TRILOGI ROMAN EPIK
PENGEMBARA DUA LANGIT
BUKU III: PULANG DI BAWAH MENTARI
"Pulang bukan tentang berhenti berjalan. Pulang adalah tentang menemukan tempat di mana hati berbisik: 'Inilah aku. Inilah rumahku.'"
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Sepasang Pengantin di Pinggir Sawah
Kidung Pulang
Wis suwe nglambrang, wis suwe nggoleki,
Saiki bali menyang panggonan sepi,
Nanging ati isih kepingin weruh,
Pulang iku pancen tekan, utawa mung nglampahi?
Mentari sumunar ing nduwur bukit,
Angin nggowo pitakon sing ora jawab,
Jatmika isih nyisakke wewadi,
Sing mung kawentar nalika ati wis lega.
Ora kabeh wong sing mulih ngrasa tenang,
Ora kabeh wong sing teko ngrasa bahagia,
Amarga omah iku ati, dudu papan,
Lan ati iku isih kudu digoleki.
Malam pertama setelah pernikahan, Arga tidak bisa tidur.
Bukan karena dipan bambu yang keras. Bukan karena suara jangkrik yang terlalu nyaring di luar rumah. Bukan karena angin malam yang berembus dingin menembus celah-celah dinding kayu yang sudah mulai lapuk.
Arga tidak bisa tidur karena ia masih tidak percaya bahwa semua ini nyata.
Ia berbaring di dipan bambu, memandang langit-langit rumah yang gelap. Di samping kirinya, Sekar terbaring dengan mata terpejam, dadanya naik turun pelan, rambut panjangnya terurai di atas bantal kain yang sudah tipis. Di samping kanannya, peta usang pemberian Mbah Jayarasa masih tergulung rapi di dalam kotak kayu, sengaja ia letakkan di dekat bantal, sebagai pengingat bahwa perjalanan panjang yang telah ia tempuh bukanlah mimpi.
"Akhirnya," bisik Arga pada dirinya sendiri. "Akhirnya kita sampai."
Tapi mengapa dadanya masih terasa sesak?
Mengapa pikirannya masih melayang ke sana kemari seperti burung yang kehilangan arah?
Mengapa ia merasa seperti ada sesuatu yang tertinggal di jalan, sesuatu yang tidak ia bawa pulang?
Ia memejamkan mata.
Bayangan Mbah Jayarasa muncul.
Kakek tua itu duduk di kursi bambu, tersenyum dengan mata keriputnya, memegang secangkir teh jahe yang masih mengepul. Rambutnya putih semua, jenggotnya panjang dan lebat, kulitnya mengkerut seperti kertas tua yang disimpan terlalu lama.
"Le," bisik bayangan itu. "Kowe wis mulih. Tapi iki durung rampung."
"Kamu sudah pulang. Tapi ini belum selesai."
Arga membuka mata dengan cepat.
Kamar gelap. Sunyi. Tidak ada bayangan. Hanya suara jangkrik dan suara napas Sekar yang teratur.
Mungkin aku terlalu lelah, pikir Arga. Mungkin ini hanya mimpi.
Ia memejamkan mata lagi.
Tapi firasat itu tidak hilang.
Firasat bahwa perjalanannya belum benar-benar usai. Firasat bahwa ada satu misteri lagi yang harus ia pecahkan sebelum ia benar-benar bisa bernapas lega. Firasat yang datang dari arah yang tidak ia duga—dari dalam dirinya sendiri.
Matahari baru saja terbit ketika Arga terbangun oleh suara ayam jantan berkokok di kejauhan.
Cahaya keemasan masuk melalui jendela kecil di belakang rumah. Debu-debu beterbangan di udara, tampak seperti bintang-bintang mini yang menari di pagi hari.
Arga duduk di dipan.
Lengannya terasa pegal karena semalaman tidur dalam posisi yang sama. Punggungnya terasa kaku. Lehernya terasa seperti habis dipukul kayu.
Tapi ia tersenyum.
Ia menoleh ke samping.
Sekar masih tertidur. Wajahnya tenang, tenang seperti orang yang sudah lama tidak merasakan ketenangan. Bibirnya sedikit terbuka. Rambutnya kusut. Bantalnya hampir jatuh dari dipan karena ia bergerak terlalu banyak dalam tidurnya.
Arga tidak tega membangunkannya.
Ia turun dari dipan dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara. Kaki telanjangnya menyentuh lantai tanah yang dingin. Ia merinding. Tapi ia tidak mengeluh.
Ia keluar kamar.
Di dapur, Sukmawati Ibunya sudah bangun sejak subuh. Ia sedang merebus air di tungku tanah liat. Aroma kopi hitam mulai menyebar ke seluruh ruangan.
"Le, kok sudah bangun? Baru jam setengah enam," sapa Sukmawati sambil membalik dadar di wajan.
"Tidak bisa tidur, Bu."
"Karena apa? Masih merinding? Atau masih tidak percaya sudah sah?"
Arga tersenyum tipis. "Sedikit, Bu."
Sukmawati berjalan mendekat. Ia mengusap rambut Arga yang acak-acakan. Matanya yang keruh karena usia tiba-tiba berbinar.
"Le, Ibu mau bilang sesuatu."
"Apa, Bu?"
"Ibu bangga sama kamu." Suara Sukmawati bergetar. "Ibu bangga karena kamu tidak menyerah. Ibu bangga karena kamu berani berjuang. Ibu bangga karena kamu berhasil membawa Sekar pulang."
Arga menunduk. Matanya basah.
"Tapi, Le," Sukmawati melanjutkan, "Ibu juga ingin kamu tahu bahwa hidup setelah pernikahan tidak selalu indah. Ada badai lain yang mungkin lebih berat dari yang sudah kamu lewati."
"Badai apa, Bu?"
Sukmawati menghela napas. "Badai rumah tangga. Badai ekonomi. Badai tekanan sosial. Badai yang tidak bisa kamu lawan dengan parang atau preman. Badai yang harus kamu hadapi dengan kesabaran, komunikasi, dan cinta."
Arga mengangguk.
"Aku siap, Bu."
"Kamu bilang siap. Tapi pernikahan itu perjalanan yang tidak pernah selesai. Setiap hari kamu harus siap lagi. Setiap pagi kamu harus memilih untuk bertahan."
Arga tidak menjawab. Ia hanya memeluk ibunya.
SEKAR MULAI BERADAPTASI
Jam tujuh pagi, Sekar bangun.
Ia keluar kamar dengan mata masih setengah merem, rambut kusut terurai, dan baju tidur yang sedikit basah di bagian kerah, mungkin karena mimpi, mungkin karena keringat.
"Selamat pagi, Bu," sapanya pada Sukmawati.
"Selamat pagi, Nduk. Kamu tidur nyenyak?"
"Iya, Bu. Baru pertama kali tidur seenak ini setelah hampir dua tahun."
"Bagus. Pokoknya di sini kamu bebas. Tidak perlu takut. Tidak perlu waspada. Tidak perlu sembunyi."
Sekar tersenyum. "Terima kasih, Bu."
Ia duduk di kursi kayu di ruang tengah. Di depannya, Sukmawati menaruh semangkuk bubur dan segelas teh jahe.
"Makan dulu. Nanti perutmu keroncongan."
"Terima kasih, Bu."
Sekar makan perlahan. Buburnya hangat. Jahenya menghangatkan tenggorokan.
Arga masuk dari halaman, membawa dua batang tebu yang baru dipotong dari kebun belakang. Keringat membasahi keningnya. Bajunya basah.
"Sekar, lihat ini," katanya sambil mengangkat tebu.
"Untuk apa?"
"Untuk kamu. Katanya, tebu bisa memperlancar ASI nanti kalau punya anak."
Sekar tersenyum malu. "Mas, kami baru semalam menikah. Jangan bicara soal anak dulu."
“ Oo…, Iya, Kita baru nikah kemaren”. Kata Arga menja
“ Mas Arga pengen cepat punya anak”, Tanya Sekar meledek Arga
“ Munkin “, Jawab Arga singkat sambil senyum , pipi Sekar merona merah di buatnya
“ Jangan terburu-buru, mas, masih pengantin baru”, balas menggoda Arga
"Boleh. Nanti."
Mereka berdua tersenyum.
Sukmawati yang melihat dari dapur ikut tersenyum.
PAGI YANG HANGAT
Pukul delapan pagi, Sastro pulang dari sawah.
Ia berjalan ke sumur belakang, menimba air, membasuh kaki dan tangannya yang berlumpur. Wajahnya lelah, tapi matanya, matanya bersinar.
" Arga," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Besok kamu ikut ke sawah. Ajarin Sekar masak buat bekal."
"Bekal apa, Yah?"
"Nasi. Lauk. Sayur. Apa saja. Yang penting perut tidak keroncongan di tengah sawah."
Sekar yang mendengar dari ruang tengah langsung berdiri. "Saya bisa masak, Pak."
"Kamu bisa masak?"
"Bisa. Dulu waktu di desa, nenek saya yang ajari."
"Bagus. Besok kamu yang masak bekal untuk Arga." Jawab Pak Sastro
"Siap, Pak."
Pak Sastro tersenyum. Senyum yang jarang muncul. Senyum yang membuat kerutan di wajahnya terlihat seperti peta tua yang penuh cerita.
WARUNG PECEL MBOK SEKAR
Sepekan setelah pernikahan, Sekar memutuskan untuk membuka warung pecel kecil di depan rumah.
Ide itu muncul setelah melihat banyak warga desa yang setiap pagi berjalan kaki ke pasar kecamatan yang jaraknya lumayan jauh. Jika ada warung di desa, mereka bisa membeli lauk tanpa harus ke pasar.
"Mas, aku mau buka warung," kata Sekar suatu malam.
Arga mengerutkan kening. "Kamu yakin? Modal kita tidak banyak."
"Modal tidak perlu besar. Cukup beli sayur, bumbu, dan nasi. Aku sudah bisa masak pecel. Dulu nenekku ajari."
"Tapi, " Arga masih merasa ragu
"Mas, aku tidak bisa diam di rumah terus. Aku butuh kegiatan. Aku butuh sesuatu yang membuatku merasa berguna." Sekar menyakinkan Arga
Arga memandang Sekar.
Perempuan di depannya bukan lagi gadis desa yang lugu dan ketakutan. Ia sudah dewasa. Ia sudah mandiri. Ia sudah jatuh bangun dalam perjuangan.
"Baik," kata Arga akhirnya. "Aku dukung." Jawab Arga bersemangat
"Benarkah?"
"Benar. Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Kalau capek, istirahat."
"Iya, Mas."
PERSIAPAN WARUNG
Mereka memulai persiapan warung keesokan harinya.
Arga membuat meja dan kursi sederhana dari kayu bekas yang ia kumpulkan dari tetangga. Sukmawati menyumbangkan periuk tanah liat dan piring-piring lama yang masih bisa dipakai. Sastro memberi seikat bambu untuk membuat tenda darurat.
Sekar sibuk di dapur, meracik bumbu pecel. Kacang tanah disangrai. Bawang putih dan kencur diulek. Gula merah dan garam ditambahkan. Asam jawa dan daun jeruk memberi aroma khas.
"Aroma masakanmu wangi, Nduk," puji Sukmawati.
"Dulu nenek saya yang ajari, Bu. Katanya, bumbu pecel yang enak adalah bumbu yang masaknya pakai hati."
"Hati?"
"Iya. Hati yang ikhlas. Hati yang tidak tergesa-gesa. Hati yang sabar."
Sukmawati tersenyum. "Nenekmu perempuan bijak."
"Ya. Saya rindu dia."
HARI PERTAMA BUKA
Sabtu pagi, warung pecel Mbok Sekar resmi dibuka.
Tenda bambu sederhana menaungi empat meja kayu. Kursi-kursi dari potongan pohon. Papan nama bertuliskan "PECEL MBOK SEKAR" dengan cat hitam di atas kayu bekas.
Sekar duduk di belakang lapak. Ia memakai kebaya lengan pendek dan kain jarik batik. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya segar.
Beberapa warga mulai berdatangan.
Mbah Tarni, sesepuh desa, datang lebih dulu. Perempuan tua itu berjalan pelan dengan tongkat kayu, ditemani oleh cucunya yang masih kecil.
"Nduk, ini pecelmu? Wangi sekali."
"Siap, Mbah. Mbah mau pesan apa?"
"Seporsi pecel. Nasi biasa. Jangan pedas-pedas. Takut batuk."
"Siap, Mbah."
Sekar menyiapkan pecel. Sayuran direbus. Tahu dan tempe digoreng. Bumbu pecel dituang dengan takaran pas.
Mbah Tarni mencicipi. Matanya berbinar.
"Wah, enak, Nduk! Ini enak sekali. Mirip dengan pecel almarhumah Mbah Raras."
Sekar tersenyum. "Terima kasih, Mbah."
"Mbah Raras itu siapa, Mbah?" tanya cucu Mbah Tarni.
"Neneknya Mbak Sekar. Dulu dia juga jualan pecel. Laris manis."
"Ooh."
Mbah Tarni memandang Sekar lama.
"Nduk, Mbah Raras pasti tersenyum dari surga melihat kamu begini. Mandiri. Kuat. Tidak menyerah."
Air mata Sekar jatuh.
"Amin, Mbah."
PAGI YANG HANGAT DI WARUNG
Hari-hari pertama warung pecel berjalan lancar.
Warga desa mulai berbondong-bondong membeli. Ada yang sarapan di tempat. Ada yang membungkus untuk dibawa pulang. Ada yang hanya sekedar mampir minum teh sambil bergosip.
Tapi ada juga yang tidak datang.
Beberapa warga, yang dekat dengan keluarga Pak Kades, sengaja menghindari warung Sekar. Mereka menganggap Arga "tidak normal". Mereka menganggap Sekar "bekas calon mafia". Mereka menganggap pernikahan mereka "kurang restu".
"Nduk, kenapa sepi hari ini?" tanya Arga suatu sore setelah warung tutup.
Sekar menghela napas. "Ada yang bilang, warungku pake teluh. Ada yang bilang, masakanku bisa bikin orang kesurupan."
Arga mengepalkan tangan. "Siapa yang bilang?"
"Bu Sania. Istrinya Pak Kades."
"Sialan."
"Mas, jangan marah. Biarkan saja. Orang yang mau beli akan tetap beli. Yang tidak mau, tidak usah dipaksa."
"Tapi, "
"Mas, kita sudah melewati yang lebih berat dari ini. Masak fitnah warung pecel tidak bisa kita lewati?"
Arga menghela napas. "Kamu benar. Maaf."
"Jangan maaf. Yang penting kita tetap berusaha."
MALAM DI RUMAH
Jam sembilan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Apa kamu tidak menyesal?"
"Menyesal untuk apa?"
"Menyesal menikah denganku. Hidup di desa yang penuh fitnah. Jauh dari kemewahan. Tidak punya apa-apa."
Sekar memandang Arga. Matanya lembut.
"Arga, aku tidak butuh kemewahan. Aku tidak butuh rumah besar. Aku tidak butuh mobil mewah. Aku hanya butuh ketenangan. Dan ketenangan itu ada di sini. Di sampingmu."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Aku sudah memilihmu. Aku tidak akan pernah menyesal."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu. Suka dan duka kita tanggung bersama."
Mereka berpelukan.
BISIKAN DI PERSIMPANGAN
Saat Arga berjalan pulang dari sawah keesokan harinya, ia mendengar suara bisikan.
Suara itu tidak asing baginya.
Suara angin yang berbisik.
Tapi kali ini berbeda.
Bisikan itu tidak datang dari angin.
Bisikan itu datang dari dalam tanah.
Dari arah makam Mbah Raras.
"Arga... Arga... aku di sini..."
Arga berhenti.
Ia memandang ke arah timur.
Ke arah makam.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya pepohonan.
Hanya kabut tipis yang menggantung.
"Jatmika?" bisik Arga.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara angin yang berembus.
"Jatmika, apa kamu?"
Suara itu datang lagi.
Lebih jelas.
"Bukan... aku bukan Jatmika..."
Arga menelan ludah.
"Siapa kamu?"
"Aku yang menjagamu sejak kecil. Aku yang menjagamu ketika kau lahir di bawah kilat tanpa suara. Aku yang menjagamu ketika kau mencari Sekar."
"Siapa?"
"Mbah Lestari. Nenek buyutmu."
Darah Arga berhenti mengalir.
DI RUMAH ARGA
Arga pulang dengan wajah pucat.
Sekar langsung melihat perubahan itu.
"Mas, kenapa? Sakit?"
"Tidak. Aku... aku mendengar suara."
"Suara apa?"
"Suara Mbah Lestari. Nenek buyutku."
Sekar terdiam. "Mbah Lestari? Yang dulu diceritakan Mbah Tarni?"
"Iya. Dia bilang, dia menjagaku sejak kecil."
"Lalu?"
"Dia bilang, ada rahasia yang belum terungkap."
"Rahasia apa?"
Arga menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencarinya."
BAB 1
MENTARI PAGI DI WRINGINREJO
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Arga sudah berdiri di halaman belakang rumahnya. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang membentang luas dari ujung timur hingga ke barat. Burung-burung pipit mulai beterbangan rendah, mencari bulir-bulir padi yang tersisa dari musim panen kemarin. Udara pagi dingin menusuk kulit, menusuk pori-pori, membuat bulu kuduk berdiri meskipun ia sudah terbiasa dengan dinginnya desa sejak kecil.
Arga menarik napas panjang.
Udara segar desa memenuhi paru-parunya. Bau tanah basah bercampur rumput dan embun. Bau yang tidak pernah ia temukan di kota. Bau yang selama berbulan-bul ia rindukan ketika ia tidur di kamar kos yang sempit dan pengap, hanya ditemani bantal kecil dari kebaya Sekar dan peta usang pemberian Mbah Jayarasa.
Kita sudah pulang, pikirnya. Akhirnya.
Tapi mengapa hatinya masih gelisah?
Ia mengusap dadanya sendiri. Jantungnya berdetak normal. Tidak ada yang salah secara fisik. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang ia rasakan sejak malam pertama setelah pernikahan.
Mbah Lestari.
Nama itu terus berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak.
"Aku yang menjagamu sejak kecil. Aku yang menjagamu ketika kau lahir di bawah kilat tanpa suara."
Siapa sebenarnya Mbah Lestari?
Apa hubungannya dengan kelahirannya?
Dan kenapa ia baru muncul sekarang, setelah semua perjuangan selesai?
"Mas Arga, sudah bangun?" suara Sekar dari dalam rumah memecah lamunannya.
"Sudah," jawab Arga sambil berbalik.
Sekar berdiri di pintu dapur dengan memakai daster sederhana dan rambut yang masih kusut. Wajahnya masih mengantuk, tapi matanya sudah berbinar, bukan seperti binar di kota karena lampu-lampu neon, tapi binar karena ketenangan.
"Masak air untuk kopi, Mas," katanya. "Biar Ibu tidak repot."
"Iya. Kalau masih ngantuk kamu tidur lagi, aja?"
"Tidak. Aku mau bantu Ibu di dapur."
SARAPAN PAGI
Jam setengah tujuh, mereka semua duduk di ruang tengah.
Meja kayu panjang yang dulu hanya muat empat orang, kini harus memuat enam orang karena Arga dan Sekar bergabung dengan Sukmawati, Sastro, dan Ratri yang menginap semalam. Ratri memang sering menginap di rumah Arga sejak Sekar datang. Ia bilang, "Biar Mbak Sekar tidak kesepian."
Tapi Arga tahu, Ratri hanya ingin memastikan bahwa Sekar benar-benar baik-baik saja. Ratri adalah sahabat sejati. Ia tidak pernah cemburu meskipun Arga memilih Sekar. Ia tidak pernah iri meskipun Arga tidak pernah memandangnya lebih dari sekadar teman.
"Nasi uduk, Bu," kata Sukmawati sambil meletakkan nampan besar berisi nasi uduk, ayam goreng, tempe orek, sambal terasi, dan kerupuk. "Makan, jangan pada lapar."
"Makasih, Bu," kata Sekar.
"Mbak Ratri, makan dulu," kata Sukmawati.
"Iya, Budhe."
Mereka makan bersama.
Tidak banyak bicara.
Hanya suara sendok dan piring.
Suara kunyahan.
Suara sesekali tawa kecil ketika Faruq, yang kebetulan masih menginap karena belum pulang ke Jogja, bercerita tentang pengalamannya diseruduk ayam kampung.
"Lho, kok bisa diseruduk ayam?" tanya Sastro heran.
"Saya lagi berdiri di depan kandang ayam, Pakdhe. Tiba-tiba ayam jantan terbang. Kena kepala saya." Faruq memegang kepalanya yang benjol.
"Kamu ganggu ayam-ayam itu?" tanya Nisa curiga.
"Saya cuma mau lihat telurnya."
"Ya sudah. Itu ganjarannya."
“ Ayamnya yang rese, kali.” Sanggah Faruq
“ Lu. Yang rese . Faruk.” Ledek Nisa
Mereka tertawa.
KE SAWAH
Jam delapan pagi, Sastro dan Arga berangkat ke sawah.
Mereka berjalan kaki menyusuri pematang yang sempit. Sawah di kiri kanan mulai menguning, tanda panen akan segera tiba. Beberapa petani lain sudah mulai memotong padi dengan sabit, gerakannya lambat tapi teratur.
"Le," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Ayah mau bilang sesuatu."
"Apa, Yah?"
Sastro berhenti berjalan. Ia memandang Arga dengan mata yang tajam, tajam seperti pisau arit yang baru diasah.
"Ayah tahu kau tidak hanya membantu ayah di sawah. Kau juga mencari sesuatu."
Arga terdiam.
"Jangan bohong pada ayah. Ayah kenal kau sejak kecil. Mata kau berbeda ketika kau memandang bukit timur. Ada rasa penasaran di sana."
Arga menghela napas.
"Iya, Yah. Aku mencari tahu tentang Mbah Lestari."
Sastro tidak terkejut. Ia hanya menghela napas panjang.
"Ayah sudah duga."
"Yah tahu tentang Mbah Lestari?"
"Ayah tahu sedikit. Dari Mbah Jayarasa. Dulu, sebelum Mbah Jayarasa meninggal, ia sempat cerita pada ayah."
"Cerita apa?"
Sastro berjalan lagi. Arga mengikuti.
Mereka melewati pematang yang lebih sempit, di antara dua petak sawah yang airnya mulai surut.
"Mbah Lestari adalah nenek buyutmu. Dari pihak ayah. Dia hidup sekitar seratus tahun yang lalu. Dia bukan orang biasa."
"Bukan orang biasa bagaimana?"
"Dia punya kesaktian. Bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Bisa mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain. Bisa berkomunikasi dengan alam."
"Seperti aku?"
Sastro berhenti lagi. Ia menatap Arga.
"Persis seperti kau."
Arga merinding.
"Kenapa ayah tidak pernah cerita?"
"Karena ayah pikir, itu hanya cerita dongeng. Tapi setelah kau lahir... setelah keanehan-keanehan itu terjadi... ayah mulai percaya."
"Apa yang terjadi pada Mbah Lestari?"
Sastro menghela napas. "Dia menghilang."
"Menghilang?"
"Iya. Tanpa kabar. Tanpa jejak. Tiba-tiba tidak ada. Warga desa mencarinya berhari-hari, tidak ketemu. Hingga akhirnya, mereka menganggap dia meninggal. Tapi tidak ada makam. Tidak ada batu nisan. Tidak ada tanda-tanda."
"Kemana dia pergi?"
"Tidak ada yang tahu."
Mereka melanjutkan perjalanan.
DI TENGAH SAWAH
Jam sembilan pagi, matahari mulai meninggi.
Sastro dan Arga bekerja membajak sawah dengan kerbau. Kerbau itu besar, hitam legam, dengan tanduk melengkung ke belakang. Matanya sayu seperti sudah bosan bekerja selama puluhan tahun.
Sastro memegang tali pengikat kerbau. Arga membajak di belakang.
"Le," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Jangan terlalu banyak berpikir tentang Mbah Lestari. Nanti kau stress."
"Aku tidak stress, Yah. Aku hanya penasaran."
"Penasaran itu baik. Tapi jangan sampai mengganggu hidupmu. Kau sudah punya Sekar. Kau sudah punya keluarga. Itu lebih penting."
"Aku tahu, Yah."
"Bagus. Sekarang kerja. Jangan banyak melamun. Nanti bajaknya miring."
Arga tersenyum. "Siap, Yah."
BEKAL DARI SEKAR
Jam dua belas siang, Sekar datang ke sawah.
Ia membawa bakul bambu berisi nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal terasi, dan kerupuk. Juga dua botol air mineral dingin yang ia bungkus dengan kain basah agar tetap segar.
"Mas, Pak, makan dulu," katanya.
Sastro menghentikan kerbau. Arga melepas bajak.
Mereka duduk di pematang, di bawah pohon rindang yang tumbuh di tepi sawah. Pohon itu bukan pohon randu seperti di Bukit Watu Senja. Pohon ini lebih kecil, dengan daun-daun tipis yang bergoyang pelan diterpa angin.
"Sekar, hari ini warung ramai?" tanya Arga.
"Ramai, Mas. Mbah Tarni datang lagi. Juga Bu Sri, tahu Bu Sri? Yang dulu suka belanja di toko Pak Bondan?"
"Iya. Dia dari kota?"
"Dia lagi mudik. Katanya kangen desa."
"Seru."
"Lumayan. Warung buka dari jam tujuh sampai jam setengah dua belas. Setelah itu sepi."
"Istirahat dulu. Jangan terlalu capai."
"Iya, Mas."
Mereka makan bersama.
Sastro tidak banyak bicara. Ia hanya makan. Sesekali melirik ke arah Arga dan Sekar, lalu tersenyum kecil.
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua siang, Arga dan Sastro pulang ke rumah.
Mereka berjalan melewati pematang yang sama. Sawah yang sama. Burung pipit yang sama.
Tapi ada yang berbeda.
Di kejauhan, di tepi hutan kecil, Arga melihat sesosok bayangan.
Bayangan perempuan.
Berambut panjang.
Berpakaian putih.
Berdiri diam.
Arga berhenti.
"Le, kenapa?" tanya Sastro.
Arga menunjuk ke arah bayangan itu.
"Itu, Yah. Ada orang."
Sastro memandang ke arah yang ditunjuk Arga.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya pepohonan.
Hanya semak belukar.
"Tidak ada, Le. Mungkin kau kelelahan."
"Aku tidak kelelahan, Yah. Aku melihatnya jelas."
Sastro menghela napas. "Mungkin itu Mbah Lestari."
"Menurut Ayah?"
"Siapa lagi. Tidak ada perempuan di desa yang berani ke hutan sendirian. Apalagi jam segini."
Arga memandang ke arah hutan lagi.
Bayangan itu sudah hilang.
Hanya dedaunan.
Hanya ranting-ranting kering.
Dan angin yang berembus sepoi-sepoi.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan purnama bersinar terang.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku lihat bayangan perempuan di tepi hutan tadi siang. Bapak bilang mungkin itu Mbah Lestari."
Sekar mengerutkan kening. "Mbah Lestari? Nenek buyutmu?"
"Iya."
"Kamu takut?"
"Tidak. Tapi aku penasaran."
"Kenapa dia muncul?"
"Tidak tahu. Mungkin ada yang ingin disampaikan."
"Seperti Jatmika dulu?"
"Mungkin."
Mereka terdiam.
Angin malam berembus.
Daun-daun pohon mangga bergemerisik.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku ikut."
"Ikut apa?"
"Ikut mencari tahu tentang Mbah Lestari. Kamu tidak sendirian."
Arga memegang tangan Sekar.
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
RENCANA BESOK
Jam sepuluh malam, mereka masuk ke kamar.
Arga membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar, bantal yang sudah usang, sudah pudar warnanya, sudah hampir tidak berbau. Tapi ia tidak mau membuangnya. Bantal itu adalah saksi bisu perjuangannya.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Besok kita ke rumah Mbah Tarni. Dia sesepuh desa. Dia pasti tahu banyak tentang Mbah Lestari."
"Baik."
"Kita minta Guntur juga ikut. Dia ada di desa sampai lusa."
"Baik."
"Kita minta Laras juga. Dia perempuan. Mungkin Mbah Tarni lebih terbuka dengan perempuan."
"Baik."
"Kita minta, "
"Mas, sudah. Aku setuju semua."
Arga tersenyum.
"Aku hanya ingin memastikan."
"Kamu khawatir."
"Iya. Sedikit. Tapi tidak apa."
Mereka berbaring.
Dipan bambu berderit pelan.
"Selamat malam, Mas."
"Selamat malam, Sekar."
TIDUR LELAP
Arga memejamkan mata.
Ia memikirkan Mbah Lestari.
Bayangan perempuan di tepi hutan.
Wajahnya tidak jelas karena jarak.
Tapi entah mengapa, Arga merasa ia pernah melihat wajah itu sebelumnya.
Bukan di desa.
Bukan di foto.
Tapi di mimpinya.
Di mimpinya sejak kecil.
Seorang perempuan tua tersenyum padanya.
Dengan penuh kasih.
Dengan penuh harap.
Dengan penuh... rahasia.
"Siapa kau?" bisik Arga dalam hati.
"Aku yang menunggumu," jawab bayangan itu.
"Menunggu apa?"
"Menunggu kau cukup dewasa. Menunggu kau cukup kuat. Menunggu kau siap menerima warisan."
"Warisan apa?"
"Warisan leluhur. Warisan yang akan mengubah hidupmu. Warisan yang akan membuatmu mengerti mengapa kau lahir di bawah kilat tanpa suara."
Arga membuka mata.
Kamar gelap.
Sunyi.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara Sekar yang tertidur di sampingnya.
"Mbah Lestari," bisiknya. "Aku akan mencari tahu. Aku akan mengungkap rahasiamu. Aku akan menemukanmu."
WARISAN TANAH
Pagi itu, langit desa Wringinrejo terlihat berbeda dari biasanya.
Bukan karena warna langitnya berubah. Bukan karena awan-awannya membentuk pola yang aneh. Bukan karena ada hujan yang turun tanpa suara seperti malam kelahiran Arga dulu. Tapi karena ada sesuatu di udara, sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa diraba, tapi bisa dirasakan oleh orang-orang yang peka terhadap hal-hal gaib.
Dan Arga, seperti biasa, adalah orang yang paling peka.
Ia terbangun pukul setengah lima, lebih awal dari biasanya. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada suara aneh. Tidak ada firasat yang mengganggu. Hanya perasaan bahwa hari ini akan ada sesuatu yang penting terjadi. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya. Sesuatu yang sudah lama tertunda.
Ia duduk di dipan bambu. Di sampingnya, Sekar masih tertidur lelap dengan posisi miring ke kanan, tangan kirinya menggenggam ujung bantal, bibirnya sedikit terbuka. Wajahnya tenang, tenang seperti orang yang sudah menemukan tempatnya di dunia.
Arga tersenyum.
Ia turun dari dipan dengan hati-hati. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai tanah yang dingin. Ia merinding, tapi tidak mengeluh. Ia berjalan ke jendela, membukanya pelan-pelan, membiarkan udara pagi masuk.
Di luar, kabut tipis masih menggantung di atas sawah. Ayam jantan mulai berkokok dari kejauhan. Burung-burung pipit beterbangan rendah, mencari bulir-bulir padi yang jatuh di pematang.
Arga menarik napas panjang.
Hari ini, pikirnya. Hari ini aku akan tahu.
SARAPAN PAGI
Jam setengah tujuh, semua sudah berkumpul di ruang tengah.
Sukmawati menyajikan nasi goreng dengan telur dadar dan kerupuk. Sastro duduk di kursi bambu favoritnya, minum kopi hitam pahit tanpa gula. Sekar duduk di samping Arga, masih setengah mengantuk. Ratri ikut bergabung karena semalam ia menginap lagi. Faruq, dan Nisa juga masih di desa, mereka belum kembali ke Jogja karena ingin membantu Arga dan Sekar menata kehidupan baru.
"Kita makan dulu, Le," kata Sukmawati. "Nanti pagi-pagi ada yang mau ke sini."
"Siapa yang mau ke sini, Bu?" tanya Arga.
"Pak Lurah. Katanya ada surat penting untukmu."
"Surat penting? Dari mana?"
"Tidak tahu. Yang jelas, Pak Lurah minta kamu ada di rumah jam delapan."
Arga mengerutkan kening. "Aneh."
"Biarlah aneh. Yang penting makan dulu. Jangan sampai perut keroncongan saat menerima tamu."
Mereka makan bersama.
Tidak banyak bicara.
Hanya suara sendok dan piring.
Suara kunyahan.
Suara sesekali tawa kecil ketika Faruq, yang masih mengantuk, menumpahkan kopi ke pangkuannya.
"Faruq, hati-hati," kata Nisa.
"Ini panas!" teriak Faruq sambil melompat.
"Iya, panas. Makanya hati-hati."
"Kamu tidak bilang!"
"Kamu tidak tanya."
Guntur menggeleng-geleng. "Faruq, kamu ini."
"Aku hanya kurang tidur."
"Kemarin kamu tidur jam sembilan."
"Itu bukan tidur. Itu koma."
Mereka tertawa.
KEDATANGAN PAK LURAH
Jam delapan tepat, Pak Lurah datang.
Ia naik sepeda motor butut yang suaranya seperti orang batuk. Helmnya sudah penyok di beberapa tempat. Jaket kulitnya sudah mengelupas.
"Sastro! Arga!" sapanya dari halaman.
"Masuk, Pak Lurah," kata Sastro.
Pak Lurah masuk ke ruang tengah. Ia duduk di kursi kayu yang disediakan. Tangannya memegang sebuah amplop coklat tebal, amplop yang sudah menguning karena usia, dengan segel lilin merah di bagian belakang.
"Ini untuk Arga," katanya sambil menyerahkan amplop itu.
"Apa ini, Pak?" tanya Arga.
"Warisan. Dari Mbah Jayarasa."
Ruangan hening.
Semua mata tertuju pada amplop itu.
"Warisan?" Arga mendengar kata itu dengan perasaan campur aduk. Senang. Aneh. Bingung. Tidak percaya.
"Iya. Tanah. Mbah Jayarasa mewariskan sebidang tanah kepada kamu. Di lereng bukit timur. Dekat pohon randu."
"Tanah? Mbah Jayarasa punya tanah?"
"Iya. Dia menyembunyikannya selama puluhan tahun. Tidak ada yang tahu."
"Kenapa baru sekarang?"
Pak Lurah menghela napas. "Karena Mbah Jayarasa yang mengatur. Dia titipkan surat wasiat ini padaku sebelum dia meninggal. Dia bilang, 'Berikan pada Arga ketika dia sudah menikah. Ketika dia sudah tenang. Ketika dia sudah tidak sibuk berperang.'"
"Tapi, "
"Baca isinya. Di sana ada petunjuk."
SURAT WASIAT
Arga membuka amplop itu dengan tangan gemetar.
Jari-jarinya yang kasar karena bekerja di sawah dan toko bangunan berusaha lembut membuka segel lilin yang sudah rapuh. Segel itu pecah dengan bunyi kecil, krek, seperti ranting kering yang patah.
Ia mengeluarkan isinya.
Beberapa lembar kertas tua yang sudah menguning. Tinta hitamnya mulai pudar di beberapa tempat. Tapi tulisannya masih bisa dibaca, tulisan tangan Mbah Jayarasa yang khas, miring ke kanan, dengan huruf-huruf yang rapi meskipun sudah tua.
Arga membaca.
"Kepada Arga, anak Sastro dan Sukmawati. Cucu rohaniku."
"Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah menikah. Kau sudah tenang. Kau sudah tidak sibuk berperang. Itu yang kutunggu."
"Aku punya sebidang tanah di lereng bukit timur. Di belakang pohon randu. Tanah itu bukan tanah biasa. Tanah itu adalah tanah warisan dari Mbah Lestari, nenek buyutmu."
"Mbah Lestari meninggalkan tanah itu untuk keturunannya yang bisa 'melihat dua langit'. Dan dari semua keturunan yang ada, hanya kau yang memenuhi syarat."
"Aku tidak tahu apa yang ada di tanah itu. Mbah Lestari tidak pernah cerita. Yang aku tahu, tanah itu dijaga oleh sesuatu. Sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh orang seperti kamu."
"Jagalah tanah itu, Le. Jangan dijual. Jangan digadaikan. Jangan diabaikan. Karena di sanalah rahasia terakhir Jatmika berada."
"—Jayarasa"
Air mata Arga jatuh.
Ia tidak bisa menahan tangisnya.
"Mbah Jayarasa..." bisiknya.
Sekar memegang tangannya.
"Mas, jangan nangis. Mbah Jayarasa pasti tidak suka lihat kamu nangis."
"Aku nangis karena bahagia, Sekar. Karena Mbah Jayarasa masih memikirkanku. Karena dia masih menjagaku. Bahkan setelah mati."
PETUNJUK DARI MBAH JAYARASA
Selain surat wasiat, di dalam amplop itu ada selembar peta kecil.
Peta yang digambar tangan.
Peta yang menunjukkan lokasi tanah warisan.
Tidak detail. Hanya garis-garis kasar. Tapi cukup untuk menunjukkan arah.
"Pak Lurah," kata Arga.
"Iya."
"Apa Bapak tahu lokasi tanah ini?"
Pak Lurah mengangguk. "Tahu. Itu tanah di lereng bukit timur. Sekitar dua hektar. Tidak terlalu luas. Tapi tanahnya subur. Dulu sempat ditanami singkong dan jagung. Tapi setelah Mbah Jayarasa tua, tanah itu dibiarkan begitu saja. Ditumbuhi semak belukar."
"Kenapa tidak ada yang menggarap?"
"Karena banyak yang takut."
"Takut apa?"
Pak Lurah menghela napas. "Konon, tanah itu dijaga oleh sesuatu. Ada yang bilang, tanah itu angker. Ada yang bilang, tanah itu tempat berkumpulnya makhluk halus. Ada yang bilang, siapa pun yang mencoba menggarap tanah itu akan celaka."
Arga tidak terkejut.
Ia sudah menduga.
Tanah yang dijaga oleh sesuatu.
Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh orang seperti aku.
"Mbah Lestari," bisik Arga.
"Apa?" tanya Pak Lurah.
"Tidak ada. Terima kasih, Pak Lurah. Saya akan lihat tanah itu nanti."
SETELAH PAK LURAH PERGI
Jam sembilan pagi, Pak Lurah pamit.
Sepeda motornya yang butut meraung-raung meninggalkan halaman rumah. Asapnya mengepul hitam, meninggalkan bau bensin yang menyengat.
Arga duduk di beranda.
Peta kecil dari Mbah Jayarasa terbuka di pangkuannya.
Sekar duduk di sampingnya.
Faruq, Nisa, Ratri, Sukmawati, dan Sastro berkumpul di ruang tengah. Semua ingin mendengar penjelasan.
"Arga, cerita dong," kata Faruq.
Arga menghela napas. Ia menceritakan semuanya.
Tentang Mbah Lestari.
Tentang tanah warisan.
Tentang petunjuk dari Mbah Jayarasa.
Tentang rahasia terakhir Jatmika.
"Jadi, kamu harus ke tanah itu," kata Ratri.
"Iya. Hari ini."
"Sendirian?"
"Tidak. Aku ajak Sekar."
"Kenapa Sekar?"
"Karena dia bagian dari perjalanan ini. Dia bagian dari hidupku. Dia harus tahu."
"Aku juga," kata Faruq.
"Aku juga," kata Nisa.
"Aku juga," kata Ratri.
"Aku juga," kata Dimas.
"Aku juga," kata Samsul.
Arga tersenyum. "Kalian ini."
"Kita tim," kata Nisa. "Tim tidak akan membiarkan anggotanya berjalan sendirian."
PERJALANAN MENUJU BUKIT TIMUR
Jam sepuluh pagi, mereka berangkat.
Berjalan kaki menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil, sampai ke lereng bukit timur.
Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam.
Matahari sudah mulai meninggi. Panasnya menyengat. Keringat mengucur di dahi.
Tapi tidak ada yang mengeluh.
Arga di depan, memegang peta.
Sekar di sampingnya.
Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, dan Samsul menyusul.
"Arga, sampai kapan?" tanya Faruq.
"Sebentar lagi. Lihat, itu pohon randu."
Di kejauhan, pohon randu tua berdiri kokoh di atas bukit. Daun-daunnya rimbun. Cabangnya melebar seperti tangan raksasa.
"Ini tanah Mbah Lestari," kata Arga sambil menunjuk ke arah lahan yang tidak terurus.
Lahan itu ditumbuhi semak belukar setinggi lutut. Rumput liar di mana-mana. Beberapa pohon pisang liar tumbuh tidak beraturan.
Tapi ada yang aneh.
Di tengah lahan itu, ada sebuah batu besar.
Batu hitam.
Berukir.
"Apa itu?" tanya Sekar.
"Tidak tahu. Mari kita lihat."
BATU HITAM BERUKIR
Mereka mendekati batu itu.
Batu hitam setinggi satu meter, lebar setengah meter. Permukaannya halus, seolah sudah dipoles. Tapi ada goresan-goresan di beberapa tempat, goresan yang membentuk aksara Jawa kuno.
Arga menyentuh batu itu.
Dingin.
Sangat dingin.
Seperti menyentuh es.
Tapi di balik dingin itu, ada kehangatan.
Kehangatan yang familiar.
Kehangatan yang ia rasakan setiap kali bersama Mbah Jayarasa.
"Mas, ada tulisan," kata Sekar.
"Tulisannya apa?"
"Aku tidak bisa baca. Aksara Jawa kuno. Bukan aksara yang biasa kita pelajari di sekolah."
Faruq mendekat. Ia memoto batu itu dengan ponselnya. Dikirim ke temannya di fakultas sastra, pakar aksara Jawa kuno.
"Tunggu sebentar," katanya. "Temanku akan membalas."
Mereka menunggu.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Ponsel Faruq berdering.
"Ini jawabannya," katanya.
"Bunyi apa?" tanya Arga.
Faruq membaca.
"Di sini, Mbah Lestari bersemayam. Di sini, pusaka desa tertimbun. Di sini, pengembara dua langit akan menemukan jawaban."
Ruangan hening.
"Pusaka desa?" bisik Dimas.
"Pengembara dua langit?" bisik Nisa.
"Itu Arga," kata Faruq. "Dia pengembara dua langit."
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memandang batu hitam itu.
Matanya sayu.
Tangannya gemetar.
Mbah Lestari, bisiknya dalam hati. Apa yang harus aku lakukan?
Tidak ada jawaban.
Hanya angin yang berembus.
Hanya dedaunan yang bergemerisik.
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua siang, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih berat dari ketika berangkat. Mungkin karena lelah. Mungkin karena pikiran yang penuh dengan pertanyaan.
"Arga," panggil Faruq di tengah jalan.
"Iya."
"Saya akan hubungi teman di fakultas arkeologi. Mungkin mereka bisa turun ke desa untuk meneliti batu itu."
"Kamu bisa?"
"Bisa. Saya punya banyak hutang budi pada mereka."
"Terima kasih, Faruq."
"Jangan berterima kasih. Nanti saya minta traktir."
Mereka tersenyum.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut dengan apa yang akan kita temukan. Bukan karena pusaka. Bukan karena misteri. Tapi karena rahasia terakhir Jatmika."
"Kenapa?"
"Karena selama ini, Jatmika selalu menjadi pelindungku. Jika rahasianya terungkap, mungkin dia akan pergi."
"Pergi kemana?"
"Pergi untuk selamanya."
"Bukankah itu yang kau inginkan? Agar dia tenang?"
Arga memandang Sekar.
"Aku ingin dia tenang. Tapi aku juga takut kehilangan dia."
"Dia kakakmu. Dia tidak akan pernah benar-benar pergi. Dia akan selalu ada di hatimu."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
“ Ya. Kita satu hati satu jiwa”.sahut Arga
“ Selalu” sambung Sekar
BAB 2
PECEL MBOK SEKAR
Seminggu setelah penemuan batu hitam berukir di tanah warisan Mbah Jayarasa, kehidupan di desa Wringinrejo berjalan seperti biasa. Sawah masih hijau menguning menunggu panen. Burung-burung pipit masih beterbangan mencari bulir padi yang jatuh. Angin masih berembus sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Tapi ada satu yang berbeda.
Di depan rumah Arga, sebuah warung kecil berdiri dengan sederhana. Tenda bambu, empat meja kayu, kursi-kursi dari potongan pohon, dan papan nama bertuliskan "PECEL MBOK SEKAR" dengan cat hitam di atas kayu bekas.
Warung itu bukan sekadar tempat jualan. Itu adalah mimpi Sekar yang tertunda selama bertahun-tahun. Itu adalah cara Sekar untuk bangkit dari keterpurukan. Itu adalah bukti bahwa ia tidak hanya bisa menjadi korban, tapi juga bisa menjadi pemenang.
Dan pagi ini, untuk pertama kalinya sejak warung buka, terjadi sesuatu yang tidak pernah Sekar duga.
Seorang tamu istimewa datang.
Bukan tamu biasa.
Tapi mantan musuh.
PAGI YANG CERAH
Matahari baru naik setinggi pohon kelapa ketika Sekar sudah sibuk di dapur. Ia merebus sayuran, kacang panjang, tauge, kangkung, dan daun pepaya muda. Ia menggoreng tempe dan tahu. Ia mengulek bumbu pecel, kacang tanah yang sudah disangrai, bawang putih, kencur, cabai, gula merah, garam, dan asam jawa.
Aroma bumbu pecel menyebar ke seluruh rumah. Wangi. Gurih. Sedap.
"Wah, wangi sekali, Nduk," puji Sukmawati yang ikut membantu.
"Terima kasih, Bu. Nenek saya yang ajari."
"Nenekmu pasti perempuan hebat."
"Ya, Bu. Dia hebat. Dia mengajarkan saya banyak hal. Termasuk cara bertahan hidup."
Sukmawati tersenyum. "Sekarang giliran kamu mengajarkan anak cucumu nanti."
Sekar tersenyum malu. "Masih lama, Bu."
"Tidak lama. Percaya sama Ibu."
“ Oh, ya , makasih do’anya bu”. Jawab Sekar
PELANGGAN PERTAMA
Jam setengah tujuh, pelanggan pertama datang.
Mbah Tarni, sesepuh desa yang sudah berusia hampir delapan puluh tahun, berjalan pelan dengan tongkat kayu di tangan kanan dan keranjang anyaman di tangan kiri. Cucunya yang masih kecil, bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dengan rambut kusut dan pakaian lusuh, berlari-larian di depannya.
"Selamat pagi, Mbah," sapa Sekar ramah.
"Selamat pagi, Nduk. Mbah pesan pecel. Seporsi. Jangan pedas-pedas. Takut batuk."
"Siap, Mbah."
Sekar menyiapkan pecel dengan cepat dan rapi. Sayuran direbus sebentar. Tahu dan tempe dipotong kecil-kecil. Bumbu pecel dituang dengan takaran pas, tidak terlalu encer, tidak terlalu kental.
"Ini, Mbah."
Mbah Tarni menerima piring itu. Ia mencicipi perlahan.
Matanya berbinar.
"Wah, Nduk, ini enak sekali. Mirip dengan pecel almarhumah Mbah Raras."
"Terima kasih, Mbah."
"Mbah Raras itu siapa, Mbah?" tanya cucu Mbah Tarni.
"Neneknya Mbak Sekar. Dulu dia juga jualan pecel. Laris manis."
"Ooh."
Mbah Tarni memandang Sekar lama. Matanya yang keruh karena usia tiba-tiba terlihat jernih.
"Nduk, Mbah Raras pasti tersenyum dari surga melihat kamu begini. Mandiri. Kuat. Tidak menyerah."
Air mata Sekar jatuh.
"Amin, Mbah."
KERAMAIAN PAGI
Jam delapan pagi, warung mulai ramai.
Ibu-ibu desa datang bergerombol. Ada yang sarapan di tempat, ada yang membungkus untuk dibawa pulang, ada yang hanya sekedar mampir minum teh sambil bergosip.
"Mbak Sekar, pecelnya enak," puji Bu Janah, seorang janda paruh baya dengan rambut disanggul rapi.
"Terima kasih, Bu."
"Ini resep turun temurun?"
"Iya, Bu. Dari nenek saya."
"Wah, hebat. Nanti saya titip resep ya?"
Sekar tersenyum. "Boleh, Bu. Tapi jangan dijual ya. Buat sendiri saja."
"Ah, Mbak Sekar pelit."
Mereka tertawa.
Di meja sebelah, Pak Karto, tetangga samping rumah, sedang menyantap pecel dengan lahap.
"Mbak Sekar, ini enak banget. Saya jadi kangen masakan istri saya."
"Lho, istri Bapak ke mana?"
"Meninggal. Sudah tiga tahun."
"Maaf, Pak Karto."
"Tidak apa. Yang penting saya masih bisa makan enak di sini."
Pak Karto tersenyum. Tapi matanya sayu.
TAMU TAK TERDUGA
Jam sembilan pagi, seorang perempuan datang.
Perempuan itu usianya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya bulat, kulitnya putih, rambutnya pendek sebahu. Ia memakai baju batik lengan panjang dan kain jarik batik. Di tangannya, sebuah tas anyaman dari bambu.
Bu Sania, istri Pak Kades.
Sekar yang melihatnya hampir menjatuhkan sendok.
Istri Pak Kades? Yang dulu memfitnah Arga? Yang dulu menyebarkan gosip bahwa warungku memakai teluh?
Tapi Bu Sania tersenyum.
Senyum yang tidak dipaksakan.
Senyum yang... aneh.
"Selamat pagi, Mbak Sekar," sapa Bu Sania.
"Selamat pagi, Bu."
"Mbak jual pecel?"
"Iya, Bu."
"Seporsi. Bungkus. Bawa pulang."
Sekar ragu sejenak. Apakah ini jebakan? Apakah ini akting? Apakah Bu Sania akan meracuni makanannya sendiri?
Tapi ia memutuskan untuk melayani.
"Ini, Bu."
Bu Sania membayar. Uang pas. Tidak menawar. Tidak banyak komentar.
Sebelum pergi, ia menoleh.
"Mbak Sekar."
"Iya, Bu."
"Maaf. Untuk semua fitnah yang dulu saya sebarkan. Saya... saya hanya iri. Iri karena anak saya tidak seberani Mas Arga. Iri karena suami saya tidak sebaik Mas Arga. Iri karena saya tidak secantik dan sekuat Mbak."
Ruangan hening.
Sekar tidak tahu harus berkata apa.
"Maaf," ulang Bu Sania. "Saya tidak minta diterima. Saya hanya ingin minta maaf."
Ia pergi.
Meninggalkan warung yang sunyi.
Meninggalkan Sekar yang berdiri kaku.
Meninggalkan ibu-ibu desa yang saling berpandangan.
SETELAH KEPERGIAN BU SANIA
"Wah, Bu Sania, minta maaf," bisik Bu Sri, perempuan gemuk yang dulu sering belanja di toko Pak Bondan.
"Tulus atau tidak?" bisik Bu Parti, tetangga depan.
"Entahlah. Yang penting dia minta maaf."
"Itu sudah lebih baik daripada diam dan terus memfitnah."
Sekar tidak ikut bergosip. Ia hanya diam. Memandang ke arah Bu Sania yang sudah hilang di tikungan.
Apakah dia tulus?
Apakah ini awal dari perdamaian?
Apakah Pak Kades juga akan berubah?
Ia tidak tahu.
Tapi ia memilih untuk percaya.
ARGA DATANG
Jam sepuluh pagi, Arga datang dari sawah.
Keringat membasahi keningnya. Bajunya basah. Celananya berlumpur. Wajahnya merah padam.
"Mbak, pecel satu!" teriaknya dari kejauhan.
"Mas, kamu ini. Bisa saja minta tolong suruh dibuatkan."
"Lagi laper, Mbak. Perut keroncongan."
Sekar tersenyum. "Ya sudah. Tunggu."
Ia menyiapkan pecel untuk Arga.
Tidak lama.
Arga duduk di meja kayu depan warung. Ia makan dengan lahap. Sesekali mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju.
"Mbak, enak," katanya sambil mengunyah, serta melirik sambil menggoda
"Iya. Kata orang juga enak." Jawab Sekar sambil melototin Arga Suaminya.
"Tadi ada tamu istimewa?" Tanya Arga
Sekar menghela napas. "Bu Sania."
Arga berhenti mengunyah. "Bu Sania? Istri Pak Kades?"
"Iya."
"Dia ngapain ke sini?"
"Minta maaf."
Arga mengerutkan kening. "Minta maaf?"
"Iya. Katanya, dia iri. Iri karena anaknya tidak seberani Mas. Iri karena suaminya tidak sebaik Mas. Iri karena dia tidak secantik dan sekuat aku."
Arga terdiam.
"Apakah itu tulus?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Tapi aku memilih untuk percaya."
"Kamu baik, Sekar."
"Aku tidak baik. Aku hanya capek bermusuhan."
“ Iya, capek bikin tambah pusing aja”. Sela Arga santai
Mereka berdua terdiam.
FARUQ DAN NISA BELUM PULANG
Jam sebelas pagi, Faruq dan Nisa masih di desa belum pulang ke jogya.
Mereka berdua berjalan kaki dari rumah Almarhum Mbah Jayarasa, tempat mereka menginap sementara karena kos-kosan Mbok Darmi sudah tidak ada.
"Wah, ramai, Mas," sapa Faruq.
"Iya. Sekarang warung Mbok Sekar sudah terkenal se-desa."
"Pantes. Soalnya enak."
Faruq memesan dua porsi pecel. Nisa memesan es teh manis.
Mereka duduk di meja kayu.
"Faruq, ada kabar dari temanmu?" tanya Arga.
"Ada. Tim arkeologi akan datang minggu depan. Mereka akan meneliti batu hitam di tanah warisanmu."
"Serius?"
"Serius. Mereka tertarik karena aksaranya langka. Hanya ada di beberapa tempat di Jawa."
"Kapan tepatnya?"
"Rabu. Jadi tiga hari lagi."
"Bagus. Aku akan siapkan semuanya." Kata Arga bersemangat
“ Yoi, kita tunggu aja “. Jawab Faruq santai
OBROLAN DI WARUNG
Jam dua belas siang, warung mulai sepi.
Sekar membersihkan meja dan kursi. Sukmawati membantu mencuci piring. Arga, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, dan Samsul duduk di bawah pohon mangga depan rumah.
"Minggu depan akan ramai," kata Faruq.
"Soalnya tim arkeologi datang."
"Juga jurnalis. Teman Nisa akan meliput."
"Wah, desa kami jadi terkenal." Sahutb Arga
"Ya. Tapi hati-hati. Tidak semua orang senang dengan ketenaran."
"Pak Kades?". Sela Sekar
"Iya. Dia pasti tidak senang. Karena selama ini dia yang paling berkuasa di desa. Dengan ketenaranmu, pengaruhnya akan berkurang." Balas Nisa pelan.
Arga menghela napas. "Aku tidak peduli dengan pengaruh. Aku hanya ingin mencari tahu tentang Mbah Lestari dan rahasia terakhir Jatmika."
"Itu yang membuat Pak Kades takut. Karena dia tidak tahu apa yang akan kamu temukan." Kata Faruq
"Kenapa dia takut?" sahut Arga
"Karena mungkin ada sesuatu di tanah itu yang selama ini dia sembunyikan. Atau yang ingin dia kuasai."
"Apa?"Arga terkejut sampai alis maatanya terangkat.
Faruq mengangkat bahu. "Kita cari tahu nanti."
“ Oke, sepakat”. Balas Arga singkat.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku bangga padamu."
"Bangga kenapa?" selidik Sekar
"Bangga karena kamu bisa memaafkan Bu Sania. Aku tidak akan bisa seperti itu."
Kamu bisa, Mas. Kamu sudah memaafkan Samsul. Kamu sudah memaafkan Laras. Kamu sudah memaafkan Dewi. Itu lebih berat dari memaafkan Bu Sania."
Arga tersenyum. "Kamu benar."
"Tentu saja. Aku istrimu."
Mereka tertawa.
"Mas."
"Iya."
"Aku ingin punya anak."
Arga menatap Sekar.
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Kita sudah menikah. Kita sudah punya rumah. Kita sudah punya warung. Tinggal anak yang kurang."
"Tapi,"
"Tapi apa? Takut tidak bisa jadi ayah yang baik? Mas, kau sudah terbukti menjadi suami yang baik. Pasti kau juga akan menjadi ayah yang baik."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Baik. Kita coba."
Sekar tersenyum malu.
"Jangan di sini. Nanti dilihat orang."
"Malam begini tidak ada yang lihat."
"Masih ada bintang."
"Bintang tidak punya mata."
Mereka tertawa lagi.
BISIKAN DI PEMATANG
Tiga hari setelah kunjungan Bu Sania ke warung pecel, suasana di desa Wringinrejo berubah. Bukan perubahan besar yang terlihat dari luar. Sawah masih hijau menguning. Burung-burung pipit masih beterbangan. Angin masih berembus sepoi-sepoi.
Tapi ada sesuatu di udara.
Sesuatu yang tidak bisa dilihat.
Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang peka.
Dan Arga, seperti biasa, adalah orang yang paling peka.
Ia mulai mendengar bisikan lagi.
Bukan di malam hari.
Bukan di tempat sepi.
Tapi di siang bolong.
Di tengah sawah.
Saat ia bekerja bersama ayahnya.
Bisikan itu datang dari arah timur.
Dari arah tanah warisan Mbah Jayarasa.
Dari arah batu hitam berukir.
Dari arah ... Mbah Lestari.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Beberapa petani sudah mulai memotong padi dengan sabit, gerakannya lambat tapi teratur.
Arga dan Sastro bekerja di sawah seperti biasa. Sastro memegang tali pengikat kerbau. Arga membajak di belakang. Keringat mengucur di sekujur tubuh mereka. Wajah mereka merah padam.
"Le," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Kamu dengar suara aneh sejak tadi?"
Arga berhenti membajak. Ia menatap ayahnya.
"Ayah juga mendengar?"
"Sesekali. Samar-samar. Seperti orang bicara dari kejauhan."
"Aku mendengar sejak tiga hari lalu. Dari arah timur. Dari tanah warisan Mbah Jayarasa."
Sastro menghela napas.
"Ayah khawatir, Le."
"Khawatir apa, Yah?"
"Khawatir kau akan kesurupan. Seperti dulu."
"Tidak, Yah. Aku tidak kesurupan. Aku hanya mendengar."
"Tapi, "
"Ayah, aku sudah biasa. Sejak kecil. Sejak lahir. Ini bukan pertama kalinya."
Sastro terdiam. Ia tidak bisa membantah.
Ia tahu anaknya berbeda.
Ia tahu anaknya bisa mendengar hal-hal yang tidak bisa didengar orang lain.
Ia tahu anaknya adalah pengembara dua langit.
"Baik," kata Sastro akhirnya. "Tapi hati-hati. Jangan sampai bisikan itu menguasaimu."
"Aku tidak akan, Yah. Janji."
“ Janji”.
“iya”.
BISIKAN KEDUA
Jam dua belas siang, mereka istirahat.
Sekar datang dengan bakul bambu berisi nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal terasi, dan kerupuk. Juga dua botol air mineral dingin yang ia bungkus dengan kain basah agar tetap segar.
"Mas, Pak, makan dulu," katanya.
Mereka duduk di pematang, di bawah pohon rindang yang tumbuh di tepi sawah.
Arga makan perlahan. Matanya tidak fokus pada makanan. Matanya kosong memandang ke arah timur.
"Mas, kenapa?" tanya Sekar.
"Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir."
"Pikir apa?"
"Tentang besok. Tim arkeologi datang."
"Kamu takut?" Tanya Sekar
"Tidak. Tapi aku khawatir."
"Khawatir apa?"
"Khawatir apa yang akan mereka temukan. Khawatir itu akan mengubah hidup kita. Khawatir itu akan membuat Jatmika pergi."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Mas, apa pun yang terjadi, aku di sini. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Arga tersenyum. "Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
“ Iya, saya tahu, satu hati, satu jiwa”.
BISIKAN KETIGA
Jam tiga sore, Arga bekerja sendirian di sawah. Sastro pulang lebih awal karena badannya terasa tidak enak, mungkin kelelahan, mungkin karena usia.
Arga membajak sendiri.
Kerbau itu berjalan pelan, sesekali menghentakkan kaki, sesekali mengibaskan ekor untuk mengusir lalat.
Tiba-tiba, Arga mendengar suara.
Bukan dari kerbau.
Bukan dari sawah.
Bukan dari angin.
Tapi dari dalam tanah.
Arga ... Arga ... aku di sini ...
Ia berhenti.
Kerbau itu juga berhenti.
Arga ... jangan takut ... aku bukan musuh ...
"Siapa kamu?" bisik Arga.
Mbah Lestari. Nenek buyutmu.
"Kenapa kau memanggilku?"
Karena sudah waktunya. Karena kau sudah siap. Karena kau sudah cukup dewasa untuk menerima warisan.
"Warisan apa?"
Pusaka desa. Keris pusaka yang bisa melihat dua langit.
Keris? pikir Arga. Keris yang diceritakan Mbah Tarni?
Iya. Keris itu ada di tanah warisanmu. Di dalam gua kecil dekat batu hitam.
"Kenapa kau tidak mengambilnya sendiri?"
Aku sudah mati, Le. Aku hanya arwah. Arwah tidak bisa mengambil barang fisik.
"Lalu kenapa kau baru bicara sekarang?"
Karena baru sekarang kau mendengarku. Selama ini, kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri. Mencari Sekar. Melawan Ferry. Membangun hidup.
Arga terdiam.
Mbah Lestari benar.
Selama ini, ia terlalu sibuk.
Sibuk bertahan.
Sibuk berjuang.
Sibuk mencari.
Ia tidak pernah mendengar.
Ia hanya mendengar Jatmika.
Itu pun karena Jatmika memaksanya.
Sekarang, Le, kau harus mengambil keris itu. Sebelum orang lain menemukannya.
"Siapa orang lain?"
Pak Kades. Dia sudah tahu tentang keris sejak lama. Dia sudah lama menginginkannya. Tapi dia tidak bisa mengambilnya karena keris itu dijaga oleh sesuatu.
"Apa yang menjaganya?"
Siluman ular. Ular raksasa. Ular yang hanya bisa dikalahkan oleh keturunan Mbah Lestari.
Arga merinding.
Jangan takut, Le. Kau bisa. Karena kau memiliki darah yang sama denganku. Karena kau memiliki mata yang sama denganku. Karena kau memiliki hati yang sama denganku.
Bisikan itu menghilang.
Arga berdiri di tengah sawah.
Kerbau itu memandangnya dengan mata sayu.
Ular raksasa, pikir Arga. Apa aku sanggup?
Ia tidak tahu.
Tapi ia harus mencoba.
PULANG KE RUMAH
Jam empat sore, Arga pulang.
Wajahnya pucat. Matanya cekung. Tangannya gemetar.
Sekar yang melihat langsung khawatir.
"Mas, kenapa? Sakit?"
"Tidak. Aku hanya... mendengar suara lagi."
"Suara siapa?"
"Mbah Lestari."
Sekar menarik napas. "Dia bilang apa?"
Arga menceritakan semuanya.
Tentang keris pusaka.
Tentang gua kecil.
Tentang siluman ular.
Tentang Pak Kades yang sudah lama menginginkan keris itu.
Sekar terdiam.
"Mas, ini berbahaya."
"Aku tahu."
"Tapi kamu tetap mau?"
"Aku harus. Karena ini warisan leluhurku. Karena ini rahasia terakhir Jatmika. Karena ini mungkin kesempatan terakhir bagi Mbah Lestari untuk tenang."
"Aku ikut."
"Tidak."
"Mas, "
"Tidak, Sekar. Ini terlalu berbahaya. Aku tidak akan membahayakanmu."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Kamu di rumah. Jaga warung. Jaga Ibu dan Ayah. Aku akan bawa Faruq, Dimas, dan Nisa."
Sekar menangis.
"Mas, aku takut kehilanganmu."
"Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku janji."
“Janji, ya”. Sekar masih sesengukan
“ Iya”. Jawab arga pelan
PERTEMUAN DARURAT
Jam enam sore, semua dikumpulkan.
Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Sukmawati, dan Sastro.
Mereka duduk di ruang tengah. Lampu minyak menyala redup. Wajah masing-masing tegang.
"Ada apa, Arga?" tanya Faruq.
Arga menceritakan semuanya.
Tentang bisikan Mbah Lestari.
Tentang keris pusaka.
Tentang gua kecil.
Tentang siluman ular.
Tentang Pak Kades.
Ruangan hening.
"Ular raksasa?" Faruq hampir berteriak.
"Diam, Faruq," kata Nisa.
"Tapi ini gila! Melawan ular raksasa? Kita bukan tentara!"
"Kita tidak akan melawan. Arga yang akan melawan."
"Kenapa Arga?"
"Karena dia keturunan Mbah Lestari."
Faruq terdiam.
"Faruq, apa kamu ikut?" tanya Arga.
"Tentu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
"Nisa?"
"Ikut."
"Dimas?"
"Ikut. Saya bisa bantu dengan teknologi."
"Teknologi apa? Di gua tidak ada sinyal."
"Tapi saya punya senter."
“ Ada-ada, saja kau Dimas”. Sahut Nisa ketus.
Mereka tertawa kecil.
PERSIAPAN
Jam delapan malam, mereka bersiap.
Arga memakai pakaian terbaiknya, kemeja lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu boot pinjaman dari Dimas. Ia juga membawa parang, parang pemberian Mbah Jayarasa yang dulu tergantung di dinding rumah tuanya.
"Awas, Le," pesan Sastro. "Jangan sampai celaka."
"Aku tidak akan, Yah."
"Jaga diri."
"Siap, Yah."
Sukmawati memeluk Arga. "Ibu titip kamu sama Tuhan."
"Amin, Bu."
Sekar memeluk Arga paling lama. "Mas, janji ya, pulang."
"Janji." Sahut Arga sambil mengelus pipi Sekar lembut.
Mereka berangkat.
PERJALANAN MENUJU GUA
Jam sembilan malam, mereka tiba di tanah warisan.
Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Udara dingin menusuk tulang.
Arga memandang batu hitam berukir.
Ia berjalan mendekat.
Faruq, Nisa, dan Dimas mengikuti di belakang.
"Di mana guanya?" tanya Dimas.
"Di belakang batu hitam. Mbah Lestari bilang, pintu masuknya tertutup semak belukar."
Mereka mencari.
Tidak lama kemudian, Dimas menemukan celah di antara semak-semak.
"Ini, Mas!"
Arga mendekat.
Celah itu sempit. Hanya cukup untuk satu orang dengan tubuh ramping.
"Aku masuk duluan," kata Arga.
"Hati-hati," kata Faruq.
Arga merunduk. Ia masuk ke dalam gua.
Gelap.
Sangat gelap.
Udara lembab dan dingin.
Bau tanah dan batu.
Bau ... sesuatu yang lain.
Bau ular.
DI DALAM GUA
Arga menyalakan senter.
Cahaya senter menerangi dinding gua yang berbatu. Lumut di mana-mana. Air menetes dari langit-langit.
Ia berjalan perlahan.
Setiap langkah terasa berat.
Setiap suara membuat jantungnya berdebar.
Jatmika, bisiknya dalam hati. Lindungi aku.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara tetesan air.
Suara langkah kakinya sendiri.
Suara detak jantungnya yang tidak karuan.
Ia sampai di ujung gua.
Di sana, di atas batu besar, sebuah keris tertancap.
Keris dengan gagang kayu ukir.
Bilahnya berkilat di bawah cahaya senter.
Dan di samping keris itu ...
Seekor ular besar melingkar.
Warna hitam.
Mata kuning.
Lidah bercabang menjulur-julur.
"Sssstttt..." suara ular itu. "Sssstttt... kau... keturunan... Mbah Lestari?"
Arga menelan ludah. "Iya."
"Sudah lama... aku menunggu... kau..."
"Kenapa kau menunggu?"
"Karena hanya keturunan Mbah Lestari... yang bisa mengambil keris ini... yang lain akan mati... terkena bisaku..."
"Aku tidak takut."
"Kau harus takut... karena... jika kau gagal... kau akan mati..."
Arga tidak bergeming.
"Biar."
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Ular itu mendesis lebih keras.
"Sssstttt... jangan mendekat!"
"Aku harus mengambil keris ini."
"Kenapa?"
"Karena ini warisan leluhurku. Karena ini rahasia terakhir Jatmika. Karena ini akan membawa kedamaian bagi keluargaku."
Ular itu terdiam.
Matanya berubah.
Dari kuning menjadi hijau.
Dari hijau menjadi biru.
"Kau... jujur..." bisik ular itu. "Kau... berani... kau... pantas..."
Ia bergerak perlahan.
Membuka lingkarannya.
Menyingkir.
"Ambil... keris itu... Le..."
Arga mendekati batu.
Ia meraih gagang keris.
Ditariknya.
Keris itu lepas dengan mudah, seperti tidak pernah tertancap kuat.
Begitu keris itu berada di tangannya, seluruh gua bergetar.
Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit.
Air mulai merembes dari dinding.
"Gua ini akan ambruk!" teriak ular itu. "Cepat keluar!"
Arga berlari.
Ia keluar dari gua tepat saat pintu masuk tertutup batu.
BRUK!
"Arga!" teriak Faruq.
"Aku baik-baik saja!"
Ia memegang keris di tangannya.
Keris itu berkilat di bawah cahaya bulan.
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua belas malam, mereka tiba di rumah.
Semua sudah menunggu.
Sukmawati menangis.
Sastro memeluk Arga.
Sekar memeluk Arga paling lama.
"Mas, aku takut," bisiknya.
"Aku selamat, Sekar. Aku pulang."
Mereka masuk ke rumah.
Arga meletakkan keris itu di atas meja kayu.
Semua memandang dengan takjub.
"Ini keris pusaka desa," kata Arga. "Ini titipan Mbah Lestari. Ini rahasia terakhir Jatmika."
BAB 3
KIRIMAN DARI JOGJA
Seminggu setelah Arga berhasil mengambil keris pusaka dari gua dekat batu hitam, kehidupan di desa Wringinrejo berubah lagi. Bukan perubahan besar yang terlihat dari luar. Sawah masih hijau menguning. Burung-burung pipit masih beterbangan. Angin masih berembus sepoi-sepoi. Warung pecel Mbok Sekar masih ramai setiap pagi.
Tapi ada yang berbeda di dalam rumah.
Keris itu kini tergantung di dinding ruang tengah, di samping foto Mbah Jayarasa dan peta usang yang sudah dibingkai. Setiap malam, Arga duduk di depan keris itu, memandangnya lama, seolah sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Dan setiap malam, ia mendengar bisikan.
Bisikan yang sama.
Bisikan Mbah Lestari.
Bisikan yang memberinya petunjuk.
Bisikan yang membuatnya semakin penasaran.
Tapi pagi ini, ada yang berbeda.
Seorang kurir datang ke desa.
Mengantar kiriman dari Jogja.
Kiriman dari Pak Bondan.
Dan isinya di luar dugaan semua orang.
PAGI YANG CERAH
Hari Kamis, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah ramai sejak pukul setengah tujuh.
Sekar sibuk melayani pelanggan. Sukmawati membantu mencuci piring. Ratri ikut mengantar pesanan ke meja.
"Nduk, pecel satu, bungkus!" teriak Bu Sri dari meja depan.
"Siap, Bu!"
"Sama es teh manisnya satu."
"Siap, Bu!"
Sekar bekerja dengan cepat dan rapi. Tangannya lincah menyiangi sayuran, menggoreng tempe dan tahu, meracik bumbu pecel. Wajahnya segar, matanya berbinar, bukan karena kepalsuan, tapi karena kebahagiaan.
"Mbak Sekar, kok semangat banget pagi-pagi?" tanya Bu Parti.
"Alhamdulillah, Bu. Warung ramai, rezeki lancar."
"Bagus. Semoga terus begitu."
"Amin."
KURIR DARI JOGJA
Jam sembilan pagi, sebuah sepeda motor butut masuk ke halaman rumah.
Pengendaranya laki-laki setengah baya dengan kumis tebal dan perut buncit. Jaketnya lusuh. Helmnya penyok.
"Mas Arga!" teriaknya dari kejauhan.
Arga yang sedang membantu Sastro di sawah tidak mendengar. Tapi Sekar yang sedang di warung mendengar.
"Mas Arga tidak di sini, Pak. Ada perlu apa?"
"Saya kurir dari Jogja. Antar paket untuk Mas Arga. Dari Pak Bondan."
"Pak Bondan? Toko bangunan?"
"Iya."
Sekar menerima paket itu, sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran sederhana, dan sebuah amplop coklat tebal.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Mbak."
Kurir itu pergi.
Sekar memandang kotak kayu itu.
Ringan.
Tapi terasa penting.
Ia masuk ke dalam rumah.
"Bu, ini titipan untuk Mas Arga. Dari Pak Bondan."
Sukmawati mengerutkan kening. "Pak Bondan? Yang dulu majikan Arga di toko bangunan?"
"Iya."
"Buka, Nduk. Biar Ibu lihat."
Sekar membuka kotak kayu itu.
Di dalamnya: sebuah buku catatan tebal, sampul kulit, halaman menguning, tulisan tangan dengan tinta yang sudah mulai pudar.
Dan sebuah surat.
ISI SURAT PAK BONDAN
Sekar membuka surat itu.
Tulisan tangan Pak Bondan yang khas, besar, tegas, sedikit miring ke kanan.
"Untuk Arga, anak Sastro dari Wringinrejo. Salam sehat, Le. Semoga kamu dan Sekar bahagia. Semoga hidup di desa tenang dan penuh berkah."
"Aku kirimkan buku catatan ini. Buku ini bukan milikku. Buku ini milik Mbah Jayarasa. Dia titipkan padaku bertahun-tahun lalu, sebelum kamu datang ke kota. Dia bilang, 'Simpan ini, Bondan. Berikan pada Arga ketika dia sudah pulang. Ketika dia sudah tenang. Ketika dia sudah siap.'"
"Aku tidak tahu isi buku ini. Aku tidak pernah membukanya. Tapi aku percaya, ini penting untukmu."
"Jaga diri, Le. Jangan lupa, toko bangunan masih menunggumu jika suatu hari kamu ingin kembali ke kota."
" Pak Bondan"
Sekar memandang buku catatan itu.
Buku catatan Mbah Jayarasa.
Apa isinya?
Ia tidak berani membuka.
"Ini untuk Mas Arga," katanya pada Sukmawati. "Tunggu Mas Arga pulang."
ARGA PULANG
Jam dua belas siang, Arga pulang dari sawah.
Wajahnya merah, bajunya basah keringat, celananya berlumpur. Tapi matanya berbinar, bukan karena kelelahan, tapi karena kebahagiaan. Ada kepuasan tersendiri menjadi petani. Ada kebanggaan tersendiri bisa menghidupi keluarga dari hasil keringat sendiri.
"Mas, ada kiriman dari Jogja," kata Sekar.
"Kiriman? Dari siapa?"
"Dari Pak Bondan."
Arga mengerutkan kening. Ia masuk ke ruang tengah.
Di atas meja kayu, sebuah kotak terbuka. Di sampingnya, buku catatan tebal dan sepucuk surat.
Arga membaca surat itu.
Matanya basah.
"Pak Bondan," bisiknya.
"Dia orang baik."
Ia mengambil buku catatan itu.
Membuka halaman pertama.
BUKU CATATAN MBAH JAYARASA
Halaman pertama.
"Catatan ini aku mulai pada tahun 1968, ketika aku masih muda. Ketika aku masih tinggal di desa ini. Ketika Mbah Lestari masih hidup."
"Mbah Lestari adalah nenek buyut Arga. Dia perempuan sakti. Dia bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Dia bisa mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain. Dia bisa berkomunikasi dengan alam."
"Dia juga yang menanam keris pusaka di gua dekat batu hitam. Keris yang hanya bisa diambil oleh keturunannya."
"Aku tidak tahu persis apa kekuatan keris itu. Tapi Mbah Lestari bilang, keris itu bisa membantu pemiliknya 'melihat dua langit', melihat dunia nyata dan dunia gaib secara bersamaan."
"Arga, jika kau membaca catatan ini, berarti kau sudah mengambil keris itu. Selamat. Kau sudah melewati ujian pertama."
"Tapi perjalananmu belum selesai. Masih ada ujian kedua. Ujian yang lebih berat. Ujian yang melibatkan orang-orang terdekatmu."
"Jaga mereka. Jangan sampai mereka celaka karenamu."
"Jayarasa"
Arga menutup buku itu.
Dadanya sesak.
Ujian kedua?
Ujian yang lebih berat?
Ujian yang melibatkan orang-orang terdekat?
Ia memandang Sekar.
Ia memandang Sukmawati.
Ia memandang Sastro yang baru masuk dari belakang.
Jaga mereka, bisiknya dalam hati. Jangan sampai mereka celaka karenamu.
FARUQ DATANG
Jam satu siang, Guntur datang.
Ia baru saja dari rumah Mbah Jayarasa, membersihkan makam dan sekitar rumah tua itu.
"Arga, ada kabar," katanya sambil duduk di kursi kayu.
"Kabar apa?"
"Tim arkeologi yang akan meneliti batu hitam, mereka batal datang."
"Batal? Kenapa?"
"Katanya, ada kendala teknis. Peralatan mereka rusak. Butuh waktu untuk memperbaiki."
"Kapan mereka bisa datang?"
"Tidak tahu. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Mungkin tidak jadi."
Arga menghela napas.
"Ada apa dengan mereka?"
"Entahlah. Tapi aku curiga."
"Curiga sama siapa?"
"Pak Kades."
Arga menatap Faruq.
"Kamu pikir Pak Kades yang mengatur?"
"Mungkin. Dia tidak ingin batu hitam itu diteliti. Dia takut ada sesuatu yang terungkap."
"Apa yang bisa terungkap?"
"Entahlah. Tapi yang jelas, Pak Kades punya banyak rahasia. Dan dia tidak ingin rahasianya terbongkar."
OBROLAN DI WARUNG
Jam dua siang, warung mulai sepi.
Sekar membersihkan meja dan kursi. Sukmawati membantu mencuci piring. Arga, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, dan Samsul duduk di bawah pohon mangga depan rumah.
"Pak Kades semakin mencurigakan," kata Faruq.
"Setuju," kata Nisa. "Dia sering terlihat keluar malam. Naik motor. Sendirian. Pulang pagi."
"Kemana dia?"
"Tidak tahu. Tapi arahnya ke timur. Ke tanah warisan Arga."
"Ke batu hitam?"
"Iya."
"Dia mencari keris?"
"Mungkin. Tapi keris sudah di tangan Arga."
"Maka dia akan mencari cara lain untuk mengambilnya."
Arga mengepalkan tangan.
"Aku tidak akan membiarkan Pak Kades mengambil keris ini."
"Kita jaga bersama," kata Dimas. "Aku bisa pasang kamera pengawas di sekitar tanah."
"Modal?"
"Tidak usah. Aku punya stok."
"Kamu hebat, Dimas."
"Saya tidak hebat. Saya hanya paranoid."
Mereka tertawa.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan purnama bersinar terang.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku ikut."
"Ikut apa?"
"Ikut menjaga keris. Jaga malam. Bergantian dengan yang lain."
"Tidak. Kamu di rumah."
"Mas. "
"Tidak, Sekar. Ini terlalu berbahaya. Pak Kades tidak main-main. Dia bisa melakukan apa saja."
"Tapi. "
"Tidak ada tapi. Aku sudah kehilanganmu sekali. Aku tidak akan kehilanganmu lagi."
Sekar menangis.
"Mas, jangan pergi."
"Aku tidak akan pergi. Aku hanya menjaga."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan.
JAGA MALAM PERTAMA
Jam sepuluh malam, Arga, Faruq, dan Dimas berangkat ke tanah warisan.
Mereka membawa senter, parang, dan kamera pengawas.
Dimas memasang kamera di beberapa titik strategis, di pohon, di batu, di semak-semak.
"Ini terhubung ke ponselku," kata Dimas. "Kalau ada yang bergerak, aku akan tahu."
"Bagus," kata Faruq.
Mereka duduk di bawah pohon randu.
Angin malam berembus dingin.
Suara jangkrik dan kodok mengisi keheningan.
"Siapa yang jaga pertama?" tanya Dimas.
"Aku," kata Arga.
"Kalian tidur. Aku bangunkan jam dua."
"Baik."
Faruq dan Dimas berbaring di bawah pohon. Mereka memejamkan mata.
Arga duduk tegak.
Ia memegang keris di pangkuannya.
Keris itu dingin.
Sangat dingin.
Tapi di balik dingin itu, ada kehangatan.
Kehangatan yang familiar.
Kehangatan Mbah Lestari.
"Jaga keris ini, Le," bisik suara di telinganya.
"Aku akan," jawab Arga dalam hati.
"Jangan sampai jatuh ke tangan yang salah."
"Aku tidak akan."
"Bagus. Aku percaya padamu."
RAPAT KELUARGA
Dua minggu setelah Arga menerima kiriman buku catatan Mbah Jayarasa dari Pak Bondan, suasana di rumah kecil di pinggir sawah itu berubah. Bukan menjadi tegang seperti dulu ketika Arga masih berjuang melawan Ferry. Bukan menjadi panik seperti ketika preman datang menyerang. Tapi menjadi lebih serius, lebih terencana, lebih terorganisir.
Sebab, untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga Sastro, mereka mengadakan rapat keluarga formal.
Bukan rapat biasa yang hanya dihadiri oleh Sastro, Sukmawati, dan Arga. Tapi rapat besar yang melibatkan semua anggota keluarga besar, termasuk Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, dan bahkan Pak Bondan yang datang jauh-jauh dari Jogja.
Tujuan rapat: membahas masa depan.
Masa depan Arga dan Sekar.
Masa depan tanah warisan.
Masa depan keris pusaka.
Masa depan desa Wringinrejo.
Dan yang tidak kalah penting: masa depan melawan Pak Kades yang semakin menjadi-jadi.
PAGI YANG CERAH
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar tutup sementara, ada papan pemberitahuan di depan warung: "Tutup. Ada acara keluarga. Maaf."
Beberapa warga yang lewat mengerutkan kening, ada yang bertanya, ada yang hanya menggeleng.
"Mbok Sekar, kok tutup?" tanya Bu Sri.
"Ada acara keluarga, Bu. Besok buka lagi."
"Wah, sayang. Saya sudah kangen pecelnya."
"Besok, Bu. Janji."
Bu Sri tersenyum. "Baik. Saya tunggu."
Sekar masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah, semua sudah berkumpul.
Sastro duduk di kursi bambu favoritnya, memegang kopi hitam pahit tanpa gula. Sukmawati di sampingnya, memegang nampan berisi pisang goreng dan teh jahe.
Arga dan Sekar duduk di kursi kayu di depan.
Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, dan Pak Bondan duduk melingkar di lantai beralas tikar pandan.
"Kita mulai," kata Arga.
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang duduk di kursi kayu, di samping Sastro, angkat bicara lebih dulu.
"Le," panggilnya pada Arga.
"Iya, Pak."
"Aku datang ke sini bukan hanya untuk menghadiri rapat keluarga. Aku datang untuk menawarkan sesuatu."
"Apa, Pak?"
Aku ingin kamu menjadi mitra bisnisku. Toko bangunan di Jogja akan aku buka cabang di kecamatan. Aku butuh orang kepercayaan untuk mengelolanya. Dan orang itu adalah kamu.
Ruangan hening.
Arga tidak menyangka.
"Pak Bondan, saya tidak punya modal, "
"Modal tidak masalah. Aku yang akan menyediakan. Kamu hanya perlu waktu dan tenaga."
"Tapi saya tidak punya pengalaman, "
"Kamu punya pengalaman bekerja di tokoku selama berbulan-bulan. Kamu tahu bagaimana toko itu berjalan. Kamu tahu cara melayani pelanggan. Kamu tahu cara mengatur stok barang. Itu sudah cukup."
Arga masih ragu.
"Pak, saya juga punya tanggung jawab di sawah. Saya tidak bisa meninggalkan ayah."
Sastro yang mendengar itu langsung menimpali.
"Le, ayah tidak butuh kamu di sawah setiap hari. Ayah masih kuat. Ayah masih bisa bekerja sendiri. Kamu fokus pada tawaran Pak Bondan."
"Tapi, Yah, "
"Tidak ada tapi. Ayah sudah tua. Ayah tidak ingin kamu jadi petani seumur hidup. Kamu harus punya masa depan yang lebih baik. Untuk kamu. Untuk Sekar. Untuk anak cucumu nanti."
Arga terdiam.
Ia memandang Sekar.
Sekar mengangguk.
"Terima kasih, Pak Bondan," kata Arga akhirnya. "Saya terima."
Pak Bondan tersenyum. "Bagus. Kita mulai bulan depan. Aku akan bantu kamu cari lokasi toko di kecamatan."
MASALAH TANAH
Setelah Pak Bondan selesai, Faruq angkat bicara.
"Arga, ada hal lain yang harus kita bicarakan."
"Apa?"
"Tanah warisanmu. Pak Kades semakin sering berkeliaran di sekitar tanah itu. Malam-malam. Sendirian. Aku curiga dia mencari sesuatu."
"Keris?"
"Mungkin. Tapi bisa juga sesuatu yang lain. Mbah Lestari bilang, di tanah itu ada pusaka desa. Tapi pusaka tidak hanya keris."
"Apa lagi?"
"Entahlah. Kita harus mencari tahu sebelum Pak Kades menemukannya."
Dimas menambahkan, "Kamera pengawas yang saya pasang minggu lalu sudah merekam beberapa gerakan mencurigakan. Pak Kades datang dua kali. Membawa senter. Membawa cangkul. Dia menggali di beberapa tempat."
"Apakah dia menemukan sesuatu?"
"Belum. Tapi dia terus mencoba."
"Kita harus menghentikannya."
"Cara apa?"
"Minta kecamatan turun tangan?"
"Kecamatan tidak akan berani. Pak Kades sudah puluhan tahun menjabat. Punya banyak koneksi."
"Lapor polisi?"
"Polisi juga bisa dibeli."
Arga menghela napas. "Lalu?"
Faruq memandang Arga. "Kita jaga sendiri. Bergantian. Setiap malam. Sampai Pak Kades menyerah."
"Setuju," kata semua.
SAMSUL BICARA
Samsul yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Mas Arga, saya ingin minta izin."
"Izin apa, Samsul?"
"Saya ingin ikut jaga. Saya sudah berubah. Saya bukan mata-mata Ferry lagi. Saya ingin membantu."
Arga memandang Samsul.
Laki-laki yang dulu ia benci. Laki-laki yang dulu mengkhianatinya. Laki-laki yang dulu hampir membunuhnya. Kini berdiri di depannya, menawarkan bantuan.
"Kamu yakin?" tanya Arga.
"Saya yakin, Mas. Ini untuk keluarga saya. Untuk istri saya. Untuk anak-anak saya. Agar mereka bangga pada saya."
"Baik. Kamu ikut."
Samsul tersenyum.
RATRI BICARA
Ratri yang duduk di pojok ikut bersuara.
"Mas Arga, saya juga mau ikut jaga."
"Kamu? Kamu perempuan."
"Perempuan juga bisa jaga, Mas. Saya sudah dewasa. Saya sudah bekerja sebagai perangkat desa. Saya tahu medan. Saya tahu seluk-beluk desa."
"Tapi, "
"Mas, jangan meremehkan perempuan. Dulu waktu Mas mencari Sekar, perempuan-perempuan seperti Nisa dan Laras banyak membantu. Sekarang giliran saya."
Arga tersenyum. "Baik. Kamu ikut."
Ratri tersenyum lebar.
FARUQ DAN NISA
Faruq dan Nisa yang duduk di samping Dimas ikut angkat bicara.
"Mas Arga, kami juga mau ikut jaga," kata Faruq.
"Kalian? Kalian harus kembali ke Jogja. Kuliah kalian, "
"Kuliah bisa ditinggal sebentar. Ini lebih penting. Ini menyangkut nyawa."
"Tapi, "
"Mas, kami sudah dewasa. Kami tahu risiko. Kami siap."
Arga menghela napas. "Baik. Kalian ikut."
Faruq dan Nisa tersenyum.
DIMAS DAN TEKNOLOGI
Dimas mengeluarkan laptopnya.
"Mas Arga, saya sudah siapkan sistem keamanan digital untuk tanah warisan. Kamera tersembunyi. Sensor gerak. Alarm. Semua terhubung ke ponsel saya."
"Serius?"
"Serius. Saya sudah uji coba semalam. Alarmnya bunyi ketika ada tikus lewat."
"Tikus?"
"Iya. Sensitif sekali. Nanti kita atur ulang."
Mereka tertawa.
NISA DAN FARUQ
Nisa dan Faruq yang duduk berdua di pojok ikut bersuara.
"Arga," panggil Nisa.
"Iya."
"Saya dan Faruq akan fokus pada sisi spiritual. Keris ini tidak hanya benda mati. Ada energi di dalamnya. Kita harus belajar menggunakannya."
"Belajar dari siapa?"
"Mbah Tarni. Sesepuh desa. Dia tahu banyak tentang Mbah Lestari dan keris pusaka."
"Kapan?"
"Besok. Aku sudah janjian dengan Mbah Tarni."
"Baik."
SEKAR BICARA
Sekar yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Maaf, saya ikut bicara."
Semua menoleh.
"Aku setuju dengan semua rencana. Tapi aku tidak setuju dengan satu hal."
"Apa?" tanya Arga.
"Aku juga ikut jaga."
"Tidak, "
"Tidak ada tidak. Aku istrimu. Aku berhak ikut. Aku tidak bisa diam di rumah sementara kamu berisiko."
"Tapi, "
"Mas, ingatkah kau dulu. Waktu aku masih di rumah Ferry. Aku berteriak minta tolong. Aku menangis setiap malam. Aku berdoa agar seseorang datang menyelamatkanku. Dan orang itu adalah kamu."
Ruangan hening.
Sekar melanjutkan.
"Sekarang giliranku. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan ikut menjaga. Aku akan ikut berjuang. Aku akan ikut mempertaruhkan nyawa."
Arga memandang Sekar.
Ia tidak bisa menolak.
"Baik," katanya. "Kamu ikut."
Sekar tersenyum.
PENUTUP RAPAT
Jam dua belas siang, rapat selesai.
Makan siang bersama.
Sukmawati memasak nasi tumpeng kecil, ayam ingkung, sayur lodeh, sambal goreng, dan kerupuk.
"Makasih, Bu," kata Arga.
"Sama-sama, Le. Ibu hanya bisa masak. Doa Ibu menyertai kalian."
"Amin."
Mereka makan bersama.
Tertawa bersama.
Bercerita tentang masa lalu.
Tentang perjuangan.
Tentang cinta.
Tentang persahabatan.
MALAM PERTAMA JAGA BERSAMA
Jam delapan malam, semua berkumpul di tanah warisan.
Mereka membawa tikar, senter, makanan ringan, dan air minum.
Dimas memasang kamera dan sensor.
Faruq dan Nisa duduk di dekat batu hitam, membaca doa-doa yang diajarkan Mbah Tarni.
Pak Sastro jaga di sisi barat.
Dimas dan Ratri jaga di sisi utara.
Samsul dan Pak Bondan jaga di sisi selatan.
Arga dan Sekar jaga di sisi timur, dekat pohon randu.
"Mas, dingin," bisik Sekar.
"Pegang tanganku."
Sekar menggenggam tangan Arga.
Hangat.
Meskipun udara dingin.
Meskipun angin malam menusuk tulang.
"Mas."
"Iya."
"Aku bahagia."
"Bahagia kenapa?"
"Karena kita bersama. Karena kita berjuang bersama. Karena kita tidak sendiri."
Arga mencium kening Sekar.
"Selamanya, Sekar."
"Selamanya."
BAB 4
TETANGGA YANG KEJI
Tiga malam setelah rapat keluarga dan dimulainya jaga malam bergilir di tanah warisan, desa Wringinrejo dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang tidak pernah mereka duga. Bukan pencurian. Bukan perampokan. Bukan kebakaran. Tapi pengrusakan.
Warung pecel Mbok Sekar, yang baru buka beberapa minggu, yang sudah menjadi kebanggaan warga desa, yang menjadi simbol kebangkitan Sekar dari keterpurukan dirusak orang tidak dikenal.
Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, saat Arga dan Sekar sedang bertugas jaga di tanah warisan, seseorang masuk ke halaman rumah, merusak tenda bambu, membanting kursi-kursi kayu, memecahkan piring dan gelas, dan mencoret-coret papan nama "PECEL MBOK SEKAR" dengan cat hitam.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang mendengar.
Hingga pagi harinya, ketika Sukmawati keluar rumah untuk menyapu halaman, ia menemukan kekacauan itu.
"YA ALLAH!" teriaknya.
Suaranya memecah keheningan pagi.
Sastro yang masih di kamar langsung keluar. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Apa yang terjadi, Bu?"
"Warung... warung Sekar... dirusak orang!"
Sastro memandang sekeliling.
Tenda bambu roboh. Kursi-kursi kayu berserakan, ada yang patah kakinya. Piring dan gelas pecah di lantai. Papan nama "PECEL MBOK SEKAR" sudah tidak terbaca karena coretan cat hitam yang menyerupai kata-kata kasar.
"Sialan," geram Sastro. "Siapa yang berani?"
"Pasti Pak Kades," bisik Sukmawati. "Atau istrinya. Atau preman bayarannya."
"Kita laporkan ke polisi."
"Polisi? Pak Kades punya polisi."
"Maka kita laporkan ke kecamatan."
"Kecamatan juga takut pada Pak Kades."
"Lalu?"
Sukmawati menangis. "Aku tidak tahu, Mas. Aku tidak tahu."
ARGA DAN SEKAR PULANG
Jam setengah tujuh pagi, Arga dan Sekar pulang dari tanah warisan.
Mereka berjalan melewati pematang sawah, melewati kebun singkong, melewati hutan jati kecil. Wajah mereka lelah, tapi hati mereka tenang karena malam berjalan lancer, tidak ada gangguan, tidak ada Pak Kades, tidak ada preman.
Tapi begitu sampai di depan rumah, mereka melihat kerumunan warga.
"Ada apa?" tanya Arga pada Bu Sri yang berdiri di pinggir jalan.
"Warungmu, Mas. Dirusak orang."
Darah Arga berhenti mengalir.
Ia berlari ke halaman.
Ia melihat tenda roboh. Kursi patah. Piring pecah. Papan nama dicat hitam dengan tulisan "PECEL SETAN" dan "MUKA SAMPAH" dan kata-kata kasar lainnya.
"SIAPA YANG NGELAKUKAN INI?" teriak Arga.
Tidak ada yang menjawab.
Warga hanya diam.
Ada yang menggeleng.
Ada yang menunduk.
Ada yang pergi karena tidak ingin terlibat.
Sekar datang dari belakang.
Ia memandang warungnya yang hancur.
Ia tidak menangis.
Ia hanya diam.
Matanya kosong.
Tangannya gemetar.
"Pak Kades," bisiknya. "Pasti Pak Kades."
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang ikut jaga malam di tanah warisan, ikut melihat kerusakan.
"Le," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Ini sudah keterlaluan. Kamu harus lawan."
"Lawan bagaimana, Pak? Saya hanya petani. Dia kepala desa."
"Kamu bukan hanya petani. Kamu pejuang. Kamu sudah membuktikan itu ketika melawan Ferry."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Aku akan bantu. Aku punya teman di pers. Di LSM. Di kepolisian. Aku akan telepon mereka hari ini."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Kita mitra."
FARUQ BICARA
Faruq yang ikut jaga malam juga ikut melihat.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Aku sudah merekam malam ini dengan kamera tersembunyi yang aku pasang di pohon mangga."
"Kamera? Kapan?"
"Semalam. Sebelum kita berangkat. Aku curiga akan ada serangan."
"Kenapa tidak bilang?"
"Karena aku tidak ingin membuatmu panik. Dan aku ingin bukti. Biar Pak Kades tidak bisa mengelak."
"Hasilnya?"
Faruq mengeluarkan laptopnya.
Ia membuka file rekaman.
Tampak seseorang masuk ke halaman rumah sekitar pukul dua dini hari. Wajahnya tertutup kain hitam. Tapi postur tubuhnya, Faruq membesarkan gambar.
"Pak Kades," kata Faruq yakin.
"Iya. Aku kenal cara jalannya. Cara mengangkat tangannya. Cara memegang pentungan."
"Ini bukti kuat. Kita bisa bawa ke polisi."
"Tapi Pak Kades punya polisi."
"Kita bawa ke Polda. Bukan Polres. Aku punya kontak."
"Kamu hebat, Faruq."
"Aku tidak hebat. Aku hanya paranoid."
NISA BICARA
Nisa yang ikut jaga malam juga ikut melihat.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Aku punya usul."
"Apa?"
"Kita lawan Pak Kades dengan cara halus. Jangan dengan kekerasan. Jangan dengan amarah."
"Lalu?"
"Kita kumpulkan bukti. Bukan hanya video ini. Tapi juga bukti-bukti lain. Tentang korupsinya. Tentang penyalahgunaan wewenangnya. Tentang preman-preman bayarannya."
"Lama."
"Tapi aman."
"Baik. Kita lakukan."
Pada kesempatan itu Faruq dan Nisa mau berpamita pulang ke jogja
"Mas Arga," kata Faruq.
"Iya."
"Saya dan Nisa akan kembali ke Jogja."
"Kapan?"
"Besok."
"Kenapa buru-buru?"
"Kami akan kumpulkan teman-teman aktivis. Kami akan buat petisi. Kami akan desak kecamatan untuk menindak Pak Kades."
"Apa itu bisa?"
"Bisa. Asalkan kita punya bukti kuat."
"Saya punya video."
"Itu cukup."
"Baik. Terima kasih, Faruq. Nisa."
"Sama-sama, Mas."
DIMAS DAN RATRI BICARA
Dimas dan Ratri yang ikut jaga malam juga ikut melihat.
"Mas Arga," kata Dimas.
"Iya."
"Aku akan pasang lebih banyak kamera. Di rumah. Di warung. Di tanah warisan. Di mana-mana."
"Kamu punya stok?"
"Stok habis. Tapi aku bisa beli di kecamatan."
"Uang?"
"Pak Bondan yang bayar."
Pak Bondan mengangguk.
"Bagus," kata Arga. "Lakukan."
"Ratri, kamu akan bantu Dimas?"
"Siap, Mas."
SAMSUL BICARA
Samsul yang ikut jaga malam juga ikut melihat.
"Mas Arga," katanya.
"Iya."
"Saya akan jaga malam di rumah ini. Saya akan lindungi Ibu dan Bapak."
"Sendirian?"
"Bersama keluarga saya. Istri dan anak-anak sudah saya ajak ke sini. Mereka akan tinggal sementara di rumah Mbah Jayarasa."
"Kamu yakin?"
"Saya yakin, Mas. Ini untuk menebus dosa saya."
Arga menepuk bahu Samsul.
"Terima kasih."
SEKAR BANGKIT
Setelah semua bicara, Sekar angkat bicara.
"Mas," panggilnya.
"Iya."
"Aku tidak akan menangis."
"Bagus."
"Aku tidak akan marah."
"Bagus."
"Aku tidak akan dendam."
"Bagus."
"Aku akan memperbaiki warung ini. Lebih bagus dari sebelumnya."
Arga tersenyum.
"Itu dia Sekar yang aku kenal."
Mereka berpelukan.
MEMPERBAIKI WARUNG
Jam sembilan pagi, semua mulai bekerja.
Sastro memperbaiki tenda bambu.
Sukmawati dan Sekar membersihkan piring pecah.
Arga mengecat ulang papan nama.
Dimas memasang kamera baru.
Ratri membantu Pak Bondan membeli material.
Faruq dan Nisa menyiapkan petisi.
Samsul menjaga rumah.
"Kita selesai hari ini?" tanya Sekar.
"Kita selesai hari ini," jawab Arga.
"Warung buka besok?"
"Warung buka besok."
Sekar tersenyum.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, warung sudah selesai.
Lebih bagus dari sebelumnya.
Tenda bambu lebih kokoh.
Kursi kayu lebih kuat.
Piring dan gelas baru.
Papan nama baru dengan tulisan "PECEL MBOK SEKAR" yang lebih besar dan lebih tebal.
"Mas, besok kita buka," kata Sekar.
"Aku akan bantu."
"Kamu harus ke sawah."
"Sawah bisa ditinggal. Ini lebih penting."
"Terima kasih, Mas."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri."
Mereka berpelukan.
RATRI MENJADI SAKSI
Dua hari setelah pengrusakan warung pecel, desa Wringinrejo memasuki babak baru. Bukan babak ketakutan seperti ketika preman Ferry datang. Bukan babak keputusasaan seperti ketika Arga kehilangan jejak Sekar. Tapi babak keberanian. Babak di mana seorang perempuan muda, Ratri, sahabat Arga sejak kecil, perangkat desa yang baru menjabat beberapa bulan, memutuskan untuk tidak tinggal diam.
Ratri melihat sendiri pengrusakan itu. Ratri melihat sendiri rekaman video dari kamera Guntur yang membuktikan bahwa Pak Kades adalah pelakunya. Ratri juga melihat sendiri bagaimana Pak Kades selama ini menyalahgunakan wewenangnya, memeras warga desa, dan melindungi preman-preman bayaran.
Dan Ratri mengambil keputusan yang mengubah segalanya.
Ia akan menjadi saksi.
Ia akan melapor ke kecamatan.
Ia akan membawa bukti-bukti.
Ia akan melawan Pak Kades.
Meskipun itu berarti ia harus kehilangan pekerjaan. Meskipun itu berarti ia harus diasingkan oleh warga desa yang pro-Pak Kades. Meskipun itu berarti nyawanya terancam.
Karena Ratri percaya pada kebenaran. Dan kebenaran tidak bisa dikalahkan oleh uang dan kekuasaan.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Ratri duduk di beranda rumah Arga. Ia tidak banyak bicara sejak pagi. Ia hanya duduk, memandang ke arah timur, ke arah rumah Pak Kades yang terletak di ujung desa. Matanya tajam. Tangannya menggenggam erat secarik kertas, kertas berisi daftar bukti pelanggaran Pak Kades yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun.
"Ratri, kamu sudah sarapan?" tanya Sukmawati dari dapur.
"Belum, Budhe. Nanti saja."
"Jangan nanti. Nanti perutmu sakit."
"Iya, Budhe."
Tapi Ratri tidak bergerak.
Ia masih duduk.
Masih memandang jauh.
Masih memikirkan langkah selanjutnya.
Arga yang baru selesai mandi keluar kamar. Ia melihat Ratri yang termenung. Ia duduk di sampingnya.
"Rat, kamu kenapa? Dari tadi diam saja."
"Aku berpikir, Mas."
"Pikir apa?"
Ratri menoleh. Matanya berkaca-kaca.
"Aku akan melapor ke kecamatan."
Arga terkesiap. "Kamu yakin?"
"Aku yakin."
"Risikonya besar. Kamu bisa dipecat. Kamu bisa diusir dari desa. Kamu bisa, "
"Aku tahu, Mas. Aku sudah memikirkan semua itu."
"Tapi, "
"Mas, selama ini aku hanya diam. Aku hanya jadi perangkat desa yang menjalankan perintah. Aku hanya jadi penonton ketika Mas berjuang melawan Ferry. Aku hanya jadi pembantu ketika Mas menyusun strategi. Sekarang, giliranku."
Arga terdiam.
"Aku tidak akan diam lagi, Mas. Aku akan bicara. Aku akan lawan. Aku akan jadi saksi."
Arga memegang tangan Ratri.
"Baik. Aku dukung. Kita semua dukung."
Ratri tersenyum. Air matanya jatuh.
CAMAT DATANG
Jam sepuluh pagi, Kecamatan datang ke desa.
Ia dipanggil oleh Ratri melalui surat resmi, surat yang ditandatangani oleh Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Pak Bondan, Samsul, dan beberapa warga desa yang pro-Arga.
Camat itu laki-laki setengah baya, berbadan gemuk, berkumis tebal, berkacamata. Ia memakai kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Di tangannya, map coklat tebal berisi dokumen.
"Selamat pagi, Pak Camat," sapa Arga.
"Selamat pagi, Mas Arga. Ada apa? Kok mendadak minta saya datang ke desa? Biasanya warga yang datang ke kantor."
"Ini darurat, Pak."
"Darurat apa?"
"Pengrusakan. Pemerasan. Penyalahgunaan wewenang. Oleh Pak Kades."
Wajah Pak Camat berubah.
"Kamu punya bukti?"
"Iya, Pak. Banyak."
RATRI BERSAKSI
Mereka duduk di ruang tengah.
Ratri berdiri di depan Camat. Ia tidak duduk. Ia ingin semuanya jelas. Ia ingin semua orang melihat bahwa ia serius.
"Pak Camat," kata Ratri dengan suara tegas, "saya Ratri. Perangkat desa Wringinrejo. Saya ingin melaporkan Pak Kades atas beberapa pelanggaran."
"Silakan," kata Camat.
Ratri mengeluarkan bukti satu per satu.
Bukti pertama: foto-foto pengrusakan warung pecel. Lengkap dengan rekaman video dari kamera Guntur yang memperlihatkan wajah Pak Kades.
"Pengrusakan terjadi tiga hari lalu. Warung milik Mbak Sekar dirusak. Tenda roboh. Kursi patah. Piring pecah. Papan nama dicat hitam dengan kata-kata kasar. Pelaku: Pak Kades. Buktinya ada di video ini."
Camat memandang video itu.
Wajahnya semakin tegang.
Bukti kedua: catatan pemerasan. Ratri mengeluarkan buku catatan kecil, buku yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun.
"Ini catatan saya. Setiap warga yang ingin mengurus surat-surat administrasi, Pak Kades meminta uang 'administrasi' di luar ketentuan. Besarannya bervariasi. Ada yang lima puluh ribu. Ada yang seratus ribu. Ada yang lima ratus ribu tergantung jenis surat."
Camat membolak-balik catatan itu.
"Lanjut."
Bukti ketiga: daftar preman bayaran. Ratri mengeluarkan foto-foto beberapa preman yang sering berkeliaran di desa.
"Ini preman bayaran Pak Kades. Mereka bekerja untuk mengintimidasi warga yang tidak sependapat dengan Pak Kades. Mereka juga yang membantu Pak Kades mengatur pemerasan."
"Apakah ada bukti hubungan preman ini dengan Pak Kades?"
"Ada, Pak. Rekaman percakapan Pak Kades dengan salah satu preman. Nisa yang merekam."
Nisa maju. Ia memutar rekaman suara.
Suara Pak Kades terdengar jelas.
"Pokoknya, warung pecel itu harus ditutup. Saya tidak suka lihat Arga dan Sekar bahagia."
"Bagaimana caranya, Pak?" suara preman.
"Rusak saja. Malam-malam. Jangan sampai ketahuan."
"Risikonya?"
"Saya tanggung. Kalau ada yang melapor, saya yang urus."
Camat mematikan rekaman.
Wajahnya pucat.
"Ini bukti kuat," katanya. "Pak Kades tidak bisa mengelak."
"Apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Ratri.
Camat menghela napas. "Saya akan panggil Pak Kades. Saya akan minta keterangannya. Jika terbukti, saya akan rekomendasikan pemberhentian sementara."
"Kapan?"
"Hari ini. Juga."
PAK KADES DIPANGGIL
Jam dua belas siang, Pak Kades datang.
Ia berjalan tegap, seperti tidak bersalah. Wajahnya tenang. Matanya tajam. Di belakangnya, dua orang preman ikut.
"Ada apa, Pak Camat? Kok dipanggil mendadak?" tanyanya.
"Duduk, Pak Kades. Ada laporan terhadap Bapak."
"Laporan? Siapa yang berani?"
"Saya," kata Ratri.
Pak Kades menatap Ratri. Matanya berubah. Dari tajam menjadi marah.
"Kamu, Ratri? Kamu bawahan saya. Kamu perangkat desa. Kamu tidak berhak melapor."
"Saya warga negara. Saya punya hak melapor."
"Kurang ajar!"
"Pak Kades, tenang," potong Camat. "Kita akan bahas dengan kepala dingin."
KONFRONTASI
Pak Kades duduk di kursi kayu.
Ia tidak mau dipanggil. Ia hanya duduk dengan santai, menyilangkan kaki, merokok.
"Pak Camat, apa bukti pelaporan ini?"
Camatan menunjukkan video, catatan pemerasan, dan rekaman suara.
Wajah Pak Kades berubah.
Pucat.
"Ini rekayasa," katanya. "Saya tidak pernah melakukan itu."
"Suara di rekaman ini suara Bapak," kata Camat.
"Suara bisa ditiru."
"Oleh siapa?"
"Oleh Arga. Atau Faruq. Atau siapa pun yang punya teknologi."
Guntur maju. "Pak Kades, teknologi tidak secanggih itu untuk meniru suara seseorang secara sempurna. Apalagi dengan intonasi dan dialek khas Bapak."
"Kamu, "
"Coba Bapak lihat video ini. Wajah Bapak jelas. Tidak tertutup. Tidak pakai topeng. Tidak pakai kain. Itu Bapak."
Pak Kades melihat video itu.
Ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Pak Camat," kata Ratri, "saya siap bersaksi di depan siapa pun. Saya siap disumpah. Saya siap menerima konsekuensi."
Pak Kades berdiri.
"Saya tidak akan diam," katanya. "Saya punya pengacara. Saya akan lawan."
"Silakan," kata Camat. "Tapi sementara waktu, saya rekomendasikan Bapak untuk tidak menjalankan tugas sebagai kepala desa sampai kasus ini jelas."
"Saya tidak terima!"
"Itu wewenang saya, Pak Kades. Bapak bisa mengadu ke bupati. Tapi untuk sementara, perintah ini berlaku."
Pak Kades pergi.
Membanting pintu.
Wajahnya merah.
Matanya melotot.
SETELAH KEPERGIAN PAK KADES
Camat menghela napas.
"Mas Arga, Mbak Ratri. Saya akan teruskan laporan ini ke bupati. Tapi prosesnya lama. Mungkin berbulan-bulan."
"Tidak apa, Pak. Yang penting ada keadilan."
"Baik. Saya pamit."
Camat pergi.
Ratri duduk di kursi kayu.
Tangannya gemetar.
"Rat, kamu baik-baik saja?" tanya Arga.
"Aku takut, Mas. Tapi aku lega."
"Takut kenapa?"
"Takut Pak Kades balas dendam."
"Kamu tidak sendiri. Kami di sini."
"Terima kasih, Mas."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap.
Bulan tertutup awan.
Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku bangga pada Ratri."
"Aku juga."
"Dia berani."
"Dia memang berani. Sejak kecil."
"Apakah dia akan selamat?"
Arga menghela napas. "Aku tidak tahu. Tapi kita akan lindungi dia."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan.
BAB 5
KABAR DARI BELANDA
Seminggu setelah Ratri bersaksi di depan Camatan dan Pak Kades resmi dinonaktifkan sementara dari jabatannya, desa Wringinrejo memasuki masa transisi. Bukan transisi yang tenang. Bukan transisi yang damai. Tapi transisi yang penuh ketegangan, karena meskipun Pak Kades tidak lagi menjabat, pengaruhnya masih tersisa. Preman-preman bayarannya masih berkeliaran. Pendukung-pendukungnya masih menyebarkan fitnah. Dan keluarga Pak Kades, terutama istrinya, Bu Sania, masih berusaha menggalang simpati warga.
Tapi di tengah semua itu, sebuah kabar gembira datang.
Bukan dari desa. Bukan dari kecamatan. Bukan dari kota Jogja.
Tapi dari Belanda.
Dari Guntur dan Laras.
Sepucuk surat panjang yang dikirim melalui pos kilat, karena Guntur tidak percaya dengan pesan singkat atau media sosial yang bisa disadap.
Dan isi surat itu, di luar dugaan semua orang.
PAGI YANG CERAH
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah ramai sejak pukul setengah tujuh, kembali normal setelah sempat tutup karena pengrusakan.
Sekar sibuk melayani pelanggan. Sukmawati membantu mencuci piring. Ratri ikut mengantar pesanan ke meja, meskipun ia masih waspada terhadap kemungkinan serangan dari pihak Pak Kades.
"Nduk, pecel satu, bungkus!" teriak Bu Sri dari meja depan.
"Siap, Bu!"
"Sama es teh manisnya satu."
"Siap, Bu!"
Sekar bekerja dengan cepat dan rapi. Tangannya lincah menyiangi sayuran, menggoreng tempe dan tahu, meracik bumbu pecel. Wajahnya segar, matanya berbinar, bukan karena kepalsuan, tapi karena kebahagiaan dan ketenangan.
"Mbak Sekar, kok semangat banget pagi-pagi?" tanya Bu Parti.
"Alhamdulillah, Bu. Warung ramai, rezeki lancar. Lagi pula, ada kabar baik yang saya tunggu-tunggu."
"Kabar baik apa?"
"Surat dari Guntur dan Laras. Dari Belanda."
"Wah, saudara Mbak Sekar?"
"Bukan. Sahabat. Sahabat yang sudah seperti saudara."
"Bagus. Semoga isinya kabar bahagia."
"Amin."
SURAT DARI BELANDA
Jam sembilan pagi, warung mulai sepi.
Sekar membersihkan meja dan kursi. Sukmawati membantu mencuci piring. Ratri ikut membereskan peralatan.
Arga yang baru pulang dari sawah masuk ke rumah dengan langkah cepat. Wajahnya masih merah karena terik matahari, bajunya basah keringat. Tapi matanya berbinar—bukan karena kelelahan, tapi karena penasaran.
"Mas, ada surat dari Guntur dan Laras," kata Sekar sambil menyerahkan amplop putih tebal.
Arga menerima amplop itu.
Tangannya gemetar.
Ia membuka amplop itu perlahan, takut merusak isinya.
Di dalamnya: beberapa lembar kertas putih dengan tulisan tangan Guntur yang rapi, tulisan yang khas, tegak, sedikit miring ke kanan.
Arga membaca.
"Untuk Arga, Sekar, dan semua sahabat di Wringinrejo."
"Apa kabar? Semoga kalian semua sehat. Semoga perjuangan melawan Pak Kades berjalan lancar. Semoga warung pecel Mbok Sekar makin ramai."
"Laras dan aku sekarang sudah resmi tinggal di Belanda. Program S3-ku berjalan lancar. Laras juga sudah mulai kuliah lagi—ambil program master di universitas yang sama."
"Tapi ada kabar lain yang lebih penting."
"Laras hamil."
"Iya. Hamil. Kami akan punya bayi. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Tuhan memberi kepercayaan kepada kami untuk menjadi orang tua."
"Kami akan pulang ke Indonesia untuk melahirkan. Kami ingin anak kami lahir di tanah air. Di tempat yang sama di mana kami berjuang. Di tempat yang sama di mana kami jatuh cinta. Di tempat yang sama di mana kami menemukan arti persahabatan sejati."
"Kami akan datang bulan depan. Tepatnya tanggal 15. Kami akan tinggal di Jogja dulu, lalu ke desa untuk bertemu kalian."
"Jaga diri. Jangan sampai ada yang celaka. Kita sambut anak Laras dan aku dengan suka cita."
"—Guntur & Laras"
"P.S. Kami sudah tahu tentang perjuangan kalian melawan Pak Kades. Kami doakan semoga cepat selesai. Jika butuh bantuan, telepon saja. Aku masih punya kenalan di kepolisian dan kejaksaan."
REAKSI ARGA
Arga membaca surat itu berulang-ulang.
Tangannya gemetar.
Matanya basah.
"Mas, kenapa?" tanya Sekar cemas.
"Guntur... Guntur dan Laras... mereka akan punya bayi."
"APA?" Sekar hampir berteriak.
"Iya. Laras hamil. Mereka akan pulang bulan depan."
"Mas, ini kabar bahagia!"
"Iya. Ini kabar bahagia."
Arga memeluk Sekar.
Mereka berdua menangis.
Bukan tangis sedih.
Tapi tangis haru.
Tangis bahagia.
Tangis yang keluar dari hati yang penuh dengan rasa syukur.
REAKSI SUKMAWATI DAN SASTRO
Sukmawati yang mendengar dari dapur langsung keluar. Wajahnya berbinar.
"Laras hamil? Serius?"
"Serius, Bu. Guntur bilang."
"Wah, Ibu senang. Ibu senang sekali."
"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Sekar.
"Ibu sudah lama ingin punya cucu. Sayangnya, Arga dan Sekar belum juga memberi kabar."
Sekar tersenyum malu. "Doakan saja, Bu."
"Ya, Ibu doakan setiap hari."
Sastro yang duduk di kursi bambu ikut tersenyum, meskipun biasanya ia tidak banyak menunjukkan ekspresi.
"Bagus," katanya singkat. "Anak baik. Pantas dapat rezeki."
"Ayah tidak bilang apa-apa lagi?" tanya Arga.
"Ayah hanya bilang bagus. Itu sudah cukup."
Mereka tertawa.
REAKSI RATRI, FARUQ, NISA, DIMAS, DAN SAMSUL
Ratri yang sedang membantu membereskan warung ikut bergabung.
"Mas, aku ikut senang."
"Kamu kenal Guntur dan Laras?"
"Kenal. Mereka baik. Mereka banyak membantu Mas Arga."
"Iya. Mereka memang baik."
Faruq dan Nisa yang kebetulan masih di desa, karena urusan petisi melawan Pak Kades belum selesai, ikut bergabung.
"Guntur bapak-bapak?" kata Faruq sambil tertawa.
"Iya. Dia akan jadi ayah."
"Wah, lucu. Guntur yang sinis itu akan gendong bayi."
"Pasti dia berubah."
"Atau malah semakin sinis. Bayinya dikasih nama 'Absurd'."
Mereka tertawa.
Dimas yang sedang memasang kamera di pohon mangga ikut bergabung.
"Guntur akan punya anak? Siapa yang akan ngajarin anak itu main game?"
"Kamu, Dimas."
"Siap. Saya siap jadi paman."
Samsul yang sedang menjaga halaman depan ikut bergabung.
"Guntur orang baik. Laras juga. Mereka pantas bahagia."
"Kamu juga pantas bahagia, Samsul."
"Insyaallah, Mas."
RENCANA MENYAMBUT KEPULANGAN
Jam sepuluh pagi, semua berkumpul di ruang tengah.
Mereka berdiskusi tentang rencana menyambut kepulangan Guntur dan Laras.
"Guntur dan Laras akan datang bulan depan. Tanggal 15," kata Arga.
"Kita harus siapkan tempat untuk mereka," kata Sekar.
"Mereka bisa tinggal di rumah Mbah Jayarasa. Sudah bersih. Sudah rapi."
"Tapi listrik?"
"Aku sudah pasang panel surya kecil. Cukup untuk lampu dan kulkas."
"Bagus. Kamu hebat, Dimas."
"Saya tidak hebat. Saya hanya suka otak-atik."
Mereka tertawa.
"Kita juga harus siapkan makanan," kata Sukmawati. "Laras hamil. Mungkin dia ingin masakan desa. Pecel. Sayur asem. Ayam ingkung."
"Iya, Bu. Itu ide bagus."
"Kita juga harus siap... untuk jadi paman dan bibi."
"Kenapa?" tanya Faruq.
"Karena akan ada bayi."
"Ooh."
Mereka tertawa lagi.
KABAR DARI JOGJA
Jam dua belas siang, setelah diskusi selesai, ponsel Arga berdering.
Nama yang muncul di layar: "Pak Bondan".
"Selamat siang, Pak Bondan."
"Selamat siang, Le. Ada kabar."
"Kabar apa, Pak?"
"Toko bangunan cabang di kecamatan sudah siap. Lokasi sudah saya beli. Bangunan sudah saya renovasi. Stok barang sudah saya kirim. Kamu tinggal datang."
"Kapan, Pak?"
"Minggu depan. Kamu harus ke kecamatan untuk memeriksa semuanya."
"Baik, Pak. Saya akan datang."
"Bawa Sekar. Biar dia lihat."
"Baik, Pak."
"Dan jangan lupa bawa kerismu."
"Keris, Pak? Untuk apa?"
"Untuk jaga-jaga. Siapa tahu ada yang tidak beres."
Arga mengerutkan kening. "Pak Bondan, apa Bapak tahu tentang keris?"
Pak Bondan terdiam sejenak.
"Aku tahu. Mbah Jayarasa cerita sebelum dia meninggal."
"Cerita apa?"
"Aku tidak bisa bilang lewat telepon. Nanti saja. Di kecamatan."
"Baik, Pak."
Telepon ditutup.
Arga memandang ponselnya.
Pak Bondan tahu tentang keris.
Pak Bondan tidak hanya sekadar pengusaha toko bangunan.
Pak Bondan menyembunyikan sesuatu.
"Apa?" tanya Sekar.
"Pak Bondan minta aku membawa keris ke kecamatan."
"Untuk apa?"
"Dia tidak bilang. Dia hanya bilang, dia tahu tentang keris dari Mbah Jayarasa."
"Kamu curiga?"
"Sedikit. Tapi Pak Bondan bukan musuh. Dia sudah membantu kita berkali-kali."
"Baik. Aku ikut."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku ingin belajar menggunakan keris."
"Belajar? Dari siapa?"
"Dari Mbah Tarni. Dia bilang, keris itu bukan untuk dipajang. Keris itu untuk digunakan."
"Digunakan untuk apa?"
"Membela diri. Melindungi keluarga. Melawan kejahatan."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin, Mas. Aku tidak ingin selalu menjadi korban. Aku ingin bisa melindungi diriku sendiri. Dan melindungi kamu."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Baik. Besok kita ke rumah Mbah Tarni."
"Terima kasih, Mas."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
“Iya, satu hati, satu jiwa”.
TANDA DARI JATMIKA
Tiga hari setelah kabar bahagia dari Belanda tentang kehamilan Laras dan rencana kepulangan Guntur, desa Wringinrejo dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang tidak biasa. Bukan pengrusakan seperti yang dilakukan Pak Kades. Bukan fitnah seperti yang disebarkan Bu Sania. Bukan intimidasi seperti yang dilakukan preman-preman bayaran.
Tapi sesuatu yang lebih aneh. Lebih misterius. Lebih gaib.
Sebuah tanda.
Tanda dari Jatmika.
Arga bermimpi. Bukan mimpi biasa yang muncul karena kelelahan atau karena terlalu banyak berpikir. Mimpi yang terasa nyata. Mimpi yang seolah-olah Jatmika sengaja masuk ke dalam tidurnya untuk menyampaikan sesuatu. Mimpi yang membuatnya terbangun dengan keringat dingin dan jantung berdebar kencang.
Dan di luar rumah, di halaman depan, di bawah pohon mangga tua, seekor burung hitam bertengger di dahan paling tinggi. Burung itu tidak bergerak. Tidak berkicau. Hanya diam. Memandang ke arah kamar Arga. Seolah sedang menunggu sesuatu. Seolah sedang mengawasi. Seolah sedang menjadi utusan dari alam lain.
SUBUH YANG DINGIN
Pukul setengah lima pagi, Arga terbangun.
Dadanya sesak. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Ia duduk di dipan bambu, mengatur napas, berusaha menenangkan diri.
"Mas, kenapa?" Sekar yang tidur di sampingnya ikut terbangun.
"Aku... mimpi."
"Mimpi apa?"
"Aku bertemu Jatmika."
Sekar duduk. "Jatmika?"
"Iya. Dia berdiri di tepi Kali Wening. Memakai baju putih. Wajahnya tenang. Tapi matanya, matanya sedih."
"Kamu bicara dengannya?"
"Iya. Aku tanya, 'Jatmika, kenapa kau datang? Ada apa?'"
"Dia jawab apa?"
"Dia tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah timur. Ke arah tanah warisan Mbah Jayarasa. Ke arah batu hitam. Ke arah gua tempat keris itu dulu tersimpan."
"Lalu?"
"Lalu dia menghilang. Dan aku terbangun."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Mas, mungkin ini pertanda. Mungkin Jatmika ingin menyampaikan sesuatu."
"Apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus ke tanah warisan. Pagi ini. Cepat."
BURUNG HITAM DI POHON MANGGA
Arga dan Sekar keluar kamar.
Di halaman depan, Sukmawati sudah bangun dan sedang menyapu. Wajahnya tegang.
"Bu, kenapa?" tanya Arga.
"Ibu lihat burung hitam di pohon mangga. Dari tadi subuh. Tidak bergerak. Tidak berkicau."
Arga memandang ke arah pohon mangga.
Seekor burung hitam sedang bertengger di dahan paling tinggi. Matanya, matanya seperti mata manusia. Tajam. Dalam. Mengawasi.
"Jatmika," bisik Arga.
"Apa?" tanya Sukmawati.
"Itu Jatmika, Bu. Kiriman Jatmika."
"Jatmika? Kakakmu?"
"Iya. Dia ingin menyampaikan sesuatu."
Sukmawati menangis.
"Le, apa Jatmika tidak tenang? Apa dia masih gentayangan?"
"Tidak, Bu. Dia sudah tenang. Tapi dia ingin memastikan sesuatu."
"Apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus ke tanah warisan."
PERJALANAN KE TANAH WARISAN
Jam enam pagi, Arga, Sekar, Dimas, dan Ratri berangkat menuju tanah warisan.
Mereka berjalan kaki menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan padi.
"Arga, kenapa kita ke sini pagi-pagi?" tanya Dimas.
"Aku mimpi Jatmika. Dia menunjuk ke arah timur. Pasti ada sesuatu di sini."
"Kamu yakin bukan hanya mimpi biasa?"
"Aku yakin, Dimas. Aku sudah terbiasa membedakan mimpi biasa dengan mimpi pertanda."
"Baik. Kita cari."
BATU HITAM DAN KERIS
Mereka sampai di tanah warisan.
Batu hitam berukir masih berdiri kokoh di tengah lahan. Batu itu tidak berubah. Masih sama seperti pertama kali Arga melihatnya. Tapi ada yang berbeda.
Di permukaan batu itu, muncul cahaya.
Cahaya samar.
Kebiruan.
Berdenyut.
Seperti detak jantung.
"Itu apa?" bisik Sekar.
"Cahaya," kata Dimas. "Cahaya dari dalam batu."
"Kenapa muncul sekarang?"
"Mungkin karena keris. Mungkin karena Jatmika. Mungkin karena keduanya."
Arga mendekati batu itu.
Ia mengeluarkan keris dari balik bajunya, keris yang selalu ia bawa ke mana-mana sejak mengambilnya dari gua.
Begitu keris itu mendekati batu, cahaya biru semakin terang.
"Arga, hati-hati!" teriak Dimas.
Tapi Arga tidak mendengar.
Ia terhipnotis.
Matanya terpaku pada cahaya itu.
Tangannya bergerak sendiri.
Ia menusukkan keris ke celah batu.
KRING!
Suara metal.
Cahaya biru meledak.
Menyilaukan.
Semua menutup mata.
SETELAH LEDAKAN
Ketika mereka membuka mata, batu itu berubah.
Permukaannya yang dulu keras dan kokoh, kini retak.
Retakan-retakan kecil membentuk sebuah pola.
Pola yang familiar.
Pola peta.
Peta desa Wringinrejo.
"Peta," bisik Dimas.
"Peta desa kita," kata Ratri.
"Tapi ada yang aneh," kata Dimas. "Ada titik merah di tengah peta."
Titik merah itu berada di lokasi makam Mbah Raras.
"Makam nenek Sekar," bisik Sekar.
"Kenapa di sana?" tanya Arga.
"Tidak tahu. Tapi pasti ada sesuatu."
KEMBALI KE RUMAH
Jam sepuluh pagi, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih berat dari ketika berangkat. Mungkin karena lelah. Mungkin karena pikiran yang penuh dengan pertanyaan.
"Arga," panggil Dimas di tengah jalan.
"Iya."
"Kita harus ke makam Mbah Raras. Besok."
"Kenapa besok?"
"Karena hari sudah siang. Dan aku perlu persiapan."
"Persiapan apa?"
"Mbah Tarni. Dia harus ikut. Dia satu-satunya yang tahu tentang makam itu."
"Baik. Besok pagi."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa yang akan kita temukan di makam Mbah Raras?"
"Aku tidak tahu. Tapi Jatmika pasti punya alasan."
"Kamu takut?"
"Tidak. Penasaran."
"Aku juga."
Mereka berdua terdiam.
Angin malam berembus.
Daun-daun pohon mangga bergemerisik.
"Mas."
"Iya."
"Aku ingin ikut besok."
"Kamu ikut."
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
“Iya, satu hati, satu jiwa” bisiknya lembut.
BAB 6
MAKAM MBAH RARAS
Hari Minggu pagi, langit cerah. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah. Burung-burung pipit mulai beterbangan rendah mencari bulir-bulir padi yang jatuh di pematang.
Arga dan timnya bersiap untuk perjalanan yang paling penting, perjalanan ke makam Mbah Raras, nenek Sekar, yang telah meninggal sebelum Sekar dijodohkan dengan Ferry. Makam itu terletak di Bukit Watu Senja, tidak jauh dari pohon randu tua tempat Arga dan Sekar biasa duduk bercerita tentang masa depan.
Tapi ada yang berbeda pagi ini.
Mbah Tarni, sesepuh desa yang berusia hampir delapan puluh tahun, ikut serta. Perempuan tua itu berjalan pelan dengan tongkat kayu di tangan kanan dan keranjang anyaman di tangan kiri. Keranjang itu berisi sesajen: bunga melati, kemenyan, beras kuning, dan air dari tujuh mata air.
"Mbah, kenapa Mbah harus ikut?" tanya Arga.
Mbah Tarni memandang Arga dengan mata keruhnya. Matanya yang sudah hampir buta itu tiba-tiba terlihat jernih.
"Karena hanya Mbah yang tahu," jawabnya.
"Tahu apa?"
"Tahu tentang Mbah Raras. Tahu tentang Jatmika. Tahu tentang rahasia terakhir yang selama ini disembunyikan."
Arga merinding.
"Mbah, maksudnya?"
"Nanti. Di makam. Tidak baik bicara di sini. Banyak telinga. Banyak setan."
PERJALANAN KE BUKIT WATU SENJA
Mereka berangkat pukul setengah tujuh pagi.
Sepuluh orang berjalan kaki menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil. Matahari semakin tinggi. Panasnya mulai menyengat. Keringat mengucur di dahi.
Tapi tidak ada yang mengeluh.
Di depan: Arga, Sekar, dan Mbah Tarni.
Di belakang: Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, dan Pak Bondan.
"Arga, kenapa Pak Bondan ikut?" bisik Faruq.
"Dia minta ikut. Katanya, Mbah Jayarasa titip pesan."
"Pesan apa?"
"Tidak bilang. Nanti di makam."
"Baik. Kita tunggu."
TIBA DI BUKIT WATU SENJA
Jam setengah delapan, mereka tiba di Bukit Watu Senja.
Pohon randu tua masih berdiri kokoh di puncak bukit. Daun-daunnya rimbun, cabangnya melebar seperti tangan raksasa yang melindungi siapa pun yang berteduh di bawahnya. Di bawah pohon itu, batu-batu besar berserakan. Dan di antara batu-batu itu, sebuah makam sederhana dengan nisan kayu yang sudah lapuk.
"Makam Mbah Raras," bisik Sekar.
"Kita ziarahi dulu," kata Arga.
Mereka mendekati makam.
Mbah Tarni duduk di samping nisan. Ia mengeluarkan sesajen dari keranjangnya. Bunga melati ditabur di atas makam. Kemenyan dibakar. Asapnya mengepul tipis, membawa aroma wangi yang menenangkan.
"Nek Raras," bisik Mbah Tarni, "aku datang. Dengan anak cucumu. Dengan orang-orang yang mencintaimu. Buka pintu. Biarkan mereka tahu. Biarkan mereka melihat. Biarkan mereka mengerti."
Tiba-tiba, tanah di samping makam bergetar.
Pelan.
Lalu keras.
Lalu sangat keras.
"Ada apa?" teriak Faruq.
"Mbah Tarni!" teriak Nisa.
Mbah Tarni tidak bergeming. Ia terus duduk. Terus berdoa.
Tanah itu retak.
Retakan membentuk sebuah lubang.
Lubang kecil di samping makam.
Dari dalam lubang itu, terpancar cahaya keemasan.
"Cahaya," bisik Dimas.
"Cahaya dari dalam tanah," kata nisa.
Arga mendekat.
Ia mengambil keris dari balik bajunya.
Cahaya itu semakin terang.
ISI LUBANG
Arga merogoh lubang itu.
Tangannya masuk ke dalam tanah.
Ia meraba sesuatu.
Keras.
Kotak.
Kayu.
Sebuah kotak kayu kecil.
Ia mengeluarkannya.
Kotak kayu dengan ukiran rumit, ukiran yang sama dengan ukiran di batu hitam tanah warisan. Permukaannya halus, dipoles dengan lilin, tidak lapuk meskipun sudah puluhan tahun tertimbun tanah.
"Apa itu?" tanya Sekar.
"Kotak. Dari Mbah Raras."
"Buka."
Arga membuka kotak itu.
Patenya longgar.
Ia membuka tutupnya.
Di dalam kotak: beberapa lembar kertas tua yang sudah menguning, sebuah cincin perak sederhana, dan sehelai rambut panjang yang diikat pita merah.
ISI KERTAS PERTAMA
Arga mengambil kertas pertama.
Tulisan tangan.
Tinta hitam yang sudah mulai pudar.
Tapi masih bisa dibaca.
"Untuk Sekar, cucuku yang paling kucintai."
"Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tiada. Berarti kau sudah dewasa. Berarti kau sudah siap menerima kenyataan."
"Aku bukan nenek kandungmu. Nenek kandungmu adalah Mbah Lestari. Ibu dari ibumu. Ibu dari ayah Arga. Saudara kembar."
Ruangan hening, meskipun mereka berada di luar ruangan.
"Mbah Lestari dan aku adalah saudara kembar. Kami lahir dari rahim yang sama. Tapi dipisahkan oleh takdir. Mbah Lestari menikah dengan kakek Arga. Aku menikah dengan kakekmu, Sekar."
"Mbah Lestari memiliki kemampuan melihat dua langit. Aku tidak. Tapi aku memiliki kemampuan lain: melihat masa depan."
"Aku tahu bahwa suatu hari, cucuku akan jatuh cinta dengan cucu Mbah Lestari. Aku tahu bahwa kalian akan berjuang bersama. Aku tahu bahwa kalian akan bersatu."
"Dan aku tahu bahwa rahasia ini akan terungkap. Suatu hari. Ketika kalian siap."
"Sekar, jaga Arga. Jaga cinta kalian. Jaga warisan leluhur."
"—Nenek yang selalu mencintaimu, Mbah Raras"
Sekar menangis.
Ia memeluk Arga.
"Mas... Mbah Raras... bukan nenek kandungku?"
"Mbah Raras tetap nenekmu. Dia membesarkanmu. Dia menyayangimu. Dia mengorbankan segalanya untukmu."
"Tapi,"
"Tidak ada tapi. Darah tidak menentukan siapa keluargamu. Cinta yang menentukan."
ISI KERTAS KEDUA
Arga mengambil kertas kedua.
Tulisan lain.
Tinta biru.
Lebih muda.
"Untuk Arga, anak Sastro."
"Aku Mbah Raras. Nenek dari Sekar. Saudara kembar Mbah Lestari."
"Kau mungkin bingung. Kenapa aku tidak pernah cerita tentang ini? Karena belum waktunya."
"Dan sekarang, waktunya telah tiba."
"Keris yang kau pegang itu bukan hanya pusaka. Itu adalah kunci. Kunci untuk membuka pintu terakhir. Pintu menuju kedamaian Jatmika."
"Jatmika tidak mati sia-sia. Dia memilih mati. Agar kau bisa lahir. Agar kau bisa menjadi pengembara dua langit. Agar kau bisa menyatukan dua keluarga yang terpisah."
"Temukan makam Mbah Lestari. Di sana, kau akan tahu segalanya."
"—Mbah Raras"
Arga memandang Sekar.
"Mbah Lestari memiliki makam?"
"Mbah Tarni pasti tahu."
Mereka menatap Mbah Tarni.
Mbah Tarni mengangguk.
"Iya. Mbah tahu."
CINCIN DAN RAMBUT
Arga mengeluarkan cincin perak sederhana dari kotak.
Cincin itu tidak berkilau. Tapi ada ukiran di bagian dalam.
"Mbah Lestari & Mbah Raras. Saudara selamanya."
"Ini milik nenekku," bisik Sekar.
"Dan ini," Arga mengeluarkan sehelai rambut panjang yang diikat pita merah.
"Rambut Mbah Lestari," kata Mbah Tarni. "Dia potong sebelum menghilang."
"Kenapa disimpan?"
"Sebagai pengingat. Bahwa dia pernah ada. Bahwa dia pernah hidup. Bahwa dia pernah berjuang."
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua belas siang, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Bukan karena beban yang berkurang. Tapi karena hati yang mulai mengerti.
"Arga," panggil Dimas di tengah jalan.
"Iya."
"Aku tidak menyangka Mbah Raras adalah saudara kembar Mbah Lestari."
"Aku juga."
"Kenapa mereka dipisahkan?"
"Takdir, mungkin."
"Kejam."
"Tapi mereka tetap bersatu. Lewat kita. Lewat Sekar. Lewat perjuangan kita."
Dimas mengangguk. "Kamu benar."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Apa kamu sedih?"
"Sedih? Kenapa?"
"Karena Mbah Raras bukan nenek kandungmu."
Sekar memandang Arga.
"Mas, Mbah Raras tetap nenekku. Dia yang membesarkanku. Dia yang mengajariku memasak. Dia yang mengajariku bertahan hidup. Dia yang mengajariku mencintai."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Darah tidak penting. Yang penting cinta."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Kamu baik, Sekar."
"Aku tidak baik. Aku hanya tahu siapa yang benar-benar mencintaiku."
Mereka berpelukan.
GOSIP MENYEBAR
Tiga hari setelah penemuan kotak kayu di makam Mbah Raras dan pengungkapan bahwa Mbah Raras adalah saudara kembar Mbah Lestari, desa Wringinrejo berubah menjadi pasar malam yang ramai dengan gosip. Bukan gosip biasa yang hanya terdengar di warung kopi atau di pinggir jalan. Tapi gosip yang menyebar seperti api di musim kemarau, cepat, liar, dan membakar apa pun yang dilaluinya.
Gosip itu datang dari berbagai arah. Ada yang mengatakan bahwa Arga dan Sekar sebenarnya saudara sepupu, karena Mbah Raras dan Mbah Lestari adalah saudara kembar, maka anak cucu mereka juga masih terikat darah. Ada yang mengatakan bahwa pernikahan Arga dan Sekar tidak sah karena masih saudara. Ada yang mengatakan bahwa keris yang ditemukan Arga adalah keris keramat yang akan mendatangkan malapetaka jika tidak segera dikembalikan ke tempatnya. Ada yang mengatakan bahwa Jatmika, kakak Arga yang sudah meninggal, masih gentayangan karena Arga tidak pernah melakukan ritual yang benar.
Dan di tengah semua gosip itu, Bu Sania, istri Pak Kades yang kini sudah tidak menjabat, terlihat paling bersemangat menyebarkannya. Setiap pagi ia pergi ke warung kopi, setiap sore ia berganti ke warung pecel, setiap malam ia berkunjung ke rumah-rumah warga. Ia membawa cerita. Ia membawa fitnah. Ia membawa kebencian.
"Mbak Sekar itu sebenarnya masih saudara Mas Arga. Jadi haram hukumnya mereka menikah. Haram!"
"Keris itu keris setan, Le. Awas nanti kamu celaka."
"Jatmika gentayangan karena Arga tidak pernah mengadakan ritual untuk kakaknya."
Bu Sania berbicara dengan lantang, dengan penuh keyakinan, seolah-olah ia tahu segalanya. Padahal ia tidak tahu apa-apa.
Dan gosip itu menyebar.
Dari mulut ke mulut.
Dari telinga ke telinga.
Dari rumah ke rumah.
Hingga akhirnya, sampai ke telinga Arga dan Sekar.
PAGI YANG TIDAK BIASA
Hari Rabu, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Warung pecel Mbok Sekar tidak seramai biasanya.
Hanya beberapa pelanggan yang datang.
Mbah Tarni, yang biasanya setia membeli pecel setiap pagi, tidak datang.
Bu Sri, yang biasanya membawa cucunya, tidak datang.
Pak Karto, yang biasanya sarapan di warung sambil bercanda, tidak datang.
Sekar duduk di belakang lapak.
Wajahnya pucat.
Matanya sayu.
"Bu, kenapa sepi?" tanyanya pada Sukmawati yang membantu mencuci piring.
Sukmawati menghela napas.
"Ada gosip, Nduk."
"Gosip apa?"
"Gosip tentang kamu dan Arga. Katanya kalian masih saudara. Katanya pernikahan kalian haram."
Darah Sekar berhenti mengalir.
"Apa?"
"Iya. Bu Sania yang nyebarin."
"Tapi itu tidak benar! Mbah Raras memang saudara kembar Mbah Lestari. Tapi itu sudah puluhan tahun lalu. Garis keturunannya sudah jauh. Kami tidak punya hubungan darah yang dekat."
"Coba jelaskan pada warga, Nduk."
"Apakah mereka mau dengar?"
Sukmawati menghela napas.
"Mungkin tidak. Mungkin iya. Tapi setidaknya kamu sudah berusaha."
ARGA TAHU
Jam delapan pagi, Arga pulang dari sawah.
Ia tidak bekerja lama karena firasatnya tidak enak. Sejak subuh, ia mendengar suara bisikan, bukan bisikan Mbah Lestari, bukan bisikan Jatmika. Tapi bisikan manusia. Bisikan kebencian. Bisikan fitnah.
"Mas, ada apa?" tanya Sekar ketika Arga masuk ke rumah.
"Aku dengar gosip."
"Dengar dari mana?"
"Dari Pak Karto. Dia mampir ke sawah. Bilang, maaf tidak bisa beli pecel karena dilarang istrinya."
"Kenapa dilarang?"
"Karena istrinya percaya gosip Bu Sania. Katanya, masakanmu bisa bikin orang kesurupan."
Sekar menangis.
"Mas, apa aku harus tutup warung?"
"Jangan."
"Tapi, "
"Jangan. Biarkan mereka yang percaya gosip. Biarkan mereka yang tidak mau membeli. Kita tetap buka. Kita tetap jualan. Lambat laun, mereka akan sadar."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi yang penting, kita tidak menyerah."
Sekar memeluk Arga.
"Terima kasih, Mas."
GUNTUR DAN LARAS BICARA
Jam sepuluh pagi, Guntur dan Laras datang.
Wajah mereka tegang. Kelihatannya mereka juga sudah mendengar gosip.
"Arga, ini sudah keterlaluan," kata Guntur.
"Aku tahu."
"Kita harus lawan."
"Lawan bagaimana?"
"Lawan dengan fakta. Kita buktikan bahwa Arga dan Sekar tidak punya hubungan darah dekat. Kita buktikan bahwa pernikahan mereka sah. Kita buktikan bahwa keris itu bukan keris setan."
"Bagaimana caranya?"
"Aku sudah hubungi teman di fakultas hukum. Dia bilang, secara agama dan negara, pernikahan kalian sah. Karena hubungan kalian sudah sangat jauh. Lebih dari lima tingkat."
"Apakah itu cukup?"
"Tidak. Tapi setidaknya ada pegangan."
Laras menambahkan, "Mas Arga, aku juga sudah bicara dengan Mbah Tarni. Dia bersedia menjadi saksi. Dia akan menjelaskan silsilah keluarga di depan warga."
"Mbah Tarni mau?"
"Dia mau. Dia bilang, dia sudah tua. Tidak takut mati. Yang penting kebenaran."
Arga menghela napas.
"Baik. Kita kumpulkan warga. Besok malam. Di balai desa."
MAKAN SIANG TANPA WARUNG
Jam dua belas siang, tidak ada pelanggan yang datang.
Sekar menutup warung lebih awal.
Ia duduk di beranda, memandang langit yang mulai beranjak mendung. Sesekali ia mengusap air mata yang jatuh tanpa suara.
"Mas," panggilnya.
"Iya."
"Apa aku salah? Apa aku tidak pantas? Apa aku seharusnya tidak usah membuka warung?"
Arga duduk di sampingnya.
"Kamu tidak salah. Kamu pantas. Kamu seharusnya membuka warung."
"Tapi kenapa mereka membenciku?"
"Karena mereka takut. Takut pada sesuatu yang tidak mereka mengerti. Takut pada perbedaan. Takut pada perubahan."
"Apakah mereka akan berubah?"
"Suatu hari. Mungkin tidak sekarang. Tapi suatu hari."
Sekar memeluk Arga.
"Mas, aku capek."
"Istirahatlah. Jangan pikirkan warung dulu. Besok kita hadapi warga. Besok kita buktikan bahwa kita tidak salah."
"Baik."
MALAM DI BALAI DESA
Jam tujuh malam, balai desa mulai dipenuhi warga.
Wajah-wajah tegang. Ada yang penasaran. Ada yang mendukung Arga. Ada yang pro-Pak Kades. Ada yang netral.
Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, dan Mbah Tarni duduk di kursi depan. Sukmawati dan Sastro ikut hadir.
Camat juga hadir, ia dipanggil khusus oleh Faruq untuk menjadi penengah.
"Selamat malam, warga Wringinrejo," kata Camat. "Kita berkumpul di sini untuk meluruskan gosip yang beredar. Saya minta semua pihak tenang. Tidak ada yang boleh berteriak. Tidak ada yang boleh memotong pembicaraan."
Ruangan hening.
"Silakan, Arga."
ARGA BICARA
Arga berdiri.
Wajahnya tegang. Tangannya gemetar. Tapi suaranya tegas.
"Saudara-saudara, saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Suami Sekar. Saya tidak pernah berbohong. Saya tidak pernah menipu."
"Saya dengar gosip bahwa saya dan Sekar masih saudara. Bahwa pernikahan kami haram. Bahwa keris yang saya temukan adalah keris setan. Bahwa Jatmika gentayangan karena saya tidak melakukan ritual."
"Saya ingin meluruskan. Satu per satu."
FARUQ BICARA
Faruq berdiri.
Ia membuka laptopnya. Sebuah silsilah keluarga muncul di layar proyektor.
"Ini silsilah keluarga Arga dan Sekar," katanya. "Saya dapatkan dari Mbah Tarni dan catatan desa. Silakan lihat."
"Ini Mbah Lestari dan Mbah Raras. Saudara kembar. Mereka lahir pada tahun 1900-an."
"Ini anak Mbah Lestari. Ini anak Mbah Raras."
"Ini cucu. Ini cicit. Ini anak dari cicit, yaitu Arga dan Sekar."
"Mereka terpisah lima tingkat. Dalam hukum agama dan negara, pernikahan mereka SAH. Karena hubungan darah sudah sangat jauh. Lebih dari batas yang diharamkan."
"Jadi, gosip bahwa pernikahan Arga dan Sekar haram adalah TIDAK BENAR."
MBAH TARNI BICARA
Mbah Tarni berdiri dengan susah payah. Ratri membantu memegang tangannya.
"Warga Wringinrejo," kata Mbah Tarni dengan suara lirih tapi tegas. "Mbah sudah hidup hampir delapan puluh tahun di desa ini. Mbah melihat lahirnya Arga. Mbah melihat lahirnya Sekar. Mbah melihat mereka tumbuh. Mbah tidak pernah melihat tanda-tanda bahwa mereka akan celaka karena pernikahan mereka."
"Gosip yang beredar adalah gosip keji. Gosip yang sengaja disebarkan oleh orang yang iri. Orang yang dengki. Orang yang tidak ingin melihat desa ini damai."
"Mbah tahu siapa yang menyebarkan gosip ini. Tapi Mbah tidak akan menyebut nama. Cukup Tuhan yang tahu. Dan Tuhan tidak tidur."
Bu Sania yang duduk di pojok menunduk.
Wajahnya pucat.
BICARA NISA DAN PAK BONDAN
Laras berdiri.
"Saudara-saudara, saya Nisa. Bukan orang desa ini. Tapi saya sudah merasakan ketulusan Arga dan Sekar. Mereka berjuang melawan ketidakadilan. Mereka berjuang untuk kebebasan. Mereka berjuang untuk cinta."
"Keris yang Arga temukan bukan keris setan. Itu keris pusaka. Keris peninggalan Mbah Lestari. Keris yang digunakan untuk melindungi desa dari kejahatan."
"Dan Jatmika, kakak Arga, sudah tenang. Dia tidak gentayangan. Dia sudah pergi. Dia sudah damai. Gosip bahwa Jatmika gentayangan adalah fitnah keji."
Pak Bondan berdiri.
"Saudara-saudara, saya Pak Bondan. Dari Jogja. Saya kenal Arga sejak dia bekerja di toko saya. Saya tahu dia baik, jujur, dan pekerja keras."
"Saya juga tahu tentang keris ini. Mbah Jayarasa yang cerita. Keris ini adalah pusaka desa Wringinrejo. Keris ini harus dijaga oleh keturunan Mbah Lestari. Dan keturunan itu adalah Arga."
"Jadi, jangan takut. Jangan percaya gosip. Datanglah ke warung pecel Mbok Sekar. Buktikan sendiri bahwa masakannya enak, tidak pakai teluh, tidak bikin kesurupan."
Mereka duduk.
CAMAT MENUTUP
Camat berdiri.
"Saudara-saudara, saya sudah mendengar semua. Saya sudah melihat bukti-bukti. Saya sudah mendengar kesaksian."
"Kesimpulan saya: gosip yang beredar tidak berdasar. Arga dan Sekar tidak punya hubungan darah dekat. Pernikahan mereka sah. Keris itu bukan keris setan. Jatmika sudah tenang."
"Saya minta semua warga berhenti menyebarkan gosip. Kalau tidak berhenti, saya akan tindak tegas. Sesuai hukum."
Camat memandang Bu Sania.
Bu Sania menunduk lebih dalam.
"Baik, rapat selesai. Selamat malam."
SETELAH RAPAT
Warga mulai pulang satu per satu.
Beberapa mendekati Arga dan Sekar, meminta maaf.
"Mas Arga, Mbak Sekar, maaf. Saya percaya gosip."
"Sama-sama. Jangan diulang."
"Tidak akan, Mas."
Bu Sania juga mendekat.
Wajahnya pucat. Matanya sayu.
"Mas Arga, Mbak Sekar, saya... saya minta maaf."
Sekar memandang Bu Sania.
"Kenapa Bu Sania menyebarkan gosip?"
Bu Sania menangis.
"Saya iri. Saya benci. Saya tidak terima suami saya dipecat. Saya tidak terima kalian bahagia sementara kami menderita."
"Tapi, "
"Saya tahu, saya salah. Saya minta maaf."
Sekar memegang tangan Bu Sania.
"Maaf diterima. Tapi jangan diulang."
"Tidak akan. Saya sumpah."
MALAM DI RUMAH
Jam sepuluh malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit cerah.
Bintang-bintang berkerlap-kerlip.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku lega."
"Leganya?"
"Rapat tadi. Warga mulai percaya. Warung besok mungkin ramai lagi."
"Pasti ramai."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kebenaran tidak pernah kalah."
Mereka berpelukan.
Mesra
SASTRO DIAM-DIAM MARAH
Rapat di balai desa yang meluruskan gosip tentang Arga dan Sekar serta keris pusaka memang membawa hasil positif. Warga mulai percaya. Warung pecel Mbok Sekar kembali ramai. Bahkan lebih ramai dari sebelumnya karena banyak warga yang penasaran ingin membuktikan sendiri bahwa masakan Sekar tidak pakai teluh.
Tapi ada satu orang yang tidak hadir dalam rapat itu. Bukan karena tidak diundang. Bukan karena tidak tahu. Tapi karena ia sengaja tidak mau datang.
Sastro.
Ayah Arga.
Laki-laki tua yang selama ini dikenal pendiam, keras, dan jarang menunjukkan emosi. Laki-laki yang lebih banyak diam daripada bicara. Laki-laki yang lebih banyak bekerja daripada mengeluh.
Sastro marah.
Diam-diam.
Marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi anak dan menantunya dari fitnah.
Marah pada istrinya, Sukmawati, karena dianggap terlalu lunak dalam menghadapi Bu Sania.
Marah pada warga desa yang dengan mudah percaya gosip tanpa mencari kebenaran.
Dan yang paling membuatnya marah: Pak Kades.
Laki-laki yang sudah merusak nama baik keluarganya. Laki-laki yang sudah menyuruh preman untuk mengancam. Laki-laki yang masih menyebarkan fitnah meskipun sudah dinonaktifkan.
Sastro diam-diam menyusun rencana.
Bukan rencana kekerasan. Bukan rencana balas dendam. Tapi rencana yang lebih cerdik. Lebih halus. Lebih menusuk.
Ia akan menemui Pak Kades. Sendirian. Tanpa senjata. Tanpa preman. Tanpa amarah.
Ia hanya akan bicara. Dan telinga Pak Kades akan terasa panas mendengar kata-kata Sastro.
PAGI YANG SUNYI
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh, kembali normal seperti sebelum gosip menyebar.
Tapi Sastro tidak pergi ke sawah.
Ia duduk di beranda, memandang ke arah timur, ke arah rumah Pak Kades yang terletak di ujung desa. Matanya tajam. Tangannya menggenggam erat gagang arit, arit yang biasa ia gunakan untuk memotong rumput. Bukan untuk melukai. Tapi untuk keberanian.
"Yah, kok belum ke sawah?" tanya Arga yang baru keluar kamar.
"Yah tidak pergi hari ini."
"Kenapa, Yah? Sakit?"
"Tidak. Ada urusan."
"Urusan apa?"
Sastro memandang Arga.
"Yah mau ke rumah Pak Kades."
Darah Arga berhenti mengalir.
"Sendirian, Yah?"
"Sendirian."
"Yah, jangan. Pak Kades berbahaya."
"Dia tidak berbahaya. Dia pengecut. Pengecut hanya berani lawan orang yang lemah. Sekarang, dia akan berhadapan dengan orang yang tidak takut padanya."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Ayah sudah dewasa. Ayah tahu risiko. Ayah tidak akan membawa senjata. Ayah hanya akan bicara."
Arga memandang ayahnya. Sastro tidak berubah. Wajahnya sama. Tatapannya sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada tekad. Ada keberanian. Ada cinta.
"Baik, Yah. Aku antar."
"Tidak usah."
"Yah, "
"Tidak usah. Ayah bisa sendiri."
Sastro berdiri. Ia meletakkan arit di samping kursi. Ia berjalan ke sumur, membasuh muka, membasuh kaki, membasuh tangan. Ia memakai baju terbaiknya, kemeja putih lengan panjang pemberian Arga saat Lebaran kemarin. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sandal jepit karet yang masih baru.
"Yah, ini," Arga menyerahkan sebuah amplop kecil.
"Apa ini?"
"Uang. Untuk bibi minta tolong jaga rumah."
Sastro menerima amplop itu. Ia memandang Arga lama. Matanya basah. Tapi ia tidak menangis.
"Jaga Ibu. Jaga Sekar. Jaga warung."
"Siap, Yah."
Sastro berjalan.
Langkahnya tegap.
Tidak terburu-buru.
Tidak ragu-ragu.
Ia meninggalkan halaman rumah, melewati warung pecel, melewati pematang sawah, melewati kebun singkong, melewati hutan jati kecil.
Menuju rumah Pak Kades.
DI RUMAH PAK KADES
Rumah Pak Kades terletak di ujung desa, di pinggir hutan, dekat sungai kecil yang airnya keruh. Rumahnya besar, dinding bata, atap genteng, halaman luas ditumbuhi pohon mangga dan rambutan. Pagarnya besi, tinggi, dengan kawat berduri di atasnya.
Sastro berhenti di depan pagar.
Ia tidak mengetuk.
Ia tidak memanggil.
Ia hanya berdiri.
Menunggu.
Tidak lama kemudian, seorang preman keluar dari dalam rumah. Badan besar, berotot, wajah garang, memakai kaos oblong hitam dan celana jeans.
"Ada apa, Pak? Cari siapa?"
"Saya cari Pak Kades."
"Pak Kades tidak terima tamu."
"Bilang Sastro yang datang."
Preman itu mengerutkan kening. "Sastro? Ayah Arga?"
"Iya."
Preman itu masuk ke dalam rumah.
Beberapa menit kemudian, Pak Kades keluar.
Wajahnya pucat. Matanya sayu. Rambutnya mulai beruban, meskipun usianya baru lima puluh tahun.
"Sastro? Ada apa?"
"Saya mau bicara."
"Bicara apa?"
"Bicara di dalam. Tidak sopan bicara di pagar."
Pak Kades ragu. "Sendirian?"
"Sendirian. Tidak bawa senjata."
Pak Kades membuka pagar.
Sastro masuk.
Mereka duduk di teras rumah.
SASTRO BICARA
Sastro tidak basa-basi.
"Pak Kades, saya tidak suka basa-basi. Saya orang desa. Saya petani. Saya tidak punya mobil mewah. Saya tidak punya rumah besar. Saya tidak punya preman. Tapi saya punya anak. Saya punya menantu. Saya punya keluarga."
Pak Kades diam.
"Saya dengar Bapak menyebarkan fitnah tentang anak dan menantu saya. Tentang pernikahan mereka. Tentang keris. Tentang Jatmika."
"Itu bukan fitnah. Itu fakta."
"Fakta menurut siapa?"
"Menurut saya. Menurut warga yang percaya pada saya."
"Warga yang Bapak bayar? Warga yang Bapak takut? Warga yang Bapak tipu?"
Pak Kades berubah muka.
"Sastro, bicara baik-baik."
"Ini sudah baik. Kalau tidak baik, saya bawa parang."
Pak Kades mundur selangkah.
"Jangan, "
"Saya tidak akan memukul Bapak. Saya hanya ingin Bapak tahu satu hal."
"Apa?"
"Keluarga saya bukan keluarga yang Bapak bisa main-main. Arga sudah membuktikan itu. Dia melawan preman Ferry. Dia melawan Ferry sendiri. Dia selamat. Ferry masuk penjara. Dan Bapak? Bapak hanya kepala desa kecil. Tidak punya uang sebanyak Ferry. Tidak punya kuasa sebesar Ferry. Bapak hanya punya mulut busuk."
Pak Kades mengepalkan tangan.
"Sastro, "
"Lepaskan. Bapak tidak bisa apa-apa. Bapak sudah dinonaktifkan. Bapak tidak punya kekuasaan. Bapak tidak punya preman yang setia, mereka hanya datang karena uang."
Pak Kades terdiam.
"Dan satu hal lagi, Pak Kades."
"Apa?"
Sastro berdiri.
Ia mendekati Pak Kades.
Berjarak satu meter.
"Jika Bapak berani menyakiti keluarga saya lagi, istri saya, anak saya, menantu saya, siapa pun, saya tidak akan segan-segan melaporkan Bapak ke polisi. Bukan polisi desa. Bukan polisi kecamatan. Tapi polisi propinsi. Saya punya kontak. Dari teman Arga."
"Kamu, "
"Saya serius. Saya sudah tua. Saya tidak takut mati. Saya hanya takut anak dan istri saya celaka karena ulah Bapak."
Pak Kades tidak bisa berkata apa-apa.
"Selamat pagi, Pak Kades."
Sastro berbalik.
Ia berjalan ke pagar.
Membukanya.
Keluar.
Tidak menoleh.
Langkahnya tegap.
Tidak terburu-buru.
Tidak ragu-ragu.
PULANG KE RUMAH
Jam dua belas siang, Sastro tiba di rumah.
Sukmawati sudah menunggu di halaman. Matanya basah.
"Mas, kamu baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja."
"Pak Kades?"
"Dia diam. Tidak berani."
"Kamu tidak memukulnya?"
"Saya tidak bawa senjata."
"Syukurlah."
Sastro masuk ke rumah.
Ia duduk di kursi bambu favoritnya.
Sukmawati menyuguhkan kopi hitam.
"Minum, Mas. Istirahat."
"Terima kasih, Bu."
Arga dan Sekar masuk.
"Yah, bagaimana?" tanya Arga.
"Baik. Pak Kades tidak berani macam-macam."
"Ayah hebat."
"Ayah tidak hebat. Ayah hanya ingin melindungi keluarga."
Arga memeluk ayahnya.
"Terima kasih, Yah."
"Jangan berterima kasih. Tugas ayah."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Bapakmu hebat."
"Iya. Dia pendiam. Tapi dia berani."
"Aku ingin anak kita kelak seperti Bapakmu."
"Seperti apa?"
"Pendiam. Tapi berani. Tidak banyak bicara. Tapi bertindak."
Arga tersenyum.
"Amin."
Mereka berpelukan.
Mesra
RATRI MELAWAN
Seminggu setelah Sastro mengunjungi Pak Kades dan membuatnya tidak berkutik, desa Wringinrejo memasuki babak baru dalam konflik kekuasaan. Pak Kades memang sudah dinonaktifkan, tapi pengaruhnya masih terasa. Preman-preman bayarannya masih berkeliaran, meskipun tidak seaktif dulu. Pendukung-pendukungnya masih menyebarkan fitnah, meskipun tidak segencar dulu. Dan yang paling mengganggu: jabatan Kepala Desa masih belum diisi sementara, sehingga banyak urusan administrasi desa terbengkalai.
Camat sudah menginstruksikan agar dipilih Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa dari kalangan perangkat desa yang ada. Dan nama yang paling menonjol, yang paling berani, paling bersih, paling tegas adalah Ratri.
Ratri, sahabat Arga sejak kecil. Ratri, perangkat desa yang baru menjabat beberapa bulan. Ratri, perempuan muda yang berani bersaksi di depan camat dan melawan Pak Kades.
Ratri, yang kini harus memilih antara keselamatan pribadi dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Ratri tidak ragu. Ia akan menerima.
Ia akan melawan.
Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan fitnah. Tapi dengan kerja keras. Dengan keteladanan. Dengan kebersihan hati.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh, seperti biasa.
Ratri duduk di kursi kayu di depan warung. Ia tidak makan. Ia hanya minum teh jahe hangat. Matanya kosong memandang ke arah balai desa yang terletak di tengah desa.
"Rat, kamu kenapa? Kok tidak makan?" tanya Sekar.
"Aku tidak laper, Mbak."
"Kamu galau?"
"Sedikit."
"Galau kenapa?"
Ratri menghela napas.
"Camat bilang, aku diusulkan jadi Pjs Kepala Desa."
Sekar terkejut. "Apa?"
"Iya. Tadi pagi aku dapat telepon."
"Kamu mau?"
"Aku bingung, Mbak. Aku masih muda. Aku hanya perangkat desa. Aku tidak punya pengalaman. Aku takut gagal."
"Kamu tidak akan gagal."
"Kok Mbak yakin?"
"Karena kamu berani. Kamu sudah membuktikan itu. Kamu berani melawan Pak Kades. Kamu berani bersaksi. Kamu berani menjadi saksi. Itu modal yang lebih berharga dari pengalaman."
Ratri tersenyum.
"Terima kasih, Mbak."
"Jangan berterima kasih. Itu kenyataan."
ARGA BICARA
Jam delapan pagi, Arga pulang dari sawah.
Ia tidak bekerja lama karena ingin mendampingi Ratri. Sejak mendengar kabar bahwa Ratri diusulkan menjadi Pjs, ia tidak bisa berkonsentrasi.
"Rat," panggil Arga sambil duduk di samping Ratri.
"Mas Arga."
"Aku dengar kabarnya. Kamu mau?"
Ratri menghela napas.
"Aku tidak tahu, Mas. Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut gagal. Takut tidak bisa. Takut warga kecewa."
"Ratri, dengar."
Ratri memandang Arga.
"Kamu sudah membuktikan bahwa kamu berani. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu bersih. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu peduli. Itu lebih dari cukup. Selebihnya, kamu belajar. Setiap hari. Setiap saat. Tidak ada pemimpin yang lahir langsung pintar."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Terima. Kami semua dukung."
Ratri tersenyum. Matanya basah.
GUNTUR DAN LARAS BICARA
Jam sepuluh pagi, Guntur dan Laras datang.
Mereka sudah mendengar kabar dari Sekar.
"Ratri, selamat," kata Guntur.
"Belum resmi, Mas."
"Bakal resmi. Camat sudah menyetujui. Tinggal pelantikan."
"Kapan?"
"Minggu depan."
"Wah, cepat sekali."
"Karena desa butuh pemimpin. Desa butuh orang yang berani. Dan kamu orangnya."
Ratri tersenyum malu.
"Mas Guntur, pesan untuk saya?"
Guntur memandang Ratri.
"Jadilah pemimpin yang melayani, bukan dilayani. Jadilah pemimpin yang mendengar, bukan didengar. Jadilah pemimpin yang bekerja untuk rakyat, bukan untuk kekuasaan."
"Siap, Mas."
Laras menambahkan, "Ratri, jaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri. Pemimpin yang sakit tidak bisa bekerja."
"Siap, Mbak."
"Dan jangan lupa bahagia. Pemimpin yang stres akan membuat bawahannya stres."
Mereka tertawa.
RATRI MENERIMA
Jam dua belas siang, Ratri pergi ke balai desa.
Ia ditemani Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro.
Camat sudah menunggu di ruang rapat.
"Ratri, selamat," kata Camat.
"Terima kasih, Pak."
"Kamu siap?"
"Siap, Pak."
"Kamu tidak takut?"
"Takut, Pak. Tapi saya akan belajar."
"Bagus. Itu jawaban pemimpin sejati."
Camat membacakan surat keputusan.
Isinya: Ratri diangkat menjadi Pejabat Sementara Kepala Desa Wringinrejo, mulai hari ini, sampai ada pemilihan kepala desa baru.
"Selamat bekerja, Bu Lurah," kata Camat.
Ratri terkesiap.
"Bu Lurah?"
"Iya. Kamu sekarang Bu Lurah. Panggilan yang pantas untukmu."
Ratri menangis.
Arga memeluknya.
"Selamat, Rat."
"Terima kasih, Mas."
SAMBUTAN WARGA
Jam satu siang, Ratri keluar dari balai desa.
Warga sudah berkerumun di halaman.
Mbah Tarni berdiri di depan, memegang keranjang anyaman berisi bunga melati.
"Nduk," panggil Mbah Tarni.
"Ya, Mbah."
"Mbah bangga sama kamu. Kamu perempuan desa. Kamu berani. Kamu pantas."
"Terima kasih, Mbah."
Mbah Tarni menaburkan bunga melati ke atas kepala Ratri.
"Semoga desa ini tentram. Semoga desa ini makmur. Semoga desa ini bahagia di bawah kepemimpinanmu."
Warga bertepuk tangan.
Bu Sania, istri Pak Kades, datang dari belakang. Wajahnya masih pucat. Matanya sayu.
"Ratri," panggilnya.
Ratri menoleh.
"Saya... saya minta maaf. Untuk semua fitnah yang saya sebarkan. Untuk semua kebencian yang saya tebarkan."
Ratri memandang Bu Sania lama.
"Maaf diterima, Bu. Tapi jangan diulang."
"Tidak akan. Saya sumpah."
Bu Sania menangis.
Ratri memeluknya.
Warga terharu.
MALAM DI BALAI DESA
Jam tujuh malam, Ratri mengadakan rapat pertamanya sebagai Pjs.
Ia duduk di kursi yang dulu diduduki Pak Kades.
Wajahnya tegang.
Tangannya gemetar.
Tapi suaranya tegas.
"Saudara-saudara, saya Ratri. Mulai hari ini, saya akan menjabat sebagai Pejabat Sementara Kepala Desa."
"Tugas saya: memastikan administrasi desa berjalan dengan baik, memastikan keamanan desa terjaga, memastikan ketentraman warga terpenuhi."
"Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya butuh bantuan semua. Saya butuh kritik. Saya butuh saran. Saya butuh dukungan."
"Mari kita bangun desa ini bersama. Tanpa korupsi. Tanpa nepotisme. Tanpa fitnah."
"Bisa?"
"BISA!" teriak warga.
ARGA DAN SEKAR BICARA
Jam sembilan malam, setelah rapat selesai, Arga dan Sekar berjalan pulang.
Langit penuh bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku bangga pada Ratri."
"Aku juga."
"Dia masih muda. Tapi dia berani."
"Karena dia punya kita."
"Kita?"
"Iya. Dukungan kita. Doa kita. Kepercayaan kita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Kita harus terus mendukungnya."
"Selamanya."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan.
Mesra
BAB 7
KEDATANGAN FARUQ DAN NISA
Tiga hari setelah Ratri resmi dilantik menjadi Pejabat Sementara Kepala Desa Wringinrejo, suasana di desa itu berubah. Bukan perubahan besar yang terlihat dari luar. Sawah masih hijau menguning. Burung-burung pipit masih beterbangan. Angin masih berembus sepoi-sepoi. Warung pecel Mbok Sekar masih ramai setiap pagi.
Tapi ada yang berbeda di dalam balai desa.
Ratri, kini dipanggil Bu Lurah oleh warga, bekerja tanpa kenal lelah. Setiap pagi ia datang lebih awal. Setiap siang ia melayani warga dengan sabar. Setiap malam ia memeriksa laporan-laporan yang masuk. Ia tidak tidur nyenyak karena pikirannya penuh dengan tanggung jawab.
Tapi ia tidak sendiri.
Arga, Sekar, Guntur, Laras, Dimas, Pak Bondan, Samsul, Sukmawati, dan Sastro, semua membantu. Ada yang membantu administrasi. Ada yang membantu keamanan. Ada yang membantu memberikan semangat.
Dan hari ini, dua orang yang paling dinantikan akhirnya datang.
Faruq dan Nisa.
Mereka datang dari Jogja, membawa kabar penting tentang petisi yang sudah mereka sebarkan ke berbagai media dan lembaga. Tapi bukan hanya kabar petisi yang mereka bawa. Mereka juga membawa rencana baru. Rencana yang akan mengubah hidup banyak orang. Rencana yang akan membuat Arga dan Sekar terkejut. Rencana yang akan membuat Guntur dan Laras bahagia.
Dan rencana yang akan membuat Pak Kades semakin panas.
PAGI YANG CERAH
Hari Kamis, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah ramai sejak pukul setengah tujuh, seperti biasa.
Sekar sibuk melayani pelanggan. Sukmawati membantu mencuci piring. Ratri—yang pagi itu tidak ke balai desa karena ingin menyambut kedatangan Faruq dan Nisa—ikut membantu mengantar pesanan.
"Mbak Sekar, pecel satu, bungkus!" teriak Bu Sri dari meja depan.
"Siap, Bu!"
"Sama es teh manisnya satu."
"Siap, Bu!"
Sekar bekerja dengan cepat dan rapi. Tangannya lincah menyiangi sayuran, menggoreng tempe dan tahu, meracik bumbu pecel. Wajahnya segar, matanya berbinar, bukan karena kepalsuan, tapi karena kebahagiaan.
"Mbak Ratri, aku dengar Faruq dan Nisa datang hari ini?" tanya Bu Parti.
"Iya, Bu. Mereka sudah di jalan."
"Wah, seru. Bawa kabar apa?"
"Entahlah, Bu. Yang jelas, mereka pasti membawa kejutan."
"Kejutan baik atau buruk?"
"Mudah-mudahan baik."
FARUQ DAN NISA TIBA
Jam setengah sembilan, sebuah mobil sewaan masuk ke halaman rumah.
Faruq turun lebih dulu. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya lelah karena perjalanan. Bajunya kusut. Ia menguap.
"NISA, CEPET!" teriaknya.
"Nanti, Faruq. Saya ambil koper."
Faruq masuk ke halaman. Ia memeluk Arga.
"Mas Arga! Saya kangen!"
"Saya juga, Faruq."
"Desanya masih sama? Sawahnya? Sungainya?"
"Masih sama. Yang berubah mungkin warung pecel. Sekarang lebih besar."
"Wah, enak. Saya laper."
Sekar yang mendengar dari warung langsung menyiapkan pecel untuk Faruq.
"Ini, Faruq. Makan."
"Terima kasih, Mbak Sekar."
Faruq makan dengan lahap. Sesekali ia mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju.
Nisa masuk dengan dua koper besar.
"Mas Arga, tolong angkat."
"Siap, Mbak."
Arga mengangkat koper itu ke dalam rumah.
KABAR DARI JOGJA
Setelah semua duduk di ruang tengah, Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro, Faruq mulai bicara.
"Jadi, gini, Mas. Kami sudah sebarkan petisi ke berbagai media. Ke Kompas. Ke Tempo. Ke Jawa Pos. Ke TV One. Ke Metro TV. Ke CNN Indonesia. Ke BBC Indonesia. Semua. Mereka tertarik."
"Tertarik?" tanya Arga.
"Iya. Mereka akan meliput kasus Pak Kades. Termasuk pengrusakan warung, pemerasan, dan penyewaan preman."
"Kapan?"
"Minggu depan."
"Wah, cepat sekali."
"Karena desakan publik. Banyak yang simpati pada Mas Arga dan Mbak Sekar."
Arga menghela napas. "Aku tidak menyangka."
"Kenapa?"
"Karena aku hanya orang desa. Tidak penting."
"Kamu penting, Mas. Perjuanganmu penting. Kebenaran yang kamu perjuangkan penting."
Arga tersenyum. "Terima kasih, Faruq."
"Jangan berterima kasih. Kami teman."
KEJUTAN DARI FARUQ DAN NISA
Setelah bicara tentang petisi, Faruq dan Nisa saling pandang.
"Mas Arga," kata Faruq.
"Iya."
"Kami juga punya kabar pribadi."
"Kabar apa?"
Faruq menggenggam tangan Nisa.
"Kami... akan menikah."
Ruangan hening.
Semua terkejut.
Faruq dan Nisa? Yang dulu sering bertengkar? Yang dulu sering berbeda pendapat? Yang dulu saling ledek?
"Serius?" tanya Guntur.
"Serius. Kami sudah lamaran. Orang tua sudah setuju. Tinggal akad."
"Kapan?"
"Bulan depan. Di Jogja. Kami ingin kalian semua datang."
"Pasti datang," kata Arga.
"Kami tidak akan datang," kata Dimas pura-pura.
"Lho?"
"Bercanda. Pasti datang."
Mereka tertawa.
REAKSI GUNTUR DAN LARAS
Guntur berdiri. Ia memeluk Faruq.
"Selamat, Le. Kamu pantas bahagia."
"Terima kasih, Mas."
"Aku tidak menyangka kamu bisa dapetin Nisa."
"Kenapa?"
"Karena kamu cerewet. Nisa itu kalem. Beda banget."
"Itu namanya melengkapi, Mas. Bukan beda."
"Maksudmu?"
"Orang yang beda justru saling melengkapi. Seperti Mas Guntur dan Mbak Laras. Mas sinis. Mbak Laras penuh perasaan. Tapi kalian cocok."
Guntur tersenyum. "Kamu benar, Faruq."
Laras memeluk Nisa.
"Selamat, Nisa. Aku ikut bahagia."
"Terima kasih, Mbak."
"Jangan sampai Faruq nakal."
"Nakal bagaimana?"
"Main mata sama perempuan lain."
"Kalau itu, saya jamin tidak. Dia sibuk ngurusin pasien. Tidak punya waktu untuk main mata."
Mereka tertawa.
REAKSI ARGA DAN SEKAR
Arga memeluk Faruq. Sekar memeluk Nisa.
"Faruq, kamu hebat," kata Arga.
"Aku tidak hebat, Mas. Aku hanya beruntung."
"Beruntung?"
"Iya. Beruntung Nisa mau sama saya."
Nisa yang mendengar dari samping langsung menyahut.
"Jangan sok merendah, Faruq. Kamu juga baik."
"Terima kasih, Sayang."
"Jangan panggil sayang di depan umum."
"Kenapa?"
"Malu."
Mereka tertawa.
Arga memandang Sekar. Sekar tersenyum.
"Mas," bisik Sekar.
"Iya."
"Aku ingin kita bisa seperti mereka."
"Seperti apa?"
"Bahagia. Sederhana. Tanpa beban."
"Kita sudah, Sekar. Kita sudah bahagia. Kita sudah sederhana. Kita sudah tanpa beban. Hanya saja, kadang kita lupa."
"Kamu benar."
Mereka berpelukan.
Mesra.
REAKSI SASTRO DAN SUKMAWATI
Sastro yang duduk di kursi bambu ikut bicara.
"Faruq, Nisa. Selamat. Semoga langgeng."
"Terima kasih, Pakdhe."
"Jangan lupa undang saya."
"Tentu, Pakdhe. Bapak jadi tamu kehormatan."
"Bagus."
Sukmawati menangis.
"Bu, kenapa nangis?" tanya Sekar.
"Ibu senang. Ibu senang melihat kalian semua bahagia. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya... akhirnya..."
"Ibu, jangan nangis. Nanti malu."
"Biar. Ibu sudah tua. Tidak perlu malu."
Mereka semua tersenyum.
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang ikut hadir angkat bicara.
"Faruq, Nisa. Saya juga ikut senang. Kalian berdua pantas bahagia."
"Terima kasih, Pak Bondan."
"Nanti kalau sudah menikah, jangan lupa beli perabot di toko saya."
"Wah, promosi."
"Iya. Namanya juga pedagang."
Mereka tertawa.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, semua berkumpul di halaman.
Makan malam bersama.
Nasi tumpeng buatan Sukmawati. Ayam ingkung. Sayur lodeh. Sambal goreng. Kerupuk.
"Makan, jangan pada lapar," kata Sukmawati.
"Matur nuwun, Bu," kata Faruq.
"Sama-sama."
Mereka makan dengan lahap. Tertawa. Bercerita. Bernostalgia tentang masa-masa sulit yang telah mereka lalui bersama.
"Guntur, ingatkah kau waktu kita demo di depan rumah Ferry?" tanya Faruq.
"Ingat. Kau hampir dipukul preman."
"Tapi selamat."
"Karena Nisa yang tarik."
"Benar. Nisa berani."
"Aku juga berani," kata Faruq.
"Kamu berani kabur."
"Bukan kabur. Menghindar."
"Sama saja."
Mereka tertawa lagi.
MALAM DI KAMAR
Jam sepuluh malam, semua pulang.
Faruq dan Nisa menginap di rumah Mbah Jayarasa, yang sudah disulap menjadi penginapan sederhana untuk tamu.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku senang."
"Senang kenapa?"
"Karena Faruq dan Nisa datang. Karena mereka akan menikah. Karena kita semua bisa berkumpul seperti ini."
"Seperti keluarga?"
"Iya. Seperti keluarga."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Kita memang keluarga, Sekar. Bukan karena darah. Tapi karena perjuangan."
Karena cinta?"
"Karena cinta."
Mereka berpelukan.
FARUQ KENA BATUNYA
Kedatangan Faruq dan Nisa ke desa Wringinrejo membawa angin segar bagi Arga dan timnya. Faruq yang humoris, cerewet, dan kadang kekanakan berhasil mencairkan suasana yang sempat tegang akibat konflik dengan Pak Kades. Nisa yang kalem, tegas, dan penuh ide memberikan kontribusi nyata dalam mengatur strategi menghadapi tekanan dari pihak musuh.
Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Faruq, dengan mulutnya yang tidak pernah bisa diam, akhirnya kena batunya. Ia terlibat konflik dengan salah satu preman bayaran Pak Kades yang masih berkeliaran di desa. Bukan konflik fisik yang besar. Bukan perkelahian yang merusak. Tapi adu mulut yang berakhir dengan ancaman.
Faruq, yang tidak tahu diri, menantang preman itu, "Ayo, kalau berani, coba pukul saya! Saya tidak takut!"
Preman itu tidak terima. Ia memukul Faruq.
Sekali.
Tepat di pelipis.
Faruq jatuh.
Darah mengucur.
Nisa berteriak.
Arga yang mendengar suara teriakan berlari ke lokasi.
Preman itu sudah kabur.
Faruq terbaring di tanah dengan pelipis berdarah dan mata setengah terbuka.
"FARUQ!" teriak Arga.
Faruq mengerang.
"Mas Arga... sakit..."
"Tahan. Aku panggil dokter."
PAGI YANG CERAH
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh, seperti biasa.
Tapi Faruq tidak ikut sarapan.
Ia masih di kamar, ditemani Nisa yang menempelkan es batu di pelipisnya yang bengkak.
"Faruq, kenapa kamu berantem?" tanya Nisa.
"Aku tidak berantem. Aku cuma bicara."
"Bicara apa?"
"Aku bilang, 'Preman kismin, muka sampah, kerjaannya cuma nyusahin orang.'"
Nisa menghela napas.
"Ya sudah. Itu tantangan."
"Bukan tantangan. Fakta."
"Tapi dia mukul kamu."
"Itu artinya dia tidak terima fakta."
Nisa tidak bisa menahan senyum.
"Kamu ini. Sudah dipukul masih bisa bercanda."
"Memangnya mau nangis? Nangis tidak menyelesaikan masalah."
Faruq benar.
Nangis tidak menyelesaikan masalah.
Tapi luka di pelipisnya harus segera diobati.
ARGA DATANG
Arga masuk ke kamar.
"Faruq, bagaimana?"
"Sakit, Mas. Tapi tidak parah. Hanya luka luar."
"Tapi banyak darah."
"Itu karena pelipis memang mudah berdarah. Bukan berarti lukanya parah."
"Kamu yakin?"
"Aku calon dokter, Mas. Aku tahu."
Arga menghela napas.
"Kita lapor polisi."
"Tidak usah, Mas. Nanti repot."
"Tapi, "
"Preman itu tidak akan kembali. Dia cuma takut. Begitu tahu lapor polisi, dia kabur."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin, Mas. Aku sudah sering mengalami."
Arga memandang Faruq.
Laki-laki di depannya ini, yang dulu membuatnya tertawa, yang dulu membantu mencari Sekar, yang dulu menjadi saksi di persidangan Ferry, kini terbaring dengan pelipis luka.
"Baik. Kalau kamu yakin."
"Terima kasih, Mas."
GUNTUR DATANG
Guntur masuk ke kamar.
Wajahnya tegang.
"Faruq, kenapa kamu ceroboh?"
"Aku tidak ceroboh. Aku hanya jujur."
"Jujur tidak harus dengan cara menghina."
"Tapi, "
"Faruq, di desa ini berbeda dengan di kota. Di kota, orang mungkin menganggap omonganmu bercanda. Di desa, orang mudah tersinggung. Apalagi preman. Mereka tidak punya pekerjaan yang baik. Mereka tidak punya pendidikan yang cukup. Mereka mudah marah."
Faruq terdiam.
"Maaf, Mas Guntur."
"Jangan maaf ke saya. Maaf ke Nisa. Dia yang paling khawatir."
Faruq memandang Nisa.
"Maaf, Nis."
"Maaf diterima. Tapi jangan diulang."
"Tidak akan."
MBAH TARNI DATANG
Mbah Tarni datang ke rumah Arga setelah mendengar kabar bahwa Faruq dipukul.
"Le, Faruq," panggilnya.
"Iya, Mbah."
"Coba Mbah lihat."
Mbah Tarni memeriksa pelipis Faruq dengan teliti.
"Tidak parah. Hanya luka luar. Tapi harus tetap diobati. Jangan sampai infeksi."
"Baik, Mbah."
Mbah Tarni mengeluarkan ramuan dari keranjangnya. Daun sirih, kunyit, kapur sirih, dan sedikit minyak kayu putih. Ditumbuknya. Ditempelkan di pelipis Faruq.
"Wah, dingin," kata Faruq.
"Biar. Dingin itu baik. Menghentikan pendarahan."
"Terima kasih, Mbah."
"Jangan berterima kasih. Jaga diri. Jangan cari masalah."
"Siap, Mbah."
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang ikut datang angkat bicara.
"Faruq, saya dengar kamu dipukul preman."
"Iya, Pak."
"Lapor polisi."
"Tidak usah, Pak."
"Kenapa?"
"Ribet. Nanti proses hukumnya lama. Saya cuma luka kecil."
"Tapi, "
"Dan preman itu cuma preman kecil. Tidak perlu dibesar-besarkan."
Pak Bondan menghela napas.
"Kamu memang beda, Faruq."
"Beda bagaimana?"
"Orang lain kalau dipukul, pasti lapor polisi. Kamu malah santai."
"Karena saya percaya pada karma. Suatu hari, preman itu akan dapat balasan. Tidak perlu saya yang membalas."
"Kamu bijak, Faruq."
"Aku tidak bijak. Aku hanya malas repot."
Mereka tertawa.
SAMSUL BICARA
Samsul yang ikut datang angkat bicara.
"Faruq, saya kenal preman itu."
"Serius?"
"Iya. Namanya Bakri. Anak buah Pak Kades. Suka mabuk. Suka berantem. Suka cari masalah."
"Di mana dia tinggal?"
"Di kampung sebelah. Dekat sungai."
"Kampung mana?"
"Sungai Opak. Daerah perbatasan."
"Jauh?"
"Lumayan. Satu jam jalan kaki."
"Jangan cari dia, Faruq," kata Arga.
"Aku tidak akan cari, Mas. Aku hanya penasaran."
"Penasaran boleh. Tapi jangan cari masalah."
"Siap, Mas."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Faruq baik-baik saja?"
"Iya. Lukanya tidak parah."
"Untung."
"Kenapa?"
"Kalau parah, bisa repot."
"Repot bagaimana?"
"Rawat di rumah sakit. Biaya mahal."
Arga tersenyum.
"Kamu pelit."
"Aku tidak pelit. Aku realistis."
Mereka terdiam.
"Mas."
"Iya."
"Aku khawatir."
"Khawatir apa?"
"Khawatir preman itu datang lagi. Khawatir dia balas dendam."
"Tidak akan. Dia sudah kabur. Dia takut."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena dia pengecut. Pengecut hanya berani lawan orang yang lemah. Sekarang dia tahu kita tidak lemah."
Sekar memeluk Arga.
"Semoga."
BAB 8
MISTERI PEREMPUAN TUA
Seminggu setelah Faruq dipukul preman bayaran Pak Kades, suasana di desa Wringinrejo perlahan kembali tenang. Faruq sudah sembuh, luka di pelipisnya hanya meninggalkan bekas kecil yang tidak terlalu terlihat. Nisa sudah tidak terlalu khawatir. Tim mulai fokus kembali pada tugas utama mereka: mengungkap misteri Mbah Lestari, nenek buyut Arga, yang hilang puluhan tahun lalu.
Tapi misteri itu tidak mudah dipecahkan.
Setiap kali Arga mendekati kebenaran, ada saja halangan. Setiap kali ia bertanya pada warga desa tentang Mbah Lestari, mereka hanya bisa menggeleng. Setiap kali ia mencari petunjuk baru dari peta usang Mbah Jayarasa atau kotak kayu peninggalan Mbah Raras, ia hanya menemui jalan buntu.
Hingga suatu malam, ketika Arga sedang duduk sendirian di beranda, seorang perempuan tua muncul di halaman rumahnya.
Perempuan itu bukan Mbah Tarni. Bukan Sukmawati. Bukan warga desa yang ia kenal.
Perempuan itu adalah Mbah Lestari.
Arwahnya.
Datang untuk menyelesaikan misteri yang selama ini menggantung.
MALAM YANG SUNYI
Jam sembilan malam, Arga duduk sendirian di beranda. Sekar sudah tidur lebih awal karena kelelahan melayani pelanggan warung seharian. Sukmawati dan Sastro juga sudah tidur. Rumah sunyi. Hanya suara jangkrik dan suara angin yang berembus di antara daun-daun pisang.
Arga menyesap teh jahe hangat. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ke tanah warisan. Ke batu hitam. Ke keris. Ke Jatmika. Ke Mbah Lestari.
"Masih belum tidur, Le?"
Arga menoleh.
Di halaman depan, seorang perempuan tua berdiri.
Rambutnya putih semua, panjang sebahu. Wajahnya keriput, penuh garis-garis usia. Matanya sayu, tapi tajam. Ia memakai kebaya putih lengan panjang dan kain jarik batik. Di tangannya, tongkat kayu dengan ukiran naga.
"Siapa?" tanya Arga, tidak takut.
Perempuan itu tersenyum.
"Aku Mbah Lestari. Nenek buyutmu."
Arga terkesiap. "Mbah Lestari? Tapi Mbah sudah—"
"Mati? Iya. Aku sudah mati puluhan tahun lalu. Tapi aku belum tenang. Karena tugas aku belum selesai."
"Apa tugas Mbah?"
Mbah Lestari berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tidak bersuara, kakinya tidak menyentuh tanah.
"Aku harus memberitahumu tentang rahasia terakhir. Tentang mengapa kau lahir di bawah kilat tanpa suara. Tentang mengapa kau bisa melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat dan didengar orang lain. Tentang mengapa kau harus mengambil keris itu."
"Lalu?"
Mbah Lestari duduk di kursi kayu di samping Arga.
"Dengar baik-baik, Le. Karena ini penting. Karena ini akan mengubah hidupmu."
KISAH MBAH LESTARI
"Dulu, ketika aku masih muda, desa ini sering diteror oleh makhluk halus. Bukan yang jahat. Tapi yang tersesat. Mereka tidak bisa pergi ke alam baka karena dendam, karena cinta, karena rindu. Mereka gentayangan. Mereka mengganggu warga. Mereka membuat desa tidak tenang."
"Aku punya kemampuan melihat dan mendengar mereka. Aku juga punya kemampuan mengusir mereka. Tapi tidak semua. Ada yang harus dipulangkan dengan cara yang lembut. Dengan cara yang penuh kasih."
"Aku menikah dengan kakek Arga. Kakekmu. Kami punya anak. Anak itu punya anak. Anak itu punya Arga. Keturunan yang mewarisi kemampuanku."
"Tapi suatu hari, aku sakit. Sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dukun atau dokter. Sakit karena terlalu banyak berurusan dengan makhluk halus. Energiku habis. Jiwaku terkuras. Aku tahu, umurku tidak lama lagi."
"Aku memilih menghilang. Bukan karena tidak sayang keluarga. Tapi karena tidak ingin keluarga melihatku mati perlahan. Aku pergi ke gua dekat batu hitam. Aku bersemedi. Aku berdoa. Aku memohon pada Tuhan agar kemampuanku tidak punah. Agar ada keturunan yang bisa melanjutkan tugasku."
"Tuhan mengabulkan. Arga lahir. Dengan tanda kilat tanpa suara. Dengan kemampuan yang sama denganku."
"Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" tanya Arga.
"Kau harus menggunakan kemampuan itu untuk kebaikan. Bukan untuk kejahatan. Bukan untuk kekayaan. Bukan untuk kekuasaan. Tapi untuk menolong. Untuk melindungi. Untuk menciptakan kedamaian."
"Hingga kapan?"
"Hingga kau menemukan penggantimu. Hingga ada keturunan yang mewarisi kemampuanmu. Hingga tugasmu selesai."
MAKAM MBAH LESTARI
"Lalu di mana makam Mbah?" tanya Arga.
Mbah Lestari tersenyum.
"Aku tidak punya makam, Le. Aku menghilang. Aku tidak meninggal di desa. Aku meninggal di dalam gua. Di tempat yang sama di mana kau menemukan keris."
"Gua dekat batu hitam?"
"Iya. Di ujung gua, di balik batu besar, ada kerangkaku. Masih utuh. Tidak lapuk. Tidak dimakan tanah. Karena aku sengaja mengubah tubuhku menjadi batu."
"Batu?"
"Iya. Batu kecil. Hitam. Tidak mencolok. Letakkan di samping makam Mbah Raras. Itu sudah cukup."
"Kenapa di samping makam Mbah Raras?"
"Karena dia saudara kembarku. Aku ingin bersamanya. Biarpun dalam kematian."
Air mata Arga jatuh.
"Baik, Mbah. Aku akan lakukan."
"Terima kasih, Le. Aku tenang sekarang. Aku bisa pergi. Aku bisa menemui Raras di alam sana."
MBAH LESTARI PERGI
Mbah Lestari berdiri.
Ia memandang Arga lama.
"Le, pesan terakhir."
"Siap, Mbah."
"Jagalah keluarga. Jagalah desa. Jagalah keris. Jagalah kemampuanmu. Gunakan untuk kebaikan. Jangan sampai disalahgunakan."
"Iya, Mbah."
"Dan jangan lupa, Jatmika sudah pergi. Dia tenang. Dia tidak perlu dirisaukan lagi. Fokuslah pada hidupmu. Pada Sekar. Pada anakmu kelak."
Arga tersenyum.
"Akan saya lakukan, Mbah."
Mbah Lestari tersenyum.
Cahaya putih menyelimuti tubuhnya.
Perlahan, ia menghilang.
Meninggalkan harum melati.
Meninggalkan ketenangan.
Meninggalkan Arga yang termenung di beranda.
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, Arga terbangun lebih awal dari biasanya.
Ia langsung ke kamar mandi, membasuh muka, membasuh kaki, membasuh tangan.
Ia keluar rumah.
Sekar sudah bangun dan sibuk di warung.
"Mas, mau ke mana? Belum sarapan."
"Nanti. Aku ke tanah warisan dulu."
"Sendirian?"
"Sendirian."
"Jangan lama."
"Iya."
Arga berjalan cepat menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil.
Matahari baru naik setinggi pohon kelapa.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan padi.
DI GUA
Arga sampai di tanah warisan.
Ia masuk ke gua.
Gelap.
Sangat gelap.
Udara dingin, lembab.
Ia menyalakan senter.
Berkas cahaya menerangi dinding gua yang berbatu, penuh lumut, air menetes dari langit-langit.
Arga berjalan perlahan.
Setiap langkah terasa berat.
Setiap suara membuat jantungnya berdebar.
Ia sampai di ujung gua.
Di balik batu besar, ia melihat sebuah batu kecil hitam.
Batu itu tidak mencolok.
Tapi batu itu mengeluarkan cahaya samar.
Cahaya biru.
Cahaya yang sama dengan cahaya dari keris.
Arga mengambil batu itu.
Dingin.
Sangat dingin.
Tapi di balik dingin itu, ada kehangatan.
Kehangatan Mbah Lestari.
KEMBALI KE RUMAH
Jam sembilan pagi, Arga pulang.
Ia langsung ke makam Mbah Raras di Bukit Watu Senja.
Ditemani Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro.
Arga meletakkan batu hitam di samping nisan kayu Mbah Raras.
"Makam Mbah Lestari," bisiknya.
Semua berdoa.
Mbah Tarni memimpin doa.
Setelah selesai, Arga memandang makam itu.
"Sekarang Mbah Lestari dan Mbah Raras bersatu. Saudara kembar. Bersama lagi. Selamanya."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa semua misteri sudah terpecahkan?"
"Belum."
"Masih ada?"
"Masih satu."
"Apa?"
"Aku belum tahu. Tapi Jatmika pasti akan memberi tahu."
"Kapan?"
"Entah. Malam ini. Besok. Lusa. Yang penting, kita selalu siap."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Aku akan selalu di sini. Menemanimu."
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Satu untuk selamanya."
Mereka berpelukan.
TANAH MBAH JAYARASA
Tiga hari setelah Arga meletakkan batu hitam, kerangka Mbah Lestari, di samping makam Mbah Raras, desa Wringinrejo dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang tidak pernah mereka duga. Bukan kedatangan preman. Bukan fitnah baru dari Pak Kades. Tapi sebuah surat resmi dari pengadilan negeri.
Surat itu ditujukan kepada Arga. Isinya: gugatan tanah. Tanah warisan Mbah Jayarasa, tanah yang selama ini diyakini sebagai milik Arga, diklaim oleh Pak Kades sebagai hak milik keluarganya. Pak Kades mengklaim bahwa tanah itu adalah tanah warisan dari nenek buyutnya, yang diberikan kepada Mbah Jayarasa hanya sebagai penggarap, bukan sebagai pemilik.
Arga terkejut. Ia tidak menyangka Pak Kades masih punya energi untuk melawan. Ia tidak menyangka Pak Kades masih punya keberanian untuk menggugat. Ia tidak menyangka Pak Kades masih punya preman, pengacara, dan uang untuk melawan.
Tapi Arga tidak gentar.
Ia akan melawan.
Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan amarah. Tapi dengan hukum. Dengan bukti. Dengan saksi. Dengan kebenaran.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Arga duduk di ruang tengah. Surat gugatan terbuka di pangkuannya. Matanya kosong memandang dinding. Pikirannya kacau.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu tidak baik-baik saja. Wajahmu pucat."
Arga menghela napas.
"Surat gugatan ini. Pak Kades menggugat tanah Mbah Jayarasa."
"Apa?"
"Iya. Dia klaim bahwa tanah itu milik keluarganya, bukan milik Mbah Jayarasa."
"Tapi Mbah Jayarasa sudah mewariskan tanah itu padamu."
"Iya. Tapi Pak Kades punya bukti. Katanya. Entah bukti apa."
Sekar duduk di samping Arga.
"Mas, kita lawan."
"Kita lawan."
"Kita sudah pernah melawan yang lebih berat. Melawan Ferry. Melawan preman. Melawan fitnah."
"Iya."
"Kita bisa."
"Iya."
Arga memegang tangan Sekar.
"Terima kasih."
GUNTUR DATANG
Jam delapan pagi, Guntur datang. Wajahnya tegang. Matanya merah, seperti tidak tidur semalaman. Bajunya kusut.
"Arga, aku sudah dengar kabar."
"Iya. Surat gugatan."
"Kita harus segera bertindak. Jangan sampai Pak Kades memenangkan gugatan."
"Bagaimana caranya?"
"Kita kumpulkan bukti. Surat wasiat Mbah Jayarasa. Saksi-saksi yang tahu bahwa tanah itu milik Mbah Jayarasa. Dokumen-dokumen lama dari kantor desa."
"Apakah itu cukup?"
"Belum tahu. Tapi setidaknya kita punya pegangan."
"Baik. Aku akan ke kantor desa. Cari arsip lama."
DI KANTOR DESA
Jam sembilan pagi, Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, yang kini menjabat sebagai Pjs Kepala Desa, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro pergi ke kantor desa.
Ratri membuka ruang arsip.
"Ini semua dokumen lama. Dari tahun 1950-an sampai sekarang. Semoga ada yang berkaitan dengan tanah Mbah Jayarasa."
Mereka mulai mencari.
Sukmawati memeriksa dokumen tahun 1960-an.
Sastro memeriksa dokumen tahun 1970-an.
Arga dan Sekar memeriksa dokumen tahun 1980-an.
Guntur dan Laras memeriksa dokumen tahun 1990-an.
Faruq, Nisa, Dimas, Samsul, dan Pak Bondan memeriksa dokumen tahun 2000-an.
"Mas, ini!" teriak Sekar.
Semua mendekat.
Sekar memegang selembar kertas tua yang sudah menguning. Tulisannya sudah mulai pudar. Tapi masih bisa dibaca.
"Apa itu?" tanya Arga.
"Surat jual beli tanah. Antara Mbah Jayarasa dan kakek Pak Kades. Tahun 1965."
"Bunyi apa?"
Sekar membaca.
"Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Marto (kakek Pak Kades), menjual sebidang tanah seluas dua hektar kepada Jayarasa dengan harga lima ratus rupiah. Tanah tersebut terletak di lereng bukit timur, berbatasan dengan Kali Wening dan hutan jati."
"Tanah ini menjadi milik Jayarasa dan keturunannya selamanya. Tidak boleh diganggu gugat."
"Demikian surat jual beli ini dibuat dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan dari pihak manapun."
"—Marto, Jayarasa"
"Saksi? Ada saksi?" tanya Guntur.
"Ada. Lurah desa waktu itu. Namanya Karto. Sudah meninggal."
"Anaknya? Cucunya?"
"Mungkin masih ada. Kita cari."
MENCARI SAKSI
Jam dua belas siang, mereka berhasil menemukan cucu Karto. Namanya Sutrisno. Sekarang tinggal di desa tetangga, bekerja sebagai petani.
"Pak Sutrisno," panggil Arga.
"Iya."
"Kakek Bapak dulu Lurah desa sini?"
"Iya. Kakek saya Lurah waktu itu. Tahun 1965-an."
"Apakah Bapak tahu tentang surat jual beli tanah antara Mbah Jayarasa dan kakek Pak Kades?"
Sutrisno mengerutkan kening.
"Tahu. Kakek saya cerita. Waktu itu, kakek Pak Kades yang sekarang memang sengaja menjual tanah itu karena butuh uang. Dia pikir tanah itu tidak berharga. Ternyata sekarang berharga."
"Apakah Bapak bersedia menjadi saksi di pengadilan?"
Sutrisno ragu.
"Pak, kami butuh bantuan Bapak. Tanah ini warisan Mbah Jayarasa. Tanah ini sudah diwariskan pada saya. Pak Kades tidak punya hak."
Sutrisno menghela napas.
"Baik. Saya bersedia."
PAK BONDAN BICARA
Jam dua siang, mereka kembali ke rumah Arga.
Pak Bondan angkat bicara.
"Arga, kita punya bukti kuat. Surat jual beli. Saksi. Sekarang kita butuh pengacara."
"Pengacara? Siapa?"
"Aku sudah hubungi Bu Rina. Dia bersedia membantu."
"Bu Rina? LBH?"
"Iya. Dia sudah menangani kasus Ferry dulu. Dia tahu seluk-beluk perkara ini."
"Kapan dia datang?"
"Besok. Dia akan ke desa. Kita akan rapat. Kita akan siapkan strategi."
"Terima kasih, Pak Bondan."
"Jangan berterima kasih. Kita mitra."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap.
Bulan tertutup awan.
Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan menang?"
"Aku tidak tahu."
"Kamu takut?"
"Takut. Tapi tidak akan menyerah."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Aku akan selalu di sini."
"Terima kasih."
CAMAT TURUN TANGAN
Dua hari setelah ditemukannya surat jual beli tanah tahun 1965 dan kesediaan Sutrisno, cucu mantan Lurah, untuk menjadi saksi, desa Wringinrejo memasuki babak baru dalam konflik tanah melawan Pak Kades. Bukan babak ketegangan seperti ketika Arga melawan Ferry. Bukan babak keputusasaan seperti ketika warung pecel dirusak. Tapi babak harapan. Babak di mana pihak ketiga, yang netral, yang berwenang, yang tidak bisa dibeli oleh Pak Kades, mulai turun tangan.
Camat, yang selama ini hanya bisa memantau dari kejauhan, akhirnya memutuskan untuk terlibat langsung. Ia tidak ingin konflik ini berkepanjangan. Ia tidak ingin desa Wringinrejo menjadi medan perang antara Arga dan Pak Kades. Ia tidak ingin rakyat kecil menjadi korban.
Camat memanggil kedua belah pihak ke kantor kecamatan.
Arga didampingi oleh Guntur, Laras, Pak Bondan, dan Bu Rina, pengacara LBH yang datang khusus dari Jogja.
Pak Kades didampingi oleh pengacaranya, Danu (keponakannya sendiri), serta dua orang preman yang duduk di bangku belakang dengan wajah garang.
Camat membuka pertemuan dengan nada tegas.
"Saudara-saudara, kita berkumpul di sini untuk menyelesaikan sengketa tanah antara Arga bin Sastro dan Pak Kades. Saya minta kedua belah pihak untuk tenang. Tidak boleh ada yang berteriak. Tidak boleh ada yang saling menyela. Tidak boleh ada yang membawa senjata."
Ruangan hening.
Camat memandang Arga. "Silakan, Mas Arga."
ARGA BICARA
Arga berdiri.
Wajahnya tegang. Tangannya gemetar. Tapi suaranya tegas.
"Pak Camat, saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Suami Sekar."
"Saya memiliki bukti bahwa tanah warisan Mbah Jayarasa adalah milik saya. Bukan milik Pak Kades."
"Bukti pertama: surat wasiat Mbah Jayarasa. Beliau mewariskan tanah itu kepada saya sebelum meninggal."
"Bukti kedua: surat jual beli tanah tahun 1965 antara kakek Pak Kades (Marto) dan Mbah Jayarasa. Surat ini ditandatangani oleh kedua belah pihak dan disaksikan oleh Lurah desa waktu itu, Karto."
"Bukti ketiga: saksi mata. Cucu Karto, Pak Sutrisno, bersedia menjadi saksi bahwa kakeknya memang menyaksikan transaksi jual beli tersebut."
"Bukti keempat: saya sudah menggarap tanah itu selama berbulan-bulan. Saya sudah membersihkan semak belukar. Saya sudah menanam jagung dan singkong. Saya sudah membangun pondok kecil. Itu bukti penguasaan fisik."
"Ini fotokopian surat-suratnya, Pak Camat."
Arga menyerahkan setebal dokumen.
Camat memeriksa satu per satu.
PAK KADES BICARA
Pak Kades berdiri. Wajahnya merah. Matanya melotot.
"Pak Camat, surat-surat itu palsu!"
"Palsu?" tanya Camat.
"Iya. Mbah Jayarasa tidak pernah memiliki tanah itu. Tanah itu milik kakek saya. Kakek saya hanya mengizinkan Mbah Jayarasa menggarapnya. Bukan menjualnya."
"Tapi ada surat jual beli."
"Surat palsu. Tanda tangan kakek saya bukan asli."
"Saksi?"
"Saksi juga palsu. Sutrisno tidak tahu apa-apa. Dia hanya disuruh Arga untuk berbohong."
"Apakah Bapak punya bukti bahwa tanah itu milik Bapak?"
Pak Kades mengeluarkan secarik kertas tua. "Ini. Surat keterangan tanah dari Lurah desa tahun 1960. Nama pemilik: Marto. Kakek saya."
Camat memeriksa surat itu.
"Surat ini tidak ada tanda tangan Lurah."
"Lurahnya sudah meninggal. Tidak sempat tanda tangan."
"Tidak sah."
"Apa?"
"Surat keterangan tanah harus ditandatangani oleh Lurah yang bersangkutan. Kalau tidak, tidak sah."
Pak Kades terdiam.
BU RINA BICARA
Bu Rina, pengacara LBH, berdiri.
"Pak Camat, saya Bu Rina. Pengacara dari LBH Jogja. Mendampingi Mas Arga."
"Berdasarkan bukti-bukti yang Mas Arga sampaikan, surat wasiat, surat jual beli, saksi mata, dan penguasaan fisik, saya yakin tanah itu milik Mas Arga."
"Surat dari Pak Kades tidak sah karena tidak ada tanda tangan Lurah. Selain itu, Pak Kades tidak pernah menggarap tanah itu. Tidak pernah memanfaatkannya. Tidak pernah menjaganya. Tanah itu terlantar selama puluhan tahun."
"Jadi, secara hukum, klaim Pak Kades lemah."
Pak Kades marah. "Kamu siapa? Ngapain ikut campur urusan desa?"
"Saya pengacara. Tugas saya membela klien saya. Sesuai hukum."
"Pak Camat, saya minta pengacara ini keluar!"
"Tenang, Pak Kades. Bu Rina punya hak bicara. Ini forum musyawarah, bukan pengadilan."
GUNTUR BICARA
Guntur berdiri.
"Pak Camat, saya Guntur. Teman Arga."
"Saya punya bukti tambahan. Rekaman percakapan Pak Kades dengan preman bayarannya tentang upaya mengambil alih tanah."
"Rekaman?" Pak Kades pucat.
"Iya. Rekaman. Silakan didengar."
Guntur memutar rekaman.
Suara Pak Kades terdengar jelas.
"Pokoknya, tanah itu harus jadi milik saya. Bagaimanapun caranya. Saya tidak peduli Arga punya surat wasiat atau tidak."
"Tapi, Pak, surat wasiat itu—" suara preman.
"Manapun surat wasiat bisa dipalsukan. Saya punya pengacara. Saya punya uang. Saya punya koneksi."
"Dan kalau Arga melawan?"
"Kau selesaikan. Pakai cara apapun. Asal tidak meninggalkan jejak."
Rekaman berhenti.
Ruangan hening.
Pak Camat menatap Pak Kades dengan tajam.
"Pak Kades, ini serius. Rekaman ini bisa dipakai sebagai bukti di pengadilan."
"Rekaman palsu!" bentak Pak Kades.
"Suara Bapak. Siapa yang bisa meniru?"
"Guntur bisa! Dia jenius teknologi!"
"Tapi intonasi dan dialek Bapak tidak mungkin ditiru."
Pak Kades terdiam.
CAMAT MEMUTUSKAN
Camatan menghela napas.
"Setelah mendengar semua keterangan dan melihat bukti-bukti, saya memutuskan: tanah warisan Mbah Jayarasa adalah milik Arga. Pak Kades tidak punya hak."
"Keputusan ini saya buat berdasarkan: surat wasiat, surat jual beli, saksi mata, penguasaan fisik, dan rekaman percakapan Pak Kades yang mengindikasikan upaya pengambilalihan tanah secara tidak sah."
"Pak Kades, saya minta Bapak menghentikan semua upaya untuk mengklaim tanah itu. Kalau tidak, saya akan melaporkan Bapak ke polisi."
Pak Kades tidak menjawab. Ia hanya diam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Apakah Bapak menerima keputusan ini?"
"Tidak."
"Bapak bisa banding ke bupati. Tapi untuk sementara, tanah itu tetap milik Arga."
Pak Kades berdiri. Ia berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Ini belum selesai, Arga."
"Saya tahu. Tapi saya tidak takut."
Pak Kades pergi. Preman-preman mengikutinya.
SETELAH PERTEMUAN
Camat memandang Arga.
"Mas Arga, saya sudah melakukan yang terbaik. Tapi Pak Kades tidak terima. Dia pasti akan lanjut ke bupati."
"Bagaimana dengan surat jual beli dan saksi?"
"Itu bukti kuat. Tapi hukum itu panjang. Bisa berbulan-bulan. Bisa bertahun-tahun."
"Sabar, Mas Arga. Saya yakin kebenaran akan menang."
"Terima kasih, Pak Camat."
KEMBALI KE DESA
Jam dua siang, mereka kembali ke desa.
Sekar sudah menunggu di halaman dengan warung pecel yang ramai.
"Mas, bagaimana?" tanyanya.
"Kita menang di kecamatan. Tapi Pak Kades akan banding ke bupati."
"Lama?"
"Mungkin."
"Kita akan bertahan."
"Iya."
Mereka berpelukan.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit mulai cerah. Bintang-bintang muncul satu per satu.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 9
RAHASIA DI BALIK UKIRAN
Kemenangan Arga di kantor kecamatan atas sengketa tanah Mbah Jayarasa memang membawa kelegaan, tetapi tidak serta-merta mengakhiri semua masalah. Pak Kades memang sudah diperingatkan, tetapi dendamnya masih membara. Preman-preman bayarannya masih berkeliaran, meskipun tidak seaktif dulu. Dan yang paling penting: misteri utama dari seluruh perjalanan Arga, misteri tentang Mbah Lestari, tentang keris pusaka, tentang ukiran di batu hitam, tentang kemampuan Arga melihat dua langit, belum sepenuhnya terpecahkan.
Arga merasa ada yang kurang.
Ia sudah mendapatkan keris. Ia sudah menemukan "makam" Mbah Lestari. Ia sudah meletakkan batu hitam di samping makam Mbah Raras. Ia sudah mendengar cerita dari arwah Mbah Lestari sendiri. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal: ukiran di batu hitam.
Ukiran itu tidak hanya hiasan. Ukiran itu adalah pesan. Pesan yang belum sepenuhnya ia pahami. Pesan yang mungkin berisi petunjuk tentang masa depan. Pesan yang mungkin berisi peringatan tentang bahaya yang akan datang.
Dan malam itu, ketika Arga sedang sendirian di rumah, Sekar tidur lebih awal karena kelelahan melayani pelanggan warung seharian, ia memutuskan untuk pergi ke tanah warisan. Membawa keris. Membawa senter. Membawa peta usang Mbah Jayarasa.
Ia ingin memecahkan misteri terakhir.
Ia ingin tahu apa sebenarnya yang Mbah Lestari sembunyikan di balik ukiran batu hitam.
MALAM YANG SUNYI
Jam sebelas malam, Arga berjalan sendirian menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Udara dingin menusuk tulang.
Ia tidak takut.
Ia sudah biasa berjalan sendirian di malam hari. Sejak kecil. Sejak ia pertama kali mendengar bisikan angin. Sejak ia pertama kali melihat bayangan Jatmika di tepi Kali Wening.
Ia sampai di tanah warisan.
Batu hitam berukir masih berdiri kokoh di tengah lahan. Batu itu tidak berubah. Masih sama seperti pertama kali Arga melihatnya. Masih sama ketika ia pertama kali mengambil keris dari gua di belakangnya.
Tapi kali ini, ada yang berbeda.
Cahaya biru dari dalam batu itu lebih terang dari biasanya. Berdenyut. Seperti detak jantung. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
Arga mendekat.
Ia mengeluarkan keris dari balik bajunya.
Begitu keris itu mendekati batu, cahaya biru semakin terang. Menyilaukan.
Arga menutup mata.
KILASAN MASA LALU
Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di tanah warisan.
Ia berada di sebuah desa yang berbeda. Desa yang lebih tua. Desain rumah-rumahnya berbeda. Pakaian orang-orangnya berbeda. Ini desa Wringinrejo puluhan tahun lalu. Mungkin seratus tahun lalu.
Arga melihat seorang perempuan muda berdiri di halaman rumahnya.
Perempuan itu cantik. Wajahnya bulat, kulitnya putih, rambutnya hitam legam diikat ke belakang. Matanya sayu, tapi tajam. Ia memakai kebaya putih lengan panjang dan kain jarik batik.
Di tangannya, sebuah keris.
Keris yang sama dengan keris yang sekarang dipegang Arga.
Perempuan itu adalah Mbah Lestari. Muda.
Arga melihat Mbah Lestari mengukir batu. Batu hitam yang sama. Ukiran yang sama. Dengan keris yang sama.
Ia mengukir dengan hati-hati. Setiap goresan penuh makna. Setiap goresan mengandung doa. Setiap goresan mengandung harapan.
Arga mendekat. Ia ingin melihat lebih jelas.
Tapi tiba-tiba, kilasan itu menghilang.
Ia kembali berada di tanah warisan. Batu hitam di depannya. Keris di tangannya. Cahaya biru perlahan meredup.
ARGA MEMAHAMI
Arga duduk di samping batu hitam.
Ia memandang ukiran itu dengan saksama.
Sekarang ia mengerti.
Ukiran itu bukan hanya hiasan. Ukiran itu adalah peta. Peta yang lebih detail dari peta usang Mbah Jayarasa. Peta yang menunjukkan lokasi-lokasi penting dalam perjalanan spiritual Arga. Peta yang menunjukkan tempat-tempat di mana ia harus pergi, apa yang harus ia lakukan, dan siapa yang harus ia temui.
Ukiran itu juga adalah catatan. Catatan tentang kehidupan Mbah Lestari. Catatan tentang perjuangannya melawan makhluk halus. Catatan tentang pengorbanannya untuk desa. Catatan tentang cintanya pada keluarga.
Dan di bagian paling bawah, ada tulisan.
Aksara Jawa kuno.
Arga membaca dengan susah payah—mengingat pelajaran dari Mbah Jayarasa dulu.
"Keturunanku, jika kau membaca ini, berarti kau sudah siap. Kau sudah cukup kuat. Kau sudah cukup dewasa. Kau sudah cukup bijak."
"Gunakan keris ini untuk kebaikan. Gunakan kemampuanmu untuk melindungi. Jangan pernah menyalahgunakannya untuk kekayaan atau kekuasaan."
"Dan ingatlah: kau tidak sendirian. Ada teman-teman di sekitarmu. Ada keluarga. Ada desa. Ada alam. Ada Tuhan."
"Pulanglah. Bukan ke rumah. Tapi ke hati."
"—Mbah Lestari"
Air mata Arga jatuh.
Ia memeluk batu hitam itu.
"Terima kasih, Mbah. Aku akan menjaga warisan ini. Aku akan menjaga kemampuan ini. Aku akan menjaga keluarga. Aku akan menjaga desa."
Batu hitam itu bergetar pelan. Cahaya biru muncul lagi. Tapi kali tidak menyilaukan. Hangat. Seperti pelukan.
"Aku percaya padamu, Le."
Suara Mbah Lestari. Lirih. Jelas.
Arga tersenyum.
PULANG KE RUMAH
Jam satu dini hari, Arga pulang.
Sekar sudah bangun dan duduk di beranda. Wajahnya cemas.
"Mas, kamu ke mana? Aku khawatir."
"Ke tanah warisan. Maaf tidak bilang."
"Ada apa?"
"Aku sudah mengerti. Ukiran batu itu. Rahasianya."
"Apa?"
Arga menceritakan semuanya. Tentang kilasan masa lalu. Tentang peta di balik ukiran. Tentang pesan Mbah Lestari.
Sekar memeluk Arga.
"Mas, aku bangga."
"Bangga kenapa?"
"Bangga karena kamu tidak menyerah. Bangga karena kamu terus berjuang. Bangga karena kamu akhirnya menemukan jawaban."
Arga tersenyum.
"Aku juga bangga pada diri sendiri."
Mereka berpelukan.
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, Arga terbangun dengan perasaan berbeda. Lebih ringan. Lebih tenang. Lebih damai.
Ia keluar rumah. Di halaman, Sekar sudah sibuk di warung. Sukmawati membantu mencuci piring. Sastro duduk di kursi bambu minum kopi hitam.
"Yah, aku pamit ke sawah."
"Sendirian?"
"Sendirian."
"Hati-hati."
"Iya, Yah."
Arga berjalan menyusuri pematang sawah. Ia memandang hamparan padi yang mulai menguning. Ia memandang langit biru tanpa awan. Ia memandang burung-burung pipit yang beterbangan rendah.
Ini pulang, pikirnya. Pulang sejati. Bukan ke rumah. Tapi ke hati.
PUSAKA YANG HILANG
Dua minggu setelah Arga memecahkan misteri ukiran batu hitam dan memahami pesan terakhir Mbah Lestari, kehidupan di desa Wringinrejo berjalan normal. Sawah mulai menguning, tanda panen akan segera tiba. Warung pecel Mbok Sekar semakin ramai karena kabar baik bahwa pernikahan Arga dan Sekar sah menurut hukum dan agama. Ratri semakin percaya diri menjabat sebagai Pjs Kepala Desa. Pak Kades sudah tidak lagi terlihat di desa, kabarnya ia pindah ke kota bersama istri dan anak-anaknya, setelah kalah dalam sengketa tanah dan kehilangan pengaruh.
Tapi ada satu misteri yang belum terpecahkan.
Pusaka desa.
Mbah Lestari hanya menyebutkan keris. Tapi Mbah Tarni, sesepuh desa, pernah berkata bahwa pusaka desa tidak hanya satu. Ada beberapa benda pusaka yang tersebar di berbagai tempat. Keris hanyalah salah satunya. Yang lainnya hilang. Dicuri. Disembunyikan. Dilupakan.
Dan malam itu, Mbah Tarni memanggil Arga ke rumahnya.
"Nduk, ada yang harus Mbah sampaikan," katanya dengan suara lirih, hampir seperti bisikan.
"Apa, Mbah?"
"Pusaka desa yang hilang. Mbah tahu di mana beberapa di antaranya."
Arga terkesiap. "Mbah tahu?"
"Mbah tahu. Tapi Mbah tidak bisa mengambilnya sendiri. Mbah sudah tua. Mbah hampir buta. Mbah hampir lumpuh. Mbah butuh kamu."
"Siap, Mbah. Akan saya cari."
PAGI DI RUMAH MBAH TARNI
Hari Minggu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro berkumpul di rumah Mbah Tarni.
Rumah itu kecil, dinding bambu, atap seng, lantai tanah. Tapi di dalamnya, tersimpan banyak cerita. Dinding dipenuhi foto-foto lama. Ada foto Mbah Lestari. Ada foto Mbah Raras. Ada foto Mbah Jayarasa. Ada foto warga desa dari puluhan tahun lalu.
Mbah Tarni duduk di kursi bambu. Di pangkuannya, sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran rumit.
"Ini," katanya sambil membuka kotak.
Di dalam kotak: beberapa lembar kertas kuno, peta sederhana, dan sebuah cincin perak.
"Apa itu?" tanya Arga.
"Peta lokasi pusaka desa yang hilang. Cincin ini adalah kuncinya. Cincin pemberian Mbah Lestari untukku."
"Kenapa Mbah tidak mengambil pusaka itu sendiri?"
"Karena tidak semua pusaka bisa diambil oleh sembarang orang. Ada yang hanya bisa diambil oleh keturunan Mbah Lestari. Ada yang hanya bisa diambil oleh orang yang memiliki hati bersih. Ada yang hanya bisa diambil pada waktu tertentu."
"Kapan?"
"Nanti malam. Bulan purnama. Di tanah warisan. Di samping batu hitam."
PERSIAPAN
Jam enam sore, semua berkumpul di tanah warisan.
Mereka membawa tikar, senter, makanan ringan, air minum, dan perlengkapan lainnya.
Dimas memasang kamera dan sensor.
Guntur dan Laras duduk di dekat batu hitam, membaca doa-doa.
Faruq dan Nisa jaga di sisi barat.
Dimas dan Ratri jaga di sisi utara.
Samsul dan Pak Bondan jaga di sisi selatan.
Arga dan Sekar jaga di sisi timur, dekat pohon randu.
Mbah Tarni duduk di samping batu hitam, memegang cincin perak.
"Kita tunggu bulan purnama," katanya.
BULAN PURNAMA
Jam delapan malam, bulan mulai naik.
Besar. Bulat. Terang.
Cahaya keperakan menyinari tanah warisan, membuat batu hitam berkilat.
"Mulai," bisik Mbah Tarni.
Ia menekankan cincin perak ke permukaan batu.
KREK...
Batu hitam itu retak.
Retakan kecil membentuk lubang.
Dari dalam lubang, terpancar cahaya keemasan.
"Mbah, apa itu?" tanya Sekar.
"Pusaka. Pusaka yang hilang."
Arga mendekat. Ia merogoh lubang itu.
Tangannya masuk ke dalam batu.
Meraba sesuatu.
Keras.
Logam.
Sebuah kotak besi kecil.
Ia mengeluarkannya.
Kotak besi dengan ukiran rumit, ukiran yang sama dengan ukiran di batu hitam. Permukaannya dingin, tapi di balik dingin itu, ada kehangatan.
"Buka," kata Mbah Tarni.
Arga membuka kotak itu.
Di dalamnya: sebuah gelang perak, sebuah kalung batu akik hitam, dan sebuah buku catatan kecil.
GELANG PERAK
Arga mengambil gelang perak itu.
Gelang itu tidak berkilau. Tapi ada ukiran di bagian dalam.
"Untuk keturunan Mbah Lestari yang berhati bersih."
"Ini gelang pelindung," kata Mbah Tarni. "Konon, siapa pun yang memakainya tidak akan bisa disakiti oleh makhluk halus. Fisiknya akan terlindungi. Jiwanya akan tenang."
"Untuk siapa?" tanya Arga.
"Untuk Sekar."
Sekar terkejut. "Untuk saya?"
"Iya. Kamu istri Arga. Kamu akan selalu bersamanya. Kamu akan selalu berhadapan dengan bahaya. Kamu butuh perlindungan."
Sekar menerima gelang itu. Ia memakainya di pergelangan tangan kiri.
Dingin.
Tapi nyaman.
"Aku merasakan sesuatu," bisiknya.
"Apa?"
"Ketenangan. Rasa aman."
"Itu pertanda baik."
KALUNG BATU AKIK HITAM
Arga mengambil kalung itu.
Batu akik hitam sebesar kelereng, dibungkus perak. Ukiran halus di permukaannya.
"Ini kalung kebijaksanaan," kata Mbah Tarni. "Konon, siapa pun yang memakainya akan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang teman dan mana yang musuh."
"Untuk siapa?" tanya Arga.
"Untuk Guntur."
Guntur terkejut. "Untuk saya?"
"Iya. Kamu pemimpin tim. Kamu yang sering membuat keputusan. Kamu butuh kebijaksanaan."
Guntur menerima kalung itu. Ia memakainya di leher.
Dingin.
Tapi menenangkan.
"Aku merasakan sesuatu," bisiknya.
"Apa?"
"Pikiran lebih jernih. Perasaan lebih stabil."
"Itu pertanda baik."
BUKU CATATAN KECIL
Arga mengambil buku catatan itu.
Sampul kulit, halaman menguning, tulisan tangan dengan tinta biru yang sudah mulai pudar.
"Ini buku catatan Mbah Lestari," kata Mbah Tarni. "Isinya tentang pengalamannya berkomunikasi dengan makhluk halus. Tentang cara-cara mengusir mereka. Tentang mantra-mantra pelindung."
"Untuk siapa?" tanya Arga.
"Untukmu. Kamu yang mewarisi kemampuannya. Kamu yang akan melanjutkan tugasnya."
Arga menerima buku itu. Ia membuka halaman pertama.
"Untuk keturunanku yang bernama Arga."
"Aku tahu kau akan membaca ini. Aku tahu kau akan mewarisi kemampuanku. Aku tahu kau akan melanjutkan tugasku."
"Jangan takut. Kamu tidak sendirian. Ada Tuhan. Ada keluarga. Ada teman. Ada desa."
"Gunakan kemampuanmu untuk kebaikan. Lindungi yang lemah. Tolong yang membutuhkan. Bimbing yang tersesat."
"Dan ingatlah: pulanglah. Bukan ke rumah. Tapi ke hati."
Air mata Arga jatuh.
Ia memeluk buku itu.
"Terima kasih, Mbah Lestari. Aku akan menjaga warisan ini."
KEMBALI KE RUMAH
Jam sebelas malam, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan.
Bukan karena beban yang berkurang. Tapi karena hati yang mulai mengerti.
"Arga," panggil Guntur di tengah jalan.
"Iya."
"Aku tidak menyangka dapat kalung ini."
"Aku juga tidak menyangka dapat buku ini."
"Apa artinya?"
"Artinya, kita dipercaya. Dipercaya untuk menjaga. Dipercaya untuk melindungi. Dipercaya untuk melanjutkan."
Guntur mengangguk. "Kamu benar."
MALAM DI RUMAH
Jam dua belas malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan purnama bersinar terang.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
ARGA DIANGGAP CALON PEMILIK PUSAKA
Tiga hari setelah penemuan pusaka desa yang hilang, gelang perak untuk Sekar, kalung batu akik hitam untuk Guntur, dan buku catatan Mbah Lestari untuk Arga, desa Wringinrejo berubah drastis. Bukan perubahan fisik yang terlihat dari luar. Sawah masih hijau menguning. Burung-burung pipit masih beterbangan. Angin masih berembus sepoi-sepoi. Warung pecel Mbok Sekar masih ramai setiap pagi.
Tapi ada yang berubah di dalam hati warga.
Mereka mulai melihat Arga bukan lagi sebagai "anak aneh" yang lahir di bawah kilat tanpa suara. Bukan lagi sebagai "anak setan" yang dulu difitnah oleh Bu Sania. Bukan lagi sebagai "pengembara yang merebut Sekar dari Ferry".
Tapi sebagai calon pemilik pusaka.
Sebagai keturunan Mbah Lestari.
Sebagai orang yang dipilih oleh alam untuk melindungi desa.
Beberapa warga mulai datang ke rumah Arga, bukan untuk membeli pecel, tapi untuk meminta doa. Untuk meminta perlindungan. Untuk meminta nasihat tentang hal-hal gaib.
Arga bingung. Ia tidak pernah menganggap dirinya spesial. Ia hanya anak desa biasa yang kebetulan memiliki kemampuan melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat dan didengar orang lain.
Tapi warga desa tidak berpikir seperti itu.
Mereka mulai memuja Arga.
Dan itu, bagi Arga, lebih menakutkan daripada fitnah.
PAGI YANG CERAH
Hari Rabu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh—seperti biasa.
Tapi hari ini, ada yang berbeda.
Beberapa warga yang biasanya hanya membeli pecel dan pulang, kini duduk lama di warung. Mereka tidak hanya makan. Mereka juga mengamati Arga yang sedang membantu Sekar melayani pelanggan.
"Itu Mas Arga," bisik Bu Sri pada Bu Parti.
"Iya. Tampan."
"Bukan itu. Kata orang, dia bisa lihat hantu."
"Benarkah?"
"Benar. Kata Mbah Tarni, dia keturunan Mbah Lestari."
"Wah, hebat."
"Kita minta doa, yuk."
Bu Sri dan Bu Parti mendekati Arga.
"Mas Arga," panggil Bu Sri.
"Iya, Bu."
"Bisa minta doa? Anak saya sering sakit. Sudah ke dokter, ke dukun, ke rumah sakit, tidak sembuh-sembuh."
Arga mengerutkan kening.
"Bu, saya bukan dukun."
"Tapi kata orang, Mas Arga bisa, "
"Bu, saya hanya anak desa biasa. Tidak ada kekuatan khusus. Kalau anak Bu sakit, bawa ke dokter. Atau ke rumah sakit. Jangan ke saya."
Bu Sri kecewa.
"Tapi, Mas, "
"Bu, percaya sama saya. Saya tidak bisa menyembuhkan. Hanya Tuhan yang bisa."
Bu Sri pergi dengan hati kecewa.
Bu Parti mengikutinya.
GUNTUR BICARA
Jam sembilan pagi, Guntur datang ke warung.
Wajahnya tegang.
"Arga, aku dengar warga mulai menganggapmu dukun."
"Aku juga dengar."
"Kamu harus hati-hati. Jangan sampai mereka memujamu. Nanti kamu celaka."
"Celaka bagaimana?"
"Terlalu banyak pujian bisa membuat seseorang sombong. Sombong bisa membuat seseorang jatuh."
"Aku tidak sombong."
"Aku tahu. Tapi suatu hari, jika kamu terus-terusan dipuji, bisa saja kamu berubah."
"Kamu benar. Aku harus tetap rendah hati."
"Bagus. Sekarang, kita harus klarifikasi ke warga. Bahwa kamu bukan dukun. Bahwa kamu tidak punya kekuatan khusus. Bahwa kamu hanya anak desa biasa."
"Baik. Besok malam. Di balai desa. Aku akan bicara."
RATRI BICARA
Jam sepuluh pagi, Ratri datang ke warung.
Ia sudah mendengar kabar bahwa Arga dianggap dukun.
"Mas Arga, aku dengar warga mulai memujamu."
"Iya, Rat."
"Kamu harus hati-hati. Aku sebagai Pjs Kepala Desa, tidak ingin ada konflik baru."
"Aku akan klarifikasi besok malam di balai desa."
"Bagus. Aku akan kumpulkan warga."
"Terima kasih, Rat."
"Jangan berterima kasih. Ini tugas saya."
MALAM DI BALAI DESA
Jam tujuh malam, balai desa dipenuhi warga.
Wajah-wajah penasaran. Ada yang mendukung Arga. Ada yang skeptis. Ada yang netral.
Arga berdiri di depan.
Wajahnya tegang. Tangannya gemetar. Tapi suaranya tegas.
"Saudara-saudara, saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Suami Sekar."
"Saya dengar warga mulai menganggap saya sebagai dukun. Sebagai orang yang bisa menyembuhkan penyakit. Sebagai orang yang bisa melihat hantu dan mengusirnya."
"Itu tidak benar."
"Saya hanya anak desa biasa. Saya tidak punya kekuatan khusus. Saya tidak bisa menyembuhkan penyakit. Saya tidak bisa mengusir hantu. Hanya Tuhan yang bisa."
"Benar bahwa saya adalah keturunan Mbah Lestari. Benar bahwa saya mewarisi kemampuannya untuk melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat dan didengar orang lain."
"Tapi kemampuan itu bukan untuk dipamerkan. Bukan untuk mencari keuntungan. Bukan untuk menjadi dukun."
"Kemampuan itu untuk melindungi. Untuk menolong. Untuk membimbing. Sesuai dengan amanat Mbah Lestari."
"Jadi, saya mohon, jangan perlakukan saya sebagai dukun. Perlakukan saya sebagai manusia biasa. Sebagai tetangga. Sebagai sesama warga desa."
"Terima kasih."
REAKSI WARGA
Warga bertepuk tangan.
Mbah Tarni berdiri.
"Warga Wringinrejo, Mbah sudah bilang. Arga bukan dukun. Dia hanya anak desa biasa yang diberi amanat oleh leluhur. Jangan memujanya. Jangan menganggapnya keramat. Jangan memintanya melakukan hal-hal di luar kemampuannya."
"Hargai dia sebagai manusia. Sebagai tetangga. Sebagai sesama."
"Setuju?" teriak Mbah Tarni.
"SETUJU!" teriak warga.
PULANG KE RUMAH
Jam sembilan malam, Arga dan Sekar pulang.
Langit penuh bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kamu tidak takut?"
"Takut apa?"
"Takut warga marah. Karena kamu menolak jadi dukun."
"Aku tidak takut. Karena aku bilang yang benar. Aku tidak bohong. Aku tidak menjual mimpi."
"Kamu hebat, Mas."
"Aku tidak hebat. Aku hanya jujur."
Mereka berpelukan.
PAK KADES MENYUSUN RENCANA
Dua minggu setelah Arga dengan tegas menolak dianggap sebagai dukun dan meminta warga desa untuk tidak memujanya, suasana di Wringinrejo mulai tenang. Warung pecel Mbok Sekar tetap ramai. Sawah mulai menguning, tanda panen sudah di depan mata. Ratri semakin percaya diri menjalankan tugas sebagai Pjs Kepala Desa.
Tapi di balik ketenangan itu, ada badai yang sedang disusun.
Bukan badai alam. Bukan badai dari makhluk halus. Tapi badai dari Pak Kades, mantan kepala desa yang masih menyimpan dendam. Ia tidak terima kalah dalam sengketa tanah. Ia tidak terima istrinya, Bu Sania, harus minta maaf pada Sekar. Ia tidak terima dipecat dari jabatannya.
Pak Kades menyusun rencana.
Bukan rencana kekerasan seperti dulu, mengirim preman untuk mengancam atau merusak. Tapi rencana yang lebih licik. Rencana yang lebih cerdik. Rencana yang menggunakan uang dan pengaruh untuk menghancurkan Arga dari dalam.
Ia akan merekrut anggota keluarga Arga sendiri.
Ia akan memecah belah keluarga.
Ia akan membuat Arga sengsara dari dalam.
Dan target pertamanya: Sastro.
Ayah Arga.
Laki-laki tua yang pendiam. Laki-laki tua yang keras kepala. Laki-laki tua yang tidak pernah banyak bicara. Laki-laki tua yang cinta mati pada keluarganya.
Tapi juga laki-laki tua yang punya hutang. Hutang lama. Hutang yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Hutang kepada Pak Kades.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Sastro duduk di kursi bambu favoritnya. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Tangannya gemetar memegang secarik kertas.
"Ayah, kenapa?" tanya Arga yang baru keluar kamar.
Sastro tidak menjawab.
"Ayah?"
Sastro masih diam.
Arga mendekat. Ia mengambil kertas itu.
Isinya: surat peringatan dari Pak Kades.
"Sastro, aku tahu kau punya hutang padaku. Hutang lama. Hutang yang belum kau lunasi. Jika kau tidak melunasi dalam waktu satu minggu, aku akan sita sawahmu. Aku akan sita rumahmu. Aku akan buat keluargamu menderita."
"Kau bisa memilih. Bantu aku melawan Arga. Atau kau kehilangan segalanya."
"—Pak Kades"
Darah Arga berhenti mengalir.
"Hutang apa, Yah?"
Sastro menunduk. Air matanya jatuh.
"Dulu, ketika kau masih kecil, ayah sakit. Sakit parah. Tidak bisa bekerja. Ibu kau tidak punya uang untuk berobat. Ayah pinjam uang pada Pak Kades."
"Berapa?"
"Lima juta."
"Itu saja?"
"Iya. Tapi bunganya besar. Sepuluh persen per bulan. Setelah bertahun-tahun, hutang ayah menjadi lima puluh juta."
"Kenapa ayah tidak bilang?"
"Karena ayah malu. Ayah tidak bisa melunasi. Ayah tidak punya uang. Ayah hanya petani."
Arga memeluk ayahnya.
"Yah, jangan sedih. Kita akan lunasi."
"Tapi uang dari mana?"
"Pak Bondan akan bantu."
"Tapi, "
"Yah, kita sudah melewati yang lebih berat dari ini. Masak hutang lima puluh juta tidak bisa?"
Sastro tersenyum. "Kamu hebat, Le."
"Aku tidak hebat. Aku anak Ayah."
PAK BONDAN BICARA
Jam delapan pagi, Arga menelepon Pak Bondan.
"Pak Bondan, saya Arga."
"Iya, Le. Ada apa?"
"Saya mau pinjam uang. Lima puluh juta."
"Untuk apa?"
"Untuk melunasi hutang ayah saya. Ke Pak Kades."
"Hutang? Ayahmu hutang pada Pak Kades?"
"Iya. Dulu. Waktu ayah sakit. Sekarang Pak Kades tagih. Dengan ancaman."
Pak Bondan menghela napas.
"Ini jebakan, Le."
"Jebakan?"
"Iya. Pak Kades sengaja tagih sekarang. Karena dia tahu kau sedang fokus pada tanah warisan dan pusaka desa. Dia ingin mengalihkan perhatianmu. Dia ingin membuatmu sibuk. Dia ingin membuatmu stres."
"Tapi hutang itu nyata."
"Nyata. Tapi bunganya tidak masuk akal. Sepuluh persen per bulan? Itu ilegal. Kamu bisa lapor polisi."
"Tapi, "
"Dengar, Le. Aku akan pinjamkan uang. Tapi jangan bayar dulu. Kita lawan secara hukum. Aku punya teman pengacara yang ahli masalah hutang-piutang. Dia bisa membantu."
"Terima kasih, Pak Bondan."
"Jangan berterima kasih. Kita mitra."
GUNTUR BICARA
Jam sepuluh pagi, Guntur datang.
"Arga, aku dengar tentang hutang ayahmu."
"Iya."
"Ini siasat Pak Kades. Jangan terjebak."
"Aku tidak akan terjebak. Pak Bondan akan bantu."
"Bagus. Tapi satu hal."
"Apa?"
"Sastro harus jujur. Apakah benar hanya lima juta? Apakah benar bunganya sepuluh persen per bulan? Apakah benar hutang itu belum lunas?"
Arga memandang Sastro.
Sastro menunduk.
"Ayah?"
Sastro menghela napas.
"Ayah bohong."
"Bohong?"
"Pinjaman awal bukan lima juta. Tapi dua puluh juta. Itu sudah termasuk bunganya. Setelah bertahun-tahun, hutang ayah menjadi seratus juta."
"Seratus juta?"
"Iya. Ayah malu. Ayah tidak tega membebani kamu."
Arga tidak marah. Ia hanya memeluk ayahnya.
"Yah, kita hadapi bersama."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
PREMAN DATANG KE DESA
Tiga hari setelah Arga mengetahui hutang ayahnya yang sebenarnya, seratus juta rupiah kepada Pak Kades, desa Wringinrejo dikejutkan oleh kedatangan rombongan preman. Bukan satu atau dua orang. Tapi puluhan. Mereka datang dengan mobil pick-up, turun di halaman balai desa, lalu menyebar ke berbagai titik strategis. Ada yang ke rumah Arga. Ada yang ke rumah Sastro. Ada yang ke warung pecel. Ada yang ke tanah warisan. Ada yang ke rumah Mbah Tarni.
Tujuan mereka: mengintimidasi. Memaksa Arga dan keluarganya untuk segera melunasi hutang. Kalau tidak, mereka akan menyita sawah, menyita rumah, dan "memberi pelajaran" kepada siapa pun yang mencoba melawan.
Tapi Arga tidak takut.
Ia sudah terbiasa menghadapi preman. Sejak melawan Ferry, ia sudah tahu trik-trik mereka. Sejak berteman dengan Dimas, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, dan Pak Bondan, ia sudah punya jaringan keamanan yang cukup kuat.
Dan malam itu, pertempuran kecil terjadi di halaman rumah Arga.
Bukan pertempuran besar seperti dulu melawan preman Ferry. Tapi pertempuran yang cukup untuk menunjukkan bahwa Arga dan timnya tidak akan mundur.
PAGI YANG TIDAK BIASA
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah mulai ramai, pelanggan datang silih berganti.
Tapi hari ini, ada yang berbeda.
Dua preman berdiri di depan warung. Badan besar, berotot, wajah garang. Mereka tidak membeli. Mereka hanya berdiri. Mengawasi. Mengintimidasi.
"Mbak, pecel satu, bungkus!" teriak Bu Sri.
"Siap, Bu," jawab Sekar sambil melirik ke arah preman.
"Bu, itu siapa?" tanya Bu Sri.
"Tidak tahu, Bu."
"Wajahnya serem."
"Biarkan. Yang penting kita tetap jualan."
Preman itu mendekat.
"Kamu Sekar?" tanya salah satu.
"Iya."
"Suamimu Arga?"
"Iya."
"Bilang pada Arga, hutang ayahnya harus dilunasi minggu depan. Kalau tidak, kami akan ambil sawahnya. Rumahnya. Dan mungkin... sesuatu yang lebih berharga."
Mata preman itu menatap Sekar dengan penuh arti.
Sekar tidak bergeming.
"Sampaikan sendiri pada Arga. Dia di sawah."
Preman itu mendengus. Mereka pergi.
ARGA TAHU
Jam delapan pagi, Arga pulang dari sawah.
Sekar sudah menunggu di halaman.
"Mas, tadi ada preman."
"Preman? Datang ke warung?"
"Iya. Dua orang. Mereka bilang, hutang ayahmu harus dilunasi minggu depan. Kalau tidak, mereka akan ambil sawah. Rumah. Dan sesuatu yang lebih berharga."
Darah Arga berhenti mengalir.
"Mereka mengancam kamu?"
"Tidak secara langsung. Tapi maksudnya jelas."
"Sialan."
Arga masuk ke rumah. Ia mengambil keris dari balik bantal.
"Mas, kamu mau apa?"
"Aku mau ke rumah Pak Kades."
"Jangan. Nanti kamu celaka."
"Aku tidak akan celaka. Aku hanya ingin bicara."
"Bawa Guntur. Bawa Laras. Bawa Dimas."
"Baik."
PERTEMUAN DENGAN PAK KADES
Jam sepuluh pagi, Arga, Guntur, Laras, dan Dimas pergi ke rumah Pak Kades.
Rumah itu masih sama. Besar. Pagar besi. Kawat berduri.
Preman berjaga di depan.
"Ada apa?" tanya preman itu.
"Saya mau ketemu Pak Kades."
"Pak Kades tidak terima tamu."
"Bilang Arga yang datang."
Preman itu masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian, Pak Kades keluar. Wajahnya pucat. Matanya sayu.
"Arga. Ada apa?"
"Saya mau bicara tentang hutang ayah saya."
"Sudah saya tagih. Lewat preman."
"Tapi bunganya tidak masuk akal. Sepuluh persen per bulan? Itu ilegal."
"Itu kesepakatan kami."
"Tidak ada kesepakatan tertulis."
"Tapi hutang itu nyata."
"Nyata. Tapi bunganya harus sesuai hukum."
Pak Kades marah. "Kamu mau main-main dengan saya?"
"Saya tidak main-main. Saya serius. Saya akan lapor polisi."
"Apa?"
"Iya. Saya akan lapor polisi. Ancaman. Intimidasi. Pengerahan preman. Bunga ilegal. Semua akan saya laporkan."
Pak Kades mundur selangkah.
"Kamu, "
"Saya serius, Pak Kades. Saya sudah pernah melawan orang yang lebih kuat dari Bapak. Ferry. Dan Ferry masuk penjara."
Pak Kades tidak bisa berkata apa-apa.
"Jadi, saya minta preman-preman Bapak menarik diri. Saya minta Bapak berhenti mengancam keluarga saya. Kalau tidak, saya akan tindak lanjuti secara hukum."
Pak Kades menghela napas.
"Baik. Saya tarik preman saya. Tapi hutang ayahmu harus dilunasi. Dengan bunga yang wajar."
"Setuju."
Mereka berjabat tangan.
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua belas siang, mereka pulang.
Sekar sudah menunggu di halaman.
"Mas, bagaimana?"
"Baik. Pak Kades setuju tarik preman."
"Syukurlah."
"Tapi hutang ayah harus dilunasi. Dengan bunga wajar."
"Berapa?"
"Aku tidak tahu. Nanti kita hitung."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit cerah. Bintang-bintang berkerlap-kerlip.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 10
PERTEMPURAN DI HALAMAN
Seminggu setelah pertemuan Arga dengan Pak Kades, desa Wringinrejo kembali dikejutkan oleh kedatangan preman. Bukan satu atau dua orang. Bukan hanya untuk mengintimidasi. Tapi puluhan orang, lebih banyak dari sebelumnya, dengan senjata lengkap: pentungan, celurit, pisau, bahkan beberapa membawa senjata api.
Pak Kades mengingkari janjinya. Ia tidak menarik preman. Ia malah menambah jumlah mereka. Ia tidak berhenti mengancam. Ia malah semakin menjadi-jadi. Ia tidak mau kalah. Ia tidak mau malu. Ia tidak mau kehilangan kekuasaan.
Dan malam itu, mereka datang ke rumah Arga.
Bukan untuk bernegosiasi. Bukan untuk memperingatkan. Tapi untuk menyerang.
Membubarkan warung pecel.
Merusak rumah.
Melukai Arga dan keluarganya.
Mengambil alih tanah warisan dengan paksa.
Tapi Arga sudah siap.
Guntur sudah siap.
Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro sudah siap.
Mbah Tarni sudah berdoa.
Seluruh desa sudah tahu.
Dan pertempuran di halaman depan rumah Arga pun tidak terhindarkan.
MALAM YANG TEGANG
Jam delapan malam, langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat. Suara jangkrik yang biasanya mengisi malam, tiba-tiba berhenti. Sunyi. Mencekam.
Arga duduk di beranda, ditemani Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro.
Mbah Tarni duduk di kursi kayu, memegang tasbih, mulutnya komat-kamit membaca doa.
"Nanti malam, mereka akan datang," kata Mbah Tarni.
"Bagaimana Mbah tahu?" tanya Arga.
"Mbah dengar. Dari angin. Dari tanah. Dari alam."
"Berapa banyak?"
"Puluhan. Mungkin lima puluh. Mungkin lebih."
"Kita hanya..."
"Kamu tidak sendirian, Le. Desa ini bersamamu."
PREMAN DATANG
Jam sembilan malam, suara motor terdengar dari kejauhan.
Banyak.
Puluhan.
Mendekat.
Lampu sorot menyilaukan.
Arga berdiri.
Ia memegang keris di tangan kanan. Parang di tangan kiri.
"Sekar, masuk ke dalam. Jaga Ibu dan Ayah."
"Tidak. Aku ikut."
"Sekar, "
"Mas, aku sudah dewasa. Aku istrimu. Aku berhak ikut."
Arga menghela napas.
"Baik. Tapi jangan terlalu maju."
Motor-motor itu berhenti di halaman.
Lima puluh orang turun.
Wajah garang.
Senjata lengkap.
Pemimpinnya, Bakri, preman yang dulu memukul Faruq, berdiri di depan.
"Arga! Keluar!"
Arga maju selangkah.
"Aku di sini."
"Kami datang untuk mengambil hak Pak Kades. Tanah warisan. Dan hutang ayahmu. Kalau kamu tidak menyerah, kami akan ambil paksa."
"Coba ambil."
Bakri mengangkat pentungan.
"Serang!"
PERTEMPURAN
Preman pertama menerjang Arga dengan pentungan. Arga mengelak. Kerisnya berayun, bukan ke arah tubuh, tapi ke arah pentungan, membuatnya terpental.
Preman kedua menyerang dari samping. Guntur menghadang dengan kayu panjang.
Bruk!
Preman itu jatuh.
Preman ketiga, keempat, kelima, silih berganti.
Faruq dan Nisa bertahan di pintu dapur. Faruq memukul dengan pentungan kayu. Nisa memanah dengan ketapel, tepat sasaran, mengenai mata preman.
Dimas dan Ratri dari atap melemparkan batu-batu kecil. Preman-preman terjatuh.
Samsul dan Pak Bondan menjaga sisi belakang rumah. Samsul yang dulu mata-mata, kini berani.
Sastro dan Sukmawati di dalam rumah, menjaga Mbah Tarni.
Tapi jumlah preman terlalu banyak.
Setiap satu jatuh, dua muncul.
Setiap dua jatuh, empat muncul.
Arga mulai kelelahan.
Lengannya sakit karena menahan pukulan.
Punggungnya sakit karena kena pentungan.
"Sekar! Awas!"
Preman keenam menyerang Sekar dari belakang.
Arga tidak sempat menolong.
Tapi Sekar berputar. Ia menendang preman itu dengan kaki kanannya.
DUAR!
Preman itu jatoh.
"Mas, aku baik-baik saja!"
"Kamu hebat!"
"Aku istrimu!"
BAKRI TERPOJOK
Bakri yang sejak tadi hanya memerintah, akhirnya turun tangan.
Ia membawa celurit panjang.
"Arga, kau mati!"
Ia menyerang.
Arga mengelak.
Celurit itu mengenai tiang kayu.
Bruk!
Bakri mengayun lagi.
Arga mengelak lagi.
Guntur datang dari samping. Ia memukul lengan Bakri dengan kayu panjang.
Bruk!
Celurit itu jatuh.
Bakri memegang lengannya yang sakit.
"Kau, "
"Sekarang giliran kami yang menghakimi."
POLISI DATANG
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan.
Banyak mobil.
Lampu rotator merah biru.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Preman-preman itu panik.
Beberapa mencoba kabur, tapi polisi sudah mengepung.
Bakri tidak bisa lari.
"Kami terima laporan ada penyerangan," kata komandan polisi. "Kami amankan semua."
"Tapi, " Bakri mencoba protes.
"Diam. Kau akan kami bawa ke kantor. Dan di sana, kau bisa bicara dengan pengacaramu."
Bakri dan preman-preman digiring ke mobil polisi.
SETELAH PERTEMPURAN
Arga duduk di halaman. Tubuhnya penuh luka. Pakaiannya robek. Wajahnya merah.
Sekar memeluknya.
"Mas, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil."
"Banyak darah."
"Itu bukan darahku. Itu darah preman."
Sekar tersenyum.
"Mas, kamu hebat."
"Aku tidak hebat. Aku hanya ingin melindungi keluarga."
MALAM DI RUMAH
Jam dua belas malam, semua berkumpul di ruang tengah.
Mbah Tarni memimpin doa.
"Syukurlah. Tidak ada yang tewas. Tidak ada yang luka parah. Ini berkah."
"Berkah dari apa, Mbah?" tanya Faruq.
"Dari kebersamaan. Dari doa. Dari keberanian."
"Kami hanya melakukan yang benar, Mbah."
"Itu sudah lebih dari cukup."
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, matahari terbit dengan cerah.
Burung-burung pipit beterbangan rendah.
Sekar sudah sibuk di warung.
Arga duduk di beranda, ditemani Guntur.
"Guntur," panggil Arga.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Mereka berpelukan.
CAMAT MENGAMBIL TINDAKAN
Pertempuran di halaman depan rumah Arga yang terjadi seminggu lalu mengguncang seluruh desa Wringinrejo. Bukan hanya karena kekerasan yang terjadi, tapi karena keterlibatan Pak Kades, mantan kepala desa yang masih memiliki pengaruh dalam mengirim preman untuk menyerang warganya sendiri. Kabar itu menyebar cepat. Dari mulut ke mulut. Dari desa ke desa. Dari kecamatan ke kabupaten.
Media lokal mulai meliput. Jurnalis dari Jogja datang. Aktivis dari LBH turun tangan. Bahkan Komnas Perempuan dan LSM anti kekerasan ikut memantau.
Camat, yang sebelumnya hanya bisa memperingatkan Pak Kades, kali ini bertindak tegas. Ia tidak mau konflik ini berkepanjangan. Ia tidak mau desa Wringinrejo menjadi contoh buruk bagi desa-desa lain. Ia tidak mau rakyat kecil menjadi korban kekuasaan.
Camat memanggil kedua belah pihak, Arga dan Pak Kades, ke kantor kecamatan. Bukan untuk mediasi biasa. Tapi untuk pemeriksaan resmi. Dengan bukti-bukti. Dengan saksi-saksi. Dengan ancaman pidana jika salah satu pihak terbukti bersalah.
Dan untuk pertama kalinya, Pak Kades terlihat gugup.
PAGI DI KANTOR KECAMATAN
Hari Kamis, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri (Pjs Kepala Desa), Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni berkumpul di kantor kecamatan.
Pak Kades datang bersama istrinya, Bu Sania, dan dua orang preman yang duduk di bangku belakang dengan wajah tegang.
Camat duduk di kursi kehormatan.
"Saudara-saudara," katanya. "Kita berkumpul di sini untuk menyelesaikan konflik antara Arga dan Pak Kades. Kali ini bukan mediasi. Tapi pemeriksaan resmi. Saya punya wewenang untuk memanggil polisi. Saya punya wewenang untuk melimpahkan kasus ini ke pengadilan."
Ruangan hening.
"Saya minta kedua belah pihak untuk bersikap jujur. Tidak boleh ada yang berbohong. Tidak boleh ada yang menyembunyikan bukti. Tidak boleh ada yang mengancam saksi."
Camat memandang Arga.
"Silakan, Mas Arga."
ARGA BICARA
Arga berdiri.
Wajahnya tegang. Tangannya gemetar. Tapi suaranya tegas.
"Pak Camat, saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Suami Sekar."
"Saya ingin melaporkan Pak Kades atas beberapa tindak pidana."
"Pertama: pengerahan preman untuk menyerang rumah saya pada tanggal 15 bulan lalu. Kami punya bukti video dari kamera pengawas yang dipasang Dimas. Juga saksi mata, seluruh warga yang melihat."
"Kedua: ancaman pembunuhan melalui preman. Kami punya rekaman suara."
"Ketiga: pemerasan dengan bunga tidak wajar terhadap hutang ayah saya. Hutang awal dua puluh juta, sekarang menjadi seratus juta. Bunganya ilegal."
"Keempat: upaya pengambilalihan tanah warisan Mbah Jayarasa secara paksa, meskipun sudah ada keputusan camat yang memenangkan saya."
"Ini bukti-bukti, Pak Camat."
Arga menyerahkan setebal dokumen.
Camat memeriksa satu per satu.
PAK KADES BICARA
Pak Kades berdiri. Wajahnya pucat. Matanya gelisah.
"Pak Camat, itu semua fitnah."
"Fitnah?" tanya Camatan.
"Iya. Saya tidak pernah mengirim preman. Saya tidak pernah mengancam. Saya tidak pernah memeras. Saya hanya menagih hutang yang sah."
"Bunganya?"
"Itu kesepakatan kami."
"Tidak ada kesepakatan tertulis."
"Tapi, "
"Dan saksi mata?"
"Mereka bohong."
"Rekaman suara? Video?"
"Itu palsu."
Guntur berdiri. "Pak Camat, suara di rekaman itu sudah diuji forensik oleh teman saya di fakultas hukum UGM. Hasilnya: asli. Tidak ada rekayasa."
Pak Kades terdiam.
SAKSI BICARA
Ratri berdiri.
"Pak Camat, saya Ratri. Pejabat Sementara Kepala Desa Wringinrejo."
"Saya melihat langsung ketika preman itu menyerang rumah Arga. Saya juga melihat Pak Kades bersama preman itu sebelum penyerangan."
"Apakah Ratri bersedia menjadi saksi di pengadilan?" tanya Camat.
"Bersedia."
Bu Sania, istri Pak Kades, berdiri.
"Pak Camat, saya... saya mau bicara."
"Silakan."
Bu Sania menangis.
"Suami saya bersalah. Saya tahu. Selama ini saya tutup mata. Tapi setelah melihat penderitaan Arga dan keluarganya, saya tidak tega."
"Suami saya yang suruh preman. Suami saya yang atur bunga tidak wajar. Suami saya yang mau ambil tanah paksa."
"Saya minta maaf pada Arga. Pada Sekar. Pada semua warga."
Pak Kades terkejut. "Kamu, "
"Maaf, Mas. Saya tidak bisa diam lagi."
CAMAT MEMUTUSKAN
Camatan menghela napas.
"Setelah mendengar semua keterangan dan melihat bukti-bukti, saya memutuskan untuk melimpahkan kasus ini ke polres."
"Pak Kades, saya perintahkan Bapak untuk tidak meninggalkan kota. Saya perintahkan Bapak untuk kooperatif. Kalau tidak, saya akan minta polisi menahan Bapak."
"Saya juga akan merekomendasikan pencabutan status Bapak sebagai mantan kepala desa. Bapak tidak berhak menyandang gelar itu setelah melakukan tindak pidana."
Pak Kades tidak menjawab. Ia hanya diam. Wajahnya pucat. Matanya kosong.
"Apakah Bapak menerima keputusan ini?"
"Tidak."
"Bapak bisa banding ke bupati. Tapi untuk sementara, proses hukum tetap berjalan."
Pak Kades berdiri. Ia berjalan ke pintu.
Bu Sania mengikutinya.
Sebelum keluar, Pak Kades menoleh.
"Ini belum selesai, Arga."
"Saya tahu. Tapi saya tidak takut."
SETELAH PERTEMUAN
Camat memandang Arga.
"Mas Arga, proses hukum akan berjalan. Tapi butuh waktu. Sabar."
"Sabar, Pak."
"Jaga diri. Jaga keluarga."
"Siap, Pak."
KEMBALI KE DESA
Jam dua siang, mereka pulang.
Sekar sudah menunggu di halaman.
"Mas, bagaimana?"
"Kita menang di kecamatan. Kasus akan dilimpahkan ke polres."
"Syukurlah."
"Ayah, hutang Bapak akan kita lunasi dengan bunga wajar."
"Terima kasih, Le."
"Jangan berterima kasih. Tugas anak."
Mereka berpelukan.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit cerah. Bintang-bintang berkerlap-kerlip.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
PAK KADES BEBAS, DENDAM MEMBARA
Dua minggu setelah Camat melimpahkan kasus Pak Kades ke polres, desa Wringinrejo dilanda kabar yang tidak terduga. Pak Kades dibebaskan. Bukan karena tidak bersalah. Tapi karena kurang bukti. Saksi-saksi yang tadinya berani bersaksi, termasuk istrinya sendiri, Bu Sania, tiba-tiba menarik keterangan. Video dan rekaman suara yang menjadi bukti utama dinyatakan tidak sah oleh pengadilan karena alasan teknis. Pengacara Pak Kades, Danu, keponakannya sendiri, berhasil membalikkan keadaan dengan argumen bahwa semua bukti itu adalah rekayasa Arga dan timnya.
Arga terkejut. Guntur marah. Laras kecewa. Faruq frustrasi. Nisa menangis. Dimas ingin membanting laptopnya. Ratri tidak terima. Samsul gelisah. Pak Bondan menghela napas panjang. Sukmawati menangis. Sastro diam, tapi matanya menyala-nyala. Mbah Tarni hanya tersenyum. "Sudah Mbah bilang. Hukum itu bulat. Bisa ke kiri. Bisa ke kanan. Yang penting, Allah yang paling adil."
Tapi Pak Kades tidak hanya bebas. Ia juga dendam. Dendam karena Arga telah mempermalukannya di depan Camat. Dendam karena istrinya, Bu Sania, berbalik melawannya di persidangan, meskipun akhirnya menarik keterangan. Dendam karena ia harus kehilangan jabatan, kehormatan, dan pengaruh.
Ia menyusun rencana baru. Lebih licik. Lebih kejam. Lebih terencana.
Dan target utamanya bukan lagi Arga.
Tapi Sekar.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Arga duduk di beranda. Surat keputusan pengadilan terbuka di pangkuannya. Matanya kosong memandang dinding. Pikirannya kacau.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu tidak baik-baik saja. Wajahmu pucat."
Arga menghela napas.
"Pak Kades bebas."
"Aku tahu."
"Karena kurang bukti."
"Aku tahu."
"Padahal bukti sudah kuat. Video. Rekaman. Saksi."
"Tapi hukum tidak selalu adil, Mas."
Arga memandang Sekar.
"Kamu tidak marah?"
"Marah. Tapi marah tidak akan mengubah keputusan."
"Lalu?"
"Kita persiapkan diri. Pak Kades pasti akan balas dendam."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena dia tidak terima kalah."
GUNTUR DATANG
Jam delapan pagi, Guntur datang.
Wajahnya tegang. Matanya merah, seperti tidak tidur semalaman. Bajunya kusut.
"Arga, aku sudah dengar kabar."
"Iya. Pak Kades bebas."
"Ini keterlaluan."
"Aku tahu."
"Kita harus lapor ke Komnas HAM."
"Nanti. Sekarang kita fokus pada keamanan."
"Kamu benar. Pak Kades pasti akan balas dendam."
"Aku sudah siap. Kamu?"
"Aku juga."
Mereka berjabat tangan.
LARAS BICARA
Laras datang dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.
"Arga, aku dengar kabar."
"Iya."
"Aku sudah bicara dengan teman di LBH. Mereka bilang, kasus ini bisa diajukan lagi jika ada bukti baru."
"Bukti baru apa?"
"Kita kumpulkan lagi. Lebih kuat. Lebih valid. Lebih tidak terbantahkan."
"Baik."
Tapi di dalam hati, Arga ragu.
FARUQ DAN NISA BICARA
Faruq dan Nisa datang bersama.
"Mas Arga, aku marah," kata Faruq.
"Marah tidak akan mengubah keputusan."
"Tapi, "
"Faruq, kita sudah dewasa. Kita tahu hukum tidak selalu adil."
"Lalu?"
"Kita bertahan. Kita jaga diri. Kita jaga keluarga."
Nisa memegang tangan Faruq.
"Tenang, Faruq. Mas Arga benar."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
TOKOH ANTAGONIS BARU - DANU
Pak Kades bebas. Tapi bukan berarti ia sendirian. Ia punya senjata rahasia yang lebih berbahaya dari preman, lebih licik dari fitnah, lebih tajam dari pentungan. Senjata itu adalah keponakannya sendiri: Danu.
Danu, pengacara muda lulusan universitas ternama. Usia tiga puluh tahun. Wajah tampan, rambut rapi, kemeja putih, dasi merah, sepatu oxford mengkilap. Ia pernah magang di kantor pengacara terkenal di Jakarta. Ia pernah menangani beberapa kasus besar. Ia punya koneksi luas dengan polisi, jaksa, hakim, dan wartawan.
Danu tidak percaya pada kebenaran. Ia hanya percaya pada uang dan kekuasaan. Ia tidak peduli kliennya benar atau salah. Yang penting ia dibayar. Yang penting ia menang.
Dan kali ini, ia dibayar mahal oleh pamannya, Pak Kades, untuk menghancurkan Arga. Bukan dengan kekerasan fisik, itu terlalu kasar, terlalu mudah dilacak. Tapi dengan hukum. Dengan surat gugatan. Dengan intervensi ke pengadilan. Dengan tekanan pada saksi-saksi.
Danu adalah musuh yang lebih berbahaya dari Ferry.
Karena Ferry setidaknya jujur tentang kebusukannya. Danu justru menyembunyikan kebusukannya di balik jas rapi dan senyum manis.
PAGI DI KANTOR PENGACARA
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Di sebuah kantor pengacara di pusat kota Jogja, Danu duduk di kursi empuk, menghadap kliennya: Pak Kades.
"Paman, sudah saya bilang. Kasus ini tidak akan menang jika hanya mengandalkan preman."
"Lalu?"
"Kita gunakan hukum. Kita gugat Arga. Kita buat dia sibuk. Kita buat dia ketakutan. Kita buat dia kehabisan uang untuk bayar pengacara."
"Tapi buktinya, "
"Bukti bisa dipalsukan. Saksi bisa ditekan. Hakim bisa diintervensi. Itu keahlian saya."
Pak Kades tersenyum.
"Bagus. Berapa bayaranmu?"
"Lima ratus juta. Cash. Transfer. Jangan tunai."
"Mahal."
"Paman ingin menang atau kalah?"
Pak Kades menghela napas. "Transfer."
SAMSUL DATANG
Jam sepuluh pagi, Samsul datang ke rumah Arga. Wajahnya tegang, berkeringat.
"Mas Arga, saya dapat kabar dari teman di kota."
"Kabar apa?"
"Pak Kades sudah gandeng pengacara. Namanya Danu. Keponakannya sendiri."
"Danu? Yang dulu membantu Pak Kades di persidangan?"
"Iya. Tapi kali ini dia lebih serius. Dia akan menggugat Mas Arga secara hukum."
"Gugat apa?"
"Tanah warisan. Lagi. Dengan bukti baru."
"Bukti baru apa?"
"Konon, ada surat tanah asli dari zaman Belanda yang menunjukkan bahwa tanah itu milik keluarga Pak Kades, bukan Mbah Jayarasa."
"Surat palsu?"
"Bisa jadi. Tapi Danu pandai memalsukan."
Arga menghela napas.
"Kita hadapi."
GUNTUR BICARA
Guntur datang.
"Arga, aku dengar tentang Danu."
"Iya."
"Dia licik. Aku sudah cari tahu. Dia pernah dipenjara karena kasus suap. Tapi bebas karena uang."
"Kita harus hati-hati."
"Jangan hanya hati-hati. Kita harus serang balik."
"Serang balik bagaimana?"
"Kita kumpulkan bukti tentang Danu. Tentang praktik korupsinya. Tentang penyuapannya. Kita hancurkan reputasinya."
"Apa itu bisa?"
"Bisa. Aku punya teman di ICW."
"I CW?"
"Indonesia Corruption Watch. Mereka punya data Danu. Tinggal kita laporkan."
"Baik. Lakukan."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit cerah. Bintang-bintang berkerlap-kerlip.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
GUGATAN TANAH
Sepekan setelah Arga mengetahui bahwa Pak Kades menggandeng keponakannya, Danu, sebagai pengacara, desa Wringinrejo dikejutkan oleh kedatangan juru sita dari pengadilan negeri. Mereka datang dengan mobil dinas, membawa surat-surat resmi bersegel merah, dan langsung menuju rumah Arga.
Isinya: gugatan tanah. Lagi.
Tapi kali ini berbeda. Bukan klaim sepihak seperti dulu. Gugatan ini disusun secara profesional oleh Danu, dengan bukti-bukti yang dirancang untuk meyakinkan hakim. Danu mengklaim bahwa tanah warisan Mbah Jayarasa adalah milik keluarga Pak Kades berdasarkan surat tanah dari zaman Belanda, surat yang katanya asli, padahal dipalsukan.
Danu juga menyertakan saksi ahli. Saksi ahli yang dibayar. Saksi ahli yang akan bersumpah di depan pengadilan bahwa surat itu asli.
Arga pusing. Ia tidak mengerti hukum. Ia hanya anak desa. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan melawan. Dengan bantuan Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, dan Bu Rina, pengacara LBH yang dulu membantu kasus Ferry.
Perang hukum pun dimulai.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Arga duduk di ruang tengah. Surat gugatan terbuka di pangkuannya. Matanya kosong memandang dinding. Pikirannya kacau.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu tidak baik-baik saja. Wajahmu pucat."
Arga menghela napas.
"Gugatan tanah. Dari Danu."
"Apa isinya?"
"Dia klaim bahwa tanah warisan Mbah Jayarasa adalah milik keluarga Pak Kades. Dia punya surat tanah dari zaman Belanda."
"Surat palsu?"
"Pasti. Tapi dia punya saksi ahli yang akan mengaku bahwa surat itu asli."
"Kita bisa lawan?"
"Bisa. Bu Rina akan bantu."
"Kapan sidang?"
"Minggu depan."
BAB 11
GUNTUR DAN LARAS DATANG
Jam delapan pagi, Guntur dan Laras datang. Wajah mereka tegang.
"Arga, aku dengar kabar," kata Guntur.
"Iya. Gugatan tanah."
"Kita harus siapkan strategi."
"Bu Rina sudah hubungi. Dia akan datang besok."
"Bagus."
Laras menambahkan, "Mas Arga, jangan khawatir. Kita sudah melewati yang lebih berat."
"Aku tidak khawatir. Aku hanya... kesal."
"Kesal kenapa?"
"Kesal karena Pak Kades tidak pernah berhenti. Kesal karena Danu licik. Kesal karena hukum mudah dimanipulasi."
"Tapi kita punya kebenaran. Dan kebenaran tidak akan pernah kalah."
BU RINA DATANG
Jam sepuluh pagi, Bu Rina datang. Wajahnya tegang, membawa setebal dokumen.
"Mas Arga, saya sudah pelajari gugatan Danu."
"Bagaimana?"
"Lemah."
"Lemah?"
"Iya. Surat tanah dari zaman Belanda itu tidak mungkin asli. Karena ciri-ciri kertas dan tinta tidak sesuai dengan zaman itu. Tinggal kita buktikan."
"Tapi Danu punya saksi ahli."
"Saksi ahli bisa dibeli. Kita cari saksi ahli yang jujur. Yang tidak bisa dibeli."
"Di mana?"
"Aku punya teman di Fakultas Hukum UGM. Dia ahli dokumen kuno."
SAKSI AHLI
Jam dua siang, Bu Rina, Arga, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni pergi ke Fakultas Hukum UGM.
Mereka bertemu dengan Prof. Widodo, ahli dokumen kuno.
Prof. Widodo sudah tua, rambut putih, kacamata tebal, suara berat.
"Bu Rina, saya lihat fotokopi suratnya."
"Ini, Pak."
Prof. Widodo memeriksa dengan saksama.
"Ini palsu."
"Pasti, Pak?"
"Pasti. Kertas ini kertas buatan pabrik tahun 1980-an. Bukan zaman Belanda. Tinta ini tinta pulpen, bukan tinta kuno. Tanda tangannya juga aneh. Seperti ditiru."
"Apakah Bapak bersedia menjadi saksi ahli di pengadilan?"
"Bersedia. Saya tidak takut pada Danu."
SIDANG PERTAMA
Hari Senin, sidang perdana digelar di pengadilan negeri.
Ruangan penuh. Jurnalis dari berbagai media hadir. Aktivis dari LBH dan LSM anti korupsi juga hadir.
Danu duduk di kursi pengacara Pak Kades. Wajahnya tenang, percaya diri, sesekali tersenyum ke arah hakim.
Arga duduk di kursi terdakwa, karena dalam gugatan ini, ia yang digugat.
Bu Rina di sampingnya.
Prof. Widodo di belakang.
"Sidang dibuka," kata hakim ketua.
"Silakan, pengacara penggugat."
DANU BICARA
Danu berdiri.
"Yang Mulia, kami dari pihak penggugat memiliki bukti bahwa tanah seluas dua hektar di lereng bukit timur adalah milik keluarga Pak Kades. Bukti: surat tanah dari zaman Belanda, saksi ahli yang akan membuktikan keaslian surat tersebut, dan saksi mata yang akan menyatakan bahwa keluarga Pak Kades telah menggarap tanah itu selama puluhan tahun."
"Ini suratnya."
Danu menyerahkan surat itu.
Hakim memeriksa.
"Silakan, saksi ahli."
SAKSI AHLI DANU
Saksi ahli Danu bernama Dr. Rudi. Dosen dari universitas swasta. Wajahnya licin. Matanya menghindar.
"Saudara Dr. Rudi, apa kesimpulan Saudara tentang surat ini?"
"Menurut saya, surat ini asli. Kertasnya kuno. Tintanya kuno. Tanda tangannya sesuai dengan zaman itu."
"Terima kasih."
Hakim memandang Bu Rina.
"Silakan, pengacara tergugat."
BU RINA BICARA
Bu Rina berdiri.
"Yang Mulia, kami dari pihak tergugat memiliki bukti bahwa surat tersebut adalah PALSU. Kami akan menghadirkan saksi ahli yang lebih kompeten, yaitu Prof. Widodo dari Fakultas Hukum UGM."
"Silakan."
Prof. Widodo berdiri.
"Saudara Prof. Widodo, apa kesimpulan Saudara?"
"Surat ini palsu. Kertas ini buatan pabrik tahun 1980-an. Bukan zaman Belanda. Tinta ini tinta pulpen. Tanda tangannya ditiru. Dan capnya juga palsu."
"Bisa buktikan?"
"Bisa. Saya bawa alat uji."
Prof. Widodo mengeluarkan alat sederhana, lensa pembesar dan sinar UV.
"Lihat. Di sini ada serat kertas yang hanya ada di kertas buatan pabrik tahun 1980-an. Di sini ada bekas tinta dari pulpen, tidak meresap ke kertas. Coba bandingkan dengan dokumen asli zaman Belanda."
Prof. Widodo menunjukkan perbandingan.
Ruangan hening.
Hakim memeriksa.
"Ini bukti kuat."
DANU GUGUP
Danu berdiri. "Yang Mulia, Prof. Widodo bisa saja keliru!"
"Prof. Widodo ahli dokumen kuno dari UGM. Saudara Dr. Rudi?" Hakim menatap Dr. Rudi.
Dr. Rudi tidak bisa menjawab.
"Silakan, saksi mata."
SAKSI MATA
Danu memanggil saksi mata: seorang laki-laki tua bernama Pak Tarno.
"Pak Tarno, apa Bapak tahu bahwa keluarga Pak Kades telah menggarap tanah itu selama puluhan tahun?"
Pak Tarno diam.
"Pak Tarno?"
"Saya... saya tidak tahu."
"Apa? Bukannya Bapak yang dulu menjadi mandor di tanah itu?"
"Saya hanya disuruh berbohong. Saya tidak pernah menjadi mandor."
"SIAPA YANG SURUH?"
Danu panik.
"Danu... Danu yang suruh."
Ruangan gempar.
Hakim mengetuk palu.
"Persidangan ditunda. Kami akan memeriksa saksi lebih lanjut."
SETELAH SIDANG
Arga memeluk Sekar.
"Kita menang, Mas."
"Belum. Ini baru awal."
"Tapi, "
"Danu masih punya banyak akal."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 12
SEKAR HAMIL
Di tengah gugatan tanah yang dilancarkan Danu dan tekanan psikologis dari Pak Kades yang semakin menjadi-jadi, sebuah kabar bahagia datang. Bukan kabar dari pengadilan. Bukan kabar dari polisi. Bukan kabar dari Camatan. Tapi kabar dari dalam kandungan Sekar.
Sejak beberapa minggu terakhir, Sekar sering merasa mual di pagi hari. Awalnya ia pikir karena kelelahan melayani pelanggan warung pecel. Tapi ketika mual itu tidak kunjung reda, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke mantri desa.
"Selamat, Mbak Sekar," kata mantri desa, Pak Harun. "Mbak hamil. Usia kandungan sekitar delapan minggu."
Sekar terkesiap. "Apa? Serius, Pak?"
"Serius. Tes urine menunjukkan positif. Dan detak jantung janinnya kuat."
Air mata Sekar jatuh.
Ia tidak bisa menahan tangisnya.
Ia memeluk Arga yang ikut mendampingi.
"Mas, kita akan punya anak."
Arga juga menangis.
"Iya, Sekar. Kita akan punya anak."
Mereka berpelukan lama.
Pak Harun tersenyum.
"Jaga kesehatan, Mbak. Jangan terlalu capek. Jangan terlalu stres. Makan yang bergizi. Istirahat yang cukup."
"Siap, Pak."
PULANG KE RUMAH
Jam sepuluh pagi, Arga dan Sekar pulang.
Sukmawati sudah menunggu di halaman. Wajahnya cemas.
"Bagaimana, Nduk? Ada apa?"
Sekar tersenyum.
"Bu... saya hamil."
Sukmawati terkejut.
"APA? SERIUS?"
"Serius, Bu."
Sukmawati memeluk Sekar.
"YA ALLAH, TERIMA KASIH! AKHIRNYA... AKHIRNYA... IBU AKAN PUNYA CUCU!"
Sastro yang duduk di kursi bambu ikut tersenyum.
"Selamat, Nduk."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan terlalu capek jaga warung. Biar Arga dan Ibu yang bantu."
"Siap, Pak."
KABAR KE TEMAN-TEMAN
Jam dua belas siang, semua teman-teman Arga datang.
Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Mbah Tarni—semua berkumpul di ruang tengah.
"Mas Arga, aku dengar Mbak Sekar hamil?" tanya Faruq.
"Iya."
"WAH! SELAMAT!"
"Terima kasih."
Faruq memeluk Arga.
Guntur menjabat tangan Arga.
"Selamat jadi calon ayah, Le."
"Terima kasih, Guntur."
Laras memeluk Sekar.
"Mbak Sekar, jaga kesehatan. Jangan terlalu capek."
"Iya, Mbak."
Nisa memeluk Sekar.
"Mbak, aku ikut senang."
"Terima kasih, Nisa."
Dimas hanya tersenyum dari kejauhan.
Ratri menangis.
"Mas, aku ikut bahagia."
"Terima kasih, Rat."
Mbah Tarni memegang perut Sekar.
"Nduk, janin ini laki-laki."
"Lho, kok Mbah tahu?"
"Mbah tahu. Tanda-tandanya jelas. Perutmu tidak terlalu besar. Mualmu hanya pagi. Dan detak jantungnya kuat."
"Apa Mbah yakin?"
"Mbah yakin. Tapi jangan terlalu percaya. Biar dokter yang menentukan."
Mereka tertawa.
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan angkat bicara.
"Arga, ini kabar baik di tengah tekanan. Tapi juga tanggung jawab baru."
"Aku tahu, Pak."
"Kamu harus lebih kuat. Untuk Sekar. Untuk anakmu. Untuk keluarga."
"Aku akan berusaha, Pak."
"Jangan berusaha. Lakukan."
"Siap, Pak."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Apa kamu takut?"
"Takut apa?"
"Takut melahirkan. Takut jadi ibu. Takut tidak bisa mendidik anak."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Takut. Tapi aku tidak sendiri. Aku punya kamu. Aku punya keluarga. Aku punya teman-teman."
"Kita hadapi bersama."
"Iya. Kita hadapi bersama."
Mereka berpelukan.
MENCARI PENGACARA
Kabar kehamilan Sekar memang membawa sukacita bagi Arga dan keluarganya. Namun kebahagiaan itu tidak serta merta menghapus tekanan dari gugatan tanah yang dilancarkan Danu, keponakan Pak Kades. Sidang pertama telah dimenangkan Arga berkat kesaksian Prof. Widodo dan pengakuan Pak Tarno bahwa ia disuruh berbohong oleh Danu. Tapi Danu tidak menyerah. Ia mengajukan banding. Ia juga menyusun gugatan baru. Ia juga mencoba menyewa saksi ahli lain yang lebih pintar memalsukan bukti.
Arga sadar, ia tidak bisa melawan sendirian. Ia butuh pengacara. Bukan pengacara biasa. Tapi pengacara yang berpengalaman, berani, dan tidak bisa disuap. Bu Rina dari LBH memang membantu. Tapi Bu Rina memiliki keterbatasan waktu dan tenaga karena harus menangani banyak kasus lain.
Arga membutuhkan pengacara pribadi. Pengacara yang akan fokus pada kasus tanahnya. Pengacara yang akan mendampinginya sampai akhir.
Tapi mencari pengacara tidak mudah. Apalagi di kota kecamatan yang kecil. Apalagi melawan Danu yang punya koneksi luas. Apalagi dengan biaya yang tidak sedikit.
Arga dan timnya pun mulai mencari.
PAGI YANG CERAH
Hari Kamis, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh, seperti biasa. Tapi Sekar tidak terlalu banyak bergerak. Sukmawati dan Ratri yang membantu melayani pelanggan.
Arga duduk di beranda. Wajahnya tegang. Matanya sayu.
"Mas, kamu belum sarapan?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Belum laper."
"Kamu harus makan. Nanti sakit."
"Aku tidak sakit. Aku hanya.. berpikir."
"Pikir apa?"
"Mencari pengacara."
"Bu Rina?"
"Bu Rina sibuk. Dia tidak bisa fokus pada kasus kita."
"Lalu?"
"Aku harus cari pengacara lain."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu."
GUNTUR DATANG
Jam delapan pagi, Guntur datang. Wajahnya tegang.
"Arga, aku dengar kamu mencari pengacara."
"Iya."
"Aku punya kenalan. Namanya Mas Hendra. Pengacara di Jogja. Spesialis kasus pertanahan."
"Apakah dia bisa dipercaya?"
"Bisa. Dia pernah menangani kasus tanah melawan pengusaha besar. Dia menang."
"Biayanya?"
"Mahal. Tapi kita bisa nego."
"Baik. Tolong hubungi."
BAB 13
PERTEMUAN DENGAN MAS HENDRA
Jam dua siang, Arga, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, dan Pak Bondan pergi ke Jogja. Mereka bertemu Mas Hendra di kantornya yang sederhana—tidak mewah, tidak besar, hanya satu ruangan dengan dua meja dan beberapa kursi.
Mas Hendra usianya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya tegas, rambutnya pendek, kumisnya tipis. Ia memakai kemeja lengan panjang dan celana bahan hitam.
"Mas Arga, saya sudah dengar kasus Bapak," kata Mas Hendra.
"Bagaimana?"
"Ini menarik. Tanah warisan Mbah Jayarasa. Surat wasiat. Surat jual beli tahun 1965. Saksi mata. Dan sekarang Danu muncul dengan surat palsu."
"Apakah Bapak bisa membantu?"
"Bisa. Tapi biayanya tidak murah."
"Berapa?"
"Seratus juta. Untuk proses hingga kasasi."
Ruangan hening.
Arga tidak punya uang sebanyak itu.
"Mas Arga, jangan khawatir. Bisa dicicil."
"Berapa cicilannya?"
"Mulai dua puluh juta di muka. Sisanya per bulan sepuluh juta selama delapan bulan."
Arga masih ragu.
"Mas Arga," kata Pak Bondan. "Aku akan bantu. Aku pinjamkan uang."
"Tapi, Pak, "
"Jangan tapi. Ini investasi. Jika tanah itu jadi milikmu selamanya, nilainya jauh lebih dari seratus juta."
"Terima kasih, Pak Bondan."
"Jangan berterima kasih. Kita mitra."
KONTRAK DITANDATANGANI
Mas Hendra mengeluarkan kontrak.
"Silakan dibaca. Jika setuju, tanda tangan."
Arga membaca.
Ia tidak mengerti istilah-istilah hukum. Tapi Guntur dan Pak Bondan yang membacakan.
"Tidak ada yang janggal, Arga," kata Guntur.
"Baik. Saya tanda tangan."
Arga menandatangani kontrak.
Mas Hendra menandatangani.
"Mulai besok, saya akan pelajari berkas perkara. Saya akan hubungi Bu Rina untuk koordinasi. Dan saya akan siapkan strategi."
"Terima kasih, Mas Hendra."
KEMBALI KE DESA
Jam enam sore, mereka pulang.
Sekar sudah menunggu di halaman.
"Mas, bagaimana?"
"Dapat pengacara. Mas Hendra."
"Biayanya?"
"Seratus juta. Tapi dicicil."
"Kita bisa bayar?"
"Pak Bondan bantu."
Sekar memeluk Arga.
"Mas, jangan terlalu stres. Aku hamil. Jangan sampai anak kita stres juga."
Arga tersenyum.
"Iya. Maaf."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 14
KEDATANGAN SAMSUL
Dua minggu setelah Arga menandatangani kontrak dengan Mas Hendra, pengacara baru yang akan menangani kasus tanah melawan Danu, desa Wringinrejo didatangi oleh seseorang yang tidak terduga. Bukan tamu yang diundang. Bukan saudara yang datang berkunjung. Tapi mantan musuh yang kini menjadi teman. Mantan pengkhianat yang kini menjadi sekutu. Mantan mata-mata yang kini menjadi saksi kunci.
Samsul.
Laki-laki yang dulu bekerja sebagai rekan Arga di toko bangunan Pak Bondan. Laki-laki yang dulu menjadi mata-mata Ferry. Laki-laki yang dulu hampir membunuh Arga. Laki-laki yang dulu hampir meracuni Sekar.
Tapi Samsul sudah berubah. Sejak menjadi saksi di persidangan Ferry, ia sadar bahwa jalan yang benar adalah jalan yang sulit. Sejak istrinya hampir meninggal karena sakit dan ia tidak punya uang untuk berobat, ia sadar bahwa uang tidak bisa membeli segalanya. Sejak anak-anaknya mulai menjauhi dia karena malu, ia sadar bahwa kehormatan lebih berharga dari kekayaan.
Samsul datang ke desa Wringinrejo bukan untuk meminta bantuan. Bukan untuk mengungkapkan penyesalan. Tapi untuk menawarkan diri menjadi saksi kunci dalam gugatan tanah yang dilancarkan Danu. Ia tahu banyak tentang praktik kotor Pak Kades. Ia tahu banyak tentang pemalsuan dokumen. Ia tahu banyak tentang preman-preman bayaran.
Dan malam itu, di ruang tengah rumah Arga, Samsul menceritakan semuanya.
MALAM YANG SUNYI
Jam delapan malam, hujan turun deras. Air mengguyur atap seng dengan suara keras. Angin bertiup kencang, membuat dedaunan bergoyang liar. Lampu minyak di ruang tengah menyala redup, membuat bayangan menari-nari di dinding.
Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni duduk melingkar di tikar pandan. Semua mata tertuju pada Samsul yang duduk di kursi kayu dengan wajah tegang.
"Samsul," panggil Arga. "Kamu bilang mau jadi saksi?"
"Iya, Mas."
"Kamu tahu risiko? Danu bisa membalas dendam. Keluargamu bisa terancam."
"Saya tahu, Mas."
"Kamu tetap mau?"
"Saya tetap mau. Karena ini kesempatan saya untuk membersihkan nama. Karena ini kesempatan saya untuk memperbaiki kesalahan."
"Ceritakan semua yang kamu tahu."
SAMSUL BICARA
Samsul mulai bercerita. Suaranya lirih, terputus-putus, kadang bergetar. Tapi matanya tajam. Ia tidak berbohong.
"Dulu, ketika saya masih bekerja di toko Pak Bondan, saya sering bertemu Pak Kades. Dia datang ke toko untuk membeli material bangunan. Tapi dia tidak hanya belanja. Dia juga... menawari saya kerja sampingan."
"Kerja sampingan apa?" tanya Arga.
"Menjadi mata-mata. Mengawasi pergerakan Mas Arga. Melaporkan pada Pak Kades."
"Tapi saat itu saya belum punya masalah dengan Pak Kades."
"Memang. Pak Kades sudah memantau Mas Arga sejak lama. Sejak Mas Arga pulang ke desa. Sejak Mas Arga menerima warisan tanah. Sejak Mas Arga mengambil keris. Sejak Mas Arga menikah dengan Sekar. Pak Kades takut. Takut Mas Arga akan merebut kekuasaannya. Takut Mas Arga akan menjadi lebih populer. Takut Mas Arga akan mengungkap praktik kotornya."
"Praktik kotor apa?"
"Pemalsuan dokumen. Penguasaan tanah rakyat. Pengerahan preman. Suap pada polisi, camat, bahkan hakim."
Samsul mengeluarkan setumpuk dokumen dari tasnya. Foto-foto. Rekaman suara. Catatan harian. Surat-surat perintah.
"Ini buktinya, Mas. Saya kumpulkan selama bertahun-tahun. Saya simpan untuk berjaga-jaga. Untuk melindungi keluarga saya. Dan sekarang, saya serahkan pada Mas Arga."
Arga menerima dokumen-dokumen itu. Tangannya gemetar.
"Terima kasih, Samsul."
"Jangan berterima kasih. Ini tugas saya."
DOKUMEN-DOKUMEN BUKTI
Mereka memeriksa dokumen-dokumen itu satu per satu.
Guntur membuka foto-foto. Foto Pak Kades bersama preman. Foto Pak Kades bersama Danu. Foto Pak Kades bersama hakim. Foto Pak Kades bersama camat.
Laras memeriksa rekaman suara. Suara Pak Kades memerintahkan preman untuk mengintimidasi warga. Suara Pak Kades memerintahkan Danu untuk memalsukan dokumen. Suara Pak Kades menyuap camat.
Faruq membaca catatan harian Samsul. Setiap pertemuan. Setiap transaksi. Setiap ancaman. Semua dicatat dengan detail. Tanggal, waktu, tempat, orang yang terlibat.
"Wah, Samsul, kamu hebat," kata Faruq.
"Saya tidak hebat. Saya hanya paranoid."
"Ini bukti yang sangat kuat," kata Guntur. "Dengan ini, Danu tidak bisa berkutik."
BU RINA BICARA
Bu Rina angkat bicara.
"Samsul, apakah kamu bersedia menjadi saksi di pengadilan?"
"Bersedia, Bu."
"Apakah kamu siap diperiksa? Dihadapkan pada Danu? Dihardik hakim? Ditekan pengacara? Diancam preman?"
"Siap, Bu."
"Sumpah?"
"Sumpah."
Bu Rina tersenyum. "Bagus. Kamu sudah berubah."
"Saya tidak berubah. Saya hanya sadar."
MALAM DI RUMAH
Jam sebelas malam, Samsul pamit. Ia akan menginap di rumah Mbah Jayarasa yang sudah disulap menjadi penginapan sederhana untuk tamu.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Hujan sudah reda. Langit mulai cerah. Bintang-bintang muncul satu per satu.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Samsul berubah."
"Iya. Dia berubah."
"Apa kita bisa percaya padanya?"
"Kita sudah percaya padanya. Sejak dia menjadi saksi di persidangan Ferry. Sejak dia mau membantu melawan Pak Kades."
"Tapi—"
"Tapi dia pernah berkhianat. Iya. Tapi dia juga pernah bertobat. Dan tobatnya sungguh-sungguh."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Kamu baik, Mas."
"Aku tidak baik. Aku hanya mau memberi kesempatan."
BAB 15
GUNTUR DAN LARAS PULANG
Kabar bahwa Samsul bersedia menjadi saksi kunci dalam gugatan tanah yang dilancarkan Danu membuat semangat tim Arga meningkat. Namun, mereka sadar bahwa menghadapi Danu, pengacara licik dengan koneksi luas, tidak cukup hanya dengan satu saksi tambahan. Mereka butuh strategi yang lebih matang, lebih tajam, lebih tidak terbantahkan.
Dan kabar baik datang dari Belanda.
Guntur dan Laras memutuskan untuk pulang lebih awal dari jadwal. Bukan hanya karena Laras hamil dan ingin melahirkan di tanah air. Tapi karena mereka mendengar bahwa Arga sedang terdesak. Bahwa Arga butuh bantuan. Bahwa tim butuh koordinator yang lebih berpengalaman dalam hal hukum dan strategi.
Guntur, dengan gelar S3 filsafatnya, dengan pengetahuannya tentang etika dan keadilan, dengan jaringan akademik dan profesionalnya, akan menjadi otak di balik perlawanan hukum melawan Danu.
Laras, dengan pengalamannya sebagai mantan mata-mata, dengan kemampuannya membaca situasi, dengan keberaniannya mengambil risiko, akan menjadi tangan yang bergerak di lapangan.
Mereka datang dengan membawa harapan.
Mereka datang dengan membawa semangat.
Mereka datang dengan membawa cinta untuk sahabat-sahabatnya.
PAGI DI BANDARA
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro berdiri di ruang kedatangan Bandara Adisucipto, Jogja.
Mereka menunggu Guntur dan Laras yang akan tiba dengan pesawat dari Belanda.
"Mas Arga, gugup?" tanya Faruq.
"Sedikit."
"Kenapa?"
"Karena sudah lama tidak bertemu."
"Tapi kalau sudah bertemu, pasti senang."
"Iya."
Pesawat mendarat. Penumpang mulai keluar.
Arga mencari wajah Guntur dan Laras.
Di antara kerumunan, ia melihat mereka.
Guntur mengenakan jaket kulit hitam, membawa koper besar. Laras memakai jaket biru muda, perutnya sudah sedikit membesar, tanda kehamilan yang semakin jelas.
"GUNTUR! LARAS!" teriak Faruq.
Mereka berpelukan.
"Mas Guntur, kamu kelihatan lebih tua," ledek Faruq.
"Kamu juga," balas Guntur.
"Aku masih muda."
"Pikiranmu yang masih muda."
Mereka tertawa.
PERJALANAN KE DESA
Jam sepuluh pagi, mereka naik mobil sewaan menuju desa Wringinrejo.
Di dalam mobil, Guntur dan Arga duduk di kursi depan. Laras, Sekar, Faruq, Nisa di kursi belakang. Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro di mobil lain.
"Arga, ceritakan semuanya," kata Guntur.
Arga menceritakan urutan kejadian.
Tentang gugatan tanah. Tentang surat palsu Danu. Tentang saksi ahli Danu yang licik. Tentang Prof. Widodo yang membuktikan keaslian dokumen. Tentang Pak Tarno yang mengaku disuruh berbohong. Tentang Samsul yang menawarkan diri menjadi saksi. Tentang Mas Hendra, pengacara baru yang akan membantu.
"Wah, kamu sudah banyak bergerak," kata Guntur.
"Tapi belum cukup."
"Sekarang aku di sini. Kita akan menang."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kebenaran ada di pihak kita."
TIBA DI DESA
Jam satu siang, mereka tiba di desa Wringinrejo.
Mbah Tarni sudah menunggu di halaman rumah Arga. Matanya berbinar.
"Guntur, Laras, selamat datang," katanya.
"Terima kasih, Mbah."
"Laras, Mbah lihat perutmu. Laki-laki?"
"Entahlah, Mbah. Belum USG."
"Mbah yakin laki-laki. Tanda-tandanya jelas."
Mereka tertawa.
RAPAT DARURAT
Jam dua siang, semua berkumpul di ruang tengah.
Guntur membuka laptop.
"Saya sudah pelajari kasus ini dari jauh," katanya. "Danu memang licik. Tapi dia tidak cerdas."
"Kenapa?" tanya Faruq.
"Karena dia terlalu percaya diri. Dia pikir dia bisa memalsukan dokumen tanpa ketahuan. Dia pikir dia bisa menyewa saksi ahli tanpa pemeriksaan silang. Dia pikir dia bisa menekan saksi tanpa konsekuensi."
"Tapi dia lupa satu hal."
"Apa?"
"Hukum itu tidak hanya tentang bukti. Hukum juga tentang persepsi. Tentang bagaimana hakim melihat kasus ini. Tentang bagaimana publik menilai."
"Lalu?"
"Kita buat Danu terlihat sebagai penjahat. Bukan hanya pemalsu dokumen. Tapi juga pemeras. Juga pengerah preman. Juga penyuap."
"Caranya?"
"Kita sebarkan informasi ke media. Kita laporkan keICW. Kita desak polisi untuk memeriksa Danu. Kita buat dia sibuk. Kita buat dia ketakutan."
"Setuju," kata semua.
LARAS BICARA
Laras angkat bicara.
"Mas Arga, selain hukum, kita juga harus jaga fisik."
"Jaga fisik?"
"Iya. Danu bisa sewaktu-waktu mengirim preman. Samsul sudah memberi informasi bahwa preman-preman Pak Kades masih berkeliaran."
"Kita sudah siap."
"Jangan hanya siap. Tapi juga waspada. Jangan sampai lengah."
"Siap, Mbak."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena Guntur dan Laras sudah pulang. Kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 16
SIDANG PERTAMA
Kedatangan Guntur dan Laras dari Belanda membawa energi baru bagi tim Arga. Guntur dengan gelar S3 filsafatnya dan pengalamannya berdebat di forum internasional menjadi otak di balik strategi hukum melawan Danu. Laras dengan pengalamannya sebagai mantan mata-mata dan kemampuannya membaca situasi menjadi koordinator lapangan yang tangguh. Mas Hendra, pengacara baru yang direkrut Arga, menyusun strategi hukum berdasarkan masukan dari Guntur dan bukti-bukti dari Samsul.
Dan hari ini, sidang pertama kasus tanah dengan pengacara baru dimulai.
Hari Senin pagi, ruang sidang pengadilan negeri dipenuhi oleh jurnalis, aktivis, dan warga desa yang ingin menyaksikan persidangan. Danu datang dengan percaya diri, ditemani Pak Kades dan dua orang preman yang duduk di bangku belakang dengan wajah garang. Arga datang dengan tim lengkap: Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni.
Hakim memukul palu.
"Sidang dibuka."
PAGI YANG TEGANG
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Tapi di ruang sidang, suasana justru dingin, dingin karena AC, dingin karena ketegangan.
Arga duduk di kursi tergugat. Pak Bondan di samping kanannya. Guntur di samping kirinya. Mas Hendra di depan, memegang setebal dokumen.
Danu duduk di kursi pengacara penggugat. Wajahnya tenang, senyumnya tipis, matanya licik. Di belakangnya, Pak Kades duduk dengan wajah tegang. Istri Pak Kades, Bu Sania, tidak ikut.
"Terdakwa dan pengacara hadir?" tanya hakim.
"Hadir, Yang Mulia," jawab Mas Hendra.
"Penggugat dan pengacara hadir?"
"Hadir, Yang Mulia," jawab Danu.
"Silakan, pengacara penggugat. Bacakan gugatan."
DANU BICARA
Danu berdiri.
"Yang Mulia, kami dari pihak penggugat mengajukan gugatan terhadap tergugat, Arga bin Sastro, atas sengketa tanah seluas dua hektar di lereng bukit timur, desa Wringinrejo."
"Tanah tersebut adalah milik keluarga Pak Kades berdasarkan surat tanah dari zaman Belanda yang sah. Tanah itu diklaim oleh tergugat sebagai warisan dari Mbah Jayarasa. Padahal Mbah Jayarasa hanyalah penggarap, bukan pemilik."
"Kami mohon hakim mengabulkan gugatan kami: menyatakan tanah itu milik Pak Kades, memerintahkan tergugat untuk menyerahkan tanah itu dalam keadaan kosong, dan membayar biaya perkara."
"Ini bukti-bukti kami."
Danu menyerahkan setebal dokumen.
MAS HENDRA BICARA
Mas Hendra berdiri.
"Yang Mulia, izinkan saya membacakan jawaban dari pihak tergugat."
"Silakan."
"Pihak tergugat menolak seluruh gugatan penggugat. Tanah tersebut adalah milik tergugat berdasarkan surat wasiat Mbah Jayarasa, surat jual beli tahun 1965 antara Marto (kakek penggugat) dan Mbah Jayarasa, serta saksi mata yang melihat transaksi tersebut."
"Selain itu, pihak tergugat memiliki bukti bahwa surat tanah dari zaman Belanda yang diajukan penggugat adalah PALSU. Kami akan hadirkan saksi ahli untuk membuktikan kepalsuan tersebut."
"Kami juga memiliki saksi mata yang akan membuktikan bahwa penggugat tidak pernah menggarap tanah tersebut selama puluhan tahun. Tanah itu terlantar. Tidak terawat. Tidak dimanfaatkan."
"Kami mohon hakim menolak gugatan penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan tidak dapat diterima."
SAKSI AHLI DARI DANU
Hakim mengetuk palu.
"Silakan, pengacara penggugat hadirkan saksi ahli."
Danu memanggil Dr. Rudi, saksi ahli yang sama dari sidang sebelumnya. Wajahnya masih licin. Matanya masih menghindar.
"Saudara Dr. Rudi, apa kesimpulan Saudara tentang surat tanah dari zaman Belanda ini?"
"Menurut saya, surat ini asli. Kertasnya kuno. Tintanya kuno. Tanda tangannya sesuai dengan zaman itu."
Guntur berdiri.
"Yang Mulia, izinkan saya mengajukan pertanyaan pada saksi ahli."
"Silakan, Saudara Guntur."
GUNTUR MENGGUNCANG SAKSI AHLI
Guntur mendekati Dr. Rudi.
"Saudara Dr. Rudi, dari mana Saudara mendapatkan keahlian untuk menentukan keaslian dokumen kuno?"
"Dari pendidikan dan pengalaman."
"Pendidikan apa? Pengalaman apa?"
"Saya lulusan arkeologi. Saya pernah meneliti dokumen-dokumen kuno di Belanda."
"Di Belanda? Universitas mana? Tahun berapa? Di bawah bimbingan siapa? Ada publikasinya?"
Dr. Rudi gugup.
"Saya... lupa."
"Lupa? Saksi ahli lupa detail pendidikannya?"
"Saya... tidak bawa dokumen."
"Ini persidangan serius, Saudara. Seharusnya saksi ahli mempersiapkan diri dengan baik."
Hakim mengetuk palu.
"Saudara Dr. Rudi, kami minta Saudara membawa bukti pendidikan dan pengalaman Saudara pada sidang berikutnya. Jika tidak, kesaksian Saudara tidak akan kami terima."
Dr. Rudi pucat. Danu gelisah.
SAKSI AHLI DARI ARGA
Mas Hendra berdiri.
"Yang Mulia, kami hadirkan saksi ahli dari pihak tergugat. Prof. Widodo dari Fakultas Hukum UGM."
Prof. Widodo berjalan ke depan. Wajahnya tenang, langkahnya mantap.
"Saudara Prof. Widodo, apa kesimpulan Saudara tentang surat tanah dari zaman Belanda yang diajukan penggugat?"
"Surat itu PALSU, Yang Mulia."
"Bisa buktikan?"
"Bisa. Pertama, kertas ini buatan pabrik tahun 1980-an. Bukan zaman Belanda. Kedua, tinta ini tinta pulpen, bukan tinta kuno. Ketiga, tanda tangannya ditiru. Keempat, capnya juga palsu. Kelima, ada kejanggalan dalam tata bahasa dan ejaan yang tidak sesuai dengan zaman Belanda."
"Bisa Saudara perlihatkan buktinya?"
Prof. Widodo mengeluarkan alat uji. Lensa pembesar. Sinar UV. Perbandingan dengan dokumen asli zaman Belanda.
"Ini, Yang Mulia. Silakan hakim melihat sendiri."
Hakim memeriksa.
"Ini bukti kuat," kata hakim. "Kesaksian Prof. Widodo kami terima."
Danu tidak bisa berkata apa-apa.
SAKSI SAMSUL
Mas Hendra berdiri lagi.
"Yang Mulia, kami hadirkan saksi mata dari pihak tergugat. Samsul bin Marto."
Samsul berjalan ke depan. Wajahnya tegang, tangannya gemetar, tapi suaranya tegas.
"Saudara Samsul, apa yang Saudara ketahui tentang penggugat?"
"Saya tahu banyak, Yang Mulia. Pak Kades, penggugat dulu sering menyuruh preman untuk mengintimidasi warga. Saya pernah menjadi koordinator preman itu."
Ruangan gempar.
"Saudara Samsul, apa hubungan Saudara dengan penggugat?"
"Saya dulu bekerja pada Pak Kades. Sebagai mata-mata. Mengawasi Mas Arga. Melaporkan setiap gerakannya."
"Apa hubungannya dengan sengketa tanah?"
"Pak Kades sudah lama mengincar tanah itu. Karena tanah itu subur. Karena tanah itu dekat dengan kali. Karena tanah itu strategis untuk proyek perumahan."
"Siapa yang menyuruh Pak Kades?"
"Dia sendiri. Tapi didukung oleh keponakannya, Danu. Danu yang menyusun strategi hukum. Danu yang menyuruh memalsukan dokumen. Danu yang menyogok saksi ahli."
Ruangan semakin gempar.
Danu berdiri. "Itu fitnah, Yang Mulia!"
"Tenang!" hakim mengetuk palu. "Saudara Danu, duduk. Saksi akan diperiksa lebih lanjut."
GUNTUR MENGGUNCANG DANU
Hakim memandang Guntur.
"Saudara Guntur, apakah Saudara memiliki bukti untuk mendukung kesaksian Samsul?"
"Ada, Yang Mulia. Rekaman suara. Foto-foto. Catatan harian Samsul."
"Ini."
Guntur menyerahkan bukti-bukti.
Hakim memeriksa.
"Ini bukti kuat. Kami akan periksa lebih lanjut."
SIDANG DITUNDA
Hakim mengetuk palu.
"Sidang ditunda satu minggu. Kami akan memeriksa bukti-bukti dan mendengarkan keterangan saksi-saksi lainnya."
"Pengacara penggugat, kami minta Saudara mempersiapkan diri. Jangan sampai ada saksi palsu lagi."
Danu pucat. Pak Kades gelisah.
"Sidang selesai."
SETELAH SIDANG
Arga memeluk Sekar.
"Kita menang, Mas."
"Belum. Ini baru awal."
"Tapi, "
"Danu masih punya banyak akal."
Guntur mendekat.
"Arga, siap-siap. Danu akan melakukan serangan balik."
"Aku siap."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 17
DANU MENYOGOK HAKIM
Sidang pertama kasus tanah telah dimenangkan Arga secara moral. Kesaksian Prof. Widodo yang membuktikan kepalsuan surat tanah dari zaman Belanda, dan kesaksian Samsul yang mengungkap praktik kotor Pak Kades dan Danu, membuat ruang sidang gempar. Hakim memerintahkan Danu untuk mempersiapkan diri lebih baik pada sidang berikutnya.
Tapi Danu tidak habis akal. Ia sadar bahwa bukti-bukti dari pihak Arga sangat kuat. Ia sadar bahwa reputasinya sebagai pengacara licik mulai tercoreng. Ia sadar bahwa pamannya, Pak Kades, bisa dipenjara jika kasus ini dimenangkan Arga.
Danu mengambil jalan pintas.
Menemui hakim di luar persidangan.
Di sebuah restoran mewah di pusat kota Jogja.
Membawa amplop tebal berisi uang.
"Yang Mulia, saya tahu Bapak punya hutang. Saya tahu Bapak butuh uang untuk biaya pengobatan istri. Ini sedikit titipan. Lima ratus juta. Cukup untuk biaya operasi."
Hakim itu bernama Hakim Subagyo. Usia lima puluh tahun. Jujur. Tegas. Tidak pernah menerima suap seumur hidupnya. Ia dikenal sebagai hakim yang paling ditakuti oleh para pengacara nakal karena tidak bisa dibeli.
Ia memandang amplop itu. Ia memandang Danu.
"Anak muda, kau tahu risiko menyogok hakim?"
"Tidak akan ketahuan, Yang Mulia. Ini antara kita."
"Kau pikir aku tidak punya rekaman?"
"Apa?"
"Kamar ini sudah dipasangi kamera dan alat perekam oleh kepolisian. Sejak ada laporan bahwa banyak pengacara nakal yang mencoba menyogok hakim di restoran ini."
Danu pucat.
"Kau baru saja membuat kesalahan besar, Danu. Bukan hanya kalah dalam persidangan. Tapi juga akan dihukum karena menyogok aparat penegak hukum."
Danu berdiri. Ia ingin kabur.
"Polisi!" teriak Hakim Subagyo.
Dua orang polisi masuk.
"Tahan saudara Danu. Pasal menyogok hakim. Ancaman pidana enam tahun penjara."
Danu tidak bisa berkutik.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Rabu, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Arga duduk di beranda. Ponselnya berdering.
"Mas Arga, ini Guntur."
"Iya."
"Aku dengar kabar. Danu ditangkap."
"Apa?"
"Tadi malam. Di restoran. Dia mencoba menyogok Hakim Subagyo. Tapi hakimnya jujur. Sudah dipasangi kamera dan alat perekam oleh polisi."
"Danu bodoh."
"Bukan bodoh. Putus asa."
"Lalu kasus tanah?"
"Otomatis menang. Karena pengacara penggugat ditahan. Hakim akan memutuskan berdasarkan bukti yang ada."
"Kapan?"
"Minggu depan."
KABAR KE TEMAN-TEMAN
Jam delapan pagi, semua teman-teman Arga datang.
Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, Mbah Tarni—semua berkumpul di ruang tengah.
"Mas Arga, aku dengar Danu ditangkap," kata Faruq.
"Iya."
"Wah, selamat! Kasus tanah kita menang!"
"Belum. Tunggu putusan hakim."
"Tapi sudah jelas, kan? Bukti kita kuat. Danu ditangkap. Pak Kades tidak punya pengacara."
"Hukum tidak selalu seperti itu, Faruq. Tapi mudah-mudahan."
GUNTUR BICARA
Guntur berdiri.
"Teman-teman, jangan terlalu cepat gembira. Danu ditangkap, tapi Pak Kades masih bebas. Dia bisa cari pengacara lain. Dia bisa mengajukan banding."
"Tapi, " Faruq mencoba memotong.
"Tapi, kita sudah punya momentum. Kita sudah punya bukti kuat. Kita sudah punya saksi. Dan kita sudah punya hakim yang jujur. Itu keuntungan besar."
"Lalu?"
"Kita tunggu putusan hakim. Minggu depan. Sambil menjaga keamanan."
LARAS BICARA
Laras angkat bicara.
"Mas Arga, selain hukum, kita juga harus siapkan mental."
"Siapkan mental?"
"Iya. Kemenangan hukum belum tentu membawa kedamaian batin. Kadang, setelah menang, justru muncul tekanan baru."
"Tekanan apa?"
"Tekanan dari pihak yang kalah. Mereka bisa balas dendam. Bukan secara hukum. Tapi secara fisik."
"Kita sudah siap."
"Jangan hanya siap. Tapi juga waspada."
"Siap, Mbak."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena keadilan berpihak pada kita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 18
BU RINA DARI LBH DATANG
Penangkapan Danu karena mencoba menyogok Hakim Subagyo menjadi titik balik dalam kasus tanah yang menghadang Arga. Namun, meskipun pengacara licik itu sudah ditahan, Pak Kades masih bebas. Ia masih bisa mencari pengacara lain. Ia masih bisa mengajukan banding. Ia masih bisa menyusun strategi baru untuk merebut tanah warisan Mbah Jayarasa.
Arga dan timnya tidak boleh lengah.
Dan di saat yang tepat, Bu Rina, pengacara LBH yang dulu membantu menangani kasus Ferry, datang ke desa Wringinrejo. Bukan hanya untuk memberikan nasihat hukum. Tapi untuk membantu menyusun strategi final. Strategi yang akan memastikan bahwa kasus tanah ini selesai untuk selamanya. Strategi yang tidak hanya memenangkan Arga, tetapi juga menjatuhkan Pak Kades secara moral dan hukum.
Bu Rina membawa serta dua orang rekannya: Mas Budi, pengacara muda yang ahli dalam kasus pertanahan, dan Mbak Dewi, paralegal yang berpengalaman mengurus dokumen-dokumen hukum.
Mereka datang dengan mobil Kijang tua penuh dengan kertas dan map. Mereka datang dengan semangat membara. Mereka datang untuk membantu tanpa pamrih, karena LBH adalah lembaga bantuan hukum untuk rakyat kecil.
PAGI YANG CERAH
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh—seperti biasa.
Arga duduk di beranda, ditemani Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni. Wajah mereka tegang, menunggu kedatangan Bu Rina.
"Mas Arga, Bu Rina sudah di jalan," kata Guntur sambil memandang ponselnya.
"Kapan sampai?"
"Sebentar lagi. Setengah jam."
"Kita sambut?"
"Tentu."
KEDATANGAN BU RINA
Jam sembilan pagi, mobil Kijang tua berwarna putih masuk ke halaman rumah.
Bu Rina turun lebih dulu. Wajahnya lelah, mungkin karena perjalanan jauh, mungkin karena banyak pikiran. Rambutnya yang disanggul rapi mulai beruban di beberapa bagian. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan rok batik.
Mas Budi dan Mbak Dewi ikut turun. Mereka membawa map-map tebal.
"Bu Rina, selamat datang," sapa Arga.
"Mas Arga, maaf baru bisa datang. Banyak kasus yang harus ditangani."
"Tidak apa, Bu. Yang penting Ibu datang."
Mereka masuk ke ruang tengah.
RAPAT HUKUM
Semua duduk melingkar di tikar pandan. Meja kayu panjang dipenuhi dokumen, map, dan laptop.
Bu Rina membuka laptopnya.
"Mas Arga, saya sudah pelajari kasus ini dari awal. Termasuk gugatan Danu, surat palsu, dan upaya penyogokan."
"Bagaimana kesimpulan Ibu?"
"Kesimpulan saya: kasus ini sudah hampir menang. Tapi belum selesai."
"Kenapa?"
"Karena Pak Kades masih bebas. Karena Pak Kades masih bisa mencari pengacara lain. Karena Pak Kades masih bisa mengajukan banding. Karena Pak Kades masih punya uang."
"Lalu?"
"Kita harus selesaikan secara tuntas. Jangan sampai ada celah."
STRATEGI FINAL
Bu Rina memaparkan strategi final.
"Pertama, kita akan ajukan permohonan putusan sela. Minta hakim untuk memutuskan bahwa surat tanah dari zaman Belanda itu palsu, sehingga tidak bisa dijadikan bukti."
"Kedua, kita akan ajukan tuntutan ganti rugi terhadap Pak Kades atas pencemaran nama baik, pengancaman, dan pengerahan preman."
"Ketiga, kita akan laporkan Pak Kades ke polisi atas kepemilikan dokumen palsu dan percobaan penyuapan, meskipun yang menyogok Danu, Pak Kades yang menyuruh."
"Keempat, kita akan minta hakim untuk segera mengeluarkan putusan akhir, mengingat Danu sudah ditahan dan Pak Kades tidak memiliki pengacara lagi."
"Kelima, kita akan minta bantuan media untuk mengawal kasus ini. Agar publik tahu. Agar hakim tidak berani main-main."
Arga mengangguk.
"Baik, Bu. Saya setuju."
MAS BUDI BICARA
Mas Budi angkat bicara.
"Mas Arga, ada satu hal yang sering dilupakan dalam kasus pertanahan."
"Apa?"
"Dokumen asli. Bukan fotokopian."
"Kami punya surat wasiat asli dari Mbah Jayarasa. Juga surat jual beli asli tahun 1965."
"Bagus. Itu modal utama. Jangan sampai hilang. Simpan di tempat yang aman."
Arga memandang Sekar.
Sekar mengangguk. "Di lemari besi pemberian Pak Bondan."
"Bagus."
MBAH DEWI BICARA
Mbak Dewi angkat bicara.
"Mas Arga, saya akan bantu urus administrasi. Surat-menyurat. Fotokopi. Legalisir. Pengiriman dokumen ke pengadilan."
"Terima kasih, Mbak."
"Jangan berterima kasih. Ini tugas saya."
SIANG DI RUANG TENGAH
Jam dua belas siang, rapat selesai.
Makan siang bersama. Nasi tumpeng buatan Sukmawati. Ayam ingkung. Sayur lodeh. Sambal goreng. Kerupuk.
"Mari makan," kata Sukmawati.
"Terima kasih, Bu," kata Bu Rina.
Mereka makan dengan lahap. Tertawa. Bercerita.
"Bu Rina, kenapa Ibu mau membantu kami?" tanya Faruq.
"Karena LBH didirikan untuk membantu rakyat kecil. Karena Mas Arga adalah rakyat kecil yang berjuang melawan ketidakadilan."
"Apakah Ibu tidak takut pada Pak Kades?"
"Tidak. Saya sudah sering menghadapi yang lebih berbahaya."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Bu Rina, Mas Budi, dan Mbak Dewi menginap di rumah Mbah Jayarasa.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena orang-orang baik ada di pihak kita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 19
JURNALIS INVESTIGASI
Kehadiran Bu Rina dari LBH beserta timnya membawa angin segar bagi tim Arga. Namun, mereka sadar bahwa kemenangan di pengadilan tidak cukup hanya mengandalkan bukti dan saksi. Mereka juga butuh tekanan publik. Mereka butuh media. Mereka butuh jurnalis investigasi yang berani mengungkap praktik kotor Pak Kades, Danu, dan preman-preman bayaran.
Dan kabar baik datang dari Nisa. Ia menghubungi teman-temannya di dunia jurnalistik. Beberapa jurnalis dari media nasional, Kompas, Tempo, BBC Indonesia, dan CNN Indonesia, tertarik untuk meliput kasus ini. Mereka datang ke desa Wringinrejo. Mereka mewawancarai Arga, Sekar, Guntur, Laras, Samsul, Pak Bondan, Ratri, Mbah Tarni, dan warga desa lainnya. Mereka memotret bukti-bukti. Mereka merekam kesaksian. Mereka menyusun laporan investigasi yang akan mengguncang publik.
Dan dalam semalam, nama Pak Kades berubah dari 'mantan kepala desa yang terhormat' menjadi 'tersangka korupsi, pemerasan, dan penyalahgunaan wewenang'. Tekanan publik meningkat. Pengadilan tidak bisa lagi main-main. Hakim tidak bisa lagi disuap. Polisi tidak bisa lagi tutup mata.
Kasus tanah Arga pun memasuki babak final.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh—seperti biasa. Tapi hari ini ada yang berbeda. Beberapa orang asing duduk di meja kayu depan warung. Mereka membawa kamera, alat perekam, dan buku catatan. Mereka adalah jurnalis.
"Mas Arga, ini Mas Didi dari Kompas, Mbak Rini dari Tempo, Mas Joko dari BBC Indonesia, dan Mbak Sari dari CNN Indonesia," kata Nisa sambil memperkenalkan.
Arga terkejut. "Wah, banyak sekali."
"Ini baru sebagian. Masih ada yang lain."
"Untuk apa?"
"Mereka mau meliput kasus tanah Bapak," kata Mas Didi.
"Siapa yang kasih tahu?"
"Saya," kata Nisa.
Arga menghela napas. "Baik. Silakan."
WAWANCARA DENGAN ARGA
Mereka duduk di ruang tengah. Jurnalis mulai bertanya.
"Mas Arga, bagaimana perasaan Bapak setelah sekian lama berjuang melawan Pak Kades?"
"Lelah. Tapi tidak menyerah."
"Apa yang membuat Bapak tetap bertahan?"
"Kebenaran. Dan keluarga. Dan teman-teman."
"Apakah Bapak takut pada Pak Kades?"
"Takut. Tapi saya lebih takut jika kebenaran tidak terungkap."
"Apa pesan Bapak untuk pembaca kami?"
"Jangan pernah takut melawan ketidakadilan. Selama kebenaran di pihak kita, kita akan menang."
WAWANCARA DENGAN SEKAR
Mbak Rini mewawancarai Sekar.
"Mbak Sekar, bagaimana perasaan Mbak suami Mbak berjuang melawan Pak Kades?"
"Saya bangga. Tapi juga khawatir."
"Khawatir apa?"
"Khawatir keselamatan beliau. Khawatir beliau terlalu capek. Khawatir beliau putus asa."
"Tapi beliau tidak putus asa."
"Alhamdulillah."
"Apa pesan Mbak untuk pembaca kami?"
"Jangan pernah menyerah. Dukung suami atau istri kalian dalam berjuang. Karena kebersamaan adalah kekuatan."
WAWANCARA DENGAN GUNTUR
Mas Joko mewawancarai Guntur.
"Mas Guntur, apa peran Bapak dalam kasus ini?"
"Saya membantu menyusun strategi hukum. Juga membantu mengumpulkan bukti."
"Apa tantangan terbesar?"
"Menghadapi Danu. Pengacara yang licik. Tapi dia sudah ditahan karena menyogok hakim."
"Apa pesan Bapak untuk pembaca kami?"
"Hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas. Tapi jika rakyat bersatu, hukum bisa ditegakkan."
WAWANCARA DENGAN SAMSUL
Mbak Sari mewawancarai Samsul.
"Mas Samsul, apa yang membuat Bapak berani menjadi saksi?"
"Karena saya ingin membersihkan nama. Karena saya ingin anak cucu saya bangga."
"Apa risiko?"
"Keluarga saya bisa terancam. Tapi saya sudah siap."
"Apa pesan Bapak untuk pembaca kami?"
"Jangan jadi pengecut. Jangan jadi mata-mata. Jadilah pahlawan untuk keluarga."
BERITA MENGGELEPAR
Seminggu kemudian, berita tentang kasus tanah Arga dan praktik kotor Pak Kades muncul di berbagai media. Kompas. Tempo. BBC Indonesia. CNN Indonesia. Juga media lokal. Juga media sosial.
Tagar #BebaskanArga dan #TangkapPakKades menjadi trending di Twitter.
Publik marah. Publik menuntut keadilan. Publik mendesak polisi untuk segera menahan Pak Kades.
PENGADILAN TERDESAK
Hakim Subagyo, yang dikenal jujur, tidak bisa lagi menunda. Ia memerintahkan polisi untuk segera memeriksa Pak Kades. Ia juga memerintahkan agar sidang kasus tanah dipercepat.
"Pak Kades, kami panggil Bapak untuk diperiksa sebagai tersangka," kata komandan polisi.
Pak Kades pucat. "Saya tidak bersalah!"
"Bukti-bukti sudah kuat. Bapak ikut kami."
Pak Kades digiring ke mobil polisi.
Bu Sania menangis.
Warga desa yang melihat bersorak.
AKHIRNYA KEADILAN
Jam dua siang, Arga menerima telepon dari Guntur.
"Arga, Pak Kades sudah ditahan."
"Syukurlah."
"Kasus tanah akan segera diputus. Kemungkinan besar Bapak menang."
"Aku tidak ingin menang. Aku ingin keadilan."
"Itu sudah keadilan."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena keadilan sudah di pihak kita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 20
HAKIM BERUBAH SIKAP
Tekanan publik yang meledak setelah pemberitaan media nasional tentang kasus tanah Arga dan praktik kotor Pak Kades ternyata membawa dampak besar. Bukan hanya pada polisi yang akhirnya berani menahan Pak Kades. Bukan hanya pada kejaksaan yang mulai memproses berkas perkara. Tapi juga pada hakim, Hakim Subagyo, yang selama ini sudah dikenal jujur, kini semakin berani.
Hakim Subagyo sadar bahwa publik mengawalnya. Ia sadar bahwa jika ia memutuskan tidak adil, kariernya akan hancur. Ia sadar bahwa jika ia memenangkan Pak Kades, ia akan dianggap korup. Ia sadar bahwa jika ia tidak segera menyelesaikan kasus ini, desakan publik akan semakin keras.
Maka pada sidang berikutnya, Hakim Subagyo bertindak tegas. Ia menolak semua permohonan penundaan dari pengacara baru Pak Kades, pengacara dadakan yang dibayar mahal namun tidak kompeten. Ia memerintahkan Mas Hendra sebagai pengacara Arga untuk menyampaikan kesimpulan akhir. Ia juga memerintahkan kejaksaan untuk segera menyiapkan tuntutan terhadap Pak Kades atas kasus pemalsuan dokumen, pengerahan preman, dan percobaan penyogokan.
Danu, yang masih ditahan di rumah tahanan kota, hanya bisa pasrah. Pengacaranya tidak bisa berbuat banyak. Bukti-bukti dari pihak Arga sudah sangat kuat. Kesaksian Prof. Widodo dan Samsul sudah sangat meyakinkan. Dan pemberitaan media sudah sangat mengguncang publik.
Pak Kades, yang juga ditahan di ruang tahanan yang berbeda, hanya bisa diam. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Ia sudah tidak punya energi untuk melawan. Ia sudah tidak punya uang untuk menyogok. Ia sudah tidak punya preman untuk mengintimidasi.
Kekuasaan dan uang yang dulu ia banggakan, kini tidak berarti apa-apa.
PAGI DI PENGADILAN
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Ruang sidang pengadilan negeri dipenuhi oleh jurnalis, aktivis, dan warga desa yang ingin menyaksikan persidangan.
Arga duduk di kursi tergugat. Sekar di samping kanannya. Guntur di samping kirinya. Mas Hendra di depan, memegang setebal dokumen.
Pak Kades duduk di kursi terdakwa, karena kasusnya sudah naik ke pidana. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Tangannya gemetar.
Danu duduk di kursi terdakwa lain, terpisah dari pamannya. Wajahnya juga pucat, matanya juga sayu.
"Terdakwa dan pengacara hadir?" tanya Hakim Subagyo.
"Hadir, Yang Mulia," jawab pengacara Pak Kades.
"Hadir, Yang Mulia," jawab pengacara Danu.
"Tergugat dan pengacara hadir?"
"Hadir, Yang Mulia," jawab Mas Hendra.
"Silakan, pengacara tergugat. Sampaikan kesimpulan akhir."
MAS HENDRA BICARA
Mas Hendra berdiri.
"Yang Mulia, kami dari pihak tergugat menyimpulkan bahwa tanah seluas dua hektar di lereng bukit timur, desa Wringinrejo, adalah milik Arga bin Sastro berdasarkan: surat wasiat Mbah Jayarasa, surat jual beli tahun 1965, serta saksi mata yang melihat transaksi tersebut."
"Kami juga menyimpulkan bahwa surat tanah dari zaman Belanda yang diajukan penggugat adalah PALSU. Hal ini telah dibuktikan oleh saksi ahli Prof. Widodo."
"Kami juga menyimpulkan bahwa Pak Kades, penggugat, telah melakukan tindak pidana: pemalsuan dokumen, pengerahan preman, dan percobaan penyogokan melalui keponakannya, Danu."
"Kami mohon Yang Mulia untuk memenangkan pihak tergugat, serta menghukum pihak penggugat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku."
"Terima kasih."
HAKIM SUBAGYO BICARA
Hakim Subagyo mengetuk palu.
"Sebelum saya membacakan putusan, saya ingin menyampaikan beberapa hal."
"Pertama, saya mengapresiasi keberanian saudara Arga dan timnya dalam melawan ketidakadilan."
"Kedua, saya mengapresiasi keberanian saudara Samsul yang bersedia menjadi saksi."
"Ketiga, saya mengapresiasi keberanian saudara Prof. Widodo yang bersedia menjadi saksi ahli."
"Keempat, saya mengapresiasi media yang telah memberitakan kasus ini secara berimbang."
"Kelima, saya mengucapkan terima kasih kepada publik yang telah mengawal kasus ini. Tanpa tekanan publik, mungkin kasus ini tidak akan secepat ini selesai."
"Sekarang, saya bacakan putusan."
Ruangan hening.
PUTUSAN HAKIM
Hakim Subagyo membaca putusan dengan suara lantang.
"Mengadili: Pertama, menyatakan tanah seluas dua hektar di lereng bukit timur, desa Wringinrejo, adalah milik Arga bin Sastro."
"Kedua, menyatakan surat tanah dari zaman Belanda yang diajukan penggugat adalah PALSU."
"Ketiga, menyatakan Pak Kades terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen, pengerahan preman, dan percobaan penyogokan."
"Keempat, menyatakan Danu terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana percobaan penyogokan."
"Kelima, menghukum Pak Kades dengan pidana penjara selama lima tahun."
"Keenam, menghukum Danu dengan pidana penjara selama enam tahun."
"Ketujuh, memerintahkan penyitaan aset-aset Pak Kades dan Danu yang didapat dari hasil korupsi dan pemerasan."
"Kedelapan, membebankan biaya perkara kepada negara."
"Demikian putusan ini. Terima kasih."
Hakim Subagyo mengetuk palu.
"Sidang selesai."
REAKSI ARGA
Arga memeluk Sekar.
"Kita menang, Mas!"
"Iya, Sekar. Kita menang."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama."
Mereka menangis.
Guntur memeluk Arga.
"Selamat, Le."
"Terima kasih, Guntur. Tanpa kamu, aku tidak akan bisa."
"Kamu bisa. Aku hanya membantu."
Laras memeluk Sekar.
"Mbak Sekar, selamat."
"Terima kasih, Mbak. Ibu juga ikut senang, kan?"
"Sangat."
REAKSI PARA SAHABAT
Faruq melompat-lompat.
"YES! KITA MENANG!"
"Faruq, jangan teriak-teriak," kata Nisa.
"Aku senang, Nis!"
"Tahan."
"Tidak bisa!"
Faruq memeluk Nisa.
Dimas memeluk Arga.
"Mas Arga, selamat."
"Terima kasih, Dimas. Kamu hebat dengan kameramu."
"Aku tidak hebat. Aku hanya hobi."
Ratri memeluk Sekar.
"Mbak, aku ikut senang."
"Terima kasih, Rat."
"Semoga desa ini damai."
"Amin."
Samsul memeluk Arga.
"Mas Arga, saya ikut senang."
"Terima kasih, Samsul. Tanpa kesaksianmu, mungkin kita tidak akan menang."
"Saya hanya melakukan yang benar."
Pak Bondan memeluk Arga.
"Le, selamat."
"Terima kasih, Pak. Tanpa bantuan Bapak, saya tidak akan bisa bayar pengacara."
"Uang bisa dicari. Keadilan tidak."
Sukmawati memeluk Arga dan Sekar.
"Le, Nduk, Ibu bangga."
"Terima kasih, Bu."
"Anak Ibu hebat-hebat."
Sastro memeluk Arga.
"Le, Ayah bangga."
"Terima kasih, Yah."
"Kamu sudah jadi laki-laki sejati."
Mbah Tarni memeluk Arga.
"Le, Mbah bangga."
"Terima kasih, Mbah."
"Doa Mbah selalu menyertaimu."
"Amin."
REAKSI PAK KADES DAN DANU
Pak Kades tidak bergerak. Ia hanya diam. Wajahnya pucat. Matanya kosong.
Danu menangis.
"Aku menyesal," bisiknya.
"Terlambat," kata polisi yang menggiringnya.
Mereka dibawa ke mobil tahanan.
REAKSI WARGA
Warga desa yang hadir bersorak.
"HIDUP ARGA! HIDUP KEADILAN!"
"MANTAN PAK KADES TETAP HARAM!"
"SEMOGA DESA KAMI DAMAI!"
Arga melambaikan tangan.
"Terima kasih, warga Wringinrejo. Mari kita bangun desa ini bersama. Tanpa korupsi. Tanpa nepotisme. Tanpa fitnah."
"SETUJU!" teriak warga.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akhirnya selamat?"
"Iya, Sekar. Kita selamat."
"Setelah sekian lama berjuang..."
"Setelah sekian lama berjuang."
"Kita layak bahagia."
"Kita layak bahagia."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 21
PAK KADES MENGAKU
Putusan hakim yang memenangkan Arga dalam sengketa tanah dan menghukum Pak Kades lima tahun penjara serta Danu enam tahun penjara seharusnya menjadi akhir dari perjuangan panjang tim Arga. Namun, hukum masih memberikan hak kepada terdakwa untuk mengajukan banding. Pak Kades, meskipun sudah terpojok, meskipun sudah ditahan, meskipun sudah kehilangan segalanya, masih memiliki satu kesempatan terakhir untuk membersihkan nama baiknya.
Banding.
Tapi Pak Kades tidak mengajukan banding. Ia justru meminta diadakan sidang ulang. Bukan untuk membela diri. Bukan untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Tapi untuk mengaku. Di hadapan publik. Di hadapan hakim. Di hadapan jurnalis. Di hadapan warga desa.
Ia ingin mengakui semua kejahatannya.
Ia ingin meminta maaf pada Arga.
Ia ingin meminta maaf pada Sekar.
Ia ingin meminta maaf pada seluruh warga desa Wringinrejo.
Keponakannya, Danu, semula menolak. "Paman, jangan! Kita bisa banding! Kita bisa menang!"
Tapi Pak Kades sudah bulat. "Sudah, Le. Paman capek. Paman sudah tidak punya energi. Paman sudah tidak punya uang. Paman sudah tidak punya preman. Paman hanya punya penyesalan."
Danu menangis. "Tapi, Paman, "
"Sudah. Biar Paman yang bertanggung jawab."
PAGI DI PENGADILAN
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Ruang sidang pengadilan negeri dipenuhi oleh jurnalis, aktivis, dan warga desa yang ingin menyaksikan pengakuan Pak Kades.
Arga duduk di kursi pengunjung. Sekar di samping kanannya. Guntur di samping kirinya. Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni duduk di belakang.
Pak Kades duduk di kursi pesakitan. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Tangannya gemetar. Danu duduk di kursi pesakitan lain, terpisah dari pamannya.
"Terdakwa, apakah Bapak mengajukan banding?" tanya Hakim Subagyo.
"Tidak, Yang Mulia."
"Lalu?"
"Saya ingin mengaku. Di hadapan publik. Di hadapan Yang Mulia. Di hadapan semua yang hadir."
"Silakan."
PAK KADES BICARA
Pak Kades berdiri. Suaranya lirih, terputus-putus, kadang tenggelam oleh isak tangis.
"Yang Mulia, saya... saya bersalah."
Ruangan hening.
"Saya bersalah atas semua tuduhan. Saya yang menyuruh preman untuk mengintimidasi Arga. Saya yang menyuruh preman untuk merusak warung pecel Sekar. Saya yang menyuruh preman untuk menyerang rumah Arga."
"Saya juga yang menyuruh Danu, keponakan saya, untuk memalsukan surat tanah. Saya juga yang menyuruh Danu untuk menyewa saksi ahli palsu. Saya juga yang menyuruh Danu untuk menyogok hakim."
"Saya juga yang memeras warga desa. Saya juga yang menggunakan uang desa untuk kepentingan pribadi. Saya juga yang menyembunyikan aset desa."
"Saya... saya minta maaf."
Pak Kades menunduk. Air matanya jatuh ke lantai.
"Maafkan saya, Arga. Maafkan saya, Sekar. Maafkan saya, warga Wringinrejo. Maafkan saya, semua."
Ruangan hening.
Seorang jurnalis menangis.
Seorang aktivis menangis.
Seorang warga desa menangis.
ARGA BICARA
Arga berdiri.
"Yang Mulia, izinkan saya bicara."
"Silakan."
Arga memandang Pak Kades.
"Pak Kades, saya MENERIMA permintaan maaf Bapak."
"Saya tidak akan membenci Bapak. Saya tidak akan dendam."
"Tapi saya tidak bisa melupakan."
"Bapak sudah menyakiti keluarga saya. Bapak sudah menyakiti warga desa. Bapak sudah menyakiti banyak orang."
"Semoga Bapak mendapat hukuman yang setimpal. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk efek jera. Agar tidak ada lagi pejabat yang berani korupsi dan zalim."
"Saya memaafkan Bapak. Tapi hukum tetap berjalan."
Pak Kades menangis.
"Terima kasih, Arga."
HAKIM SUBAGYO BICARA
Hakim Subagyo mengetuk palu.
"Saya mengapresiasi keberanian Pak Kades untuk mengaku."
"Saya juga mengapresiasi kemaafan dari saudara Arga."
"Namun, hukum harus tetap ditegakkan."
"Pak Kades, saya vonis Bapak dengan pidana penjara selama tujuh tahun. Bertambah dua tahun dari vonis sebelumnya. Karena Bapak baru mengaku setelah ada bukti kuat, bukan karena kesadaran dari awal."
"Danu, saya vonis Bapak dengan pidana penjara selama delapan tahun. Bertambah dua tahun dari vonis sebelumnya. Karena Bapak tidak mengaku dan mencoba menyalahkan paman Bapak."
"Apakah Bapak menerima vonis ini?"
Pak Kades mengangguk. "Saya terima, Yang Mulia."
Danu menangis. "Saya terima."
"Sidang selesai."
SETELAH SIDANG
Arga memeluk Sekar.
"Ini benar-benar selesai, Mas."
"Iya, Sekar. Ini benar-benar selesai."
Mereka menangis.
Guntur memeluk Arga.
"Selamat, Le. Perjuanganmu selesai."
"Terima kasih, Guntur. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akhirnya benar-benar selamat?"
"Iya, Sekar. Kita benar-benar selamat."
"Setelah sekian lama berjuang..."
"Setelah sekian lama berjuang."
"Kita layak bahagia."
"Kita layak bahagia."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 22
KEMENANGAN
Sehari setelah Pak Kades mengaku semua kejahatannya di hadapan publik, desa Wringinrejo dilanda euforia. Bukan euforia yang berlebihan Bukan pesta pora. Tapi kebahagiaan yang tenang. Kebahagiaan yang datang setelah bertahun-tahun tertindas. Kebahagiaan yang datang setelah berbulan-bulan berjuang melawan ketidakadilan.
Arga tidak hanya memenangkan sengketa tanah. Ia juga berhasil membongkar praktik korupsi, pemerasan, dan intimidasi yang dilakukan Pak Kades selama puluhan tahun. Ia juga berhasil membersihkan nama baik keluarganya. Ia juga berhasil mengembalikan kepercayaan warga desa pada keadilan.
Dan pagi ini, di balai desa Wringinrejo, Camat menyerahkan secara resmi sertifikat tanah atas nama Arga bin Sastro. Tanah warisan Mbah Jayarasa. Tanah yang dulu hampir direbut oleh Pak Kades. Tanah yang kini sah menjadi milik Arga dan keturunannya selamanya.
Ratri, Pejabat Sementara Kepala Desa, memimpin upacara serah terima. Wajahnya berbinar. Matanya berkaca-kaca.
"Mas Arga, tanah leluhur. Jaga baik-baik."
"Terima kasih, Rat. Aku akan menjaganya, Aku tidak akan menyia-nyiakan."
"Kamu pantas mendapat ini."
"Aku tidak pantas. Tuhan yang memberi."
PAGI DI BALAI DESA
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung burung pipit beterbangan rendah. Halaman balai desa dipenuhi oleh warga yang ingin menyaksikan penyerahan sertifikat tanah.
Arga duduk di kursi kehormatan. Sekar di samping kanannya. Guntur di samping kirinya. Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni duduk di belakang.
Camat berdiri di mimbar.
"Saudara-saudara, hari ini adalah hari bersejarah bagi desa Wringinrejo."
"Setelah melalui proses hukum yang panjang, akhirnya tanah warisan Mbah Jayarasa resmi menjadi milik Arga bin Sastro."
"Ini adalah kemenangan keadilan. Kemenangan rakyat kecil. Kemenangan kebenaran."
"Mari kita sambut dengan tepuk tangan."
Warga bertepuk tangan riuh.
Camat menyerahkan sertifikat tanah pada Arga.
Arga menerima dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Pak Camat."
"Terima kasih kembali, Mas Arga. Jaga tanah ini baik baik."
"Siap, Pak."
CAMAT BICARA
Camat melanjutkan.
"Selain penyerahan sertifikat tanah, saya juga ingin menyampaikan bahwa Pak Kades telah resmi dicopot dari statusnya sebagai mantan kepala desa. Ia tidak berhak menyandang gelar itu lagi setelah terbukti melakukan tindak pidana."
"Danu, keponakannya, juga sudah dihukum delapan tahun penjara. Ia tidak akan bisa lagi berpraktik sebagai pengacara setelah selesai menjalani hukuman."
"Aset aset milik Pak Kades dan Danu yang diperoleh dari hasil korupsi dan pemerasan akan disita negara."
"Ini adalah pelajaran bagi kita semua: jangan sekali kali menyalahgunakan kekuasaan. Jangan sekali kali menindas rakyat kecil. Karena suatu hari, keadilan akan datang."
Warga bertepuk tangan lagi.
ARGA BICARA
Arga berdiri.
"Saudara-saudara, saya tidak ingin banyak bicara."
"Saya hanya ingin berterima kasih kepada semua yang telah membantu: keluarga, sahabat, camatan, polisi, hakim, jurnalis, LBH, dan seluruh warga desa Wringinrejo."
"Tanpa kalian, saya tidak akan bisa."
"Tanpa kalian, tanah ini mungkin sudah direbut Pak Kades."
"Tanpa kalian, saya mungkin sudah menyerah."
"Terima kasih."
"Dan untuk Pak Kades dan Danu, saya sudah memaafkan. Hukum sudah berjalan. Saya tidak akan dendam."
"Semoga mereka bertobat."
"Sekarang, mari kita bangun desa ini bersama. Tanpa korupsi. Tanpa nepotisme. Tanpa fitnah."
"Bisa?"
"BISA!" teriak warga.
PESTA KECIL
Jam dua belas siang, mereka mengadakan pesta kecil di halaman rumah Arga.
Pesta sederhana. Nasi tumpeng. Ayam ingkung. Sayur lodeh. Sambal goreng. Kerupuk. Hanya keluarga dan sahabat terdekat yang diundang.
"Mas Arga, selamat," kata Faruq.
"Terima kasih, Faruq."
"Kamu hebat."
"Aku tidak hebat. Aku hanya didukung orang-orang hebat."
Faruq memeluk Arga.
Guntur memeluk Arga.
"Kita sudah melalui banyak hal bersama, Arga."
"Iya, Guntur. Dari melawan Ferry. Sampai melawan Pak Kades."
"Sekarang kita bisa tenang."
"Sekarang kita bisa tenang."
Laras memeluk Sekar.
"Mbak Sekar, akhirnya selesai."
"Iya, Mbak. Akhirnya selesai."
"Kamu pasti lega."
"Sangat."
Dimas memeluk Arga.
"Mas Arga, aku pamit."
"Pamit kemana?"
"Aku akan kembali ke Jogja. Ada tawaran kerja sebagai teknisi jaringan."
"Selamat, Dimas."
"Terima kasih, Mas. Jangan lupa traktir."
"Besok. Janji."
Mereka tertawa.
Ratri memeluk Sekar.
"Mbak, aku ikut senang."
"Terima kasih, Rat."
"Desa ini akan lebih baik."
"Amin."
Samsul memeluk Arga.
"Mas Arga, saya juga pamit."
"Pamit kemana?"
"Saya akan kembali ke kampung. Buka usaha kecil kecilan. Bersama istri dan anak-anak."
"Selamat, Samsul."
"Terima kasih, Mas. Maaf untuk semua kesalahan saya."
"Sudah. Saya maafkan."
Mereka berpelukan.
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan angkat bicara.
"Arga, aku juga pamit."
"Pak Bondan mau ke Jogja?"
"Iya. Toko bangunan harus saya urus. Cabang di kecamatan sudah saya percayakan padamu."
"Terima kasih, Pak. Untuk semua bantuan."
"Jangan berterima kasih. Kau sudah seperti anakku."
Mereka berpelukan.
GUNTUR DAN LARAS BICARA
Guntur dan Laras berdiri.
"Arga, kami juga pamit," kata Guntur.
"Kembali ke Belanda?"
"Iya. Program S3 belum selesai. Laras juga masih kuliah."
"Kapan berangkat?"
"Minggu depan."
"Selamat jalan, Guntur. Selamat jalan, Laras."
"Terima kasih, Arga. Jaga Sekar. Jaga calon anakmu."
"Siap."
Mereka berpelukan.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, semua tamu pulang.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama."
"Kita layak istirahat."
"Kita layak istirahat."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 23
KELAHIRAN
Kemenangan Arga dalam sengketa tanah dan vonis hukuman untuk Pak Kades serta Danu membawa kedamaian bagi desa Wringinrejo. Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada satu peristiwa besar yang sedang dinanti-nantikan: kelahiran bayi Arga dan Sekar.
Sekar kini memasuki usia kandungan sembilan bulan. Perutnya semakin membesar. Gerakan janin semakin aktif. Kadang menendang, kadang memukul, kadang berguling, seperti sedang tidak sabar untuk segera keluar dan melihat dunia.
Arga mendampingi Sekar dengan penuh cemas. Ia tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian, bahkan untuk sesaat. Ia takut terjadi sesuatu. Ia takut Sekar jatuh. Ia takut Sekar kesakitan. Ia takut persalinan tidak berjalan lancar.
Tapi Sekar justru tenang. Ia sudah mempersiapkan segalanya. Perlengkapan bayi. Pakaian kecil. Popok. Selimut. Bedong. Botol susu. Semuanya sudah siap di kamar.
Ia juga sudah berkoordinasi dengan mantri desa, Pak Harun, yang akan membantu persalinan. Dan jika terjadi komplikasi, ia sudah siap dirujuk ke rumah sakit kecamatan.
"Mas, jangan khawatir," kata Sekar sambil memegang perutnya. "Aku sudah pernah melewati yang lebih berat dari ini."
"Melahirkan itu berat, Sekar. Bisa menyebabkan kematian."
"Tapi aku tidak akan mati. Aku masih harus membesarkan anak kita."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Kamu kuat."
"Aku kuat karena kamu."
PAGI YANG CERAH
Hari Selasa, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar tutup sementara, ada papan pemberitahuan di depan warung: "Tutup. Menjelang persalinan. Maaf."
Sekar duduk di beranda, ditemani Sukmawati dan Ratri. Wajahnya tenang, meskipun sesekali meringis karena kontraksi ringan.
"Nduk, kamu istirahat saja," kata Sukmawati.
"Iya, Bu."
"Mau makan?"
"Tidak laper, Bu."
"Minum?"
"Tidak haus, Bu."
"Nanti kalau sudah waktunya, kamu harus makan. Biar kuat."
"Siap, Bu."
Arga mondar-mandir di halaman. Wajahnya tegang. Tangannya gemetar.
"Mas Arga, duduk," kata Guntur yang ikut menemani.
"Aku tidak bisa duduk."
"Nanti kamu pusing."
"Biarlah."
"Apa kamu tidak percaya pada Sekar?"
"Aku percaya. Tapi aku tetap khawatir."
"Itu wajar. Tapi jangan berlebihan."
KONTRAKSI
Jam sepuluh pagi, Sekar merasakan kontraksi yang lebih kuat.
"Aduh..."
"Kenapa, Nduk?" tanya Sukmawati.
"Perutku... sakit."
"Sakit bagaimana?"
"Seperti ditekan-tekan dari dalam."
"Itu tanda-tanda mau melahirkan. Sebentar lagi."
Sukmawati memanggil Pak Harun.
Pak Harun memeriksa Sekar.
"Bukaan sudah empat, Mbak. Sebentar lagi."
"Berapa lama, Pak?"
"Mungkin beberapa jam. Sabar."
"Baik, Pak."
PERSIAPAN
Jam dua belas siang, semua persiapan sudah selesai.
Kamar Sekar sudah disulap menjadi ruang bersalin sederhana. Kasur dilapisi plastik. Peralatan medis sudah disiapkan. Air hangat sudah direbus. Kain bersih sudah ditata.
Arga duduk di samping Sekar, memegang tangannya.
"Mas, kamu jangan gugup," bisik Sekar.
"Aku tidak gugup."
"Kamu gugup. Tanganku sakit karena kamu pegang terlalu keras."
"Maaf."
Arga melemaskan genggamannya.
"Mas, apa kita akan kasih nama Jatmika?"
"Sesuai janji kita."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Jatmika sudah tenang. Dia sudah pergi. Sekarang, dia akan lahir kembali. Lewat anak kita."
"Amin."
PROSES PERSALINAN
Jam dua siang, Sekar mulai meneran.
"Aaahhh..."
"Tahan, Nduk. Jangan teriak-teriak. Nanti kehabisan tenaga," kata Pak Harun.
"Aaahhh..."
"Tarik napas. Lalu hembuskan pelan-pelan."
Sekar mengikuti instruksi.
Arga memegang tangannya erat-erat.
"Mas, sakit," bisik Sekar.
"Kamu kuat."
"Aaahhh..."
"Kepala bayi sudah keluar, Mbak. Sebentar lagi."
"Aaahhh..."
"Tarik napas. Lalu hembuskan."
"Aaahhh..."
Plang!
Bayi laki-laki keluar.
Menangis.
Keras.
Nyaring.
Seperti tangisan Jatmika dulu.
Tapi kali ini, tidak ada kilat. Tidak ada suara aneh. Tidak ada pertanda gaib.
Hanya tangisan bayi normal.
BAYI LAHIR
Pak Harun menggendong bayi itu.
"Selamat, Mas Arga. Mbak Sekar. Bayi laki-laki. Sehat. Berat tiga kilogram. Panjang empat puluh delapan sentimeter."
Arga menangis.
Sekar menangis.
Sukmawati menangis.
Sastro menangis.
Mbah Tarni menangis.
"Jatmika," bisik Arga.
"Jatmika," bisik Sekar.
Bayi itu tertawa.
Seperti mengenali namanya.
Seperti sudah lama menunggu.
BAYI DI BERI ASI
Pak Harun membersihkan bayi itu. Membungkusnya dengan kain putih. Menyerahkan pada Sekar.
"Ini, Mbak. Diberi ASI. Jangan lupa diimunisasi."
"Siap, Pak."
"Terima kasih, Pak Harun."
"Sama-sama."
Mereka berpelukan.
KABAR KE TEMAN-TEMAN
Jam empat sore, Arga mengabari teman-temannya.
"Bayi sudah lahir. Laki-laki. Jatmika."
Guntur membalas: "Selamat, Le. Semoga anakmu sholeh."
Laras: "Selamat, Mas Arga. Semoga Mbak Sekar cepat pulih."
Faruq: "WAH! SELAMAT! NANTI SAYA KIRIM MAINAN!"
Nisa: "Selamat, Mas Arga. Semoga menjadi anak yang berbakti."
Dimas: "Selamat, Mas. Saya akan datang minggu depan."
Ratri: "Mas, aku ikut senang."
Samsul: "Selamat, Mas Arga. Semoga keluarga kecil Bahagia."
Pak Bondan: "Selamat, Le. Nanti saya kirim bingkisan."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di dipan.
Bayi Jatmika tidur di samping mereka.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir dari perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir dari perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya punya anak."
"Kita akhirnya punya anak."
"Jatmika."
"Jatmika."
Mereka berpelukan.
BAB 24
JATMIKA MUNCUL LAGI
Tiga hari setelah kelahiran bayi Jatmika, desa Wringinrejo diselimuti kebahagiaan. Sukmawati sibuk menyiapkan makanan untuk Sekar yang sedang dalam masa nifas. Sastro sibuk membersihkan halaman dan kandang ayam. Ratri sibuk membantu mengurus warung pecel yang akan segera dibuka kembali. Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, dan Pak Bondan sudah kembali ke kota masing-masing, kecuali Mbah Tarni yang masih setia menemani.
Namun di tengah kebahagiaan itu, Arga mulai merasakan keganjilan. Setiap malam, ketika ia memejamkan mata, ia melihat bayangan yang sama. Bayangan seorang anak laki-laki berdiri di tepi Kali Wening, memakai baju putih, wajahnya tersenyum. Bayangan Jatmika, kakaknya yang meninggal puluhan tahun lalu.
Awalnya Arga mengira itu hanya mimpi biasa. Tapi ketika mimpi itu datang lagi malam berikutnya, dan malam berikutnya lagi, dan malam berikutnya lagi, ia mulai sadar bahwa ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah tanda. Jatmika ingin menyampaikan sesuatu. Mungkin pesan terakhir. Mungkin perpisahan. Mungkin... pengakuan.
Dan malam ini, dalam tidurnya yang lelap setelah sekian lama tidak bisa tidur nyenyak, Arga bertemu Jatmika.
Bukan di tepi Kali Wening.
Tapi di bawah pohon randu.
Di tempat yang sama di mana dulu Arga dan Sekar sering duduk bercerita tentang masa depan.
Di tempat yang sama di mana Arga pertama kali menyatakan cinta pada Sekar.
Di tempat yang sama di mana mereka berdua berjanji untuk tidak saling meninggalkan.
Jatmika sudah menunggu.
MALAM YANG SUNYI
Jam satu dini hari, Arga terbangun oleh suara tangisan bayi Jatmika. Ia menggendongnya, menenangkannya, memberikannya pada Sekar yang masih setengah tidur.
"Mas, kamu tidur lagi," bisik Sekar.
"Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Mikir."
"Mikir apa?"
"Jatmika. Kakakku. Dia muncul di mimpiku lagi."
"Sudah berapa kali?"
"Setiap malam. Sejak bayi kita lahir."
"Mungkin dia ingin mengucapkan selamat."
"Mungkin. Tapi aku merasa ada yang lebih."
"Lebih apa?"
"Entahlah."
Arga berbaring lagi. Ia memejamkan mata.
Dan dalam tidurnya, ia bermimpi.
DI BAWAH POHON RANDU
Arga berdiri di bawah pohon randu. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Angin malam berembus sepoi-sepoi, membawa aroma bunga melati.
Di depannya, seorang anak laki-laki berdiri. Usia sekitar sepuluh tahun. Wajahnya bulat, kulitnya putih, rambutnya hitam. Ia memakai baju putih lengan panjang dan celana pendek. Matanya sayu, tapi bersinar.
"Jatmika?" bisik Arga.
"Iya, Le. Ini aku."
"Kamu... sudah besar?"
"Dalam mimpimu, aku bisa memilih wujud. Aku pilih wujud waktu aku masih hidup. Biar kamu tidak terlalu kaget."
Arga mendekat. Ia ingin memeluk Jatmika. Tapi tangannya menembus tubuh Jatmika.
"Maaf, Le. Aku hanya arwah. Tidak bisa disentuh."
"Kenapa kamu muncul?"
"Untuk pamit."
"Pamit?"
"Iya. Aku akan pergi. Untuk selamanya."
"Kemana?"
"Ke alam baka. Ke tempat seharusnya aku berada sejak dulu."
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena tugas aku sudah selesai. Menjagamu. Menjaga Sekar. Menjaga keluarga. Menjaga keturunan."
"Tapi, "
"Jatmika sudah lahir. Bayi itu. Aku titip padamu."
"Jatmika? Bayi kami?"
"Iya. Namanya Jatmika. Namaku. Aku titip nama itu padanya. Semoga dia menjadi anak yang sholeh. Semoga dia menjadi kebanggaan keluarga. Semoga dia tidak mengalami penderitaan seperti aku."
Arga menangis.
"Jatmika, aku rindu."
"Aku juga rindu, Le. Tapi aku harus pergi."
"Kapan?"
"Sekarang."
"Tidak bisa nanti?"
"Tidak. Ini kesempatan terakhir."
PELUKAN JATMIKA
Jatmika tersenyum.
"Le, aku pamit."
"Selamat jalan."
"Jangan sedih."
"Aku tidak sedih. Aku hanya... kehilangan."
"Kamu tidak kehilangan. Aku akan selalu di hatimu. Di hati Sekar. Di hati bayi Jatmika."
"Apa kamu akan kembali?"
"Tidak. Ini perpisahan selamanya."
Mereka berdua diam.
Angin malam berembus.
Daun-daun pohon randu bergemerisik.
"Aku sayang kamu, Le."
"Aku juga sayang kamu, Jatmika."
Jatmika mengulurkan tangan. Arga mengulurkan tangan.
Mereka tidak bisa bersentuhan.
Tapi mereka bisa merasakan.
"Selamat tinggal."
"Selamat tinggal."
Jatmika perlahan menghilang.
Cahaya putih menyelimuti tubuhnya.
Ia tersenyum.
Lalu lenyap.
ARGA BANGUN
Arga membuka mata.
Kamar gelap.
Sunyi.
Bayi Jatmika tidur di samping Sekar.
Sekar juga tidur.
Arga memandang langit-langit.
Ia merasakan kehangatan di dadanya.
Kehangatan yang familiar.
Kehangatan Jatmika.
"Jaga dia, Le. Jaga keluargamu. Jaga desamu. Jaga warisan leluhur."
Arga tersenyum.
"Aku akan, Jatmika. Janji."
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, Arga terbangun lebih awal dari biasanya.
Ia keluar rumah.
Di halaman, Sukmawati sudah menyapu.
"Le, kok sudah bangun? Baru jam setengah enam."
"Tidak bisa tidur, Bu."
"Kenapa?"
"Jatmika... kakakku... muncul di mimpiku. Pamit."
"Pamit kemana?"
"Ke alam baka. Untuk selamanya."
Sukmawati menangis.
"Jatmika..."
"Ibu jangan sedih. Dia sudah tenang. Dia sudah pergi dengan damai."
"Apa dia bilang?"
"Dia bilang, titip bayi Jatmika. Semoga menjadi anak yang sholeh."
Sukmawati mengusap air matanya.
"Amin."
SEKAR BANGUN
Jam tujuh pagi, Sekar bangun.
Bayi Jatmika menyusu dengan lahap.
"Mas, kamu sudah mandi?"
"Belum. Aku tunggu kamu."
"Kenapa?"
"Aku mimpi Jatmika."
"Kakakmu?"
"Iya. Dia pamit."
"Pamit kemana?"
"Ke alam baka. Untuk selamanya."
Sekar terdiam.
"Apa dia bahagia?"
"Iya. Dia tersenyum."
"Syukurlah."
"Kita doakan dia."
"Iya."
DOA UNTUK JATMIKA
Jam delapan pagi, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah.
Sukmawati, Sastro, Arga, Sekar, dan bayi Jatmika.
Mbah Tarni memimpin doa.
"Ya Allah, terimalah arwah Jatmika bin Sastro. Ampunilah dosa-dosanya. Tempatkanlah dia di sisi-Mu yang paling mulia."
"Lapangkanlah kuburnya. Terangilah dengan cahaya-Mu."
"Jagalah bayi Jatmika yang baru lahir. Semoga menjadi anak yang sholeh. Semoga menjadi kebanggaan keluarga."
"Jagalah Arga dan Sekar. Semoga menjadi orang tua yang baik."
"Jagalah desa Wringinrejo. Semoga menjadi desa yang tentram, makmur, dan diberkahi."
"Amin."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa Jatmika sudah tenang?"
"Sudah."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena dia tersenyum."
"Terima kasih, Jatmika."
"Amin."
Mereka berpelukan.
BAB 25
PUSAKA DITEMUKAN
Cerita lengkap Mbah Tarni tentang Mbah Lestari dan pusaka desa membuka wawasan Arga dan timnya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal: pusaka terakhir yang hilang. Mbah Tarni menyebutkan bahwa selain keris, gelang perak, kalung batu akik hitam, dan buku catatan, masih ada satu pusaka lagi yang belum ditemukan. Pusaka itu berupa sebuah lontar kuno yang berisi mantra-mantra perlindungan desa, cara-cara berkomunikasi dengan makhluk halus secara aman, dan peta lengkap lokasi-lokasi keramat di desa Wringinrejo.
Lontar itu hilang sejak Mbah Lestari menghilang. Konon, dibawa oleh salah satu murid Mbah Lestari yang iri karena tidak mendapat warisan kemampuan. Murid itu bernama Kusno. Ia meninggalkan desa setelah Mbah Lestari pergi, membawa lontar itu, dan tidak pernah kembali.
Arga dan timnya harus mencari lontar itu. Bukan karena mereka ingin menggunakan mantranya. Tapi karena lontar itu adalah bagian dari sejarah desa. Lontar itu adalah warisan leluhur yang harus dijaga. Lontar itu adalah kunci terakhir untuk melengkapi pusaka desa.
Dan petunjuk tentang keberadaan lontar itu, menurut Mbah Tarni, ada di dalam buku catatan Mbah Lestari.
PAGI YANG CERAH
Hari Minggu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah buka kembali, meskipun belum seramai dulu karena Sekar masih dalam masa pemulihan pasca melahirkan. Sukmawati dan Ratri yang membantu.
Arga duduk di beranda. Ia membuka buku catatan Mbah Lestari. Halaman demi halaman ia baca. Mencari petunjuk tentang lontar yang hilang.
"Mas, sudah ketemu?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Belum. Masih di halaman awal."
"Baca saja perlahan. Jangan terburu-buru."
"Iya."
Arga terus membaca.
Halaman 10. Halaman 20. Halaman 30. Halaman 40. Halaman 50.
Tidak ada petunjuk.
Ia mulai frustrasi.
"Mas, istirahat dulu. Nanti pusing."
"Iya."
DI HALAMAN 73
Jam sepuluh pagi, Arga menemukan petunjuk.
Di halaman 73, ada gambar peta.
Peta desa Wringinrejo tempo dulu.
Dan di pojok kanan bawah, ada tulisan.
"Lontar pusaka kusimpan ing ngisor wit randu. Sing jaga ula gedhe. Sing njupuk kudu keturunan Mbah Lestari."
"Lontar pusaka kusimpan di bawah pohon randu. Penjaganya ular besar. Pengambilnya harus keturunan Mbah Lestari."
"Ratri, Sekar!" teriak Arga.
Mereka yang sedang di halaman segera masuk.
"Ada apa, Mas?" tanya Ratri.
"Aku nemu petunjuk. Lontar pusaka ada di bawah pohon randu."
"Pohon randu yang mana?"
"Yang di Bukit Watu Senja."
"Penjaganya?"
"Ular besar."
"Mirip dengan yang dulu?"
"Mungkin."
"Apa kamu berani?"
"Aku harus berani. Ini warisan leluhur. Ini pusaka terakhir."
"Baik. Kita siapkan."
PERSIAPAN
Jam dua belas siang, semua bersiap.
Arga memakai pakaian terbaiknya, kemeja lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu boot pinjaman dari Dimas. Ia juga membawa keris dan senter.
Ratri membawa laptop dan kamera.
Sukmawati membawa pisau lipat dan obat-obatan.
Sastro membawa pentungan kayu.
Mereka berangkat jam satu siang.
DI BUKIT WATU SENJA
Jam dua siang, mereka tiba di Bukit Watu Senja.
Pohon randu tua masih berdiri kokoh. Daun-daunnya rimbun. Cabang-cabangnya melebar seperti tangan raksasa.
Arga mendekati pohon itu.
Ia memejamkan mata.
Ia mendengarkan.
"Gali, Le. Di bawah pohon. Sekitar tiga meter dari batang. Arah timur."
Suara Mbah Lestari.
"Di sini," kata Arga.
Mereka mulai menggali.
Tanahnya gembur. Tidak terlalu keras.
Setelah sekitar satu jam, sekop Arga mengenai benda keras.
"Ada apa, Mas?" tanya Sekar.
"Ada kotak."
Arga membersihkan tanah di sekitarnya.
Sebuah kotak kayu berukuran tiga puluh sentimeter kali dua puluh sentimeter. Permukaannya diukir dengan motif yang sama dengan ukiran di batu hitam dan kotak kayu sebelumnya.
"Buka, Mas," kata Sekar.
Arga membuka kotak itu.
Di dalamnya: sebuah lontar kuno.
Daun lontar yang sudah menguning.
Tulisan aksara Jawa.
Dan sebuah surat.
ISI SURAT
Arga membaca surat itu.
Surat dari Mbah Lestari.
"Untuk keturunanku yang bernama Arga."
"Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah menemukan lontar pusaka. Selamat. Kau sudah melewati ujian terakhir."
"Lontar ini berisi mantra-mantra perlindungan desa, cara-cara berkomunikasi dengan makhluk halus secara aman, dan peta lengkap lokasi-lokasi keramat di desa Wringinrejo."
"Jangan disalahgunakan. Jangan dibaca sembarangan. Jangan ditunjukkan pada orang yang tidak berhak."
"Simpan di tempat yang aman. Wariskan pada keturunanmu yang memiliki kemampuan sama sepertimu."
"Sekarang, tugasmu sudah selesai. Kau bisa istirahat. Kau bisa bahagia. Kau bisa menikmati hidup."
"Terima kasih, Le. Mbah bangga padamu."
"—Mbah Lestari"
Air mata Arga jatuh.
"Mbah Lestari..."
"Aku rindu."
KEMBALI KE RUMAH
Jam lima sore, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan.
Bukan karena beban yang berkurang. Tapi karena hati yang mulai mengerti.
"Arga," panggil Ratri di tengah jalan.
"Iya."
"Apa yang akan kamu lakukan dengan lontar itu?"
"Simpan. Jaga. Wariskan."
"Kepada siapa?"
"Anakku. Jatmika."
"Kamu yakin dia mewarisi kemampuanmu?"
"Entahlah. Tapi yang jelas, dia keturunanku. Dia berhak."
"Kamu benar."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya punya pusaka."
"Kita akhirnya punya pusaka."
"Kita akhirnya tahu segalanya."
"Kita akhirnya tahu segalanya."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 26
ARGA MENYENTUH KERIS
Penemuan lontar pusaka di bawah pohon randu Bukit Watu Senja menjadi penanda bahwa perjuangan Arga hampir mencapai puncaknya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya. Keris pusaka yang selama ini ia simpan, yang ia gunakan untuk membuka berbagai misteri, belum pernah ia rasakan energinya secara penuh. Ia hanya tahu bahwa keris itu dingin, bahwa keris itu terhubung dengan Mbah Lestari, bahwa keris itu adalah kunci dari segalanya.
Tapi malam ini, Arga memutuskan untuk menyentuh keris itu dengan cara yang berbeda.
Bukan sekadar memegangnya.
Bukan sekadar menusukkannya ke celah batu.
Tapi memejamkan mata, membiarkan pikirannya kosong, dan membiarkan keris itu berbicara.
Ditemani Ratri, Samsul, Sukmawati, Sastro, Mbah Tarni, dan tentu saja Sekar serta bayi Jatmika yang sedang tidur nyenyak di gendongan ibunya.
Arga duduk di ruang tengah. Lampu minyak dinyalakan hanya satu, agar suasana tidak terlalu terang. Di pangkuannya, keris pusaka terbungkus kain putih. Di sekelilingnya, teman-teman dan keluarga duduk melingkar, menjaga, mendoakan.
Arga membuka kain putih itu.
Keris pusaka terlihat berkilat di bawah cahaya lampu yang redup.
Ia mengambilnya.
Dingin.
Sangat dingin.
Tapi kali ini, dingin itu tidak membuatnya bergidik. Justru membuatnya... tenang.
Ia memejamkan mata.
Dan dunia di sekitarnya lenyap.
MALAM YANG SUNYI
Jam sembilan malam. Rumah sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar dan sesekali suara tangis bayi Jatmika yang segera reda setelah Sekar menenangkannya.
Arga duduk bersila di lantai. Keris di pangkuan. Kedua telapak tangannya menempel di bilah keris, tidak takut terluka, tidak takut terkena getaran mistis.
"Mas Arga, hati-hati," bisik Sekar.
"Diam. Jangan ganggu," bisik Ratri.
Sekar terdiam.
Arga memejamkan mata lebih dalam.
Ia mengatur napas. Menghirup udara perlahan. Menghembuskannya pelan-pelan.
Ia membiarkan pikirannya kosong.
Tidak ada sawah. Tidak ada warung. Tidak ada sengketa tanah. Tidak ada Pak Kades. Tidak ada Danu. Tidak ada preman. Hanya keris. Hanya energi. Hanya Mbah Lestari.
Tiba-tiba, keris itu bergetar.
Pelan.
Lalu keras.
Lalu sangat keras.
Cahaya biru keperakan menyelimuti bilah keris.
ruangan terang benderang.
"Apa itu?" bisik Sastro.
"Tutup mulut, Faruq," bisik Sukmawati.
Sastro menutup mulutnya sendiri.
KILASAN MASA LALU
Arga tidak lagi berada di ruang tengah.
Ia berdiri di sebuah desa yang berbeda. Sawahnya lebih luas. Rumah-rumahnya lebih sederhana. Pakaian orang-orangnya lebih kuno.
Desa Wringinrejo tempo dulu. Mungkin tahun 1940-an.
Di depannya, seorang perempuan muda berdiri. Cantik. Wajah bulat. Kulit putih. Rambut hitam legam diikat ke belakang. Matanya sayu, tapi tajam. Senyumnya manis, tapi penuh teka-teki.
Mbah Lestari.
Di sampingnya, seorang laki-laki muda. Ganteng. Tampan. Berwibawa. Matanya teduh. Senyumnya hangat.
Mbah Jayarasa.
Mereka sedang duduk di bawah pohon randu, pohon randu yang sama di Bukit Watu Senja.
"Mbah Lestari," bisik Arga.
Perempuan itu menoleh. Tersenyum.
"Le, akhirnya kau datang."
"Aku... aku ada di sini?"
"Ini kilasan masa lalu. Aku sengaja memanggilmu. Lewat keris."
"Untuk apa?"
"Untuk menunjukkan sesuatu. Untuk mengajarkan sesuatu. Untuk mewariskan sesuatu."
PELAJARAN DARI MBAH LESTARI
Mbah Lestari berdiri. Ia memegang keris, keris yang sama dengan yang sekarang dipegang Arga.
"Le, keris ini bukan sekadar senjata. Bukan sekadar pusaka. Bukan sekadar benda mati."
"Ia adalah bagian dari jiwaku. Aku menanamkan seluruh pengetahuan, pengalaman, dan perjuanganku ke dalam keris ini."
"Kau yang memegangnya, kau yang merasakannya, kau yang akan mewarisinya."
"Sekarang, perhatikan."
Mbah Lestari menggerakkan keris. Pelan. Berirama. Seperti tarian.
Cahaya biru keperakan mengikuti gerakannya.
"Setiap goresan keris ini menyimpan doa. Setiap ayunannya menyimpan harapan. Setiap tebasan menyimpan perlindungan."
"Kau tidak perlu menjadi pendekar. Kau tidak perlu menjadi kesatria. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Karena keris ini akan menyesuaikan dengan pemiliknya."
"Kau baik, keris ini akan membantumu berbuat baik. Kau jahat, keris ini akan menghancurkanmu."
Arga memandang keris di tangannya.
"Aku tidak akan jahat, Mbah."
"Aku tahu. Karena itu aku memilihmu."
KILASAN KEDUA: MBAH JAYARASA
Kilasan berubah.
Sekarang Arga berdiri di halaman rumah Mbah Jayarasa, rumah yang dulu, sebelum menjadi tua dan reot.
Mbah Jayarasa duduk di kursi bambu. Wajahnya masih muda. Matanya masih segar. Rambutnya masih hitam.
"Le, duduk."
Arga duduk di depannya.
"Kau tahu, Le, Mbah dulu juga pengembara."
"Mbah cerita."
"Tapi Mbah tidak berhasil seperti kau. Mbah pulang dengan tangan hampa. Mbah gagal. Mbah kecewa. Mbah menyerah."
"Tapi kau? Kau berhasil. Kau menemukan Sekar. Kau melawan Ferry. Kau melawan Pak Kades. Kau mendapatkan tanah warisan. Kau menemukan pusaka. Kau berhasil."
"Karena kau tidak sendirian. Kau punya Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, Mbah Tarni. Dan terutama, Sekar."
"Jaga mereka. Jangan sampai mereka kecewa."
"Saya akan, Mbah. Janji."
KILASAN TERAKHIR: Mbah Lestari dan Mbah Jayarasa Bersama
Kilasan berubah lagi.
Mbah Lestari dan Mbah Jayarasa berdiri di bawah pohon randu.
Mbah Lestari memegang keris. Mbah Jayarasa memegang peta usang.
"Le," kata Mbah Lestari.
"Ini keris. Ini peta. Aku titipkan padamu."
"Jangan disalahgunakan."
"Jangan diabaikan."
"Jangan dijual."
"Jangan digadaikan."
"Jangan diwariskan pada orang yang tidak bertanggung jawab."
Arga menangis.
"Aku tidak akan, Mbah. Aku janji."
Mbah Lestari dan Mbah Jayarasa tersenyum.
Mereka melambai.
Lalu menghilang.
ARGA SADAR
Arga membuka mata.
Ia masih duduk di ruang tengah. Keris masih di pangkuannya. Cahaya biru keperakan sudah lenyap.
Semua orang memandangnya dengan cemas.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Sekar.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu nangis."
"Aku nangis karena... aku bertemu Mbah Lestari dan Mbah Jayarasa."
"Di mana?"
"Dalam kilasan."
"Mereka bicara apa?"
"Mereka titip keris dan peta. Mereka pesan jangan disalahgunakan. Mereka minta jaga keluarga."
Sekar memeluk Arga.
"Mas, kamu hebat."
"Aku tidak hebat. Aku hanya dipilih."
MALAM DI RUMAH
Jam sebelas malam, semua pulang.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya tahu segalanya."
"Kita akhirnya tahu segalanya."
"Kita akhirnya bisa tenang."
"Kita akhirnya bisa tenang."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 27
PULANG YANG SESUNGGUHNYA
Kilasan masa lalu yang dialami Arga usai menyentuh keris pusaka membawa kedamaian baru bagi Arga. Namun, ada satu pertemuan yang masih ia nantikan, pertemuan dengan Jatmika secara kasat mata, bukan dalam mimpi, bukan dalam kilasan, tetapi nyata di hadapannya. Selama ini, Jatmika hanya muncul dalam mimpi atau sebagai bayangan samar di tepi Kali Wening. Arga belum pernah melihat wajah kakaknya secara jelas sejak ia dewasa.
Dan malam ini, pertemuan itu terjadi.
Bukan di tempat ramai. Bukan di ruang tengah yang dipenuhi keluarga. Tapi di tempat yang paling sunyi, paling personal, paling bermakna bagi mereka berdua: di tepi Kali Wening, di bawah pohon waru yang sudah tua, di batu besar tempat mereka dulu, masih kecil, bermain air dan menangkap ikan.
Sekar ikut. Ia ingin menemani Arga. Ia juga ingin berpamitan pada Jatmika, kakak yang dulu menjadi teman bermainnya, kakak yang dulu melindunginya, kakak yang dulu memilih mati agar ia bebas.
Bayi Jatmika dititipkan pada Sukmawati. Malam itu hanya Arga dan Sekar yang pergi ke Kali Wening.
Mereka berjalan berdua menyusuri pematang sawah. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Suara jangkrik mengisi keheningan.
Arga menggandeng tangan Sekar. Tangannya dingin. Gemetar.
"Mas, kamu takut?" bisik Sekar.
"Tidak. Aku hanya... tidak siap."
"Tidak siap apa?"
"Tidak siap berpisah untuk selamanya."
"Tapi ini yang terbaik untuk Jatmika. Dia sudah menderita terlalu lama. Dia sudah gentayangan terlalu lama. Dia sudah menunggu terlalu lama."
"Aku tahu. Tapi tetap saja... berat."
Mereka sampai di tepi Kali Wening.
Air sungai mengalir tenang. Memantulkan cahaya bulan. Ikan-ikan kecil berenang di sela-sela batu. Burung malam sesekali terbang rendah, mencari mangsa.
Di batu besar, seorang anak laki-laki duduk.
Wajahnya bulat. Kulitnya putih. Rambutnya hitam. Matanya sayu, tapi bersinar. Ia memakai baju putih lengan panjang dan celana pendek.
Jatmika.
Arga berhenti.
Sekar berhenti.
Mereka hanya bisa diam.
JATMIKA TERSENYUM
Jatmika berdiri. Ia tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu—waktu mereka masih kecil.
"Le, Nduk. Akhirnya kalian datang."
Arga mendekat. Ia ingin memeluk Jatmika. Tapi tangannya menembus tubuh Jatmika.
"Maaf, Le. Aku masih arwah. Tidak bisa disentuh."
"Aku tahu. Tapi aku tetap ingin memelukmu."
"Kamu bisa memelukku secara roh. Pejamkan mata. Rasakan."
Arga memejamkan mata.
Ia merasakan kehangatan.
Kehangatan yang familiar.
Kehangatan Jatmika.
"Aku sayang kamu, Le."
"Aku juga sayang kamu."
Mereka berpelukan secara roh.
Tidak bersentuhan.
Tapi terasa.
JATMIKA BICARA
Jatmika duduk kembali di batu besar.
Arga dan Sekar duduk di depannya.
"Le, Nduk, aku akan pergi."
"Kami tahu."
"Untuk selamanya."
"Kami tahu."
"Jangan sedih."
Arga menunduk. Air matanya jatuh.
"Aku tidak sedih. Aku hanya... kehilangan."
"Kamu tidak kehilangan. Aku akan selalu di hatimu. Di hati Sekar. Di hati bayi Jatmika."
"Apa kamu akan kembali?"
"Tidak. Ini perpisahan selamanya."
Mereka bertiga diam.
Air sungai mengalir tenang.
Ikan-ikan kecil berenang riang.
Burung malam terbang rendah.
"Le."
"Iya."
"Jaga Sekar. Jaga bayi Jatmika. Jaga keluarga. Jaga desa."
"Aku akan."
"Nduk."
"Iya."
"Jaga Arga. Jaga baby Jatmika. Jaga kesehatan. Jaga kebahagiaan."
"Aku akan."
"Aku pamit."
"Selamat jalan."
Jatmika tersenyum.
Cahaya putih menyelimuti tubuhnya.
Ia melambai.
Perlahan menghilang.
Meninggalkan batu besar kosong.
Meninggalkan Kali Wening yang tenang.
Meninggalkan Arga dan Sekar yang menangis.
PULANG KE RUMAH
Jam sebelas malam, Arga dan Sekar pulang.
Bayi Jatmika sudah tidur nyenyak di kamar.
Sukmawati dan Sastro di ruang tengah, menunggu.
"Bagaimana, Le?" tanya Sukmawati.
"Jatmika pergi, Bu. Untuk selamanya."
Sukmawati menangis.
"Jatmika..."
"Ibu jangan sedih. Dia sudah tenang. Dia sudah bahagia. Dia sudah pergi dengan damai."
"Apa dia bilang?"
"Dia bilang, titip bayi Jatmika. Semoga menjadi anak yang sholeh. Semoga menjadi kebanggaan keluarga."
Sukmawati mengusap air matanya.
"Amin."
MALAM DI RUMAH
Jam dua belas malam, Arga dan Sekar masuk kamar.
Bayi Jatmika tidur di samping mereka.
Langit masih penuh bintang. Bulan purnama masih bersinar terang. Suara jangkrik masih mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena Jatmika sudah tenang. Dia tidak akan gentayangan lagi. Dia tidak akan mengganggu kita lagi. Dia hanya akan menjaga kita dari alam sana."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 28
PESTA DESA
Kepergian Jatmika untuk selamanya ke alam baka membawa kedamaian bagi seluruh keluarga. Arga dan Sekar tidak lagi diselimuti rasa khawatir akan kemunculan arwah kakaknya. Mereka bisa fokus pada kehidupan baru sebagai orang tua. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati warga desa Wringinrejo: suasana desa yang sempat tegang akibat konflik dengan Pak Kades dan preman-preman bayarannya. Warga desa butuh hiburan. Warga desa butuh kebersamaan. Warga desa butuh pesta.
Ratri, yang kini sudah resmi menjadi Kepala Desa definitif setelah melalui pemilihan yang demokratis, mengusulkan diadakannya pesta desa. Bukan pesta mewah yang menguras kas desa. Tapi pesta sederhana yang diadakan di halaman balai desa. Makan bersama. Tumpengan. Doa bersama. Tarian tradisional. Pentas seni. Dan tentu saja, pecel buatan Mbok Sekar.
"Mas Arga, bagaimana?" tanya Ratri setelah menyampaikan usulannya.
"Setuju, Rat. Aku setuju. Tapi sekalian merayakan dua hal."
"Apa?"
"Pertama, kemenangan kita melawan Pak Kades. Kedua, kelahiran bayi Jatmika."
"Bagus. Aku setuju."
Ratri pun mengumumkan pesta desa kepada warga melalui pengeras suara di balai desa.
Warga bersorak.
"PESTA! PESTA! PESTA!"
PERSIAPAN PESTA
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Halaman balai desa mulai dipenuhi oleh warga yang membantu persiapan.
Ibu-ibu sibuk memasak. Nasi tumpeng. Ayam ingkung. Sayur lodeh. Sambal goreng. Kerupuk. Jajanan pasar. Dan tentu saja, pecel buatan Mbok Sekar.
Bapak-bapak sibuk mendirikan tenda. Kursi kayu. Meja kayu. Panggung darurat untuk pentas seni.
Anak-anak berlarian riang. Ada yang membantu. Ada yang mengganggu. Ada yang hanya ingin jajan.
Ratri memimpin koordinasi.
"Bu Sri, tolong bagian nasi tumpeng."
"Siap, Bu Lurah."
"Pak Karto, tolong bagian pentas seni."
"Siap, Bu Lurah."
"Mbah Tarni, tolong bagian doa."
"Siap, Nduk."
Arga dan Sekar datang dengan bayi Jatmika.
"Mbak Sekar, titip bayi Jatmika pada siapa?" tanya Ratri.
"Pada Mbah Tarni. Dia yang minta."
"Bagus. Mbah Tarni pasti senang."
Bayi Jatmika digendong Mbah Tarni. Wajahnya tersenyum. Matanya berbinar.
"Nduk, Mbah dulu juga sering gendong Arga waktu kecil."
"Dia lucu, ya, Mbah?"
"Lucu. Matanya mirip Arga."
"Tapi hidungnya mirip saya."
"Ya, mirip kalian berdua."
Mereka tertawa.
DOA BERSAMA
Jam empat sore, pesta dimulai.
Mbah Tarni memimpin doa.
"Ya Allah, terima kasih atas kemenangan yang telah Engkau berikan kepada Arga dan timnya. Semoga keadilan selalu tegak di desa ini."
"Ya Allah, terima kasih atas kelahiran bayi Jatmika. Semoga menjadi anak yang sholeh. Semoga menjadi kebanggaan keluarga. Semoga menjadi penerus perjuangan."
"Ya Allah, terima kasih atas keselamatan desa ini. Semoga ke depan, desa Wringinrejo menjadi desa yang tentram, makmur, dan diberkahi."
"Ya Allah, terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan. Kami bersyukur. Kami tidak akan lupa."
"Amin."
Semua mengamini.
TARI REMO
Setelah doa, acara dilanjutkan dengan tari Remo, tarian khas Jawa Timur yang dibawakan oleh ibu-ibu PKK.
Mereka menari dengan lincah meskipun usia sudah tidak muda. Wajah mereka berseri-seri. Senyum mereka mengembang.
Warga bertepuk tangan.
"Wah, Bu Sri lincah banget," kata Bu Parti.
"Dia dulu penari, katanya."
"Wah, hebat."
Selesai tari Remo, dilanjutkan tari Jaranan, tarian khas Jawa Tengah dengan kuda lumping.
Anak-anak kecil ikut menari di depan panggung. Lucu. Menggemaskan.
Bayi Jatmika yang digendong Mbah Tarni ikut tersenyum.
"Nduk, bayi Jatmika tersenyum," kata Mbah Tarni.
"Lihat tarian, mungkin."
"Atau lihat Arga."
"Bisa jadi."
PERTUNJUKAN WAYANG
Jam enam sore, acara dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit.
Dalangnya terkenal dari kecamatan tetangga. Ceritanya: "Lahirnya Gatotkaca" kisah tentang kelahiran tokoh pewayangan yang kuat dan sakti.
Arga duduk di samping Sekar.
"Mas, dulu kamu lahir juga dengan pertanda aneh. Kayak Gatotkaca."
"Tapi aku tidak sakti."
"Kamu sakti. Kamu bisa lihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Kamu bisa dengar suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain. Itu kesaktian."
"Kalau itu mah namanya aneh."
"Bukan aneh. Istimewa."
Mereka tersenyum.
MAKAN BERSAMA
Jam delapan malam, acara dilanjutkan dengan makan bersama.
Nasi tumpeng dipotong oleh Arga dan Sekar.
Potongan pertama untuk Sukmawati.
"Terima kasih, Bu."
"Potongan kedua untuk Sastro."
"Terima kasih, Yah."
"Potongan ketiga untuk Mbah Tarni."
"Terima kasih, Nduk."
Potongan keempat dan seterusnya untuk warga.
Mereka makan dengan lahap. Tertawa. Bercerita.
"Bu Lurah, kapan punya pacar? tanya Bu Sri.
"Entahlah, Bu. Masih fokus kerja."
"Jangan terlalu fokus. Nanti kesepian."
"Biar. Yang penting desa ini maju."
BAKARAN
Jam sepuluh malam, acara dilanjutkan dengan bakaran.
Kambing guling yang sudah dipesan dari kecamatan.
Warga antre.
"Bu Lurah, porsinya banyak," kata Pak Karto.
"Banyak. Biar semua kebagian."
"Bagus."
Arga dan Sekar mendapat porsi kaki kambing.
"Ini bagian terenak," kata Arga.
"Kaki?"
"Iya. Dikit tulang. Banyak daging."
"Kamu suka?"
"Iya."
Mereka makan bakaran dengan nasi hangat.
PESTA BERAKHIR
Jam dua belas malam, pesta selesai.
Warga pulang satu per satu.
Ada yang jalan kaki. Ada yang naik sepeda motor. Ada yang naik gerobak.
Arga, Sekar, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni pulang bersama.
Bayi Jatmika sudah tidur.
"Dia tidak rewel," kata Sekar.
"Anak baik."
"Mirip ayahnya."
"Mirip ibunya."
Mereka tersenyum.
MALAM DI RUMAH
Jam dua belas lebih, Arga dan Sekar masuk kamar.
Mereka berbaring di dipan.
Bayi Jatmika di samping mereka.
Langit masih penuh bintang. Bulan purnama masih bersinar terang.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya bisa pesta."
"Kita akhirnya bisa pesta."
"Kita akhirnya bisa bersukacita."
"Kita akhirnya bisa bersukacita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 29
PULANGNYANG SESUNGGUHNYA
Pesta desa yang meriah telah usai. Warga kembali ke rumah masing-masing dengan perut kenyang dan hati senang. Kemenangan melawan Pak Kades, kelahiran bayi Jatmika, dan kebersamaan yang terjalin selama pesta membuat desa Wringinrejo terasa lebih hangat dari biasanya. Tapi bagi Arga, ada satu hal yang masih harus ia renungkan. Satu pertanyaan yang belum sepenuhnya ia jawab. Pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab oleh orang lain, hanya oleh dirinya sendiri.
Apa arti pulang?
Selama ini, ia mengira pulang adalah kembali ke desa. Kembali ke rumah. Kembali ke keluarga. Kembali ke tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan.
Tapi setelah melalui semua perjuangan, melawan Ferry, mencari Sekar, menghadapi Pak Kades, mengungkap misteri Mbah Lestari, menemukan pusaka desa, dan menyaksikan kepergian Jatmika untuk selamanya, Arga mulai sadar bahwa pulang bukan hanya tentang tempat. Pulang adalah tentang hati. Pulang adalah tentang kedamaian. Pulang adalah tentang menerima masa lalu, mensyukuri masa kini, dan menyambut masa depan dengan penuh harapan.
Dan malam ini, di bawah pohon randu Bukit Watu Senja, ditemani Sekar dan bayi Jatmika yang tertidur pulas di gendongan ibunya, Arga merenungkan arti pulang yang sesungguhnya.
MALAM YANG SUNYI
Jam delapan malam, langit cerah. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Angin malam berembus sepoi-sepoi, membawa aroma bunga melati dari halaman rumah warga.
Arga, Sekar, dan bayi Jatmika berjalan kaki menuju Bukit Watu Senja. Sukmawati dan Sastro tidak ikut, mereka sengaja memberi waktu untuk keluarga kecil itu.
"Mas, dingin," bisik Sekar.
"Pegang tanganku."
Sekar menggenggam tangan Arga. Hangat. Meskipun udara dingin.
"Sekar, gimana Jatmika?"
"Tidur. Pulas."
"Bagus. Jangan sampai kedinginan."
"Aku sudah selimuti."
DI BAWAH POHON RANDU
Jam setengah sembilan, mereka tiba di bawah pohon randu.
Pohon itu masih sama. Batangnya besar, akarnya menjalar ke tanah, cabangnya melebar seperti tangan raksasa. Daun-daunnya rimbun, menghalangi cahaya bulan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di tanah.
Arga duduk di akar pohon yang besar. Sekar duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu Arga. Bayi Jatmika tidur di gendongan, sesekali bergerak kecil, sesekali tersenyum dalam tidurnya.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Kenapa kita ke sini?"
"Aku ingin merenung."
"Renenung apa?"
"Pulang."
"Pulang ke mana? Kita sudah di rumah."
"Bukan pulang ke rumah. Pulang ke hati."
Sekar tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya diam. Menikmati keheningan. Menikmati kebersamaan.
KENANGAN MASA LALU
Arga memejamkan mata.
Ia mengingat masa kecilnya.
Ketika ia masih kecil, ia sering mendengar suara aneh. Suara angin yang berbisik. Suara air sungai yang berbicara. Suara Jatmika yang memanggil namanya dari kejauhan.
Ia mengingat masa remajanya.
Ketika ia mulai berteman dengan Sekar. Ketika ia mulai jatuh cinta. Ketika ia mulai berani bermimpi tentang masa depan.
Ia mengingat masa sulitnya.
Ketika Sekar dijodohkan dengan Ferry. Ketika ia pergi ke kota sendirian. Ketika ia bertemu teman-teman baru. Ketika ia berjuang mati-matian menyelamatkan Sekar.
Ia mengingat masa perjuangannya.
Ketika ia melawan Pak Kades. Ketika ia membongkar korupsi. Ketika ia menemukan pusaka desa. Ketika ia menyaksikan Jatmika pergi untuk selamanya.
Ia mengingat masa kini.
Ketika ia menikah dengan Sekar. Ketika ia memiliki bayi Jatmika. Ketika ia hidup damai di desa. Ketika ia dikelilingi oleh keluarga dan teman-teman yang peduli.
"Apa arti pulang?" bisiknya dalam hati.
ARTI PULANG
Arga membuka mata.
Ia memandang Sekar.
Ia memandang bayi Jatmika.
Ia memandang pohon randu.
Ia memandang langit.
Ia memandang desa Wringinrejo dari ketinggian.
"Pulang," bisiknya. "Bukan tentang tempat. Tapi tentang hati."
"Pulang adalah ketika aku bisa tersenyum melihat masa lalu, tanpa harus menangis."
"Pulang adalah ketika aku bisa menikmati masa kini, tanpa harus khawatir."
"Pulang adalah ketika aku bisa menyambut masa depan, tanpa harus takut."
"Pulang adalah ketika aku bersama orang-orang yang kucintai."
"Pulang adalah ketika aku berada di samping Sekar."
"Pulang adalah ketika aku memangku bayi Jatmika."
"Pulang adalah ketika aku duduk di bawah pohon randu ini, ditemani angin malam dan cahaya bulan."
"Pulang adalah... sekarang."
Air mata Arga jatuh.
"Mas, kenapa nangis?" tanya Sekar.
"Aku... bahagia."
"Bahagia kenapa?"
"Karena aku akhirnya mengerti."
"Mengerti apa?"
"Arti pulang."
SEKAR BICARA
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Mas, aku juga mengerti."
"Kamu mengerti apa?"
"Arti pulang. Bagiku, pulang adalah ketika aku bersama kamu. Ketika aku bersama bayi Jatmika. Ketika aku bersama keluarga. Ketika aku dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaiku."
"Bukan tentang desa?"
"Desa adalah tempat. Tapi hati adalah rumah. Dan rumahku ada di sampingmu."
Arga memeluk Sekar.
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
Mereka berpelukan.
Bayi Jatmika ikut merangkul, dengan tangan mungilnya.
MALAM DI BAWAH POHON RANDU
Jam sepuluh malam, mereka masih duduk di bawah pohon randu.
Tidak ada yang bicara.
Hanya keheningan.
Hanya kebersamaan.
Hanya cinta.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan ke sini lagi?"
"Kapan?"
"Entah. Besok. Lusa. Bulan depan. Tahun depan. Yang penting, kita selalu bersama."
"Iya. Kita selalu bersama."
Mereka tersenyum.
PULANG KE RUMAH
Jam sebelas malam, mereka pulang.
Bayi Jatmika masih tidur nyenyak.
Sukmawati dan Sastro sudah menunggu di halaman.
"Le, Nduk, sudah? Kok lama?"
"Maaf, Bu. Lama merenung."
"Renenung apa?"
"Arti pulang."
"Lalu?"
"Sekarang aku mengerti."
"Apa artinya?"
"Pulang adalah ketika aku bersama orang yang kucintai. Di mana pun."
Sukmawati tersenyum.
"Bagus. Sekarang masuk. Nanti dingin."
MALAM DI KAMAR
Jam dua belas malam, Arga dan Sekar masuk kamar.
Bayi Jatmika tidur di samping mereka.
Arga membuka jendela.
Udara malam masuk. Dingin. Tapi tidak terlalu dingin.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya bisa merenung."
"Kita akhirnya bisa merenung."
"Kita akhirnya bisa memahami."
"Kita akhirnya bisa memahami."
"Kita akhirnya bisa pulang."
"Kita akhirnya bisa pulang."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 30
JALAN PULANG YANG PANJANG
Setelah merenungkan arti pulang yang sesungguhnya di bawah pohon randu Bukit Watu Senja, Arga, Sekar, dan bayi Jatmika akhirnya berjalan pulang ke rumah. Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu tiga puluh menit, kali ini terasa lebih lama. Bukan karena medan yang berat. Bukan karena kegelapan malam. Bukan karena kelelahan. Tapi karena setiap langkah terasa penuh makna. Setiap langkah adalah simbol bahwa perjalanan panjang mereka, yang dimulai dari desa ini, terus berliku ke kota, berhadapan dengan preman, pengacara, hakim, bahkan makhluk halus, kini telah usai.
Arga berjalan di depan, memegang senter. Sekar berjalan di sampingnya, memangku bayi Jatmika yang tertidur pulas. Sesekali mereka berhenti, memandang langit yang dipenuhi bintang, memandang sawah yang mulai menguning, memandang desa yangsunyi namun damai.
"Mas, kenapa jalan kita lama?" tanya Sekar.
"Karena aku ingin menikmati setiap langkah."
"Kenapa?"
"Karena ini mungkin terakhir kali kita berjalan di malam hari seperti ini. Tanpa beban. Tanpa ancaman. Tanpa rasa takut."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Pak Kades sudah di penjara. Danu sudah di penjara. Preman-preman sudah tidak berkeliaran. Ferry sudah di penjara. Jatmika sudah pergi. Mbah Lestari sudah tenang. Semua konflik sudah selesai."
"Lalu?"
"Sekarang, kita hanya perlu menikmati hidup. Menjadi orang tua. Membesarkan Jatmika. Mengelola sawah. Menjaga warung pecel. Dan sesekali, berkunjung ke Jogja untuk bertemu teman-teman."
Sekar tersenyum.
"Kamu sudah tidak sabar menjadi ayah yang baik."
"Aku sudah menjadi ayah. Sejak bayi Jatmika lahir."
"Tapi kamu masih belajar."
"Iya. Aku masih belajar. Setiap hari. Setiap saat."
DI PERSIMPANGAN
Mereka sampai di persimpangan jalan. Di sebelah kiri, jalan menuju rumah mereka. Di sebelah kanan, jalan menuju makam Mbah Raras dan batu hitam Mbah Lestari. Di depan, jalan menuju Kali Wening. Di belakang, jalan menuju Bukit Watu Senja dan pohon randu.
Arga berhenti.
"Mas, kenapa berhenti?" tanya Sekar.
"Aku ingin berdoa."
"Berdoa apa?"
"Berdoa untuk semua yang telah membantu kita. Untuk Mbah Lestari. Untuk Mbah Raras. Untuk Mbah Jayarasa. Untuk Jatmika. Untuk Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan. Untuk Sukmawati dan Sastro. Untuk Mbah Tarni. Untuk semua warga desa Wringinrejo yang telah mendukung."
"Juga untuk Pak Kades dan Danu?"
Arga terdiam sejenak.
"Juga untuk mereka. Semoga mereka bertobat. Semoga mereka mendapat hidayah. Semoga mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Kamu baik, Mas."
"Aku tidak baik. Aku hanya ingin hidup damai."
Mereka berdoa bersama.
Bayi Jatmika terbangun. Ia menangis kecil.
"Ah, Jatmika bangun," kata Sekar.
"Mungkin dia ingin ikut berdoa."
"Bisa jadi."
Bayi Jatmika berhenti menangis. Ia tersenyum. Lalu tidur lagi.
"Lucu," kata Arga.
"Mirip kamu."
"Hidungnya mirip kamu."
"Matanya mirip kamu."
Mereka tertawa kecil.
DI DEPAN RUMAH PAK KADES
Mereka melewati rumah Pak Kades. Rumah itu kini gelap. Tidak ada lampu. Tidak ada suara. Halaman ditumbuhi rumput liar. Pagar besi sudah berkarat.
"Mas, dulu kita pernah bertengkar di sini," kata Sekar.
"Iya. Waktu aku marah-marah."
"Sekarang?"
"Sekarang, aku hanya bisa tersenyum. Mengingat betapa bodohnya kita dulu. Bertengkar untuk hal yang tidak penting."
"Tapi itu penting. Itu menunjukkan bahwa kita tidak takut. Itu menunjukkan bahwa kita berani. Itu menunjukkan bahwa kita peduli."
"Kamu benar. Tapi sekarang, lebih baik kita fokus pada hal-hal yang positif."
"Setuju."
DI DEPAN RUMAH MBAH TARNI
Mereka melewati rumah Mbah Tarni. Rumah itu masih terang, lampu minyak menyala di ruang tamu. Mbah Tarni mungkin belum tidur.
"Mas, kita mampir?"
"Tidak. Nanti besok pagi."
"Mbah Tarni pasti sudah menunggu."
"Besok. Janji."
Mereka melanjutkan perjalanan.
DI DEPAN RUMAH RATRI
Mereka melewati rumah Ratri. Rumah itu gelap. Ratri sudah tidur, ia pasti kelelahan setelah memimpin pesta desa.
"Mas, Ratri hebat," kata Sekar.
"Iya. Dia sudah berubah. Dari perangkat desa biasa, menjadi kepala desa."
"Karena kita."
"Bukan karena kita. Karena dia sendiri. Dia berani. Dia peduli. Dia tidak takut."
"Kita juga pernah berjasa."
"Sedikit. Tapi jangan besar kepala."
Mereka tersenyum.
DI DEPAN RUMAH SUKMAWATI DAN SASTRO
Mereka melewati rumah Sukmawati dan Sastro. Rumah itu masih terang, lampu minyak menyala di ruang tengah. Sukmawati dan Sastro mungkin belum tidur, menunggu mereka pulang.
"Bu, Yah, kami pulang," teriak Arga dari luar.
"Masuk, Le. Ibu buatkan teh jahe."
"Nanti, Bu. Sekar masih gendong bayi."
"Masuk saja. Nanti bayi Jatmika bisa tidur di kamar."
"Baik, Bu."
DI RUANG TENGAH
Mereka masuk ke ruang tengah.
Sukmawati menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
Sastro duduk di kursi bambu.
"Le, Nduk, kok lama?" tanya Sukmawati.
"Tadi mampir di pohon randu, Bu. Renung-renung."
"Renenung apa?"
"Arti pulang."
"Lalu?"
"Aku sudah mengerti."
"Apa artinya?"
"Pulang adalah ketika aku bersama orang yang kucintai. Di mana pun."
Sukmawati tersenyum.
"Bagus. Sekarang minum teh jahe. Nanti dingin."
MALAM DI RUANG TENGAH
Mereka minum teh jahe bersama.
Sukmawati menceritakan masa lalunya.
Sastro hanya diam, sesekali tersenyum.
"Le, dulu waktu kamu lahir, Ibu sempat khawatir. Kamu lahir dengan pertanda aneh. Kilat tanpa suara. Anjing melolong. Lampu minyak menyala sendiri."
"Ibu takut. Ibu pikir kamu anak setan."
"Tapi sekarang, Ibu bangga. Kamu bukan anak setan. Kamu anak hebat. Kamu anak pemberani. Kamu anak yang berhasil menyelamatkan desa ini."
Arga memeluk ibunya.
"Terima kasih, Bu."
"Jangan berterima kasih. Tugas ibu."
MALAM DI KAMAR
Jam dua belas malam, Arga dan Sekar masuk kamar.
Bayi Jatmika tidur di samping mereka.
Arga membuka jendela.
Udara malam masuk. Dingin. Tapi tidak terlalu dingin.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya bisa berjalan bersama."
"Kita akhirnya bisa berjalan bersama."
"Kita akhirnya bisa menikmati perjalanan."
"Kita akhirnya bisa menikmati perjalanan."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 31
PETA YANG TERISI PENUH
Tiga tahun telah berlalu sejak malam ketika Arga merenungkan arti pulang di bawah pohon randu Bukit Watu Senja. Tiga tahun yang penuh dengan kebahagiaan sederhana, tangisan bayi, tawa lepas, dan kedamaian yang selama ini mereka perjuangkan. Sawah di belakang rumah telah beberapa kali dipanen. Warung pecel Mbok Sekar semakin ramai dan terkenal hingga ke kecamatan. Bayi Jatmika kini telah tumbuh menjadi balita yang lincah, cerdas, dan memiliki mata yang sama seperti Arga, mata yang bisa melihat lebih dari yang dilihat orang lain.
Tapi kemampuan itu tidak membuat Arga khawatir. Ia justru bersyukur. Karena ia tahu, Jatmika kecil akan mewarisi kemampuannya. Dan ia akan mendampingi, membimbing, dan melindungi, seperti Mbah Lestari dulu mendampingi, membimbing, dan melindungi dirinya.
Hari ini, mereka berkumpul kembali di ruang tengah rumah Arga. Bukan untuk rapat darurat. Bukan untuk menghadapi musuh. Tapi untuk merayakan sebuah pencapaian: peta usang pemberian Mbah Jayarasa telah terisi penuh.
Peta yang dulu kosong, hanya ada garis-garis samar dan lingkaran merah dengan tulisan "Di sini, dia pernah menangis", kini penuh dengan garis. Garis-garis yang menceritakan perjalanan Arga dari desa ke kota, dari kota kembali ke desa. Garis-garis yang menceritakan pertemuannya dengan Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, dan Mbah Tarni. Garis-garis yang menceritakan perjuangannya melawan Ferry, melawan Pak Kades, melawan Danu, melawan preman. Garis-garis yang menceritakan kemenangannya. Garis-garis yang menceritakan kebahagiaannya.
Arga membingkai peta itu dan menggantungnya di dinding ruang tengah. Sebagai pengingat bahwa perjalanan panjang telah usai. Sebagai pengingat bahwa ia tidak sendirian. Sebagai pengingat bahwa kebenaran akan selalu menang.
PAGI YANG CERAH
Hari Minggu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh—seperti biasa. Tapi hari ini, warung tutup lebih awal. Ada acara keluarga di rumah Arga.
"Bu, nasi tumpengnya sudah siap?" tanya Sekar.
"Sudah, Nduk. Ibu sudah siapkan sejak subuh."
"Ayam ingkung?"
"Sudah."
"Sayur lodeh?"
"Sudah."
"Sambal goreng?"
"Sudah."
"Kerupuk?"
"Sudah."
"Jajanan pasar?"
"Sudah. Lengkap."
"Terima kasih, Bu."
"Jangan berterima kasih. Ibu senang bisa masak untuk keluarga."
TAMU DATANG
Jam sepuluh pagi, tamu mulai berdatangan.
Guntur dan Laras datang dari Belanda, mereka pulang untuk liburan panjang sambil menunggu kelahiran anak kedua mereka. Laras kini hamil enam bulan. Perutnya sudah mulai membesar.
Faruq dan Nisa datang dari Jogja, mereka sudah menikah setahun lalu dan kini tinggal di rumah sederhana dekat kampus. Faruq bekerja sebagai dokter di rumah sakit swasta. Nisa bekerja sebagai jurnalis lepas.
Dimas datang dari Jakarta, ia kini menjadi teknisi jaringan di perusahaan telekomunikasi. Gajinya besar. Tapi ia tetap rendah hati. Ia membawa oleh-oleh untuk semua.
Ratri datang dari balai desa, ia masih menjabat sebagai Kepala Desa Wringinrejo. Wajahnya lelah tapi berseri. Desanya maju. Banyak program pembangunan.
Samsul datang dari kampungnya, ia kini memiliki usaha ternak ayam. Hidupnya berkecukupan. Anak-anaknya sekolah hingga SMA.
Pak Bondan datang dari Jogja, ia sudah pensiun dari toko bangunan. Toko itu kini dikelola oleh anak dan menantunya. Pak Bondan sering berkunjung ke desa untuk main ke rumah Arga.
Mbah Tarni datang dengan tongkatnya, ia sudah sangat tua, hampir sembilan puluh tahun. Matanya hampir buta. Kakinya hampir lumpuh. Tapi semangatnya masih membara.
Sukmawati, Sastro, Arga, Sekar, dan Jatmika kecil (kini berusia tiga tahun) menyambut mereka.
"SELAMAT DATANG!" teriak Arga.
"SELAMAT DATANG!" teriak Jatmika kecil.
MAKAN BERSAMA
Mereka makan bersama di ruang tengah.
Nasi tumpeng dipotong oleh Arga dan Sekar.
Potongan pertama untuk Mbah Tarni.
"Terima kasih, Nduk."
"Potongan kedua untuk Sukmawati dan Sastro."
"Terima kasih, Le."
"Potongan ketiga untuk Guntur, Laras, dan calon bayi."
"Terima kasih, Arga."
Potongan keempat dan seterusnya untuk semua.
Mereka makan dengan lahap. Tertawa. Bercerita.
"Guntur, kabar dari Belanda?" tanya Faruq.
"Baik. Program S3 sudah selesai. Sekarang mengajar di universitas."
"Laras?"
"Juga mengajar. Jurusan Antropologi."
"Anak pertama?"
"Sudah sekolah. Usia empat tahun."
"Anak kedua?"
"Sebentar lagi. Perempuan."
"Wah, selamat."
BERBAGI CERITA
Setelah makan, mereka duduk melingkar di ruang tengah. Sambil minum teh jahe dan makan pisang goreng.
"Mas Arga, cerita tentang peta," kata Nisa.
Arga berdiri. Ia mengambil peta usang yang telah dibingkai dari dinding.
"Ini. Peta dari Mbah Jayarasa. Dulu kosong. Hanya ada garis-garis samar. Dan lingkaran merah dengan tulisan 'Di sini, dia pernah menangis'."
"Sekarang?"
"Sekarang penuh. Garis dari desa ke kota. Garis dari kota kembali ke desa. Garis pertemuan dengan kalian. Garis perjuangan melawan Ferry. Garis perjuangan melawan Pak Kades. Garis kemenangan. Garis kebahagiaan."
"Wow," kata Dimas.
"Kalian semua ada di peta ini. Guntur. Laras. Faruq. Nisa. Dimas. Ratri. Samsul. Pak Bondan. Mbah Tarni. Sukmawati. Sastro. Sekar. Jatmika kecil. Jatmika kakak."
"Jatmika kakak?" tanya Faruq.
"Iya. Namanya tertulis di sini. 'Jatmika, kakak Arga. Yang telah pergi dengan damai.'"
Ruangan hening.
Mereka memandang peta itu dengan haru.
PESAN MBAH JAYARASA
Arga membuka amplop coklat tua, amplop yang dulu diberikan Mbah Jayarasa sebelum meninggal. Berisi surat wasiat dan peta awal.
"Le, jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah sampai di titik di mana aku dulu gagal."
"Jangan ulangi kesalahanku. Jangan percaya pada siapa pun sebelum kau benar-benar yakin. Jangan menyerah meskipun semua orang meninggalkanmu. Jangan biarkan kemarahan membunuh kemanusiaanmu."
"Kau punya teman. Aku dulu tidak punya. Manfaatkan mereka. Jaga mereka. Mereka adalah kekuatanmu."
"Sekar masih menunggumu. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama."
"—Mbah Jayarasa"
Arga menutup surat itu.
"Terima kasih, Mbah Jayarasa. Aku tidak akan mengecewakanmu."
JATMIKA KECIL
Jatmika kecil berlari-larian di antara tamu.
"Om Guntur! Om Guntur!"
"Iya, Le."
"Aku mau naik pesawat."
"Ke mana?"
"Ke Belanda! Lihat salju!"
"Wah, keberanianmu seperti ayahmu."
Jatmika kecil tertawa.
Ia mendekati Mbah Tarni.
"Mbah, Mbah, aku bisa lihat hantu."
"Apa?"
"Iya. Tadi malam, ada kakek-kakek di kamarku. Senyum-senyum."
Mbah Tarni terkejut. "Kakek-kakek? Siapa?"
"Aku tidak tahu. Tapi dia bilang, dia bangga padaku."
Mbah Tarni memandang Arga.
Arga tersenyum. "Mbah Jayarasa, mungkin."
Atau Mbah Lestari."
Atau Jatmika."
"Atau semuanya."
Mbah Tarni mengusap rambut Jatmika kecil.
"Nduk, itu arwah baik. Jangan takut."
"Aku tidak takut, Mbah. Aku malah senang."
Tamu-tamu tersenyum.
FOTO BERSAMA
Jam dua siang, mereka berfoto bersama di halaman rumah.
Ratri yang memotret.
"Semua senyum!"
"Mari, tiga... dua... satu... CHEESE!"
Jepret.
Foto itu dicetak dan dibingkai.
Diletakkan di samping peta usang Mbah Jayarasa.
Sebagai pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan.
PAMITAN
Jam empat sore, tamu mulai pulang.
Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Samsul, Pak Bondan, kembali ke kota masing-masing.
Ratri kembali ke balai desa.
Mbah Tarni pulang ke rumahnya.
Sukmawati dan Sastro masuk ke dalam rumah.
Arga, Sekar, dan Jatmika kecil duduk di beranda.
Langit sore berwarna jingga keemasan.
Burung-burung pulang ke sarang.
Suara anak-anak bermain mulai menghilang.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir dari perjalanan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir dari perjalanan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya bisa tenang."
"Kita akhirnya bisa tenang."
"Kita akhirnya bisa bahagia."
"Kita akhirnya bisa bahagia."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
Jatmika kecil ikut merangkul.
"Bapak, Ibu, aku juga sayang."
"Kami juga sayang, Nak."
EPILOG
Tilas Lakon | Jejak Perjalanan
Lima tahun setelah peta usang Mbah Jayarasa terisi penuh.
Mentari pagi di Wringinrejo tidak pernah berubah. Ia tetap terbit dari balik Bukit Watu Senja, merayap perlahan di atas hamparan sawah yang hijau menguning, membangunkan burung-burung pipit yang setia mencari bulir padi yang jatuh. Kabut tipis masih setia bergelayut di sela-sela pepohonan, seolah enggan meninggalkan desa yang kini dikenal sebagai Desa Wisata Pengembara.
Warung pecel Mbok Sekar tidak lagi berupa tenda bambu sederhana. Kini ia berdiri kokoh dengan bangunan kayu jati, beranda luas yang menghadap ke sawah, serta papan nama baru bertuliskan:
"PECEL MBAH SEKAR & KELUARGA"
"Rasane kangen, rasane bali."
Di dalam warung itu, dindingnya dipenuhi foto-foto hitam putih dan berwarna. Ada foto Mbah Lestari muda. Foto Mbah Raras tersenyum di depan dapur. Foto Mbah Jayarasa memegang peta usang. Juga foto pertempuran kecil di halaman rumah Arga—yang kini menjadi legenda desa.
Namun, yang paling menonjol adalah sebuah peta besar yang dibingkai kayu ukir. Peta itulah yang dulu kosong, hanya berisi garis samar dan lingkaran merah bertuliskan "Di sini, dia pernah menangis". Kini peta itu penuh dengan garis, titik, dan nama. Peta itu adalah Peta Perjalanan Pengembara Dua Langit. Peta itu adalah kisah Arga. Peta itu adalah kisah mereka semua.
- ARGA: SANG PENGEMBARA YANG TELAH PULANG
Arga kini berusia kepala tiga lebih. Wajahnya tidak lagi setampan dulu—terbakar matahari, garis-garis halus di dahi karena sering merenung, serta jenggot tipis yang ia biarkan tumbuh. Ia tidak lagi memakai kemeja kota seperti ketika bekerja di toko bangunan. Kini ia lebih nyaman dengan lurik dan blangkon, sesekali membawa keris pusaka di balik baju—bukan untuk pamer, tapi karena keris itu sudah seperti bagian dari tubuhnya.
Setiap pagi, Arga ke sawah. Bukan untuk bekerja keras seperti dulu, tapi untuk mengajar. Ia mengajar anak-anak muda desa tentang pertanian organik, tentang menghormati tanah, tentang mendengar bisikan angin dan air—bukan secara mistis, tapi secara rasa. Karena Arga percaya, petani sejati adalah orang yang rumangsa (merasakan) tanamannya.
Setiap sore, ia duduk di warung pecel, melayani pelanggan sambil sesekali bercerita tentang masa lalunya. Anak-anak desa duduk melingkar, mendengarkan dengan mata berbinar.
"Pak Arga, masa sih dulu Bapak pernah melawan preman?" tanya bocah laki-laki dengan topi petani.
"Bukan hanya melawan, Le," jawab Arga sambil tersenyum. "Tapi juga ngajak mereka makan pecel. Setelah kenyang, mereka kapok sendiri."
Anak-anak tertawa. Tapi Arga tidak sepenuhnya bercanda.
Suatu hari, seorang preman bayaran Pak Kades dulu datang ke warung. Wajahnya sudah tua, rambutnya memutih. Ia menangis di depan Arga, meminta maaf. Arga tidak marah. Ia hanya mempersilakan duduk, menyuruh Sekar menyiapkan pecel, dan berkata:
"Mangan dulu. Kowe wis ngelak lan luwe. Suwe ora mampir."
(Makan dulu. Kamu sudah haus dan lapar. Lama tidak mampir.)
Preman itu makan dengan lahap, lalu pergi dengan hati tenang. Sejak itu, ia menjadi pelanggan setia. Kadang membantu membetulkan atap warung yang bocor. Kadang hanya duduk diam, menikmati pecel buatan Sekar.
- SEKAR: DARI BURONAN MENJADI PELINDUNG DESA
Sekar tidak lagi hanya pemilik warung pecel. Ia kini menjadi Ketua PKK Desa Wringinrejo dan Penggerak Bank Sampah. Rumahnya sering dijadikan pusat pelatihan membuat keripik, kerajinan bambu, dan jamu tradisional. Pelatihan itu gratis. Biayanya dari hasil warung.
Sekar juga yang menginisiasi Perpustakaan Desa di bekas rumah Mbah Jayarasa. Ia ingin anak-anak desa memiliki akses buku. Ia ingin mereka tidak buta seperti dulu. Ia ingin mereka bermimpi—dan memiliki keberanian untuk mewujudkannya.
Setiap malam, Sekar masih meluangkan waktu untuk membaca nyaring cerita pengantar tidur untuk Jatmika—dan untuk anak kedua mereka, Larasati, yang kini berusia dua tahun. Nama Larasati diambil dari nama Laras—sahabat yang dulu menjadi mata-mata, yang kemudian menjadi saudara.
"Bu, aku besok mau ke perpustakaan," kata Jatmika yang kini berusia delapan tahun.
"Boleh. Buku apa yang mau kamu baca?"
"Peta lagi. Peta usang peninggalan Mbah Jayarasa."
"Kamu suka peta?"
"Iya. Soalnya di peta itu ada cerita Bapak dan Ibu."
Sekar tersenyum. Ia mengusap rambut Jatmika yang ikal—persis seperti rambut Arga dulu.
"Jangan jadi pengembara dulu, Nak. Nikmati masa kecilmu."
"Tapi aku ingin jadi pemberani kayak Bapak."
"Kamu sudah berani. Dengan membaca buku, kamu berani bermimpi."
- JATMIKA KECIL: MATA KETIGA YANG HIDUP KEMBALI
Jatmika kecil—anak pertama Arga dan Sekar—kini duduk di kelas 3 SD. Ia memiliki kemampuan yang sama seperti Arga. Ia bisa mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain. Ia bisa melihat bayangan yang tidak terlihat oleh teman-temannya. Kadang ia bercerita tentang "Kakek tua yang suka duduk di kursi bambu" (Mbah Jayarasa) atau "Mbah Putih yang menari-nari di kebun" (Mbah Lestari).
Awalnya warga desa gempar. Mereka takut akan terulang lagi "kutukan pengembara dua langit". Tapi Arga dan Sekar segera menenangkan.
"Jatmika tidak pakai keris. Ia tidak perlu. Ia hanya melihat. Dan apa yang ia lihat adalah arwah yang baik. Arwah yang sayang padanya."
Arga mengajari Jatmika cara menutup mata batinnya ketika sedang tidak ingin melihat. Ia mengajari cara berdoa sebelum tidur. Ia mengajari cara membedakan mana yang baik dan mana yang mengganggu.
Jatmika belajar dengan cepat. Ia cerdas, lebih cerdas daripada Arga di usianya. Ia juga berani.
Suatu kali, ketika seorang turis asing tersesat di hutan jati kecil, Jatmika-lah yang menuntunnya keluar. Katanya: "Ada suara yang bilang, 'Le, ajak bapak bule itu ke jalan setapak dekat kali.'"
Turis itu terkesima. Ia memberi hadiah uang, tapi Jatmika menolak. "Cukup beli pecel di warung Ibu. Biar Ibu senang."
- GUNTUR DAN LARAS: DARI BELANDA UNTUK WRINGINREJO
Guntur dan Laras kini menetap di Jogja. Mereka tidak kembali ke Belanda. Guntur menjadi dosen filsafat di UGM, mengajar mata kuliah Etika dan Kearifan Lokal. Laras menjadi peneliti independen, menulis buku tentang Perempuan dalam Pusaran Kekuasaan.
Mereka masih rutin berkunjung ke Wringinrejo setiap tiga bulan sekali. Ketika datang, mereka tidak menginap di hotel, tapi di rumah Mbah Jayarasa yang kini menjadi Homestay Pengembara. Laras sering membantu Sekar mengajar ibu-ibu PKK membuat kerajinan tangan untuk dijual ke luar negeri. Guntur sering menjadi pembicara dalam diskusi desa tentang Melawan Lupa.
"Mbah Guntur, kenapa Bapak tidak tinggal di desa saja?" tanya Jatmika.
"Karena tugas Bapak di kota belum selesai, Le. Bapak harus mendidik mahasiswa agar tidak jadi koruptor."
"Di desa juga bisa."
"Bisa. Tapi di sana ada yang belum bisa membaca. Ada yang belum bisa akses ilmu. Bapak harus berada di dua tempat."
"Jadi Bapak pengembara juga?"
Guntur tersenyum. "Kita semua pengembara, Le. Hanya saja, pulangnya beda-beda."
- FARUQ DAN NISA: DOKTER DESA DAN JURNALIS PEMBERANI
Faruq dan Nisa memilih tinggal di desa. Mereka membangun rumah di tanah bekas warisan Mbah Jayarasa (yang sudah dipisah sertifikatnya). Faruq membuka Praktik Dokter Keliling dengan sepeda motor tua. Setiap pagi ia berkeliling desa, memeriksa warga lansia dan balita. Setiap sore ia berada di Posyandu.
Nisa menjadi Jurnalis Warga. Ia menulis tentang kehidupan desa, tentang ketidakadilan kecil yang luput dari perhatian media nasional. Tulisannya tidak selalu viral, tapi selalu mengena. Kadang, tulisannya dibaca oleh aktivis dan diteruskan ke DPR.
"Mbak Nisa, kenapa tidak tinggal di kota? Bukannya di sana lebih banyak peluang?"
"Justru di sini, Mbak. Di desa ini, suara rakyat kecil bisa didengar. Dan aku bisa mengawasi langsung agar tidak ada lagi Pak Kades baru."
Nisa juga mendirikan Sekolah Jurnalisme Mini untuk anak-anak SD. Ia mengajari mereka menulis buku harian, merekam percakapan keluarga, dan melaporkan hal-hal aneh yang mereka lihat.
Faruq dan Nisa belum dikaruniai anak. Tapi mereka tidak risau. Mereka menganggap Jatmika dan Larasati sebagai keponakan sendiri.
- DIMAS: TEKNOLOGI UNTUK DESA
Dimas masih bekerja di Jakarta sebagai teknisi jaringan, tapi setiap akhir pekan ia pulang ke Wringinrejo. Ia memasang internet gratis di balai desa, di sekolah, dan di perpustakaan. Ia juga membuat Aplikasi Layanan Administrasi Desa (SINAR WRINGIN) yang memudahkan warga mengurus KTP, KK, dan surat keterangan tanpa harus bertemu calo.
"Mas Dimas, kalian pinter," kata Ratri yang masih menjabat sebagai Kepala Desa.
"Aku tidak pintar. Aku hanya ngotak-atik."
Ratri dan Dimas... kabarnya dekat. Tapi belum ada yang berani mengonfirmasi.
- RATRI: KEPALA DESA PEREMPUAN TERMUDA
Ratri terpilih kembali untuk periode kedua. Ia masih bujangan, katanya "belum nemu yang cocok". Tapi ia tidak sendirian. Kedua orang tuanya sudah tinggal bersamanya di rumah dinas. Ia sering memasak untuk warga yang sedang kesusahan. Ia juga yang mengusulkan Tugu Pengembara di perempatan desa—tugu berbentuk peta terbuka dengan tulisan:
"Jangan takut tersesat. Karena dari situlah perjalanan dimulai."
- SAMSUL: PENGUSAHA AYAM KAMPUNG
Samsul menjadi langganan tetap warung pecel Sekar. Setiap minggu ia menyuplai ayam kampung potong. Usahanya maju pesat. Ia sudah memiliki dua mobil pick-up dan lima karyawan.
Ia tidak pernah lupa bahwa Arga yang menyelamatkannya dari kehidupan preman.
"Mas Arga, kalau saya dulu tidak kapok, mungkin saya sekarang sudah di penjara atau mati dibunuh preman saingan."
"Tapi kamu selamat, Samsul."
"Karena Mas Arga sudi memaafkan."
Mereka berjabat tangan. Tidak ada lagi rasa benci.
- PAK BONDAN: MAJIKAN YANG MENJADI AYAH
Pak Bondan kini tinggal di desa. Ia membeli rumah kecil di dekat rumah Arga. Setiap pagi ia berjalan kaki ke warung pecel, memesan pecel tahu tempe dan teh jahe, lalu membaca koran. Sesekali ia membantu Arga mencatat keuangan warung.
"Pak Bondan, kenapa Bapak tidak menikmati pensiun di kota?"
"Kota panas, Le. Di sini adem. Udara seger. Warungmu enak. Keluargamu ramah. Aku sudah merasa punya rumah."
Arga tersenyum. Ia menganggap Pak Bondan sebagai ayah kedua.
- MBAH TARNI: PENJAGA CERITA
Mbah Tarni sudah tidak bisa berjalan. Ia hanya bisa terbaring di dipan. Tapi matanya masih bisa melihat, telinganya masih bisa mendengar, mulutnya masih bisa bercerita.
Setiap hari, anak-anak desa bergantian membacakan buku untuknya. Kadang mereka hanya duduk diam, mendengarkan suara angin dan suara jangkrik.
Suatu malam, Mbah Tarni memanggil Arga.
"Le, Mbah mau titip."
"Titip apa, Mbah?"
"Cerita. Tentang Mbah Lestari. Tentang Mbah Raras. Tentang perjuangan desa ini. Jangan sampai mati. Kalau kamu tidak bisa, titipkan pada anak-anakmu."
"Siap, Mbah."
Mbah Tarni tersenyum.
"Besok, Mbah mungkin sudah tidak ada."
"Mbah jangan bicara begitu."
"Mbah sudah tua, Le. Mbah capek. Mbah ingin istirahat."
"Aku akan jaga cerita ini, Mbah. Janji."
Mbah Tarni mengusap rambut Arga.
"Kowe wis dadi laki-laki sejati, Le. Mbah bangga."
Mereka berpelukan.
Keesokan paginya, Mbah Tarni meninggal dengan tenang, tersenyum, memegang tasbih dan foto Mbah Lestari.
Seluruh desa berkabung.
Arga yang memimpin pemakaman.
Ia menangis di depan pusara.
"Terima kasih, Mbah. Aku tidak akan mengecewakan."
PAGI DI MAKAM MBAH TARNI
Setahun setelah kepergian Mbah Tarni, Arga, Sekar, Jatmika (kini 9 tahun), Larasati (3 tahun), Sukmawati, Sastro, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, dan Pak Bondan berkumpul di makam Mbah Tarni. Mereka berziarah. Mereka menabur bunga. Mereka berdoa.
"Kakek, kenapa kita ke sini?" tanya Larasati polos.
"Untuk mengingat, Nak," jawab Arga.
"Mengingat apa?"
"Mengingat bahwa kita pernah dilahirkan, pernah berjuang, dan pernah dicintai. Dan suatu hari, kita akan mati dengan tenang, seperti Mbah Tarni."
Larasati tidak mengerti. Ia masih kecil.
Tapi Jatmika mengangguk. Ia paham.
DI SERAMBI RUMAH
Malam harinya, keluarga kecil itu duduk di serambi.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan. Warung pecel sudah tutup. Hanya tersisa aroma bumbu pecel yang masih menggoda.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Coba lihat itu. Di langit."
Arga menengadah.
Satu bintang jatuh. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi.
"Hujan bintang," bisik Arga.
"Itu pertanda baik, kata Mbah Tarni dulu."
Jatmika berlari ke halaman. "Bapak, Ibu, aku minta permintaan!"
"Apa permintaanmu, Nak?" tanya Sekar.
"Aku minta kelak, kalau Bapak dan Ibu sudah tua dan tidak bisa ke mana-mana, kita masih bisa duduk di serambi ini, menikmati pecel, dan bercerita tentang masa lalu."
Arga memeluk Jatmika.
"Permintaanmu akan terkabul, Nak. Tapi ingat, suatu hari, Bapak dan Ibu akan pergi. Seperti Mbah Tarni. Seperti Mbah Lestari. Seperti Jatmika kakak."
"Aku tahu, Bapak. Tapi selama masih ada cerita, kita tidak akan pernah benar-benar berpisah."
Sekar menangis.
Arga juga.
Larasati yang tadinya tertidur di pangkuan Sekar terbangun. "Kok Ibu nangis? Bapak nangis? Jatmika nangis?"
"Kita nangis bahagia, Dik," kata Jatmika.
"Bahagia kenapa?"
"Karena kita punya keluarga."
PESAN TERAKHIR
Dinding ruang tengah rumah Arga kini dipenuhi lebih banyak foto. Ada foto pernikahan Faruq dan Nisa. Ada foto Dimas dan Ratri (akhirnya mereka jadian setelah melalui proses yang alot). Ada foto Guntur dan Laras dengan kedua anaknya. Ada foto Samsul di depan kandang ayam. Ada foto Pak Bondan membaca koran di warung. Ada foto Jatmika kecil merangkul keris.
Tapi yang paling istimewa adalah sebuah buku catatan baru yang diletakkan di samping peta usang. Sampulnya kulit, di atasnya tertulis:
"CATATAN PENGEMBARA DUA LANGIT"
Jilid II – Untuk Jatmika dan Larasati.
Arga sudah mulai menulis. Bukan untuk diterbitkan. Bukan untuk menjadi terkenal. Tapi untuk dikenang. Agar anak cucunya tahu dari mana mereka berasal, perjuangan apa yang telah dilalui, dan seberapa besar cinta yang menyatukan mereka semua.
Halaman pertama catatan itu berbunyi:
"Kami bukan pahlawan. Kami hanya orang-orang biasa yang tidak ingin hidup dalam ketakutan."
"Kami tersesat, jatuh, bangkit, lalu berjalan lagi."
"Kami menangis pada Tuhan, marah pada keadaan, kecewa pada orang yang kami cintai."
"Tapi kami tidak pernah berhenti memaafkan."
"Kami tidak pernah berhenti percaya bahwa di balik setiap kegelapan, selalu ada mentari yang akan terbit."
"Pulang bukan tentang berhenti berjalan. Pulang adalah tentang menemukan tempat di mana hati berbisik, 'Inilah aku. Inilah rumahku.'"
"Kami akhirnya pulang."
KIDUNG PENUTUP
Dawane dalan, ora dadi alangan,
Abote beban, ora dadi gendhalan,
Mergo ati sing wani lilo,
Bakal nemu tentrem ing tembe.
Pengembara loro langit wis marem,
Wis ora kepéngin dolan maneh,
Wis nemu semayaning ati,
Wis mapan ing panggonan sejati.
Mentari sumunar ing nduwur bukit,
Angin nyritakake lakon lawas,
Wringinrejo ora bakal lali,
Marang bocah kang lahir ing kilat tanpa swara.
Sekar wis mekar ing jaman anyar,
Arga wis lerem ing pundhak bojo,
Jatmika wis ora nunggu-nunggu,
Mbah Lestari wis mesem ing kayangan.
Pulang wis kelakon.
Pulang ing ati.
Pulang ing asmara.
Pulang ing mringin.
Pungkasaning lakon.
Pepesthening ati.
Pengembara wis tekan panggonan sing dikarepake.
Tanah kelairan kang dadi panglabuhan.
Selamat jalan, para pengembara.
Selamat tinggal, kisah-kisah lama.
Desa Wringinrejo akan terus bernapas.
Karena kalian pernah ada.
Karena kalian pernah berjuang.
Karena kalian pernah pulang.
TAMAT BUKU III: PULANG DI BAWAH MENTARI
TAMAT TRILOGI PENGEMBARA DUA LANGIT
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...