aku tidak bisa melupakan bagaimana rasanya ketika di depan umum, di Car Free Day , seorang pria asing menempelkan permen karet di bajuku. Aku merasa direndahkan. Aku merasa tidak dihargai. Aku merasa seperti bahan lelucon. Dan meskipun aku sudah berusaha, aku tidak bisa sepenuhnya memaafkanmu sebelum kamu benar-benar menunjukkan bahwa kamu menyesal. Bukan hanya dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan. Tindakan yang membuatku yakin bahwa kamu tidak akan pernah lagi melakukan hal bodoh seperti itu.
Herman membaca pesan itu berkali-kali. Matanya perih karena kurang tidur, tetapi pikirannya terus berputar mencari solusi. Apa yang diminta Amanda sebenarnya sederhana. Dia hanya ingin Herman menunjukkan penyesalan yang tulus melalui tindakan. Bukan sekadar kata maaf yang diucapkan berkali-kali. Bukan sekadar bunga atau tahu walik atau puisi atau lagu fals. Tapi tindakan yang benar-benar mengorbankan sesuatu. Tindakan yang menunjukkan bahwa Herman rela melakukan apa pun, bahkan hal yang paling memalukan sekalipun, untuk menebus kesalahannya.
"Jurus ke tujuh puluh tujuh," bisik Herman pada dirinya sendiri. "Ini saatnya untuk jurus yang paling berani."
Dia tidak tahu persis apa yang akan dia lakukan. Tapi dia tahu bahwa jurus ini harus spektakuler. Jurus ini harus melibatkan Car Free Day , karena di sanalah semuanya dimulai. Jurus ini harus melibatkan publik, karena di depan publiklah Amanda merasa paling dipermalukan. Dan jurus ini harus melibatkan pengorbanan harga diri, karena hanya dengan mengorbankan harga dirilah Herman bisa menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh menyesal.
Dia mematikan ponsel, memejamkan mata, dan mencoba tidur. Tapi tidur tidak datang. Yang datang hanya bayangan Amanda yang duduk di bangku taman dengan mata sembab, mengatakan bahwa dia belum bisa sepenuhnya memaafkan. Bayangan itu terus menghantuinya sampai fajar menyingsing di ufuk timur.
Pagi harinya, Herman mengadakan rapat darurat Tim STS di kontrakannya. Semua anggota hadir, termasuk Yanto yang masih mengantuk dan Yuni yang sibuk menyisir rambutnya yang kusut. Ahmat yang paling segar di antara mereka, sudah duduk bersila di lantai dengan secangkir kopi hitam di tangan kirinya dan notepad di tangan kanannya.
"Aku butuh ide," kata Herman tanpa basa-basi.
"Ide untuk apa?" tanya Ahmat.
"Untuk jurus ke tujuh puluh tujuh. Jurus yang akan membuat Amanda benar-benar memaafkanku."
"Bukannya dia sudah memaafkanmu?" tanya Yanto sambil menguap.
"Secara lisan, ya. Tapi di dalam hati, masih ada luka. Luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata. Aku harus menunjukkan penyesalanku dengan tindakan nyata."
Mereka semua terdiam. Masing-masing berpikir keras. Yanto berpikir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mahdili berpikir sambil memainkan ponselnya. Yuni berpikir sambil terus menyisir rambutnya meskipun rambutnya sudah tidak kusut lagi. Herawati berpikir sambil menggigit bibir bawahnya. Ahmat berpikir sambil menyesap kopinya pelan-pelan.
"Bagaimana kalau kamu jogging telanjang di Car Free Day ?" tiba-tiba Yanto mengajukan ide.
Semua mata tertuju pada Yanto. Ada yang melotot, ada yang menggeleng, ada yang menutup muka karena malu.
"Yanto, itu ide terburuk yang pernah kamu lontarkan sepanjang sejarah persahabatan kita," kata Herawati.
"Tapi kan itu mengorbankan harga diri?" Yanto membela diri.
"Mengorbankan harga diri beda dengan menjadi bahan tontonan publik yang menjijikkan."
"Ya sudah, kalau tidak jogging telanjang, bagaimana kalau jogging pakai kostum badut?"
Ahmat yang dari tadi diam, tiba-tiba meletakkan gelas kopinya. Matanya berbinar. "Kostum badut. Itu ide yang menarik, Yanto."
"Hei, serius? Ideku diterima?" Yanto terkejut.
"Ide jogging telanjang tidak. Tapi ide kostum badut, ya. Itu bisa kita olah."
Herman mengerutkan dahi. "Kostum badut? Maksudnya aku jogging di Car Free Day pakai kostum badut?"
"Iya. Kamu jogging membawa balon. Di balon itu kamu tulis permintaan maafmu. 'Amanda, maafkan permen karetnya.' Atau kalimat lain yang lebih puitis."
"Bukankah itu akan membuatku semakin terlihat seperti orang gila?"
"Itulah gunanya. Dengan menjadi orang gila di depan umum, kamu menunjukkan bahwa kamu rela melakukan apa pun, bahkan hal yang paling memalukan sekalipun, untuk meminta maaf pada Amanda. Itu pengorbanan harga diri sejati."
Herman terdiam. Ide Ahmat Cs memang gila. Tapi bukankah semua ide yang berhubungan dengan Amanda selalu gila? Dia sudah melakukan hal-hal gila sebelumnya. Berlutut di rumah Amanda. Menyanyikan lagu fals di Danau Mare. Menjadi kuli angkat di toko sembako. Jadi, apa bedanya menambah satu kegilaan lagi? Paling-paling dia akan dianggap sinting oleh seluruh warga Car Free Day . Tapi setidaknya Amanda akan tahu bahwa dia serius. Bahwa dia tidak main-main. Bahwa dia rela mengorbankan apapun, bahkan harga dirinya yang terakhir, demi mendapatkan maaf darinya.
"Baiklah," kata Herman akhirnya. "Aku setuju. Tapi aku butuh kostum badut."
"Aku bisa pinjam dari keponakanku," kata Yuni. "Dia punya kostum badut lengkap dengan hidung merah dan wig warna-warni."
"Bagus. Sekarang kita siapkan balonnya. Herman, kamu mau tulis apa di balon itu?"
Herman berpikir sejenak. "Tulis saja, 'Amanda, maafkan permen karetnya. Aku serius menyesal.'"
"Terlalu panjang. Balonnya tidak muat."
"'Maafkan permen karetku'?"
"Masih panjang."
"'Maafkan aku, Amanda'?"
"Bisa. Singkat, padat, dan jelas."
"Baik. 'Maafkan aku, Amanda'."
Mereka berlima mengangguk setuju. Rencana sudah matang. Sekarang tinggal eksekusi. Herman akan jogging di Car Free Day pada minggu depan, memakai kostum badut, membawa balon bertuliskan permintaan maaf. Teman-temannya akan berada di pinggir jalur jogging untuk memberi dukungan moral. Dan Amanda akan menjadi saksi dari kegilaan terbesar Herman sepanjang hidupnya.
Hari yang dinanti pun tiba. Minggu pagi, matahari terbit dengan cerah seperti biasa. Langit biru tanpa awan, angin berhembus sepoi-sepoi, dan ribuan warga mulai memadati area Car Free Day . Ada yang senam, ada yang jogging, ada yang sekadar cuci mata. Herman datang dengan kostum badut yang dipinjam dari keponakan Yuni. Kostum itu berwarna-warni, berukuran sedikit terlalu kecil untuk tubuhnya yang tidak terlalu besar tetapi tidak terlalu kecil. Celananya panjang, tetapi bajunya agak sempit di bagian dada. Wig merah menyala menutupi rambutnya yang hitam. Hidung merah bulat menempel di ujung hidung aslinya yang sudah mancung. Sepatu besarnya terasa berat, seperti membawa batu bata di setiap langkah.
"Kamu siap?" tanya Ahmat.
"Siap atau tidak, aku sudah di sini," jawab Herman.
"Bagus. Ingat, jangan malu. Anggap saja semua orang yang melihatmu adalah patung. Mereka tidak punya mulut untuk tertawa. Mereka tidak punya mata untuk melihat. Mereka hanya patung."
"Itu tidak membantu, Mat."
"Aku tahu. Tapi setidaknya kau sudah berusaha."
Herman menarik napas panjang. Dia memegang balon berwarna pink yang sudah ditiup dengan helium. Balon itu mengambang di atas kepalanya, bertuliskan dengan huruf besar berwarna merah: "MAAFKAN AKU, AMANDA." Di bawahnya ada gambar permen karet kecil yang digambar dengan spidol hitam. Sederhana, tetapi cukup jelas.
"Baiklah. Aku mulai."
Herman mulai jogging. Perlahan pada awalnya, karena sepatu besarnya terasa sangat berat. Kemudian sedikit lebih cepat, setelah dia terbiasa dengan bebannya. Wig merahnya bergoyang-goyang tertiup angin. Hidung merahnya sesekali hampir terlepas, tetapi dia selalu menyentuhnya dengan tangan kiri untuk memastikan masih menempel dengan baik.
Warga Car Free Day mulai memperhatikannya. Seorang ibu-ibu yang sedang senam berhenti bergerak, matanya mengikuti Herman dari kejauhan. Seorang bapak-bapak yang sedang jogging memperlambat langkahnya, mulutnya terbuka setengah, seperti sedang melihat fenomena alam yang langka. Anak-anak kecil yang sedang bermain sepeda berhenti di pinggir jalan, lalu tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk ke arah Herman.
"Ibu, lihat! Ada badut jogging!" teriak seorang anak laki-laki.
"Iya, Nak. Itu badut lagi olahraga."
"Lucu banget, Bu!"
Herman mendengar semua itu. Dadanya berdebar keras. Jantungnya terasa mau keluar dari rongga dada. Tapi dia tidak berhenti. Dia terus melangkah, terus jogging, membawa balon permintaan maafnya, berkeliling di sepanjang jalur Car Free Day .
Di pinggir jalan, teman-temannya memberi dukungan. Yanto berteriak, "SEMANGAT, MAN! KAMU HEBAT!" Mahdili bersiul nyaring. Yuni dan Herawati bertepuk tangan. Ahmat hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol. Herman tidak menoleh. Fokus pada jalan di depannya. Fokus pada satu tujuan: bertemu Amanda.
Setelah hampir sepuluh menit jogging, Herman melihat rombongan Amanda dari kejauhan. Mereka berlari kecil dengan formasi yang sama seperti biasanya. Amanda di depan, diikuti oleh Dahlia, Yunita, Anita, dan Sania. Wajah mereka masih biasa, belum melihat Herman karena jarak masih cukup jauh.
Herman mempercepat langkahnya. Sepatu besarnya berbunyi tak... tak... tak... di aspal. Balon pinknya melambai-lambai di atas kepalanya. Wig merahnya hampir terbang, tetapi dia tahan dengan tangan kanannya.
Rombongan Amanda semakin dekat. Jarak tinggal lima puluh meter. Empat puluh. Tiga puluh.
Amanda melihatnya.
Matanya membelalak. Mulutnya terbuka. Wajahnya berubah dari biasa menjadi terkejut, dari terkejut menjadi bingung, dari bingung menjadi... tidak tahu harus bereaksi apa.
"H-Herman?" suara Amanda terdengar gagap.
Herman berhenti tepat di depan Amanda. Dadanya naik turun karena kelelahan. Keringat bercucuran di dahi, membuat cat di wajahnya sedikit luntur. Hidung merahnya miring ke kanan, memberikan kesan yang lebih absurd dari yang sudah absurd.
"Amanda," kata Herman sambil mengatur napas.
"K-Kamu... pakai kostum badut?"
"Iya."
"Bawa balon?"
"Iya."
"Bertuliskan 'Maafkan aku, Amanda'?"
"Iya."
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini?"
Herman menarik napas panjang. Dia melepaskan balon dari tangannya, membiarkannya mengambang di udara. Balon itu naik perlahan, berhenti di ketinggian sekitar dua meter, lalu bergoyang-goyang tertiup angin. Semua mata tertuju padanya. Semua telinga mendengarkan.
"Amanda, aku minta maaf," kata Herman dengan suara lantang, cukup untuk didengar oleh puluhan orang di sekitarnya. "Aku minta maaf karena sudah menempelkan permen karet di bajumu. Aku minta maaf karena sudah mempermalukanmu di depan umum. Aku minta maaf karena sudah membuatmu marah, kesal, dan benci. Tapi yang paling aku sesali, aku minta maaf karena sudah membuatmu ragu bahwa aku sungguh-sungguh menyesal."
Amanda terdiam. Matanya berkaca-kaca. Mulutnya bergetar. Dia ingin marah. Dia ingin tertawa. Dia ingin menangis. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu, seperti sayur sop yang kebanyakan bumbu.
"Kamu tahu, Herman," kata Amanda dengan suara tertahan. "Kamu bisa saja minta maaf dengan cara biasa. Cukup datang ke rumahku, bilang maaf, lalu pergi."
"Tapi itu tidak cukup, Amanda. Kamu sudah bilang, kamu butuh tindakan. Kamu butuh bukti bahwa aku benar-benar menyesal. Maka inilah buktinya. Aku rela menjadi badut di Car Free Day . Aku rela ditertawakan oleh ribuan orang. Aku rela kehilangan harga diri. Semua demi kamu. Demi maaf yang tulus darimu."
Air mata Amanda jatuh. Dia tidak bisa menahannya lagi. Bukan air mata sedih. Bukan air mata marah. Tapi air mata haru. Air mata yang keluar karena seseorang rela melakukan hal gila hanya untuk meminta maaf padanya.
"Kamu gila, Herman."
"Aku tahu."
"Kamu benar-benar gila."
"Aku sudah bilang dari awal."
"Tapi...," Amanda berhenti sebentar, mengusap air matanya dengan punggung tangan, "...entah mengapa, kegilaanmu membuatku... gemas."
Herman mengerjap. "Gemas? Maksudnya?"
"Maksudnya, aku jadi... tidak bisa marah lagi. Aku jadi... ingin memaafkanmu. Sungguh-sungguh memaafkanmu. Bukan karena kamu pakai kostum badut. Tapi karena kamu berani melakukan hal ini di depan umum. Kamu berani mengorbankan harga dirimu. Itu lebih dari cukup sebagai bukti penyesalanmu."
"Jadi, kamu memaafkanku?"
Amanda tidak menjawab dengan kata-kata. Dia berjalan mendekat, lalu meraih tangan Herman. Genggamannya erat, hangat, penuh dengan makna. Di dalam genggaman itu, Herman menemukan jawaban yang dia cari selama ini. Maaf. Memaafkan. Dan mungkin, sedikit demi sedikit, cinta.
"Maafkan aku, Amanda," bisik Herman.
"Kamu sudah aku maafkan, Herman. Sejak di Dermaga Danau Mare. Hanya saja aku belum siap mengakuinya."
"Kenapa kamu belum siap?"
"Karena aku takut. Takut bahwa setelah aku memaafkanmu, kamu akan pergi. Takut bahwa maafku akan membuatmu merasa cukup, lalu kamu berhenti berusaha. Tapi sekarang aku sadar, kamu tidak akan pergi. Kamu tidak akan berhenti. Kamu akan terus berusaha, meskipun sudah dimaafkan. Karena kamu bukan mengejar maafku. Kamu mengejar hatiku."
Herman tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah dia tunjukkan di depan Amanda. "Amanda, aku tidak akan pernah berhenti berusaha. Bahkan setelah kamu menjadi milikku, aku akan terus berusaha. Karena cinta bukan hanya tentang mendapatkan. Tapi tentang menjaga."
Amanda tersenyum balik. Senyum yang tulus. Senyum yang tidak lagi dibatasi oleh rasa benci atau ragu atau takut. Hanya senyum yang lahir dari hati yang mulai terbuka.
Mereka berdua berdiri di tengah keramaian Car Free Day , berpegangan tangan, saling menatap, tanpa peduli dengan ribuan pasang mata yang memperhatikan. Di sekeliling mereka, orang-orang bertepuk tangan. Ada yang bersiul. Ada yang berteriak, "CINTA BENERAN, NIH!" Ada yang merekam dengan ponsel untuk diunggah ke media sosial. Tapi Herman dan Amanda tidak peduli. Mereka hanya peduli satu sama lain.
Dahlia yang menjadi saksi dari kejadian itu, menangis haru. "Akhirnya... akhirnya mereka berdua akur."
"Jangan nangis, Lia," kata Yunita sambil menyodorkan tisu. "Nanti make upmu rusak."
"Biar rusak. Yang penting Amanda bahagia."
Anita dan Sania hanya tersenyum. Mereka sudah menduga bahwa suatu hari nanti, Herman dan Amanda akan bersatu. Meskipun dengan cara yang paling tidak terduga. Meskipun dengan drama yang paling absurd.
Di sisi lain, Yanto memeluk Ahmat erat-erat. "Kita berhasil, Mat! Kita berhasil!"
"Belum berhasil, Yanto. Ini baru awal."
"Awal dari apa?"
"Awal dari hubungan yang sesungguhnya. Sekarang Herman harus membuktikan bahwa dia bukan hanya bisa mendapatkan Amanda, tapi juga bisa menjaganya."
"Ah, Mat, kamu terlalu serius. Nikmati dulu kemenangannya."
Ahmat tersenyum. Dia melepas pelukan Yanto, lalu bertepuk tangan bersama yang lain. Herman pantas bahagia. Setelah puluhan jurus gagal, akhirnya dia menemukan satu jurus yang berhasil. Bukan jurus yang paling cerdik. Bukan jurus yang paling elegan. Tapi jurus yang paling tulus. Jurus yang lahir dari hati yang benar-benar menyesal dan benar-benar ingin memperbaiki kesalahan.
Setelah Car Free Day usai, Amanda mengajak Herman ke dermaga KP3. Mereka duduk di bangku kayu yang sama seperti beberapa minggu lalu, ketika Herman pertama kali mentraktir geng Amanda. Tapi kali ini, hanya mereka berdua. Tidak ada Dahlia. Tidak ada Yanto. Hanya Herman dan Amanda, berdua di tepi sungai Kapuas Murung yang mengalir tenang.
"Herman, aku ingin bertanya sesuatu," kata Amanda.
"Tanya apa?"
"Apakah kamu tidak malu? Jogging pakai kostum badut di depan umum?"
"Malu. Tapi rasa maluku tidak sebesar rasa ingin mendapatkan maafmu."
"Kamu benar-benar tidak punya harga diri, ya."
"Bukan tidak punya. Tapi harga diriku tidak lebih penting daripada perasaanmu."
Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi senyumnya tidak bisa dia sembunyikan. "Kamu aneh, Herman. Aneh sekali."
"Aneh yang membuatmu jatuh cinta?"
"Jangan terlalu percaya diri. Aku belum jatuh cinta. Aku baru... menyukaimu."
"Menyukai itu awal dari jatuh cinta."
"Kamu terlalu banyak teori."
"Aku belajar dari pengalaman."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lepas, tawa yang tulus, tawa yang tidak lagi dibebani oleh rasa benci atau ragu. Di bawah sinar matahari pagi yang semakin meninggi, di tepi sungai yang airnya berkilauan, dua remaja yang awalnya saling membenci kini duduk berdampingan, berbagi cerita, berbagi mimpi, berbagi harapan.
"Amanda," panggil Herman.
"Ya?"
"Aku janji tidak akan pernah menempelkan permen karet di bajumu lagi."
"Kalau kamu melakukannya lagi?"
"Aku akan jogging pakai kostum badut seumur hidup."
Amanda tertawa lagi. "Aku simpan janjimu itu. Jangan sampai kamu ingkar."
"Aku tidak akan ingkar. Aku orang yang menepati janji."
"Kita lihat saja."
Mereka berdua duduk di dermaga itu hingga matahari meninggi, hingga perut mereka keroncongan karena belum sarapan, hingga akhirnya Herman mengajak Amanda makan bakso di lapaknya Pak RT. Amanda setuju. Mereka berjalan berdampingan, sesekali bersenggolan tangan, sesekali tersenyum canggung. Tidak ada yang berani memegang tangan yang lain. Tidak ada yang berani melangkah lebih jauh. Tapi di dalam hati, mereka sudah saling memiliki. Dan itu sudah cukup untuk hari ini.
BAB 14
MAKIN DEKAT, MAKIN RUWET
Setelah Herman resmi mendapatkan maaf dari Amanda di Car Free Day dengan cara yang paling spektakuler dan paling memalukan sepanjang sejarah Car Free Day , hubungan mereka memasuki fase baru. Fase di mana tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi kemarahan, tidak ada lagi permen karet yang mengganjal di hati. Yang tersisa hanyalah rasa suka yang tumbuh dengan subur seperti rumput liar di musim hujan, cepat, lebat, dan kadang sulit dikendalikan. Herman dan Amanda mulai sering bertemu di luar Car Free Day . Bukan hanya di pasar atau di toko HP. Tapi juga di tempat-tempat yang lebih personal, seperti di rumah masing-masing, di kafe-kafe kecil yang sepi, atau di tepi sungai Kapuas Murung pada sore hari ketika matahari mulai condong ke barat dan air sungai berubah warna menjadi keemasan.
Namun, seperti pepatah mengatakan, semakin dekat seseorang dengan kita, semakin banyak pula masalah yang muncul. Bukan karena mereka berdua tidak cocok, tetapi karena kedekatan membawa konsekuensi. Kedekatan berarti lebih sering bertemu, lebih sering berinteraksi, lebih sering melihat sisi-sisi buruk satu sama lain yang sebelumnya tersembunyi di balik topeng kesopanan. Herman mulai menyadari bahwa Amanda tidak hanya galak di depan umum, tetapi juga keras kepala di dalam rumah. Dia tidak suka diatur, tidak suka ditegur, dan tidak suka jika rencananya diganggu oleh hal-hal sepele. Sementara Amanda mulai menyadari bahwa Herman tidak hanya konyol di depan umum, tetapi juga ceroboh di dalam kehidupan sehari-hari. Dia sering lupa janji, sering terlambat datang, dan sering tidak sadar bahwa kata-katanya kadang menyakitkan meskipun tidak dia maksudkan.
Suatu sore, mereka bertengkar untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi sepasang kekasih (meskipun status "pacar" belum pernah mereka bicarakan secara terbuka). Pertengkaran itu dimulai dari hal yang sepele: Herman lupa membawakan tahu walik untuk Amanda seperti yang dia janjikan seminggu yang lalu.
"Kamu bilang kamu akan belikan tahu walik, Herman," kata Amanda dengan suara sedikit tinggi. Mereka sedang duduk di sebuah kafe kecil di dekat Pasar Sari Mulya, menikmati es teh manis dan pisang goreng.
"Aku lupa," jawab Herman jujur.
"Lupa? Kamu selalu lupa. Minggu lalu lupa membawakan buku yang aku pinjamkan. Dua minggu lalu lupa datang ke rumahku tepat waktu. Sekarang lupa tahu walik. Kapan kamu tidak lupa?"
"Aku tidak lupa dengan kamu. Aku tidak lupa dengan perasaan aku ke kamu."
"Tapi kamu lupa dengan hal-hal kecil. Dan hal-hal kecil itu penting, Herman. Karena dari hal-hal kecil aku bisa menilai seberapa besar kamu peduli."
Herman terdiam. Dia tidak bisa membantah. Amanda benar. Dia memang sering lupa dengan hal-hal kecil. Bukan karena dia tidak peduli, tetapi karena pikirannya terlalu sibuk dengan pekerjaan, dengan proyek perumahan yang deadlines nya mepet, dengan keuangan yang selalu tipis, dan dengan seribu masalah lain yang tidak pernah dia ceritakan pada Amanda. Tapi dia tidak mau menyalahkan kesibukannya. Itu akan terdengar seperti alasan.
"Maaf, Amanda. Aku akan coba lebih ingat."
"Kamu selalu bilang akan coba. Tapi kapan berhasilnya?"
Herman tidak menjawab. Dia hanya menunduk, memainkan sedotan es teh manisnya yang sudah tidak berisi. Amanda melihat kekalahannya. Untuk sesaat, kemarahannya mereda, digantikan oleh rasa kasihan. Dia tahu Herman bukan orang jahat. Dia tahu Herman tidak sengaja melupakan hal-hal kecil. Tapi sebagai seorang perempuan yang terbiasa diperhatikan oleh orang tuanya (meskipun kadang perhatian itu berlebihan), Amanda merasa bahwa perhatian adalah bentuk cinta yang paling konkret. Jika Herman tidak bisa memberikan perhatian pada hal-hal kecil, bagaimana dia bisa memberikan perhatian pada hal-hal besar di masa depan?
"Herman," panggil Amanda dengan suara lebih lembut.
"Ya?"
"Aku tidak marah. Aku hanya kecewa."
"Itu lebih buruk dari marah."
"Mungkin. Tapi setidaknya aku jujur."
Herman mengangguk. Amanda memang selalu jujur. Kadang kejujurannya menyakitkan, tetapi Herman lebih suka itu daripada kebohongan yang manis. "Aku akan berubah, Amanda. Aku janji."
"Jangan janji dulu. Buktikan."
"Baik. Aku akan buktikan."
Mereka berdua duduk diam beberapa saat. Tidak ada yang bicara. Hanya suara mesin kafe yang berdengung pelan dan suara pengunjung lain yang berbincang-bincang. Di luar jendela, hujan mulai turun. Gerimis pada awalnya, kemudian semakin deras, mengguyur atap-atap seng di pasar dengan suara yang keras dan berirama.
"Aku tidak bawa payung," kata Amanda.
"Aku juga tidak."
"Kita kehujanan."
"Kita bisa menunggu sampai reda."
"Tapi aku harus pulang. Ibu sudah menunggu."
Herman melepas jaketnya, lalu menyerahkannya pada Amanda. "Pakai ini. Untuk melindungi kepalamu."
"Kamu tidak akan kedinginan?"
"Aku sudah biasa. Dokter bilang aku kelebihan panas badan."
"Itu bukan alasan medis."
"Tapi berhasil membuatmu tersenyum."
Amanda tersenyum kecil. Dia menerima jaket Herman, memakainya di atas kepalanya, lalu berjalan keluar kafe. Herman mengikutinya, basah kuyup di tengah hujan, tetapi tidak peduli. Yang dia peduli hanyalah Amanda yang sedikit terlindungi dari air hujan.
Mereka berjalan cepat di trotoar yang basah. Genangan air di mana-mana membuat sepatu mereka basah. Amanda sesekali menoleh ke belakang, memastikan Herman masih mengikutinya. Herman selalu ada di sana, dengan senyum canggungnya, dengan jaket yang sudah tidak dipakainya, dengan hati yang basah kuyup oleh hujan dan cinta.
"Sampai di sini," kata Amanda ketika mereka tiba di depan rumahnya. Dia melepas jaket Herman, lalu mengembalikannya. "Terima kasih."
"Sama-sama."
"Kamu masuk, mandi, ganti baju. Jangan sampai sakit."
"Huajan ini tidak akan membuatku sakit."
"Kamu keras kepala."
"Kamu juga."
Mereka berdua tersenyum. Amanda masuk ke halaman rumah, membuka pintu, lalu melambai sebelum menutupnya. Herman berdiri di depan pagar beberapa saat, menikmati sisa-sisa kehangatan pertemuan mereka, meskipun tubuhnya basah dan dingin.
Dia berjalan pulang dengan langkah berat. Sepatu squit-squit karena penuh air. Jaketnya basah. Rambutnya basah. Tapi hatinya hangat.
Sementara itu, di dalam rumah, Ibu Amanda melihat anak perempuannya masuk dengan wajah yang sedikit basah oleh air hujan. Matanya langsung menyelidik.
"Kamu kehujanan?"
"Iya, Mah. Hujan deras tiba-tiba."
"Dengan siapa?"
"Dengan... teman."
"Teman yang mana? Herman?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya berjalan ke kamarnya, menghindari pertanyaan ibunya. Tapi Ibu Amanda tidak bodoh. Dia tahu bahwa anak perempuannya semakin dekat dengan Herman. Dan dia tidak sepenuhnya nyaman dengan kedekatan itu.
Bukan karena Herman tidak baik. Herman baik. Herman jujur. Herman pekerja keras. Tapi Herman tidak punya masa depan yang jelas. Pekerjaan kontraktor tidak tetap. Penghasilannya pas-pasan. Dia tinggal di kontrakan sempit di belakang pasar. Bagaimana mungkin dia bisa membahagiakan Amanda? Bagaimana mungkin dia bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak semata wayangnya?
Ibu Amanda menghela napas. Dia memandang ke arah kamar Amanda, lalu berbisik pada dirinya sendiri, "Ibu harus melakukan sesuatu."
Keesokan harinya, Ibu Amanda datang ke kontrakan Herman tanpa pemberitahuan. Dia tahu alamat kontrakan itu dari Dahlia yang tidak sengaja menyebutkannya di depan ibu Amanda saat berkunjung ke rumah. Ibu Amanda datang dengan mobil, ditemani oleh sopir pribadinya. Dia memakai daster batik dan sandal jepit, tetapi aura kewibawaannya tetap terpancar meskipun dengan pakaian sederhana.
Herman yang sedang mandi, kaget bukan kepalang ketika mendengar ketukan pintu yang keras. Dia menyelesaikan mandinya dengan terburu-buru, memakai baju seadanya, lalu membuka pintu. Di depan pintu, berdiri Ibu Amanda dengan ekspresi serius.
"Bu... Ibu Amanda?" Herman gagap.
"Ibu bisa masuk?"
"Bisa, Bu. Silakan."
Ibu Amanda masuk ke kontrakan. Matanya mengamati ruangan sempit 3x4 itu. Kasur lipat yang sudah kempes, lemaka kecil dengan cat mengelupas, kipas angin yang berputar lambat, dan dinding-dinding yang lembab. Ini bukan tempat yang layak untuk ditinggali. Apalagi untuk dikunjungi oleh mertua potensial.
"Maaf, Bu. Rumahnya kecil. Tidak rapi," kata Herman sambil merapikan selimut yang berantakan di kasur.
"Tidak apa-apa, Herman. Ibu tidak datang untuk menilai rumahmu."
"Lalu Ibu datang untuk apa?"
Ibu Amanda duduk di kursi plastik satu-satunya yang ada di kontrakan itu. Herman duduk di lantai, di depannya. Mereka berhadapan seperti seorang pimpinan perusahaan yang sedang mewawancarai calon pegawai.
"Herman, Ibu tidak suka basa-basi. Ibu akan terus terang."
"Silakan, Bu."
"Ibu tahu kamu dekat dengan Amanda. Ibu tahu kamu menyukainya. Dan Ibu tahu Amanda juga mulai menyukaimu. Tapi Ibu tidak bisa merestui hubungan kalian."
Herman terdiam. Dadanya terasa sesak. Dia sudah menduga ini. Sejak awal, dia tahu bahwa status sosialnya akan menjadi penghalang terbesar dalam hubungannya dengan Amanda. Tapi mendengarnya langsung dari mulut ibu Amanda, rasanya seperti ditampar dengan handuk basah.
"Boleh saya tahu alasannya, Bu?"
"Alasannya sederhana, Herman. Kamu tidak punya masa depan yang jelas. Pekerjaanmu tidak tetap. Penghasilanmu pas-pasan. Kamu tinggal di kontrakan sempit. Bagaimana kamu bisa membahagiakan Amanda? Bagaimana kamu bisa memberikan kehidupan yang layak untuknya?"
Herman menunduk. Jari-jarinya gemetar. Dia ingin marah. Dia ingin membantah. Tapi semua argumennya terasa lemah di hadapan kenyataan yang pahit ini.
"Saya mengerti kekhawatiran Ibu, Bu," kata Herman dengan suara tertahan. "Tapi saya mohon, jangan menilai saya hanya dari apa yang Ibu lihat sekarang. Saya masih muda. Saya masih punya banyak waktu untuk memperbaiki diri. Saya akan bekerja lebih keras. Saya akan menabung. Saya akan membangun masa depan yang layak untuk Amanda."
"Kata-kata manis, Herman. Tapi kata-kata tidak bisa memberi makan. Kata-kata tidak bisa membeli rumah. Kata-kata tidak bisa membiayai sekolah anak."
"Ibu benar. Karena itu saya tidak hanya berkata-kata. Saya akan bertindak. Saya akan buktikan bahwa saya layak untuk Amanda."
Ibu Amanda menghela napas. Dia tidak ingin bersikap kejam pada Herman. Tapi sebagai seorang ibu, dia harus melindungi anaknya. Dunia ini kejam. Perempuan harus dilindungi oleh laki-laki yang mapan, bukan laki-laki yang masih berjuang di ujung tanduk.
"Ibu tidak akan melarang kamu bertemu Amanda," kata Ibu Amanda. "Tapi Ibu minta kamu menjaga jarak. Jangan terlalu dekat. Jangan sampai timbul perasaan yang terlalu dalam. Karena jika suatu saat nanti kamu tidak bisa memenuhi harapan Amanda, luka yang ditinggalkan akan sangat dalam."
Herman ingin berteriak, "Tapi perasaan itu sudah ada, Bu! Sudah terlalu dalam! Tidak bisa dijaga jarak lagi!" Tapi dia tidak punya nyali. Dia hanya diam, menunduk, menerima setiap kata Ibu Amanda seperti pukulan tinju di perut.
"Baik, Bu. Saya akan coba."
"Jangan coba. Lakukan."
"Baik, Bu. Saya akan lakukan."
Ibu Amanda berdiri. Dia berjalan ke pintu, lalu berbalik untuk terakhir kalinya. "Herman, Ibu tidak membenci kamu. Ibu hanya melindungi anak Ibu. Suatu hari nanti, jika kamu sudah berhasil, jika kamu sudah mapan, Ibu akan dengan senang hati menerimamu sebagai bagian dari keluarga."
"Terima kasih, Bu. Kata-kata Ibu akan saya ingat."
Ibu Amanda pergi. Pintu kontrakan ditutup. Herman sendirian di ruangan sempit itu, dengan kipas angin yang masih berputar lambat, dengan dinding-dinding lembab, dengan langit-langit retak. Dia menangis. Bukan karena sakit hati. Bukan karena marah. Tapi karena dia sadar bahwa Ibu Amanda benar. Dia belum layak untuk Amanda. Dia masih jauh dari kata mapan. Dan jika dia terus memaksakan hubungan ini tanpa persiapan yang matang, dia hanya akan menyakiti Amanda pada akhirnya.
Malam harinya, Amanda menelepon Herman. Suaranya panik.
"Herman, Ibu bilang dia sudah datang ke kontrakanmu. Apa yang dia katakan?"
"Tidak apa-apa. Dia hanya mengingatkanku untuk fokus kerja."
"Jangan bohong, Herman. Aku tahu Ibu. Pasti dia bilang sesuatu yang menyakitkan."
Herman terdiam. Dia tidak ingin berbohong pada Amanda. Tapi dia juga tidak ingin membuat Amanda marah pada ibunya. "Dia bilang aku belum layak untukmu."
"Dan kamu?"
"Aku setuju."
"Setuju? KAMU SETUJU?"
"Amanda, dengarkan aku. Ibumu benar. Aku belum layak. Aku belum punya masa depan yang jelas. Aku belum mapan. Jika kita terus memaksakan hubungan ini tanpa persiapan, kita hanya akan saling menyakiti."
"Jadi, kamu mau putus?"
"Tidak. Aku tidak mau putus. Aku hanya ingin kita melambat. Aku hanya ingin kamu memberiku waktu. Waktu untuk membuktikan bahwa aku layak."
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu. Mungkin setahun. Mungkin dua tahun. Mungkin lebih."
"Aku tidak bisa menunggu selama itu, Herman."
"Kamu tidak harus menunggu. Kamu bisa melanjutkan hidupmu. Kamu bisa bertemu dengan laki-laki lain yang lebih layak."
"Kamu tega?"
"Tidak tega. Tapi aku tidak egois."
Amanda menangis di ujung telepon. Herman mendengar isak tangisnya. Dadanya terasa seperti diremas-remas oleh tangan raksasa. Tapi dia tidak bisa menyerah pada perasaannya sendiri. Dia harus realistis. Cinta saja tidak cukup. Butuh persiapan, butuh kematangan, butuh kesiapan materi.
"Herman, aku benci kamu," isak Amanda.
"Aku tahu."
"Tapi aku juga sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu. Karena itu aku rela mundur."
"Jangan mundur, Herman. Mundur itu untuk tentara, bukan untuk kekasih."
Herman tersenyum pahit. "Kita bukan kekasih, Amanda. Kita baru sebatas teman dekat."
"Tapi aku ingin lebih."
"Aku juga ingin lebih. Tapi tidak sekarang. Beri aku waktu."
"Baik. Aku akan beri kamu waktu. Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak sabar."
Herman mengangguk meskipun Amanda tidak bisa melihatnya. "Janji."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua terdiam. Hanya suara napas yang terdengar di sela-sela sambungan telepon. Suara napas yang berirama, seperti dua orang yang sedang berjalan bersama di jalan yang sama, meskipun terpisah oleh jarak dan waktu.
"Selamat malam, Herman."
"Selamat malam, Amanda."
Telepon ditutup. Herman memandang ponselnya yang sudah gelap. Layarnya memantulkan wajahnya yang lelah, yang basah oleh air mata, yang penuh dengan keraguan.
"Haruskah aku mundur?" bisiknya pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang menjawab. Hanya langit-langit kontrakan yang retak-retak, yang selalu menjadi saksi bisu setiap kegalauannya.
BAB 15
UJIAN SEKOLAH, UJIAN HATI
Keputusan Herman untuk melambatkan hubungan dengan Amanda tidak berjalan mulus. Bagaimana mungkin berjalan mulus ketika dua orang yang saling menyukai dipaksa untuk menjaga jarak, seperti dua planet yang ditarik oleh gravitasi yang sama tetapi ditahan oleh tali karet yang melingkar di pinggang masing-masing? Setiap hari mereka tetap bertemu di Car Free Day , tetap bertegur sapa, tetap tersenyum, tetapi ada dinding tipis yang tidak terlihat di antara mereka. Dinding yang dibangun oleh kekhawatiran Ibu Amanda, yang diperkuat oleh rasa tidak percaya diri Herman, yang dirawat oleh rasa takut Amanda akan kehilangan.
Amanda memasuki masa ujian akhir sekolah. Kelas dua belas bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan asmara. Ada puluhan buku yang harus dibaca, ratusan soal yang harus dikerjakan, ribuan rumus yang harus dihafalkan. Ujian nasional sudah di depan mata, seperti monster raksasa yang siap menelan siapa saja yang tidak siap. Orang tua Amanda, terutama ayahnya, semakin menekan. Setiap malam, ayah Amanda duduk di samping meja belajar Amanda, mengawasi setiap gerak-geriknya, seperti sipir penjara yang mengawasi narapidana yang dicurigai akan kabur.
"Kamu harus dapat nilai minimal sembilan puluh untuk Matematika," kata ayah Amanda suatu malam, dengan suara yang tidak bisa ditawar.
"Tapi, Yah, soal ujian tahun lalu susah sekali," protes Amanda.
"Kamu bisa. Kamu anak pintar. Ayah tidak mau alasan."
Amanda menghela napas. Dia kembali menunduk ke buku catatannya, meskipun matanya sudah perih dan kepalanya sudah pusing. Di sudut meja, ponselnya bergetar pelan. Notifikasi dari Herman. Amanda tidak berani membukanya di depan ayahnya. Dia hanya bisa membayangkan isi pesan itu. Mungkin Herman bertanya kabar. Mungkin Herman mengucapkan selamat belajar. Mungkin Herman hanya mengirim stiker lucu untuk menghibur. Tapi apapun isinya, Amanda tidak bisa membalas sekarang. Dia harus fokus.
Setelah ayahnya pergi ke ruang tamu untuk menonton berita malam, Amanda membuka ponselnya dengan hati-hati. Pesan dari Herman pendek, hanya satu kalimat.
@herman_kontraktor: Aku tahu kamu sedang sibuk ujian. Jangan lupa istirahat. Aku tidak akan ganggu sampai ujian selesai. Semangat, Amanda.
Amanda membaca pesan itu berkali-kali. Matanya berkaca-kaca. Herman selalu tahu kapan harus mendekat dan kapan harus menjauh. Dia tidak pernah memaksa. Tidak pernah menuntut. Dia hanya hadir ketika dibutuhkan, dan pergi ketika diminta. Itulah yang membuat Amanda semakin sulit melupakannya, semakin sulit menjaga jarak, semakin sulit untuk tidak jatuh cinta.
"Kenapa kamu harus sempurna di saat yang paling tidak tepat?" bisik Amanda pada ponselnya.
Dia tidak membalas pesan itu. Dia hanya membacanya sekali lagi, lalu mematikan ponsel, menyimpannya di laci meja belajar, dan mengunci lacinya dengan kunci kecil yang tidak pernah dia gunakan sebelumnya. Dia tidak ingin tergoda. Dia tidak ingin pikirannya terpecah. Ujian adalah prioritas nomor satu sekarang. Segala sesuatu yang lain, termasuk Herman, harus ditunda dulu.
Sementara Amanda bergulat dengan buku-buku tebal dan soal-soal ujian yang rumit, Herman bergulat dengan proyek perumahan yang semakin mendekati tenggat waktu. Mandor proyek, seorang laki-laki paruh baya dengan perut buncit dan suara keras seperti sirine ambulans, terus-menerus menekan para pekerja untuk menyelesaikan target mingguan. Herman, sebagai kontraktor lapangan, harus memastikan bahwa semua material datang tepat waktu, semua tukang bekerja sesuai jadwal, dan semua pekerjaan selesai dengan kualitas yang memuaskan.
"Ini minggu terakhir sebelum deadline besar," kata mandor suatu pagi di lokasi proyek. "Tidak ada yang boleh libur. Tidak ada yang boleh sakit. Tidak ada yang boleh alasan."
Herman mengangguk. Dia sudah terbiasa dengan tekanan seperti ini. Tapi kali ini berbeda. Karena kali ini, tekanan di tempat kerja berbarengan dengan tekanan di kehidupan asmaranya. Dia tidak bisa memikirkan Amanda dengan tenang. Setiap kali dia mencoba melamun, mandor akan berteriak memanggil namanya. Setiap kali dia mencoba mengirim pesan, mandor akan menyuruhnya mengangkat semen atau mengecek plafon. Hidupnya sepenuhnya diambil alih oleh proyek.
Pada malam hari, ketika semua pekerja sudah pulang, Herman duduk sendirian di atas tumpukan kayu sisa. Lampu proyek yang temaram menerangi wajahnya yang lelah. Dia mengeluarkan ponsel, membuka chat dengan Amanda. Pesan terakhirnya masih belum dibalas. Sudah tiga hari sejak dia mengirim pesan dukungan itu. Mungkin Amanda sangat sibuk. Mungkin ponselnya dimatikan. Mungkin dia sengaja tidak membalas karena ingin fokus.
Herman tidak mau berpikir negatif. Dia memilih untuk percaya bahwa Amanda baik-baik saja, bahwa dia hanya sedang fokus belajar, bahwa setelah ujian selesai, semuanya akan kembali normal. Tapi di dalam hati yang paling dalam, ada suara kecil yang terus-menerus bertanya, "Apakah dia masih mengingatmu? Apakah dia masih menyukaimu? Apakah dia masih menunggumu?"
Herman memejamkan mata. Angin malam berhembus dingin, membawa aroma debu dan semen. Dia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu berbisik pada bintang-bintang di langit, "Amanda, apa kabar? Aku merindukanmu."
Dua minggu berlalu. Dua minggu tanpa kabar. Dua minggu tanpa pesan. Dua minggu tanpa suara. Herman mulai khawatir. Bukan khawatir yang membuatnya panik, tetapi khawatir yang membuatnya murung, seperti langit mendung yang tidak kunjung hujan. Teman-temannya di Tim STS mulai menyadari perubahan sikap Herman. Dia tidak lagi banyak bicara. Tidak lagi banyak bercanda. Dia hanya datang ke Car Free Day , duduk di bangku taman, memandangi rombongan Amanda yang jogging dari kejauhan, lalu pulang tanpa menyapa.
"Kamu kenapa, Man?" tanya Ahmat suatu pagi di Car Free Day .
"Enggak kenapa-kenapa."
"Bohong. Matamu sayu. Wajahmu lesu. Posturmu bungkuk. Ini tanda-tanda orang yang sedang patah hati."
"Aku tidak patah hati. Aku hanya... merindukan seseorang."
"Siapa? Amanda?"
Herman tidak menjawab. Dia hanya memandangi rombongan Amanda yang sedang berlari di seberang lapangan. Amanda masih terlihat sama. Rambutnya masih terikat kuda. Kaos olahraganya masih putih. Wajahnya masih serius. Tapi ada yang berbeda. Dia tidak lagi menoleh ke arah Herman. Tidak lagi melambai. Tidak lagi tersenyum. Seolah-olah Herman tidak ada di sana.
"Mungkin dia sedang fokus ujian," kata Ahmat mencoba menghibur.
"Iya. Mungkin."
"Kamu tidak usah terlalu khawatir. Setelah ujian selesai, semuanya akan kembali normal."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Karena cinta tidak akan hilang hanya karena ujian. Cinta hanya akan tertidur sebentar, lalu bangun ketika waktunya tepat."
Herman mengangguk meskipun hatinya masih ragu. Dia ingin percaya pada Ahmat. Tapi pengalaman telah mengajarinya bahwa cinta tidak selalu berjalan mulus. Kadang cinta harus berjuang melawan waktu, jarak, dan keadaan. Dan perjuangan itu bisa sangat melelahkan.
Di sisi lain, Amanda sebenarnya tidak sengaja mengabaikan Herman. Ujian telah menyedot seluruh energinya. Setiap pagi dia bangun pukul empat untuk mengulang pelajaran. Setiap malam dia tidur pukul sebelas setelah menyelesaikan puluhan latihan soal. Ponselnya mati selama dua minggu penuh, atas saran gurunya yang mengatakan bahwa ponsel adalah sumber distraksi terbesar bagi siswa yang sedang menghadapi ujian. Amanda menurut. Dia matikan ponselnya, simpan di lemari, dan kunci rapat-rapat.
Di saat-saat seperti ini, Amanda baru menyadari betapa dia bergantung pada Herman. Bukan bergantung secara finansial atau fisik, tetapi bergantung secara emosional. Setiap kali dia merasa lelah, dia ingin mendengar suara Herman yang ceria. Setiap kali dia merasa putus asa, dia ingin membaca pesan Herman yang penuh semangat. Setiap kali dia merasa sendirian, dia ingin merasakan kehadiran Herman di sampingnya, meskipun hanya dalam bentuk pesan singkat.
Tapi ponselnya mati. Dan dia tidak berani menyalakannya karena takut godaan. Karena dia tahu, begitu ponsel menyala, dia akan langsung membuka chat dengan Herman, dan jam-jam belajarnya akan terbuang percuma.
Ayah Amanda terus mengawasi. Ibu Amanda terus mendukung. Tidak ada ruang untuk Herman dalam jadwal padatnya. Tidak ada waktu untuk memikirkan perasaan.
Hingga suatu malam, setelah ujian terakhir selesai, Amanda pulang ke rumah dengan perasaan lega yang luar biasa. Dia melepas sepatu, melepas tas, melepas semua beban yang selama dua minggu ini menggendong pundaknya. Dia berjalan ke kamar, membuka lemari, mengambil ponselnya yang sudah dua minggu tidak tersentuh.
Ponsel itu menyala. Layarnya terang. Ada ratusan notifikasi. Grup WhatsApp, Instagram, pesan singkat. Semuanya dari teman-temannya, dari Dahlia, dari Yunita, dari geng jogging. Tapi yang paling dia cari adalah pesan dari Herman. Amanda membuka chat dengan Herman.
Ada tiga pesan yang belum dibaca.
@herman_kontraktor: Aku tahu kamu sedang sibuk ujian. Jangan lupa istirahat. Aku tidak akan ganggu sampai ujian selesai. Semangat, Amanda. (Dikirim dua minggu lalu)
@herman_kontraktor: Hari ini aku ke Car Free Day sendirian. Teman-teman yang lain pada sibuk. Aku jogging pelan-pelan sambil membayangkan kamu di sampingku. Aku rindu, Amanda. Tapi aku tidak akan ganggu. Fokus ujian dulu. (Dikirim sepuluh hari lalu)
@herman_kontraktor: Besok ujian terakhirmu. Aku yakin kamu bisa. Kamu anak pintar. Kamu anak hebat. Kamu anak yang kuat. Aku bangga padamu, apa pun hasilnya. Tetap semangat. Aku menunggumu di Car Free Day . (Dikirim dua hari lalu)
Amanda membaca semua pesan itu berulang-ulang. Air matanya jatuh. Bukan air mata sedih. Bukan air mata marah. Tapi air mata haru. Air mata yang keluar karena seseorang terus mengingatnya meskipun dia tidak membalas, seseorang terus mendukungnya meskipun dia tidak merespon, seseorang terus menunggunya meskipun dia tidak memberikan kepastian.
"Herman, maafkan aku," bisik Amanda sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Dia segera mengetik balasan.
@amanda_cans: Herman, maaf baru balas. Ponselku mati selama ujian. Aku baru selesai ujian hari ini. Aku rindu kamu. Aku rindu banget. Besok Car Free Day , kita ketemu ya? Aku ingin memelukmu.
Pesan itu dikirim. Dibaca. Dan balasan datang hanya dalam hitungan detik.
@herman_kontraktor: Aku juga rindu kamu, Amanda. Lebih dari yang kamu tahu. Besok Car Free Day , aku akan ada di bangku taman Hutan Kota. Seperti biasa. Aku akan menunggumu.
@amanda_cans: Jangan di bangku taman. Aku ingin kamu jogging di sampingku. Seperti dulu. Tapi tanpa permen karet.
@herman_kontraktor: Janji. Tanpa permen karet. Hanya aku dan kamu.
@amanda_cans: Dan hati kita.
@herman_kontraktor: Dan hati kita.
Amanda tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, dia tersenyum dengan tulus. Senyum yang tidak dipaksakan. Senyum yang lahir dari kebahagiaan yang sederhana: akan bertemu dengan orang yang dicintai setelah sekian lama berpisah.
Minggu pagi tiba. Car Free Day berlangsung seperti biasa. Ribuan warga memadati area Stadion Panunjung Tarung, melakukan aktivitas mingguan mereka. Herman datang lebih awal, memakai kaos putih polos yang sama, sepatu lari yang sama, dan hati yang sama. Penuh dengan cinta untuk Amanda.
Dia tidak duduk di bangku taman. Dia berdiri di pinggir jalur jogging, pemanasan dengan gerakan-gerakan sederhana, matanya terus memandang ke arah timur, ke arah di mana Amanda biasanya muncul.
Rombongan Amanda datang tepat pukul setengah tujuh. Mereka berlari kecil dengan formasi yang sama. Amanda di depan, Dahlia di belakangnya, lalu Yunita, Anita, dan Sania. Kaos olahraga mereka putih, seperti barisan angsa yang berenang di danau.
Begitu jarak mereka tinggal sepuluh meter, Amanda mempercepat langkahnya. Dia berlari lebih kencang, meninggalkan teman-temannya, hingga akhirnya dia berdiri tepat di depan Herman.
Napasnya tersengal. Wajahnya merah. Matanya berbinar.
"Herman," sapa Amanda.
"Amanda," balas Herman.
Mereka saling memandang. Tidak ada yang bicara. Hanya ada tatapan yang penuh dengan seribu makna. Tatapan yang mengatakan, "Aku rindu kamu." Tatapan yang mengatakan, "Aku senang bertemu kamu." Tatapan yang mengatakan, "Aku mencintai kamu."
"Boleh aku memelukmu?" tanya Herman.
Amanda tidak menjawab. Dia langsung melompat ke arah Herman, memeluknya erat-erat. Kepalanya bersandar di dada Herman. Tangannya melingkar di pinggang Herman. Herman membalas pelukan itu dengan lembut, tangannya memeluk punggung Amanda, kepalanya menunduk di atas rambut Amanda yang wangi.
"Ikutan baper, nih," bisik Dahlia dari belakang.
"Udah, jangan ganggu," kata Yunita.
"Mereka berdua pantas bahagia," tambah Anita.
Sania hanya tersenyum. Dia mengambil ponsel, memotret momen itu, lalu menyimpannya untuk kenang-kenangan.
Di sisi lain, Yanto menangis haru. "Akhirnya... akhirnya mereka berpelukan."
"Jangan nangis, Yan," kata Ahmat. "Nanti dikira kamu yang putus cinta."
"Biar. Yang penting mereka bahagia."
Mahdili, Yuni, Bintang dan Herawati bertepuk tangan bersama yang lain. Seluruh Car Free Day seolah berhenti sejenak untuk menyaksikan dua insan yang awalnya saling membenci, kini saling memeluk dengan penuh kasih.
Setelah pelukan itu usai, Herman dan Amanda jogging bersama di sepanjang jalur Car Free Day . Mereka berlari pelan, beriringan, sesekali saling pandang, sesekali tersenyum canggung. Tidak ada permen karet. Tidak ada kemarahan. Hanya ada dua orang yang saling menyukai, yang akhirnya bersatu setelah melewati badai.
"Kamu tidak mengirimiku pesan selama dua minggu," kata Herman.
"Ponselku mati. Aku sengaja mematikannya untuk fokus ujian."
"Aku mengira kamu melupakanku."
"Mustahil. Aku tidak bisa melupakanmu meskipun aku berusaha."
"Kamu sudah berusaha?"
"Sedikit. Tapi gagal."
Herman tersenyum. "Aku senang mendengarnya."
"Senang karena aku gagal melupakanmu?"
"Iya. Karena itu artinya aku berhasil membuatmu jatuh cinta."
"Belum jatuh cinta. Masih suka."
"Suka itu awal dari cinta."
"Kamu selalu punya teori."
"Aku belajar dari pengalaman."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lepas, tawa yang tulus, tawa yang tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu.
"Herman," panggil Amanda di tengah jogging.
"Ya?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tanya apa?"
"Apakah hubungan ini masih bisa dilanjutkan? Setelah semua yang terjadi? Setelah ibuku melarang? Setelah kita berdua sibuk?"
Herman berhenti berlari. Amanda juga berhenti. Mereka berdiri di pinggir jalur jogging, di bawah pohon rindang, di tempat yang sama di mana semuanya dimulai.
"Amanda, aku tidak tahu masa depan," kata Herman. "Aku tidak tahu apakah kita akan bersama selamanya atau tidak. Tapi yang aku tahu, saat ini, di sini, aku ingin bersamamu. Aku tidak ingin menunda kebahagiaan hanya karena takut masa depan. Aku ingin menikmati setiap detik bersamamu, tanpa beban, tanpa tekanan."
"Tapi ibuku..."
"Aku akan bicara dengan ibumu. Aku akan buktikan bahwa aku layak untukmu. Aku akan kerja lebih keras. Aku akan menabung. Aku akan membangun masa depan. Tapi semua itu butuh waktu. Dan selama waktu itu berjalan, aku hanya ingin kamu percaya padaku."
Amanda terdiam. Dia memandang Herman dengan mata yang berkaca-kaca. Air matanya hampir jatuh, tetapi dia tahan. "Aku percaya padamu, Herman."
"Terima kasih."
"Tapi jangan buat aku kecewa."
"Aku tidak akan."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua tersenyum. Lalu melanjutkan jogging bersama, menyusuri jalur Car Free Day yang panjang, melewati puluhan bahkan ratusan orang yang sedang berolahraga. Sesekali mereka disapa oleh teman-teman yang kenal, sesekali mereka melambai pada Dahlia dan Yanto yang masih setia mengikuti dari kejauhan.
Matahari semakin tinggi. Udara semakin panas. Tapi Herman dan Amanda tidak peduli. Mereka hanya fokus satu sama lain, fokus pada langkah kaki yang seirama, fokus pada detak jantung yang berdegup kencang, fokus pada cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Cinta yang dimulai dari sehelai permen karet.
Cinta yang bertahan melewati badai.
Cinta yang akan terus berjuang, apapun yang terjadi.
BAB 16
JURUS KE 100, JURUS PAMUNGKAS
Hari-hari setelah ujian berjalan seperti sungai yang mengalir, kadang deras, kadang lambat, tetapi tidak pernah berhenti. Persetujuan diam-diam antara Herman dan Amanda untuk "melanjutkan hubungan dengan lebih realistis" ternyata lebih sulit dipraktikkan daripada diucapkan. Karena cinta tidak pernah realistis. Cinta selalu ingin lebih. Cinta selalu ingin dekat. Cinta selalu ingin memeluk, meskipun akal sehat mengatakan untuk menjaga jarak. Herman sudah berusaha. Dia bekerja lebih keras di proyek perumahan, mengambil lembur setiap hari, bahkan akhir pekan sekalipun. Dia menabung setiap rupiah yang bisa dia sisihkan, meskipun jumlahnya tidak seberapa, hanya cukup untuk membeli baju baru atau traktir makan bakso sekali seminggu. Dia juga mulai belajar investasi kecil-kecilan, membeli emas batangan satu gram setiap bulan, meskipun untuk itu dia harus mengorbankan makan siangnya hampir setiap hari.
Tapi Amanda tidak hanya butuh uang atau masa depan yang cerah. Amanda butuh perhatian. Amanda butuh kehadiran. Amanda butuh seseorang yang bisa dia ajak bicara ketika dia sedih, ketika dia marah, ketika dia bingung menghadapi hidup yang semakin rumit setelah kelulusan. Setelah ujian selesai, Amanda tidak lagi sibuk dengan buku dan soal. Dia memiliki banyak waktu luang, waktu yang seharusnya bisa dia habiskan bersama Herman, tetapi Herman tidak pernah punya waktu. Pekerjaannya sebagai kontraktor tidak mengenal hari libur. Proyek perumahan tempat dia bekerja memasuki fase akhir, dan semua orang dituntut untuk bekerja maksimal.
"Kamu sibuk terus, Herman," kata Amanda suatu sore ketika mereka bertemu di depan toko buku di pusat kota.
"Iya. Maaf. Proyeknya sedang padat."
"Kapan selesai?"
"Dua minggu lagi. Setelah itu, kita bisa lebih sering bertemu."
"Kamu selalu bilang dua minggu. Tapi dua minggu yang lalu kamu juga bilang dua minggu. Kapan tepatnya?"
Herman terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Karena dia sendiri tidak tahu kapan proyek itu akan benar-benar selesai. Mandornya selalu memberi tenggat waktu, tetapi tenggat waktu itu sering berubah. Kadang mundur, kadang maju, kadang diubah tanpa pemberitahuan. Hidup seorang kontraktor adalah hidup yang tidak pasti. Dan ketidakpastian itulah yang paling dibenci oleh Amanda.
"Aku capek, Herman," kata Amanda dengan suara lelah.
"Capek bagaimana?"
"Capek menunggu. Capek berharap. Capek menjadi prioritas kesekian setelah pekerjaanmu, setelah teman-temanmu, setelah proyekmu."
"Kamu selalu menjadi prioritas utamaku, Amanda."
"Buktinya?"
Herman tidak punya bukti. Karena kata-kata saja tidak cukup untuk menjadi bukti. Dia butuh tindakan. Tapi tindakan macam apa yang bisa dia lakukan di tengah kesibukannya yang luar biasa?
"Aku akan buktikan," kata Herman. "Tapi beri aku waktu."
"Waktu? Kita sudah membuang banyak waktu, Herman. Aku tidak ingin membuang lebih banyak lagi."
Amanda pergi. Dia berbalik, berjalan cepat meninggalkan Herman yang berdiri di depan toko buku dengan perasaan hancur. Herman ingin mengejar, ingin menarik tangan Amanda, ingin memeluknya, ingin berteriak bahwa dia mencintainya. Tapi kakinya tidak bergerak. Hanya diam di tempat, seperti patung yang kehilangan nyawa.
Malam harinya, Amanda menangis di kamarnya. Bantal basah oleh air mata. Dadanya sesak. Pikirannya kacau. Dia mencintai Herman. Tapi cinta saja tidak cukup. Dia butuh kepastian. Dia butuh komitmen. Dan Herman, sejujurnya, belum bisa memberikan keduanya.
Ibu Amanda masuk ke kamar tanpa mengetuk. Dia duduk di tepi kasur, mengusap rambut Amanda yang kusut, lalu bertanya dengan suara lembut, "Ada apa, Ndah? Cerita sama Ibu."
"Aku capek, Mah."
"Capek kenapa?"
"Capek dengan semuanya. Dengan Herman. Dengan perasaan ini. Dengan ketidakpastian."
Ibu Amanda menghela napas. Dia sudah memprediksi ini. Sejak awal, dia tahu bahwa hubungan Amanda dengan Herman tidak akan mudah. Perbedaan status sosial, perbedaan tingkat ekonomi, perbedaan visi masa depan. Semua itu adalah batu sandungan yang suatu saat akan membuat mereka tersandung.
"Ibu sudah bilang, Ndah. Herman anak baik, tapi dia belum siap. Dia belum layak."
"Tapi aku sayang dia, Mah."
"Sayang tidak cukup, Nak. Butuh kesiapan. Butuh kematangan. Butuh stabilitas. Hal-hal yang belum dimiliki Herman."
"Aku tidak mau mendengar itu, Mah."
"Ibu tahu kamu tidak mau mendengar. Tapi Ibu harus mengatakan karena Ibu sayang kamu."
Amanda menangis lebih keras. Ibunya memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya, seperti saat Amanda masih kecil dulu, ketika dia jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah. Ibu selalu ada. Ibu selalu menjadi tempat terbaik untuk bersandar.
"Sudahlah, Ndah. Tidur dulu. Besok pikirkan lagi dengan kepala dingin."
Amanda mengangguk. Dia merebahkan diri di kasur, memeluk bantal, dan memejamkan mata. Tapi tidur tidak datang. Yang datang hanya bayangan Herman dengan senyum canggungnya, dengan kumis tipisnya, dengan permen karet yang sudah menjadi legenda di antara mereka.
Sepanjang minggu itu, Herman tidak menghubungi Amanda. Bukan karena dia tidak mau, tetapi karena dia tidak tahu harus berkata apa. Setiap kali dia membuka chat dengan Amanda, setiap kali jarinya hampir mengetik pesan, selalu ada suara di kepalanya yang berkata, "Apa yang akan kamu katakan? Kamu tidak punya waktu untuknya. Kamu tidak punya masa depan untuknya. Lebih baik kamu diam daripada memberi harapan palsu."
Herman mematikan ponsel, menyimpannya di saku, lalu kembali bekerja. Mengangkat semen, mengecek plafon, mengawasi tukang, menghitung material. Pekerjaan yang melelahkan, tetapi setidaknya bisa mengalihkan pikirannya dari Amanda. Untuk sementara.
Ahmat datang ke lokasi proyek pada Hari Minggu sore. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya. Matanya menyelidik, mencari Herman di antara tumpukan material bangunan.
"Man, kita harus bicara," kata Ahmat begitu menemukan Herman yang sedang jongkok di dekat tumpukan pasir.
"Bicara apa? Aku sedang sibuk."
"Sibuk atau menghindar?"
Herman terdiam. Dia bangkit, mengusap keringat di dahinya, lalu berjalan ke arah gubuk kecil di pinggir proyek yang biasa digunakan untuk istirahat para pekerja. Ahmat mengikutinya.
"Amanda menghubungiku," kata Ahmat begitu mereka berdua duduk di dalam gubuk.
Herman terkejut. "Apa? Dia menghubungimu? Kenapa?"
"Dia bilang dia bingung. Dia bilang dia sayang sama kamu, tapi dia juga capek menunggu. Dia bilang dia ingin putus, tapi dia tidak punya nyali."
Herman menunduk. Tangannya gemetar. Dadanya terasa sesak. "Jadi, dia sudah memutuskan?"
"Belum. Dia masih berpikir. Tapi dia butuh jawaban darimu. Apakah kamu serius dengan hubungan ini? Apakah kamu punya rencana? Apakah kamu bisa memberikan kepastian? Jika tidak, dia akan pergi."
Herman mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia lelah. Lelah bekerja. Lelah memikirkan Amanda. Lelah memikirkan masa depan. Tapi dia tidak bisa menjawab pertanyaan Ahmat dengan ketidakpastian. Dia harus memberikan jawaban yang jelas.
"Aku sayang Amanda, Mat."
"Itu sudah jelas. Tapi sayang saja tidak cukup."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Bukan aku yang harus menjawab itu. Kamu sendiri yang harus mencari jawabannya."
Herman terdiam. Dia memandang ke luar gubuk, ke arah langit sore yang mulai berwarna jingga. Pikirannya berputar cepat, mencari solusi, mencari jalan keluar, mencari jurus yang ke seratus.
Jurus ke seratus, pikir Herman. Jurus pamungkas. Jika seratus jurus ini gagal, maka tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.
Malam harinya, Herman tidak bisa tidur. Dia berguling-guling di kasurnya, memandangi langit-langit kontrakan yang retak-retak, berusaha mencari inspirasi. Sesekali dia melihat ponselnya, membuka chat dengan Amanda, lalu menutupnya lagi. Tidak ada pesan baru. Tidak ada kabar. Hanya keheningan yang mencekam.
Ahmat benar. Dia harus memberikan jawaban. Tapi jawaban apa yang bisa dia berikan di tengah ketidakpastiannya? Dia tidak bisa menjanjikan masa depan yang cerah jika masa depannya sendiri masih gelap gulita. Dia tidak bisa menjanjikan komitmen jika dirinya sendiri belum siap. Tapi dia juga tidak bisa kehilangan Amanda. Kehilangan Amanda berarti kehilangan separuh jiwanya. Kehilangan Amanda berarti kehilangan alasan untuk terus berjuang.
Pukul satu dini hari, Herman mengambil keputusan. Dia akan melakukan jurus pamungkas. Jurus yang paling berisiko. Jurus yang bisa membuatnya menang atau kalah. Jurus yang tidak bisa dia tarik kembali setelah dilakukan.
Jurus itu adalah: tidak melakukan apa-apa.
Dia tidak akan mengirim pesan. Tidak akan menelepon. Tidak akan datang ke rumah Amanda. Tidak akan muncul di Car Free Day . Dia hanya akan hadir seperti biasa, menjalani hidupnya seperti biasa, bekerja seperti biasa, tanpa drama, tanpa permen karet, tanpa semua kegilaan yang selama ini dia lakukan. Dia akan memberi Amanda ruang untuk berpikir. Dia akan memberi Amanda waktu untuk memutuskan. Apakah dia benar-benar mencintai Herman apa adanya, atau hanya mencintai versi Herman yang selalu berusaha keras untuk membuatnya terkesan.
Keputusan itu berat. Sangat berat. Setiap detiknya terasa seperti setahun. Tapi Herman harus melakukannya. Karena jika tidak, hubungan mereka akan selalu berjalan di tempat, tidak pernah maju, tidak pernah dewasa.
Minggu pagi. Car Free Day . Amanda datang dengan harapan besar bahwa Herman akan ada di bangku taman dekat papan skor, melambai padanya, tersenyum canggung, seperti yang selalu dia lakukan. Tapi bangku itu kosong. Tidak ada Herman. Tidak ada Ahmat. Tidak ada Yanto. Tidak ada siapa pun.
Amanda mengerjap. Dia berhenti berlari, berdiri di pinggir jalur jogging, matanya terus memandangi bangku kosong itu. Hatinya berdebar. Pikirannya berputar.
Mungkin dia telat. Mungkin dia sedang sibuk. Mungkin dia lupa.
Dia melanjutkan lari. Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran.
Bangku itu tetap kosong.
Setelah putaran keempat, Amanda berhenti. Dadanya sesak. Bukan karena kelelahan, tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia beri nama. Kecewa? Sedih? Marah? Atau mungkin takut? Takut bahwa Herman sudah menyerah. Takut bahwa Herman sudah lelah berjuang. Takut bahwa semua yang mereka bangun selama ini akan runtuh dalam sekejap.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku pinggangnya. Membuka chat dengan Herman. Pesan terakhir masih seminggu yang lalu, ketika Herman mengucapkan selamat atas selesainya ujian. Tidak ada pesan baru setelah itu.
Jarinya bergetar. Dia ingin mengetik sesuatu. "Kamu di mana?" atau "Kamu kenapa tidak datang?" atau "Apa kamu baik-baik saja?" Tapi dia tidak jadi. Dia memasukkan ponsel kembali ke saku, lalu berjalan pulang dengan langkah berat, tanpa senyum, tanpa sapaan, tanpa apa pun.
Dahlia yang melihat perubahan sikap Amanda, langsung curiga. Di tengah perjalanan pulang, dia memarkir motornya di pinggir jalan, lalu menghampiri Amanda yang sedang berjalan sendirian di trotoar.
"Am, kamu kenapa?"
"Enggak kenapa-kenapa."
"Bohong. Wajahmu pucat. Matamu sembab. Kamu habis nangis?"
"Sedikit."
"Ada masalah dengan Herman?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya terus berjalan, matanya lurus ke depan, tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Dahlia mengikutinya, tidak mau ketinggalan.
"Cerita sama aku, Am. Aku temanmu."
Amanda berhenti. Dia menatap Dahlia dengan mata yang berkaca-kaca. "Dia tidak datang ke Car Free Day , Lia."
"Siapa? Herman?"
"Iya. Bangku favoritnya kosong. Tidak ada dia. Tidak ada teman-temannya."
"Mungkin dia sedang sibuk."
"Atau mungkin dia sudah menyerah."
Dahlia terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Herman tidak pernah terlihat seperti orang yang mudah menyerah. Selama berbulan-bulan, dia terus berjuang, terus berusaha, terus membuat Amanda tersenyum meskipun sering gagal. Tapi manusia punya batas. Mungkin Herman sudah mencapai batasnya. Mungkin dia lelah. Mungkin dia butuh istirahat.
"Am, coba kamu hubungi dia," kata Dahlia.
"Tidak. Aku tidak mau memulai lebih dulu."
"Kenapa?"
"Karena selama ini dia selalu yang memulai. Aku ingin tahu, apakah dia akan memulai lagi? Atau apakah dia sudah berhenti?"
"Tapi kalau dia berhenti, kamu akan kehilangan dia."
"Mungkin itu risiko yang harus aku ambil."
Dahlia menghela napas. Dia tidak bisa memaksa Amanda. Keputusan ada di tangan Amanda sendiri. "Baiklah, kalau itu maumu. Tapi jangan menyesal nanti."
"Aku tidak akan menyesal."
Dahlia tidak yakin. Tapi dia tidak mengatakan itu. Dia hanya memeluk Amanda sebentar, lalu pamit pulang.
Satu minggu berlalu. Herman tidak muncul di Car Free Day . Tidak di pasar. Tidak di toko HP. Tidak di mana pun. Seolah-olah dia menghilang ditelan bumi. Amanda mulai panik. Bukan panik yang membuatnya histeris, tetapi panik yang membuatnya gelisah, seperti orang yang kehilangan barang berharga dan tidak tahu harus mencari ke mana.
Dia mencoba menghubungi Herman. Pesan di Instagram tidak dibalas. Telepon tidak diangkat. Bahkan Yanto dan Ahmat tidak bisa dihubungi. Semua orang dalam lingkaran Herman seolah-olah ikut menghilang.
"Apa yang terjadi?" tanya Amanda frustrasi pada Dahlia.
"Aku tidak tahu. Yanto juga tidak membalas pesanku."
"Ada apa dengan mereka?"
"Mungkin mereka sedang sibuk. Atau mungkin mereka sedang merencanakan sesuatu."
"Merencanakan apa?"
"Entahlah. Yang jelas, jangan panik dulu. Coba tunggu."
Amanda tidak bisa menunggu. Setiap hari dia gelisah. Setiap malam dia susah tidur. Ponselnya selalu dia genggam, berharap ada notifikasi dari Herman. Tapi tidak ada. Tidak ada apa pun. Hanya keheningan yang menyiksa.
Hari keempat belas. Tepat dua minggu sejak Herman terakhir kali muncul di Car Free Day , Amanda duduk di kamarnya dengan perasaan putus asa. Bantal di pangkuannya basah oleh air mata. Matanya merah. Wajahnya pucat. Dia sudah menyerah. Dia sudah menganggap bahwa Herman benar-benar pergi. Bahwa semua janji yang diucapkan hanyalah omong kosong. Bahwa cinta yang selama ini dia bangun hanya ilusi.
"Sudahlah," bisik Amanda pada dirinya sendiri. "Mungkin ini yang terbaik. Mungkin Ibu benar. Dia belum layak. Dan aku tidak pantas menunggu."
Dia mematikan ponsel, meletakkannya di meja belajar, lalu merebahkan diri di kasur. Air matanya terus mengalir. Tidak ada yang menghibur. Tidak ada yang menepuk punggungnya. Tidak ada yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pukul sembilan malam, ponselnya bergetar.
Amanda terkejut. Dia menggapai ponsel dengan tangan gemetar. Layar menyala. Ada satu notifikasi.
@herman_kontraktor: Besok Car Free Day . Aku akan ada di bangku taman dekat papan skor. Seperti biasa. Datanglah jika kamu masih mau. Jika tidak, aku mengerti.
Amanda membaca pesan itu berulang-ulang. Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini, air mata bahagia.
@amanda_cans: Aku akan datang, Herman. Aku akan selalu datang.
@herman_kontraktor: Terima kasih, Amanda. Sampai jumpa besok.
@amanda_cans: Sampai jumpa.
Amanda tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, dia tersenyum dengan tulus. Senyum yang lahir dari kelegaan. Senyum yang lahir dari kepastian. Bahwa Herman tidak pergi. Bahwa Herman masih ada. Bahwa Herman masih mencintainya.
Minggu pagi. Car Free Day . Amanda datang dengan pakaian olahraga favoritnya, kaos putih polos, celana legging hitam, sepatu kets yang sudah agak lusuh. Rambutnya diikat kuda. Wajahnya segar, matanya berbinar, senyumnya mengembang.
Dia berlari kecil menyusuri jalur jogging, matanya tertuju pada bangku taman Hutan Kota. Bangku itu tidak kosong. Herman duduk di sana, seorang diri, dengan kaos putih polos yang sama, dengan senyum canggung yang sama, dengan hati yang sama. Penuh cinta untuk Amanda.
Amanda mempercepat langkahnya. Dia berlari sekencang mungkin, melewati puluhan orang yang sedang jogging, melewati ibu-ibu yang sedang senam, melewati anak-anak yang bermain sepeda, hingga akhirnya dia berdiri tepat di depan Herman.
Mereka saling memandang. Tidak ada yang bicara. Hanya ada tatapan yang penuh dengan seribu makna. Tatapan yang mengatakan, "Aku rindu kamu." Tatapan yang mengatakan, "Aku senang bertemu kamu." Tatapan yang mengatakan, "Aku mencintai kamu."
"Kamu datang," kata Herman.
"Aku datang," jawab Amanda.
"Aku mengira kamu tidak akan datang."
"Aku mengira kamu sudah pergi untuk selamanya."
"Aku tidak akan pergi, Amanda. Aku hanya memberi ruang."
"Ruang untuk apa?"
"Ruang untukmu berpikir. Ruang untukmu memutuskan. Apakah kamu benar-benar mencintaiku apa adanya, atau hanya mencintai versiku yang selalu berusaha keras membuatmu terkesan."
Amanda terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Aku sudah memutuskan, Herman."
"Keputusan apa?"
"Aku mencintaimu apa adanya. Bukan karena usaha kerasmu. Bukan karena permen karetmu. Bukan karena semua jurus konyolmu. Tapi karena kamu. Kamu yang sederhana. Kamu yang jujur. Kamu yang tidak pernah menyerah. Kamu yang selalu ada meskipun kadang menjauh."
Herman tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah dia tunjukkan dalam hidupnya. "Terima kasih, Amanda. Kata-katamu adalah hadiah terbaik yang pernah aku terima."
"Kamu pantas mendapatkannya. Setelah semua yang kamu lakukan untukku."
"Belum seberapa. Aku akan melakukan lebih banyak lagi."
"Jangan. Cukup kamu menjadi dirimu sendiri. Itu sudah lebih dari cukup."
Mereka berdua saling memandang. Lalu Herman berdiri dari bangku taman. Amanda mengambil langkah maju. Dan di bawah sinar matahari Car Free Day yang cerah, di antara ribuan orang yang sedang berolahraga, mereka berpelukan. Pelukan yang hangat. Pelukan yang tulus. Pelukan yang mengatakan, "Aku pulang."
Dahlia menangis di kejauhan. Yanto ikut menangis. Bahkan Ahmat, yang biasanya paling cool, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Akhirnya... jurus ke seratus berhasil," bisik Ahmat.
"Jurus apa?" tanya Yanto.
"Jurus pamungkas. Jurus tidak melakukan apa-apa."
"Tidak melakukan apa-apa itu jurus?"
"Terkadang, tidak melakukan apa-apa adalah tindakan yang paling berani."
Yanto tidak mengerti. Tapi dia tidak perlu mengerti. Yang dia tahu, Herman dan Amanda akhirnya bersatu. Dan itu sudah cukup.
BAB 17
PERTEMUAN KEMBALI DI TAMAN YANG SAMA
Tiga bulan telah berlalu sejak jurus pamungkas Herman berhasil menyatukan mereka kembali. Tiga bulan yang penuh dengan kebahagiaan sederhana, dengan tawa yang tulus, dengan pelukan yang hangat, dan dengan cinta yang tumbuh semakin dalam setiap harinya seperti akar pohon beringin yang merambat ke bumi, kokoh, tidak mudah goyah, dan semakin sulit dicabut. Herman masih bekerja sebagai kontraktor dengan jadwal yang padat, tetapi dia belajar untuk membagi waktu.
Setiap Minggu pagi, dia selalu ada di Car Free Day . Setiap Sabtu sore, dia datang ke rumah Amanda untuk makan malam bersama keluarganya. Setiap Minggu pagi, mereka pergi ke danau Mare atau ke Taman Kota Simpang Adipura atau sekadar duduk di dermaga KP3 sambil menikmati bakso dan es jeruk. Karena bagi Herman, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa sering dia bertemu Amanda, tetapi dari kualitas pertemuan itu sendiri. Sebentar tetapi bermakna, lebih baik daripada lama tetapi hampa.
Amanda sudah lulus ujian dengan hasil yang membanggakan. Nilai Matematikanya mencapai sembilan puluh lima, membuat ayahnya melompat kegirangan seperti anak kecil yang baru diberi sepeda baru. Nilai-nilai lainnya juga tidak ada yang di bawah delapan puluh. Ayah Amanda memeluknya erat-erat, menangis haru, dan berkata,
"Ayah bangga padamu, Nak. Ayah minta maaf jika selama ini terlalu keras padamu."
Amanda menangis dalam pelukan ayahnya, air mata kebahagiaan yang sudah lama tidak dia rasakan. Ibu Amanda juga ikut menangis, memeluk mereka berdua, dan untuk pertama kalinya dalam keluarganya, tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi tuntutan, yang ada hanya rasa syukur yang luar biasa.
"Sebentar lagi kamu akan kuliah," kata ayah Amanda sambil mengusap air matanya.
"Iya, Yah. Aku akan kuliah di Universitas Palangka Raya. Jurusan Manajemen."
"Kenapa tidak di Jakarta atau Surabaya? Ayah bisa biayai."
"Aku ingin dekat dengan rumah. Aku ingin dekat dengan kalian."
Ayah Amanda tersenyum. Dia tahu sebenarnya Amanda ingin dekat dengan Herman. Tapi dia tidak perlu mengatakan itu. Cukup dia mengerti di dalam hati.
Sementara itu, Herman juga mendapat kabar baik. Proyek perumahan yang dia tangani selesai tepat waktu dan mendapatkan bonus dari mandor karena kualitas pekerjaannya yang memuaskan. Bonus itu tidak besar, hanya sekitar dua juta rupiah, tetapi bagi Herman, itu adalah pencapaian yang luar biasa. Dia menabung setengahnya, dan setengahnya lagi dia gunakan untuk membeli hadiah kelulusan untuk Amanda.
"Sengaja aku tidak bilang-bilang," kata Herman ketika menyerahkan kotak kecil berwarna biru kepada Amanda di dermaga KP3 pada suatu sore yang cerah.
Amanda membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya, terdapat sebuah gelang perak sederhana dengan liontin kecil berbentuk permen karet.
"Permen karet?" tanya Amanda sambil tersenyum.
"Sebagai pengingat. Bahwa cinta kita dimulai dari hal yang paling konyol."
"Kamu tidak pernah berhenti membuatku tersenyum, Herman."
"Itu tugas saya seumur hidup."
"Apakah kamu yakin mau bertanggung jawab seumur hidup?"
"Yakin. Seratus persen."
Amanda memakai gelang itu di tangan kirinya. Liontin permen karet kecil itu bergoyang-goyang setiap kali dia bergerak, seperti mengingatkannya pada masa lalu yang penuh dengan kemarahan dan kebencian, yang kini telah berubah menjadi cinta yang sangat dalam.
Selepas kelulusan, Amanda dan teman-temannya mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan di Taman Kota Simpang Adipura. Tempat di mana dulu Herman dan Amanda pertama kali bertemu secara tidak sengaja setelah kejadian permen karet. Tempat di mana kebencian Amanda mulai berubah menjadi rasa penasaran. Tempat di mana benih-benih cinta pertama kali ditanam, meskipun saat itu tidak ada yang menyadarinya.
Acara itu sederhana. Hanya kumpul-kumpul, makan-makan, bernyanyi-nyanyi, dan berfoto-foto. Yang hadir adalah geng Amanda lengkap dengan pasangan masing-masing. Dahlia sudah resmi berpacaran dengan Yanto, meskipun hubungan mereka masih sering diwarnai pertengkaran kecil soal gemblong dan jajanan pasar lainnya. Yunita berpacaran dengan Mahdili. Anita dan Herawati menjalin hubungan yang masih sangat rahasia, tidak ada yang tahu pasti, tetapi semua orang sudah menduga. Sania tetap sendiri, tetapi dia tidak pernah merasa kesepian karena baginya buku adalah teman yang paling setia.
Herman datang bersama Ahmat dan rombongan. Dia membawa kue tart besar bertuliskan, "Selamat Lulus, Amanda dan Geng." Dahlia berteriak kegirangan. Yanto mencoba mengambil kue lebih dulu, tetapi dicegah oleh Dahlia dengan sentakan keras.
"Belum dinyalakan lilinnya!" teriak Dahlia.
"Iya, iya. Sabar."
Lilin dinyalakan. Amanda meniupnya dengan satu hembusan napas panjang, sementara teman-temannya bertepuk tangan dan bersorak. Herman berdiri di sampingnya, tersenyum bangga.
"Kamu tidak minta permintaan?" tanya Herman.
"Permintaan sudah aku ucapkan dalam hati."
"Permintaan apa?"
"Rahasia."
Herman tidak memaksa. Dia tahu bahwa suatu saat nanti Amanda akan memberitahunya. Malam itu, mereka duduk di bangku taman yang sama, di bawah pohon yang sama, di tempat yang sama di mana semuanya dimulai. Bintang-bintang bertaburan di langit, bulan sabit tipis tersenyum dari kejauhan, dan angin malam berhembus sepoi-sepoi.
"Herman," panggil Amanda.
"Ya?"
"Apa yang akan kamu lakukan jika suatu hari nanti ada cowok lain yang menempelkan permen karet di bajuku?"
Herman tertawa kecil. "Pertanyaan aneh. Tapi baiklah, aku jawab. Aku akan mencari cowok itu, lalu aku akan mengajarinya cara menempelkan permen karet yang benar."
"Bukan memukulinya?"
"Bukan. Karena tanpa dia, aku mungkin tidak akan pernah bertemu denganmu."
"Kamu terlalu baik."
"Tidak. Aku hanya bersyukur."
Amanda menggenggam tangan Herman. Genggaman yang erat, hangat, penuh dengan makna. Di dalam genggaman itu, terkandung janji. Janji untuk tidak saling meninggalkan. Janji untuk selalu bersama. Janji untuk menghadapi masa depan dengan penuh keberanian.
"Herman, aku mencintaimu," bisik Amanda.
Herman terkejut. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka setengah. Selama ini, Amanda tidak pernah mengucapkan kata cinta dengan langsung. Selalu ada pengganti. Aku sayang kamu. Aku suka kamu. Aku nyaman denganmu. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Amanda mengatakan cinta.
"Aku juga mencintaimu, Amanda," jawab Herman dengan suara yang sedikit bergetar.
"Seberapa besar?"
"Sebesar lautan. Setinggi langit. Seluas alam semesta."
"Kamu terlalu lebay."
"Tapi kamu tersenyum."
Amanda tersenyum. Senyum paling indah yang pernah Herman lihat. Senyum yang menghapus semua rasa lelah, semua rasa sakit, semua rasa ragu. Senyum yang membuat Herman yakin bahwa semua perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
Mereka berdua duduk di bangku taman itu hingga larut malam, berbincang tentang masa depan, tentang impian, tentang hal-hal kecil yang tidak pernah mereka bicarakan sebelumnya. Setiap kali Amanda tertawa, Herman ikut tertawa. Setiap kali Amanda serius, Herman ikut serius. Mereka selaras, seperti dua nada yang berbeda tetapi berpadu menjadi harmoni yang indah.
Pukul sebelas malam, Amanda pulang. Herman mengantarnya sampai ke depan pagar rumahnya, seperti biasa. Lampu teras masih menyala. Mungkin Ibu Amanda sedang menunggu.
"Sampai di sini," kata Amanda.
"Baik. Selamat malam, Amanda."
"Selamat malam, Herman."
Mereka saling memandang. Tidak ada yang mau masuk lebih dulu. Herman ingin mencium kening Amanda, tetapi tidak berani. Amanda ingin mencium pipi Herman, tetapi malu.
"Besok Car Free Day ?" tanya Herman.
"Besok Car Free Day . Aku akan jogging seperti biasa."
"Aku akan jogging di sampingmu."
"Kamu bisa mengimbangi langkahku?"
"Aku sudah berlatih."
"Bagus. Jangan sampai kehabisan napas."
"Janji."
Amanda masuk ke halaman rumah. Herman memandanginya sampai pintu tertutup. Lalu dia berjalan pulang dengan langkah ringan, dengan senyum yang tidak bisa dia hilangkan, dengan hati yang penuh dengan cinta.
BAB 18
PENGAKUAN, PELUKAN DAN PERTENTANGAN TERAKHIR
Setelah malam pengakuan cinta di Taman Kota Simpang Adipura, hubungan Herman dan Amanda memasuki babak baru yang lebih dewasa. Tidak ada lagi drama yang berlebihan, tidak ada lagi pertengkaran yang tidak perlu, tidak ada lagi saling curiga satu sama lain. Mereka belajar untuk saling percaya, saling mendukung, dan saling mengisi kekurangan masing-masing seperti dua keping puzzle yang berbeda bentuk tetapi ketika disatukan menjadi gambar yang utuh dan sempurna.
Herman semakin rajin menabung, menyisihkan hampir separuh gajinya setiap bulan untuk masa depan yang belum jelas kapan akan tiba tetapi harus tetap dipersiapkan. Amanda semakin rajin belajar, mempersiapkan diri untuk kuliah di Universitas Palangka Raya sambil sesekali membantu ayahnya di toko sembako untuk mengisi waktu luang dan belajar tentang dunia bisnis yang kelak mungkin akan dia geluti.
Namun, seperti pepatah mengatakan, sebelum pelangi selalu ada hujan. Sebelum kebahagiaan yang sesungguhnya, selalu ada ujian terakhir yang paling berat. Dan ujian itu datang dari sumber yang paling tidak terduga: ayah Amanda.
Selama ini, ayah Amanda terlihat ramah pada Herman. Dia memuji kerja keras Herman. Dia mengakui ketulusan Herman. Dia bahkan pernah bercanda tentang Herman yang cocok menjadi menantunya. Tapi di balik keramahan itu, ayah Amanda menyimpan kekhawatiran yang tidak pernah dia ungkapkan secara terbuka. Kekhawatiran tentang masa depan anak semata wayangnya. Tentang jaminan hidup. Tentang stabilitas. Tentang status.
Suatu malam, setelah Amanda pamit tidur, ayah Amanda memanggil istrinya ke ruang keluarga. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya yang penuh dengan senyum dan candaan. Ibu Amanda yang sedang merajut di kursi goyang, langsung meletakkan jarum rajutnya ketika melihat ekspresi suaminya.
"Ada apa, Pak?" tanya Ibu Amanda.
"Kita harus bicara tentang Amanda," jawab ayah Amanda.
"Tentang apa?"
"Tentang Herman."
Ibu Amanda menghela napas. Dia sudah menduga ini. Sejak awal, dia tahu bahwa suaminya tidak sepenuhnya setuju dengan hubungan Amanda dan Herman. Keramahan yang ditunjukkan selama ini hanyalah topeng. Di balik topeng itu, ada kekhawatiran yang mendalam.
"Ayah tidak suka Herman?" tanya Ibu Amanda.
"Bukan tidak suka. Herman anak baik. Kerja keras. Jujur. Tulus. Ayah tidak bisa memungkiri itu. Tapi apakah kebaikan saja cukup untuk masa depan? Apakah ketulusan saja bisa memberi makan? Apakah kerja keras saja bisa menjamin kehidupan yang layak untuk Amanda?"
"Ayah meragukan kemampuan Herman?"
"Ayah meragukan kesiapannya. Herman masih muda. Penghasilannya tidak tetap. Dia tinggal di kontrakan. Belum punya tabungan yang cukup. Belum punya rumah. Belum punya kendaraan. Apakah ayah harus merelakan Amanda menikah dengan pria yang masih dalam tahap merangkak?"
Ibu Amanda tidak bisa membantah. Suaminya benar. Herman memang masih dalam tahap membangun diri. Dan proses membangun diri itu bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Sementara Amanda tidak bisa menunggu selamanya. Perempuan memiliki masa subur yang terbatas. Perempuan memiliki standar yang harus dipenuhi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Ibu Amanda.
"Kita harus memisahkan mereka. Sebelum perasaan mereka semakin dalam. Sebelum terlalu sulit untuk dipisahkan."
"Tapi, Pak, memisahkan mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan. Amanda sudah sangat sayang pada Herman. Herman juga sudah sangat sayang pada Amanda."
"Maka kita harus tega. Untuk kebaikan mereka berdua."
Ibu Amanda menunduk. Air matanya menetes. Dia tidak setuju dengan cara suaminya, tetapi dia tidak bisa melawan. Sebagai istri, dia harus patuh. Sebagai ibu, dia harus melindungi anaknya, meskipun dengan cara yang menyakitkan.
"Besok pagi, Ayah akan panggil Herman ke rumah," kata ayah Amanda. "Ayah akan bicara padanya. Ayah akan memintanya untuk mengakhiri hubungan dengan Amanda."
"Apakah itu tidak terlalu kejam?"
"Terkadang, kebaikan harus dibungkus dengan kekejaman, Bu."
Ibu Amanda tidak menjawab. Dia hanya berdiri, berjalan ke kamarnya, dan menangis dalam diam.
Keesokan paginya, Herman menerima telepon dari ayah Amanda. Suara ayah Amanda terdengar serius, tidak seperti biasanya yang ramah dan penuh canda.
"Herman, kamu bisa datang ke rumah? Ayah ingin bicara denganmu."
"Ada apa, Pak? Apakah ada yang salah dengan proyek toko?" tanya Herman.
"Tidak ada yang salah dengan proyek toko. Ayah hanya ingin bicara. Tentang kamu dan Amanda."
Herman merasakan ada yang tidak beres. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar. Tapi dia tidak bisa menolak. "Baik, Pak. Saya akan datang setelah jam kerja."
Jangan setelah jam kerja. Sekarang. Ini penting."
Herman melihat jam tangannya. Masih pukul delapan pagi. Dia baru saja sampai di lokasi proyek. Mandornya akan marah jika dia tidak masuk. Tapi ini tentang Amanda. Tentang hubungannya dengan Amanda. Tidak ada yang lebih penting dari itu.
"Baik, Pak. Saya akan datang sekarang."
Herman pamit pada mandornya. Mandor itu marah, mengomel panjang lebar tentang tanggung jawab dan profesionalisme. Tapi Herman tidak peduli. Dia berlari ke arah jalan raya, menumpang ojek online, dan melaju ke rumah Amanda dengan hati yang berdebar-debar seperti genderang perang yang siap ditabuh.
Di rumah Amanda, suasana tegang. Ayah Amanda duduk di sofa dengan kemeja batik lengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Ibu Amanda duduk di sampingnya, sesekali menyeka air mata yang tidak berhasil dia sembunyikan. Amanda berdiri di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi, matanya merah, bibirnya gemetar.
"Yah, jangan lakukan ini," pinta Amanda.
"Ayah harus lakukan ini, Ndah. Demi kebaikanmu."
"Aku sudah dewasa, Yah. Aku bisa memutuskan sendiri."
"Kamu belum dewasa. Kamu masih delapan belas tahun. Masih labil. Masih mudah terpengaruh."
"Aku tidak terpengaruh, Yah. Aku mencintai Herman dengan kesadaranku sendiri."
Ayah Amanda menghela napas. Dia tidak ingin berdebat dengan anaknya di depan Herman. Dia ingin menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin, dengan argumentasi yang logis, dengan cara yang dewasa.
Pintu rumah terbuka. Herman masuk. Wajahnya masih basah oleh keringat karena terburu-buru. Bajunya masih penuh debu dari lokasi proyek. Sepatunya kotor. Tapi ekspresinya serius, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
"Selamat pagi, Pak. Selamat pagi, Bu," sapa Herman.
"Silakan duduk, Herman," kata ayah Amanda.
Herman duduk di sofa seberang, berhadapan langsung dengan ayah Amanda. Di sampingnya, Ibu Amanda menunduk, tidak berani menatap matanya. Di belakangnya, Amanda berdiri dengan tangan mengepal, menahan diri untuk tidak ikut campur.
"Herman, Ayah tidak suka basa-basi. Ayah akan terus terang," kata ayah Amanda.
"Silakan, Pak."
"Ayah minta kamu mengakhiri hubungan dengan Amanda."
Herman terdiam. Dadanya terasa sesak. Meskipun dia sudah menduga ini sejak telepon tadi pagi, mendengarnya langsung dari mulut ayah Amanda tetap terasa seperti pukulan keras di ulu hati yang membuatnya sulit bernapas sejenak.
"Boleh saya tahu alasannya, Pak?" tanya Herman dengan suara tertahan.
"Alasannya sederhana. Kamu belum layak untuk Amanda."
Pak, saya tahu saya belum layak. Saya tahu saya belum mapan. Saya tahu saya masih jauh dari kata sukses. Tapi saya mohon, jangan nilai saya hanya dari apa yang Bapak lihat sekarang. Saya masih muda. Saya masih punya banyak waktu untuk memperbaiki diri. Saya akan bekerja lebih keras. Saya akan menabung. Saya akan membangun masa depan yang layak untuk Amanda.
“Kata-kata, Herman. Hanya kata-kata. Ayah sudah sering mendengar kata-kata seperti itu dari banyak orang. Tapi kenyataannya, hanya sedikit yang bisa membuktikan."
"Apakah Bapak tidak percaya pada saya?"
"Ayah tidak, tidak percaya. Ayah hanya realistis. Dunia ini keras, Herman. Tidak cukup hanya dengan kerja keras dan ketulusan. Butuh koneksi, butuh modal, butuh keberuntungan. Hal-hal yang belum kamu miliki."
Herman menunduk. Jari-jarinya gemetar. Air matanya hampir jatuh, tetapi dia tahan. Dia tidak ingin menangis di depan ayah Amanda. Dia tidak ingin terlihat lemah.
“Yah, jangan!" Amanda tidak bisa menahan diri lagi. Dia berjalan ke depan, berdiri di samping Herman, lalu menggenggam tangan Herman erat-erat. "Aku tidak akan putus dengan Herman. Apapun yang Bapak katakan. Aku tidak akan."
"Amanda, jangan keras kepala," kata ayah Amanda dengan suara mulai meninggi.
“Aku tidak keras kepala, Yah. Aku hanya mempertahankan apa yang aku cintai."
"Kamu masih muda. Kamu belum tahu apa itu cinta."
"Justru karena aku muda, aku tahu bahwa cinta tidak bisa diukur dengan uang atau status. Cinta adalah perasaan. Dan perasaanku pada Herman adalah nyata."
Ayah Amanda berdiri. Wajahnya merah padam. Matanya menyala-nyala. Dia tidak terbiasa dibantah oleh anaknya. Apalagi di depan orang lain.
“Amanda, duduk!" bentak ayah Amanda.
“Tidak, Yah! Aku tidak akan duduk sebelum Bapak mendengarkan aku!"
Suasana ruangan menjadi panas. Ibu Amanda menangis. Herman hanya bisa diam, menggenggam balik tangan Amanda, memberinya kekuatan meskipun dia sendiri sedang hancur.
Ayah Amanda berjalan mondar-mandir di ruang tamu, mengatur napas, mencoba menenangkan diri. Setelah beberapa saat, dia duduk kembali di sofa, lalu menatap Herman dengan mata yang sedikit lebih lunak.
“Herman, Ayah tidak membenci kamu. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk anak Ayah. Dan maaf, menurut Ayah, kamu belum menjadi yang terbaik."
“Saya mengerti, Pak."
"Tapi Ayah juga tidak tega memisahkan kalian dengan paksa. Karena Ayah tahu, cinta yang dipisahkan dengan paksa hanya akan melahirkan kebencian."
“Lalu apa yang harus saya lakukan, Pak?"
“Ayah akan memberi kamu waktu satu tahun."
“Satu tahun?"
“Iya. Satu tahun untuk membuktikan bahwa kamu layak untuk Amanda. Dalam satu tahun ini, kamu harus menunjukkan bahwa kamu bisa mandiri secara finansial. Kamu harus punya tabungan yang cukup. Kamu harus punya rencana masa depan yang jelas. Jika kamu bisa membuktikan itu, Ayah akan merestui hubungan kalian. Jika tidak, kamu harus rela melepaskan Amanda."
Herman terdiam. Satu tahun. Waktu yang singkat untuk ukuran membangun masa depan. Tapi waktu yang cukup untuk membuktikan ketulusan dan kesungguhannya.
“Saya akan buktikan, Pak."
“Kamu yakin?"
“Saya yakin."
“Jangan hanya yakin. Buktikan."
“Saya akan buktikan, Pak. Dengan tindakan, bukan hanya kata-kata."
Ayah Amanda mengangguk. Dia berdiri, berjalan ke arah Herman, lalu menjabat tangannya. Jabat tangan yang kuat, tegas, seperti perjanjian antara dua laki-laki yang saling menghormati meskipun sedang bersaing.
“Selamat berjuang, Herman."
“Terima kasih, Pak."
Amanda memeluk Herman dari samping, menangis haru. Ibu Amanda ikut memeluk dari belakang, air matanya juga jatuh. Ayah Amanda hanya tersenyum tipis, lalu berjalan ke teras untuk mengambil rokok yang sudah lama tidak dia hisap.
Setelah kejadian itu, Herman bekerja dengan semangat yang berkobar-kobar seperti api yang disiram bensin. Setiap pagi dia bangun pukul empat, mandi, sarapan seadanya, lalu berangkat ke proyek sebelum matahari terbit. Setiap malam dia pulang pukul delapan atau sembilan, kadang lebih, tergantung seberapa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Dia tidak lagi mengambil lembur hanya untuk mendapat uang tambahan, tetapi juga untuk belajar. Belajar tentang manajemen proyek, tentang negosiasi dengan pemasok, tentang estimasi biaya dan waktu. Dia ingin naik pangkat. Dia ingin menjadi mandor, kemudian menjadi manajer proyek, kemudian mungkin membuka usaha kontraktor sendiri.
Ahmat dan teman-temannya mendukung penuh. Yanto kadang membantu mengantarkan material dengan sepeda motornya yang butut. Mahdili dan Bintang membantu menghitung kebutuhan material dengan aplikasi di ponselnya. Yuni dan Herawati membantu memasak untuk Herman setiap malam agar dia tidak perlu repot memikirkan makanan. Mereka adalah sahabat sejati, yang selalu ada dalam suka dan duka.
Amanda juga tidak tinggal diam. Dia membantu Herman mencari informasi tentang pelatihan-pelatihan konstruksi, tentang sertifikasi yang dibutuhkan untuk naik pangkat, tentang cara membangun relasi dengan pengusaha properti. Kadang dia ikut menemui pemasok material untuk belajar negosiasi. Kadang dia ikut ke lokasi proyek untuk melihat langsung bagaimana Herman bekerja. Dia tidak hanya menjadi pendukung pasif, tetapi juga pendukung aktif yang terlibat langsung dalam perjuangan Herman.
Dalam sebulan, Herman mendapat sertifikasi mandor muda dari dinas tenaga kerja. Dalam tiga bulan, dia dipromosikan menjadi kepala lapangan dengan gaji yang hampir dua kali lipat. Dalam enam bulan, dia sudah dipercaya mengelola proyek perumahan kecil sendiri, dengan tim yang dia bentuk sendiri, dengan material yang dia pilih sendiri, dengan hasil yang dia tanggung jawabkan sendiri.
Dalam sembilan bulan, Herman sudah bisa menyewa kontrakan yang lebih layak, bukan kontrakan 3x4 di gang sempit belakang pasar, tetapi rumah petak 4x6 dengan kamar mandi dalam dan dapur kecil. Bukan istana, tetapi setidaknya dia tidak perlu lagi berbagi kamar mandi dengan tetangga yang suka mandi lama.
Dalam sebelas bulan, Herman sudah memiliki tabungan yang cukup untuk uang muka rumah sederhana. Dia juga sudah memiliki rencana bisnis untuk membuka usaha kontraktor kecil-kecilan setelah dia mengumpulkan pengalaman dan modal yang cukup. Semua ini dia capai bukan karena keberuntungan, tetapi karena kerja keras, ketekunan, dan dukungan dari orang-orang yang mencintainya.
Tepat satu tahun setelah perjanjian dengan ayah Amanda, Herman datang ke rumah Amanda dengan setelan baru, rambut yang dipotong rapi, dan senyum yang penuh percaya diri. Dia membawa map tebal berisi bukti-bukti pencapaiannya selama setahun. Sertifikat, slip gaji, tabungan, rencana bisnis, semua tertata rapi seperti laporan keuangan perusahaan publik.
Ayah Amanda menerima map itu, membacanya satu per satu dengan teliti. Matanya berbinar. Mulutnya tersenyum. Jari-jarinya bergetar ketika memegang lembaran-lembaran yang membuktikan bahwa Herman tidak hanya pandai bicara, tetapi juga pandai bertindak.
“Herman, Ayah tidak menyangka," kata ayah Amanda dengan suara terharu.
“Saya sudah berjanji, Pak. Saya akan buktikan."
“Kamu benar-benar anak hebat. Ayah minta maaf karena dulu meragukanmu."
“Tidak perlu minta maaf, Pak. Kekhawatiran Bapak adalah bentuk cinta Bapak pada Amanda. Saya mengerti itu."
Ayah Amanda berdiri, berjalan ke arah Herman, lalu memeluknya erat-erat. Pelukan yang tulus, pelukan yang mengakui bahwa Herman sudah layak, bahwa Herman sudah pantas, bahwa Herman sudah menjadi bagian dari keluarga.
“Selamat datang di keluarga kami, Nak," bisik ayah Amanda di telinga Herman.
“Terima kasih, Pak."
Herman tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia menangis. Bukan air mata sedih. Bukan air mata haru. Tapi air mata kemenangan. Air mata yang keluar karena setelah berjuang selama satu tahun penuh, akhirnya dia diterima. Diterima sebagai kekasih Amanda. Diterima sebagai calon menantu. Diterima sebagai manusia yang layak.
Amanda juga menangis. Dia berlari ke arah Herman, memeluknya dari belakang, kepalanya menyandar di punggung Herman yang lebar, tangannya melingkar di perut Herman. Ibu Amanda ikut memeluk mereka bertiga. Keluarga kecil itu berdiri di ruang tamu rumah Jalan Nusa Indah, berpelukan, menangis, tertawa, bersyukur.
Setelah selesai berpelukan, ayah Amanda mengajak Herman duduk di teras. Mereka berdua minum kopi buatan ibu Amanda, yang terkenal sangat pahit tetapi sangat aromatik.
“Herman, Ayah ingin bertanya sesuatu," kata ayah Amanda.
“Tanya apa, Pak?"
“Apa rencanamu dengan Amanda setelah ini?"
“Saya akan melamar Amanda, Pak. Tentu setelah saya mendapat restu dari Bapak dan Ibu. Saya akan mempersiapkan semuanya dengan matang. Bukan hanya secara finansial, tetapi juga secara mental dan spiritual."
“Kamu yakin dengan keputusanmu?"
“Saya yakin, Pak. Sejak permen karet itu, saya sudah yakin bahwa Amanda adalah takdir saya."
Ayah Amanda tertawa kecil mendengar kata permen karet. "Kisah cinta kalian memang unik, Herman. Dimulai dari hal yang konyol, tetapi berakhir dengan sesuatu yang indah."
“Kadang, cinta tidak perlu dimulai dengan sempurna, Pak. Yang penting adalah bagaimana kita menjalaninya."
Ayah Amanda mengangguk. Dia menyesap kopinya, menikmati pahit yang perlahan berubah menjadi manis di lidahnya, seperti perjalanan cinta Herman dan Amanda yang penuh dengan rintangan tetapi akhirnya berbuah manis.
“Herman, Ayah merestui kamu. Ayah merestui hubungan kamu dengan Amanda. Ayah juga merestui jika kamu ingin melamarnya. Tapi ingat, satu syarat."
“Apa syaratnya, Pak?"
“Jangan pernah sakiti Amanda. Jika kamu menyakitinya, Ayah yang akan mencarimu."
Herman tersenyum. "Saya tidak akan menyakiti Amanda, Pak. Janji."
“Janji?"
“Janji."
Ayah Amanda mengulurkan tangannya. Herman menjabatnya. Jabat tangan yang mengikat janji antara dua laki-laki yang sama-sama mencintai perempuan yang sama. Satu sebagai ayah, satu sebagai kekasih. Satu sebagai pelindung, satu sebagai pendamping.
BAB 19
MASA DEPAN YANG DIGARAP BERSAMA
Lamaran Herman kepada Amanda berlangsung enam bulan setelah restu resmi dari ayah Amanda. Bukan lamaran mewah dengan gedung megah dan dekorasi ribuan bunga, tetapi lamaran sederhana di Dermaga Danau Mare, tempat di mana Herman pertama kali menyatakan cintanya dengan suara fals dan gitar tiga senar yang sumbang. Tempat itu memiliki makna tersendiri bagi mereka berdua.
Di sanalah Herman menunjukkan kerentanannya untuk pertama kalinya, di sanalah Amanda tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata, di sanalah mereka mulai jujur satu sama lain bahwa perasaan yang tumbuh di antara mereka bukan sekadar suka atau penasaran, tetapi sudah merambat ke akar yang lebih dalam bernama cinta.
Herman datang lebih awal, seperti yang selalu dia lakukan jika menyangkut hal-hal penting. Dia membawa satu tangkai mawar merah, bukan karangan bunga besar yang mahal, karena dia tahu Amanda lebih menyukai kesederhanaan daripada kemewahan palsu. Dia juga membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam berisi cincin perak dengan ukiran kecil berbentuk permen karet di bagian dalamnya. Cincin itu tidak mahal, hanya seharga empat ratus ribu rupiah, butuh waktu tiga bulan untuk menabung sambil terus memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyisihkan sebagian untuk investasi masa depan. Tapi bagi Herman, cincin itu adalah segalanya. Cincin itu adalah simbol dari perjuangan, pengorbanan, dan komitmen yang tidak bisa diukur dengan uang.
Amanda datang setengah jam kemudian, diantar oleh Dahlia dan Yanto yang sudah seperti saudara sendiri bagi mereka berdua. Dia memakai dress putih sederhana, tidak panjang, tidak pendek, tidak ketat, tidak longgar. Pas di tubuhnya, seperti perasaan Herman yang pas di hatinya selama ini. Rambutnya dibiarkan terurai, hanya dijepit sedikit di bagian belakang dengan jepit bambu hadiah dari Herman pada ulang tahunnya yang lalu.
"Herman, kamu manggil aku ke sini serius banget," kata Amanda begitu turun dari mobil. Matanya mengamati dermaga yang sepi, hanya mereka berdua dan dua orang saksi yang sengaja Herman undang untuk momen spesial ini. "Ada apa? Jangan-jangan kamu mau..."
"Tebak saja," potong Herman sambil tersenyum misterius.
Amanda mendekat, jantungnya berdebar kencang. Dia sudah menduga apa yang akan terjadi, tapi dia tidak mau berprasangka terlalu jauh. Takut kecewa jika ternyata hanya sekadar makan malam romantis atau sekadar jalan-jalan sore seperti biasanya.
Herman berlutut. Bukan berlutut setengah hati atau berlutut dengan satu kaki seperti yang sering dia lihat di film-film romantis barat. Herman berlutut dengan kedua kaki di atas papan kayu dermaga yang sudah tua dan menghitam karena usia. Tangannya sedikit gemetar saat membuka kotak hitam itu, memperlihatkan cincin perak dengan ukiran permen karet di bagian dalamnya. Matanya menatap Amanda dengan penuh harap, penuh cinta, penuh dengan seribu janji yang tidak akan pernah dia ingkari seumur hidupnya.
"Amanda," kata Herman dengan suara yang bergetar tetapi jelas, "aku tahu aku bukan laki-laki sempurna. Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku dengan menempelkan permen karet di bajumu di Car Free Day . Aku tahu aku sering lupa janji, sering telat datang, sering tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Tapi satu hal yang aku tahu pasti: aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali melihat wajahmu yang galak itu, sejak pertama kali mendengar suaramu yang melengking saat marah, sejak pertama kali merasakan betapa berartinya seseorang ketika dia hadir dalam hidupku."
Air mata Amanda mulai mengalir. Bukan air mata sedih, bukan air mata terharu biasa, tetapi air mata yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya, tempat di mana selama ini dia menyimpan semua rasa takut, semua rasa ragu, semua rasa tidak percaya bahwa cinta sejati itu benar-benar ada.
"Herman, aku..."
"Belum selesai," potong Herman dengan senyum tipis. "Aku belum selesai, Amanda. Tolong jangan potong sebelum aku pingsan karena gugup."
Amanda tertawa kecil di sela-sela tangisnya. "Baik, baik. Lanjutkan."
"Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Bukan karena kamu cantik, bukan karena kamu pintar, bukan karena kamu anak orang kaya. Tapi karena kamu adalah kamu. Kamu yang marah-marah tanpa sebab, kamu yang keras kepala, kamu yang tidak pernah mau mengalah, kamu yang membuatku merasa hidup untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun. Aku tidak bisa menjanjikan istana atau mobil mewah atau liburan ke luar negeri setiap tahun. Tapi aku bisa menjanjikan satu hal: aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Aku tidak akan pernah berhenti berusaha menjadi lebih baik untukmu. Aku tidak akan pernah berhenti berterima kasih pada takdir yang mempertemukan kita melalui sehelai permen karet."
Amanda tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Hanya air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya, jatuh ke dress putihnya, meninggalkan noda basah kecil seperti titik-titik kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh waktu.
"Amanda Regina Prameswari," Herman membuka kotak cincin itu lebar-lebar, "maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Maukah kamu melalui suka dan duka bersama aku? Maukah kamu memaafkan semua kesalahanku di masa lalu dan bersamaku membangun masa depan yang lebih baik?"
Amanda mengangguk. Bukan anggukan pelan yang ragu-ragu, tetapi anggukan tegas yang keluar dari hati yang paling dalam. Dia meraih tangan Herman yang gemetar, lalu berkata dengan suara yang lantang tetapi penuh getaran, "Ya, Herman. Aku mau. Aku mau menjadi pendamping hidupmu. Aku mau melalui suka dan duka bersamamu. Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu sejak lama. Dan aku ingin membangun masa depan bersamamu, bukan hanya yang lebih baik, tetapi yang terbaik."
Herman tersenyum. Senyum paling bahagia yang pernah dia tunjukkan sepanjang hidupnya. Tangannya yang gemetar memasangkan cincin perak itu di jari manis Amanda. Cincin itu pas, tidak longgar, tidak sempit, seolah-olah cincin itu memang sudah ditakdirkan untuk melingkar di jari Amanda sejak awal mula dunia diciptakan.
Dahlia menangis histeris di pinggir dermaga. Yanto ikut menangis meskipun dia tidak tahu persis mengapa dia menangis. Mungkin karena bahagia melihat sahabatnya akhirnya menemukan kebahagiaan. Mungkin karena terharu melihat perjuangan Herman yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Atau mungkin karena dia ikut merasakan getaran cinta yang menyelimuti seluruh dermaga Danau Mare pada sore yang cerah itu.
"FOTO! FOTO!" teriak Dahlia sambil mengusap air matanya dengan tangan. "Kalian harus berfoto! Ini momen bersejarah!"
Herman dan Amanda berfoto dengan latar belakang Dermaga Danau Mare yang tenang, airnya berwarna keemasan karena dipantulkan oleh sinar matahari sore yang mulai condong ke barat. Amanda menunjukkan cincinnya ke arah kamera, tersenyum lebar, matanya berbinar seperti bintang di langit malam yang paling gelap sekalipun. Herman memeluk pinggang Amanda, kepalanya sedikit menunduk, senyumnya tidak bisa dia sembunyikan meskipun dia sudah berusaha mati-matian untuk terlihat cool.
"Kirim foto ini ke grup!" perintah Amanda.
"Grup yang mana?" tanya Dahlia sambil memegang ponsel.
"Semua grup! Geng Car Free Day , Geng Jogging Cantik, grup keluarga, grup apa saja yang penting mereka tahu bahwa aku sudah dilamar oleh laki-laki tergila se-Kota Kuala Kapuas."
"Aku tidak gila, Amanda. Aku hanya... kreatif," protes Herman.
"Kreatif atau gila, sama saja. Yang penting kamu adalah kamu. Dan aku mencintai kamu apa adanya."
Herman tersenyum mendengar kata cinta yang keluar dari mulut Amanda dengan begitu mudahnya. Dulu, Amanda sangat pelit mengucapkan kata itu. Bisa dihitung dengan jari berapa kali dia mengatakan cinta pada Herman selama setahun terakhir. Tapi sekarang, setelah cincin itu melingkar di jarinya, setelah restu orang tua sudah di kantong, setelah perjuangan panjang yang melelahkan tetapi membahagiakan, Amanda tidak lagi takut mengucapkan kata itu. Karena cinta bukan lagi sekadar perasaan yang mengambang di udara, tetapi sudah menjadi komitmen yang mengikat, janji yang harus ditepati, dan tanggung jawab yang harus dijalani bersama-sama.
Pernikahan Herman dan Amanda digelar enam bulan setelah lamaran, tidak terlalu mewah, tidak terlalu sederhana, pas di tengah-tengah seperti watak mereka berdua yang selalu mencari titik keseimbangan dalam segala hal. Yang hadir bukan hanya keluarga dan kerabat dekat, tetapi juga teman-teman lama yang setia mendampingi perjalanan cinta mereka sejak awal. Geng Car Free Day hadir semua, Ahmat menjadi salah satu saksi pernikahan, Yanto menjadi koordinator konsumsi (meskipun akhirnya dia lebih banyak makan daripada bekerja seperti yang diharapkan dari seorang koordinator konsumsi yang bertanggung jawab).
Mahdili menjadi dokumentator dengan ponsel barunya yang katanya kamernya paling bagus untuk menangkap momen bahagia seperti ini. Yuni dan Herawati menjadi pengiring pengantin, berdiri di samping Amanda dengan gaun serba pink yang membuat mereka terlihat seperti dua peri yang sedang menjaga putri tidurnya yang baru saja terbangun oleh ciuman cinta sejati, dan Bintang dapat bagian keamanan dan perpakiran.
Dari pihak Amanda, geng jogging datang semua. Dahlia menjadi maids of honor, memegang buket bunga dengan tangan gemetar karena terlalu emosional. Yunita, Anita, dan Sania duduk di barisan depan, sesekali tersenyum, sesekali menangis, sesekali saling memeluk karena tidak percaya bahwa akhirnya Amanda, perempuan paling galak di Kota Kuala Kapuas, berhasil dijinakkan oleh seorang kontraktor sederhana yang tidak memiliki apa-apa selain ketulusan, kerja keras, dan cinta yang tidak pernah pudar meskipus dihantam badai berkali-kali.
Ragil juga datang. Bukan sebagai tamu undangan utama, tetapi sebagai teman lama yang ingin memberikan restu. Dia datang bersama perempuan baru yang tidak terlalu cantik tetapi matanya jujur dan senyumnya tulus. Ragil sudah berubah. Setelah kekalahannya dari Herman, dia banyak merenung, banyak belajar, banyak memperbaiki diri. Dia tidak lagi menjadi playboy yang suka memanipulasi perempuan. Dia menjadi laki-laki yang lebih rendah hati, lebih menghargai perasaan orang lain, lebih paham bahwa cinta tidak bisa dibeli dengan uang atau status atau wajah ganteng.
"Selamat, Herman. Selamat, Amanda," kata Ragil sambil menjabat tangan Herman dan mencium pipi Amanda (dengan izin Herman, tentu saja). "Kalian berdua pantas bahagia."
"Terima kasih, Ragil," jawab Herman dengan tulus. "Kamu juga pantas bahagia dengan perempuan di sampingmu itu. Jaga dia baik-baik."
"Insya Allah. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang dulu."
Mereka berpelukan sebentar, dua laki-laki yang dulu bersaing untuk memperebutkan hati perempuan yang sama, kini bersahabat dalam damai, tanpa dendam, tanpa sakit hati, hanya ada rasa syukur bahwa semuanya telah berlalu dan meninggalkan pelajaran berharga tentang arti cinta yang sesungguhnya, tentang arti keikhlasan yang sejati, tentang arti menerima kenyataan bahwa tidak semua yang kita inginkan akan menjadi milik kita, dan itu bukanlah akhir dari segalanya.
Akad nikah berlangsung pukul sepuluh pagi di teras rumah Amanda yang sudah dihias dengan nuansa putih dan krem yang elegan tapi tetap sederhana seperti pesan kedua mempelai yang tidak ingin berlebihan dalam hal apapun. Penghulu datang tepat waktu, membawa kitab dan berkas-berkas yang sudah disiapkan berhari-hari sebelumnya. Herman duduk di pelaminan dengan kemeja putih dan jas hitam, rambutnya disisir rapi, kumis tipisnya dicukur bersih sehingga wajahnya terlihat lebih muda dari usianya yang sudah menginjak kepala dua puluh lima. Amanda duduk di sampingnya dengan gaun pengantin putih yang tidak terlalu panjang, tidak banyak payet, hanya sederhana dengan sedikit renda di bagian lengan dan kerah.
Prosesi akad nikah berlangsung lancar. Herman mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang, tidak terbata-bata, tidak gemetar, seperti seorang laki-laki yang sudah mempersiapkan dirinya dengan matang untuk memikul tanggung jawab yang sangat besar.
"Saya terima nikahnya Amanda Regina Prameswari Binti Hemawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin perak dibayar tunai."
“SAH.” Ujar kedua saksi.
Semua tamu bertepuk tangan. Ada yang bersorak. Ada yang bersiul. Ada yang menangis haru, terutama ibu Amanda yang dari awal acara sudah tidak bisa berhenti menyeka air matanya dengan tisu yang sudah bergelimpangan di pangkuannya.
"Kamu resmi menjadi suami saya sekarang, Herman," bisik Amanda setelah akad nikah selesai, sambil menggenggam tangan Herman erat-erat.
"Dan kamu resmi menjadi istri saya, Amanda," balas Herman dengan suara yang penuh kebahagiaan. "Kita akan melewati semuanya bersama-sama. Suka, duka, miskin, kaya, sakit, sehat. Sampai maut memisahkan kita."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua tersenyum. Senyum yang penuh dengan masa depan yang belum pasti, tetapi tidak perlu pasti karena yang penting mereka akan menggarapnya bersama-sama, bahu membahu, tangan dalam tangan, hati menyatu dalam satu irama yang sama, satu tujuan yang sama, satu cinta yang tidak akan pernah pudar meskipun waktu terus berjalan dan meninggalkan kerutan di wajah serta uban di rambut.
Resepsi pernikahan berlangsung meriah tetapi tetap dalam batas kesederhanaan yang mereka sepakati bersama. Tidak ada panggung megah, tidak ada lampu sorot yang menyilaukan, tidak ada karpet merah yang panjang. Hanya tenda putih di halaman rumah Amanda yang sudah dihias dengan balon-balon warna pastel dan lampu-lampu hias yang memberikan nuansa hangat di malam hari. Makanan disajikan dalam bentuk prasmanan sederhana, menu utamanya adalah tahu walik dan bakso dari langganan Pak RT, sebagai penghormatan pada kenangan-kenangan manis yang mereka lalui bersama selama masa pendekatan yang penuh dengan drama dan tawa.
Yanto dan Dahlia menjadi pembawa acara, sebuah kombinasi yang berbahaya karena mereka berdua sama-sama tidak bisa serius lebih dari lima menit tanpa melontarkan lelucon yang kadang terlalu jayus tetapi tetap membuat orang tertawa.
Yanto membuka acara dengan kalimat, "Selamat datang di pernikahan pasangan yang paling tidak mungkin bersatu di seluruh Kuala Kapuas. Seorang kontraktor gila yang suka tempelin permen karet di baju orang, dan seorang perempuan galak yang tidak pernah mau mengaku bahwa dia sebenarnya lembut." Semua tamu tertawa, termasuk kedua mempelai yang duduk di pelaminan dengan wajah sedikit memerah karena malu.
Dahlia melanjutkan, "Cerita cinta mereka dimulai dari permen karet. Ya, permen karet. Bukan dari tatapan mata, bukan dari senyuman manis, bukan dari puisi cinta. Tapi dari permen karet yang lengket di baju olahraga putih milik Amanda. Lucu, konyol, tidak masuk akal. Tapi itulah cinta. Cinta tidak pernah masuk akal. Cinta tidak pernah logis. Cinta datang begitu saja, kadang dari hal-hal yang paling tidak terduga, dan jika kita membiarkannya tumbuh, ia akan berkembang menjadi sesuatu yang indah."
Ibu Amanda menangis lagi. Ayah Amanda ikut menangis meskipun dia berusaha menyembunyikannya dengan menunduk dan menyeka mata dengan ujung jari. Herman menggenggam tangan Amanda lebih erat. Amanda membalas genggaman itu dengan tekanan yang sama, tanda bahwa mereka berdua sama-sama merasakan getaran kebahagiaan yang luar biasa di hari yang paling bersejarah dalam hidup mereka.
Acara dilanjutkan dengan pemotongan kue, pemberian hadiah dari tamu undangan, dan sesi foto bersama yang memakan waktu hampir dua jam karena semua orang ingin berfoto dengan kedua mempelai yang tampak sangat bahagia itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan momen spesial ini. Herman tidak mengeluh meskipun pipinya sudah hampir kaku karena terlalu banyak tersenyum, tangannya sudah hampir lepas karena terlalu banyak dijabat, dan punggungnya sudah hampir patah karena terlalu banyak difoto dengan berbagai pose yang kadang sangat aneh dan tidak ergonomis untuk ukuran tulang manusia normal pada umumnya.
Hari mulai malam ketika para tamu satu per satu pamit pulang. Herman dan Amanda berdiri di pintu gerbang, melambaikan tangan, mengucapkan terima kasih pada setiap tamu yang datang. Dahlia dan Yanto pulang paling akhir, setelah membantu membersihkan sisa-sisa makanan dan merapikan kursi-kursi yang berantakan.
"Selamat malam, pengantin baru," kata Dahlia sambil memeluk Amanda erat-erat. "Semoga kalian bahagia selamanya."
"Aamiin," jawab Amanda dengan suara yang sedikit pecah karena emosi yang tidak bisa dia sembunyikan lagi.
"Jangan sakiti Herman, ya, Am," tambah Yanto sambil memeluk Herman. "Dia sudah berjuang keras untuk mencapai hari ini."
"Aku tidak akan menyakiti dia," janji Amanda.
"Dan aku tidak akan menyakiti Amanda," timpal Herman.
Mereka berempat tertawa kecil. Lalu Dahlia dan Yanto masuk ke mobil dan melaju perlahan meninggalkan rumah Jalan Nusa Indah, meninggalkan Herman dan yang kini sah menjadi suami istri untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Setelah semua tamu pulang dan rumah mulai sepi, Herman dan Amanda duduk di teras, berdua saja, ditemani oleh teh manis hangat buatan Ibu Amanda yang sengaja disiapkan untuk menenangkan saraf setelah seharian penuh dengan keramaian.
"Kita sudah menikah, Herman," kata Amanda sambil menyesap teh manisnya perlahan.
"Iya. Kita sudah menikah. Akhirnya."
"Kamu tidak menyesal?"
"Menyesal? Kenapa harus menyesal? Aku sudah menunggu momen ini sejak permen karet itu. Apa kamu menyesal?"
Amanda tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, lalu menunduk, memainkan cincin di jari manisnya. Cincin perak dengan ukiran permen karet di bagian dalamnya. Cincin yang tidak pernah dia lepas sejak Herman memasangkannya di dermaga Danau Mare enam bulan lalu.
"Herman, aku ingin bertanya sesuatu," kata Amanda setelah beberapa lama terdiam.
"Apa?"
"Apakah kamu masih ingat jurus ke berapa yang paling berhasil menurutmu?"
Herman tertawa kecil. "Jurus ke berapa? Semua jurus berhasil. Karena setiap jurus yang gagal membawaku semakin dekat padamu."
"Jawaban diplomatis."
"Tapi jujur."
Amanda mengangguk. Dia tahu Herman tidak pernah berbohong. Dari awal, sejak permen karet itu, Herman selalu jujur. Terlalu jujur, kadang, sampai-sampai orang lain menganggapnya tolol atau tidak punya otak. Tapi bagi Amanda, kejujuran Herman adalah hal yang paling membuatnya jatuh cinta. Di dunia yang penuh dengan kepalsuan dan kepura-puraan, Herman adalah satu-satunya orang yang selalu mengatakan apa yang dia pikirkan dan merasakan apa yang ada di hatinya, tanpa tedeng aling-aling, tanpa basa-basi, tanpa takut dinilai buruk oleh siapapun.
"Besok Car Free Day ," kata Herman.
"Iya. Besok Car Free Day . Kita akan jogging bersama, seperti biasa. Tapi sekarang sebagai suami istri."
"Boleh aku menempelkan permen karet di bajumu?"
"Jangan coba-coba!"
"Tapi aku ingin mengulang kenangan."
"Kenangan yang itu cukup sekali seumur hidup. Tidak perlu diulang."
Herman tertawa. Amanda ikut tertawa. Mereka berdua tertawa di teras rumah Jalan Nusa Indah di bawah sinar bulan yang mulai muncul dari balik awan tipis yang bergerak lambat ditiup angin malam yang berhembus sepoi-sepoi.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Herman tidur di rumah Amanda. Bukan di kontrakan 3x4 dengan kipas angin rusak dan langit-langit yang retak-retak. Tapi di kamar Amanda, yang kini sudah menjadi kamar mereka berdua, dengan sprei baru hadiah dari Yuni dan Herawati, dengan bantal-bantal empuk yang membuat tidur terasa sangat nyaman, dan dengan kehadiran Amanda di sampingnya, mendengkur pelan dengan wajah yang sangat damai seperti bayi yang baru saja selesai menyusu.
Herman tidak bisa tidur. Dia hanya memandang wajah Amanda yang tenang, yang tidak lagi memucat karena marah, tidak lagi merah padam karena emosi meledak-ledak, tidak lagi sembab karena menangis sejadi-jadinya. Wajah yang damai, wajah yang bahagia, wajah yang menjadi alasan Herman bangun setiap pagi untuk terus berjuang, terus bekerja, terus menjadi lebih baik.
"Aku mencintaimu, Amanda," bisik Herman di telinga Amanda yang sedang tidur.
Amanda tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dalam tidurnya, senyum kecil yang menandakan bahwa alam bawah sadarnya mendengar kata-kata itu dan merespon dengan kebahagiaan yang tidak perlu diungkapkan dengan suara.
Herman memejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidur dengan nyenyak tanpa mimpi buruk tentang permen karet raksasa yang mengejarnya di Car Free Day . Yang ada hanya mimpi indah tentang masa depan, tentang rumah kecil dengan halaman yang ditanami bunga, tentang anak-anak yang berlarian dengan sepeda mini, tentang hari tua yang dijalani bersama Amanda, berpegangan tangan, tersenyum, bersyukur bahwa mereka pernah bertemu melalui sehelai permen karet yang lengket di baju olahraga putih.
BAB 20
JUTAAN LANGKAH DI CAR FREE DAY
Lima tahun telah berlalu sejak Herman dan Amanda mengucapkan janji suci di pelaminan yang sederhana namun penuh makna. Lima tahun yang terasa seperti lima menit ketika kebahagiaan mengalir begitu derasnya, tetapi terasa seperti lima abad ketika badai kehidupan datang menerpa tanpa kenal ampun. Seperti semua pasangan suami istri di muka bumi yang tidak sempurna dan tidak pernah akan sempurna, Herman dan Amanda juga mengalami pasang surut dalam bahtera rumah tangga mereka. Kadang ombak kecil menggoyang perahu, kadang badai besar datang hampir menenggelamkan, tetapi mereka selalu berhasil bertahan, selalu berhasil menemukan jalan kembali ke pelukan satu sama lain, karena komitmen mereka tidak diucapkan dengan bibir tetapi ditulis dengan darah, keringat, dan air mata di atas lembaran kehidupan yang tidak pernah mudah bagi siapa pun.
Herman kini tidak lagi menjadi kontraktor lapangan yang setiap hari mengangkat semen dan mengecek plafon dengan risiko jatuh dari ketinggian. Dia sudah membuka usaha kontraktor sendiri, kecil-kecilan pada awalnya, dengan modal tabungan pernikahan yang tidak seberapa plus pinjaman dari Ahmat yang tidak pernah dia bayar-bayar karena Ahmat dengan ikhlas merelakannya sebagai modal usaha saudara. Namun perlahan, dengan kerja keras yang tidak pernah mengenal lelah, dengan strategi yang dia pelajari dari buku-buku manajemen yang dipinjamkan oleh Sania, dengan doa yang tidak pernah putus dari ibu dan ayah Amanda serta arwah ibunya sendiri yang dia yakini selalu menyaksikan dari surga yang paling indah, usaha Herman berkembang pesat.
Sekarang dia memiliki tim beranggotakan lima belas orang, mengerjakan proyek-proyek perumahan di seluruh Kota Kuala Kapuas dan sekitarnya, bahkan beberapa proyek di Palangka Raya yang memaksanya untuk bolak-balik antara dua kota setiap minggu. Dia tidak lagi tinggal di kontrakan sempit di belakang pasar, tetapi sudah memiliki rumah sederhana di kompleks perumahan yang tidak terlalu mewah tetapi cukup nyaman untuk tempat berteduh setelah seharian bergelut dengan debu dan semen. Rumah itu tidak besar, hanya tipe lima puluh empat dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, dan dapur kecil di belakang yang selalu wangi karena Amanda hobi memasak sejak menikah.
Rumah itu dibeli dari hasil kerja keras Herman selama tiga tahun pertama pernikahan mereka, bukan dari uang orang tua Amanda seperti yang dituduhkan oleh orang-orang yang iri dengan kebahagiaan mereka. Herman ingin membuktikan pada dunia bahwa dia tidak menikahi Amanda karena hartanya. Amanda juga ingin membuktikan pada dunia bahwa dia tidak salah memilih pendamping hidup yang hanya mengandalkan ketulusan tanpa kesiapan materi. Mereka berdua sukses membuktikannya, meskipun prosesnya tidak mudah, berliku, penuh dengan pengorbanan yang tidak terhitung jumlahnya dengan mata uang apapun.
Amanda lulus kuliah tepat waktu dengan predikat cumlaude dari Universitas Palangka Raya, Jurusan Manajemen, konsentrasi Manajemen Keuangan. Dia tidak langsung bekerja setelah lulus, karena dia memilih untuk fokus mengurus rumah tangga dan membantu Herman mengelola keuangan usaha kontraktornya. Bukan karena dia tidak bisa bekerja di perusahaan orang atau malas mencari pengalaman di luar sana, tetapi karena dia sadar bahwa Herman membutuhkannya. Usaha kontraktor yang baru dirintis membutuhkan pengelolaan keuangan yang rapi, administrasi yang tidak berantakan, dan negosiasi dengan pemasok yang tidak boleh asal-asalan. Amanda mengambil peran itu. Dia menjadi bendahara, akuntan, sekaligus penasihat keuangan bagi Herman. Tanpa Amanda, mungkin usaha Herman akan hancur dalam enam bulan pertama karena buruknya manajemen kas dan tidak terkendalinya arus utang piutang yang bisa menjerat siapa saja yang tidak paham dunia keuangan.
Geng lama mereka masih tetap solid, meskipun kesibukan masing-masing sering kali membuat mereka tidak bisa berkumpul seperti dulu lagi. Ahmat sekarang menjadi manajer di perusahaan properti milik pamannya, sering bepergian ke luar kota, kadang ke luar pulau, tetapi setiap kali ada kesempatan untuk pulang ke Kota Kuala Kapuas, dia selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Herman dan Amanda, membawa oleh-oleh yang tidak pernah terlalu mahal tetapi selalu dipilih dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Yanto dan Dahlia menikah setahun setelah Herman dan Amanda. Mereka tidak menggelar pesta besar, hanya undangan terbatas untuk keluarga dan teman-teman terdekat, karena mereka lebih memilih mengalokasikan dana untuk modal usaha katering yang hingga sekarang masih berjalan dengan baik, bahkan sudah memiliki empat karyawan tetap dan puluhan langganan tetap dari kalangan pegawai kantoran dan pebisnis kecil di Kuala Kapuas yang tidak sempat memasak sendiri karena kesibukan yang luar biasa.
Mahdili dan Yunita pacaran selama tiga tahun, putus selama satu tahun, lalu rujuk kembali dan menikah pada tahun keempat sejak Herman dan Amanda menikah. Hubungan mereka seperti roller coaster, naik turun, penuh dengan tikungan tajam yang membuat mual, tetapi pada akhirnya berhenti di stasiun yang sama, dengan hati yang sama, dan dengan komitmen yang sama untuk tidak pernah lagi saling meninggalkan apapun yang terjadi di masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.
Herawati menikah dengan seorang pengusaha meubel dari Palangka Raya, pindah ke sana, dan jarang pulang ke Kuala Kapuas. Tapi setiap Natal dan tahun baru, dia selalu kembali, berkumpul dengan teman-teman lamanya, tertawa, bernostalgia, mengenang masa-masa ketika mereka masih muda dan bodoh dan penuh dengan mimpi yang setinggi langit meskipun jangkauan tangan mereka sangat pendek untuk menggapai semua keinginan yang melambung tinggi tanpa perhitungan matang.
Sania dan Bintang tetap sendiri. Bukan karena tidak ada yang mau, tetapi karena dia memilih untuk sendiri. Dia bilang, kebahagiaan tidak selalu harus dengan pasangan. Kebahagiaan bisa ditemukan dalam buku, dalam secangkir kopi di sore hari, dalam perjalanan ke tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Sania menjadi penulis lepas, menulis cerita-cerita pendek yang dimuat di media daring, kadang juga menulis novel yang laris di pasaran meskipun dia tidak pernah mengakui bahwa dia adalah penulisnya karena dia menggunakan nama pena yang sangat rahasia, tidak diketahui siapa pun, termasuk teman-temannya sendiri.
Dan ada satu anggota baru dalam keluarga Herman dan Amanda. Seorang bayi laki-laki yang lahir pada tahun ketiga pernikahan mereka, setelah dua tahun mencoba dan berdoa dan berobat ke sana kemari tanpa hasil yang memuaskan. Bayi itu lahir dengan selamat pada suatu pagi di bulan Juni, ketika hujan deras mengguyur Kuala Kapuas seperti air bah yang hendak menghanyutkan segala duka yang pernah ada. Beratnya dua kilo sembilan ratus gram, panjangnya empat puluh delapan sentimeter, rambutnya hitam lebat seperti rambut Herman, tetapi hidungnya mancung seperti hidung Amanda, dan matanya bulat besar dengan sorot tajam yang mengingatkan semua orang pada tatapan galak Amanda ketika dia masih muda dan mudah tersulut emosinya hanya karena hal-hal sepele yang sebenarnya tidak perlu dia hiraukan.
Herman menamainya Karet.
Ya, Karet.
Bukan nama yang umum di telinga orang kebanyakan, bahkan cenderung aneh dan sulit diterima oleh akal sehat. Banyak yang protes, terutama Ibu Amanda yang mengusulkan nama-nama yang lebih Islami seperti Muhammad atau Ahmad atau Abdullah. Ayah Amanda mengusulkan nama yang lebih jawa seperti Joko atau Suyono. Teman-teman mereka mengusulkan nama-nama kekinian yang sedang tren di kalangan artis dan selebriti media sosial. Tapi Herman bersikukuh.
"Namanya Karet," kata Herman di meja makan, ketika semua orang berkumpul untuk memberikan saran nama untuk bayi yang baru lahir itu.
"Karet? Seperti permen karet?" tanya Ibu Amanda dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa tidak setujunya.
"Bukan seperti permen karet, Mah. Tapi terinspirasi dari permen karet. Karena permen karet itulah yang mempertemukan saya dengan Amanda. Permen karet itulah yang mengubah hidup saya. Tanpa permen karet, mungkin saya tidak akan pernah berani mendekati Amanda. Tanpa permen karet, mungkin kami tidak akan pernah saling mengenal. Tanpa permen karet, mungkin Karet tidak akan pernah lahir ke dunia ini."
"Tapi, Herman, nama Karet itu aneh. Anaknya nanti diejek teman-temannya."
"Biarkan mereka mengejek, Mah. Suatu hari nanti, ketika Karet sudah besar dan bertanya kenapa dia diberi nama Karet, saya akan ceritakan kisah cinta saya dengan Amanda. Dan dia akan bangga, bukan malu."
Ibu Amanda tidak bisa berdebat lagi. Herman sudah bulat. Amanda juga mendukung suaminya. Dia bilang, "Biarlah, Mah. Nama itu doa. Herman mendoakan agar anaknya jadi pengingat akan cinta yang tulus, bukan sekedar nama yang bagus di telinga tapi hampa makna."
Maka jadilah Karet nama resmi yang tercatat di akta kelahiran, kartu keluarga, dan semua dokumen kependudukan lainnya. Karet. Nama yang akan terus menjadi bahan perbincangan setiap kali ada orang baru yang mendengarnya.
Nama yang akan selalu memicu pertanyaan, "Karet? Seperti karet gelang? Karet ban? Karet permen?" Dan Herman akan dengan sabar menjawab, "Karet permen. Seperti permen karet. Itu adalah awal dari segalanya."
Car Free Day masih berlangsung setiap Minggu pagi, seperti yang sudah menjadi tradisi turun-temurun di Kuala Kapuas sejak puluhan tahun yang lalu, mungkin bahkan sejak sebelum Herman dan Amanda lahir ke dunia yang penuh dengan kejutan ini. Ribuan warga masih memadati area Stadion Panunjung Tarung dan jalan-jalan di sekitarnya, melakukan kegiatan yang kurang lebih sama seperti dua puluh tahun yang lalu, tradisi ini terus berlanjut tanpa henti oleh perubahan zaman yang tidak pernah bisa diprediksi oleh siapa pun.
Herman dan Amanda tetap hadir setiap minggu. Tidak pernah absen, kecuali ketika Karet sakit atau ketika ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Kini mereka tidak datang berdua, tetapi bertiga dengan kereta dorong bayi yang selalu membuat orang-orang di sekitar tersenyum setiap kali melihat bayi montok dengan rambut hitam lebat itu tertidur pulas sambil menggigit jempol kakinya yang mungil dan menggemaskan.
Herman sudah tidak jogging lagi. Usianya yang sudah mendekati kepala tiga membuat lututnya sedikit bermasalah. Dokter bilang dia harus mengurangi aktivitas yang membebani sendi, terutama lari di aspal keras yang tidak ramah untuk lutut yang sudah mulai menua sebelum waktunya. Tapi Herman tetap hadir. Dia berjalan santai, menggendong Karet di pinggangnya, sesekali menunjuk ke arah orang-orang yang berlalu-lalang, lalu berkata dengan suara lembut pada putranya yang masih terlalu kecil untuk mengerti, "Lihat, Nak. Itu tempat pertama kali Ayah bertemu Ibu."
Karet hanya bergumam tidak jelas, lalu kembali tidur di pundak Herman yang bidang dan hangat, tidak peduli dengan cerita cinta orang tuanya yang sangat romantis tetapi juga sangat konyol pada saat yang bersamaan.
Amanda masih jogging, meskipun tidak sekencang dulu ketika dia masih lajang dan harus menjaga penampilan agar tetap langsing dan menarik di mata lawan jenis yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Sekarang dia jogging pelan-pelan, kadang berjalan, kadang berhenti untuk membeli es campur atau gemblong di pinggir jalan, karena tidak ada lagi yang perlu dibuktikan dan tidak ada lagi yang perlu dikejar kecuali kebahagiaan yang sederhana dan kesehatan yang prima.
Dahlia dan Yanto juga hadir. Mereka membawa anak pertama mereka, perempuan, bernama Gemblong, sebagai penghormatan pada jajanan pasar yang mempertemukan mereka di Pasar Sari Mulya pada suatu sore yang panas dan membosankan. Yanto sesekali membelikan gemblong untuk istrinya, lalu mereka berdua makan bersama sambil tertawa, mengingat masa-masa ketika mereka masih saling malu-maluan dan tidak berani mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya, padahal semua orang sudah tahu bahwa mereka saling suka sejak pertemuan pertama yang tidak direncanakan oleh siapapun.
Ahmat datang sendirian, tanpa pasangan. Dia masih betah sendiri, katanya. Menikah bukan prioritas, katanya. Tapi semua orang tahu bahwa Ahmat diam-diam menyukai Sania, dan Sania juga diam-diam menyukai Ahmat, tetapi mereka berdua sama-sama keras kepala, sama-sama tidak mau mengaku, sama-sama menunggu yang lain mengambil langkah pertama yang tidak akan pernah terjadi jika tidak ada campur tangan dari orang-orang di sekitarnya.
Mahdili dan Yunita datang terlambat, seperti biasa. Mereka bertengkar di jalan tentang rute mana yang paling cepat menuju Car Free Day , apakah lewat jalan utara yang lebih jauh tetapi lebih lancar, atau lewat jalan selatan yang lebih dekat tetapi sering macet karena pasar tradisional yang buka sejak subuh dan baru tutup ketika matahari sudah condong ke barat. Herman hanya tersenyum melihat mereka. Pertengkaran kecil seperti itu dulu juga sering terjadi antara dia dan Amanda. Sekarang mereka sudah dewasa, sudah lebih bijak, sudah tidak perlu bertengkar soal hal-hal sepele yang tidak akan mereka ingat lagi lima tahun yang akan datang.
Herawati pulang ke Kuala Kapuas untuk Car Free Day kali ini. Dia datang bersama suaminya dan dua orang anak kembar laki-laki yang sangat nakal dan tidak bisa diam lebih dari tiga puluh detik tanpa melakukan sesuatu yang merusak atau setidaknya membuat orang di sekitarnya jengkel. Tapi semua orang memaklumi. Anak-anak memang begitu. Mereka adalah karunia yang tidak bisa kita pilih, tidak bisa kita pesan sesuai selera, tidak bisa kita kembalikan jika tidak sesuai harapan. Kita hanya bisa menerima dengan lapang dada, mendidik dengan penuh kesabaran, dan mencintai dengan segenap hati tanpa pamrih sedikit pun.
Pada suatu Car Free Day yang cerah, ketika matahari bersinar dengan ramah tidak terlalu panas dan tidak terlalu redup, ketika angin berhembus sepoi-sepoi membawa aroma kue cubit dan pisang goreng dari pedagang kaki lima yang setia setiap minggu, Karet terbangun dari tidurnya. Matanya yang bulat dan tajam itu membuka perlahan, seperti dua jendela yang dibuka di pagi hari untuk menyambut sinar mentari yang hangat dan menyejukkan jiwa yang sedang galau. Dia menoleh ke kiri, melihat Amanda yang sedang jogging pelan di sampingnya. Dia menoleh ke kanan, melihat Herman yang berjalan sambil menggendongnya.
"Ayah," kata Karet. Bukan kata lengkap, lebih seperti gumaman, tetapi cukup jelas untuk didengar oleh telinga Herman yang sangat peka terhadap suara anak kesayangannya itu.
"Iya, Nak. Ayah di sini."
"Ibu."
"Iya. Ibu juga di sini."
Karet tersenyum. Senyuman pertamanya di Car Free Day . Senyuman yang tidak direkam oleh kamera ponsel mana pun, karena semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak ada yang sempat mengabadikan momen berharga itu dengan layar ponsel yang selalu siap sedia di saku celana depan yang mudah dijangkau oleh tangan kanan kapan saja tanpa perlu repot-repot berdiri atau mengganggu aktivitas jogging yang sedang berlangsung.
Herman berhenti berjalan. Amanda juga berhenti berlari. Mereka berdua berdiri di pinggir jalur jogging, di Taman Hutan Kota, di tempat yang sama di mana semuanya dimulai bertahun-tahun yang lalu ketika Herman masih muda dan tolol dan penuh dengan ide-ide gila yang tidak masuk akal tetapi pada akhirnya berhasil mengubah hidupnya secara permanen.
"Amanda, apa kamu ingat bangku itu?" tanya Herman sambil menunjuk ke arah bangku taman Hutan Kota di samping stadion.
"Tentu saja aku ingat. Di sanalah kamu selalu duduk sambil melambai padaku setiap Car Free Day ."
"Dan kamu selalu pura-pura tidak melihat. Padahal hatimu berdebar-debar."
"Tidak pernah. Aku tidak pernah berdebar-debar."
"Bohong."
"Bohong sedikit tidak apa-apa."
Mereka berdua tertawa. Karet yang digendong Herman ikut tertawa, meskipun dia tidak tahu apa yang lucu. Bayi seusianya akan tertawa pada apa pun jika orang tuanya tertawa. Itulah salah satu keajaiban masa kanak-kanak yang hilang ketika kita tumbuh dewasa dan mulai berpikir bahwa tertawa tanpa alasan adalah tanda kegilaan atau ketidakdewasaan yang harus diobati dengan obat penenang atau konsultasi psikolog yang biayanya tidak murah dan tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
"Herman, aku ingin bertanya sesuatu," kata Amanda sambil mengatur napas yang masih sedikit terengah-engah karena jogging yang baru saja dia lakukan.
"Apa?"
"Apa kamu menyesal? Dulu. Ketika kamu memutuskan untuk menempelkan permen karet di bajuku. Apa kamu menyesal?"
Herman terdiam sejenak. Dia memandang Amanda, memandang Karet, memandang bangku taman, memandang langit biru yang cerah tanpa awan, memandang semua orang yang berlalu-lalang dengan wajah bahagia masing-masing. Lalu dia menjawab dengan suara yang lembut tetapi penuh dengan keyakinan yang tidak perlu diragukan lagi oleh siapapun.
"Tidak, Amanda. Aku tidak menyesal. Kesalahan terbesarku adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Karena tanpa permen karet itu, aku mungkin masih duduk sendirian di kontrakan 3x4, tidak punya siapa-siapa, tidak punya tujuan hidup, tidak punya alasan untuk bangun setiap pagi dan tersenyum pada dunia yang tidak pernah ramah padaku."
Amanda mengangguk. Air matanya menetes lagi. Untuk kesekian kalinya dalam hidupnya, dia menangis di Car Free Day . Tapi kali ini bukan karena marah. Bukan karena malu. Bukan karena kesal. Hanya karena bahagia. Bahagia yang sangat dalam, yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, yang hanya bisa dia luapkan melalui air mata yang jatuh ke pipi dan membasahi kerah bajunya yang sudah mulai basah karena keringat.
"Aku juga tidak menyesal, Herman. Aku tidak menyesal memaafkanmu. Aku tidak menyesal jatuh cinta padamu. Aku tidak menyesal menikahimu. Aku tidak menyesal melahirkan Karet untukmu. Aku tidak menyesal menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
"Apakah itu lamaran kedua?"
"Bisa dibilang begitu."
"Kalau begitu, aku terima."
Mereka berdua tersenyum. Kemudian Amanda menggendong Karet dari tangan Herman. Bayi itu tertawa kecil, memukul-mukul pipi Amanda dengan tangannya yang mungil dan lucu seperti kepalan tangan petinju kelas bulu yang sedang berlatih di atas ring yang tidak pernah dia masuki dalam hidupnya.
"Karet, lihat itu," kata Amanda sambil menunjuk ke arah rombongan ibu-ibu yang sedang senam dengan gerakan yang tidak sinkron antara satu dengan yang lain. "Itu Car Free Day . Di sanalah Ayah dan Ibu pertama kali bertemu."
Karet tidak mengerti. Dia hanya tertawa kecil, lalu menggigit jari telunjuknya yang basah oleh air liurnya sendiri yang tidak pernah habis meskipun sudah dia hisap selama berjam-jam tanpa henti.
Herman memeluk Amanda dari samping. Amanda menyandarkan kepalanya di bahu Herman yang bidang dan hangat. Karet duduk di pangkuan Amanda, bergumam tidak jelas, sesekali berusaha meraih rambut Herman yang tertiup angin dan bergoyang-goyang seperti rumput di padang rumput yang luas yang belum pernah dia lihat dengan matanya sendiri.
Di kejauhan, Yanto melambai sambil membawa sebungkus permen karet. Bukan untuk ditempelkan di baju siapapun, tetapi untuk dimakan bersama-sama. Rasanya manis, kenyal, sedikit lengket di gigi, tetapi tidak ada yang peduli karena mereka semua sudah dewasa dan tidak perlu lagi menjaga penampilan di depan lawan jenis yang tidak jelas maksud dan tujuannya.
Herman melambai balik. Amanda ikut melambai. Karet tidak melambai, karena dia terlalu sibuk dengan jempol kakinya yang tiba-tiba terasa sangat menarik untuk diamati dan dijilat meskipun tidak ada rasa sama sekali karena tidak dibumbui garam atau gula atau penyedap rasa apapun.
Matahari terus meninggi di langit. Car Free Day perlahan mulai sepi. Ibu-ibu pulang untuk memasak. Bapak-bapak pulang untuk mandi dan berangkat kerja. Anak-anak sekolah yang ikut orang tua mereka sudah harus berganti baju seragam karena bel pertama akan berbunyi dalam waktu kurang dari satu jam lagi dari sekarang.
Herman dan Amanda berjalan perlahan menuju tempat parkir. Karet sudah tertidur lagi, lelah karena terlalu banyak melihat dunia yang masih sangat baru baginya, yang masih sangat asing, yang masih penuh dengan misteri yang tidak akan dia pahami sampai dia cukup dewasa untuk bertanya dan cukup sabar untuk mendengarkan jawaban yang mungkin tidak akan pernah memuaskan rasa ingin tahunya yang tidak terbatas.
"Herman," panggil Amanda sebelum mereka naik ke mobil.
"Ya, Amanda?"
"Terima kasih. Untuk permen karet itu. Untuk semua jurus konyolmu. Untuk semua kesalahan yang kamu perbaiki. Untuk semua perjuangan yang tidak pernah kamu ceritakan. Untuk Sabar yang tidak pernah habis. Untuk cinta yang tidak pernah pudar."
Herman tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mencium kening Amanda pelan, lalu membuka pintu mobil, menata Karet di kursi belakang dengan sabuk pengaman yang sudah dia pasang khusus untuk bayi, lalu duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan melaju perlahan meninggalkan Stadion Panunjung Tarung yang mulai sepi.
Di dalam mobil, Amanda meraih tangan Herman yang memegang setir. Tangannya kecil, lembut, hangat. Herman membalas genggaman itu dengan tekanan yang sama, tanda bahwa mereka berdua sama-sama merasakan getaran kebahagiaan yang sederhana tetapi sangat dalam di hati masing-masing.
"Kamu tahu, Herman," kata Amanda pelan, matanya tertuju pada Karet yang tidur pulas di kursi belakang dengan ekspresi paling damai yang pernah ada.
"Apa?"
"Aku tidak sabar untuk menceritakan kisah kita pada Karet. Suatu hari nanti, ketika dia sudah besar dan mulai bertanya-tanya tentang cinta."
"Apa yang akan kamu ceritakan?"
"Aku akan ceritakan tentang seorang pria gila yang menempelkan permen karet di baju putihku di Car Free Day . Tentang bagaimana awalnya aku membencinya. Tentang bagaimana perlahan kebencian itu berubah menjadi rasa penasaran. Tentang bagaimana rasa penasaran itu berubah menjadi rasa suka. Tentang bagaimana rasa suka itu berubah menjadi cinta. Cinta yang tidak instan. Cinta yang melalui proses. Cinta yang tidak mudah menyerah. Cinta yang bertahan meskipun badai terus menerpa."
"Itu cerita yang panjang, Amanda."
"Tapi itu cerita yang indah. Dan Karet pantas mendengarnya."
Herman tersenyum. Dia melihat Karet di spion tengah. Bayi itu tersenyum dalam tidurnya, mungkin sedang bermimpi tentang permen karet raksasa yang tidak pernah berhenti mengikutinya ke mana pun dia pergi.
Mobil terus melaju menyusuri jalan lingkar stadion, melewati bangku taman, melewati jalan Tambun Bungai, , melewati Taman Kota Simpang Adipura, melewati semua tempat di mana kenangan mereka terukir dengan tinta emas yang tidak akan pernah pudar oleh waktu.
Matahari berada tepat di atas kepala ketika mobil berbelok ke kompleks perumahan Jalan Pemuda tempat mereka tinggal. Herman memarkir mobil di garasi, mematikan mesin, lalu menoleh ke samping. Amanda sudah tertidur di kursi penumpang, kepalanya sedikit miring ke kanan, mulutnya terbuka sedikit seperti Karet yang juga masih tidur pulas di kursi belakang.
Herman tidak membangunkan mereka. Dia hanya duduk diam, memandang istri dan anaknya yang sedang tidur dengan ekspresi paling damai yang pernah dilihatnya dalam hidupnya.
Di dalam hatinya yang paling dalam, dia berbisik pada dirinya sendiri, "Inilah cinta. Bukan tentang permen karet. Bukan tentang Car Free Day . Bukan tentang drama dan tawa dan air mata. Tapi tentang ini. Tentang saat-saat sederhana ketika tidak ada yang perlu diucapkan karena keheningan sudah menjadi bahasa yang paling indah. Tentang kehadiran yang tidak perlu dibuktikan karena sudah terasa. Tentang komitmen yang tidak perlu diikrarkan kembali karena sudah tertanam dalam-dalam di setiap denyut nadi dan setiap helaan napas."
Dia mengambil ponselnya dari saku celana, membuka aplikasi kamera, lalu memotret Amanda dan Karet yang tidur bersama di dalam mobil. Foto itu akan dia simpan di album kenangan, akan dia tunjukkan pada Karet ketika dia sudah besar, akan dia ceritakan kisah di balik foto itu dengan penuh cinta dan kebanggaan.
"Suatu hari nanti, Karet," bisik Herman pada bayangan anaknya di spion tengah, "kamu akan mengerti mengapa Ayah memilih nama itu untukmu. Bukan karena Ayah gila. Bukan karena Ayah kurang kerjaan. Tapi karena Ayah ingin kamu selalu ingat bahwa cinta sejati bisa dimulai dari hal yang paling tidak terduga. Bahkan dari sehelai permen karet yang lengket di baju orang yang paling Ayah benci sekaligus paling Ayah cintai di seluruh dunia."
Matahari terus bergerak di langit. Waktu terus berjalan tanpa pernah mau berhenti meskipun kita berteriak sekencang-kencangnya memintanya untuk diam sebentar dan menikmati kebahagiaan yang sedang kita rasakan saat ini juga.
Tapi Herman tidak menyesali itu. Karena baginya, kebahagiaan bukanlah tentang menghentikan waktu, tetapi tentang mengisi setiap detik yang diberikan dengan cinta, dengan tawa, dengan air mata, dengan permen karet, dengan Car Free Day , dengan jutaan langkah yang dia dan Amanda ambil bersama sepanjang jalan kehidupan yang tidak pernah lurus dan tidak pernah mulus tetapi selalu indah pada akhirnya.
Herman keluar dari mobil, membuka pintu belakang, menggendong Karet dengan hati-hati, lalu berjalan menuju pintu rumah. Amanda terbangun karena suara pintu yang tertutup. Dia menguap, menggaruk kepalanya yang gatal, lalu tersenyum melihat Herman yang sudah sampai di teras dengan Karet di pangkuannya.
"Aku tidur berapa lama?" tanya Amanda sambil turun dari mobil.
"Hanya sebentar. Mungkin lima belas menit."
"Maaf, aku terlalu lelah."
"Tidak perlu minta maaf. Kamu istriku. Kamu boleh tidur kapan saja kamu mau."
Amanda tersenyum. Dia berjalan ke arah Herman, memeluknya dari samping, lalu mencium pipi Karet yang masih tidur dengan mulut mungil yang terbuka sedikit dan mengeluarkan suara desisan halus seperti kucing kecil yang sedang bermimpi tentang ikan asin digoreng dengan minyak panas di dapur yang wangi.
"Herman, aku mencintaimu," bisik Amanda.
"Aku juga mencintaimu, Amanda. Lebih dari kemarin. Kurang dari besok."
"Hari ini kita bahagia."
"Dan besok kita akan lebih bahagia."
"Apakah cinta kita akan bertahan selamanya?"
"Selamanya itu tidak ada, Amanda. Tapi aku akan berusaha mencintaimu sampai napas terakhirku. Itu lebih dari cukup, bukan?"
"Lebih dari cukup, Herman. Lebih dari cukup."
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Pintu ditutup perlahan. Di luar, matahari terus bersinar. Angin berhembus sepoi-sepoi. Burung-burung pipit beterbangan di langit biru yang cerah tanpa awan.
Dan di sudut ruang keluarga, di atas lemari pajangan, sebuah baju olahraga putih dengan sehelai permen karet yang sudah mengeras bertahun-tahun yang lalu masih tergantung dengan bangga. Baju itu tidak pernah lagi dipakai. Permen karet itu tidak pernah lagi dibersihkan. Karena bagi Herman dan Amanda, baju dan permen karet itu adalah monumen. Monumen untuk cinta yang tidak sempurna tetapi abadi. Monumen untuk perjuangan yang tidak mudah tetapi membahagiakan. Monumen untuk dua orang yang awalnya saling membenci, tetapi takdir mempertemukan mereka dengan cara yang paling konyol.
Monumen untuk sehelai permen karet di Car Free Day .
EPILOG
Lima belas tahun kemudian.
Kuala Kapuas tidak berubah banyak. Sungai Kapuas Murung masih mengalir dengan warna kehitaman yang sama seperti puluhan tahun yang lalu. Pasar Sari Mulya masih ramai dengan tawar-menawar antara pedagang dan pembeli yang saling bersaing dalam seni mengurangi harga dan mempertahankan keuntungan. Jalan Nusa Indah masih teduh dengan pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri, memberikan perlindungan dari terik matahari yang tidak pernah kenal musim jika sedang berada di puncak kejayaannya. Dermaga KP3 masih menjadi tempat favorit warga untuk menikmati bakso dan es jeruk sambil bercerita tentang segala hal mulai dari harga cabai yang meroket hingga kisah cinta anak muda yang selalu berulang dari generasi ke generasi tanpa pernah bosan.
Car Free Day masih berlangsung setiap Minggu pagi dengan semangat yang tidak pernah pudar. Ribuan warga masih memadati area Stadion Panunjung Tarung, ada yang senam, ada yang jogging, ada yang sekadar cuci mata, ada pula yang datang untuk bernostalgia dengan masa lalu ketika mereka masih muda dan penuh mimpi yang kadang terlalu tinggi untuk ukuran langit kota kecil yang tidak punya gedung pencakar langit untuk dijadikan patokan kesuksesan.
Herman sekarang berusia empat puluh tahun. Rambutnya mulai beruban di bagian pelipis, tidak banyak, hanya beberapa helai yang sesekali membuat Amanda bergurau bahwa dia sudah tua dan harus bersiap menjadi kakek-kakek yang suka duduk di teras sambil minum kopi dan membaca koran tanpa kacamata karena matanya masih tajam meskipun usia terus berjalan meninggalkan jejak di wajah berupa garis-garis halus yang tidak bisa dihilangkan dengan krim atau serum atau perawatan apapun yang dijual di toko kecantikan dengan harga selangit.
Dia tidak lagi menjadi kontraktor lapangan yang setiap hari berkutat dengan debu, semen, dan tukang yang suka minta uang muka lalu menghilang tanpa kabar ketika pekerjaan baru setengah jalan. Usaha kontraktornya sudah besar, mengerjakan proyek-proyek di seluruh Kalimantan Tengah, bahkan sudah mulai merambah ke Kalimantan Selatan. Dia memiliki puluhan karyawan, beberapa mandor kepercayaan, dan seorang manajer keuangan yang tidak lain adalah istrinya sendiri, Amanda, yang masih setia mendampinginya dalam suka dan duka bisnis yang tidak pernah seindah yang dibayangkan oleh orang-orang di luar sana yang hanya melihat hasilnya tanpa pernah tahu prosesnya yang penuh dengan keringat, air mata, dan doa yang tidak pernah putus.
Amanda sekarang berusia tiga puluh lima tahun. Usia yang tidak lagi muda tetapi juga tidak bisa disebut tua. Dia masih cantik dengan segala kekurangan yang tidak pernah dia sadari karena terlalu sibuk mengurus rumah, mengurus anak, mengurus suami, dan mengurus bisnis yang kadang membuat kepalanya pusing tujuh keliling ketika ada pemasok material yang tiba-tiba menaikkan harga di saat kontrak sudah ditandatangani dengan harga lama yang tidak bisa diubah lagi karena klausul yang tidak dia baca dengan teliti ketika sedang terburu-buru karena Karet menangis di tengah malam dan dia harus bangun untuk menyusui.
Karet sekarang berusia dua belas tahun. Dia duduk di bangku kelas satu SMP, sekolah favorit di Kuala Kapuas yang tidak mudah dimasuki karena persaingan yang ketat dan koneksi yang harus dibangun jauh-jauh hari sebelum pendaftaran dibuka. Dia tidak sepintar Amanda, tidak secerdik Herman, tetapi dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya: rasa ingin tahu yang luar biasa tentang kisah cinta orang tuanya.
"Ayah, ceritakan lagi tentang permen karet," pinta Karet setiap malam sebelum tidur, meskipun dia sudah mendengar cerita itu ratusan kali, mungkin ribuan kali jika dihitung dengan teliti dan tanpa pembulatan ke atas yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang terlalu malas untuk menghitung secara akurat.
"Kamu tidak bosan, Nak?" tanya Herman sambil membetulkan letak bantal di bawah kepala Karet yang selalu bergerak tidak menentu ketika tidur seperti orang yang sedang bermimpi dikejar oleh kucing raksasa bertaring tajam dan bermata merah menyala.
"Tidak pernah, Ayah. Cerita itu selalu membuatku bahagia."
Herman tersenyum. Setiap kali dia menceritakan kisah itu, dia selalu tersenyum. Seperti pertama kali, seperti kesekian kalinya, senyum yang tidak pernah pudar meskipun waktu terus berjalan meninggalkan kerutan di wajah dan uban di rambut. Senyum yang lahir dari kenangan indah yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kenangan apapun di dunia ini.
"Baiklah. Suatu pagi di Car Free Day , Ayah yang masih muda dan tolol, bersama teman-teman Ayah yang juga tidak kalah tolol, membuat tantangan konyol..."
Dan Karet mendengarkan dengan saksama, matanya berbinar, telinganya terbuka lebar, hatinya penuh dengan kebahagiaan yang sederhana tetapi sangat dalam, kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang atau jabatan atau status sosial setinggi apapun.
Ragil sekarang menjadi pengusaha properti yang sukses. Dia menikah dengan perempuan yang dulu dia bawa ke pernikahan Herman dan Amanda, seorang perempuan sederhana bernama Wati yang tidak terlalu cantik tetapi sangat setia dan tidak pernah mengeluh meskipun Ragil sering pulang larut malam karena urusan bisnis yang tidak pernah selesai sebelum tenggat waktu yang dipaksakan oleh klien yang tidak punya rasa kemanusiaan.
Mereka dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan, yang katanya sangat nakal dan sulit diatur. Ragil sering mengeluh pada Herman bahwa anak-anaknya tidak ada yang mau mendengarkan nasihat orang tua. Herman hanya tertawa, karena dia tahu persis bahwa Ragil dulu juga seperti itu ketika masih muda dan merasa bahwa dunia berputar di sekelilingnya tanpa perlu peduli pada orang lain yang mungkin juga ingin kebahagiaannya sendiri.
"Kamu dulu lebih nakal, Gil," kata Herman suatu sore ketika mereka bertemu di Dermaga KP3.
"Aku tidak nakal. Aku hanya kreatif."
"Kreatif atau manipulatif?"
"Keduanya."
Mereka berdua tertawa. Persahabatan yang dulu dimulai dengan persaingan memperebutkan hati Amanda, kini telah berubah menjadi persaudaraan yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun, termasuk oleh perbedaan pendapat dalam hal-hal kecil yang tidak akan diingat lagi lima tahun kemudian ketika semua sudah tua dan pikun dan tidak bisa membedakan antara kenangan nyata dengan mimpi yang pernah dialami pada malam hari setelah makan terlalu kenyang dan tidur dalam posisi yang salah sehingga leher terasa kaku ketika bangun pagi.
Ahmat akhirnya menikah dengan Sania pada tahun ketujuh sejak Herman dan Amanda menikah. Bukan karena mereka saling mencintai, kata mereka, tetapi karena sudah lelah dengan status jomblo yang membuat keluarga mereka gelisah dan terus-menerus menjodohkan dengan orang yang tidak dikenal yang kadang baik kadang buruk kadang aneh kadang normal tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Pernikahan mereka tidak dihadiri oleh banyak orang, hanya keluarga dan teman-teman terdekat yang betul-betul mengerti dinamika hubungan mereka yang aneh dan tidak biasa. Tidak ada pesta mewah, tidak ada riasan pengantin yang berlebihan, tidak ada sesi foto yang memakan waktu berjam-jam dengan pose-pose yang membuat otot wajah kaku karena terlalu banyak tersenyum dalam waktu yang lama tanpa istirahat yang cukup.
Sania tetap menulis. Ahmat tetap bekerja di perusahaan properti pamannya. Mereka hidup berdampingan dengan damai, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, seperti dua orang yang sepakat untuk berbagi rumah tanpa perlu saling mencintai dengan cara yang romantis dan lebay seperti yang sering ditayangkan di sinetron televisi setiap malam.
"Kalian aneh," kata Yanto suatu hari ketika berkunjung ke rumah Ahmat dan Sania.
"Biarin. Hidup kami, aturan kami," jawab Ahmat santai.
Yang jelas, mereka bahagia. Dan bagi Ahmat dan Sania, kebahagiaan adalah ketika tidak ada yang mengatur dan tidak ada yang diatur, ketika semua mengalir seperti air sungai yang tidak pernah memaksa untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Yanto dan Dahlia sekarang memiliki tiga orang anak. Setelah Gemblong, lahirlah Kue Lumpur dan getuk. Nama-nama yang semuanya terinspirasi dari jajanan pasar yang mereka sukai. Orang-orang sering menertawakan pilihan nama mereka, tetapi Yanto dan Dahlia tidak pernah peduli. Mereka terlalu sibuk mengurus katering yang semakin besar dan tiga orang anak yang semakin nakal dan membutuhkan perhatian lebih dari yang bisa mereka berikan karena waktu terasa sangat terbatas jika dibagi antara urusan dapur yang tidak pernah sepi dan urusan anak yang tidak pernah diam.
Katering mereka sekarang melayani hampir seluruh acara pernikahan dan syukuran di Kuala Kapuas dan sekitarnya. Menu andalan mereka adalah tahu walik dan bakso, resep turunan dari Pak RT yang sudah pensiun dan menikmati masa tuanya dengan memancing di sungai sambil tidur siang di bawah pohon rindang yang tidak pernah dia dapatkan ketika masih sibuk berjualan dari subuh hingga malam tiba dengan lelah yang tidak pernah dia keluhkan.
"Kapan aku bisa jadi nenek?" tanya Ibu Amanda pada Dahlia setiap kali mereka bertemu.
"Tanya anakmu sendiri, Bu," jawab Dahlia sambil tertawa.
Ibu Amanda menoleh pada Amanda yang sedang menyuapi Karet dengan bubur ayam buatan sendiri yang rasanya tidak pernah enak karena Amanda tidak mewarisi bakat memasak dari ibunya yang terkenal sebagai koki rumahan terbaik di lingkungan Jalan Cemara sepanjang masa.
Amanda hanya tersenyum. Belum. Dia belum siap punya anak kedua. Karet masih terlalu kecil, masih terlalu manja, masih terlalu membutuhkan perhatian penuh dari orang tuanya. Mungkin nanti. Ketika usahanya sudah lebih mapan. Ketika Karet sudah lebih mandiri. Ketika badai kehidupan sudah sedikit reda dan menyisakan ketenangan untuk merawat kehidupan baru yang akan lahir ke dunia dengan segala tangisan dan tawa yang tidak bisa diprediksi sebelumnya.
Suatu hari, Karet yang sudah beranjak remaja pulang dari sekolah dengan wajah cemberut. Bibirnya mengerucut seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga tetapi tidak tahu persis apa yang hilang dan di mana terakhir kali dia melihatnya.
"Ada apa, Nak?" tanya Amanda sambil menyiapkan makan siang di meja makan yang sudah tertata rapi dengan piring dan gelas dan sendok dan garpu dan serbet yang dilipat dengan bentuk segitiga yang tidak rapi karena Amanda tidak pernah bisa melipat serbet dengan baik meskipun sudah berusaha belajar dari video tutorial di YouTube yang durasinya hanya tiga menit tetapi dia tidak pernah bisa mengikuti karena jari-jarinya terlalu kaku dan tidak sabar.
"Ada anak sekolah yang mengejekku, Bu," jawab Karet dengan suara cemberut yang masih terdengar seperti anak kecil meskipun usianya sudah menginjak kepala dua belas yang katanya sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa dunia tidak selalu ramah pada orang yang berbeda dari yang lain dalam hal sekecil apapun.
"Di mana-mana ada anak sekolah yang suka mengejek, Nak. Biarkan saja. Mereka akan berhenti sendiri ketika bosan."
"Tapi dia mengejek namaku, Bu."
Amanda berhenti menata meja. Tangannya terhenti di udara, memegang sendok sayur yang baru saja dia cuci dan masih basah karena tidak sempat dikeringkan dengan lap bersih yang tergantung di belakang pintu dapur. "Nama? Karet?"
"Iya. Dia bilang nama Karet itu aneh. Karet permen. Karet ban. Karet gelang. Karet apa pun yang membuat dia bisa tertawa."
Amanda menarik napas panjang. Dia meletakkan sendok sayur di atas meja, lalu duduk di samping Karet, memeluk anaknya erat-erat, seperti waktu dia masih kecil dan menangis karena jatuh dari sepeda yang baru dibelikan oleh Herman dengan uang tabungan selama tiga bulan yang tidak pernah dia sesali karena melihat senyum Karet ketika pertama kali menaiki sepeda itu adalah kebahagiaan yang tidak ternilai dengan uang sepeser pun.
"Nak, Ayah dan Ibu tidak sengaja memilih nama itu. Kami sengaja memilihnya. Karena di balik nama itu, ada kisah yang sangat indah. Kisah tentang cinta yang lahir dari kebencian. Kisah tentang perjuangan yang tidak mengenal lelah. Kisah tentang dua orang yang awalnya saling membenci, kemudian saling jatuh cinta, kemudian saling memiliki, kemudian melahirkan kamu ke dunia ini dengan segala kelebihan dan kekurangan yang tidak perlu kamu buktikan pada siapapun."
"Ceritakan, Bu," pinta Karet dengan mata berbinar, seperti malam-malam ketika dia masih kecil dan Herman menceritakan kisah permen karet dengan suara lantang dan ekspresi wajah yang berlebihan untuk ukuran orang dewasa yang seharusnya sudah bisa mengendalikan emosi di depan umum.
Amanda menceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Dari Car Free Day sampai pernikahan. Dari permen karet sampai nama Karet yang dipilih dengan penuh perhitungan dan pertimbangan dan doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa tempat semua doa dikabulkan atau ditunda atau diganti dengan yang lebih baik yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Karet mendengarkan dengan saksama. Tidak menyela. Tidak bertanya. Hanya mendengarkan. Air matanya menetes ketika Amanda menceritakan tentang Herman yang berlutut di rumahnya, tentang Herman yang jogging dengan kostum badut di Car Free Day , tentang Herman yang menyanyikan lagu fals dengan gitar tiga senar di Dermaga Danau Mare.
"Jadi, Ayah benar-benar gila?" tanya Karet setelah Amanda selesai bercerita.
"Iya. Ayahmu gila. Tapi kegilaannyalah yang membuat Ibu jatuh cinta. Karena di dunia yang terlalu serius ini, orang yang berani menjadi dirinya sendiri, tanpa topeng, tanpa kepura-puraan, adalah orang yang paling menarik."
Karet mengangguk. Dia memeluk ibunya erat-erat, lalu berjanji untuk tidak pernah malu dengan namanya lagi. Karena nama itu bukan sekadar rangkaian huruf yang tidak bermakna. Nama itu adalah doa. Nama itu adalah cerita. Nama itu adalah warisan cinta yang akan dia bawa seumur hidupnya.
Malam harinya, Herman pulang dari proyek agak telat karena ada masalah dengan kiriman material yang tidak kunjung datang karena truknya mogok di tengah jalan raya yang gelap dan sepi karena sudah larut malam dan orang-orang sudah pada tidur atau begadang menonton sinetron yang alurnya tidak masuk akal tetapi tetap ditonton karena tidak ada acara lain yang lebih menarik di televisi.
"Karet sudah tidur?" tanya Herman sambil melepas sepatu dan mencium pipi Amanda yang masih segar meskipun sudah seharian mengurus rumah dan anak dan bisnis yang tidak pernah berhenti menuntut perhatian.
"Sudah. Tadi dia nangis."
"Kenapa?"
"Ada anak sekolah yang mengejek namanya."
Herman terdiam. Dia berjalan ke kamar Karet, membuka pintu perlahan, lalu berdiri di samping tempat tidur anaknya. Karet tidur dengan posisi miring ke kanan, tangan kanannya di bawah bantal, tangan kirinya memeluk boneka beruang pemberian Herman pada ulang tahunnya yang kelima dulu.
"Nak, Ayah minta maaf," bisik Herman. "Ayah tidak tahu bahwa nama itu akan membuatmu menderita. Tapi Ayah tidak akan menggantinya. Karena nama itu adalah satu-satunya cara Ayah untuk mengingatkan dirimu setiap hari bahwa cinta sejati bisa datang dari mana saja. Bahkan dari sehelai permen karet yang lengket di baju orang yang paling Ayah benci."
Karet bergumam dalam tidurnya. Tidak jelas. Mungkin dia mendengar. Mungkin tidak. Tapi Herman tidak peduli. Karena baginya, yang penting adalah dia sudah mengucapkan apa yang harus diucapkan. Selebihnya, biarlah waktu yang menjawab.
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun.
Car Free Day tetap berlangsung. Herman dan Amanda tetap hadir. Karet ikut ketika libur sekolah, bermain dengan anak-anak lain yang juga ikut orang tua mereka, saling kenal, saling berteman, tanpa peduli dari mana asal mereka atau berapa banyak uang yang dimiliki orang tua mereka.
Suatu Car Free Day , ketika Karet sudah duduk di bangku SMA, dia bertanya pada Herman, "Ayah, apa Ayah tidak takut dulu? Ketika menempelkan permen karet di baju Ibu? Apa Ayah tidak takut ditonjok atau dilaporkan ke polisi?"
"Ibu mu dulu ganas, Nak. Bisa saja dia menonjok Ayah sampai babak belur. Tapi Ayah sudah terlanjur jatuh cinta. Dan rasa takut tidak akan pernah cukup kuat untuk mengalahkan cinta."
"Kata kata yang bagus, Ayah."
"Bukan kata-kata, Nak. Itu pengalaman."
Karet tersenyum. Dia memandang ibunya yang sedang jogging di kejauhan, ditemani oleh Dahlia dan Yunita dan Anita dan Herawati yang sedang berkumpul lagi setelah sekian lama tidak pernah bersama karena kesibukan masing-masing yang tidak pernah ada habisnya.
"Suatu hari nanti, Ayah," kata Karet, "aku akan menemukan cintaku. Mungkin tidak melalui permen karet. Tapi aku akan menemukannya."
"Kamu pasti akan menemukannya, Nak. Tapi ingat, cinta tidak harus dimulai dengan sempurna. Kadang cinta dimulai dengan kesalahan. Kadang cinta dimulai dengan kebencian. Kadang cinta dimulai dengan permen karet yang lengket di baju orang yang paling kita benci. Yang penting adalah bagaimana kita menjalaninya, bukan bagaimana kita memulainya."
Karet mengangguk. Dia memeluk ayahnya, lalu berlari mengejar ibunya yang sudah mulai jauh meninggalkan mereka.
Herman berdiri di tempat, tersenyum, memandang istri dan anaknya yang berlari di bawah sinar matahari Car Free Day yang cerah dan hangat.
Di tangannya, dia menggenggam sehelai permen karet rasa stroberi.
Bukan untuk ditempelkan di baju siapapun.
Tapi untuk dimakan.
Karena permen karet itu manis.
Dan cinta, pada akhirnya, juga selalu manis.
Meskipun kadang pahit di awal.
TAMAT
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...